السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Rabu, 11 Juli 2012

GHIBAH 2


KENAPA ADA GHIBAH

بسم الله الرحمن الرحيم


Di dalam bab ini akan sedikit diulas tentang penyebab muncul dan meluasnya ghibah di kalangan manusia, umumnya dan kaum muslimin, khususnya. Hal ini bukan untuk memaklumi terjadinya ghibah tersebut dan membiarkannya menjalar dari satu manusia kepada manusia yang lainnya. Namun diharapkan, setiap muslim agar tahu dan paham bahwasanya ghibah adalah suatu keburukan yang mesti terjadi pada anak Adam, yang akan menimbulkan dampak buruk baginya dan selainnya. Maka dikala ada seorang muslim mengerjakan suatu dosa dan keburukan atau pada dirinya ada cacat berupa kekurangan dalam phisik, akal dan selainnya, tidak sepatutnya muslim yang lain untuk memudah-mudahkan dirinya dalam mencela dan mengghibahinya.

Telah diterangkan dipenjelasan terdahulu tentang perintah kepada setiap muslim untuk menjaga lisannya dari berbagai keburukan yang ditimbulkan olehnya, misalnya; dusta, celaan, cemoohan, ghibah, buhtan, namimah dan selainnya. Maka di antara penyebab utama terjadinya ghibah ini adalah karena sulitnya umat manusia termasuk kaum muslimin untuk menjaga lisannya, sehingga disebutkan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa kebanyakan penyebab yang memasukkan manusia ke dalam neraka adalah lisannya, dan dosa yang dikerjakan oleh manusia itu kebanyakan dihasilkan juga oleh lisannya.

Di samping sulitnya manusia menjaga lisannya dari berbagai ucapan yang mengandung maksiat sebagaimana telah dijelaskan, setiap manusia juga telah memahami, bahwasanya tiada orang yang suci dari berbagai dosa dan kesalahan. Sehingga dengan sebab ini pula setiap manusia termasuk umat Islam ini, rawan untuk dighibah. Kebaikan dan kebenaran yang dikerjakan oleh seorang mukmin saja terkadang dipandang negatif dan keliru oleh orang lain yang tidak sejalan dan sepaham, sehingga menjadi bahan ghibah dan cemoohan. Apalagi jika mukmin tersebut benar-benar melakukan dosa dan kesalahan tentu akan lebih mudah dan menjadi sasaran empuk untuk dighibah. Jadi dosa dan kesalahan adalah salah satu sumber dan pemicu yang dapat menimbulkan terjadinya ghibah.

Di antara dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya setiap manusia itu termasuk kaum mukmininnya tidak pernah luput dari berbuat dosa dan kesalahan, yakni sebagai berikut,

فَلاَ تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. [an-Najm/ 53: 32].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Allah ta’ala telah melarang para hamba-Nya yang beriman untuk mensucikan dirinya sendiri dengan mengaku-ngaku sempurna lagi bersih (dari dosa), suatu perkara yang dapat menjadikannya angkuh dan ujub. Ujub kepada diri sendiri itu dapat menghapuskan amal perbuatan sebagaimana halnya riya dan syirik”. [Aysar at-Tafaasiir: V/ 197].

Jika Allah Subhanahu wa ta’ala telah melarang siapapun manusia untuk menganggap dirinya sempurna lagi suci dari berbagai macam kesalahan, maka tidak ada hak bagi mereka untuk menganggap diri mereka atau sebahagian mereka sebagai manusia suci lagi sempurna.

Menguatkan ayat di atas, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhabarkan bahwasanya setiap manusia itu pasti melakukan dosa dan kesalahan yang mau atau tidak, sadar ataupun tidak, pasti mereka lakukan. Namun dari sekian banyak manusia yang melakukan perbuatan dosa tersebut yang terbaik dari mereka adalah yang suka dan bersegera di dalam bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla.

عن أنس رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: كُلُّ بَنىِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَ خَيْرُ اْلخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

Dari Anas radliyallahu anhu berkata, Telah bersabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Semua anak Adam itu berdosa, dan sebaik-baik yang berdosa adalah orang yang bertaubat”. [HR Ahmad: III/ 198, at-Turmudziy: 2499, Ibnu Majah: 4251, ad-Darimiy: II/ 303 dan al-Hakim: 7691. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 2029, Shahih Sunan Ibni Majah: 3428, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4515, Misykah al-Mashobih: 2341].

Bahkan seorang mukminpun bisa terjatuh ke dalam kubangan dosa dan kesalahan yang ia himpun dari masa ke masa, lalu dosa itu menetap pada dirinya sampai ajal menjemputnya dan berpisah dengan dunia yang fana.

عن ابن عباس رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَا مِنْ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلاَّ وَ لَهُ ذَنْبٌ يَعْتَادُهُ اْلفَيْنَةَ بَعْدَ اْلفَيْنَةِ أَوْ ذَنْبٌ هُوَ مُقِيْمٌ عَلَيْهِ لاَ يُفَارِقُهُ حَتىَّ يُفَارِقَ الدُّنْيَا إِنَّ اْلمــُؤْمِنَ خُلِقَ مُفَتَّنًا تَوَّابًا نَسَّاءً إِذَا ذُكِّرَ ذَكَرَ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiada seorang hamba mukminpun melainkan dia mempunyai dosa yang biasa dia kerjakan dari masa ke masa. Atau mempunyai dosa yang menetap bersamanya yang tiada terpisah dengannya sehingga berpisah dengan dunia. Sesungguhnya mukmin itu diciptakan untuk mendapat fitnah (atau cobaan), suka bertaubat dan pelupa. Jika ia diingatkan maka iapun segera ingat”. [HR ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5735 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2276].

Dalil di atas menegaskan bahwa seorang mukminpun tidak akan luput dari berbuat dosa dan kesalahan. Ia senantiasa diberi cobaan oleh Allah Azza wa Jalla, diantaranya dengan berbagai macam hawa nafsu yang membuatnya lupa akan perintah dan larangan. Tetapi jika ia seorang mukmin, disaat ia diingatkan dan ditegur dengan ayat-ayat Allah atau hadits-hadits Nabi yang shahih maka iapun segera ingat akan perintah dan larangan tersebut, lalu ia segera bertaubat kepada-Nya.

Bahkan jika ada suatu masa, seluruh kaum mukminin tidak ada yang mengerjakan berbagai perbuatan dosa dan kesalahan niscaya Allah Azza wa Jalla akan melenyapkan dan menghapus mereka dari permukaan bumi. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala akan mendatangkan kaum lain yang berbuat dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah maka merekapun akan diampuni oleh-Nya, sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: وَ الَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوْا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ وَ لَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُوْنَ فَيَسْتَغْفِرُوْنَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa. Lalu mereka segera memohon ampunan kepada Allah, maka Allahpun mengampuni mereka”. [HR Muslim: 2749, Ahmad: II/ 308 dan al-Hakim: 7696. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 1922, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7074 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1950].

عن ابن عمرو رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: لَوْ أَنَّ اْلعِبَادَ لَمْ يُذْنِبُوْا لَخَلَقَ اللهُ عز و جل خَلْقًا يُذْنِبُوْنَ  ثُمَّ يَغْفِرُ  لَهُمْ وَ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْــمُ

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya para hamba itu tidak berdosa, niscaya Allah Azza wa Jalla akan menciptakan makhluk yang berbuat dosa kemudian Allah akan mengampuni mereka. Dan Dia adalah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang”. [HR al-Hakim: 7697 dan Abu Nu’aim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5243 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 967].

عن ابن عباس رضي الله عنهما قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: كَفَّارَةُ الذَّنْبِ النَّدَامَةُ وَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لَوْ لَمْ تُذْنِبُوْا  لَجَاءَ اللهُ عز و جل بِقَوْمٍ يُذْنِبُوْنَ لِيَغْفِرَ اللهُ لَهُمْ

Dari Ibnu Abbas Radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kifarat (penghapus) dosa adalah penyesalan”. Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah Azza wa Jalla akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa agar Allah mengampuni mereka”. [HR Ahmad: I/ 289. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5301 dan Silsilalh al-Ahadiits ash-Shahihah: 970].

Demikian dalil-dalil yang menjelaskan perihal kaum muslimin yang tidak akan dapat lepas dan melepaskan diri dari beraneka rupa perbuatan dosa dan kesalahan. Namun demikian, mereka harus senantiasa berusaha untuk meminimalkan perbuatan dosa itu dan memprioritaskan menjauhi dosa-dosa besar terutama perbuatan syirik dan bid’ah, sebab di dalam keduanya terdapat bahaya dan kerusakan yang besar di dunia dan akhirat.[Baca buku-buku yang berkenaan dengan hal ini, atau baca buku yang disusun oleh Abu Ubaidullah alfaruq, “Agar Amal Anda Diterima”, penerbit Pustaka at-Tazkia ].

Setelah jelas bagi kaum muslimin bahwasanya tidak ada satupun manusia yang pernah dan yang akan ada di muka bumi ini yang bersih dari dosa dan kesalahan, maka hendaknya merekapun merenung dan berfikir bahwa dirinyapun tentu tidak luput dari kubangan dosa dan kesalahan tersebut. Jika ia gemar mengghibahi saudaranya yang berbuat salah maka dirinyapun rawan dan ada peluang untuk dighibahi oleh orang lain.

Bercermin adalah hal yang terbaik, maka sebelum ia ingin mengghibah saudaranya sebaiknya ia bercermin terlebih dahulu,

  1. Apakah dirinya sudah bersih dari berbagai dosa dan kesalahan, sehingga ia merasa nyaman mengghibahi saudara-saudaranya?.
  2. Apakah ia ingin mengghibah saudaranya dari satu perbuatan dosa yang ia sendiripun sebenarnya mengerjakan perbuatan tersebut atau dosa yang lainnya?.
  3. Mengapa ia sibuk mengurusi dosa dan kesalahan orang lain hanya dengan harapan orang yang dighibahi itu dapat berubah menjadi orang baik, sedangkan ia telah melupakan dirinya sendiri?.
  4. Bagaimana keadaannya, jika suatu saat orang-orang mengetahui dosa dan kesalahannya lalu ia dighibah oleh orang lain?.
  5. Kapankah ia menyadari bahwa perbuatan ghibah yang ditimpakan kepada seseorang itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan dan terasa pahit bagi orang tersebut, lalu apakah ia sendiri harus mengalami dan merasakannya terlebih dahulu?.
Wahai saudaraku, janganlah engkau senang dengan tergelincirnya saudaramu ke dalam lumpur dosa, sebab suatu saat nantipun engkau boleh jadi juga akan mengalaminya!!. Janganlah pula engkau bersuka ria, makan enak dan tidur nyenyak dengan tersebar luasnya aib saudaramu itu karena suatu waktu kelak boleh jadi engkaupun akan mengalami hal serupa!!..

CONTOH DAN MODEL PENGGHIBAH 

Ghibah itu dapat dibawakan oleh seseorang dengan berbagai model dan gaya. Ada yang mengghibah disebabkan karena pergaulan, ada yang berpura-pura tidak mau menceritakan aib seseorang tapi karena ia menganggap hal itu adalah suatu mashlahat maka iapun terpaksa mengghibah. Ada yang menyanjung orang lain dan dirinya tetapi maksud yang sebenarnya adalah meninggikan derajatnya dan merendahkan yang lainnya. Ada yang memang sengaja mengghibah untuk mengejek dan mencemooh seseorang, ada yang yang mengghibah dalam bentuk menunjukkan rasa heran, sedih dan kecewa kepada seseorang yang berbuat kesalahanan dan ada yang mengghibah dalam bentuk menunjukkan rasa marah kepada orang yang berbuat dosa. Namun semuanya itu bertujuan untuk merendahkan dan melenyapkan kehormatan saudaranya yang dighibah tersebut.

Amal-amal itu tergantung niatnya, kendatipun pada lahiriyahnya ia mengghibah itu untuk mashlahat dan menunjukkan kepedulian kepada saudaranya, namun bila tujuan yang sebenarnya di dalam hatinya hanyalah supaya berkurang dan lenyap kehormatan dan harga diri saudaranya itu, maka Allah Subhanahu wa ta’ala hanya akan menilai dan membalas apa yang ada di dalam hatinya. Sebagaimana dalil hadits di bawah ini,

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: إِنمَّاَ اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ وَ إِنمَّاَ لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى … الخ

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hanyalah amal-amal itu tergantung dengan niat. Dan hanyalah seseorang itu memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan”. Dst. [HR al-Bukhoriy: 1, 54, 2529, 3898, 5070, 6689, 6953, Muslim: 1907, Abu Dawud: 2201, at-Turmudziy: 1647, an-Nasaa’iy: I/ 58-60, Ibnu Majah: 4227, Ahmad: I/ 25, al-Humaidiy: 28 dan ad-Daruquthniy: 128. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 1, Mukhtashor Shahih Muslim: 1080, Shahih Sunan Abi Dawud: 1927, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1344, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 73, Shahih Sunan Ibni Majah: 3405, Misykah al-Mashobih: 1, Ahkam al-Jana’iz halaman 70, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 8, Irwa’ al-Ghalil: 22 dan hadits ini telah dijelaskan oleh Ibnu Rajab al-Hambaliy di dalam kitabnya Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam: I/ 1-49 hadits nomor 1].


Di bawah ini, akan dibawakan penjelasan Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah [Majmu’ Fatawa: XXVIII/ 236-238] tentang contoh dan model pelaku ghibah,

  1. Ada orang yang mengghibah untuk mencocokkan dirinya (dalam obrolan) dengan kawan duduk, shahabat dan kerabatnya, padahal ia tahu bahwa orang yang dighibah (atau objek ghibah) itu berlepas diri dari apa yang mereka ucapkan atau sebahagian obrolan itu memang ada pada objek ghibah tersebut. Tetapi ia memandang jika ia mengingkari (perbuatan ghibah) mereka maka ia akan menghentikan majlis itu dan teman-temannya akan bersikap buruk kepadanya dan akan meninggalkannya. Sehingga ia memandang bahwa menyesuaikan diri dengan mereka itu merupakan sikap pergaulan dan persahabatan yang baik. Kadang-kadang mereka marah maka iapun marah bersama mereka, lalu ia tenggelam di dalam obrolan (bernuansa ghibah) itu bersama mereka.
  2. Ada orang menampakkan ghibah dalam model yang berbeda-beda. Ada yang berbentuk agama dan kebaikan.  Ia mengatakan, “bukanlah kebiasaanku menceritakan seseorang melainkan hanya kebaikannya saja. Aku tidak menyukai ghibah dan dusta, hanyasaja aku ingin memberitahukan kepada kalian tentang keadaannya”. Atau ia mengatakan, “Demi Allah, ia orang miskin, atau seorang laki-laki yang baik, namun sayangnya padanya ada perbuatan begini dan begitu”. Boleh jadi ia berkata, “Jauhkan kami dari (membicarakan)nya, semoga Allah mengampuni kami dan dia”. Tetapi tujuan yang sebenarnya adalah untuk merendahkan dan menjatuhkan kemuliaan  orang tersebut. Mereka telah mengemas ghibah dengan label kebaikan dan agama. Mereka hendak menipu Allah dengan perbuatan tersebut sebagaimana mereka biasa menipu manusia. Sungguh-sungguh kami telah menyaksikan banyak model  seperti ini dari mereka dan yang semisalnya.
  3. Ada orang mengangkat orang lain dengan maksud riya lalu hal itu menyebabkannya mengangkat dirinya. Ia berkata, “Seandainya di dalam sholatku semalam aku mendoakan si fulan, tatkala sampai kepadaku bahwa ia telah melakukan ini dan itu”. Ia bermaksud mengangkat dirinya dan merendahkan si fulan di hadapan orang-orang yang menganggapnya (orang baik). Atau ia berkata, “Si fulan itu pendek akalnya lagi lambat pemahamannya”. Ia bermaksud memuji dirinya dan mengukuhkan pengetahuannya, dan bahwa ia lebih utama dari si fulan tersebut.
  4. Ada juga yang melakukan ghibah itu karena dengki. Berarti ia telah menghimpun dua perkara jelek (di dalam dirinya), yaitu ghibah dan dengki. Jika ada seseorang dipuji, maka ia akan berusaha untuk menghilangkan (pujian) itu darinya dengan sekuat tenaga dengan kedok agama dan kebaikan. Atau dengan bentuk (mengemukakan orang yang terpuji itupun mempunyai) kedengkian, perbuatan maksiat dan nista agar kemuliaannya gugur darinya (di mata para pemujinya).
  5. Ada yang melakukan ghibah itu dengan bentuk ejekan dan menjadikan (seseorang) menjadi bahan permainan, agar orang-orang selainnya menjadi tertawa dengan olok-olok, kesombongan dan penghinaannya terhadap objek olokan tersebut .
  6. Ada juga yang melakukan ghibah dengan bentuk keheranan. Ia berkata, “Aku merasa heran kepada si fulan, mengapa ia tidak mampu melakukan ini dan itu. Dan juga kepada si fulan, mengapa hal ini dan itu bisa terjadi padanya, dan mengapa ia mengerjakan perbuatan ini dan itu”. Ia mengidentifikasikan namanya (objek ghibah tersebut) dalam bentuk rasa heran.
  7. Ada yang melakukan ghibah dalam bentuk rasa sedih. Ia mengatakan, “Kasihan si fulan, apa yang telah terjadi padanya dan apa yang dilakukannya membuatku sedih”. Orang yang mendengar (perkataan)nya menyangka bahwa ia bersedih dan berduka karenanya, (padahal tidak demikian keadaannya) sebenarnya hatinya dipenuhi rasa dendam kepada orang tersebut. Jika ia punya kesanggupan, niscaya ia akan menambah-nambah lebih dari kejelekan yang ada padanya. Terkadang ia menyebutkan hal tersebut kepada musuh-musuh (saudara)nya tersebut agar mereka bisa membalasnya. Model seperti ini dan yang lainnya merupakan penyakit hati yang paling parah dan usaha penipuan terhadap Allah dan para hamba-Nya.
  8. Ada juga yang menampakkan ghibah dalam bentuk kemarahan dan pengingkaran terhadap kemungkaran. Di dalam bab ini, ia menampakkan sesuatu dengan perkataan-perkataan yang indah padahal tujuannya tidak seperti yang ia tampakkan. Wallahul musta’aan.

Adapun jenis-jenis ghibah, telah dijelaskan oleh asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah [Bahjah an-Nazhirin: III/ 25-26] sebagai berikut,

Ghibah yang berkaitan dengan phisik atau badan, seperti ucapan, “Ia si buta, pincang, rabun, botak, pendek, jangkung, hitam dan kuning”. (1

Yang berkaitan dengan agama, seperti ucapan, “Ia orang fasik, pencuri, pengkhianat, zholim, orang yang meremehkan sholat, orang yang menggampangkan najis, yang tidak berbakti kepada kedua orang tua,  yang tidak membayar zakat dan yang tidak mau menjauhi ghibah”. (2

Yang berkaitan dengan dunia, misalnya ucapan, “Ia adalah orang yang kurang adab, yang suka memandang rendah orang lain, yang berpandangan orang lain tidak mempunyai hak, yang banyak ngomong, yang banyak makan dan tidur, orang yang suka tidur tidak pada waktunya dan orang yang duduk tidak pada tempatnya”. (3

Yang berkaitan dengan ayahnya, seperti ucapan, “Ayahnya adalah orang fasik, orang india, rakyat jelata, orang negro, tukang sepatu, pedagang kain, pedagang ternak, tukang kayu, pandai besi dan tukang tenun”. (4

Yang berkaitan dengan akhlak, misalnya ucapan, “Ia orang yang jelek akhlaknya, yang sombong, yang suka riya, yang suka tergesa-gesa, yang sewenang-wenang, yang loyo, yang lemah hatinya, yang tidak perhitungan (terhadap perbuatannya), yang bermuka masam, yang tidak tahu malu dan yang sejenisnya”. (5

Yang berkaitan dengan pakaian, seperti ucapan, “Lengan bajunya longgar, yang panjang kain bajunya, yang kotor bajunya dan semisalnya”. (6

Maka kiaslah yang lain sebagaimana yang kami telah sebutkan. Kaidahnya adalah, “Menyebutkan apa yang tidak ia sukai”.  Sama saja, apakah engkau menyebutkannya dengan ucapanmu, (menulis) di dalam bukumu, atau engkau menunjuk atau berisyarat dengan mata, tangan atau kepalamu.

Kaidahnya adalah, “Semua yang engkau berikan pemahaman kepada selainmu  tentang kekurangan seorang muslim maka itu adalah ghibah yang diharamkan”.

Di antara persamaan itu adalah, seseorang berjalan terpincang-pincang, membungkuk atau selain itu dari berbagai kondisi dengan tujuan menceritakan suatu keadaan orang yang memiliki kekurangan tersebut, maka semuanya itu adalah diharamkan tanpa perselisihan.

Termasuk hal itu juga adalah jika seorang penyusun buku menceritakan seseorang tertentu di dalam kitabnya. Ia berkata, “Si Fulan mengatakan ini”, dengan tujuan untuk mengurangi (kemuliaannya) dan mencelanya maka ini juga haram.

Namun jika ia ingin menerangkan kesalahan orang tersebut supaya tidak diikuti dan menerangkan akan kelemahannya di dalam ilmu agar ia tidak terpedaya dan ucapannya tersebut diterima, maka ini bukanlah ghibah. Tetapi ini adalah suatu nashihat yang sudah semestinya (disampaikan) dan iapun akan diberi balasan atasnya apabila ia menginginkan hal tersebut.

Demikian pula jika penyusun buku itu atau selainnya berkata, “Suatu kaum atau sekelompok orang telah berkata, “bla bla bla”. Dan perkataan itu ternyata keliru, salah, (hasil dari suatu) kebodohan atau keteledoran dan semisalnya. Maka ini juga bukan ghibah. Sebab ghibah itu adalah menceritakan seseorang atau kelompok tertentu.

Tetapi termasuk ghibah yang diharamkan adalah ucapan, “Sebahagian manusia, ahli fikih, orang yang mengaku-ngaku berilmu, mufti (ahli fatwa), orang-orang shalih, yang mengaku-ngaku zuhud, orang yang ada sekarang ini atau orang yang pernah kami lihat dan semisalnya, mereka semuanya itu melakukan hal ini”. Apabila orang yang berbicara itu memberikan pemahaman akan keadaan diri tertentu orang tersebut untuk mencapai pemahaman.

Termasuk hal itu juga, ghibah terhadap ahli fikih dan ahli ibadah. Sesungguhnya mereka disindir melalui ghibah dengan sindiran yang dapat dimengerti sebagaimana dimengerti dengan ucapan yang jelas. Misalnya dikatakan kepada mereka, “Bagaimana keadaan si Fulan?”. Lalu ia menjawab, “Mudah-mudahan Allah memperbaiki keadaan kami, mudah-mudahan Allah mengampuni kami, semoga Allah memperbaiki keadaannya, kami memohon keselamatan kepada Allah, segala puji bagi Allah yang tidak memberikan ujian kepada kami dengan masuk ke dalam kezhaliman, kami berlindung kepada Allah dari keburukan, semoga Allah menyelamatkan kami dari sedikitnya rasa malu, mudah-mudahan Allah menerima taubat kami dan yang serupa itu dari apa yang dipahami akan mengurangi (kehormatannya)”. Maka semuanya itu adalah ghibah yang diharamkan.

Demikian juga apabila ada seseorang mengatakan, “Si Fulan diberi cobaan dengan sesuatu yang kamipun semua diberi cobaan itu atau ia tidak dapat mengelak dalam perbuatan ini, kami juga semuanya melakukannya”.

Ini semuanya adalah contoh-contoh (ghibah), jika tidak maka inilah kaidah ghibah, “Si pembicara memberikan pemahaman kepadamu tentang kekurangan atau cacat seseorang”.

Berkaca dengan penjelasan tentang model dan jenis ghibah dari dua ulama besar pada zamannya yaitu Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, maka sepantasnya setiap muslim berhati-hati dalam berucap, bersikap dan bertindak kepada orang lain sebab dikhawatirkan ia terjatuh terjerembab ke dalam ghibah yang diharamkan.

Apalagi di era modern ini banyak sarana untuk mengghibah, misalnya dengan handpone (hp) atau ponsel berupa sms atau mengobrol dengannya atau melalui komputer yang tersambung internet berupa chatting, email, twitter, facebook dan lain sebagainya. Subhaanallah.

Wahai saudara-saudaraku tercinta yang selalu berharap mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat, marilah jauhi dan hindari berbagai ucapan dan perbuatan yang dapat menyeret kita kepada perbuatan ghibah atau gunjing ini. Jagalah lisan dan tulisan kita darinya sebagaimana kita berharap dijauhkan dari siksa kubur dan adzab neraka yang menghinakan. Jangan memudah-mudahkan membicarakan keburukan orang lain meskipun  pada awalnya kita berniat baik dan mengharapkan kebaikan padanya.

Semoga dapat memberikan pencerahan padaku, keluargaku, kerabatku dan seluruh kaum muslimin.
Insyaa’ Allah akan berlanjut dalam GHIBAH 3…

Catatan kaki,

1). Atau juga gendut, kurus ceking, pitak, juling, pesek, sumbing, ompong, tuli, si conge (keluar lendir yang bau dari telinganya), panu (maksudnya: tubuhnya banyak panu), kuntet, kaki jeber, mujel (muka jelek) dan lain sebagainya yang sejenisnya.

2). Misalnya lagi, “Ilmunya masih dangkal, pecinta dunia, pezina, pemabuk, penjudi, tukang palak (orang yang suka meminta uang kepada orang lain secara memaksa), orang yang sedekahnya sedikit, si kikir, bencong, tukang berhutang, si tangan di bawah (orang yang suka meminta bantuan), hajinya abidin (atas biaya dinas), ustadz jarkoni (iso ngajar ora nglakoni= bisa ngajar tetapi tidak mengamalkan), orang yang kurang bergaul, yang kurang amalan sunnahnya, penampilan dan pakaiannya belum nyunnah dan lain sebagainya. Ghibah dalam masalah agama ini adalah yang paling buruk dan paling keji.

3). Misalnya lagi, “Ia adalah okb (orang kaya baru), carmuk (cari muka), tujil (tukang jilat), orang yang suka aji mumpung, pecinta musik dan lagu, tukang shopping (orang yang gemar belanja), toko emas berjalan (wanita yang suka memakai banyak perhiasannya), kolektor sepatu, tas, baju dan sebagainya, perempuan atau mertua matre’, playboy atau playgirl (orang yang suka gonta ganti pasangan) dan lain sebagainya.

4). Misalnya lagi, “Ayahnya koruptor, markus (makelar kasus), tukang terima suap, preman, orang miskin, pemulung, tukang becak, pedagang asongan, pedagang kaki lima, tukang parkir, sopir angkot, pangkat rendahan, pesuruh kantor, pengangguran dan lain sebagainya. Atau yang berkaitan dengan ibunya, misalnya ibunya tukang kridit, tukang jamu, pedagang pinggir jalan, tukang pijit, wong ndeso dan lain sebagainya”.

5). Misalnya lagi, “Orang yang suka ngambek, yang pemarah dan temperamen, penakut, pengecut, nggak amanah, tukang tidur, pemalas, si lamban, yang suka ingkar janji, mukanya jutek, bicaranya ketus dan judes, yang gemar berdebat, anggota isti (ikatan suami takut istri) atau iis dumilah (ikatan istri durhaka suami lemah) dan sebagainya”.

6). Misalnya lagi, “Bajunya penuh tambalan, jubahnya norak, celananya sobek, jilbabnya kusam, pemakai jilbab gaul, sandalnya beda ukuran, sepatunya sempit atau kedodoran dan sebagainya”.