السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Jumat, 31 Mei 2013

JIKA PENYAKIT MENYERANG???…

DOA TERHINDAR DARI PENYAKIT
بسم الله الرحمن الرحيم

Penyakit adalah salah satu ujian yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepada setiap hamba-Nya, baik yang beriman ataupun yang kafir.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ اْلمـَوْتِ وَ نَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَ اْلخَيْرِ فِتْنَةً وَ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai suatu cobaan. Dan kepada Kami-lah kalian akan dikembalikan. [QS al-Anbiya’/ 21: 35].
Berkata Ibnu Abbas radliyallahu anhuma, “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan, kesenangan, kesehatan, penyakit, kekayaan, kefakiran, yang halal, yang haram, ketaatan, maksiat, petunjuk dan kesesatan”. [1]

Jadi sehat dan sakit adalah merupakan ujian yang Allah ta’ala berikan kepada para hamba-Nya. Dan Allah ta’ala ketika menimpakan ujian penyakit kepada para hamba-Nya yang beriman itu bermaksud untuk memberikan kebaikan kepadanya, semisal menghapuskan sebahagian dosa darinya, menambahkan pahala kebaikan untuknya, mengangkat derajatnya dan selainnya.

Dari Abdullah bin mas’ud berkata, Aku pernah masuk menemui Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, sedangkan beliau dalam keadaan demam yang sangat panas. Lalu aku menyentuhkan tanganku dan berkata, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya engkau terkena demam yang sangat panas”. Beliau bersabda, “Ya, sesungguhnya aku mendapatkan demam sebagaimana demamnya dua orang dari kalian”. Aku bertanya, “Oleh seba itukah, engkau mendapatkan pahala dua kali lipat?”. Maka Roslullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ya”. Kemudian Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللهُ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit atau sejenisnya melainkan Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dengan (sebab)nya sebagaimana pohon yang menggugurkan dedaunannya”. [HR al-Bukhoriy: 5647, 5648, 5660, 5661, 5667, Muslim: 2571. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].

Dari Aisyah radliyallahu anha, “Janganlah kalian tertawa, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةً فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا كُتِبَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَ مُحِيَتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ

“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu melainkan ditetapkan baginya satu derajat dengan sebab itu dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya”. [HR Muslim: 2572 dan at-Turmudziy: 965. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

Dari Aisyah radliyallahu anha istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

مَا مِنْ مُصِيْبَةٍ تُصِيْبُ اْلمـُسْلِمَ إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا

“Tidak suatu mushibah menimpa seorang muslim melainkan Allah akan menghapuskan  (dosa-dosa) dengan sebabnya darinya hingga duri yang melukainya”. [HR al-Bukhoriy: 5640, Muslim: 2572 (49) dan Ahmad. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah radliyallahu anhuma bahwasanya keduanya mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيْبُ اْلمـُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَ لَا نَصَبٍ وَ لَا سَقَمٍ وَ لاَ حَزَنٍ حَتَّى اْلهَمِّ يُهَمُّهُ إِلَّا كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), keletihan, penyakit dan kesedihan bahkan sampai kesulitan yang menyusahkannya melainkan akan dihapuskan sebahagian dosa-dosanya dengannya”. [HR Muslim: 2573, al-Bukhoriy: 5641, 5642 dan at-Turmudziy: 966. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

Allah Subhanahu wa ta’ala melalui Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kaum muslimin agar memiliki sikap yang baik terhadap penyakit, di antaranya;

1). Berdoa minta dihindarkan dan dijauhkan dari berbagai penyakit.

Dari Anas (bin Malik) radliyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah berdoa,

اَللَّهُمَّ إِنىِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ اْلبَرَصِ وَ اْلجُنُوْنِ وَ اْلجُذَامِ وَ مِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ

Alloohumma innii a’uudzu bika minal baroshi wal junuuni wal judzaami wa sayyi’il asqoom
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, lepra dan dari keburukan berbagai macam penyakit”. [HR Abu Dawud: 1554, an-Nasa’iy: VIII/ 270 dan Ahmad: III/ 192. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

Namun jika ternyata Allah Azza wa Jalla berkehendak lain, yakni hamba tersebut diberikan kenikmatan sakit, maka hendaklah ia banyak mengucapkan,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ لَهُ اْلمـُلْكُ وَ لَهُ اْلحَمْدُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

“Tiada ilah yang pantas disembah melainkan Allah dan Allah Maha besar. Tiada ilah yang berhak disembah melainkan Allah saja. Tiada ilah yang berhak disembah melainkan Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya. Tiada ilah yang pantas disembah melainkan Allah, bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Tiada ilah yang pantas disembah melainkan Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah”.

Sebab jika ternyata hidupnya berakhir dengan sakitnya tersebut sedangkan ia dalam keadaan mengucapkan kalimat tersebut, maka ia tidak akan tersentuh api neraka. Hal ini sebagaimana di dalam hadits di bawah ini,

Dari al-Aghorr Abu Muslim, bahwasanya ia pernah menyaksikan Abu Hurairah dan Abu Sa’id, bahwa keduanya menyaksikan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang hamba mengatakan ‘Laa ilaaha illallah wallahu akbar’. Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Hamba-Ku benar,karena tidak ada ilah yang berhak disembah selain Aku dan Aku adalah Yang Maha besar’. Apabila hamba itu berkata, ‘Laa ilaaha illallah wahdah (tiada ilah yang berhak disembah melainkan Allah saja)’. Allah berfirman, ‘Hamba-Ku benar, karena tiada ilah yang berhak disembah kecuali Aku saja’. Jika hamba itu berkata, ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah (tiada ilah yang berhak disembah melainkan Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya)’. Allah berfirman, ‘Hamba-ku benar, karena tiada ilah yang berhak disembah melainkan Aku saja, tiada sekutu bagi-Ku’. Apabila hamba itu berkata, ‘Laa ilaaha illallah lahul mulku wa lahul hamdu (tiada ilah yang berhak disembah melainkan Allah, bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian)’. Allah berfirman, ‘Hamba-Ku benar, karena tiada ilah yang berhak disembah kecuali Aku, bagi-Ku lah segala kerajaan dan bagi-Ku segala pujian’. Jika hamba itu berkata, ‘Laa ilaaha illallah wa laa haula wa laa quwwata illa billah (tiada ilah yang berhak disembah melainkan Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)’. Allah berfirman, ‘Hamba-Ku benar, karena tiada ilah yang berhak disembah kecuali Aku, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Ku’. Lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

 مَنْ رُزِقَهُنَّ عِنْدَ مَوْتِهِ لَمْ تَمَسَّهُ النَّارُ

“Barangsiapa yang dikaruniakan mengucapkan kalimat tersebut ketika wafatnya, maka ia tidak akan disentuh api neraka”. [HR Ibnu Majah: 3794, at-Turmudziy: 3430 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

2). Berusaha dengan berobat dan makan atau minum obat yang diperbolehkan syariat.

Dari Abu ad-Darda’ berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

    إِنَّ اللهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَ الدَّوَاءَ فَتَدَاوَوْا وَ لَا تَتَدَاوَوْا بِحَرَامٍ
           
“Sesungguhnya Allah telah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah dan janganlah kalian berobat dengan yang haram”. [HR ad-Dulabiy di dalam al-Kunya. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [7]

Dari Usamah bin Syarik berkata, ‘Mereka bertanya, ‘Wahai Rosulullah, apakah kita harus berobat?’. Beliau bersabda,

 يَا عِبَادَ اللهِ تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللهَ عز و جل لَمْ يَضَعْ دَاءًا إِلَّا وَضَعَ لَهُ شِفَاءًا غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ قَالُوْا: وَ مَا هُوَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: اْلهَرَمَ
           
“Wahai hamba-hamba Allah berobatlah kalian, Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidaklah membuat penyakit melainkan Ia juga telah membuat obatnya, kecuali satu penyakit”. Mereka bertanya, “Apakah itu, wahai Rosulullah?. Beliau menjawab, “Penyakit tua”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 291, Abu Dawud: 3855, Ibnu Majah: 3436, at-Turmudziy: 2038, Ahmad: IV/ 278, al-Hakim, Ibnu Hibban dan ath-Thayalisiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

3). Senantiasa memuji Allah ta’ala, meskipun ketika jiwa dan ruhnya keluar meninggalkan jasadnya menuju keharibaan-Nya.

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah mengambil seorang anak perempuan asuh yang hampir mati. Beliau meletakkannya di atas dadanya (memeluknya), lalu ia meninggal dunia di dalam pelukannya. Maka Ummu Ayman radliyallahu anha pun berteriak menangis. Dikatakan kepadanya, “Mengapa kamu menangis di sisi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”. Iapun berkata, “Bukankah aku juga  melihatmu  menangis wahai Rosulullah?”. Beliau Shallallahu alaihi wa sallampun bersabda, “Aku tidaklah menangis, ini hanyalah rahmat (rasa kasih sayang)”.

 إِنَّ اْلمـُؤْمِنَ بِكُلِّ خَيْرٍ عَلَى كُلِّ حَالٍ إِنَّ نَفْسَهُ تَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ جَنْبَيْهِ وَ هُوَ يَحْمَدُ اللهَ عز و جل

“Sesungguhnya orang mukmin itu selalu di dalam kebaikan di atas setiap keadaan, sesungguhnya jiwanya keluar dari jasadnya sedangkan ia dalam keadaan memuji Allah Azza Wa Jalla”. [HR Ahmad: I/ 273-274. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy shahih]. [9]

4). Sabar dan ridlo dengan ketetapan Allah ta’ala serta tidak pernah berburuk sangka kepada-Nya.
Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu berkata,

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ قَبْلَ وَفَاتِهِ بِثَلاَثٍ قَالَ: لَا يَمُوْتُ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَ هُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ

“Aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan tiga hal sebelum wafatnya. Beliau bersabda, “Janganlah seseorang di antara kalian mati melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah”. [HR Abu Dawud: 3113, Muslim, Ibnu Majah: 4167 dan Ahmad: III/ 293, 325, 330, 334, 390. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [10]

5). Selalu mengharap kebaikan kepada Allah Azza wa Jalla dan khawatir dengan keburukan yang ditimpakan kepadanya.

Dari Anas radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah masuk menemui seorang pemuda yang sedang mendekati kematian. Beliau bersabda, “Apa yang kamu rasakan?”. Ia menjawab, “Demi Allah, wahai Rosulullah, sesungguhnya aku mengharapkan Allah dan aku takut terhadap dosa-dosaku”. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam  bersabda,

 لاَ يَجْتَمِعَانِ فىِ قَلْبِ عَبْدٍ فىِ مِثْلِ هَذَا اْلمـَوْطِنِ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ مَا يَرْجُوْ وَ آمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ

“Tidaklah keduanya terhimpun di dalam hati seorang hamba di semisal tempat ini melainkan Allah akan memberikan kepadanya apa yang ia harapkan dan mengamankannya dari apa yang ia takuti”. [HR at-Turmudziy: 983, Ibnu Majah: 4261 dan Ibnu Abi ad-Dunya. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [11]

6). Bagi seseorang menjaga keluarganya yang sedang sakit, disunnahkan untuk menalkin kalimat syahadat kepadanya.
 
Begitu pula disyariatkan bagi setiap muslim yang sedang menemani atau menjaga keluarganya yang sedang sakit untuk selalu mentalkinkan kalimat syahadat baginya itu dengan ucapan “laa ilaaha illallah”. [12] Yakni muslim tersebut membimbing orang yang sakit itu untuk dapat melafazhkan atau mengucapkan kalimat syahadat itu dengan fasih dan benar, sebab jika akhir hidup saudaranya itu ditutup dengan ucapan tersebut maka ia akan masuk ke dalam surga, meskipun ia diadzab terlebih dahulu  di dalam neraka sesuai dengan perbuatan-dosa-dosa yang telah ia kerjakan.  Hal  ini pernah dilakukan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam ketika membesuk pamannya yaitu Abu Thalib dan seorang anak Yahudi yang sedang sakit. Beliau menawarkan Islam kepada keduanya dengan cara mengucapkan kalimat syahadat, tetapi Abu Thalib menolak ajakan beliau dan anak Yahudi itu menerima ajakannya. [13]

 عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ قَوْلَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Talkinkan orang yang hendak mati di antara kalian dengan mengucapkan “laa ilaaha illallah”. [HR Abu Dawud: 3117, Muslim: 916, 917, at-Turmudziy: 976, an-Nasa’iy: IV/ 5, Ibnu Majah: 1444, 1445 dan Ahmad: III/ 3. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]

عن معاذ بن جبل قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ اْلجَنَّةَ

 Dari Mu’adz bin Jabal radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang akhir ucapannya “laa ilaaha illallah” maka dia akan masuk surga”. [HR Abu Dawud: 3116 dan Ahmad: V/ 233 dari Mu’adz bin Jabal radliyallahu anhu. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

Semoga bermanfaat bagiku, keluargaku, kerabatku, para shahabatku dan seluruh kaum muslimin. Wallahu a’lam.

[1] Tafsir Ibnu Jarir ath-Thobariy: IX/ 26 cetakan I Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut dan Tafsir al-Qur’an al-Azhim Ibnu Katsir: III/ 218 cetakan Dar al-Fikr.
[2] Mukhtashor Shahih Muslim: 1797, Shahih Sunan at-Turmudziy: 771 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5758.
[3] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5782.
[4] Shahih Sunan at-Turmudziy: 772, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2503 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5818.
[5] Shahih Sunan Abu Dawud: 1375, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 5068, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1281, 1285 Irwa’ al-Ghalil: III/ 357 dan Misykah al-Mashobih: 2470.
[6] Shahih Sunan Ibnu Majah: 3061, Shahih Sunan at-turmudziy: 2727 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1390.
[7] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir:  1754, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1633 dan Ghoyah al-maram: 292.
[8] Shahih al-Adab al-Mufrad: 223, Shahih Sunan Abu Dawud: 3264, Shahih Sunan Ibnu Majah, 2772, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1660, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7934, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 292 dan Misykah al-Mashobih: 4532, 5079.
[9]  Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1931 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1632.
[10]  Shahih Sunan Abii Dawud: 2670, Mukhtashor Shahih Muslim: 455, Shahih Sunan Ibni Majah: 3360, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7792 dan Ahkam al-Jana’iz halaman11.
[11]  Shahih Sunan at-Turmudziy: 785, Shahih Sunan Ibni Majah: 3436, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1051, Misykah al-Mashobih: 1612 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 11.
[12]  Talkin itu bukan membacakan surat Yasin atau sejenisnya. Dari sebab itu pembacaan surat Yasin kepada orang yang sedang datang tanda-tanda kematiannya atau sesudahnya itu adalah perkara muhdats (yang baru diada-adakan) atau termasuk perkara bid’ah. (lihat Ahkaam al-Janaa’iz halaman 20 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 533). Apalagi riwayat yang menyuruh membacakan surat Yasin untuk orang yang mendekati ajal adalah hadits dla’if (lemah), sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Majah: 1488, Ahmad: V/ 26, 27, Abu Dawud: 3121, Ibnu Hibban dan al-Hakim dari Ma’qil bin Yasar. [Lihat Dla’if Sunan Ibni Majah: 308, Dla’if Sunan Abi Dawud: 683, Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 1071, Misykah al-Mashobih: 1622 dan Irwa’ al-Ghalil: 688].
[13]  Ajakan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam terhadap pamannya itu dikeluarkan oleh al-Bukhoriy: 1360, 3884, 4675, 4772, 6881, Muslim: 34 dan Ahmad: II/ 343, 441 dari al-Musayyab. Dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albaniy di dalam Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 680 dan Mukhtashor Shahih Muslim: 3. Adapun ajakan Beliau terhadap anak Yahudi dikeluarkan oleh al-Bukhoriy: 1356, 5657, al-Hakim dan Ahmad: III/ 175, 227, 260, 280 dari Anas bin Malik. Dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albaniy di dalam Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 676 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 21.
[14]  Mukhtashor Shahih Muslim: 453, Shahih Sunan Abi Dawud: 2674, Shahih Sunan at-Turmudziy: 781, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1722, Shahih Sunan Ibni Majah: 1185, 1186, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5148, Irwa’ al-Ghalil: 686 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 19.
[15] Shahih Sunan Abi Dawud: 2673, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6471, Misykah al-Mashobih: 1621, Ahkam al-Jana’iz halaman 48 dan Irwa’ al-Ghalil: 687.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar