السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Jumat, 31 Mei 2013

AKHI, TITIP SALAM YA UNTUK SI FULAN !!!…

TITIP SALAM
بسم الله الرحمن الرحيم
          
Sekarang ini, banyak dijumpai di antara kaum muslimin yang banyak disibukkan dengan berbagai sesuatu, sehingga ia jarang bertemu dengan kerabat, shahabat atau orang-orang lain yang dikenalnya. Maka ketika ia dapati ada seseorang hendak bertemu dengan orang yang ia kenal baik karena suatu urusan yang harus diselesaikan dengannya, iapun menitip salam melalui orang tersebut kepada kerabat atau shahabatnya itu. Ia berpesan, ‘Mas, titip salam ya untuk si Fulan’, atau ‘Pak, kalau nanti bertemu dengan si Fulan, sampaikan salamku untuknya’ atau semisal yang lainnya.

Namun, apakah perilaku ‘titip salam itu’ telah dikenal di masa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam?. Atau adakah dalil-dalil tentang masalah itu di dalam hadits-hadits yang shahih?.
Oleh sebab itu, untuk menghilangkan syubhat dan keraguan akan hal itu akan dibawakan di dalam pembahasan ini dalil-dalil dan penjelasan para ulama tentang hal tersebut. Di antara dalil-dalilnya adalah sebagai berikut,

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, ‘Jibril pernah datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata,

   يَا رَسُوْلَ اللهِ هَذِهِ خَدِيْجَةُ قَدْ أَتَتْ مَعَهَا إِنَاءٌ فَيْهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا وَ مِنِّى وَ بَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِى اْلجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيْهِ وَ لَا نَصَبَ

“Wahai Rosulullah, khadijah akan datang kepadamu dengan membawa bejana yang berisi cuka, makanan atau minuman. Apabila ia datang kepadamu, maka sampaikanlah salam kepadanya dari Rabbnya dan dariku. Dan berikan kabar gembira kepadanya bahwa ia berada di dalam sebuah rumah di dalam surga yang terbuat dari mutiara yang berongga yang tidak terdapat kegaduhan di dalamnya dan tidak pula keletihan”. [HR al-Bukhoriy: 3820, 7497].

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata,

  جَاءَ جِبْرِيْلُ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم وَ عِنْدَهُ خَدِيْجَةُ قَالَ: إِنَّ اللهَ يُقْرِئُ خَدِيْجَةَ السَّلَامَ فَقَالَتْ: إِنَّ اللهَ هُوَ السَّلَامُ وَ عَلَى جِبْرِيْلَ السَّلَامُ وَ عَلَيْكَ السَّلَامُ وَ رَحْمَةُ اللهِ
     
Jibril datang menemui Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan di sisi Beliau ada Khadijah radliyallahu anha. Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jallah menyampaikan salam kepada Khadijah”. Lalu ia berkata, “Sesungguhnya Allah itu adalah as-Salam, salam pula untuk Jibril dan salam dan  Rahmat Allah (semoga dilimpahkan) juga untukmu”. [HR al-Hakim: 4908, an-Nasa’iy, al-Bazzar dan ath-Thabraniy di dalam al-Kabir].

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolaniy rahimahullah, “Dari hadits tersebut terdapat faidah agar seseorang menjawab salam kepada orang yang mengantarkan salam dan kepada orang yang menitipkan salam kepadanya”. [1]

Dari Aisyah radliyallahu anha, bahwasanya Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

 يَا عَائِشَةُ هَذَا جَبْرِيْلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلَامَ فَقَالَتْ: وَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ تَرَى مَا لَا أَرَى –تريد النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم
           
“Wahai Aisyah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu”. Aisyah berkata, “Salam juga untuknya, rahmat dan berkah Allah semoga dilimpahkan kepadanya. Engkau dapat melihat perkara-perkara yang tidak dapat aku lihat –yang dimaksud adalah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam-“. [HR al-Bukhoriy: 3217, 3768, 6201, 6249 Muslim: 2447, Abu Dawud: 5232 dan at-Turmudziy: 2846. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

Di dalam musnad al-Imam Ahmad terdapat tambahan , Aisyah radliyallahu anha berkata,

 فَقُلْتُ: وَ عَلَيْكَ وَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

‘Aku menjawab, “Salam pula untukmu (yaitu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam) dan semoga salam, rahmat dan berkah Allah Azza wa Jalla dilimpahkan untuknya”. [HR Ahmad: VI/ 117].

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Sanad hadits ini shahih, dan tambahan dalam hadits ini sangat penting”. [3]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Kemudian sesungguhnya termasuk dari sunnah adalah apabila ucapan salam itu dititipkan dari seseorang untuk seseorang yang lain untuk menjawab ‘alaihi as-Salam’. Namun jika menjawab ‘alaika wa alaihi as-Salam atau alaihi wa alaika as-Salam’ maka itu adalah baik. Karena orang yang menyampaikan salam itu adalah orang yang berbuat baik, maka mesti dibalas dengan mendoakan kebaikan kepadanya. [4]

Dari Ghalib berkata, “Sesungguhnya kami sedang duduk-duduk di pintunya al-hasan. Tiba-tiba datanglah seseorang dan berkata, ‘Ayahku pernah bercerita kepadaku, dari kakekku berkata, “Ayahku pernah mengutusku kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, ‘Datanglah kepada Beliau dan sampaikan salamku kepadanya!”. Lalu Beliau bersabda,

عَلَيْكَ وَ عَلَى أَبِيْكَ السَّلَامُ

“Untukmu dan ayahmu salam kembali”. [HR Abu Dawud: 5231. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [5]

Demikian beberapa dalil hadits yang membolehkan seorang muslim untuk menitipkan salam kepada seseorang untuk kerabat, shahabat atau orang lain yang dikenalnya. Namun hendaknya ia tidak membebani seseorang untuk menyampaikan salam kepada seseorang yang lain, karena boleh jadi orang tersebut malu atau sungkkan untuk menolak  titipan salamnya lalu ia lupa atau tidak sempat atau selainnya, maka boleh jadi ia jadi berdosa karena tidak menunaikan amanahnya.

Orang yang dititipkan salam itu juga berusaha untuk menyampaikan salam yang diberikan kepadanya sebagai satu bentuk amanah yang harus ia tunaikan. Oleh sebab itu jika merasa keberatan darinya, tidak mengapa ia menolaknya lantaran suatu sebab yang menyulitkannya. [6]

Tata cara menjawab titip salam

Apabila ada keluarga, kerabat, teman atau siapa saja yang titip salam melalui seseorang kepada kita, maka kita wajib menjawabnya. Allah ta’ala berfirman,

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” [QS an-Nisa/ 4: 86].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Sesungguhnya Allah ta’ala telah menyuruh hamba-hambaNya yang beriman untuk membalas salam penghormatan orang yang mengucapkannya kepada mereka dengan yang lebih baik darinya. Jika tidak dengan yang lebih baik, maka dengan yang semisalnya. Barangsiapa ada yang mengucapkan, ‘Assalamu alaikum’, maka hendaklah ia membalas, ‘Wa alaikum as-Salam wa rohmatullah’. Barangsiapa yang mengucapkan, ‘Assalamualaikum wa rohmatullah’, maka hendaklah ia membalas kepadanya, ‘Wa alaikum as-Salam wa rohmatullah wa barokatuh’”. [7]

Katanya lagi, “Adanya penegasan akan sunnah penghormatan dan wajib membalasnya dengan ucapan yang lebih baik (darinya) atau dengan yang semisalnya”. [8]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, “Penghormatan di sini adalah ucapan salam, dan makna inilah yang dimaksudkan dalam ayat ini”. [9]

Berkata al-Imam al-Qurthubiy rahimahullah, “Ulama sepakat bahwa memulai salam hukumnya sunnah yang sangat dianjurkan, sedangkan menjawab salam hukumnya adalah wajib”.  [10]

Dari ayat di atas dapat dapat kita ketahui dua cara menjawab salam,
1). Sesuai dengan ucapan salam.
2). Menambah dengan beberapa kata yang disyariatkan.

Sebagai contoh; bila seorang mengucapkan, “Assalamualaikum”, maka minimal kita menjawabnya dengan “wa alaikum as-Salam”, dan yang lebih baik ditambah dengan kata “wa rohmatulloh”, dan yang lebih baik lagi ditambah dengan kata “wa barokatuh.
Hanya saja, sunnah titip salam tidak sama dengan mengucapkan secara langsung, yang mana pada saat kita titip salam hanya berkata, “titip salam untuk fulan” atau “sampaikan salam buat fulan”, maka untuk menjawabnya kita pergunakan kata paling minimal, yaitu “wa alaihi as-Salam, dan semakin ditambah maka semakin baik”. Ini poin pertama.
Poin kedua, lalu bagaimana dengan orang yang menyampaikan salam tersebut, apakah kita mendoakannya juga atau tidak? Maka dapat dijawab, ‘ya’, kita mendoakannya juga. Akan tetapi, ulama menjelaskan bahwa mendoakan orang yang menyampaikan salam tersebut hukumnya adalah sunnah (dianjurkan).

Berkata al-Allamah Ibnu Qoyyim rahimahullah, “Di antara petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah apabila seseorang menyampaikan salam kepadanya dari orang selainnya, Beliau menjawab salam orang yang menyampaikan salam tersebut dan orang yang menitipkannya”. [11]

Hal ini dapat kita ketahui dari jawaban Aisyah radliyallahu anha yang hanya menjawab salam untuk Jibril ‘alaihi as-Salam saja dan tidak ikut mendoakan beliau, dan beliaupun tidak mengingkarinya. Andaisaja hukumnya wajib, tentu saja Rasulullah shallallahi alaihi wa sallam sudah meluruskan ucapan Aisyah radliyallahu anha.

Berkenaan dengan tambahan doa untuk orang yang menyampaikan salam tersebut, maka telah ditunjukkan oleh hadits Aisyah radliyallahu anha di atas.
Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.

[1] Fat-h al-Bariy: VII/ 139.
[2] Shahih Sunan Abu Dawud: 4359.
[3] Shahih al-Adab al-Mufrad halaman 308-309.
[4] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: III/ 165.
[5] Shahih Sunan Abu Dawud: 4358.
[6] Lihat penjelasan lengkapnya di Syar-h Riyadl ash-Shalihin: III/ 165 dengan beberapa penambahan.
[7] Aysar at-Tafasir: I/ 518.
[8] Aysar at-Tafasir: I/ 518.
[9] Tafsir Fat-h al-Qodir: I/ 554, tafsir surat an-Nisa ayat 86.
[10] Tafsir Fat-h al-Qodir: I/ 554, tafsir surat an-Nisa ayat 86.
[11] Zad al-Ma’ad: II/ 427.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar