السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Rabu, 29 Mei 2013

SUDAHKAH ANDA BERDOA SETELAH MAKAN ??


DOA SETELAH MAKAN
بسم الله الرحمن الرحيم
 
 1). Dari Mu’adz bin Anas, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memakan makanan lalu ia mengucapkan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنىِ هَذَا وَ رَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِّنىِّ وَ لاَ قُوَّةٍ

Alhamdulillahilladzii ath-‘amanii haadza wa rozaqoniihi min ghoiri haulin minnii wa laa quwwah.
‘Segala puji bagi Allah yang telah memberi makanan ini kepadaku dan memberikan rizki dari-Nya tanpa daya dan kekuatan dariku’.
Maka akan diampuni baginya dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian”. [HR Abu Dawud: 4023, at-Turmudziy: 3458, Ibnu Majah: 3285, Ahmad: III/ 439, Ibnu as-Sunniy dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [1]
 Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy: Hasan, insyaa Allah. [2]

2). Dari Abu Umamah berkata, Adalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila hidangannya telah diangkat (telah selesai makan), Beliau berucap,

اَلْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَ لاَ مُوَدَّعٍ وَ لاَ مُسْتَغْنىً عَنْهُ رَبَّنَا

Alhamdulillahi hamdan katsiiron thoyyiban mubaarokan fiihi ghoiro makfiyyin wa laa muwadda’in wa laa mustagh-nan ‘anhu rabbanaa.
‘Segala puji bagi Allah (aku memujinya) dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah, yang senantiasa dibutuhkan, diperlukan dan tidak dapat ditinggalkan wahai Rabb kami’. [HR al-Bukhoriy: 5458, Abu Dawud: 3849, Ibnu Majah: 3284, Ahmad: V/ 252, 256 dan at-Turmudziy: 3456. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy:  Shahih]. [3]
Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy: Shahih. [4]

3). Dari Abdurrahman bin Jubair at-Tabi’iy, ia bercerita bahwasanya seseorang yang pernah melayani Nabi Shallallahu alaihi wa sallam selama 8 tahun pernah bercerita kepadanya. Bahwasanya ia pernah mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, apabila selesai dari makannya, Beliau mengucapkan,

      اَللَّهُمَّ أَطْعَمْتَ وَ سَقَيْتَ وَ أَغْنَيْـتَ وَ أَقْنَيْتَ وَ هَدَيْتَ وَ أَحْيَيْتَ فَلَكَ اْلحَمْدُ عَلَى مَا أَعْطَيْتَ
    
 Alloohumma ath’amta wa saqoyta wa aghnayta wa aqnayta wa hadayta wa ahyayta falakal hamdu ‘alaa maa a’thoyta.
“Ya Allah, Engkau telah memberi makan, minum, harta, kecukupan, hidayah dan kehidupan. Maka untuk-Mulah segala puji-pujian atas semua yang Engkau telah berikan”. [HR Ahmad: IV/ 62, V/ 375, Ibnu as-Sunniy dan Abu asy-Syaikh di dalam ‘Akhlak Nabi Shallallahu alaihi wa salam. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]
Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy: Shahih. [6]

Adapun hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam apabila selesai dari makannya, Beliau mengucapkan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنَا وَ سَقَاَنا وَ جَعَلَنَا مُسْلِمِيْنَ
          
‘Segala puji bagi Allah yang telah memberikan makan dan minum kepada kami dan telah menjadikan kami sebagai kaum muslimin’. [HR Abu Dawud: 3850, at-Turmudiy: 3457, Ibnu Majah: 3283, Ahmad: III/ 32, 98, an-Nasa’iy di dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lail, ath-Thabraniy dan Ibnu Abi Syaibah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Dla’if]. [7]
Berkata  asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy: Dla’if (lemah). [8]

Karena derajatnya adalah lemah, maka hadits tersebut di atas tidak dapat dijadikan hujjah dalam agama. Diharapkan kepada kita sebagai umat Islam untuk selalu mengamalkan atau mengucapkan doa-doa yang jelas-jelas dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Dan menjauhkan serta tidak mengucapkan doa yang bukan dari Beliau. Hal tersebut dengan cara memperhatikan dengan seksama dan teliti akan keabsahan hadits yang sampai kepada kita. Jika hadits tersebut jelas shahih sesuai dengan standar keilmuan hadits maka boleh dan dianjurkan kita berhujjah dengannya dan mengamalkan hadits tersebut. Namun jika jelas tidak shahih, apakah dla’if atau bahkan maudlu’ (palsu) maka hendaknya kita menjauhkannya dari berhujjah dengannya apalagi mengamalkannya.
Sekarang ini, kaum muslimin lebih mudah di dalam melihat hadits-hadits shahih atau tidaknya. Karena banyak para ulama hadits yang telah bekerja keras dan sungguh-sungguh di dalam menyeleksi hadits-hadits yang jumlahnya banyak sekali. Mereka memisahkan antara hadits shahih dari yang tidak dan mengumpulkannya dalam kitab-kitab mereka. Atau mereka membedah berbagai kitab lalu menta’liq (mengomentari) hadits-hadits rujukan kitab tersebut dengan cara yang sangat ilmiah. Di antara para ulama yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga dan memuliakan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah; asy-Syaikh al-Albaniy, asy-Syaikh Utsaimin, asy-Syaikh Bin Baz, para murid mereka rahimahumullah dan selain mereka.

Namun ada juga di antara umat ini, yang membenci dan memusuhi para ulama tersebut dengan hawa nafsu. Hal tersebut dikarenakan sifat dengki dan benci yang menyelimuti hati mereka. Mereka dengki kepada para ulama tersebut lantaran mereka tidak mampu menghafal ayat-ayat alqur’an dan hadits-hadits dalam jumlah yang banyak sebagaimana halnya para ulama tersebut. Mereka benci kepada para ulama karena mereka sulit memahami ayat dan hadits dengan baik sebagaimana para ulama dapat memahaminya dengan cepat dan tepat. Maka jadilah mereka orang yang selalu diselimuti oleh kebobrokan dan kebusukan hati sampai kematian menjemput mereka.

Sebagai umat, jika kita sakit kemanakah kita hendak berobat?. Atau kemanakah jika ingin mengetahui kondisi kita, penyakit apa yang menimpa kita?. Jawabannya pasti dokter yang khusus menangani sakit kita. Jika kendaraan kita mogok atau rusak kemanakah hendak kita perbaiki?. Jawabannya pasti ke bengkel atau montir yang ahli dalam bidangnya. Begitu seterusnya, kita pasti akan mempercayakan kepada orang-orang yang ahli dalam bidangnya.
Jika demikian, kemanakah seharusnya kita datang dan bertanya tentang sesuatu dari perkara agama?. Kemanakah semestinya kita mengecek keabsahan suatu hadits, apakah shahih atau tidak?. Semoga semua kaum muslimin dapat menjawabnya dan memahaminya.

Wallahu wa Rosuluhu a’lam.

[1] Shahih Sunan Abu Dawud: 3394, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2656, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2751, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6086, al-Kalim ath-Thayyib dengan tahqiq asy-Syaikh al-Albaniy: 182 dan Irwa’ al-Ghalil: 1989.
[2] Nail al-Awthar bi takhrij ahadits kitab al-Adzkar: 656 (I/528).
[3] Shahih Sunan Abu Dawud: 3260, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2655, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2750, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4731, al-Kalim ath-Thayyib dengan tahqiq asy-Syaikh al-Albaniy: 191 dan Mukhtashor Syama’il al-Muhammadiyah: 164.
[4] Nail al-Awthar bi takhrij ahadits kitab al-Adzkar: 652 (I/525).
[5] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4768, al-Kalim ath-Thayyib: 190 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 71.
[6] Nail al-Awthar bi takhrij ahadits kitab al-Adzkar: 657 (I/528-529).
[7] Dla’if Sunan Abu Dawud: 829, Dla’if Sunan at-Turmudziy: 681, Dla’if Sunan Ibnu Majah: 709, Misykah al-Mashobih: 4204, Mukhtashor Syama’il al-Muhammadiyyah: 163, al-Kalim ath-Thayyib: 189 dan Dla’if al-Jami’ ash-Shahih: 4436.
[8] Nail al-Awthar bi takhrij ahadits kitab al-Adzkar: 654 (I/527).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar