السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Jumat, 31 Mei 2013

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy rahimahullah

ULAMA AHLI HADITS
بسم الله الرحمن الرحيم

Di dalam setiap pembahasan di dalam blog kami http://cintakajiansunnah.blogspot.com atau http://Cintakajiansunnah.com/  ketika membawakan sebuah hadits, kami suka menukil periwayatannya dan penyebutan derajat haditsnya, apakah shahih, hasan, dla’if atau maudlu’. Dalam penyebutan derajat kami suka berkata, “Berkata asy-Syaikh al-Albaniy”. Tetapi siapakah Beliau??. Untuk itulah kami mengulas sedikit biografi tentang asy-Syaikh yang sangat kami cintai ini, meskipun kami belum pernah bertemu dengannya. Namun semoga Allah Subhanahu wa ta’ala kelak akan mempertemukan kami dengannya di dalam keridloan dan jannah-Nya pada hari kiamat.
Beliau adalah pembaharu Islam (mujadid) pada abad ini. Karya dan jasa-jasa beliau cukup banyak dan sangat membantu umat Islam terutama dalam menghidupkan kembali ilmu hadits. Beliau telah memurnikan ajaran Islam terutama dari sisi mengungkap hadits-hadits lemah dan palsu, dan ahli di dalam meneliti derajat hadits.

Nama dan Nasabnya

Nama beliau adalah Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh an-Najatiy al-Albaniy. Dilahirkan pada tahun 1332 H (1914 M) di kota Asyqodarah ibu kota Albania [1] yang lampau. Beliau dibesarkan di tengah keluarga yang tak berpunya, lantaran kecintaan terhadap ilmu dan ahli ilmu dan Beliau tinggal disana sekitar 9 tahun. Ayah al-Albaniy yaitu al-Hajj Nuh bin Adam adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari`at di ibukota negara dinasti Utsmaniyah (kini Istambul), yang ketika Raja Ahmad Zagho naik tahta di Albania dan mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, maka asy-Syaikh Nuh amat mengkhawatirkan dirinya dan diri keluarganya. Akhirnya beliau memutuskan untuk berhijrah ke negeri Syam dalam rangka menyelamatkan agamanya dan karena takut terkena fitnah. Beliau sekeluargapun menuju Damasykus.
Setiba di Damasykus, al-Albaniy kecil mulai aktif mempelajari bahasa arab. Beliau masuk sekolah pada madrasah yang dikelola oleh Jum`iyah al-Is`af al-Khairiyah. Beliau terus belajar di sekolah tersebut tersebut hingga kelas terakhir tingkat Ibtida`iyah. Selanjutnya beliau meneruskan belajarnya langsung kepada para Syaikh. Beliau mempelajari alqur’an dari ayahnya sampai selesai, disamping itu ia mempelajari sebagian fiqih madzab Hanafi dari ayahnya dan juga mempelajari ilmu alat seperti nahwu, sharaf dan balaghoh. [2]

Asy-Syaikh al-Albaniy juga mempelajari keterampilan memperbaiki jam dari ayahnya sampai mahir betul, sehingga beliau menjadi seorang ahli yang mahsyur. Ketrampilan ini kemudian menjadi salah satu mata pencahariannya.

Pada umur 19 tahun, [3] pemuda al-Albaniy ini mulai mengkonsentrasikan diri pada ilmu hadits lantaran terkesan dengan pembahasan-pembahasan yang ada dalam majalah al-Manar, sebuah majalah yang diterbitkan oleh asy-Syaikh Muhammad Rasyid Ridlo. Kegiatan pertama di bidang ini ialah menyalin sebuah kitab berjudul al-Mughni ‘an Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ihya’ min al-Akhbar. Sebuah kitab karya al-Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang terdapat pada Ihya’ Ulumuddin al-Ghazaliy. Kegiatan asy-Syaikh al-Albaniy dalam bidang hadits ini ditentang oleh ayahnya seraya berkomentar, “Sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit (bangkrut)”.

Namun asy-Syaikh al-Albaniy justru semakin cinta terhadap dunia hadits. Pada perkembangan berikutnya, asy-Syaikh al-Albaniy tidak memiliki cukup uang untuk membeli kitab-kitab. Karenanya, beliau memanfaatkan Perpustakaan azh-Zhahiriyah di sana (Damasykus). Di samping juga meminjam buku-buku dari beberapa perpustakaan khusus. Begitulah, hadits menjadi kesibukan rutinnya, sampai-sampai beliau menutup kios reparasi jamnya. Beliau lebih betah berlama-lama dalam perpustakaan adh-Dhahiriyah, sehingga setiap harinya mencapai 12 jam. Tidak pernah istirahat mentelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu sholat tiba. Untuk makannya, seringkali hanya sedikit makanan yang dibawanya ke perpustakaan.

Akhirnya kepala kantor perpustakaan memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuk beliau. Bahkan kemudiaan beliau diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan demikian, beliau menjadi leluasa dan terbiasa datang sebelum yang lainnya datang. Begitu pula pulangnya ketika orang lain pulang pada waktu dhuhur, beliau justru pulang setelah sholat isya. Hal ini dijalaninya sampai bertahun-tahun.

Menuju Ilmu Hadits

Pada umur sekitar 20-an tahun, pandangan asy-Syaikh al-Albaniy muda tertuju kepada majalah al-Manar terbitan Muhammad Rasyid Ridlo di salah satu toko yang dilaluinya. Dilihatnya majalah itu, kemudian dibukanya lembar demi lembar hingga terhentilah perhatiannya pada sebuah makalah studi kritik hadits terhadap Ihya’ Ulumuddin (karangan al-Ghozaliy) dan hadits-hadits yang ada didalamnya. “Pertama kali aku dapati kritik begitu ilmiah semacam ini”, ungkap asy-Syaikh al-Albaniy ketika mengisahkan awal mula terjunnya kedunia hadits secara mendalam. Rasa penasaran membuatnya ingin merujuk secara langsung ke kitab yang dijadikan referensi makalah itu, yaitu kitab al-Mughni ‘an Hamlil Asfar, karya al-Hafizh al-Iraqiy. Namun, kondisi ekonomi tak mendukungnya untuk membeli kitab tersebut. Maka, menyewa kitab pun menjadi jalan alternatifnya. Kitab yang terbit dalam 3 jilid itupun disewa kemudian disalin dengan pena tangannya sendiri, dari awal hingga akhir. Itulah aktivitas pertamanya dalam ilmu hadits, sebuah salinan kitab hadits. Selama proses menyalin itu, tentunya menjadikan asy-Syaikh al-Albaniy secara tak langsung telah membaca dan menelaah kitabnya secara mendalam, yang mana dari hal ini menjadikan perbendaharaan wawasan yang ada pada asy-Syaikh al-Albaniy pun bertambah, dan ilmu hadits menjadi daya tarik baginya.

Ilmu hadits begitu luar biasa memikat asy-Syaikh al-Albaniy, sehingga menjadi pudarlah ideologi madzhab Hanafiy yang ditanamkan ayahnya kepadanya, dan semenjak saat itu asy-Syaikh al-Albaniy bukan lagi menjadi seorang yang mengacu pada madzhab tertentu (bukan lagi menjadi seorang yang fanatik terhadap madzhab tertentu), melainkan setiap hukum agama yang datang dari pendapat tertentu pasti akan ditimbangnya dahulu dengan dasar dan kaidah yang murni serta kuat yang berasal dari sunnah Nabi Muhammad/ hadits. Kesibukan barunya pada hadits ini mendapat kritikan keras dari ayahnya, bahwasanya “ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit”, demikian ungkap ayahnya ketika mengomentari asy-Syaikh al-Albaniy. Semakin terpikatnya asy-Syaikh al-Albaniy terhadap hadits Nabi, itulah kata yang tepat baginya. Bahkan hingga toko reparasi jamnya pun memiliki dua fungsi, sebagai tempat mencari nafkah dan tempat belajar, dikarenakan bagian belakang toko itu sudah dirubahnya sedemikian rupa menjadi perpustakaan pribadi. Bahkan waktunya mencari nafkah pun tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan waktunya untuk belajar, yang pada saat-saat tertentu hingga (total) 18 jam dalam sehari untuk belajar, diluar waktu-waktu sholat dan aktivitas lainnya.

Asy-Syaikh al-Albaniy pun secara rutin mengunjungi perpustakaan azh-Zhahiriyyah di Damasykus untuk membaca buku-buku yang tak biasanya didapatinya di toko buku. Dan perpustakaan pun menjadi laboratorium umum baginya, waktu 6-8 jam bisa habis di perpustakaan itu, hanya keluar di waktu-waktu sholat, bahkan untuk makan pun sudah disiapkannya dari rumah berupa makanan-makanan ringan untuk dinikmatinya selama di perpustakaan. Selain itu, asy-Syaikh al-Albaniy juga menjalin persahabatan dengan pemilik-pemilik toko buku (karena saking seringnya asy-Syaikh al-Albaniy mengunjungi toko bukunya untuk membaca-baca), hal ini memudahkannya untuk meminjam buku-buku yang diinginkannya karena keterbatasan hartanya untuk membelinya, dan disaat ada orang yang hendak membeli buku yang dipinjamnya, maka buku tersebut dikembalikan. Bertahun-tahun masa-masa ini dilaluinya bersama sepeda sederhana yang biasa digunakannya untuk keperluan bepergian.

Asy-Syaikh al-Albaniy sering mengambil sobekan kertas dari jalan, biasanya berupa kartu undangan pernikahan yang dibuang, yang kemudian akan digunakannya sebagai alat mencatat, hal ini adalah bentuk penghematannya karena keterbatasan asy-Syaikh al-Albaniy dalam harta. Seringkali pula dibelinya potongan-potongan kertas dari tempat pembuangan, yang mana dengan cara ini asy-Syaikh al-Albaniy bisa membeli kertas dengan harga murah dan dalam jumlah yang cukup banyak, kemudian dibawanya kerumah dan kertas-kertas itu kemudian dipilahnya yang masih bisa digunakan untuk kemudian dipakainya sebagai alat mencatat.

Suatu hari di perpustakaan azh-Zhahirriyyah, selembar kertas hilang dari manuskrip yang digunakan asy-Syaikh al-Albaniy untuk belajar. Kejadian ini menjadikannya mencurahkan seluruh perhatian untuk membuat katalog dari seluruh manuskrip hadits di perpustakaan agar folio yang hilang tersebut bisa ditemukan. Dan karena sebab ini, asy-Syaikh al-Albaniy pun mendapatkan banyak sekali ilmu dari ribuan manuskrip hadits yang disalinnya. Kehebatannya ini dibuktikan beberapa tahun kemudian oleh DR. Muhammad Mustafa A’dhamiy pada pendahuluan “Studi Literatur Hadits Awal”, dimana DR. Muhammad Mustafa A’dhamiy mengatakan, “Saya mengucapkan terimakasih kepada asy-Syaikh Nashiruddin al-Albaniy, yang telah menempatkan keluasan ilmunya pada manuskrip-manuskrip langka dalam tugas akhir saya”. Hal ini dikarenakan DR. Muhammad Mustafa A’dhamiy memanfaatkan perpustakaan itu untuk penyelesaian doktoralnya, dan ternyata apa yang didapatkannya dari manuskrip-manuskrip hasil kerja keras asy-Syaikh al-Albaniy dulunya menghasilkan kekaguman dari para pembimbingnya.

Tak cukup dengan belajar sendiri, asy-Syaikh al-Albaniy pun sering ikut serta dalam seminar-seminar ulama besar semacam asy-Syaikh Muhammad Bahjat al-Baitar yang sangat ahli dalam bidang hadits dan sanad. Didatanginya pula majlis-majlis ilmu asy-Syaikh Bahjat al-Baitar dan asy-Syaikh al-Albaniy pun banyak mengambil manfaat darinya, dari majlis serta diskusi-diskusi ini mulai nampaklah kejeniusan asy-Syaikh al-Albaniy dalam sains hadits. Suatu ketika ada seorang ahli hadits, al-musnid (ahli sanad), sekaligus sejarawan dari kota Halab (Aleppo) tertarik kepadanya, beliau adalah asy-Syaikh Muhammad Raghib at-Tabbakh yang kagum terhadap kecerdasan asy-Syaikh al-Albaniy. Asy-Syaikh at-Tabbakh berupaya menguji hafalan serta pengetahuan asy-Syaikh al-Albaniy terhadap ilmu mustholah hadits, dan hasilnya pun sangat memuaskan. Maka turunlah sebuah pengakuan dari asy-Syaikh at-Tabbakh, yaitu al-Anwar al-Jaliyyah fi Mukhtashar al-Atsbat al-Hanbaliyyah, sebuah ijazah sekaligus sanad yang bersambung hingga Imam Ahmad bin Hanbal (yang melalui jalur asy-Syaikh at-Tabbakh). Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang Imam ahli hadits diantara Imam yang empat (Hanafi, Malik, Syafi’iy, & Ahmad), Imam Ahmad adalah murid Imam Syafi’iy (dalam hal fiqh) sekaligus guru Imam Syafi’iy (dalam hal ilmu hadits), dan Imam Ahmad juga merupakan guru yang paling berpengaruh bagi al-Imam Bukhariy (sang bapak muhadits).

Asy-Syaikh al-Albaniy mulai melebarkan hubungannya dengan ulama-ulama hadits diluar negri, senantiasa berkorespondensi dengan banyak ulama, ada diantaranya yang berasal dari India, Pakistan dan negara-negara lain. Mendiskusikan hal-hal yang berhubungan dengan hadits dan agama pada umumnya, termasuk dengan asy-Syaikh Muhammad Zamzamiy dari Maroko, asy-Syaikh ‘Ubaidullah Rahman (pengarang Mirqah al-Mafatih Syar-h Musykilah al-Mashabih), dan juga asy-Syaikh Ahmad Syakir dari Mesir, bahkan mereka berdua (asy-Syaikh al-Albaniy dan asy-Syaikh Ahmad Syakir) terlibat dalam sebuah diskusi dan penelitian mengenai hadits. Asy-Syaikh al-Albaniy juga bertemu dengan ulama hadits terkemuka asal India, yaitu asy-Syaikh Abdus Shomad Syarafuddin yang telah menjelaskan hadits dari jilid pertama kitab Sunan al-Kubra karya al-Imam an-Nasa’iy, kemudian juga karya al-Imam al-Mizzi yang monumental yaitu Tuhfat al-Asyraf, yang selanjutnya mereka berdua saling berkirim surat. Dalam salah satu surat, asy-Syaikh Abdus Shamad menunjukkan pengakuan atas keyakinan beliau bahwa asy-Syaikh al-Albaniy adalah ulama hadits terhebat pada masa itu.
Pada tahun 1962, asy-Syaikh al-Albaniy mendapatkan panggilan dari Universitas Islam Madinah yang ketika itu dipimpin oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, rektor Universitas tersebut yang sekaligus menjabat sebagai mufti (penasehat) Kerajaan Arab Saudi, dan asy-Syaikh al-Albaniy direncanakan akan diangkat menjadi dosen disana. Disana asy-Syaikh al-Albaniy mengajar ilmu Hadits dan fiqh Hadits di fakultas pasca sarjana, bahkan menjadi Guru Besar ilmu Hadits. Kemudian pada tahun 1975, asy-Syaikh al-Albaniy diangkat menjadi dewan tinggi Universitas Islam Madinah selama tiga tahun hingga kemudian memutuskan kembali pulang ke negaranya. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz memberikan komentar atas Syaikh al-Albani, “Aku belum pernah melihat di kolong langit pada saat ini orang yang sangat alim (berilmu) dalam ilmu hadits seperti al-’Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albaniy”, demikian ungkap beliau.

Ketika percobaan pendudukan  Israel atas Palestina di Yerusalem (saat itu Yerusalem belum diduduki Israel), asy-Syaikh al-Albaniy mendapatkan paspor (izin) untuk pergi  ke Yerusalem di Palestina, disana asy-Syaikh al-Albaniy menjadi mentor para pejuang Al-Quds yang tergabung didalam brigade Izzuddin al-Qossam dan mengajari mereka sunnah-sunnah Nabi dalam berjihad serta syariat berjihad, disana disempatkannya pula untuk sholat di Masjidil Aqsa bersama para pemuda yang berjuang di Yerusalem tersebut. Ketika asy-Syaikh al-Albaniy hendak bergabung dalam barisan pejuang pembebasan Al-Quds, hal ini pun segera diketahui oleh pemerintah negerinya dan serta merta mencabut izin keluar negeri milik asy-Syaikh al-Albaniy dan dengan segera memulangkannya. Sedangkan di lain sisi, pemerintah Syam seakan menggantikan posisi asy-Syaikh al-Albaniy dengan bergabungnya tentara Syam kedalam koalisi Arab untuk melawan Israel dan Amerika, dan dari hal ini menjadikan sebagian wilayah Syam pun meluas karena resmi terlepas dari pendudukan Israel yang sebelumnya telah melakukan pemekaran wilayah kedaerah selatan dan sempat menguasai sebagian wilayah Syam.

Semakin mendalam mempelajari ilmu hadits, semakin ahli pula dalam bidang hadits, hingga ribuan hadits dipelajari asy-Syaikh al-Albaniy dengan studi ilmiah yang sangat luar biasa kejelian serta ketelitiannya. Karya-karyanya mencapai lebih dari 200 buah buku, yang kecil maupun yang besar (tebal), bahkan ada yang berjilid-jilid, yang lengkap maupun yang belum, yang sudah dicetak maupun yang masih berbentuk manuskrip. Selama hidupnya, asy-Syaikh Albaniy menghafal alqur’an dan ratusan ribu hadits beserta sanad sekaligus matan dan rijalnya, beliau juga telah banyak meneliti dan men-ta’liq puluhan ribu silsilah perawi hadits (sanad) pada hadits-hadits yang sudah tak terhitung jumlahnya secara pasti, dan menghabiskan waktu enam puluh tahun untuk belajar buku-buku hadits, sehingga seakan-akan buku-buku tersebut menjadi sahabat sekaligus jalan asy-Syaikh al-Albaniy untuk berhubungan dengan ulama-ulamanya (pengarang kitab-kitab tersebut).

Cara Pandang

Asy-Syaikh al-Albaniy sangat aktif di medan dakwah dan sangat memerangi metode taklid, taklid yaitu menerima apapun yang dikatakan seseorang (biasanya ulama atau ahli ilmu) tanpa mempertanyakan keabsahan dasar penyandaran hukumnya. Ayahnya cenderung senantiasa mengarahkannya kepada madzhab Hanafiy untuk kemudian menjadi ulama madzhab Hanafiy mengikuti jejak ayahnya, namun ternyata yang terjadi adalah lain dari apa yang diharapkan oleh ayahnya. Ketekunan terhadap ilmu hadits menyebabkan asy-Syaikh al-Albaniy tidak mau terikat dengan madzhab tertentu. Bahkan secara prinsip, asy-Syaikh al-Albaniy terikat dengan 4 madzhab sekaligus, yaitu dalam hal penyandaran hukum, yaitu menyandarkan semua syariat kepada alqur’an dan as-Sunnah (hadits) dengan dibimbing pemahaman para Salafusshalih (para Sahabat Nabi).
Sebagaimana Islam yang satu diatas pemahaman yang satu dan murni sebagaimana Islam dimasa Nabi dan para Shahabatnya, maka metode memurnikan ajaran Islam dengan cara kembali pada pemahaman para Shahabat Nabi dalam menerapkan syariat Islam dan memahami alqur’an serta as-Sunnah adalah satu-satunya cara untuk mempersatukan ummat yang saat ini terpecah-pecah akibat dari adanya hizbiy (partai atau kelompok), sekte, maupun aliran yang bermacam-macam. Dan bahkan dengan adanya perbedaan madzhab Imam pun bisa memecah belah kesatuan ummat. Akibat dari perpecahan ini adalah menjadi lemah lah kekuatan ukhuwah ummat dan sangat mudah diprovokasi oleh orang-orang yang memusuhi Islam.

Sebagaimana perkataan Imam Malik,
“Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan alqur’an dan as-Sunnah maka ambillah, dan bila tidak sesuai dengan alqur’an dan as-Sunnah, maka tinggalkanlah…” (Muqaddimah al-Muwaththo’, karya Imam Malik).

Atau perkataan Imam Syafi’iy,
“Apabila telah shahih suatu hadits, maka itulah madzhabku” (Hilyatul Aulia I/475 – Abu Nu’aim, dishahihkan oleh al-Imam an-Nawawiy (ulama besar madzhab Syafi’iy)  dalam al-Majmu I/63, dibawakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar (Ulama besar madzhab Syafi’iy) dalam Tawali Ta’sis hal. 109, dan ditakhrij secara khusus oleh al-Imam as-Subki (ulama besaqr madzhab Syafi’iy) dalam kitab Ma’na Qaulil Imam al-Muthallibi Idza Shahhal Haditsu Fahuwa Mazhabi).

Dan juga perkataan yang lain dari Imam Syafi’iy,
“Setiap apa yang aku katakan lalu ada hadits shahih dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang menyelisihi ucapanku, maka hadits lebih utama untuk diikuti dan janganlah kalian taklid kepadaku” (Hilyatul Aulia’ IX/106-107 – Abu Nu’aim) Yang dari perkataan-perkataan diatas cukup menggambarkan bahwasanya Imam Madzhab pun sebenarnya tak ingin diambil ilmunya secara membabi buta tanpa menelitinya terlebih dahulu apakah sesuai dengan kaidah Nabi (hadits/as-Sunnah) ataukah tidak.

Asy-Syaikh al-Albaniy sangat getol menyerukan manhaj (metode beragama) para salaf (para pendahulu / generasi pertama umat Islam / para Shahabat Nabi). Asy-Syaikh al-Albaniy mengadopsi metode yang murni, yaitu memahami syariat pada hakikat asalnya, sebagaimana yang dilakukan Nabi dan para Shahabat, tanpa penafsiran-penafsiran yang tak diperlukan dan bahkan menyeleweng dari hakikat asalnya. Meskipun begitu, tetap hal semurni ini tak menghindarkannya dari hujatan, asy-Syaikh al-Albaniy pun kemudian banyak dimusuhi oleh ulama-ulama yang fanatik terhadap madzhab tertentu, yang mana masing-masing dari mereka merasa dirugikan.

Pengalaman Penjara

Asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah pernah dipenjara dua kali. Kali pertama selama satu bulan dan kali kedua selama enam bulan. Itu tidak lain karena gigihnya beliau berdakwah kepada sunnah dan memerangi bid`ah sehingga orang-orang yang dengki kepadanya menebarkan fitnah.

Beberapa Tugas yang Pernah Diemban

Asy-Syaikh al-Albaniy pernah mengajar di Jami`ah Islamiyah (Universitas Islam Madinah) selama tiga tahun, sejak tahun 1381-1383 H, mengajar tentang hadits dan ilmu-ilmu hadits. Setelah itu beliau pindah ke Yordania. Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta kepada asy-Syaikh al-Albaniy untuk menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di kerajaan Yordania. Tetapi situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan beliau memenuhi permintaan itu. Pada tahun 1395 H hingga 1398 H beliau kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam`iyah Islamiyah di sana. Mandapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Saudi Arabia berupa King Faisal Fundation tanggal 14 Dzulkaidah 1419 H.
Setelah menganalisa hadits-hadits pada kitab Shahih Ibnu Khuzaimah, seorang ulama hadits asal India, yaitu Syaikh Muhammad Musthofa A’dhamiy (kepala Ilmu Hadits di Mekkah), memilih asy-Syaikh al-Albaniy untuk memeriksa dan mengoreksi kembali analisa yang dilakukan asy-Syaikh Muhammad Musthofa A’dhamiy, dan pekerjaan tersebut telah diterbitkan empat jilid lengkap dengan ta’liq (catatan) dari keduanya, yaitu asy-Syaikh A’dhamiy maupun asy-Syaikh al-Albaniy. Ini merupakan bentuk penghormatan dari ulama yang lain atas keilmuan hadits asy-Syaikh al-Albaniy.

1). Universitas Damaskus Fakultas Syari’ah memilih asy-Syaikh al-Albaniy untuk melakukan studi hadits dalam bab fiqh jual-beli dalam Mausu’ah (ensiklopedi) Fiqh Islam.
2). Terpilih sebagai dewan tinggi “Dewan Hadits” yang dibentuk oleh pemerintah Mesir-Syiria (dimasa persatuan) untuk mengawasi penyebaran buku-buku hadits dan tahqiqnya.

Sebagai salah satu bentuk pengakuan ulama Arab terhadap keilmuannya, pihak Universitas Islam Madinah memilihnya sebagai pengajar materi hadits, ilmu dan fiqih hadits di perguruan tinggi tersebut. Asy-Syaikh al-Albaniy bertugas selama 3 tahun, kemudian diangkat sebagai anggota majlis al-A’la (dewan tinggi) Universitas Islam Madinah (sekitar tahun 1395 H hingga 1398 H). Saat berada disana asy-Syaikh al-Albaniy menjadi tokoh panutan dalam kesungguhan dan keikhlasan. Ketika jam istirahat tiba dimana dosen-dosen lain menimati hidangan teh dan kurma, asy-Syaikh al-Albaniy lebih asyik duduk-duduk di pasir bersama murid-muridnya untuk memberi pelajaran tambahan.

Hubungannya dengan murid adalah hubungan persahabatan, bukan semata hubungan guru dan murid saja. Asy-Syaikh al-Albaniy juga pernah diminta oleh Menteri Penerangan Kerajaan Arab Saudi untuk menangani jurusan hadits pada pendidikan pasca sarjana di Universitas Makkah al-Mukarramah, namun karena beberapa hal maka keinginan tersebut tidak tercapai. Atas jasanya yang besar terhadap ilmu agama, asy-Syaikh al-Albaniy pun mendapatkan sebuah penghargaan tertinggi dari Kerajaan Arab Saudi yaitu piagam internasional King Faisal (King Faisal Fundation) pada tahun 1999 (14 Dzulkaidah 1419 H).

1). Pada edisi dari himpunan hadits terkenal, Misykah al-Mashabih, penerbit Maktabah Islamy meminta asy-Syaikh al-Albaniy untuk memeriksa pekerjaan mereka sebelum diterbitkan. Pihak penerbit telah menulis pada bagian pendahuluan di Misykah al-Mashabih, “Kami meminta kepada ulama hadits, asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albanyi, untuk membantu kami dalam memeriksa Misykat dan bertanggung jawab untuk memberi tambahan hadits-hadits yang diperlukan dan meneliti serta memeriksa kembali sumber-sumber dan keasliannya pada tempat-tempat yang diperlukan, serta membetulkan kesalahan-kesalahan…”
2). Perhatian asy-Syaikh al-Albaniy terhadap kasus Palestina sangatlah besar. Asy-Syaikh al-Albani pernah secara langsung turun ke Yerusalem dan menjadi mentor untuk mengajari ilmu syar’i bagi Brigade Izzuddin al-Qossam, bahkan hampir juga asy-Syaikh al-Albaniy berjuang disana sebelum pemerintah di negrinya mengetahui hal ini dan serta merta memulangkan asy-Syaikh al-Albaniy. Asy-Syaikh al-Albaniy senantiasa mengikuti perkembangan Palestina, hingga pernah difatwakan juga olehnya dan fatwa ini ditujukan kepada warga Gaza pada khususnya, agar sebaiknya hijrah keluar dari wilayah Gaza dan masuk ke negri muslim terdekat untuk menegakkan ibadah serta mengumpulkan kekuatan, sebagaimana hijrahnya para Shahabat Nabi ke Etyopia atau hijrahnya Nabi serta sebagian Shahabat yang lainnya ke kota Madinah ketika di kota Mekkah kaum Muslimin mendapat tekanan yang keras dan larangan beribadah oleh para penyembah berhala, dan kemudian kembali lagi ke Mekkah pada peristiwa Fat-hu Makkah (Pembukaan/Penaklukan kota Mekkah). Hal ini dikarenakan pada waktu itu pemerintah militer Israel melarang adanya kegiatan adzan dan sholat bagi kaum Muslimin secara terang-terangan ketika mereka menduduki jalur Gaza, dan disisi lain warga Gaza pun dalam keadaan lemah serta belum mampu berbuat apa-apa. Meskipun begitu, banyak kalangan yang mengkritisi keluarnya fatwa ini dan menuduh asy-Syaikh al-Albaniy dengan berbagai macam tuduhan yang buruk.
3). Dan masih sangat banyak lagi yang lainnya…

Beberapa Karya Beliau

Tercatat kurang lebih 200 karya mulai dari ukuran satu jilid kecil, besar, hingga yang berjilid-jilid, baik yang berbentuk karya tulis pena, takhrij (koreksi hadits) pada karya orang lain, buku khusus takhrij hadits, maupun tahqiq (penelitian atas kitab tertentu dari segala macam sisinya), lalu dituangkan dalam catatan kaki dalam kitab tersebut. Sebagiannya telah lengkap, sebagiannya lagi belum sempurna (karena wafat), dan sebagiannya lagi sudah sempurna namun masih dalam bentuk manuskrip (belum dicetak dan diterbitkan). Beberapa diantaranya yang paling populer serta monumental adalah,

1). Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah wa Syai’un min Fiqhiha wa Fawaidiha (9 jilid), karya ini berisikan studi ilmiah terhadap hadits-hadits Nabi untuk dinyatakan shahih sesuai dengan kaidah musthalah hadits yang telah disepakati ulama ahli hadits sepanjang zaman. Berdasarkan penomeran terakhir dari kitab itu, jumlah hadits yang tertera adalah 4.035 buah. Beliau memulai penulisannya di Damasykus, 14 Dzulhijjah 1378 H.

2). Silsilah al-Ahadits adl-Dlaifah wal Maudlu’ah wa Atsaruha As-Sayyi’ alal Ummah (14 jilid), karya ini berisikan studi ilmiah atas hadits-hadits untuk dinyatakan lemah atau palsu sesuai dengan kaidah musthalah hadits yang telah disepakati ulama ahli hadits sepanjang zaman. Rata-rata setiap jilidnya berisikan 500 buah hadits. Beliau mulai menulisnya di Damasykus pada bulan Ramadlan 1374 H.

3). Irwa’ al-Ghalil (8 jilid), kitab ini berisikan takhrij (studi ilmiah) atas hadits-hadits dalam kitab Manar as-Sabil fi Syar-h ad-Dalil. Berdasarkan penomeran hadits di jilid terakhir, jumlah haditsnya sebanyak 2.707 buah. Buku ini disusun sebelum tahun 1384 H/ 1964 M.

4). Shahih & Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatihi. Kedua kitab ini berisikan hadits-hadits yang dikumpukan Imam as-Suyuthi lalu asy-Syaikh al-Albaniy memberikan keterangan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah shahih ataukah dhoif. Tercatat, yang shahih berjumlah 8.202 hadits dan yang tidak shahih berjumlah 6.452 hadits. Beliau menyelesaikan penulisan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir tahun 1394 H.

5). Shahih Sunan Abu Dawud dan Dlaif Sunan Abu Dawud. Kedua kitab ini berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh Abu Dawud lalu asy-Syaikh al-Albaniy memberikan keterangan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah shahih ataukah dla’if atau yang lainnya, dengan total jumlah hadits sebanyak 5.274 buah.

6). Shahih Sunan at-Tirmidziy dan Dla’if Sunan at-Tirmidzi. Kedua kitab ini berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh Abu Dawud lalu asy-Syaikh al-Albaniy memberikan keterangan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah shahih ataukah dhoif atau yang lainnya, dengan total jumlah hadits sebanyak 3.956 buah.

7). Shahih Sunan an-Nasa’iy dan Dla’if Sunan an-Nasa’i. Kedua kitab ini berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh Abu Dawud lalu asy-Syaikh al-Albaniy memberikan keterangan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah shahih ataukah dla’if atau yang lainnya, dengan total jumlah hadits sebanyak 5.774 buah.

8). Shahih Sunan Ibnu Majah dan Dla’if Sunan Ibnu Majah. Kedua kitab ini berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh Abu Dawud lalu asy-Syaikh al-Albaniy memberikan keterangan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah shahih ataukah dla’if atau yang lainnya, dengan total jumlah hadits sebanyak 4.341 buah.

9). Adab az-Zifaf fi as-Sunnah al-Muthahharrah. Kitab yang menyingkap tentang persoalan pengantin berupa amalan-amalan malam pengantin dan sesudahnya, terdapat motivasi agar berpegang teguh dengan sunnah dan menjauhkan bid’ah di fase-fase pengantin seluruhnya.

10). Ahkam al-Janaiz. Kitab yang mengungkap persoalan-persoalan yang berkaitan dengan jenazah dari memandikan, mengkafani, menyolatkan dan menguburkannya. Lalu di akhir kitab disebutkan tentang bid’ah-bid’ah jenazah yang mencapai 214 bid’ah.

11). Tamam al-Minnah fi Ta’liq ‘Ala Fiqh as-Sunnah. Kitab yang berisis tentang koreksi perbaikan dan komentar atas kitab Fiqh as-Sunnah karya Sayid Sabiq.

12). Shifat sholat an-Nabi shallahu’alaihi wa sallam min at-Takbir ila at-Taslim ka’annaka taraha (berisi tuntunan-tuntunan dalam melaksanakan sholat sebagaimana yang tertera dalam hadits Nabi).

13). Shahih At-Targhib wat Tarhib dan Dla’if at-Targhib wa at-Tarhib. Kedua kitab ini berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh al-Imam al-Mundziriy lalu asy-Syaikh al-Albaniy memberikan keterangan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah shahih ataukah dla’if atau yang lainnya, dengan total jumlah hadits yang shahih sebanyak 3775 hadits. Selesai dari pentash-hihan kitab tersebut pada tahun 1396 H.

14). Fitnat at-Takfir (kitab ini memuat hadits-hadits dan penjelasan ulama besar masa lampau tentang bahaya dari mudah/gegabah dalam mengkafirkan seseorang).

15). Jilbab al-Mar’at al-Muslimah. Berisi tentang mengenal pakaian yang wajib dikenankan oleh wanita muslimah.

16). Qishshah Al-Masih Ad-Dajjal wa Nuzuul Isa ‘alaihis sallam wa qatluhu iyyahu fi akhiri az-Zaman (kitab ini memuat hadits yang berbentuk riwayat-riwayat kabar tentang kedatangan Dajjal dan turunnya Nabi Isa di akhir zaman),

17). Al-Ajwibah an-Nafi’ah an As’ilah Lajnah al-Jami’ah. Kitab ini kebanyakan berisi tentang tanya jawab seputar hukum-hukum jum’at, dari adzan jum’at dan sunnah tentangnya, juga tentang tidak tsabitnya sholat qobliyah jum’at, bolehnya sholat sebelum zawal (tergelincirnya matahari) pada hari jum’at dan lain-lain.

18). Tahdzir as-Sajid min ittikhodz al-Qubur masajid. Kitab yang memuat bantahan dari golongan kuburiyyun (para penyembah kubur). Yang berisi tentang permasalahan, a). Hukum membangun masjid di atas kubur dan b). Hukum sholat di dalam masjid tersebut.

19). At-Tawassul anwa’uhu wa ahkamuhu. Kitab ini tersusun dari empat fasal yaitu, a). at-Tawassul secara bahasa. b). at-Tawassul al-Kauniyah dan asy-Syar’iyyah. c). Tawassul yang sesuai syar’iy dan jenis-jenisnya dan d). Beberapa subhay dan jawabannya.

20). Hajjah an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam kama rawaha anhu Jabir radliyallahu anhu. Kitab yang menjelaskan tentang hajinya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana yang telah diriwayatkan Jabir radliyallahu anhu. Di bagian akhirnya ada bagian pembahasan tentang bid’ah-bid’ah yang dikerjakan oleh sebahagian jamaah hajii, yaitu sekitar 175 bid’ah.

21). Hadits al-Ahad wa hujjiyatuhu fi aqo’idi wa al-Ahkam. Dibahas dalam kitab tersebut tentang posisi muslim yang benar dari sunnah. Juga terdapat penjelasan batilnya kaidah tentang hadits ahad yang tidak dapat dijadikan hujjah di dalam akidah dan tercelanya sikap taklid. Karena sikap taklid ini merupakan penyebab lemahnya kedudukan sunnah di dalam hati manusia.

22). Khutbah al-Hajah. Tulisan ringkas tentang takhrij hadits khutbah hajahnya Nabi Shallalahu alaihi wa sallam yang Beliau memulai khutbah dengannya.

23). Shahih al-Adab al-Mufrad dan Dla’ifnya. Kedua kitab ini berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh al-Imam al-Bukhoriy lalu asy-Syaikh al-Albaniy memberikan keterangan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah shahih ataukah dla’if atau yang lainnya. Beliau mengumpulkan hadits dan atsar mencapai 993 nash di dalam shahihnya dan 217 nash di alam kitab dla’ifnya.

24) Sholah al-Iedain fi al-Musholla khorij al-Balad hiya as-Sunnah. Risalah kecil tentang penjelasan sunnahnya sholat ied  di mushollah (lapangan), dan tidak boleh ditegakkan sholat tersebut di dalam masjid kecuali karena kebutuhan.

25). Ghoyah al-Maram fi takhrij ahadits al-Halal wa al-Haram. Di dalam kitab tersebut asy-Syaikh al-Albaniy mentakhrij dan menta’liq (mengomentari) kitab al-Halal wa al-Haram yang disusun oleh DR Yusuf al-Qordlowiy. Dan Beliau mentakhrij hadits dan atsar di dalamnya sebanyak 484 nash.

26). Mukhtashor al-Uluw li al-Aliy wa al-Azhim. Sebuah kitab yang membahas tentang akidah (tauhid al-Asma wa ash-Shifat) yang disusun oleh al-Imam adz-Dzahabiy. Asy-Syaikh al-Albaniy membuang pengulangan padanya, membuang riwayat-riwayat yang lemah (dla’if), membuang sebahagian cerita israiliyyat, membuang sanad-sanad haditsnya dan selainnya.

27). Mukhtashor asy-Syama’il al-Muhammadiyyah. Asy-Syaikh al-Albaniy berperan membuang sanad-sanad hadits dari kitab yang disusun oleh al-Imam at-turmudziy tersebut, membuang pengulangan dari matan haditsnya, dan menyebutkan martabat (derajat) setiap haditsnya.

28). Manzilah as-Sunnah fi al-Islam. Sebuah kitan yang disusun oleh asy-Syaikh al-Albaniy yang menjelaskan bahwa sunnah atau hadits itu merupakan penjelas bagi alqur’an dan tidak boleh merasa cukup di dalam pensyariatan itu dengan alquran saja.

29). Dan masih banyak lagi, yang tidak dapat disebutkan semuanya itu di dalam pembahasan ini. Semoga semua kitab-kitab yang disusun, ditakhrij dan dita’liq oleh asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah ta’ala ini dapat memberi manfaat kepada seluruh kaum muslimin di dalam menegakkan dan membela agama mereka di atas akidah dan manhaj yang benar lagi mulia.

Semua ini adalah sebuah realisasi proyek besar asy-Syaikh al-Albaniy yang disebutnya dengan “Taqribus Sunnah Baina Yadayil Ummah” (Mendekatkan Sunnah Kehadapan Ummat), tujuannya adalah memudahkan ummat secara umum untuk mengambil hadits Nabi yang shahih secara instan tanpa harus kepayahan untuk mempelajarinya terlebih dahulu. Agar ummat lebih akrab dengan hadits Nabi yang shahih dan lebih mudah untuk mendapatkannya, namun disisi lain asy-Syaikh al-Albaniy pun juga menuliskan kitab yang berisikan kaidah-kaidah ilmu hadits yang sudah disepakati oleh para ulama ahlul hadits sepanjang zaman, tentunya ini adalah bagi mereka yang tertarik juga untuk mempelajari ilmu hadits.

Di samping itu, beliau juga memiliki kaset ceramah, kaset-kaset bantahan terhadap berbagai pemikiran sesat dan kaset-kaset berisi jawaban-jawaban tentang pelbagai masalah yang bermanfaat.
Selanjutnya asy-Syaikh al-Albaniy berwasiat agar perpustakaan pribadinya, baik berupa buku-buku yang sudah dicetak, buku-buku foto copian, manuskrip-manuskrip (yang ditulis oleh beliau sendiri ataupun orang lain) semuanya diserahkan ke perpustakaan Jami`ah tersebut dalam kaitannya dengan dakwah menuju al-Kitab was Sunnah, sesuai dengan manhaj salafush Shalih (sahabat Nabi radhiyallahu anhum), pada saat beliau menjadi pengajar disana.

Ijazah Hadits asy-Syaikh Al-Albany

Asy-Syaikh al-Albaniy memiliki ijazah hadits dari Allamah asy-Syaikh Muhammad Raghib at-Tabbagh yang kepadanya beliau mempelajari ilmu hadits, dan mendapatkan hak untuk menyampaikan hadits darinya. Asy-Syaikh al-Albaniy menjelaskan tentang ijazah beliau ini pada kitab Mukhtashar al-‘Uluw (halaman 72) dan Tahdzir as-Sajid (halaman 63). Beliau memiliki ijazah tingkat lanjut dari asy-Syaikh Bahjatul Baytar (dimana isnad dari asy-Syaikh terhubung ke Imam Ahmad). Keterangan tersebut ada dalam buku Hayah al-Albaniy (biografi al-Albaniy) karangan Muhammad asy-Syaibaniy. Ijazah ini hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar ahli dalam hadits dan dapat dipercaya untuk membawakan hadits secara teliti. Ijazah serupa juga dimiliki murid asy-Syaikh al-Albaniy, yaitu asy-Syaikh Ali Hasan Al-Halabiy. Jadi, adalah tidak benar jika dikatakan bahwa asy-Syaikh hanya belajar dari buku, tanpa ada wewenang dan tanpa ijazah.

Perkataan Para Ulama Tentangnya

1). Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim alu asy-Syaikh berkata, “Ia adalah ulama ahli sunnah yang senantiasa membela al-Haq dan menyerang ahli kebatilan”.

2). Asy-Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi (penulis kitab tafsir Adhwa’ul Bayan). Diriwayatkan dari Abdul Aziz al-Haddah (murid asy-Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi) berkata, “Sesungguhnya al-’Allamah (yang sangat berimu) asy-Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi sangat menghormati asy-Syaikh al-Albaniy dengan penghormatan yang luar biasa. Sampai-sampai apabila beliau melihat asy-Syaikh al-Albaniy lewat ketika beliau sedang mengajar di Masjid Nabawi, beliau pun memutus sebentar pelajarannya lalu berdiri dan memberikan salam kepada asy-Syaikh Albaniy dalam rangka menghormatinya”.

3). Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata, “Aku belum pernah melihat di kolong langit pada saat ini orang yang alim dalam ilmu hadits seperti al-’Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani.” Saat asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya tentang hadits Rasulullah shallahu’alaihi wasallam, “Sesungguhnya Allah akan membangkitkan dari umat ini setiap awal seratus tahun seorang mujaddid yang akan mengembalikan kemurnian agama ini”, beliau (asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz) pun ditanya siapakah mujaddid abad ini. Beliau menjawab, “asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy, beliau lah mujaddid abad ini dalam pandanganku (menurutku), dan Allah lebih mengetahui (tentang hal ini)”.

4). Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Beliau adalah alim (orang berilmu) yang memilki ilmu yang sangat luas dalam bidang hadits baik dari sisi riwayat maupun dirayat, seorang ulama yang memilki penelitian yang dalam dan hujjah yang kuat”.

5). Asy-Syaikh Muqbil bin Hadiy al-Wadi’iy berkata, “Yang saya yakini bahwa asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy, semoga Allah menjaganya, tergolong pembaharu (pemurni), yang tepat baginya sabda Rasul (yang artinya), ‘Sesungguhnya Allah akan membangkitkan pada penghujung tiap seratus tahun seseorang yang akan memurnikan untuk umat ini agamanya’”.

Guru-gurunya. [4]

1). Al-Hajj Nuh bin Adam al-Albaniy (ayahnya, seorang ulama Albania). Asy-Syaikh menamatkan bacaan alqur’an padanya dan mempelajari sebahagian ilmu alat  seperti shorf darinya.
2). Asy-Syaikh Sa’id al-Burhaniy.
3). Al-Imam Abdul Fattah.
4). Asy-Syaikh Taufiq al-Barzah.
5). Asy-Syaikh Muhammad Bahjat al-Baitar.
6). Asy-Syaikh Muhammad Raghib ath-Thabbakh.
7). Dan Lain-lain.

Murid-muridnya. [5]

1). Asy-Syaikh Ihsan Ilahiy Zhahir, belajar kepada asy-Syaikh di al-Jami’ah al-Islamiyah.

2). Asy-Syaikh Ahmad as-Sayyid al-Khosysyab al-Mishriy, belajar kepada asy-Syaikh di Amman Yordania.

3). Asy-Syaikh Hijaziy Muhammad Syarif (Abu Ishaq al-Huwainiy), ia berkunjung kepada asy-Syaikh di Amman dan tinggal selama beberapa hari.

4). Asy-Syaikh Husain Audah al-Awayisyah, bermulazamah dengan asy-Syaikh di Amman.

5). Asy-Syaikh Hamdiy Abdulmajid as-Salafiy, mengunjungi asy-Syaikh di Damasykus.

6). Asy-Syaikh Khairuddin Waniliy seorang penyair dan sastrawan yang telah dikenal sebagai murid-muridnya asy-Syaikh yang pertama.

7). Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadiy al-Madkhaliy, belajar kepada asy-Syaikh di al-Jami’ah al-Islamiyyah.

8). Asy-Syaikh Zuhair bin Muhammad asy-Syawisy, belajar kepada asy-Syaikh di Damasykus.

9). Asy-Syaikh Ridlo Na’san Mu’thiy, belajar kepada asy-Syaikh di Amman.

10). Asy-Syaikh Ratib Hamusy.

11). Asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy.

12). Asy-Syaikh DR Ashim bin Abdullah al-Qoyrutiy, belajar kepada asy-Syaikh di al-Jami’ah al-Islamiyyah.

13). Asy-Syaikh Abdurrahman al-Baniy, termasuk murid pertama asy-Syaikh. Mengajar di salah satu Universitas di Riyadl.

14). Asy-Syaikh Abdurrahman Abdulkholik, belajar kepada asy-Syaikh di al-Jami’ah al-Islamiyyah, sekarang tinggal di Kuwait.

15). Asy-Syaikh Abdurrahman Abdushshomad, bermujalasah kepada asy-Syaikh di Suria dalam waktu yang lama dan wafat di Australia.

16). Asy-Syaikh Abdulmuhsin bin Hamdulabbad, belajar kepada asy-Syaikh di al-Jami’ah al-Islamiyyah.

17). Asy-Syaikh Ali Hasan Abdulhamid al-Halabiy.

18). Asy-Syaikh Ali Hamd Hassan, bermulazamah kepada asy-Syaikh di Damasykus dan Amman, sekarang ia bermukim di Qathar.

19). Asy-Syaikh DR Umar Sulaiman al-Asyqar, belajar kepada asy-Syaikh di al-Jami’ah al-Islamiyyah. Sekarang ia mengajar di Universitas Yordania.

20). Asy-Syaikh Majfuzh Abdurrahman Zainullah as-Salafiy, belajar kepada asy-Syaikh di al-Jami’ah al-Islamiyyah.

21). Asy-Syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah.

22). Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim asy-Syaibaniy.

23). Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, bermulazamah kepada asy-Syaikh di Suria. Sekarang ia mengajar di Dar al-Hadits al-Khairiyyah Mekkah al-Mukarromah.

24). Asy-Syaikh Muhammad Abdurrahman al-Mughrowiy, belajar kepada asy-Syaikh di al-Jami’ah al-Islamiyyah.

25). Asy-Syaikh Muhammad Ied Abbasiy.

26). Asy-Syaikh Muhammad Luthfiy ash-Shabbagh.

27). Asy-Syaikh DR Muhammad bin Musa Alu Nasr, bermulazamah dengan asy-Syaikh di Amman.

28). Asy-Syaikh Muhammad Nasib ar-Rifa’iy, belajar kepada asy-Syaikh di Halb.

29). Asy-Syaikh Mahmud Mahdiy al-Istambuliy, belajar kepada asy-Syaikh di Damasykus.

30). Asy-Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman, termasuk dari murid-murid asy-Syaikh yang paling menonjol.

31). Asy-Syaikh Muqbil bin Hadiy al-Wadi’iy, belajar kepada asy-Syaikh di al-Jami’ah al-Islamiyyah.

32). Dan lain-lainnya.

Wafatnya

Di akhir-akhir masa usianya, asy-Syaikh al-Albaniy melemah hingga mengalami sakit dan sempat beberapa kali masuk rumah sakit. Sesekali asy-Syaikh al-Albaniy keluar rumah sakit dalam kondisi yang nampak sehat. Pada akhir sakitnya, asy-Syaikh al-Albaniy dibawa ke rumah sakit di Yordania untuk menjalani perawatan yang intensif. Pada hari sabtu (jum’at malam sabtu) tanggal 21 Jumada Tsaniyah 1420 H bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 M, beberapa saat sebelum Maghrib, Syaikh al-Albani pun menghembuskan nafas terakhirnya. Jenazahnya diurus dengan sangat cepat, meskipun berita wafatnya Syaikh al-Albani telah ditekan dari penyebarannya, namun ternyata diluar dugaan, lebih dari 5.000 orang datang kemudian menyalati dan mengiringi penguburan jenazah asy-Syaikh al-Albaniy. Rahimallah asy-Syaikh al-Albaniy rahmatan wasi`ah wa jazahullahu ‘an al-Islam wal muslimiina khairan wa adkhalahu fi an-Na’im al-Muqim.

Pranala luar

Situs-situs berikut menyediakan unduhan kitab-kitab karya asy-Syaikh al-Albaniy,
Buku-buku yang menceritakan tentang biografi asy-Syaikh al-Albaniy,
Demikian sekilas biografi asy-Syaikh al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albaniy rahimahullah. Mohon maaf jika ada kesalahan dan kekeliruan di dalamnya, dan mohon koreksinya.
Dan pada akhirnya, tidak semua orang akan menerima dan mencintai asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, karena perjuangannya membela akidah tauhid dan sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam serta memerangi syirik dan bid’ah. Mereka menghujat dan memerangi asy-Syaikh dengan menebarkan berbagai fitnah dan provokasi yang menyudutkan. Dengan tujuan membunuh karakter Beliau agar dijauhi oleh umat sebagaimana dahulu kaum munafikin dan kafirin berusaha membunuh karekter Nabi kita Shallallahu alaihi wa sallam dengan sebutan ‘penyihir yang dusta atau penyair gila’. Namun setiap muslim harus yakin, bahwa Allah akan mendatangkan kebenaran dan melenyapkan kebatilan karena kebatilan itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.

Buat kita, bagaimana kita bisa percaya kepada celoteh beracun orang yang membenci tauhid, sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan para pembelanya dan membela kemusyrikan, bid’ah dan para penyokongnya. Padahal kita seharusnya berada dan menjadi pembela akidah tauhid dan sunnahnya, sebagaimana dahulu Nabi berada di atasnya.
Wallahu a’alam bi ash-Showab.

Sumber;
*). http://ahlulhadist.wordpress.com
*). Juhud asy-Syaikh al-Albaniy fi al-Hadits riwayatan wa diroyatan, oleh Abdurrahman bin Muhammad bin Shalih al-Aizuriy

[1] Albania adalah negeri Islam yang terletak di tenggara benua Eropa berbatasan dari selatan dan timur negara Yunani, sebelah utara Yugoslavia dan sebelah barat Laut Adriatic. [Lihat Juhud asy-Syaikh al-Albaniy halaman 33].
Sedangkan menurut Wikipedia, Albania adalah sebuah negara yang terletak di Eropa bagian tenggara. Albania berbatasan dengan Montenegro di sebelah utara, Serbia (Kosovo) di timur laut, Republik Makedonia di timur, dan Yunani di selatan. Laut Adriatik terletak di sebelah barat Albania, sedangkan Laut Ionia di barat daya. Albania di dalam bahasanya dipanggil Shqipëria, yang berarti Tanah Air Burung Elang. Oleh itu, gambar burung elang berkepala dua dapat dilihat di benderanya serta emblemnya. Nama “Albania” pula mungkin berasal dari perkataan Indo-Eropa albh (putih).
[2] Juhud asy-Syaikh al-Albaniy halaman 35.
[3] Juhud asy-Syaikh al-Albaniy halaman 38.
[4] Juhud asy-Syaikh al-Albaniy halaman 43-44.
[5] Juhud asy-Syaikh al-Albaniy fi al-Hadits halaman 45-48.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar