السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Minggu, 08 Juli 2012

MENDAKWAHKAN DUA KALIMAT SYAHADAT (2)


SYAHADAT "MUHAMMAD ROSULULLAH" Shallallahu alaihi wa sallam

بسم الله الرحمن الرحيم


      
Setelah pengajaran kalimat “Laa ilaaha illallah” (tiada ilah yang pantas disembah selain Allah) yang diajarkan secara utuh menyeluruh dan benar kepada setiap muslim, maka pengajaran selanjutnya yang wajib dipahami dengan benar, agar dapat diamalkan oleh masing-masing mereka adalah makna “Muhammad Rosulullah”. Karena kedua kalimat syahadat tersebut saling terkait dan terikat, tidak mungkin seorang muslim dapat menunaikan kalimat syahadat pertama dengan tepat dan benar jika tidak memahami dan mengamalkan syahadat kedua ini. Jadi faidah syahadat kedua adalah untuk menerangkan dengan jelas makna syahadat pertama. Tegasnya, tidak sah syahadat seseorang jika tidak melafazhkan dan mengamalkan keduanya.

Setiap manusia dan bahkan jin wajib mengetahui bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang utusan dari Allah Azza wa Jalla, maka tidak ada satupun diantara mereka yang tidak mengenalnya kecuali para pendurhakanya. Karena Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada mereka seluruhnya, sebagaimana telah diterangkan di dalam dalil-dalil berikut ini,

   عن جابر ابن عبد الله قال: فَقَالَ: مَا بَيْنَ السَّمَاءِ إِلىَ اْلأَرْضِ أَحَدٌ إِلاَّ يَعْلَمُ أَنىِّ رَسُوْلُ اللهِ إِلاَّ عَاصىِ اْلجِنِّ وَ اْلإِنْسِ

Dari Jabir bin Abdullah berkata, maka bersabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “tidaklah yang ada di antara langit dan bumi melainkan ia pasti mengenal bahwasanya aku adalah utusan Allah kecuali pendurhaka dari golongan jin dan manusia”. [HR ad-Darimiy: I/ 11 dan Ahmad: III/ 310. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan, lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1718 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2409].

عن أبي ذر قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: أُعْطِيْتُ خَمْسًالَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْليِ بُعِثْتُ إِلىَ اْلأَحْمَرِ وَ اْلأَسْوَدِ وَ جُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ طَهُوْرًا وَ مَسْجِدًا وَ أُحِلَّتْ لِيَ اْلغَنَائِمُ وَ لَمْ تُحَلَّ لِأَحَدٍ قَبْليِ وَ نُصِرْتُ بِالرَّعْبِ فَيَرْعَبُ اْلعَدُوَّ وَ هُوَ مِنيِّ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ وَ قِيْلَ ليِ: سَلْ تُعْطَهُ وَاخْتَبَأْتُ دَعْوَتيِ شَفَاعَةً لِأُمَّتي ِ فَهِيَ نَائِلَةٌ مِنْكُمْ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالىَ مَنْ لَمْ يُشْرِكْ بِاللهِ شَيْئًا

Dari Abu Dzarr berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku telah diberikan lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seseorangpun sebelumku. Aku diutus kepada golongan merah dan hitam, dijadikannya bumi untukku sebagai alat bersuci dan masjid, dihalalkannya harta rampasan perang untukku yang tidak pernah dihalalkan kepada seseorangpun sebelumku, aku telah dibantu dengan ketakutan yang membuat takut musuh dan dia (rasa takut itu muncul meskipun) sekitar jarak perjalanan sebulan dariku dan dikatakan kepadaku, “mintalah niscaya akan diberikan kepadamu”, dan aku sembunyikan (simpan) doaku itu sebagai bentuk syafaat untuk umatku dan syafaat itu akan diperoleh insyaa Allah oleh seseorang di antara kalian yang tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah (maksudnya; tidak berbuat syirik)”. [HR Ahmad:  V/ 145, 148, 161-162, IV/ 416, ad-Darimiy: II/ 224 dan as-Siraj. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat kitab Irwa’ al-Ghalil: I/ 316].

Dikatakan, “golongan merah adalah manusia dan golongan hitam adalah jin”. [Fat-h al-Bariy: I/ 439].

Kedudukan syahadat kedua ini sangat penting dan berarti di dalam ajaran Islam, sebab tanpanya sulit bagi umat Islam untuk mengamalkan ajaran agama mereka yang telah tertuang di dalam syahadat pertama. Maksudnya bagaimana mungkin seorang muslim melaksanakan peribadatan kepada Allah Jalla Jalaaluh dengan tepat meskipun dengan penuh keikhlasan sebagaimana yang telah dituntut dan ditetapkan oleh syahadat pertama jika tidak memahami syahadat kedua. Yaitu tanpa mengimani Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mungkinkah seseorang yang menyatakan dirinya sebagai muslim, untuk tidak mengingkari berbagai macam syariat yang didatangkan olehnya dan juga meyakini setiap kebenaran yang dibawa olehnya. Tanpa mencintai Beliau, mustahil seseorang dapat menantikan berbagai perintahnya untuk beribadah kepada Rabbnya lalu mengamalkannya dengan suka cita dan juga menunggu berbagai larangannya kemudian meninggalkannya dengan lapang dada dan gembira. Tanpa membenarkan pemberitaan Beliau, tidak akan dengan mudah seseorang diajak untuk secara kontinyu melaksanakan berbagai macam ibadah dan meninggalkan berbagai corak kemaksiatan. Tanpa mentaati dan mengikuti Beliau, bagaimana mungkin seseorang yang mengaku-ngaku muslim dapat melakukan peribadatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan utuh dan menyeluruh. Tanpa mencontoh dan menteladani Beliau, tidak mungkin seseorang dapat mengaplikasikan berbagai macam ibadah yang telah disyariatkan dengan tujuan dan cara yang benar. Jawabannya adalah tidak mungkin dan mustahil bagi orang yang tidak memahami dengan benar syahadat kedua ini meskipun ia melafazhkannya ratusan bahkan ribuan kali untuk dapat melaksanakan peribadatan kepada Allah Azza wa Jalla dengan benar lagi lurus, utuh lagi menyeluruh, lapang dada lagi riang gembira dan kontinyu lagi berkesinambungan.

Untuk membuktikan betapa penting dan berartinya syahadat kedua yaitu Muhammad Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, maka beberapa ulama tauhid memberi komentar tentang makna Muhammad Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu,

a. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dan syahadat Muhammad Rosulullah meliputi membenarkannya pada setiap apa yang ia khabarkan dan mentaatinya pada setiap apa yang ia perintahkan. Maka apa yang ia tetapkan wajiblah menetapkannya dan apa yang ia nafikan (tiadakan) maka wajiblah menafikannya. Sebagaimana wajibnya atas makhluk untuk menetapkan bagi Allah apa yang telah ditetapkan olah Rosul terhadap Rabbnya dari asma dan sifat dan mereka menafikan dari-Nya apa yang telah dinafikan oleh Rosul dari menyerupai makhluk. Lalu mereka memurnikan dari ta’thil dan tamtsil dan jadilah mereka di atas sebaik-baiknya akidah di dalam penetapan (itsbat) tanpa penyerupaan (tasybih) dan pembersihan (tanzih) tanpa ta’thil. Dan kewajiban mereka adalah melakukan apa yang telah ia perintahkan dan berhenti dari apa yang ia larang, menghalalkan apa yang ia halalkan dan mengharamkan apa yang ia haramkan. Maka tiada yang haram kecuali apa yang Allah dan Rosulullah haramkan dan tiada agama kecuali apa yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rosul-Nya”. [Iqtidlo’ ash-Shiroth al-Mustaqim oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah halaman 452].

Katanya lagi, “Dan termasuk perkara yang diwajibkan adalah mengetahui bahwasanya Allah telah mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seluruh manusia dan jin. Tidak tersisa manusia dan tidak pula jin melainkan wajib atasnya untuk beriman kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikutinya. Wajib atasnya untuk membenarkannya pada apa-apa yang ia khabarkan dan mentaatinya pada apa-apa yang ia perintahkan. Maka barangsiapa yang telah tegak hujjah baginya tentang kerosulannya lalu ia tidak beriman kepadanya maka dia adalah orang kafir, sama saja apakah ia seorang manusia ataupun jin”. [Al-Furqon bayna Awliya ar-Rahman wa Awliya asy-Syaithon oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah halaman 189-190].

b. asy-Syaikh Muhammad at-Tamimiy rahimahullah berkata, “Dan makna syahadat Muhammad Rosulullah adalah mentaatinya pada apa-apa yang ia perintahkan, membenarkan pada apa-apa yang ia khabarkan, menjauhi apa-apa yang ia larang dan tegur dan tidak diperkenankan beribadah kepada Allah melainkan sesuai dengan apa-apa yang ia telah syariatkan”. [Al-Ushul ats-Tsalatsah wa adillatuha oleh asy-Syaikh Muhammad at-Tamimiy halaman 11].

c. asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata, “Maka sesungguhnya syahadat Muhammad Rosulullah itu adalah menetapkan keimanan kepadanya, membenarkannya pada apa-apa yang ia khabarkan, mentaatinya pada apa-apa yang ia perintahkan, berhenti dari apa-apa yang ia larang dan tegur, mengagungkan perintah dan larangannya dan tidak mendahulukan atasnya akan perkataan seseorang bagaimanapun adanya”. [Fat-h al-Majid Syar-h Kitab at-Tauhid halaman 55].

d. asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah rahimahullah berkata, “Yang demikian itu mengandung; membenarkannya pada apa-apa yang ia khabarkan, mentaatinya pada apa-apa yang ia perintahkan dan berhenti dari apa-apa yang ia tegur. Maka tiada sempurna persaksian kerosulannya bagi orang yang meninggalkan perintahnya, mentaati selainnya dan mengerjakan larangannya”.[Taysir al-'Aziz al-Hamid fi Syarah Kitab at-Tauhid oleh asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdulwahhab halaman 61].

e. asy-Syaikh Ahmad bin Hajar rahimahullah berkata, “Dan andaikata mereka tahu bahwa makna aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu utusan Allah adalah mentaatinya pada apa-apa yang ia perintahkan, membenarkannya pada apa-apa yang ia khabarkan, menjauhi apa-apa yang ia larang dan tegur dan tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan apa yang ia telah syariatkan bukan dengan hawa nafsu dan perkara-perkara bid’ah. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa ta’ala (Dan apa saja yang didatangkan oleh Rosul maka ambillah dan apa saja yang dilarang maka hentikanlah. Q.S. al-Hasyr/ 59: 7)”.  [Tat-hir al-Jinan wa al-Arkan 'an Daran asy-Syirki wa al-Kufron oleh asy-Syaikh Ahmad bin Hajar halaman 41].

f. asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Ketetapan syahadat ini adalah engkau membenarkan Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap apa yang ia khabarkan, engkau mengikuti perintahnya terhadap apa yang ia perintahkan, engkau menjauhi apa-apa yang ia larang dan tegur dan engkau tidak boleh beribadah kepada Allah kecuali dengan apa-apa yang ia syariatkan”. [Majmu’ al-Fatawa Fatawa al-Aqidah: I/ 81 dan VI/ 71].

g. asy-Syaikh Abdul Aziiz bin Baaz rahimahullah berkata, “Makna syahadat Muhammad Rosulullah sebagaimana dikatakan oleh asy-Syaikh Muhammad at-Tamimiy rahimahullah yaitu mematuhinya terhadap apa yang Beliau perintahkan, membenarkannya terhadap apa yang Beliau khabarkan, menjauhi apa yang Beliau larang dan tegur dan tiada beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang Beliau syariatkan”. [Syar-h ad-Durus al-Muhimmah li 'ammah al-Ummah oleh asy-Syaikh Abdul’Aziiz bin Baz halaman 99-100].

h. asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hafizhohullah berkata, “Makna syahadat Muhammad Rosulullah itu yakni beriman bahwasanya ia adlah utusan dari sisi Allah, kita membenarkannya pada apa-apa yang ia khabarkan, kita mentaatinya pada apa-apa yang ia perintahkan, kita meninggalkan apa-apa yang ia larang dan tegur dan kita beribadah kepada Allah sesuai dengan apa-apa yang telah ia syariatkan”. [Majmu'ah ar-Rosa'il at-Taujihat al-Islamiyah oleh Muhammad bin Jamil Zainu halaman 89].

Berkaca dari penjelasan para ulama mengenai arti dan pentingnya syahadat kedua, maka maksud dari syahadat bahwasanya Muhammad itu adalah utusan Allah adalah,
1. Beriman kepadanya.
2. Cinta kepadanya.
3. Taat terhadap perintah-perintahnya.
4. Meninggalkan larangan-larangannya.
5. Membenarkan semua yang dikabarkan olehnya.
6. Tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan.

Agar lebih dapat dipahami maksud dari syahadat kedua ini, maka akan dijelaskan disini rinciannya.

1. Beriman kepada Nabi Muhammad –Shallallahu ‘alaihi wa sallam-

Sudah menjadi suatu kewajiban bagi setiap Muslim untuk beriman kepada Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena hal ini merupakan syarat pokok dan mendasar bagi mereka. Bagaimana mungkin seorang muslim mengaku sebagai umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan ia tidak mengimaninya. Namun hal ini akan terjadi dan bahkan telah terjadi, yakni banyak dikalangan kaum muslimin yang tidak mengimaninya yaitu tidak atau kurang meyakini kerosulan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meragukan apa saja yang Beliau bawa, bimbang terhadap setiap ucapan dan tindakannya dan bahkan mendustakannya. Oleh sebab itu diperintahkan kepada setiap muslim yang baik keislamannya untuk senantiasa beriman kepadanya dan kepada semua yang dibawanya tanpa keraguan sedikitpun, sebagaimana di dalam dalil-dalil berikut ini,

          فَئَامِنُوا بِاللهِ وَ رَسُوْلِهِ وَ النُّورِ الَّذِى أَنزَلْنَا وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Maka berimanlah kepada Allah, Rosul-Nya dan cahaya yang Kami telah turunkan (al-Qur’an). Dan Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan. (at-Taghobun/64:  8).

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Yaitu benarkanlah pentauhidan Allah, kenabian Rosul-Nya  dan cahaya yang Kami turunkan yaitu al-Qur’an yang mulia. Kerjakan amal-amal shalih dan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahan”. [Aysar at-Tafasir: V/ 365].

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ءَامِنُوا بِاللهِ وَ رَسُوْلِهِ وَ اْلكِتَــابِ الَّذِى نَزَّلَ عَلَى رَسُوْلِهِ وَ اْلكِــتَابِ الَّذِى أَنزَلَ مِن قَبْلُ

Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kalian kepada Allah, Rosul-Nya, kitab yang diturunkan kepada Rosul-Nya dan kitab yang diturunkan sebelumnya. (QS. An-Nisa’/4: 136).

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيْعًا الَّذِى لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَ اْلأَرْضِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيىِ وَ يُمِيْتُ فَئَامِنُوا بِاللهِ وَ رَسُولِهِ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ الَّذِى يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ كَلِمَاتِهِ وَ اتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Katakanlah: wahai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian seluruhnya, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Tiada ilah yang pantas disembah selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kalian kepada Allah dan Rosul-Nya seorang Nabi yang ummiy yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya dan ikutilah dia agar kalian mendapat petunjuk. (QS. Al-A’raf/7: 158).

Dalil ayat-ayat di atas menerangkan perintah Allah Azza wa Jalla kepada seluruh manusia untuk beriman kepada Allah dan Rosul-Nya, bahkan Allah Jalla Jalaaluh juga memerintahkan kepada orang yang telah beriman untuk selalu menjaga dan memelihara keimanan mereka.

إِنَّمَا اْلمـــُؤْمِنُونَ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللهِ وَ رَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَ أَنفُسِهِمْ  فِى سَبِيلِ اللهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rosul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hujurat/ 49: 15).

إِنَّمَا اْلمـــُؤْمِنُونَ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللهِ وَ رَسُولِهِ وَ إِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَى أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّى يَسْتَئْذِنُوا

Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar beriman adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rosul-Nya dan apabila mereka berada bersamanya dalam suatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkannya sehingga mereka minta idzin kepadanya. (QS. An-Nur/ 24: 62).

Berkata al-Imam asy-Syafi’iy rahimahullah, “Maka Allah telah menjadikan kesempurnaan permulaan iman yang tidak ada sesuatupun yang mengikutinya selainnya yaitu beriman kepada Allah kemudian kepada Rosul-Nya. Maka jika seorang hamba beriman kepada-Nya tetapi (disamping itu ia) tidak beriman kepada Rosul-Nya maka tidak ada baginya nama kesempurnaan iman selamanya, sehingga ia beriman kepada Rosul-Nya bersama-Nya”. [Ar-Risalah oleh al-Imam asy-Syafi’iy nomor: 239, 240 halaman 75].

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه و سلم أَنًّهُ قَالَ: وَ الَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَ لاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ  َيمُوْتُ وَ لَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي اُرْسِلْتُ بِهِ (و فى رواية ابن منده فى التوحيد: ثُمَّ لَمْ يُؤْمِنْ بىِ) إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Beliau bersabda, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada pada tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini mendengar tentang aku, baik itu orang Yahudi dan tidak pula orang Nashrani kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada sesuatu yang aku diutus dengannya, (di dalam riwayat Ibnu Mundah di dalam kitab tauhid, “Kemudian ia tidak beriman kepadaku”) melainkan ia merupakan penghuni neraka”. [HR Muslim: 153 dan Ahmad: II/ 317, 350. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 20, Shahih Muslim bi Syar-h al-Imam an-Nawawiy: II/ 186, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 157, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7063, Misykah al-Mashobih: 10, Syarah al-Aqidah ath-Thohawiyah: 140].

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Hadits ini jelas bahwa barangsiapa mendengar Nabi dan risalahnya yang disampaikan atas arah yang telah diturunkan Allah, kemudian ia tidak beriman kepadanya, maka tempat kembalinya adalah neraka. Tiada perbedaan tentang hal tersebut antara orang yahudi, nashrani, majusi ataupun orang yang tiada memiliki agama”. [Silsilah al-Ahadits  ash-Shahihah: I/ 241].

Perhatikan penjelasan dan ancaman Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits di atas, bahwa siapapun umat manusia di dunia ini yang telah mendengar tentang keberadaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan risalahnya lalu ia mati dalam keadaan tidak mengimaninya dan mengimani apa yang Beliau bawa maka ia pasti akan masuk ke dalam nereka. Tidak ada bedanya apakah mereka itu dari kalangan Yahudi, Nashrani, Majusi, Budha, Hindu ataupun yang tidak memiliki satupun agama di muka bumi.

Yang lebih aneh, jika ada umat Islam yang mengaku-ngaku umat Islam namun tidak mengimani kerosulan Beliau dengan keimanan yang benar lantaran mengakui ada Rosul lainnya yang diutus sesudah Beliau. Niscaya orang itu telah rusak agamanya atau boleh jadi ia telah berada diluar wilayah Islam seukuran dengan keyakinan dan amalnya.

Atau ada juga di antara umat ini, yang mengaku-ngaku beriman kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi ia selalu meragukan, menolak, menyanggah dan mengingkari apa yang telah dibawa oleh Beliau untuk umatnya.

Padahal mengimani Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sangat besar keutamaannya. Jika ia sebelum masuk Islam mengimani nabinya lalu setelah bertemu dengan kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia segera mengimaninya, maka keimanan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu akan menyebabkan ia mendapatkan dua pahala. Yakni pahala waktu ia beriman kepada nabinya dan pahala setelah masuk Islam dengan mengimani Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana telah datang di dalam hadits berikut ini,

عن صالح بن صالح الهمداني عن الشعبي قال: رَأَيْتُ رَجُلاً مِنْ أَهْلِ خُرَاسَانَ سَأَلَ الشَّعْبِيَّ فَقَالَ: يَا أَبَا عَمْرٍو إِنَّ مَنْ قِبَلَنَا مِنْ أَهْلِ خُرَاسَانَ يَقُوْلُوْنَ فىِ الرَّجُلِ إِذَا أَعْتَقَ أَمَتَهُ ثَمَّ تَزَوَّجَهَا فَهُوَ كَالرَّاكِبِ بَدَنَتَهُ فَقَالَ الشَّعْبِيُّ: حَدَّثَنىِ أَبُوْ بُرْدَةَ بْنُ أَبيِ مُوْسىَ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: ثَلاَثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ اْلكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَ أَدْرَكَ النِّبِيَّ صلى الله عليه و سلم فَآمَنَ بِهِ وَ اتَّبَعَهُ وَ صَدَّقَهُ فَلَهُ أَجْرَانِ وَعَبْدٌ مَمْلُوْكٌ أَدَّى حَقَّ اللهَ عز و جل عَلَيْهِ وَ حَقَّ سَيِّدِهِ فَلَهُ أَجْرَانِ وَ رَجُلٌ كَانَتْ لَهُ أَمَةٌ فَغَذَاهَا فَأَحْسَنَ غِذَاءَهَا ثُمَّ أَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ أَدَبِهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَ تَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ ثُمَّ قَالَ الشَّعْبِيُّ لِلْخُرَاسَانِيِّ: خُذْ هَذَا اْلحَدِيْثَ بِغَيْرِ شَيْءٍ فَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يَرْحَلُ فِيْمَا دُوْنَ هَذَا إِلىَ اْلمــَدِيْنَةِ

Dari Shalih bin Shalih al-Hamdaniy dari asy-Sya’biy berkata, aku pernah melihat seorang lelaki dari penduduk Khurosan bertanya kepada asy-Sya’biy, “Wahai Abu Amr sesungguhnya orang-orang dari pihak kami yaitu penduduk Khurosan berkata mengenai seorang lelaki apabila memerdekakan budak wanitanya kemudian ia menikahinya maka dia seperti orang yang menunggang ontanya”. Asy-Sya’biy berkata, “Abu Burdah bin Abu Musa pernah menceritakan kepadaku dari ayahnya bahwasanya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga golongan yang diberikan pahalanya dua kali. Yaitu seseorang dari ahli kitab yang ia beriman kepada nabinya dan menjumpai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia beriman kepadanya, mengikuti dan membenarkannya maka ia mendapatkan dua pahala. Seorang budak yang menunaikan hak Allah Azza wa Jalla atasnya dan hak majikannya, maka iapun mendapatkan dua pahala. Dan seorang lelaki yang memiliki seorang budak wanita lalu ia memberikan makan kepadanya dan membaguskan memberi makan kepadanya, kemudian ia mendidiknya lalu ia membaguskan pendidikannya kemudian memerdekakannya dan menikahinya, maka ia juga mendapatkan dua pahala. Kemudian asy-Sya’biy berkata kepada penduduk Khurosan tersebut, “Ambillah hadits ini tanpa sesuatupun”. Maka lelaki tersebut berangkat ke Madinah setelah itu. [HR Muslim: 154, al-Bukhoriy: 97, 3011, 3446, 5083, dan di dalam al-Adab al-Mufrad: 203, an-Nasa’iy: VI/ 115, at-Turmudziy: 1116, Ibnu Majah: 1956, Ahmad:IV/ 402, 405 dan ad-Darimiy: II/ 154-155. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 21, Shahih Muslim bi Syarah al-Imam an-Nawawiy: II/ 186-189, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 66, Shahih al-Adab al-Mufrad: 150, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3136, Shahih Sunan at-Turmudziy: 891, Shahih Sunan Ibni Majah: 1591, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1153, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3073 dan Misykah al-Mashobih: 11].

Dalil di atas menerangkan keutamaan seseorang yang sebelum menjumpai kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yakni ia mengimani nabinya dikala masih memeluk agama Nashrani/ Yahudi lalu ketika menemui kenabian Beliau, ia segera mengimani, mengikuti dan membenarkannya dalam keyakinan, ucapan dan perbuatan, maka Allah Azza wa Jalla akan memberi ganjaran dua pahala kepadanya.

عن أبى أمامة  قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: طُوْبىَ لمِــَنْ رَآنىِ وَ آمَنَ بىِ وَ طُوْبىَ ِلمــَنْ آمَنَ بىِ وَ لَمْ يَرَنىِ سَبْعَ مِرَارٍ

Dari Abu Umamah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Thuba bagi orang yang melihatku dan beriman kepadaku dan thuba bagi orang yang beriman kepadaku padahal tidak pernah melihatku, tujuh kali”. [HR Ahmad: V/ 248, 257, 264. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1241 dan Shahih al-Jami' ash-Shaghir: 3924].

عن أبي سعيد الخدري عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَنَّ رَجُلاً قَالَ لَهُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ طُوْبىَ لِمَنْ رَآكَ وَ آمَنَ بِكَ قَالَ: طُوْبىَ لِمَنْ رَآنىِ وَ آمَنَ بىِ ثُمَّ طُوْبىَ ثُمَّ طُوْبىَ ثُمَّ طُوْبىَ لِمَنْ آمَنَ بىِ وَ لَمْ يَرَنىِ قَالَ لَهُ رَجُلٌ: وَ مَا طُوْبىَ قَالَ: شَجَرَةٌ فىِ اْلجَنَّةِ مَسِيْرَةَ مِائَةِ عَامٍ ثِيَابُ أَهْلِ اْلجَنَّةِ تَخْرُجُ مِنْ أَكْمَامِهَا

Dari Abu Sa’id al-Khudriy dari Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahawsanya ada seorang lelaki berkata kepadanya, “Wahai Rosulullah thuba bagi orang yang melihatmu dan beriman kepadamu”. Beliau bersabda, “Thuba bagi orang yang melihatku dan beriman kepadaku, kemudian thuba kemudian thuba kemudian thuba bagi orang yang beriman kepadaku dan tidak pernah melihatku”. Bertanya seorang lelaki kepadanya, “Apakah thuba itu?”. Beliau bersabda, “Yaitu sebuah pohon yang terdapat di dalam surga yang luas (naungannya) adalah sejarak seratus tahun. Pakaian ahli surga keluar dari celah-celahnya”. [HR Ahmad: III/ 71, Ibnu Hibban dan al-Khothib. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1241 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3923].

Beberapa hadits di atas juga menunjukkan keutamaan mengimani Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun orang yang beriman itu tidak pernah melihat Beliau seumur hidupnya. Orang mukmin itu pada hari kiamat akan memperoleh thuba di dalam surga, yaitu sebuah pohon yang sangat besar dan luas naungannya, dan pakaian-pakaian ahli surga keluar dari celah-celah pohon itu.

2. Cinta kepadanya

Setiap muslim wajib mencintai Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kecintaan yang benar lagi tulus. Tidak benar dan sempurna keimanan seorang muslim jika tidak meletakkan rasa cinta kepadanya, karena cinta kepadanya adalah merupakan salah satu syarat keimanan kepadanya. Lagi pula, setiap muslim tidak akan dapat melaksanakan perintah dan meninggalkan larangannya dengan penuh kesungguhan dan kelapangan, jika tidak memiliki rasa cinta kepadanya. Coba bayangkan seseorang mengerjakan perintah dari orang yang dibencinya atau yang tidak dicintainya, niscaya ia akan mengerjakan perintah itu dengan terpaksa, bermuram durja, penuh kedongkolan dan sebagainya.

Dalil-dalil tentang kewajiban mencintai Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di antaranya,

   مَا كَانَ لِأَهْلِ اْلمـَــدِينَةِ وَ مَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ اْلأَعْرَابِ أَن يَتَخَلَّفُوا عَن رَسُولِ اللهِ وَ لاَ يَرْغَبُوا بِأَنفُسِهِمْ  عَن نَفْسِهِ

Tidaklah patut bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam diri di sekitarnya, tidak turut menyertai Rosulullah (pergi berperang) dan tidak patut pula bagi mereka lebih mencintai diri mereka sendiri daripada mencintai diri Rosul. (QS. Al-Bara’ah/ 9: 120).

عن أنس رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ  أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَ أَنْ يُحِبَّ اْلمــَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ ِللهِ وَ أَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فىِ اْلكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فىِ النًّارِ

Dari Anas radliyallhu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang jika tiga perkara itu ada dalam diri seseorang maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu; keberadaan Allah dan Rosul-Nya lebih dicintai olehnya daripada selain keduanya, ia mencintai seseorang yang tidaklah ia mencintainya melainkan karena Allah dan ia benci kembali kepada kekafiran sesudah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api neraka”. [HR al-Bukhoriy: 16, 21, 6041, 6941, Muslim: 43, at-Turmudziy: 2624, an-Nasa’iy: VIII/ 96, 97, Ibnu Majah: dan Ahmad: III/103,172, 174, 193, 231, 275, 288. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih, lihat Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 13, Mukhtashor Shahih Muslim: 22, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2116, Shahih Sunan an-Nasa'iy: 4615, 4616 dan Misykah al-Mashobih: 8].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Hadits ini terkandung dasar-dasar kecintaan yang hakiki, yang darinya bercabang-cabang manisnya iman, yaitu, (a) penyempurnaan cinta, bahwa keberadaan Allah dan rosul-Nya lebih dicintai olehnya dari selain keduanya, karena cinta kepada Allah dan rosul-Nya itu tidak cukup sebagai dasar cinta. Sebab Allah dan rosul-Nya itu sudah seharusnya dicintai oleh seorang hamba dari selain keduanya yakni dari harta, kedua orang tua, anak dan dirinya yang berada diantaranya”.  Dst. [Bahjah an-Nazhirin: I/ 444].

Cinta yang hakiki itu merupakan kenikmatan iman yang tiada tara, tidak akan ada yang dapat meraihnya melainkan orang-orang yang telah mendapatkan hidayah dan keutamaan dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

Cinta itu tidak hanya sebatas kata-kata tanpa bukti nyata. Sebab banyak dikalangan kaum muslimin yang memproklamirkan rasa cintanya kepada Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun sikap dan perbuatannya tidak membuktikan rasa cinta tersebut. Mereka menampakkan rasa cinta itu dengan hanya merayakan hari kelahirannya, menampilkan slogan cinta nabi tapi nisbi, menggumamkan sholawat-sholawat tanpa dalil jelas, menyenandungkan nasyid-nasyid kemuliaan Nabi tanpa kendali dan sebagainya.

Coba renungkan, bagaimana perasaan dan sikap kita terhadap orang yang mengaku mencintai kita, namun ia selalu membantah apa yang kita perintah, membangkang apa yang kita larang, menyelisihi apa yang kita maui dan mengabaikan apa yang kita teladankan. Meskipun ia mengatakan rasa cintanya ribuan kali, niscaya kita akan meragukan rasa cintanya kepada kita lantaran sikapnya itu jauh api dari panggang.

Sebab biasanya, kecintaan kepada seseorang itu akan membawanya untuk selalu mengikuti, mematuhi dan menteladani orang yang dicintainya. Sebagaimana orang-orang awam lagi jahil yang selalu menyerupai dan meniru-niru orang yang dicintainya itu dalam pakaian, gaya penampilan, cara hidup dan selainnya. Sebagaimana dikatakan,

إِنْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقًا لَأَطَعْتَهُ   إِنَّ اْلمــُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْعٌ

Jika kecintaanmu itu benar, niscaya engkau akan mematuhinya
Karena orang yang cinta itu biasanya mematuhi orang yang dicintainya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: فَوَ الَّذَي نَفْسىِ بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتىَّ أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَ وَلَدِهِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku ada pada tangan-Nya, tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada ayah dan anaknya”. [HR al-Bukhoriy: 14 dan an-Nasa’iy: VIII/ 115. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 11, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4642 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7084].

عن أنس بن مالك قال: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتىَّ أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَ وَلَدِهِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

Dari Anas bin Malik berkata: telah bersabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintai olehnya dari ayah dan anaknya serta  seluruh manusia”. [HR al-Bukhoriy: 15, Muslim: 44, Ibnu Majah: 67, an-Nasa’iy: VIII/ 114-115, 115 dan Ahmad: III/ 207, 275, 278. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Fath al-Bariy: I/ 58, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 12, al-Jami’ ash-Shahih: I/ 49, Shahih Muslim bi Syarh al-Imam an-Nawawiy: II/ 15, Mukhtashor Shahih Muslim: 23, Shahih Sunan Ibni Majah: 56, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4640, 4641, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7582 dan Misykah al-Mashobih: 7].

عن عبد الله بن هشام قال: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم وَ هُوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ  فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ  َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِى فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: لاَ وَ الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتىَّ أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: فَإِنَّهُ اْلآنَ وَاللهِ  َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِى فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم : الآنَ يَا عُمَرُ

Dari Abdullah bin Hisyam berkata, kami pernah bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan Beliau sedang memegang tangan Umar bin al-Khoththob. Umar berkata kepadanya, “Wahai Rosulullah, engkau benar-benar yang paling aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada pada tangan-Nya sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri”. Maka berkatalah Umar kepada Beliau, “sekarang demi Allah, engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri. Bersabda Nabi, “Sekarang (engkau baru beriman) wahai Umar”. [HR al-Bukhoriy: 6632 dan Ahmad: IV/ 233, 336. Lihat Fat-h al-Bariy: XI/ 523].

Dalil-dalil di atas menetapkan bahwa kecintaan kepada Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu mesti didahului daripada kecintaan kepada ayah, ibu, anak, istri, suami, kerabat dan seterusnya, bahkan kepada dirinya sendiri. Jika ada seorang muslim yang mengaku-ngaku beriman kepada Rosul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi kecintaan kepada ayah, ibu, anak dan selainnya itu lebih mendominasi dan menguasainya daripada kepada Rosul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dipastikan ia tidak beriman atau paling tidak imannya tidak sempurna. Itulah yang disabdakan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar radliyallahu ‘anhu.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم: مَتىَ السَّاعَةُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَأ أَعْدَدْتَ لَهَا ؟ قَالَ: مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيْرِ صَلاَةٍ وَ لاَ صَوْمٍ وَ لاَ صَدَقَةٍ وَ لَكِنىِّ أُحِبُّ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ قَالَ: أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

Dari Anas radliyallahu ‘anhu bahwasanya ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapankah hari kiamat, wahai Rosulullah?”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa yang telah engkau persiapkan untuknya?”. Ia menjawab, “Aku tidak mempersiapkan untuknya dengan banyak sholat, shoum dan sedekah, akan tetapi aku mencintai Allah dan rosul-Nya”. Beliau bersabda, “Engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”. [HR al-Bukhoriy: 6171, Muslim: 2639, Abu Dawud: 5127 dan at-Turmudziy: 2386. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan Abii Dawud: 4276 dan Shahih Sunan at-Turmudziy: 1944].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Cinta dan taat kepada Allah, serta cinta dan mengikuti Rosul-Nya adalah pendekatan (kepada Allah) yang paling utama dan ketaatan yang paling sempurna”. [Bahjah an-Nazhirin: I/ 436].

عن أبي ذر أنه قال: يَا رَسُوْلَ اللهِ  الرَّجُلُ يُحِبُّ اْلقَوْمَ وَ لاَ يَسْتَطِيْعُ أَنْ يَعْمَلَ كَعَمَلِهِمْ ؟ قَالَ: أَنْتَ يَا أَبَا ذَرٍّ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ: فَإِنىِّ أُحِبُّ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ قَالَ: فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ فَأَعَادَهَا أَبُوْ ذَرٍّ فَأَعَادَهَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم

Dari Abu Dzarr bahwasanya ia berkata, “Wahai Rosulullah ada seseorang yang mencintai suatu kaum tetapi ia tidak dapat beramal seperti amal mereka?”. Beliau bersabda, “Engkau wahai Abu Dzarr bersama orang yang engkau cintai”. Ia berkata, “Sesungguhnya aku mencintai Allah dan Rosul-Nya. Beliau bersabda, “Maka engkau bersama orang yang engkau cintai”. Lalu Abu Dzarr mengulangi perkataannya dan Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengulangi sabdanya. [HR Abu Dawud: 5126. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih isnadnya, lihat Shahih Sunan Abi Dawud: 4275].

Jika seorang muslim mempunyai keinginan dan ambisi masuk ke dalam surga, maka hendaklah ia mencintai ahli surga. Yakni orang-orang yang selama hidupnya selalu mengitikadkan keyakinan dan mengamalkan amalan yang menuntunnya ke surga. Bukannya orang-orang kafir dari berbagai negara dengan aneka profesi semisal, pemain sepak bola, bola basket, penyanyi, pemain film dan sejenisnya. Sebab jika seorang muslim mencintai atau menyukai orang yang setiap keyakinan, perkataan dan perbuatannya itu merupakan amalan ahli neraka maka kelak pada hari kiamat ia akan tinggal bersama mereka di dalam neraka. Sebagaimana telah termaktub di dalam dalil hadits di atas.

3. Taat/ patuh kepadanya

Allah Jalla Jalaaluh juga telah memerintahkan umat Islam untuk senantiasa mematuhinya dengan kepatuhan yang penuh terhadap semua perintah-perintahnya. Sebab kepatuhan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu merupakan bentuk kepatuhan kepada Allah Azza wa Jalla.

   مَن يَطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَ مَن تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

Barangsiapa mentaati Rosul maka sungguh-sungguh ia telah mentaati Allah, dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan tersebut) maka tidaklah Kami mengutusmu sebagai penjaga atas mereka. (An-Nisa/ 4: 80).

Berkata al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah, “Allah telah mengkhabarkan tentang hamba dan utusan-Nya yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya barangsiapa yang mentaatinya maka sungguh ia telah mentaati Allah, dan barangsiapa yang mendurhakainya maka sungguh ia telah mendurhakai Allah. Dan tiada yang demikian tersebut melainkan karena apa yang diucapkannya tersebut bukanlah dari hawa nafsunya, tidak lain apa yang diucapkannya tersebut melainkan adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya”. [Tafsir al-Qur'an al-'Azhim: I/ 653].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengabarkan tentang hamba dan utusan-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya barangsiapa yang mentaatinya maka sungguh ia telah mentaati Allah. Barangsiapa yang mendurhakainya maka sungguh ia telah mendurhakai Allah. Tiada yang demikian itu melainkan karena Beliau tiada berucap dari hawa nafsunya, tidak ada yang diucapkannya melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya”. [Bahjah an-Nazhirin: I/ 235].

Demikianlah Allah Subhanahu wa ta’ala telah menetapkan ketaatan kepada-Nya dengan cara mentaati rosul-Nya. Lalu siapapun yang menganggap bahwa ia telah mentaati Allah Subhanahu wa ta’ala dengan ketaatan yang sempurna namun ia masih menentang dan mendurhakai Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam banyak atau beberapa perkara maka anggapannya itu adalah batil. Tidaklah ia mentaati Allah ta’ala sebagaimana anggapannya sehingga ia melazimkan ketaatan kepada Rosul-Nya di dalam setiap perkara, sesuai dengan kesanggupan dan kemampuannya.

عن أبي هريرة قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ أَطَاعَنىِ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَ مَنْ عَصَانىِ فَقَدْ عَصىَ اللهَ

Dari Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mentaatiku maka sungguh-sungguh ia telah mentaati Allah dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka sungguh-sungguh ia telah mendurhakai Allah”. [HR Ibnu Majah: 3 dan Ahmad: II/ 467. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan Ibni Majah: 3 dan Irwa’ al-Ghalil: II/ 120].

Dalil hadits di atas menegaskan apa yang ada di dalam ayat sebelumnya, bahwa ketaatan dan kedurhakaan seseorang kepada Allah Azza wa Jalla itu terletak pada sikapnya kepada Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika ia mentaatinya maka berarti ia benar telah mentaati Allah Subhanahu wa ta’ala dan jika ia mendurhakainya maka iapun ditetapkan sebagai orang yang mendurhakai Allah Azza wa Jalla.

عن جابر بن عبد الله يَقُوْلُ: جَاءَتْ مَلاَئِكَةٌ إِلىَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم وَ هُوَ نَائِمٌ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّهُ نَائِمٌ وَ قَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّ اْلعَيْنَ نَائِمَةٌ وَ اْلقَلْبَ يَقَظَانُ فَقَالُوْا: إِنَّ لِصَاحِبِكُمْ هَذَا مَثَلاً قَالَ فَاضْرِبُوْا لَهُ مَثَلاً فَقَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّهُ نَائِمُ وَ قَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّ اْلعَيْنَ نَائِمَةٌ وَ اْلقَلْبَ يَقَظَانُ فَقَالُوْا: مَثَلُهُ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنىَ دَارًا وَ جَعَلَ فِيْهَا مَأْدُبَةً وَ بَعَثَ دَاعِيًا فَمَنْ أَجَابَ الدَّاعِيَ دَخَلَ الدَّارَ وَ أَكَلَ مِنَ اْلمَأْدُبَةِ وَ مَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّاعِيَ لَمْ يَدْخُلِ الدَّارَ وَ لَمْ يَأْكُلْ مِنَ اْلمــَأْدُبَةِ فَقَالُوْا: أَوِّلُوْهَا لَهُ يَفْقَهُهَا فَقَاَلَ بَعْضُهُمْ: إِنَّهُ نَائِمٌ وَ قَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّ اْلعَيْنَ نَائِمَةٌ وَ اْلقَلْبَ يَقَظَانُ فَقَالُوْا: فَالدَّارُ الْجَنَّةُ وَ الدَّاعِي مُحَمَّدٌ صلى الله عليه و سلم فَمَنْ أَطَاعَ مُحَمَّدًا صلى الله عليه و سلم فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَ مَنْ عَصىَ مُحَمَّدًا صلى الله عليه و سلم فَقَدْ عَصىَ اللهَ وَ مُحَمَّدٌ فَرَّقَ بَيْنَ النَّاسِ

Dari Jabir bin Abdullah berkata, “Para Malaikat pernah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan beliau sedang tidur”. Berkata sebahagian mereka, “sesungguhnya ia sedang tidur. Sebahagian yang lain berkata: sesungguhnya matanya tidur sedangkan hatinya terjaga”. Mereka berkata, “Sesungguhnya ada suatu perumpamaan bagi shahabat kalian ini, maka buatlah suatu perumpamaan untuknya”. Sebahagian mereka berkata, “Sesungguhnya ia sedang tidur”. Sebahagian yang lain berkata, “Sesungguhnya matanya tidur sedangkan hatinya terjaga”. Mereka berkata, “Perumpamaannya adalah seperti seseorang yang membangun sebuah rumah dan menjadikan hidangan di dalamnya. Lalu ia mengutus seorang penyeru, maka barangsiapa yang memenuhi (panggilan) penyeru maka ia akan masuk ke dalam rumah tersebut dan menyantap hidangannya. Dan barangsiapa yang tidak memenuhinya maka ia tidak akan memasuki rumah tersebut dan tidak pula menyantap hidangannya”. Mereka berkata, “tafsirkan perumpamaan itu untuknya niscaya ia memahaminya”. Sebahagian mereka berkata, “Sesungguhnya ia sedang tidur. Sebahagian lainnya berkata: matanya tidur tetapi hatinya terjaga. Rumah itu adalah surga dan penyerunya adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barangsiapa yang mentaati Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia telah mentaati Allah dan barangsiapa yang menentang Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sungguh-sungguh ia telah mendurhakai Allah. Muhammad adalah pemisah di antara manusia”. [HR al-Bukhoriy: 7281, lihat Misykah al-Mashobih: 144].

Setiap orang jika ditanyakan kepadanya akan keinginannya untuk masuk surga, niscaya ia sangat menginginkannya tanpa kebimbangan. Sayangnya, itu hanya sebatas wacana dan keinginan tanpa bukti yang dapat mewujudkan keinginannya itu. Yaitu jika ada seorang muslim yang memiliki keinginan yang kuat untuk masuk ke dalam surga, namun ia selalu menentang dan mendurhakai Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap perintah dan larangannya maka keinginannya itu kalau begitu hanyalah fatamorgana semata.

عن أبي هريرة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: كُلُّ أُمَّتىِ يَدْخُلُوْنَ اْلجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبىَ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ مَنْ يَأْبىَ ؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنىِ دَخَلَ اْلجَنَّةَ وَ مَنْ عَصَانىِ فَقَدْ أَبىَ

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan”. Mereka bertanya, “Siapakah yang enggan itu wahai Rosulullah?”. Beliau menjawab, “Barangsiapa yang mentaatiku maka ia akan masuk surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka sungguh-sungguh dialah yang enggan”. [HR al-Bukhoriy: 7280 dan Ahmad: II/ 361. Berkata asy-SYaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Fath al-Bariy: XIII/ 249, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 2212, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4513, Misykah al-Mashobih: 143 dan Tahqiq Riyadl ash-Shalihin: 162].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Fiqhul haditsnya adalah; (1) Allah menciptakan para hamba adalah untuk merahmati mereka dan memasukkan mereka ke daerah rahmat-Nya, (2) Rosul Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penyampai dari Rabb-nya, (3) Barangsiapa yang menentang Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  maka sungguh ia telah menolak rahmat Allah, (4) Menentang Allah dan Rosul-Nya akan menetapkannya kedalam neraka dan (5) Keselamatan seseorang di dunia dan akhirat itu adalah dengan mengikuti petunjuk Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “.[Bahjah an-Nazhirin: I/ 239].

عن أبي سعيد الخدري قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: وَ الَّذِى نَفْسىِ بِيَدِهِ لَتَدْخُلُنَّ اْلجَنَّةَ كُلُّكُمْ إِلاَّ مَنْ أَبىَ وَ شَرَدَ عَلىَ اللهِ كَشُرُوْدِ اْلبَعِيْرِ قَالُوْا: وَ مَنْ يَأْبىَ أَنْ يَدْخُلَ اْلجَنَّةَ؟ فَقَالَ: مَنْ أَطَاعَنىِ دَخَلَ اْلجَنَّةَ وَ مَنْ عَصَانىِ فَقَدْ أَبىَ

Dari Abu Sa’id al-Khudriy berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demi Dzat yang jiwaku ada pada tangan-Nya, benar-benar kalian semua masuk surga kecuali yang enggan dan lari mengucilkan diri terhadap Allah laksana lari mengucilkan dirinya seekor unta”. Mereka bertanya, “Siapakah yang enggan masuk surga itu (wahai Rosulullah)?”. Maka Beliau menjawab, “Barangsiapa yang mentaatiku maka ia akan masuk surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dialah yang enggan”. [HR Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: sanad hadits ini shahih atas syarat al-Bukhoriy, lihat Sisilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2044].

Bahkan Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Wajib bagi kita untuk mentaati Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap apapun yang beliau perintahkan dengannya, karena Allah sungguh-sungguh telah menyebutkan ketaatan kepadanya di lebih dari tiga puluh tempat dari kitab-Nya”. [Majmu’ Fatawa: XXII/ 320].

4. Membenarkannya dan semua yang dikabarkan olehnya

Sikap wajib bagi setiap muslim selanjutnya adalah membenarkan apapun yang telah dikabarkan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa keraguan dan bantahan. Apakah berkenaan dengan kisah umat-umat terdahulu, masalah kubur antara nikmat dan adzabnya, tanda-tanda hari kiamat, waktu dan keadaan peristiwanya, kehidupan di dalam surga dan neraka setelah hari berbangkit dan lain sebagainya. Meskipun bertentangan dengan akal logika, hawa nafsu, persangkaan dan kepercayaan orang banyak, ia wajib mengimani dan mempercayai kebenarannya tanpa ragu sedikitpun. Sebab Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berbicara dari hawa nafsunya dan setiap yang diucapkannya adalah kebenaran meskipun dikatakan dalam keadaan marah dan canda.

      وَ الَّذِى جَاءَ بِالصِّدْقِ وَ صَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ اْلمـُــتَّقُونَ لَهُم مَا يَشَاءُونَ عِندَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ جَزَاءُ اْلمـُــحْسِنِينَ

Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Rabb mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik. (QS az-Zumar/ 39: 33-34).

عن أبى هريرة عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ اْلمَيِّتَ يَصِيْرُ إِلىَ اْلقَبْرِ فَيُجْلَسُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فىِ قَبْرِهِ غَيْرَ فَزِعٍ وَ لاَ مَشْعُوْفٍ ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: فِيْمَ كُنْتَ؟ فَيَقُوْلُ: كُنْتُ فىِ اْلإِسْلاَمِ فَيُقَالُ لَهث: مَا هَذَا الرَّجُلُ؟ فَيَقُوْلُ: مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم جَاءَنَا بِاْلبَيِّنَاتِ مِنْ عِنْدِ اللهِ فَصَدَّقْنَاهُ فَيُقَالُ لَهُ: هَلْ رَأَيْتَ اللهَ؟ فَيَقُوْلُ: مَا يَنْبَغىِ ِلأَحَدٍ أَنْ يَرَى اللهَ فَيُفْرَجُ لَهُ فُرْجَةٌ قِبَلَ النَّارِ فَيَنْظُرُ إِلَيْهَا يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا فَيُقَالُ لَهُ: انْظُرْ إِلىَ مَا وَقَاكَ اللهُ  ثُمَّ يُفْرَجُ لَهُ قِبَلَ اْلجَنَّةِ فَيَنْظُرُ إِلىَ زَهْرَتِهَا وَ مَا فِيْهَا فَيُقَالُ لَهُ: هَذَا مَقْعَدُكَ وَ يُقَالُ لَهُ: عَلىَ اْليَقِيْنِ كُنْتَ وَ عَلَيْهِ مُتَّ و عَلَيْهِ تُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ وَ يُجْلَسُ الرَّجُلُ السُّوْءُ فىِ قَبْرِهِ  فَزِعًا مَشْعُوْفًا فَيُقَالُ لَهُ: فِيْمَ كُنْتَ؟ فَيَقُوْلُ: لاَ أَدْرِى فَيُقَالُ يَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ؟ فَيَقُوْلُ: سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُوْلُوْنَ قَوْلاً فَقُلْتُهُ فَيُفْرَجُ لأَهُ قِبَلَ اْلجَنَّةِ فَيَنْظُرُ إِلىَ زَهْرَتِهَا وَ مَا فِيْهَا فَيُقَالُ لَهُ: انْظُرْ إِلىَ مَا صَرَفَ اللهُ عَنْكَ ثُمَّ يُفْرَجُ لَهُ فُرْجَةٌ قِبَلَ النَّارِ فَيَنْظُرُ إِلَيْهَا يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا فَيُقَالُ لَهُ: هَذَا مَقْعَدُكَ عَلىَ الشَّكِّ كُنْتَ وَ عَلَيْهِ كُتَّ وَ عَلَيْهِ تُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالىَ

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya mayit  diletakkan di kubur. Maka orang shalih tersebut didudukkan di tempatnya tanpa rasa kaget dan terkejut”. Lalu ditanyakan kepadanya, “Dimana kamu (dahulu)?”. Ia menjawab, “Aku di dalam Islam”. Ditanyakan (lagi) kepadanya, “Siapakah lelaki ini?”. Ia menjawab, “Ia adalah Muhammad utusan Allah yang datang kepada kami dengan membawa bukti-bukti nyata dari sisi Allah, lalu kami membenarkannya”. Ditanyakan kepadanya, “Apakah engkau pernah melihat Allah?”. Ia menjawab, “Tidak sepatutnya bagi seseorang itu melihat Allah”. Lalu dibukakan untuknya satu celah ke arah neraka, maka ia menyaksikan sebahagiannya membakar sebahagian yang lain. Dikatakan kepadanya, “Lihatlah kepada apa yang Allah telah menjagamu”. Lalu dibukakan untuknya satu celah ke arah surga maka ia melihat hiasan dan segala isinya. Dikatakan kepadanya, “Inilah tempatmu, di atas keyakinan ini engkau dahulu berada, di atasnya pula engkau mati dan di atasnya pulalah engkau akan dibangkitkan Insyaa Allah”. Orang yang buruk akan didudukkan di dalam kuburnya dalam keadaan kaget dan terkejut. Ditanyakan kepadanya, “Dimanakah engkau dahulu berada?”. Ia menjawab, “Aku tidak tahu”. Ditanyakan lagi kepadanya, “Siapakah lelaki ini?”. Ia menjawab, “Aku mendengar orang-orang mengatakan suatu perkataan lalu akupun ikut mengatakannya”. Lalu dibukalah untuknya satu celah ke arah surga maka ia melihat hiasan dan segala isinya. Dikatakan kepadanya, “Lihatlah kepada apa yang Allah telah memalingkannya darimu”. Lalu dibukalah untuknya satu celah ke arah neraka maka ia melihat sebahagiannya membakar sebahagian yang lain. Dikatakan kepadanya, “Inilah tempatmu, karena di atas keyakinan ini engkau dahulu ragu-ragu, di atasnya engkau mati dan di atasnya pula engkau akan dibangkitkan Insyaa Allah”. [HR Ibnu Majah: 4268 dan Ahmad: VI/ 140. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan Ibni Majah: 3443, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1361, 1968  dan Misykah al-Mashobih: 139].

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ أَهْلَ اْلجَنَّةِ يَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ اْلغُرَفَ مِنْ فَوْقِهِمْ كَمَا يَتَرَاءَوْنَ اْلكَوَاكِبَ الدُّرِيَّ اْلغَابِرَ فىِ اْلأُفُقِ مِنَ اْلمـَشْرِقِ أَوِ اْلمـَغْرِبِ لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ تِلْكَ مَنَازِلُ اْلأَنْبِيَاءِ لاَ يَبْلُغُهَا غَيْرُهُمْ؟ قَالَ: بَلىَ وَ الَّذِى نَفْسىِ بِيَدِهِ رِجَالٌ آمَنُوْا بِاللهِ وَ صَدَّقُوْا اْلمــُرْسَلِيْنَ

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya penghuni surga saling memandang dengan penghuni ruangan yang ada di atas mereka sebagaimana mereka melihat bintang-bintang gemerlapan yang tersembunyi di timur atau barat, karena keutamaan di antara mereka”. Mereka bertanya, “Wahai Rosulullah apakah itu merupakan tempat kedudukan para nabi  yang tidak akan dicapai oleh orang selain mereka?”. Beliau menjawab, “Tidak demikian, demi Dzat yang jiwaku ada pada tangan-Nya, (itu adalah tempat) orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rosul”. [HR al-Bukhoriy: 3256, 6556 ].

Di antara kenikmatan ahli surga adalah mereka dapat saling melihat dengan penghuni ruangan yang ada di atasnya. Hal itu dikarenakan para penghuni surga itu waktu hidup dunia selalu menghiasai dirinya dengan keimanan kepada Allah Jalla Jalaaluhu dan membenarkan apapun yang diucapkan oleh para Rosul Sholawatullahu wa salamuhu alaihim ajma’in, termasuk Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عن عبد الله بن عمرورضي الله عنهما قَالَ: كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم أُرِيْدُ حِفْظَهُ فَنَهَتْنىِ قُرَيْشٌ وَ قَالُوْا أَ تَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ َتسْمَعُهُ وَ رَسُوْلُ اللهِ بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فىِ اْلغَضَبِ وَ الرِّضَا فَأَمْسَكْتُ عَنِ اْلكِتَابِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَأَوْمَأَ بِاُصْبُعِهِ إِلىَ فِيْهِ فَقَالَ: اكْتُبْ فَوَ الَّذِي نَفْسِى بِيَدِهِ مَا َيخْرُجُ مِنْهُ وَ فى رواية: مَا خَرَجَ مِنْهُ و فى رواية: مَا خَرَجَ مِنىِّ إِلاَّ حَقٌّ

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu ‘anhuma berkata, “aku senantiasa mencatat (menulis) segala sesuatu yang aku dengar dari Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bertujuan untuk menghafalnya. Lalu orang-orang Quraisy melarangku dan berkata, “Apakah engkau selalu mencatat semua yang engkau dengar (darinya) sedangkan Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang manusia yang berbicara dengan rasa marah dan senang”. Lalu akupun menghentikan dari mencatatnya. Maka aku ceritakan hal tersebut kepada Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Beliau berisyarat dengan jarinya ke mulutnya seraya bersabda, “Catatlah, demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggaman tangan-Nya, tidaklah keluar darinya (di dalam satu riwayat, tidaklah keluar dariku) kecuali kebenaran”. [HR Abu Dawud: 3646, Ahmad: II/ 162, 192, ad-Darimiy: I/ 125 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan Abi Dawud: 3099, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1196 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1532].

عن أبى هريرة رضي الله عنه قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّكَ تُدَاعِبُنَا؟ قَالَ: إِنىِّ لاَ أَقُوْلُ إِلاَّ حَقًّا

Dari Abu Hurairah radliyallhu anhu, mereka berkata, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya engkau bersenda gurau dengan kami?”. Beliau bersabda, “Tetapi, aku tidaklah berkata kecuali kebenaran”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 265 dan at-Turmudziy: 1990 dan Ahmad: II/ 360. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad: 200, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1621, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2509, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1726 dan Misykah al-Mashobih: 4885].

Janganlah engkau ragukan sedikitpun apa yang telah diucapkan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik di waktu senang, marah dan candanya. Sebab semua yang keluar dari mulutnya yang mulia itu adalah kebenaran yang mesti kita imani dan benarkan.

5. Meninggalkan larangan-larangannya.

Ada orang yang mengatakan ketika diajak untuk ikut kajian-kajian agama, “Saya enggan ikut pengajian, karena di pengajian itu suka diperintah dan dilarang. Saya masih ingin bebas mengerjakan apa yang saya kehendaki tanpa aturan agama”. Subhanallah amat buruk apa yang mereka ucapkan itu.

Mereka suka ataupun tidak, aturan-aturan itu telah ada dan menjadi pedoman hidup.Wahai saudaraku, bagaimana pendapatmu jika hidup tanpa aturan, tidak ada bedanya manusia dengan binatang. Bagaimana kondisi jalan raya tanpa lampu merah dan rambu-rambu jalan, pasti jalanan makin semrawut dan banyak kecelakaan.  Bagaimana kehidupan ayah, ibu, anak dan pembantu di rumah jika tanpa aturan yang jelas. Bagaimana juga jika kantor, sekolah, tempat berbelanja dan selainnya jika tanpa aturan. Maka kita katakan, semua itu membutuhkan aturan yang terang dan rinci untuk memberi keamanan, kenyamanan dan kelancaran bagi orang-orang yang berada di dalamnya. Jika demikian, bagaimana dengan aturan agama?, tidakkah kita juga membutuhkannya. Wahai saudaraku, jawablah dengan hatimu bukan dengan hawa nafsumu.

Aturan-aturan itu biasanya berupa perintah dan larangan. Jika perintah maka setiap muslim hendaknya berusaha mengerjakannya semaksimal dan seoptimal mungkin. Adapun jika berupa larangan, hendaknya juga berusaha untuk meninggalkan dan menanggalkannya dengan penuh kesungguhan. Tidak ada usaha yang disia-siakan oleh Allah ta’ala, maka sekecil apapun usahanya niscaya akan dibalas sesuai dengan apa yang diamalkannya.

Tapi yang setiap muslim harus ketahui, karena ini adalah masalah agama maka yang berhak memerintah dan melarang itu hanyalah Allah Subhanah dan Rosul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    وَ مَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَ مَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَ اتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ اْلعِقَابِ

Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukuman-Nya. (QS. al-Hasyr/ 59: 7).

Berkata asy-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengerjakan apa yang diperintahkan Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi apa yang telah dilarang olehnya. Sebab Beliau hanyalah menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari keburukan”. [Bahjah an-Nazhirin: I/ 233 dan semakna apa yang dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim: IV/ 404].

Jadi apapun yang telah dilarang oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka setiap muslim harus segera meninggalkannya tanpa keraguan, bantahan dan pilihan lain dari yang telah ditetapkannya tersebut. Jika tidak, maka sesungguhnya Allah itu sangat keras siksaan-Nya.

Hal ini telah diperkuat lagi dengan hadits berikut ini,

عن أبى هريرة رضي الله عنه عَنِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: ذَرُوْنىِ مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهُمْ وَ اخْتِلاَفِهُمْ عَلىَ أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَ إِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوْهُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tinggalkanlah oleh kalian apa yang aku telah tinggalkan bagi kalian. Hanyalah binasanya orang-orang sebelum kalian, lantaran banyaknya pertanyaan mereka dan mereka senantiasa menyelisihi nabi-nabi mereka. Maka apapun yang kuperintahkan kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian. Dan apa yang aku larang terhadap kalian tentang sesuatu maka tinggalkanlah”. [HR Muslim: 1337, al-Bukhoriy: 7288, at-Turmudziy: 2679, Ibnu Majah: 2 dan Ahmad: II/ 247, 258, 313, 328, 447-448, 457, 467, 482, 495, 503, 508, 517. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 639, Shahih Sunan Ibni Majah: 2, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 91, 3430, Silisilah al-Ahadits ash-Shahihah: 850, Irwa’ al-Ghalil: 155, 314 dan Misykah al-Mashobih: 2505].

Berkata asy-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Sepantasnya bagi Muslim untuk senantiasa mencari apa yang telah datang dari Allah Azza wa Jalla dan RosulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian bersungguh-sungguh di dalam memahaminya dan diam di dalam keinginan Allah lalu menyibukkan diri di dalam mengamalkannya. [Bahjah an-Nazhirin: I/ 237].

6. Tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan.

Allah Subhanahu wa ta’ala telah menerangkan posisi seorang Nabi pada umatnya yaitu sebagai orang yang menunjuki umatnya kepada kebaikan dan memperingatkan mereka akan keburukan yang diketahuinya. Sebagaimana di dalam hadits berikut,

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَ يُنْذِرُهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ

Dari Abdullah bin Amr radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah seorang nabi sebelumku melainkan ia berhak untuk menunjuki umatnya atas kebaikan yang ia ketahui dan memperingatkan mereka atas keburukan yang ia ketahui”. [HR Muslim: 1844, an-Nasa’iy: II/ 185, Ibnu Majah: 3956 dan Ahmad: II/ 191. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 1199, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3907, Shahih Sunan Ibnu Majah: 3195, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2403 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 241].

عن أبي ذر قَالَ تَرَكَناَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَ مَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فىِ اْلهَواَءِ إِلاَّ وَ هُوَ يَذْكُرُنَا مِنْهُ عِلْمًا قَالَ فَقَالَ صلى الله عليه و سلم: مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ اْلجَنَّةِ وَ يُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

Dari Abu Dzarr berkata, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kita (wafat), dan tiada seekor burung yang (terbang) membolak-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau telah menyebutkannya kepada kami sebagai suatu ilmu darinya. Berkata (Abu Dzarr), Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak tinggal sesuatupun yang dapat mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan kalian dari neraka, melainkan sengguh-sungguh telah dijelaskan kepada kalian”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Kabiir dan Ahmad: V: 153, 162 tanpa kalimat kedua. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hadits ini sanadnya shahih, lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1803].

عن سلمان رضي الله عنه قَالَ: قِيْلَ لَهُ : قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صلى الله عليه و سلم كُلَّ شَيْءٍ حَتىَّ اْلخِرَاءَةَ قَالَ: فَقَالَ: أَجَلْ

Dari Salman al-Farisiy radliyallahu anhu berkata, pernah ditanyakan kepadanya, “Sesungguhnya Nabi kalian Shallallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan kalian segala sesuatu sampai (diajarkan pula adab) buang air besar”. Ia berkata, Maka Salman radliyallahu anhu menjawab, “Ya benar”. [Telah mengeluarkan hadits ini Muslim: 262, at-Turmudziy: 16, Abu Dawud: 7 dan Ibnu Majah: 316. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih,lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 116, Shahih Sunan at-Turmudziy: 15, Shahih Sunan Abi Dawud: 5 dan Shahih Sunan Ibni Majah: 255].

Meskipun pertanyaan kaum musyrikin kepada Salman al-Farisiy radliyallahu anhu itu bersifat ejekan dan cemoohan, namun para Shahabat, khususnya Salman membenarkannya bahwasanya Nabi mereka Shallallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan segala sesuatu kepada mereka berupa akidah, ibadah, muamalah, akhlak dan lain sebagainya bahkan sampai adab buang air besar sebagai bentuk keagungan dan kemuliaan islam yang membimbing dan menuntun para pemeluknya kepada kelayakan hidup di dunia dan keselamatan hidup di akhirat kelak. Namun anehnya, banyak di antara kaum muslimin sendiri yang tidak tahu atau mungkin pura-pura tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu bahwa Islam agama mereka itu adalah agama yang sangat lengkap dan sempurna yang paling pantas untuk dijadikan pedoman hidup di dunia dan menjadi penyebab keselamatan di akhirat. Kesempurnaan Islam itu selain karena kehendak dari Allah Azza wa Jalla juga karena kerja keras dan keikhlasan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di dalam mendakwahi umat manusia kepada kebenaran dan kebaikan serta memperingatkan mereka dari berbagai kebatilan dan keburukan.

Maka alangkah beraninya umat di masa sekarang ini, bahkan ada orang yang mengaku-ngaku sebagai dai atau juru dakwah. Jika ada di antara mereka yang masih meragukan kerosulan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mendustakan dan mengkufurinya. Dan bahkan masih mengakui kerosulan manusia lainnya sesudah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih berani lagi jika ada di antara mereka yang mengaku-ngaku telah mendapatkan ilham dan wahyu dari “Tuhan” lalu memposisikannya sebagai seorang rosul atau nabi yang baru. Tidakkah mereka takut terhadap “ancaman Allah Subhanahu wa ta’ala”, bahwa di antara mereka ada yang masih mendurhakai dan menentang apa yang ia perintahkan, melanggengkan dan membudayakan suatu perbuatan dan perkataan yang telah ia larang serta mendustakan dan menimbulkan keragu-raguan kepada khalayak dari kaum muslimin akan sesuatu yang telah ia khabarkan dan tetapkan serta mengabaikan dan menomorduakan perintah dan larangan yang ia telah syariatkan.

Dan juga tidakkah mereka memiliki rasa malu, ketika ada sebahagian dari mereka yang mengklaim atau menganggap telah banyak berbuat jasa terhadap Islam. Yakni berupa memunculkan banyak gagasan dan merekayasa berbagai macam acara yang menurut mereka bercirikan Islam dan lain sebagainya. Yang akhirnya mereka mempunyai keinginan dan ambisi untuk memperbaharui dan memodernisasi syariat-syariat Islam yang barangkali ada di antara mereka yang menganggap bahwa Islam itu kuno, cupet, sempit, lamban, tidak universal dan “nggak ngetrend”. Lalu pada akhirnya ia memiliki suatu pandangan dan prinsip bahwa ”semua agama itu sama”. Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Ketahuilah! bahwa sehebat-hebat umat Islam masa sekarang ini, dengan berbagai macam pengetahuan ukhrowi dan dunyawi dari membaca, menghafal dan menalar kitab-kitab kuning sampai memprogram kitab kuning tersebut menjadi bentuk disket, cd atau flashdisk computer. Tak akan mampu mereka menandingi kehebatan kurun pertama, kedua dan ketiga dari sejak Islam dipancangkan di tanah haram (Mekkah). Lalu setinggi-tingginya status sosial dan kemuliaan umat Islam masa kini, dengan berbagai macam julukannya dari al-Hajj, al-Ustadz, al-Habib, asy-Syaikh, al-Imam, al-Mukarram ataupun professor, Doktor, Insinyur dan lain sebagainya yang semuanya itu adalah merupakan gelar-gelar hasil buatan juga. Tidaklah mereka itu lebih tinggi kemuliaannya di sisi Allah Rafii’ ad-Darojaat dari para shahabat radliyallahu ‘anhum, kendatipun banyak di antara mereka yang ummiy (buta huruf). Dan tentu di antara mereka yaitu umat dari generasi pertama dengan generasi sesudah mereka jika disejajarkan tidak akan seimbang dan sepadan.

Belumkah sampai kepada kalian wahai para dai tentang khabar dari Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai sebaik-baiknya masa?. Inilah dia nash dalilnya,

عن عمران بن حصين رضي الله عنه قال: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: خَيْرُكُمْ قَرْنىِ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

Dari Imran bin Hushain radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik kalian adalah masaku, lalu orang-orang yang berikutnya, kemudian orang-orang yang berikutnya”. [HR al-Bukhoriy: 2651, 3650, 6428, 6695, Muslim: 2535, at-Turmudziy: 2221, 2303 dan Ahmad: IV/ 426. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Fat-h al-Bariy: V/ 258, XI/244, 580-581, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 1199, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1809, 1874, Shahih al-Jami’ ash-Shahih: 3317 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 699, 1840].

عن عبد الله رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: خَيْرُ النَّاسِ  قَرْنِى ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

Dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu berkata bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah masaku, lalu orang-orang yang berikutnya, kemudian orang-orang yang berikutnya”. [HR al-Bukhoriy: 2652, 3651, 6429, Muslim: 2533, at-Turmudziy: 3859, Ibnu Majah: 2362 dan Ahmad: I/ 378, 417, 434, 438, 442. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Mukhtasor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 1201, Mukhtashor Shahih Muslim: 1743, Shahih Sunan at-Turmudziy: 3032, Shahih Sunan Ibni Majah: 1912, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3295, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 700 dan Syar-h al-Aqidah ath-Thohawiyah halaman 469].

عن أبى هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: خَيْرُ أُمَّتىِ اْلقَرْنُ الَّذِى بُعِثْتُ فِيْهِمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ  … الخ

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik umatku adalah masa dimana aku telah diutus pada mereka, lalu orang-orang berikutnya, kemudian orang-orang berikutnya”. [HR Muslim: 2534 dan Ahmad: II/ 228, 410, 479 dengan lafazh “sebaik-baik kalian” serta at-Turmudziy: 2222, Abu Dawud: 4657, hanya saja isnad ini dari jalan Imran bin Hushain. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 1810, Shahih Sunan Abi Dawud: 3892, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3301 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1839, 1841].

Masih dari Jalan Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “(Wahai Rosulullah), siapakah manusia yang terbaik itu?”. Lalu Beliau menjawab, “Aku dan orang-orang yang bersamaku, lalu orang-orang yang berada di atas atsar, kemudian orang-orang yang berada di atas atsar”. Kemudian seolah-olah Beliau meninggalkan orang-orang sisanya. [Telah mengeluarkan hadits ini Ahmad: II/ 297, 340. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hadits ini sanadnya hasan, lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: IV/  455].

عن عائشة  رضي الله عنها قَالَتْ: سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم: أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟ قَالَ: اْلقَرْنُ الَّذِى أَنَا فِيْهِ ثُمَّ الثَّانىِ ثُمَّ الثَّالِثُ

Dari Aisyah radliyallahu ‘anha berkata, “seseorang lelaki pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “siapakah manusia yang terbaik itu?”. Beliau menjawab, “Masa yang aku ada padanya, lalu yang kedua kemudian yang ketiga”. [HR Muslim: 2536 dan Ahmad: VI/ 156. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3288 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: IV/457].

Di dalam riwayat yang lain yaitu riwayat ath-Thabraniy dari jalan Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu, ada tambahan, “Kemudian akan datang suatu kaum yang tidak ada kebaikan pada mereka”. [Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3293].

Maka dengan memperhatikan riwayat-riwayat hadits tersebut di atas, maka bagaimana mungkin dapat diterima jika ada beberapa dai yang menganggap bahwa masa dimana dia hidup itu sebanding atau lebih baik dari masa dimana Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat radliyallahu ‘anhum, para tabi’iin dan Atbaa’ at-Tabi’iin hidup. Padahal jelas sekali sabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik manusia, sebaik-baik kalian dan sebaik-baik umatku itu ditujukan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri dengan para shahabat, tabi’iin dan Atba’ at-Tabi’in”. [Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolaniy rahimahullah tentang arti “Lalu orang-orang berikutnya, kemudian orang-orang berikutnya”, mereka itu adalah para tabi’in dan Atba’ at-Tabi’in. [Fat-h al-Bariy: VII/6, Nail al-Awthar: VIII/ 341 dan Aun al-Ma’bud: XII/ 267].

Wahai saudara-saudara muslimku, marilah kita pahami makna dan tujuan dari syahadat kedua dalam rukun Islam ini agar kita dapat memahaminya dengan pemahaman yang benar lagi utuh. Jangan hanya hafal kata tanpa makna yang akan menyebabkan kita menyimpang dari mengamalkannya. Jangan mengaku cinta kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tanpa bukti nyata yang akan menyebabkan kita menyeleweng dari cinta yang hakiki. Jangan mengaku patuh kepadanya tanpa menteladaninya secara utuh yang akan menyebabkan kita tergelincir kepada kesesatan yang jauh. Jangan mengerjakan amal apapun tanpa aturan dan bimbingannya yang akan menyebabkan kita jatuh ke dalam kubangan gelap tanpa hidayah.

Jadikanlah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai teladan, panutan ataupun idola dalam masalah agama dan dunia kita, agar kita berada di jalan yang lurus, selamat di dunia dan akhirat.

Maaf, jika terjadi kesalahan dalam kata, materi ataupun dalil, karena manusia tidak ada yang sempurna dan tidak pula luput dari kekeliruan. Namun kita akan selalu berusaha untuk memperbaikinya. Selamanya…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar