السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Jumat, 31 Mei 2013

SUDAHKAH ANDA MANDI HARI INI???

DISYARIATKANNYA MANDI
بسم الله الرحمن الرحيم

Mandi yang dimaksud di sini bukan mandi seperti yang dilakukan oleh manusia setiap harinya. Yakni mengguyur seluruh tubuhnya dengan air sepuasnya lalu menggosok-gosok dengan sabun atau sesekali menggunakan shampo atau selainnya. Hal tersebut dilakukan tanpa sengaja berniat untuk mandi janabat, haidl ataupun nifas atau tanpa mengerjakan aturan-aturan mandi sebagaimana telah dipahami dalam kaidah-kaidahnya.

Namun mandi di dalam pembahasan ini adalah mandi yang dikerjakan ketika hendak menunaikan sholat yang dikarenakan adanya alasan sesuatu semisal karena junub lantaran mimpi atau melakukan hubungan suami istri, terhentinya darah haidl atau nifas dan selainnya. Dan mandi itupun dilaksanakan dengan beberapa aturan semisal berniat untuk mandi, mengucapkan tasmiyah, mengerjakan wudlu dan seterusnya.

قال الله سبحانه و تعالى ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَ أَنتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَ لَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِى سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا))

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, ((Wahai orang-orang beriman janganlah kalian mendekati sholat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk sampai kalian mengetahui apa yang kalian ucapkan. Dan janganlah pula dalam keadaan junub sampai kalian mandi kecuali hanya sekedar untuk melewati jalan… Q.S. an-Nisa’/4: 43 )).

Berkata al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah, ”Merupakan dalil bagi apa yang dipegang oleh tiga imam yaitu Abu Hanifah, Malik dan asy-Syafi’i bahwasanya diharamkan bagi orang junub untuk berdiam diri di dalam masjid sampai ia mandi atau tayammum jika tiada air atau ia tidak mampu menggunakannya dengan caranya”.[1]

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, ”Wajibnya mandi atas orang yang junub yaitu orang yang mengalami janabat dengan sebab mimpi lalu ia melihat air (mani) atau menjimak istrinya yakni ia memasukkan kemaluannya ke dalam farji istrinya walaupun tidak mengeluarkan air (mani)”. [2]

قال الله سبحانه و تعالى ((وَ إِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا))
          
 Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, ((maka apabila kalian junub maka bersucilah)). [QS. al-Ma’idah/ 5: 6].

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, ”Yaitu mandilah dengan air”. [3]
Berkata al-Imam al-Baghowiy rahimahullah , ”Yaitu mandilah”. [4]

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar al-Jaza’iriy hafizhohullah, “((Apabila kalian junub maka bersucilah)) yaitu jika seseorang di antara kalian mengalami junub dari sebab jimak dan mimpi. Maka barangsiapa yang menjimak istrinya yaitu memasukkan farjinya ke dalam farji istrinya walaupun tidak inzal yakni tidak mengeluarkan air mani maka berarti ia telah junub. Sebagaimana seseorang mimpi lalu keluar air mani darinya maka iapun telah junub. Bahkan semua orang yang keluar mani dari sebab merasakan suatu kenikmatan di dalam tidur ataupun terjaga maka sungguh-sungguh ia telah junub. Dan terhentinya darah haid seorang wanita atau darah nifasnya sama seperti junub yang mewajibkan mandi darinya. Firman-Nya; ((maka bersucilah)) yang diinginkan adalah maka mandilah. Sunguh-sungguh sunnah telah menjelaskan tentang cara mandi yaitu seseorang niat menghilangkan hadats besar dengan hatinya, membasuh kedua telapak tangannya sambil mengucapkan “bismillah” , mencuci farjinya dan (kotoran) yang ada disekitarnya kemudian berwudlu dengan wudlu yang telah dikenal. Kemudian menyela-nyela akar rambutnya dengan basahan kedua tangannya. Kemudian membasuh kepalanya tiga kali. Kemudian menuangkan air ke atas sebelah tubuhnya yang kanan seluruhnya dari atas sampai bawah, lalu yang kiri. Diutamakan menjaga tempat-tempat yang kadang-kadang air tidak mengenainya seperti pusar, bawah ketiak dan juga kedua pangkal paha”. [5]

Ayat dan penafsiran di atas menjelaskan kepada setiap umat Islam bahwasanya orang junub tidak boleh mendekati apalagi menunaikan sholat sehingga ia mandi, yakni mandi janabat.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: أُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ وَ عُدِّلَتِ الصُّفُوْفُ قِيَامًا فَخَرَجَ إِلَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَلَمَّا قَامَ فىِ مُصَلاَّهُ ذَكَرَ أَنَّهُ جُنُبٌ فَقَالَ لَنَا: مَكَانَكُمْ ثُمَّ رَجَعَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَيْنَا وَ رَأْسُهُ يَقْطُرُ فَكَبَّرَ فَصَلَّيْنَا مَعَهُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, “Sholat telah diikomatkan dan shaff telah diluruskan, lalu keluarlah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada kami. Ketika beliau telah berdiri di tempat sholat, beliau teringat masih dalam keadaan junub. Lalu beliau bersabda kepada kami, “Tetaplah di tempat kalian!”. Kemudian beliau kembali dan mandi lalu keluar kepada kami sedangkan kepalanya masih menetes (air). Lalu Beliau bertakbir dan kamipun sholat bersamanya. [HR al-Bukhoriy: 275, 639, 640, Muslim: 605, Abu Dawud: 235, an-Nasa’iy: II/ 81-82, 89 dan Ahmad: II/ 283. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih].[6]

عن أبي بكرة  أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم دَخَلَ فىِ صَلاَةِ اْلفَجْرِ فَأَوْمَأَ بِيَدِهِ أَنْ مَكَانَكُمْ ثُمَّ جَاءَ وَ رَأْسُهُ يَقْطُرُ فَصَلَّى بِهِمْ (و فى رواية: وَ قَالَ فىِ آخِرِهِ: فَلَمَّا قَضَى الصَّلاَةَ قَالَ: إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَ إِنيِّ كُنْتُ جُنُبًا)
           
Dari Abi Bakrah radliyallahu anhu bahwasanya  Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam masuk untuk sholat fajar. Lalu ia memberi isyarat dengan tangannya, ”Tetaplah di tempat kalian. Kemudian Beliau datang sedangkan kepalanya mengucurkan (air) lalu Beliau sholat dengan mereka”. (Di dalam satu riwayat, dan ia berkata di akhirnya, ”Ketika Beliau selesai dari sholatnya, Beliau bersabda, ”Aku ini hanyalah manusia dan sesungguhnya aku tadi malam keadaan junub”). [HR Abu Dawud: 233, 234 dan Ahmad: V/ 41. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [7]

Dalil-dalil hadits di atas menjelaskan bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah menangguhkan sholat fajar dan menyuruh para sahabat radliyallahu anhum untuk tetap di tempat lalu beliau pergi mandi. Padahal waktu itu Beliau sudah berada di hadapan mereka, ikomah sudah didengungkan dan shaffpun sudah diluruskan, karena Beliau teringat masih dalam keadaan junub dan belum mandi janabat. Maka Beliaupun tidak bertakbir untuk memulai sholat. Hal ini menunjukan bahwasanya sholat seseorang itu tidak sah jika dalam keadaan junub sampai ia mandi janabat, sebagaimana tidak sahnya orang sholat dalam keadaan mabuk. Oleh sebab itu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menegur Amr bin al-Ash radliyallahu anhu karena Beliau menyangkanya sholat dalam keadaan junub tetapi ketika Amr menerangkan kepada Beliau bahwasanya ia telah bertayammum dan menjelaskan juga akan udzurnya maka Beliaupun tertawa dan tidak menyangkalnya.

  عن عمرو بن العاص قَالَ: احْتَلَمْتُ فىِ لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ فىِ غَزْوَةِ ذَاتِ السَّلاَسِلِ فَأَشْفَقْتُ إِنِ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلِكَ فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابىِ الصُّبْحَ فَذَكَرُوْا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: يَا عَمْرُو صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِكَ وَ أَنْتَ جُنُبٌ؟ فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي مَنَعَنيِ مِنَ اْلاِغْتِسَالِ وَ قُلْتُ: إِنيِّ سَمِعْتُ اللهَ يَقُوْلُ((وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا)) فَضَحِكَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَ لَمْ يَقُلْ شَيْئًا

Dari Amr bin al-Ash radliyallahu anhu berkata, ”Aku pernah bermimpi di suatu malam yang sangat dingin pada waktu perang Dzat as-Salasil. Aku khawatir jika aku mandi maka aku akan binasa. Lalu aku tayammum kemudian sholat shubuh bersama para shahabatku”. Lalu mereka menceritakan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, maka Beliau bersabda, ”wahai Amr, engkau sholat bersama para shahabatmu sedangkan engkau dalam keadaan junub?”. Lalu aku khabarkan kepada Beliau penyebab yang mencegahku dari mandi. Dan aku berkata, ”sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman, ((dan janganlah kalian membunuh diri kalian sesungguhnya Allah amat penyayang kepada kalian. QS. An-Nisa’/4: 29))”. Maka tertawalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallamdan tidak berkata sesuatu apapun. [HR Abu Dawud: 334, Ahmad: IV/ 203-204, al-Hakim: 648 dan al-Bukhoriy secara ta’liq di dalam Fat-h al-Bariy: I/ 454. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolaniy rahimahullah, ”Di dalam hadits ini diperbolehkan tayammum bagi orang yang khawatir jatuh ke dalam kebinasaan dari sebab menggunakan air (yaitu mandi), sama saja karena cuaca dingin atau selainnya. Diperbolehkan sholat orang yang tayammum bersama orang yang berwudlu dan diperbolehkan berijtihad di masa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam”. [9]

عن عَائِشَةَ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ حُبَيْشٍ سَأَلَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَتْ: إِنيِّ أُسْتَحَاضُ فَلاَ أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ الصَّلاَةَ ؟ فَقَالَ: لاَ إِنَّ ذَلِكَ عِرْقٌ وَ لَكِنْ دَعِي الصَّلاَةَ قَدْرَ اْلأَيَّامِ الَّتيِ كُنْتِ تَحِيْضِيْنَ فِيْهَا ثُمَّ اغْتَسِلِيْ وَ صَلِّي

Dari Aisyah radliyallahu anha bahwasanya Fatimah binti Hubaisy pernah bertanya kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ia berkata, “Sesungguhnya aku sedang istihadlah, maka aku tidak bersih, bolehkah aku meninggalkan sholat?”. Beliau bersabda, “Tidak, sesungguhnya yang demikian itu adalah cairan penyakit, tetapi tinggalkanlah sholat seukuran hari yang biasanya engkau haidl kemudian mandi dan sholatlah”. [HR al-Bukhoriy: 325, 228, 306, 320, 331, Muslim: 333, an-Nasa’iy: I/ 122, 124, Ahmad: VI/ 194 dan ad-Darimiy: I/ 198. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolaniy rahimahullah, ”Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa perempuan itu apabila ia dapat membedakan darah haidl dan darah istihadlah maka ia menguji darah haidl dan bertindak atas maju mundurnya. Lalu apabila selesai kadar (waktu)nya ia mandi darinya kemudian jadilah hukum darah istihadlah itu seperti hukum hadats yang ia berwudlu setiap kali sholat. Tetapi ia tidak boleh sholat dengan wudlu tersebut lebih dari satu sholat fardu yang ditunaikan atau dilaksanakan karena zhahirnya sabda Nabi ((kemudian berwudlulah setiap kali sholat))”.[11]

Kalimat, ((Tinggalkanlah sholat seukuran hari yang biasanya engkau haidl kemudian mandi dan sholatlah)), menunjukkan bahwasanya jika seorang perempuan haidl dan telah selesai dari haidlnya maka ia wajib mandi sebelum menunaikan sholat.

Maka dengan beberapa dalil di atas, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk mandi dengan mandi yang sesuai dengan syariat. Oleh sebab itu, wajib bagi kita sebagai umat Islam untuk mempelajari dan memahami kaidah-kaidah agama kita dengan benar dan bersungguh-sungguh agar ibadah kita kepada Allah ta’ala juga benar dan mendapatkan balasan dan ganjaran kebaikan dari-Nya. Termasuk di dalamnya mempelajari dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan wudlu, mandi, sholat dan selainnya.

Semoga bermanfaat  bagi kita semua.

Wallahu a’la bish Showab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar