السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Rabu, 29 Mei 2013

SUDAHKAH ANDA BERDOA SEBELUM MAKAN ??

DOA SEBELUM MAKAN
 بسم الله الرحمن الرحيم


بِسْمِ اللهِ
 
Bismillah.
“Dengan nama Allah (aku makan)”.
Lalu jika lupa membaca tasmiyah (ucapan bismillah) di awalnya, ketika ingat hendaknya mengucapkan,

بِسْمِ اللهِ فِىِ أَوِّلِهِ وَ آخِرِهِ

Bismillah fi awwalihi wa aakhirihi.
“Dengan nama Allah di awal dan akhirnya”.
Atau,

بِسْمِ اللهِ أَوَّلَهُ وَ آخِرَهُ

Bismillah awwalahu wa aakhirohu.
“Dengan nama Allah di awal dan akhirnya”.

DALIL-DALIL TENTANG MENGUCAPKAN BISMILLAH

1). Dari Aisyah berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memakan makanan bersama enam orang shahabatnya. Tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui, lalu makan dua suapan. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

            أَمَّا أَنَّهُ لَوْ كَانَ قَالَ: بِسْمِ اللهِ لَكَفَاكُمْ فَإِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَقُوْلَ بِسْمِ اللهِ فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ فِىِ أَوِّلِهِ وَ آخِرِهِ

“Seandainya ia mengucapkan ‘Bismillah’ niscaya akan mencukupi kalian. Maka apabila seseorang diantara kalian hendak makan, hendaklah ia mengucapkan ‘Bismillah’. Jika ia lupa mengucapkan ‘Bismillah’ di awalnya maka hendaklah ia mengucapkan  ‘Bismillah fi awwalihi wa aakhirihi’ (dengan nama Allah di awal dan akhirnya). [HR Ibnu Majah: 3264 dan at-Turmudziy: 1859. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [1]

2). Dari Aisyah bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللهِ تعالى فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ تعالى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللهِ أَوَّلَهُ وَ آخِرَهُ

 “Apabila seseorang diantara kalian hendak makan hendaklah ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa menyebut nama Allah ta’ala di awalnya maka hendaklah ia mengucapkan “Bismillah awwalahu wa aakhirahu” (dengan nama Allah di awal dan akhirnya). [HR Abu Dawud: 3767, at-Turmudziy: 1858 dan Ahmad: VI/ 143. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

3). Dari Umar bin Abi Salamah, bahwasanya ia pernah masuk menemui Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan di sisinya ada makanan. Beliau bersabda,

ادْنُ يَا بُنَيَّ فَسَمِّ اللهَ وَ كُلْ بِيَمِيْنِكَ وَ كُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

“Wahai anakku mendekatlah (kemari)!, ucapkanlah tasmiyah (mengucapkan bismillah), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang ada di dekatmu!”. [HR al-Bukhoriy: 5376, Muslim: 2022, Abu Dawud: 3777, Ibnu Majah: 3267, at-Turmudziy: 1858, Ahmad: IV/ 26, 27 dan ad-Darimiy: II/ 100. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[3]

4). Dari Jabir radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللهَ تعالى عِنْدَ دُخُوْلِهِ وَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: لَا مَبِيْتَ لَكُمْ وَ لَا عَشَاءَ وَ إِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ اللهَ تعالى عِنْدَ دُخُوْلِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ اْلمـَبِيْتَ وَ إِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ تعالى عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ: أَدْرَكْتُمُ اْلـمَبِيْتَ وَ اْلعَشَاءَ

“Apabila seseorang masuk ke rumahnya lalu ia menyebut (nama) Allah ta’ala ketika memasukinya dan ketika makan. Setan berkata (kepada kawan-kawannya), ‘tidak aa tempat bermalam dan makan buat kalian’. Apabila ia tidak menyebut (nama) Allah ta’ala ketika memasukinya, setan berkata ‘kalian telah mendapatkan tempat bermalam’. Dan apabila ia tidak menyebut (nama) Allah ta’ala ketika makan, setan berkata ‘kalian mendapatkan tempat bermalam dan juga makanan’”. [HR Muslim: 2018, Abu Dawud: 3765, dan Ahmad: III/ 346, 383. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

5). Dari Anas bin Malik (dalam hadits yang panjang) tentang mukjijat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ketika Beliau diundang oleh Abu Thalhah dan Ummu Sulaim radliyallahu anhuma untuk menyantap makanan. Berkata (Anas), Kemudian Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Idzinkan  sepuluh orang (untuk ikut makan bersamaku)!”. Maka Iapun mengidzinkan mereka. Lalu merekapun masuk. Beliau bersabda,

كُلُوْا وَ سَمُّوْا اللهَ

“Makanlah dan ucapkanlah tasmiyah!”. Lalu mereka makan sehingga ada 80 orang berbuat seperti itu. Kemudian Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan tuan rumah makan setelah itu dan masih meninggalkan sisa makanan. [HR Muslim: 2040 (143)].

6). Dari Abdurrahman bin Jubair at-Tabi’iy, ia bercerita bahwasanya seseorang yang pernah melayani Nabi Shallallahu alaihi wa sallam selama 8 tahun pernah bercerita kepadanya. Bahwasanya ia pernah mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam apabila dihidangkan makanan kepadanya, beliau mengucapkan, ‘Bismillah’. [HR Ahmad: IV/ 62, V/ 375, Ibnu as-Sunniy dan Abu asy-Syaikh di dalam ‘Akhlak Nabi Shallallahu alaihi wa salam. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]
Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy: Shahih. [6]

Dalil-dalil hadits di atas dengan jelas menceritakan tentang keadaan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang sedang mendidik umatnya dengan ajaran-ajaran yang benar dan selalu membawa kepada kebaikan dunia dan akhirat.

Di antara apa yang pernah Beliau ajarkan kepada umatnya adalah tentang adab makan. Di antaranya adalah tentang diperintahkannya mengucapkan doa ketika hendak makan dan doa ketika lupa membaca doa diawalnya.

Doa yang diajarkan ketika hendak makan adalah mengucapkan tasmiyah yaitu ucapan ‘bismillah’ bukan bismillahir rohmanir rohim sebagaimana yang banyak dikerjakan oleh kaum muslimin sekarang ini. Bahkan sebahagian para ulama telah membid’ahkan ucapan tersebut lantaran ketiadaan dalil tentang ucapan tersebut meskipun bagi sebahagian mereka beranggapan bahwa ucapan tersebut lebih baik dan lebih sempurna. Namun syariat selalu berpijak kepada dalil-dalil sharih (jelas) dan shahih bukan dengan dasar persangkaan, logika, hawa nafsu atau kebiasaan yang dikerjakan oleh mayoritas manusia.

Hal ini telah dijelaskan oleh asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah di dalam fiq-h al-hadits,
1). Merupakan sunnah mengucapkan tasmiyah yaitu lafazh ‘bismillah’ (ketika hendak makan). Tidak ada hujjah (dalil) bagi orang yang mengucapkan ‘bismillahir rohmanir rohim’. Bahkan sebahagian ahli ilmu menyatakan akan kebid’ahannya.
2). Al-Imam al-Ghozaliy menyangka bahwa ucapan tasmiyah itu diucapkan setiap suapan, dan pernyataan ini adalah batil. Karena ucapan tasmiyah itu adanya di awal makanan dan tidak diulang-ulang.
3). Ucapan tasmiyah itu dapat menghasilkan berkah dan mencegah setan untuk ikut serta di dalam (menyantap) makanan.
4). Manusia itu adalah makhluk yang banyak lupanya. Maka barangsiapa yang tidak mengucapkan tasmiyah lantaran lupa, hal tersebut tidak mengapa namun ketika ia ingat hendaknya ia bersegera mengucapkan ‘bismillahi awwalahu wa aakhirohu”. [7]

Karena jika seseorang lupa membaca tasmiyah maka setan akan ikut serta di dalam memakan makanan tersebut dan hilanglah berkah darinya.

Lalu jika seseorang lupa membaca tasmiyah di awal ia hendak makan, hendaklah ia mengucapkan ‘bismillahi awwalahu wa aakhirohu’ atau ‘bismillah fi awwalihi wa aakhirihi’ (Dengan nama Allah di awal dan akhirnya).

Adapun hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, bahwasanya apabila dihidangkan makanan, Beliau mengucapkan,

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ بِسْمِ اللهِ

‘Ya Allah, berkahilah kami terhadap apa yang Engkau telah rizkikan kepada kami dan jagalah diri kami dari adzab neraka. Bismillah’. [HR Ibnu as-Sunniy di dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah, ath-Thabraniy dan Ibnu Adiy. Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy: Dla’if jiddan (lemah sekali)]. [8]

Karena derajatnya lemah sekali (dla’if jiddan) maka hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah. Oleh sebab itu, doa di atas tidak boleh diamalkan/ diucapkan oleh seorang muslim lantaran hadits tersebut bukanlah hujjah yang sharih lagi shahih. Bagi yang tetap mengamalkannya, padahal sudah tahu kedlaifannya maka ia telah berdusta atas nama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan balasannya adalah siksa api neraka.

Semoga bermanfaat, wallahu a’lam bish showab.

[1] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2641, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1514 dan Nail al-Awthar bi takhrij ahadits kitab al-Adzkar: 637.
[2] Shahih Sunan Abu Dawud: 3202, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1513, al-Kalim ath-Thayyib dengan tahqiq asy-Syaikh al-Albaniy: 183 dan Nail al-Awthar bi takhrij ahadits kitab al-Adzkar: 632.
[3] Mukhtashor Shahih Muslim: 1300, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1512, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2644, Shahih Sunan Abu Dawud: 3210, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 251, 7958, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1184, Irwa’ al-Ghalil: 1968, al-Kalim ath-Thayyib: 182 dan Nail al-Awthar bi takhrij ahadits kitab al-Adzkar: 631, 646.
[4] Mukhtashor Shahih Muslim: 1297, Shahih Sunan Abu Dawud: 3200 dan Shahih al-Jami’ ash-Shahih: 519.
[5] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4768, al-Kalim ath-Thayyib: 182 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 71.
[6] Nail al-Awthar bi takhrij ahadits kitab al-Adzkar: 657 (I/528-529).
[7] Bahjah an-Nazhirin: II/ 50.
[8] Nail al-Awthar bi takhrij Ahadits Kitab al-Adzkar: 630 (I/ 513).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar