السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Rabu, 29 Mei 2013

AYO BERWUDLU SESUAI DENGAN CONTOH NABI Shallallahu alaihi wa sallam (3) !!!

SIFAT WUDLU NABI Shallallahu alaihi wa sallam (3)
بسم الله الرحمن الرحيم

24). Mengusap kepala

Setelah sempurna membasuh kedua tangan dan menyela-nyela jari jemari keduanya, pekerjaan selanjutnya adalah mengusap kepala dan kedua telinga sekaligus. Mengusap kepala itu dengan cara mengebelakangkan dan mengedepankan kedua tangan, mulai dari depan kepala lalu menjalankan kedua tangan kebelakang sampai tengkuk kemudian menjalankan kembali ke depan ke tempat semula. Lalu menggerakkan kedua tangan melalui pelipis ke arah kedua telinga dan meletakkan kedua tangan tersebut pada kedua daun telinga. Ibu jari di sebelah luar daun telinga sedangkan telunjuk pada daun telinga sebelah dalam lalu mengusap keduanya dari arah bawah ke atas. Pengusapan kepala dan kedua telinga itu dilakukan dengan sekali usapan. Dalil-dalil tentang pengusapan tersebut adalah sebagai berikut,

قال الله سبحانه و تعالى ((وَ امْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ))

Telah berfirman Allah Subhanahu wa ta’ala ((dan usaplah kepala kalian))

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, ”Lafaznya mengandung seluruh dan sebahagian. Sedangkan sunnah menerangkan bahwasanya orang yang mengusap itu mengedepankan dan mengebelakangkan kedua tangannya, lalu ia mengusap seluruh kepalanya dan itu lebih sempurna. Dan yang demikian itu adalah dengan basahan kedua telapak tangannya, sebagaimana pula sunah telah menerangkan mengusap kedua telinga luar dan dalam sesudah mengusap  kepala”. [1]

Abu Umamah radliyallahu anhu telah bercerita bahwasanya Amr bin Abasah as-Sulamiy radliyallahu anhu bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang cara berwudlu. Lalu Beliau memberikan jawaban, di antaranya adalah,

ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ إِلاَّ خَرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ مِنْ أَطْرَافِ رَأْسِهِ مَعَ اْلمـَاءِ

Lalu mengusap kepalanya melainkan gugurlah dosa-dosa kepalanya dari ujung-ujung kepalanya bersama tetesan air. [HR Muslim: 832, an-Nasa’iy: I/ 91-92 dan Ahmad: IV/ 112. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [2]

Diriwayatkan oleh Abdu Khair, menceritakan tentang Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu yang sedang mencontohkankan cara berwudlunya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

وَ مَسَحَ بِرَأْسِهِ مَرَّةً وَاحِدَةً

Dan mengusap kepalanya sekali. [HR an-Nasa’iy: I/ 68 dan Abu Dwud: 111. berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

Di dalam riwayat yang lain dari jalan Amr bin Yahya al-Maziniy, menceritakan tentang Abdullah bin Zaid radliyallahu anhu yang memperagakan cara berwudlunya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَ أَدْبَرَ بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا إِلىَ قَفَاهُ ثُمَّ رَدَّ هُمَا حَتىَّ رَجَعَ إِلىَ اْلمـَكَانِ الَّذِى بَدَأَ مِنْهُ
         
 Lalu mengusap kepalanya dengan kedua tangannya ke depan dan ke belakang mulai dari depan kepalanya kemudian menggerakkannya sampai ketengkuknya, lalu mengembalikannya ketempat semula. [HR Abu Dawud: 118, an-Nasa’iy: I/ 70-71,71, Ibnu Majah: 434 dan at-Turmudziy: 32. berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

 عن الربيّع بنت معوّذ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم تَوَضَّأَ عِنْدَهَا فَمَسَحَ الرَّأْسَ كُلَّهُ مِنْ قَرْنِ الشَّعْرِ كُلِّ نَاحِيَةٍ لمِـَنْصَبِ الشَّعْرِ لاَ ُيحَرِّكُ الشَّعْرَ عَنْ هَيْئَتِهِ

Dari ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz radliyallahu anha bahwasanya Rosulullah pernah berwudlu disisinya, lalu Beliau mengusap kepalanya dari ujung rambut di setiap sisi di tempat jatuhnya rambut, Beliau tidaklah menggeser rambut dari keadaannya. [HR Abu Dawud: 128 dan Ahmad: IV/ 359, 360. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [5]

Dalil-dalil di atas menerangkan tentang perbuatan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ketika mengusap seluruh kepalanya, tidak sebahagian saja. Yakni dengan cara mengusap kepala dengan kedua tangan ke depan dan ke belakang, mulai dari depan kepala kemudian menggerakkan atau menjalankannya sampai ke tengkuk lalu mengembalikannya ke tempat semula dan beliau tidak menggeser dan mengubah keadaan rambutnya.

Maka apa yang dilakukan oleh mayoritas awam kaum muslimin selama ini adalah keliru dan tidak mengikuti sunah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Yaitu biasanya mereka hanya mengusap ujung rambut bagian depan kepalanya saja sebanyak tiga kali dan bahkan memisahkannya dengan pengusapan kedua daun telinga. Mungkin mereka beranggapan bahwa huruf ”ba” pada kata ((  وَ امْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ)) untuk menyatakan  sebahagian. Padahal tidak demikian, hal ini telah dibantah oleh para ahli bahasa sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Burhan di dalam al-Mughniy dan al-Imam Ibnu Qudamah.

al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah berkata, ”bahwasanya tidak tsabit (kuat) keadaan huruf baa’ itu untuk menunjukkan sebahagian. Sibaweih (yakni seorang ahli nahwu) telah mengingkarinya dalam lima belas masalah di dalam bukunya”.[6]

 25). Mengambil air baru untuk mengusap kepala ?


عن عبد الله بن زيد أَنَّهُ رَأَى  رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم تَوَضَّأَ فَمَضْمَضَ ثُمَّ اسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَ يَدَهُ اْليُمْنىَ ثَلاَثًا وَ اْلأُخْرَى ثَلاَثًا وَ مَسَحَ  بِرَأْسِهِ بِمَاءٍ غَيْرِ فَضْلِ يَدِهِ وَ غَسَلَ رِجْلَيْهِ حَتىَّ أَنْقَاهُمَا

Dari Abdullah bin Zaid radliyallahu nahuma bahwasanya ia pernah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam wudlu. Maka Beliau berkumur-kumur dan istintsar lalu membasuh wajahnya tiga kali, tangan kanannya tiga kali dan tangannya yang lain juga tiga kali. Dan membasuh kepalanya dengan air yang bukan sisa tangannya dan membasuh kedua kakinya sehingga membersihkan keduanya. [HR Muslim 236, at-Turmudziy: 35, Abu Dawud: 120 da ad-Darimiy: I/ 180. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [7]

Hadits di atas mengungkapkan bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengambil air baru untuk mengusap kepalanya setelah membasuh kedua tangannya. Namun juga diperbolehkan mengusap kepala dari bekas atau sisa air membasuh kedua tangan tanpa mengambil air baru, berdasarkan pada keterangan dalil berikut ini,

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Bahwasanya tidak dijumpai di dalam sunnah apa yang mengharuskan untuk mengambil air baru untuk kedua telinga lalu membasuh keduanya dengan air (sisa) kepala, sebagaimana diperbolehkan mengusap kepala dengan air sisa kedua tangan sesudah membasuhnya karena hadits berikut,

عن الربيع بنت معوذ: أَنَّ النَّبيَّ  صلى الله عليه و سلم مَسَحَ بِرَأْسِهِ مِنْ فَضْلِ مَاءٍ كَانَ فىِ يَدِهِ

Dari ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz radliyallahu anha bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengusap kepalanya dari sisa air yang ada pada tangannya. [HR Abu Dawud: 130 dan selainnya dengan sanad Hasan sebagaimana aku telah jelaskan di dalam Shahih Sunan Abi Dawud: 120]”. [8]

Ringkasnya diperbolehkan mengusap kepala dan dua telinga dari air sisa basuhan kedua tangan, namun juga diperbolehkan untuk mengambil air baru untuk mengusapnya. Berbeda dengan mengusap kedua telinga yang mengharuskan dari sisa air usapan kepala dan tidak diperbolehkan mengambil air baru untuk mengusapnya.

 26). Mengusap kepala sekali usap.

Setelah dipahami tata cara pengusapan kepala beserta kedua daun telinga, yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah jumlah pengusapan. Kebanyakan dalil-dalil hadits yang telah tsabit dan shahih dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah dengan sekali pengusapan tidak seperti kebanyakan kaum muslimin yang mengusap kepala tiga kali usapan lalu mengusap kedua daun telinga juga tiga kali usapan.

عن عثمان بن عفان قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم تَوَضَّأَ فَمَسَحَ رَأْسَهُ مَرَّةً

Dari Utsman bin Affan radliyallahu nahu berkata, ”Aku pernah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam wudlu lalu mengusap kepalanya sekali (usap)”. [HR Ibnu Majah: 435. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

عن علي أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم مَسَحَ رَأْسَهُ مَرَّةً

Dari Ali radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengusap kepalanya sekali (usap). [HR Ibnu Majah: 436. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

عن عبد الرحمن بن أبى ليلى قَالَ: رَأَيْتُ عَلِيًّا رضي الله عنه تَوَضَّأَ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَ غَسَلَ ذِرَاعَيْهِ ثَلاَثًا وَ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَاحِدَةً ثُمَّ قَالَ: هَكَذَا تَوَضَّأَ رَسُوْل الله صلى الله عليه و سلم

Dari Abdurrahman bin Abi Layla radliyallahu anhu berkata, “Aku pernah melihat Ali radliyallahu anhu berwudlu, lalu ia membasuh wajahnya tiga kali, membasuh kedua lengan bawahnya (hasta) tiga kali dan mengusap kepadanya sekali”. Kemudian ia berkata, “Demikianlah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berwudlu”. [HR Abu Dawud: 115. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

عن سلمة بن الأكوع قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم تَوَضَّأَ فَمَسَحَ رَأْسَهُ مَرَّةً

Dari Salamah bin al-Akwa’ radliyallahu anhu berkata, “Aku pernah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam wudlu lalu mengusap kepalanya sekali (usap)”. [HR Ibnu Majah: 437. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

عن ابن عباس قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم تَوَضَّأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ مِنْ غُرْفَةٍ وَاحِدَةٍ وَ غَسَلَ وَجْهَهُ وَ غَسَلَ يَدَيْهِ مَرَّةً مَرَّةً وَ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَ أُذُنَيْهِ مَرَّةً

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, “aku pernah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam wudlu maka Beliau membasuh kedua tangannya lalu berkumur-kumur dan istinsyaq dari satu cidukan. Lalu berkumur-kumur dan istinsyaq dari satu cidukan. Lalu mengusap wajah dan membasuh kedua tangannya sekali sekali. Lalu mengusap kepala dan kedua telinganya sekali”. [HR an-Nasa’iy: I/ 73. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih isnadnya]. [13]

عن الربيع بنت معوذ بن عفراء أَنَّهَا رَأَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم يَتَوَضَّأُ قَالَتْ: مَسَحَ رَأْسَهُ وَ مَسَحَ مَا أَقْبَلَ مِنْهُ وَ مَا أَدْبَرَ وَ صُدْغَيْهِ وَ أُذُنَيْهِ مَرَّةً وَاحِدَةً

Dari ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz radliyallahu anha bahwasanya ia pernah melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam wudlu. Ia berkata, “Beliau mengusap kepalanya dan mengusap apa yang kedepan, kebelakang, kedua pelipisnya dan kedua telinganya sekali (usap)”. [HR at-Turmudziy: 34, Abu Dawud: 129, Ibnu Majah: 438 dan Ahmad: VI/ 359. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]

Maka berdasarkan beberapa dalil di atas Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengusap kepalanya sekali usapan. [15] Yang dimulai dari bagian depan kepala kemudian menggerakkan kedua tangan kebelakang kemudian sampai tengkuk lalu mengembalikannya ke tempat semula dan dilanjutkan dengan mengusap kedua telinga, bagian dalamnya dengan telunjuk dan bagian luarnya dengan ibu jari.


27). Perempuan mengusap kepalanya

Jika telah dipahami, maka bagaimana keadaanya akan perempuan di dalam mengusap kepala dan kedua telinga?. Apakah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah memisahkan dan membedakannya dengan apa yang dilakukan kaum lelaki?. Dan bolehkah dalam keadaan tertentu seorang perempuan mengusap kerudungnya sebagaimana kaum lelaki mengusap sorbannya?. Dan hal tersebut telah dijelaskan di dalam atsar dan penjelasan ulama salaf di bawah ini,

عن عبد الملك بن مروان بن الحارث بن أبي ذباب قَالَ: أَخْبَرَنيِ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ سَـالِمٌ سَبْلاَنُ قَالَ: وَ كَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَعْجِبُ بِأَمَانَتِهِ وَ تَسْتَأْجِرُهُ فَأَرَتْنيِ كَيْفَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَتَوَضَّأُ فَتَمَضْمَضَتْ وَ اسْتَنْثَرَتْ ثَلاَثًا وَ غَسَلَتْ وَجْهَهَا ثَلاَثًا ثُمَّ غَسَلَتْ يَدَهَا اْليُمْنىَ ثَلاَثًا وَ اْليُسْرَى ثَلاَثًا وَ وَضَعَتْ يَدَهَا فىِ مُقَدَّمِ رَأْسِهَا ثُمَّ مَسَحَتْ رَأْسَهَا مَسْحَةً وَاحِدَةً إِلىَ مُؤَخَّرِهِ ثُمَّ أَمَرَّتْ يَدَيْهَا بِأُذُنَيْهَا ثُمَّ مَرَّتْ عَلَى اْلخَدَّيْنِ قَالَ سَاِلمٌ: كُنْتُ آتِيْهَا مُكَاتَبًا مَا تَخْتَفِى مِنيِّ فَتَجْلِسُ بَيْنَ يَدَيَّ وَ تَتَحَدَّثُ مَعِي حَتىَّ جِئْتُهَا ذَاتَ يَوْمٍ فَقُلْتُ: ادْعِى لىِ بِاْلبَرَكَةِ يَا أُمَّ اْلمـُؤْمِنِيْنَ ! قَالَتْ: وَ مَا ذَاكَ؟ قُلْتُ: أَعْتَقَنِىَ اللهُ  قَالَتْ: بَارَكَ اللهُ لَكَ وَ أَرْخَتِ اْلحِجَابَ دُوْنىِ فَلَمْ  أَرَهَا بَعْدَ ذَلِكَ اْليَوْمِ

Dari Abdulmalik bin Marwan bin al-Harits bin Abi Dzubab berkata, “pernah mengkhabarkan kepadaku Abu Abdullah Salim Sablan berkata, “Dan Aisyah radliyallahu anha merasa kagum akan sifat amanahnya dan juga mempekerjakannya. Lalu Aisyah radliyallahu anha memperlihatkan kepadaku cara Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam wudlu, maka ia berkumur–kumur dan istintsar tiga kali, membasuh wajahnya tiga kali lalu membasuh tangan kanannya tiga kali dan yang kiri juga tiga kali. Lalu meletakkan tangannya di depan kepalanya kemudian mengusap kepalanya sekali usap sampai belakang (kepala)nya, lalu menjalankan kedua tangannya ke kedua telinganya kemudian melewati kedua pipi. Berkata Salim, “Aku datang kepadanya sebagai budak mukatib yang ia tidak bersembunyi dariku lalu ia duduk di hadapanku dan bercerita bersamaku sehingga aku datang pada suatu hari sambil berkata, “Wahai ummul mukminin doakanlah diriku dengan keberkahan”. Aisyah berkata, “Mengapakah?”. Aku (yaitu Salim) berkata, ”Allah telah memerdekakan diriku”. Aisyah berkata, ”Mudah-mudahan Allah memberkahimu”. Lalu ia menurunkan hijabnya dihadapanku sejak hari itu dan aku tidak pernah melihatnya lagi. [HR an-Nasa’iy: I/ 72-73. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih isnadnya]. [16]

Aisyah radliyallahu anha memperlihatkan cara wudlunya Nabi kepada Salim karena di waktu itu ia masih budak mukatib yaitu budak yang berusaha untuk memerdekakan dirinya dengan membayar tebusan kepada majikannya. Tetapi ketika Salim telah merdeka maka Aisyah radliyallahu anha berhijab darinya sejak saat itu.

Adapun diantara cara berwudlu yang diperlihatkan oleh Aisyah radliyallahu anha adalah meletakkan tangan di depan kepala kemudian mengusap kepala sampai ke belakang kepala sekali usap, lalu menjalankan kedua tangan menuju kedua telinga kemudian melewati pipi.

Pernah ditanyakan kepada asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, ”Apakan disunnahkan bagi perempuan ketika mengusap kepalanya di dalam berwudlu untuk memulai dari bahagian depan kepala kemudian ke arah bahagian belakangnya, lalu kembali lagi ke bahagian depan kepala seperti layaknya kaum lelaki?”.
Beliau menjawab, ”Ya, sebab pada asalnya di dalam hukum syar’iy itu apa yang telah tetap kewajiban bagi kaum lelaki juga tetap kewajiban itu bagi kaum perempuan. Begitupun kebalikannya, apa yang tetap kewajiban bagi kaum perempuan juga tetap kewajiban itu bagi kaum lelaki, kecuali dengan dalil. Dan aku sendiri tidak tahu ada satupun dalil yang mengkhususkan kaum perempun di dalam hal ini. Dengan dasar ini, maka hendaklah ia (yaitu perempuan tersebut) mengusap dari bahagian depan kepala lalu ke bahagian belakangnya, meskipun rambutnya panjang, tidaklah berpengaruh dengannya. Sebab bukanlah maknanya itu menekan rambut dengan kuat agar basah atau (air itu) naik (membasahi sampai) ke ujung kepala, tetapi (tujuan yang sebenarnya) hanyalah membasuh dengan tenang”. [17]

Lalu ditanyakan lagi kepada asy-Syaikh rahimahullah, ”Bolehkah seorang perempuan itu mengusap kerudungnya?”. Beliau menjawab, ”Yang telah dikenal dari madzhab al-Imam Ahmad, bahwasanya boleh baginya untuk mengusap kerudung jika kerudung itu melingkar di bawah tenggorokannya. Sebab yang demikian itu, telah datang (atsar) dari para istri shahabat radliyallahu anhum. Dan juga lantaran di atas segala keadaan yaitu jika mendapatkan kesulitan, apakah karena udara dingin atau susah melepasnya dan kerudung itu terlipat pada kondisi yang lain.[18] Maka dalam keadaan seperti ini ada toleransi yaitu tidak mengapa (ia mengusapnya), tetapi jika tidak maka yang paling utama adalah tidak mengusapnya”. [19]

Berdasarkan dalil dan penjelasannya dapatlah dipahami bahwasanya kaum perempuan itu di dalam mengusap kepala tidak berbeda dengan kaum lelaki. Sebab tidak ada dalil khusus yang membedakannya. Yaitu mengambil air dengan kedua telapak tangannya, lalu meletakkan keduanya di bagian depan kepala lalu mengusapnya yakni menjalankan kedua tangannya sampai ke bagian belakang kepala (tengkuk) kemudian menjalankan keduanya kembali ke bagian depan kepala sekali usap. Lalu dilanjutkan dengan mengusap daun telinga, sebelah luarnya dengan dengan kedua ibu jari dan bagian dalamnya dengan dua jari telunjuk.

Tetapi jika kondisi tidak memungkinkan, apakah lantaran udara dingin, atau jilbab atau kerudungnya sempit dan sulit dilepas, atau wudlu di tempat terbuka maka ada toleransi di dalam masalah ini yaitu perempuan yang hendak berwudlu tersebut, berwudlu dengan cara mengusap kerudung atau jilbabnya saja tanpa melepaskannya sebagaimana kaum lelaki mengusap sorban. Namun jika tidak, maka lebih utama adalah perempuan tersebut melepaskan kerudung atau jilbabnya dan berwudlu sebagaimana biasa. Wallahu a’lam bi ash-Showab.

 28). Mengusap kedua telinga bagian luar dan dalam

Dalil hadits berikutnya menerangkan tentang pengusapan kedua daun telinga. Yakni daun yang sebelah dalam dan luar, yang sebelah atas dan bawah. Mengusap daun telinga bahagian dalam dengan jari telunjuk dan bahagian luarnya dengan ibu jari. Lalu menjalankannya dari arah bawah menuju ke atas dengan sekali usap. Tetapi hal tersebut tidak seperti yang dilakukan oleh kalangan awam kaum muslimin yang hanya mengusap telinga bahagian bawahnya saja dengan tiga kali usapan, maka hal ini adalah suatu kekeliruan yang jelas.

عن عثمان بن عبد الرحمن التيمي قَالَ: سُئِلَ ابْنُ أَبيِ مُلَيْكَةَ عَنِ اْلوُضُوْءِ فَقَالَ: رَأَيْتُ عُثْمَانَ ابْنَ عَفَّانٍ سُئِلَ عَنِ اْلوُضُوْءِ فَدَعَا بِمَاءٍ فَأُتِيَ بِمِيْضَأَةٍ فَأَصْغَى عَلَى يَدَهِ اْليُمْنىَ ثُمَّ أَدْخَلَهَا فىِ اْلمـَاءِ فَتَمَضْمَضَ ثَلاَثًا وَ اسْتَنْثَرَ ثَلاَثًا وَ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ اْليُمْنىَ ثَلاَثًا وَ غَسَلَ يَدَهُ اْليُسْرَى ثَلاَثًا ثُمَ أَدْخَلَ يَدَهُ فَأَخَذَ مَاءً فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ وَ أُذُنَيْهِ فَغَسَلَ بُطُوْنَهُمَا وَ ظُهُوْرَهُمَا مَرَّةً وَاحِدَةً ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: أَيْنَ السَّائِلُوْنَ عَنِ اْلوُضُوْءِ ؟ هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم يَتَوَضَّأُ

Dari Utsman bin Abdurrahman at-Taimiy berkata, “Ibnu Abi Mulaikah pernah ditanya tentang wudlu”. Ia menjawab, “Aku pernah melihat Utsman bin Affan ditanya tentang wudlu, lalu ia menyuruh mengambil air. Maka didatangkan kepadanya air wudlu lalu ia menuangkan ke tangan kanannya kemudian memasukkannya ke air lalu berkumur-kumur dan istintsar tiga kali dan juga membasuh wajahnya tiga kali. Kemudian membasuh tangan kanannya tiga kali dan membasuh tangan kirinya tiga kali. Kemudian ia memasukkan tangannya lalu mengambil air maka ia mengusap kepala dan kedua telinganya, membasuh bagian dalam dan luar kedua telinganya itu dengan sekali usap. Kemudian membasuh kedua kakinya lalu berkata, ”Dimanakah orang-orang yang bertanya tentang wudlu?. Beginilah yang pernah aku lihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berwudlu”. [HR Abu Dawud: 108. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan Shahih].  [20]

 عن ابن عباس قاَلَ: تَوَضَّأَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَغَرَفَ غُرْفَةً فَمَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ ثُمَّ غَرَفَ غُرْفَةً فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثُمَّ غَرَفَ غُرْفَةً فَغَسَلَ يَدَهُ اْليُمْنىَ ثُمَّ غَرَفَ غُرْفَةً فَغَسَلَ يَدَهُ اْليُسْرَى ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَ أُذُنَيْهِ بَاطِنِهِمَا بِالسَّبَّاحَتَيْنِ وَ ظَاهِرِهِمَا بِإِبْهَامَيْهِ ثُمَّ غَرَفَ غُرْفَةً فَغَسَلَ رِجْلَهُ اْليُمْنىَ ثُمَّ غَرَفَ غُرْفَةً فَغَسَلَ رِجْلَهُ اْليُسْرَى

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, ”Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah berwudlu maka Beliau menciduk dengan satu cidukan lalu berkumur-kumur dan istinsyaq. Kemudian menciduk satu cidukan lalu membasuh wajahnya kemudian menciduk satu cidukan lalu membasuh tangan kanannya kemudian menciduk satu cidukan lalu membasuh tangan kirinya. Kemudian mengusap kepalanya dan kedua telinganya yang bahagian dalamnya dengan kedua telunjuk dan bahagian luarnya dengan kedua ibu jarinya. Kemudian menciduk satu cidukan lalu membasuh kaki kanannya kemudian menciduk satu cidukan lalu membasuh kaki kirinya”. [HR an-Nasa’iy: I/ 74, Ibnu Majah: 439 dan at- Turmudziy: 36. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan Shahih]. [21]

عن المقدام بن معديكرب الكندي قَالَ: أُتِيَ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه و سلم بِوَضُوْءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثًا ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ ثَلاَثًا وَ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا ثُمَّ غَسَلَ ذِرَاعَيْهِ ثَلاَثًا ثَلاَثًا ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَ أُذُنَيْهِ ظَاهِرِهِمَا وَ بَاطِنِهِمَا

Dari al-Miqdam bin Ma’diykarib al-Kindiy radliyallahu anhu berkata, “Pernah didatangkan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam air wudlu lalu Beliau berwudlu. Maka Beliau membasuh kedua telapak tangannya tiga kali dan membasuh wajahnya tiga kali. Kemudian membasuh kedua lengannya tiga kali tiga kali kemudian berkumur-kumur dan istinsyaq tiga kali lalu mengusap kepala dan kedua telinganya  bahagian luar dan dalamnya”. [HR Abu Dawud: 121, Ahmad: IV/ 132 dan Ibnu Majah: 442. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [22]

عن الربيع بنت معوذ بن عفراء قَالَتْ: تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم فَأَدْخَلَ أُصْبُعَيْهِ فىِ جُحْرَيْ أُذُنَيْهِ

Dari ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin Afra’ radliyallahu anha berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah berwudlu lalu memasukkan jari jemarinya ke dalam dua lubang telinganya”. [HR Ibnu Majah: 441, Abu Dawud: 131 dan Ahmad: VI/ 359. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [23]

Dalil-dalil di atas menegaskan cara mengusap kedua telinga setelah mengusap kepala yaitu memasukkan jari jemari ke dalam dua lubang telinga. Jari telunjuk untuk bagian dalam telinga dan ibu jari untuk bahagian luarnya lalu menggerakkan dan menjalankannya dari arah bawah ke atas.

29). Dua telinga itu bahagian dari kepala

Setelah diketahui caranya mengusap kepala dan kedua telinga, maka dalil berikut ini menerangkan bahwa pengusapan kedua daun telinga itu dilakukan setelah pengusapan kepala tanpa diselingi oleh suatu amalan apapun atau mengambil air baru untuk mengusap telinga. Karena Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyatakan bahwasanya kedua telinga itu bahagian dari kepala yaitu pengusapan telinga itu termasuk bahagian pengusapan kepala.

عن عبد الله بن زيد قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه و سلم: اْلأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ

Dari Abdullah bin Zaid radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ”Dua telinga itu bahagian dari kepala”. [HR Ibnu Majah: 443. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [24]

 عن أبي أمامة قَالَ: تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَ يَدَيْهِ ثَلاَثًا وَ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَ قَالَ: اْلأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ

Dari Abu Umamah radliyallahu anhu berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah berwudlu lalu Beliau membasuh wajahnya tiga kali, kedua tangannya tiga kali dan mengusap kepalanya. Beliau bersabda, “Kedua telinga itu bahagian dari kepala”. [HR at-Turmudziy: 37, Ibnu Majah: 444 dan Abu Dawud: 134. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [25]

 عن أبي هريرة قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه و سلم: اْلأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ”Kedua telinga itu bahagian dari kepala”. [HR Ibnu Majah: 445. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [26]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, ”Hadits ini menunjukkan bahwa kedua telinga itu adalah bahagian kepala, lalu keduanya diusap bersamaan dengannya. Hal ini merupakan madzhab (pendapat) kebanyakan para ulama”. [27]

Dalil-dalil hadits dan penjelasannya di atas dengan tegas menerangkan bahwa dua telinga itu bahagian dari kepala. Maksudnya pengusapan kedua daun telinga itu bahagian dari pengusapan kepala. Tidak ada pemisahan di dalam pengusapan kedua daun telinga dari kepala dan kedua pengusapan tersebut dilakukan dengan sekali pengusapan.

30). Mengusap sorban

Bagi yang mengenakan sorban ketika berwudlu tidak perlu membuka sorbannya tetapi disyariatkan untuk mengusapnya. Karena kadangkala ketika Rosulullah r tidak bersorban, beliau mengusap kepala dan kedua telinganya sebagaimana telah dijelaskan di dalam bab terdahulu. Tetapi ketika suatu saat beliau mengenakan sorbannya maka beliau mencontohkan dengan mengusap sorbannya tanpa membukanya. Dan pada saat yang lain beliau memakai sorban yang terbuka bahagian atasnya maka beliau mengusap sorban dan ubun-ubunnya.

Adapun peci, kopiah atau sejenisnya maka tidak boleh mengusapnya tetapi harus melepasnya dan berwudlu sebagaimana biasanya. Karena peci atau kopiah tersebut pada umumnya tidak menutupi kepala, sedangkan sorban sesuai dengan kebiasaan adalah menutupi seluruh kepala atau terbuka bahagian ubun-ubunnya.

عن جعفر بن عمرو عن أبيه قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ  صلى الله عليه و سلم يَمْسَحُ عَمَامَتَهُ وَ خُفَّيْهِ

Dari Ja’far bin Amr radliyallahu anhu dari ayahnya berkata, ”Aku pernah melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengusap sorban dan kedua terompahnya”. [HR al-Bukhoriy: 205, an-Nasa’iy: I/ 81, Ibnu Majah: 562, Ibnu Khuzaimah: 181 dan ad-Darimiy: I/ 180. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[28]

 عن ثوبان قَالَ: بَعَثَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم سَرِيَّةً فَأَصَاَبهُمُ اْلبَرْدُ فَلَمَّا قَدِمُوْا عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَمَرَهُمْ أَنْ يَمْسَحُوْا عَلَى اْلعَصَائِبِ وَ التَّسَاخِيْنِ

Dari Tsauban radliyallahu anhu berkata, ”Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah mengirim pasukan lalu mereka ditimpa hawa dingin. Ketika mereka sampai kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam maka Beliau memerintahkan mereka untuk mengusap sorban dan terompah”.[29] [HR Abu Dawud: 146 dan Ahmad: V/ 277. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [30]

Berkata al-Allamah Abu ath-Thayyib rahimahullah penyusun kitab Aun al-Ma’bud, ”Hadits-hadits  tentang mengusap sorban di keluarkan oleh al-Bukhoriy, Muslim. At-Turmudziy, Ahmad, an-Nasa’iy, Ibnu Majah dan banyak dari para imam dari jalan yang kuat lagi bersambung sanadnya. Sekelompok besar ulama salaf berpegang kepadanya sebagaimana yang kuketahui. Telah tsabit dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya Beliau mengusap kepalanya saja, sorbannya saja, kepala dan sorban bersama-sama, dan semuanya telah shahih lagi tsabit dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang terdapat di dalam kitab-kitab shahih para imam”. [31]

عن كعب بن عجرة عن بلال أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم مَسَحَ عَلَى اْلخُفَّيْنِ وَ اْلخِمَارِ

Dari Ka’b bin ‘Ajurah dari Bilal radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengusap terompah dan penutup kepala (sorban).[32] [HR Muslim: 275, an-Nasa’iy: I/ 75, at-Turmudziy: 101, Ibnu Khuzaimah: 180 dan Ahmad: VI/ 12, 13, 14, 15. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [33]

Jadi dengan dalil-dalil dan penjelasannya di atas, jelaslah bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dikala berwudlu dalam keadaan menggunakan sorban di kepalanya, beliau hanya mengusap sorbannya tanpa melepaskannya. Semua yang dilakukannya tersebut dalam rangka kemudahan bagi umatnya yang memang agama itu disyariatkan untuk memudahkan manusia bukan untuk mempersulit mereka. Dan ketetapan ini bukan hanya diperuntukkan untuk kaum muslimin dari bangsa Arab dan sekitarnya yang sudah terbiasa menggunakan sorban, namun juga diperuntukkan bagi kaum muslimin seluruhnya di belahan bumi manapun. Karena sorban adalah merupakan salah satu dari beberapa sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang disyariatkan bagi umatnya.

 31). Mengusap sorban beserta ubun-ubun

Namun ketika seorang muslim menggunakan sorban yang terbuka bahagian atasnya, yaitu terbuka bahagian ubun-ubunnya maka pengusapan sorban tersebut diawali dengan pengusapan ubun-ubunnya.

عن المغيرة أَنَّ النَّبيَّ صلى الله عليه و سلم تَوَضَّأَ فَمَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ وَ عَلَى اْلعَمَامَةِ وَ عَلَى اْلخُفَّيْنِ

Dari al-Mughirah radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berwudlu lalu mengusap ubun-ubunnya, sorban dan kedua terompah. [HR Muslim: 274 (83), an-Nasa’iy: I/ 76 dan at-Turmudziy: 100. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [34]

عنه قَالَ: َتخَلَّفَ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه و سلم وَ تَخَلَّفْتُ مَعَهُ فَلَمَّا قَضَى حَاجَتَهُ قَالَ: أَمَعَكَ مَاءٌ؟ فَأَتَيْتُهُ بِمِطْهَرَةٍ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ وَ وَجْهَهُ ثُمَّ ذَهَبَ يَحْسِرُ عَنْ ذِرَاعَيْهِ فَضَاقَ كُمُّ اْلجُبَّةِ فَأَخْرَجَ يَدَهُ مِنْ تَحْتِ اْلجُبَّةِ وَ أَلْقَى اْلجُبَّةَ عَلَى مَنْكِبَيْهِ وَ غَسَلَ ذِرَاعَيْهِ وَ مَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ وَ عَلَى اْلعَمَامَةِ وَ عَلَى خُفَّيْهِ ثُمَّ رَكِبَ وَ رَكِبْتُ فَانْتَهَيْنَا إِلىَ اْلقَوْمِ وَ قَدْ قَامُوْا فىِ الصَّلاَةِ يُصَلِّى بِهِمْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَ قَدْ رَكَعَ بِهِمْ رَكْعَةً فَلَمَّا أَحَسَّ بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم ذَهَبَ يَتَأَخَّرُ فَأَوْمَأَ إِلَيْهِ فَصَلَّى ِبهِمْ فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم وَ قُمْتُ فَرَكَعْنَا الرَّكْعَةَ الَّتى سَبَقَتْنَا

Dari al-Mughirah radliyallahu anhu berkata, ”Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah tertinggal (sholat) dan akupun tertinggal bersamanya. Ketika beliau telah menunaikan hajatnya, Beliau bersabda, ”Apakah ada air bersamamu?”. Lalu aku datangkan kepadanya air untuk bersuci maka Beliau membasuh kedua telapak tangannya dan wajahnya kemudian membuka kedua lengannya maka lengan jubah tersebut terasa sempit. Lalu Beliau mengeluarkan tangannya dari bawah jubah dan meletakkan jubah tersebut diatas kedua bahunya dan membasuh kedua lengannya dan mengusap ubun-ubunnya, sorban dan kedua terompahnya. Kemudian Beliau mengendarai (kendaraannya) dan akupun berkendaraan pula. Maka sampailah kami kepada kaum dan sungguh-sungguh mereka telah menegakkan sholat dan Abdurrahman bin Auf sholat dengan (mengimami) mereka. Dan sungguh ia telah mendapatkan satu rakaat dengan mereka, maka tatkala ia (yaitu Abdurrahman) merasakan kehadiran Nabi Shallallahu alaihi wa sallam iapun mundur kebelakang tetapi Beliau memberi isyarat kepadanya untuk tetap sholat bersama mereka. Ketika Abdurrahman telah megucapkan salam berdirilah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan akupun berdiri dan kami mengerjakan rakaat yang tertinggal”. [HR muslim: 274 (81), an-Nasa’iy: I/ 63-64, 76 dan Abu Dawud: 149-150. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [35]

عنه قَالَ: خَصْلَتَانِ لاَ أَسْأَلُ عَنْهُمَا أَحَدًا بَعْدَمَا شَهِدْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: كُنَّا مَعَهُ فىِ سَفَرٍ فَبَرَزَ لِحَاجَتِهِ ثُمَّ جَاءَ فَتَوَضَّأَ وَ مَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ وَ جَانِبَيْ عَمَامَتِهِ وَ مَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ قَالَ: وَ صَلاَةُ اْلإِمَامِ خَلْفَ الرَّجُلِ مِنْ رَعِيَّتِهِ فَشَهِدْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَنَّهُ كَانَ فىِ سَفَرٍ فَحَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَاحْتَبَسَ عَلَيْهِمُ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم فَأَقَامُوا  الصَّلاَةَ وَ قَدِمُوْا ابْنَ عَوْفٍ فَصَلَّى بِهِمْ فَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَصَلَّى خَلْفَ ابْنِ عَوْفٍ مَا بَقِيَ مِنَ الصَّلاَةِ فَلَمَّا سَلَّمَ ابْنُ عَوْفٍ قَامَ النَّبِيُّ  صلى الله عليه و سلم فَقَضَى مَا سُبِقَ بِهِ

Dari al-Mughirah radliyallahu anhu berkata, “Ada dua perkara yang aku tidak bertanya tentang keduanya kepada seseorangpun sesudah aku menyaksikan dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”. Ia berkata, ”Kami pernah bersamanya melakukan safar lalu Beliau keluar untuk menunaikan hajatnya. Kemudian datang lalu berwudlu dan mengusap ubun-ubunnya, kedua sisi sorbannya dan mengusap kedua terompahnya”. Ia (yaitu al-Mughirah) berkata, ”Dan sholatnya imam di belakang sesorang diantara rakyatnya. Aku menyaksikan dari Rosululllah Shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya Beliau berada di dalam suatu safar lalu datanglah waktu sholat tetapi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tertahan atas (mengimami) mereka sedangkan mereka telah mengiqomatkan sholat. Maka mereka menyuruh maju Abdurrahman bin Auf lalu sholat dengan (mengimami) mereka. Kemudian datanglah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam lalu sholat di belakang Ibnu Auf apa yang tersisa dari sholat tersebut. Ketika Ibnu Auf mengucapkan salam berdirilah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu menunaikan apa yang tertinggal”. [HR an-Nasa’iy: I/ 77. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih isnadnya]. [36]

Dari untaian kalimat di dalam hadits di atas, maka pengusapan ubun-ubun itu diiringi atau bersamaan dengan pengusapan sorban. Pengusapan itu bukan pembasuhan, jadi pengusapan kepala atau sorban itu tidak akan sampai membasahi rambut atau sorban dengan basah kuyup.

32). Membasuh kedua kaki

Lalu setelah mengusap kepala dan kedua daun telinga, atau mengusap ubun-ubun dan sorban, yang mesti dikerjakan oleh seseorang yang berwudlu adalan membasuh kedua kaki. Pembasuhan itu dilakukan yang sebelah kanan terlebih dahulu kemudian sebelah kiri, masing-masing dibasuh dengan sekali basuhan sekali basuhan atau dua kali basuhan dua kali basuhan atrau juga tiga kali basuhan tiga kali basuhan, tidak boleh lebih. Pembasuhan itu meliputi menyela-nyela jari jemari kaki dengan tangan kiri dan membasuh kedua kakinya sampai kedua mata kaki, tumit atau pangkal betis. Jangan meninggalkan basuhan meskipun hanya sebesar mata uang dirham.

و قال الله سبحانه و تعالى ((وَ أَرْجُلَكُمْ إِلَى اْلكَعْبَيْنِ))

Berfirman Allah Subhanahu wa ta’ala, ((Dan kaki-kaki kalian sampai kedua mata kaki)).
Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, ”Yaitu basuhlah kaki kalian sampai kedua mata kaki dan keduanya adalah dua tulang keras yang terdapat pada pangkal betis”. [37]
Telah diriwayatkan oleh Hamran maulanya Utsman, menceritakan tentang Utsman bin Affan radliyallahu anhu yang mencontohkan cara berwudlunya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

 ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ اْليُمْنىَ إِلىَ اْلكَعْبَيْنِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ اْليُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ

Lalu membasuh kakinya yang kanan sampai kedua mata kaki tiga kali dan membasuh kakinya yang kiri seperti itu pula. [HR Muslim: 226, al-Bukhoriy: 159, 164, 1934, Abu Dawud: 106, an-Nasa’iy: I/ 64, 65, 80, Ahmad: I/ 59, 64, Ibnu Khuzaimah: 3, ad-Darimiy: I/ 176 dan ad-Daruquthniy: 267. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [38]

Abu Umamah radliyallahu anhu telah menceritakan Amr bin Abasah as-Sulamiy yang bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang cara berwudlu. Lalu Beliau menjawab, di antara penjelasan beliau tentang wudlu adalah,

ثُمَّ يَغْسِلُ قَدَمَيْهِ إِلىَ اْلكَعْبَيْنِ إِلاَّ خَرَّتْ خَطَايَا رِجْلَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ اْلمـَاءِ

Lalu membasuh kedua kakinya sampai kedua mata kaki melainkan gugurlah dosa-dosa kakinya dari jari jemarinya bersama tetesan air. [HR Muslim: 832, an-Nasa’iy: I/ 91-92 dan Ahmad IV/ 112. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [39]

Diriwayatkan oleh Abdu Khair, menceritakan tentang Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu yang sedang memberikan contoh cara berwudlunya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di hadapan manusia,

 ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ اْليُمْنىَ ثَلاَثًا وَ رِجْلَهُ الشِّمَالَ ثَلاَثًا

Kemudian ia membasuh kakinya yang kanan tiga kali dan kakinya yang kiri tiga kali. [HR an-Nasa’iy: I/ 68 dan Abu Dawud: 111. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [40]

Diceritakan oleh Nu’aim bin Abdullah al-Mujmir bahwasanya ia melihat Abu Hurairah radliyallahu anhu sedang berwudlu sebagaimana wudlunya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, di antara yang dilakukan oleh Abu Hurairah radliyallahu anhu adalah,

ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ اْليُمْنىَ حَتىَّ أَشْرَعَ فىِ السَّاقِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ اْليُسْرَى حَتىَّ أَشْرَعَ فىِ السَّاقِ

Lalu membasuh kaki kanannya sehingga masuk ke betis dan membasuh kaki kirinya sehingga masuk ke betis. [HR Muslim: 246. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [41]

Dalil-dalil di atas mengungkapkan pensyariatan membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki dan betis. Yang dimulai dari sebelah kanan sekali, dua kali atau tiga kali kemudian yang sebelah kiri seperti itu pula. Membasuh kedua kaki itu dibarengi dengan menggosok dan menyela-nyela jari jemari kaki dengan jari kelingking dari tangan kiri.

Pembasuhan kedua kaki ini wajib dikerjakan secara sempurna termasuk membasuh tumit, karena jikalau tumit kering tidak tersentuh air maka wudlunya tidak sah dan mesti mengulang kembali wudlunya. Dan jika diketahui keringnya tumit itu setelah menunaikan sholat maka wajib mengulang wudlu dan sholat. Jika ada seseorang mengabaikan hal ini maka celakalah ia pada hari kiamat sebab akan disentuh api neraka.

Pembasuhan ini bukan pengusapan. Jadi pembasuhan kedua kaki sampai kedua mata kaki tersebut mesti tampak jelas basahnya dan mesti mengambil air baru setelah mengusap kepala atau sorban.
Ada sebahagian orang berpendapat bahwa penyebutan kaki itu mengiringi pengusapan kepala, jadi kedua kakipun termasuk diusap tidak dibasuh sebagaimana di dalam ayat,

وَ امْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَ أَرْجُلَكُمْ إِلَى اْلكَعْبَيْنِ

 ((Dan usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki). [QS. Al-Ma’idah/ 5: 6)).
Maka ini adalah suatu pandangan yang keliru sebab jika ditinjau dari hadits-hadits yang telah lalu, maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam jelas telah membedakan antara mengusap kepala dan membasuh kedua kaki. Ditinjau dari sisi ilmu nahwu (sintaksis)pun jelas ada perbedaaan yang tampak mencolok yakni ketika Allah Subhanahu wa ta’ala menyebut pengusapan kepala ((وَ امْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ)) dengan menggunakan huruf Jarr yaitu huruf ”ba”, dan kata رُءُوْسِ dibaca majrur yaitu kas-rah. Dan ketika menyebut kaki وَ أَرْجُلَكُمْ dengan dibaca manshub yaitu fat-hah. Maka dengan ini dipahami bahwa kaki itu athaf kepada pembasuhan wajah dan tangan bukan athaf kepada pengusapan kepala. Wallahu a’lam.

 33). Membasuh tumit



Termasuk dari membasuh kedua kaki adalah membasuh tumit, yaitu tulang keras yang berada di bagian belakang kaki. Setiap muslim tidak boleh meremehkan pembasuhan kedua tumit tersebut. Sebab jika tidak terbasuh air maka, wudlunya tidak sah dan mesti mengulanginya. Apabila diketahui tumit itu tidak terkena basuhan air setelah selesai sholat maka wudlu dan sholatnya harus diulangi. Bahkan jika seseorang mengabaikan dan meremehkannya maka api neraka akan menjilatinya kelak pada hari kiamat. Hal ini telah dituturkan oleh beberapa hadits berikut ini,

عن عبد الله بن عمرو قَالَ: رَجَعْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم مِنْ مَكَّةَ إِلىَ اْلمـَدِيْنَةِ حَتىَّ إِذَا كُنَّا بِمَاءٍ بِالطَّرِيْقِ تَعَجَّلَ قَوْمٌ عِنْدَ اْلعَصْرِ فَتَوَضَّؤُوْا وَ هُمْ عِجَالٌ فَانْتَهَيْنَا إِلَيْهِمْ وَ أَعْقَاُبهُمْ تَلُوْحُ لَهُمْ لَمْ يَمَسَّهَا اْلمـَاءُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه و سلم: وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ أَسْبِغُوْا اْلوُضُوْءَ

Dari Abdullah bin Amr radliyallahu anhu berkata, “Kami pernah kembali bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dari Mekkah ke Madinah sehingga apabila kami menjumpai air di jalan, sekelompok orang bersegera untuk sholat ashar lalu mereka berwudlu dalam keadaan tergesa-gesa. Lalu kami sampai kepada mereka sedangkan kaki mereka tampak jelas (masih kering) tidak tersentuh air (wudlu). Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Celakalah bagi tumit-tumit dari api neraka. Sempurnakanlah wudlu”. [HR Muslim: 241, Abu Dawud: 97, an-Nasa’iy: I/ 78, Ahmad: II/ 164, 193, 201, Ibnu Khuzaimah: 161 dan ad-Darimiy: I/ 179, dan meriwayatkan pula al-Bukhoriy: 165 secara mauquf dari Abu Hurairah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[42]

عن عائشة قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam , ”Celakalah tumit-tumit dari api neraka”. [HR Ibnu Majah: 451. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [43]

عن أبي سلمة قَالَ: رَأَتْ عَائِشَةُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ وَ هُوَ يَتَوَضَّأُ فَقَالَتْ: أَسْبِغِ اْلوُضُوْءَ فَإِنيِّ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: وَيْلٌ لِلْعَرَاقِيْبِ مِنَ النَّارِ

Dari Abu Salamah radliyallahu anhu berkata, ”Aisyah radliyallahu anha pernah melihat Abdurrahman sedang berwudlu. Aisyah berkata, ”Sempurnakanlah wudlu karena aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Celakalah bagi tumit-tumit dari api neraka”. [HR Ibnu Majah: 452. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[44]

عن أبي هريرة عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Celakalah bagi tumit-tumit dari api neraka”. [HR Ibnu Majah: 453 dan an-Nasa’iy: I: 77. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [45]

عن جابر بن عبد الله قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: وَيْلٌ لِلْعَرَاقِيْبِ مِنَ النَّارِ

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, ”aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Celakalah bagi tumit-tumit dari api neraka”. [HR Ibnu Majah: 454. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [46]

عن خالد بن الوليد و يزيد بن أبي سفيان و شرحبيل بن حسنة و عمرو ابن العاص كُلُّ هَؤُلاَءِ سَمِعُوْا مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: أَتِمُّوا اْلوُضُوْءَ وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ

Dari Khalid bin al-Walid, Yazid bin Abi Sufyan, Syarhabil bin Hasanah dan Amr bin al-Ash radliyallahu anhum, semuanya mereka pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sempurnakanlah wudlu! celakalah bagi tumit-tumit dari api neraka”. [HR Ibnu Majah: 455. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[47]

عن جابر قَالَ: أَخْبَرَنيِ عُمَرُ بْنُ اْلخَطَّابِ أَنَّ رَجُلاً تَوَضَّأَ فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفُرٍ عَلَى قَدَمِهِ فَأَبْصَرَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوْءَكَ فَرَجَعَ ثُمَّ صَلَّى

ari Jabir radliyallahu anhu berkata, “Umar bin al-Khoththob radliyallahu anhu pernah mengkhabarkan kepadaku bahwasanya ada seorang lelaki yang berwudlu lalu ia meninggalkan sebesar kuku [48] pada kakinya. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melihatnya lalu bersabda, “Kembalilah lalu perbaiki wudlumu lalu iapun kembali kemudian sholat”. [HR Muslim: 243. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [49]

عن أنس بن مالك أَنَّ رَجُلاً جَاءَ إِلىَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم وَ قَدَ تَوَضَّأَ وَ تَرَكَ عَلَى قَدَمَيْهِ مِثْلَ مَوْضِعِ الظُّفُرِ فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه و سلم: ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وَضُوْءَكَ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu bahwasanya ada seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang lelaki tersebut telah berwudlu namun meninggalkan pada kakinya sebesar kuku. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Kembalilah dan perbaikilah wudlumu !”. [HR Abu Dawud: 173 dan Ibnu Khuzaimah: 164. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [50]

عن بعض أصحاب النبي أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم رَأَى رَجُلاً يُصَلِّي وَ فىِ ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةً قَدْرَ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا اْلمـَاءُ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم أَنْ يُعِيْدَ اْلوُضُوْءَ وَ الصَّلاَةَ

Dari sebahagian shahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam  pernah melihat seorang lelaki sholat namun pada punggung kakinya ada kilatan sebesar mata uang dirham yang tidak tersentuh air (wudlu). Lalu Nabi menyuruhnya untuk mengulangi wudlu dan sholat. [HR Abu Dawud: 175. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [51]

Demikian beberapa dalil hadits yang menerangkan tentang perintah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada umatnya agar memperhatikan pembasuhan tumit yang terletak di kaki bagian belakang. Sebab banyak di antara umat ini yang menyepelekan dan mengabaikannya. Seringkali dijumpai di antara mereka ketika membasuh kaki di saat berwudlu hanya dengan meletakkan kaki mereka di bawah keran air atau kucuran air lalu menggoyang-goyangkan kakinya sedikit ke kiri dan kanan, tanpa membasuhnya dengan tangan. Apalagi sampai menggosok-gosok kaki dengan tangan dan menyela-nyela jari jemarinya dengan kelingking (yang sebelah kiri). Sebagaimana akan datang dalil-dalilnya setelah bab ini.

Padahal boleh jadi, akibat mereka mengabaikan perbuatan tersebut maka sebahagian kaki mereka tidak terbasuh air, apakah di bagian jari jemari, tumit, mata kaki, telapak atau bahkan punggung kaki. Jika terjadi demikian maka mereka wajib mengulang wudlu bahkan mengulangi sholat apabila mereka mengetahuinya setelah menunaikan sholat. Namun bila mereka tidak memperdulikannya tanpa mau mengulangi wudlu dan sholat mereka, maka api neraka kelak akan menanti mereka pada hari kiamat untuk membakar bahagian anggota wudlu yang tidak terbasuh air.

34). Perintah menyela-nyela jari jemari kaki

Yang perlu diperhatikan juga di dalam pembasuhan kedua kaki adalah menyela-nyela jari jemari kaki seperti yang telah diperintahkan pada jari jemari tangan.

عن لقيط بن صبرة قَالَ: فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَخْبِرْنيِ عَنِ اْلوُضُوْءِ! قَالَ: أَسْبِغِ اْلوُضُوْءَ وَ خَلِّلْ بَيْنَ اْلأَصَابِعِ وَ بَالِغْ فىِ اْلاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا

Dari Luqaith bin Shabrah radliyallahu anhu berkata, aku bertanya, “Wahai Rosulullah kabarkan kepadaku tentang wudlu!”. Beliau menjawab, “Sempurnakan wudlu, sela-selalah jari jemarimu dan bersungguh-sungguhlah di dalam istinsyaq kecuali jika kamu sedang shaum”. [HR an-Nasa’iy: I/ 66, Abu Dawud: 142, Ibnu Majah: 407, Ibnu Khuzaimah: 150, 168, al-Hakim: 537 dan Ahmad: IV/ 33. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[52]

عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: إِذَا تَوَضَّأْتَ فَخَلِّلِ اْلأَصَابِعَ

Dari Luqaith bin Shabrah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila engkau wudlu maka sela-selalah jari-jemari”. [HR at-Turmudziy: 38, Ibnu Majah: 448 dan ad-Darimiy: I/ 179. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih].[53]

عن ابن عباس أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِذَا تَوَضَّأْتَ فَخَلِّلْ بَيْنَ أَصَابِعِ يَدَيْكَ وَ رِجْلَيْكَ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau wudlu maka sela-selalah jari jemari kedua tangan dan kakimu”. [HR at-Turmudziy: 39, Ibnu Majah: 447 dan Ahmad: I: 287. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan Shahih]. [54]

عنه يَقُوْلُ: سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم عَنْ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الصَّلاَةِ  فَقَالَ لَهُ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم: خَلِّلْ أَصَابِعَ يَدَيْكَ وَ رِجْلَيْكَ يَعْنىِ إِسْبَاغَ اْلوُضُوْءِ وَ كَانَ فِيْمَا قَالَ لَهُ: إِذَا رَكَعْتَ فَضَعْ كَفَّيْكَ عَلَى رُكْبَتَيْكَ حَتىَّ تَطْمَئِنَّ وَ إِذَا سَجَدْتَ فَأَمْكِنْ جَبْهَتَكَ مِنَ اْلأَرْضِ حَتىَّ تَجِدَ حَجْمَ اْلأَرْضِ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, pernah seorang lelaki bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang sesuatu dari perkara sholat. Lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, ”Sela-selalah jari jemari kedua tangan dan kakimu yaitu menyempurnakan wudlu”. Juga termasuk yang disabdakan kepadanya, ”Apabila engkau ruku maka letakkan kedua telapak tanganmu di atas kedua lututmu sehingga engkau tenang dan apabila engkau sujud maka mantapkan dahimu di tanah sehingga engkau dapatkan ratanya tanah”. [HR Ahmad: I/ 287. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [55]

عن المستورد بن شداد الفهري قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم إِذَا تَوَضَّأَ دَلَكَ أَصَابِعَ رِجْلَيْهِ بِخِنْصِرِهِ

Dari al-Mustawrid bin Syaddad al-Fahriy berkata, “Aku pernah melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam apabila berwudlu Beliau menggosok-gosok jari jemari kakinya dengan jari kelingkingnya”. [HR at-Turmudziy: 40, Ibnu Majah: 446 dan Abu Dawud: 148. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [56]

Sama seperti pada jari jemari tangan, maka pada jari jemari kaki juga diperintahkan untuk menyela-nyelanya. Bagi yang kesulitan di dalamnya, misalnya karena sudah sepuh, badan gemuk sehingga agak susah membungkuk atau perempuan yang sedang hamil atau selainnya maka hendaklah ia tetap berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melakukannya. Namun jika ternyata ia tetap kesulitan di dalam melakukannya, maka Allah Azza wa Jalla telah berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. [QS. al-Baqarah/ 2: 286].

35). Mengusap kedua terompah

Termasuk di dalam membasuh kedua kaki adalah mengusap terompah, sepatu, sandal ataupun kaos kaki. Sebab terkadang seorang muslim itu dalam suatu perjalanan menggunakan terompah ataupun sepatu karena suatu keadaan, semisal udara dingin, menghindar dari gigitan ular berbisa atau selainnya. Maka dalam kondisi seperti ini, seorang muslim jika hendak berwudlu tidak perlu melepas terompah atau sepatunya, cukup baginya untuk mengusap bahagian punggung kedua terompah atau sepatunya sekali usap setelah mengerjakan amalan-amalan wudlu lainnya.

Namun perlu diperhatikan sebelum mengusap terompah, sepatu, sandal atau kaos kaki hendaklah alas-alas kaki tersebut mesti dalam keadaaan suci tiada ternoda oleh najis dan kaki sebelum dimasukkan ke dalam alas-alas kaki tersebut juga dalam keadaan bersih darinya.

عن بريدة أَنَّ النَّجَاشِيَّ أَهْدَى إِلىَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم خُفَّيْنِ سَاذِجَيْنِ فَلَبِسَهُمَا ثُمَّ تَوَضَّأَ وَ مَسَحَ عَلَيْهِمَا

Dari Buraidah radliyallahu anhu bahwasanya raja an-Najasyiy pernah menghadiahi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sepasang terompah sadzij (polos). [57] Lalu Beliau memakai keduanya kemudian wudlu dan mengusap keduanya. [HR Abu Dawud: 155 dan Ibnu Majah: 549. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [58]

عن حذيفة أَنِّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم تَوَضَّأَ وَ مَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ

Dari Hudzaifah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berwudlu dan mengusap kedua terompahnya. [HR Ibnu Majah: 544. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [59]
عن جعفر بن عمرو (بن أمية الضمري) عن أبيه قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ  صلى الله عليه و سلم يَمْسَحُ عَمَامَتَهُ وَ خُفَّيْهِ

Dari Ja’far bin Amr (bin Umayyah adl-Dlomiriy) dari ayahnya berkata, “Aku pernah melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengusap sorban dan kedua terompahnya”. [HR al-bukhoriy: 205, an-Nasa’iy: I/ 81, Ibnu Majah: 562, Ibnu Khuzaimah: 181 dan ad-Darimiy: I/ 180. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[60]

عن عوف بن مالك أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم أَمَرَ بِاْلمـَسْحِ عَلَى اْلخُفَّيْنِ فىِ غَزْوَةِ تَبُوْكَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ وَ لَيَالِيْهَا لِلْمَسَافِرِ وَ يَوْمًا وَ لَيْلَةً لِلْمُقِيْمِ

Dari Auf bin Malik radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah memerintah agar mengusap kedua teropah pada waktu perang Tabuk. Tiga hari dan malam untuk orang yang safar dan sehari semalam untuk orang yang mukim. [HR Ahmad: VI/ 27, ath-Thahawiy dan ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [61]

عن إبراهيم  عن همام بن الحارث  قَالَ: بَالَ جَرِيْرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ ثُمَّ تَوَضَّأَ وَ مَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ فَقِيْلَ لَهُ: أَتَفْعَلُ هَذَا ؟ قَالَ: وَ مَا يَمْنَعُنىِ وَ قَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم يَفْعَلُهُ قَالَ إِبْرَاهِيْمُ: وَ كَانَ يُعْجِبُهُمْ حَدِيْثُ جَرِيْرٍ لِأَنَّ إِسْلاَمَهُ بَعْدَ نُزُوْلِ اْلمـَائِدَةِ

Dari Ibrahim dari Hammam bin al-Harits berkata, “Jarir bin Abdullah radliyallahu anhu pernah buang air kecil kemudian wudlu dan mengusap kedua terompahnya”. Ditanyakan kepadanya, “Apakah engkau melakukan ini?”. Ia menjawab, ”Tiada mencegahku karena aku telah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam melakukannya”. Berkata Ibrahim, ”hadits Jarir ini mengherankanku karena keislamannya adalah setelah diturunkannya surat al-Maidah”. [HR at-Turmudziy: 93, Ibnu Majah: 543, an-Nasa’iy: I: 81 dan Ibnu Khuzaimah: 186. Berkata ast-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [62]

عن أبي زرعة بن عمرو بن جرير: أَنَّ جَرِيْرًا بَالَ ثُمَّ تَوَضَّأَ فَمَسَحَ عَلَى اْلخُفَّيْنِ وَ قَالَ: مَا يَمْنَعُنىِ أَنْ أَمْسَحَ وَ قَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم يَمْسَحُ؟ قَالُوْا: إِنَّمَا كَانَ ذَلِكَ قَبْلَ نُزُوْلِ اْلمـَائِدَةِ ؟ قَالَ: مَا أَسْلَمْتُ إِلاَّ بَعْدَ نُزُوْلِ اْلمـَائِدَةِ

Dari Abu Zar’ah bin Amr bin Amr bin jarir bahwasanya Jarir pernah buang air kecil kemudian wudlu lalu mengusap kedua terompahnya dan berkata, “Tiada yang mencegahku karena sungguh-sungguh aku pernah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengusap (kedua terompahnya)?”. Mereka bertanya, ”Hanyalah yang demikian itu setelah turunnya surat al-maidah?”. Ia menjawab, ”Aku tidaklah masuk Islam melainkan setelah turunnya surat al-Ma’idah”. [HR Abu Dawud:154 dan at-Turmudziy: 94 Syahr bin Hausyib. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [63]

عن المغيرة رضي الله عنه قَالَ: كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم ذَاتَ لَيْلَةٍ فىِ سَفَرٍ فَقَالَ: أَمَعَكَ مَاءٌ ؟ قُلْتُ: نَعَمْ فَنَزَلَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَمَشَى حَتىَّ تَوَارَى عَنىِّ فىِ سَوَادِ اللَّيْلِ ثُمَّ جَاءَ فَأَفْرَغْتُ عَلَيْهِ اْلإِدَاوَةَ فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَ يَدَيْهِ وَ عَلَيْهِ جُبَّةٌ مِنْ صَوْفٍ فَلَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُخْرِجَ ذِرَاعَيْهِ مِنْهَا حَتىَّ أَخْرَجَهُمَا مِنْ أَسْفَلِ اْلجُبَّةِ فَغَسَلَ ذِرَاعَيْهِ ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ أَهْوَيْتُ لِأَنْزَعَ خُفَّيْهِ فَقَالَ: دَعْهُمَا فَإِنىِّ أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ فَمَسَحَ عَلَيْهِمَا

Dari al-Mughirah radliyallahu anhu berkata, ”aku pernah bersama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam suatu malam di dalam safar”. Beliau bersabda, ”Apakah bersamamu ada air?”. Aku menjawab, ”Ya”. Kemudian Beliau turun dari kendaraannya lalu berjalan sehingga lenyap tersembunyi di kegelapan malam. Kemudian Beliau datang lalu aku menuangkan bejana atasnya. Maka Beliau membasuh wajah dan kedua tangannya sedangkan Beliau mengenakan jubah dari bulu yang Beliau tidak dapat mengeluarkan kedua lengannya darinya sehingga mengeluarkan keduanya dari bawah jubah lalu membasuh kedua lengannya. Kemudian mengusap kepalanya lalu aku menunduk untuk melepaskan kedua terompahnya tetapi Beliau bersabda, ”Biarkan keduanya karena aku memasukkan keduanya dalam keadaan suci”. Lalu Beliau mengusap keduanya. [HR al-Bukhoriy: 5799, 182, 203, 206, 363, 388, 2918, 4421, 5798, Muslim: 274 (79), Abu Dawud: 151, Ahmad: IV/ 255 dan ad-Darimiy: I/ 181. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [64]

Berkata asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahm Alu Bassam rahimahullah,
”Disyariatkannya mengusap kedua terompah ketika berwudlu. Mengusap itu hanya sekali saja dengan tangan di bahagian atasnya tidak di bahagian bawahnya sebagaimana telah datang (keterangannya) di dalam beberapa atsar.
Untuk mengusap kedua terompah disyaratkan dalam keadaan bersih. Yang demikian itu, bahwa kedua kaki juga harus dalam keadaaan bersih sebelum memasukkan keduanya ke dalam terompah”. [65]

عن عبد المهيمن بن العباس بن سهل الساعدي عن أبيه عن جده أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم مَسَحَ عَلَى اْلخُفَّيْنِ وَ أَمَرَنَا بِاْلمـَسْحِ عَلَى اْلخُفَّيْنِ

Dari Abdulmuhaimin bin al-Abbas bin Sahl as-Sa’idiy dari ayahnya dari kakeknya bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah mengusap kedua terompahnya dan memerintahkan kami untuk mengusap kedua terompah. [HR Ibnu Majah: 547. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [66]

عن ابن عمر أَنَّهُ رَأَى سَعْدَ بْنَ مَالِكٍ وَ هُوَ يَمْسَحُ عَلَى اْلخُفَّيْنِ  فَقَالَ: إِنَّكُمْ لَتَفْعَلُوْنَ ذَلِكَ؟ فَاجْتَمَعَا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ سَعْدٌ لِعُمَرَ: أَفْتِ ابْنَ أَخِي فىِ اْلمـَسْحِ عَلَى اْلخُفَّيْنِ فَقَالَ عُمَرُ: كُناَّ وَ نَحْنُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم  نَمْسَحُ عَلِى خِفَافِنَا لاَ نَرَى بِذَلِكَ بَأْسًا فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: وَ إْنَ جَاءَ مِنَ اْلغَائِطِ ؟ قَالَ: نَعَمْ

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma bahwasanya ia pernah melihat Sa’d bin Malik sedang mengusap kedua terompahnya. Ia bertanya, ”(apakah) kalian melakukan hal itu?”. Lalu keduanya berkumpul di sisi Umar (bin al-Khoththob). Sa’d berkata kepada Umar, ”Wahai putra saudaraku, berilah fatwa tentang mengusap kedua terompah!”. Umar menjawab, ”Kami dahulu pernah bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengusap terompah-terompah kami dan kami tidak melihat suatu halangan dengannya”. Ibnu Umar berkata, ”Meskipun baru keluar dari jamban (wc)?”. Umar menjawab, ”Ya”. [HR Ibnu Majah: 546 dan Ibnu Khuzaimah: 184. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [67]

عن أنس أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ وَ لَبِسَ خُفَّيْهِ فَلْيُصَلِّ فِيْهِمَا وَ لْيَمْسَحْ عَلَيْهِمَا ثُمَّ لاَ يَخْلَعْهُمَا إِنْ شَاءَ إِلاَّ مِنَ اْلجَنَابَةِ

Dari Anas radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian wudlu dan memakai kedua terompahnya maka hedaklah ia sholat dengan mengenakan keduanya dan usaplah keduanya kemudian janganlah ia menanggalkan keduanya jika mau kecuali dari sebab janabah”. [HR ad-Daruquthniy: 770. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [68]

Dalil-dalil ini merupakan bukti yang jelas tentang berwudlu ketika mengenakan kedua terompah dengan cara mengusap keduanya dan tidak perlu menanggalkan keduanya maka tidak ada keraguan sedikitpun di dalam menerima dan mengamalkannya. Kendatipun kebanyakan dari awam kaum muslimin enggan dan berat hati di dalam melaksanakannya, dengan berbagai macam dalih. Padahal sesuatu hal yang pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya bahkan yang dianjurkan oleh Beliau maka sepatutnya bagi umatnya untuk menerima dengan sepenuhnya tanpa keraguan dan tiada pilihan lain dari perkara yang telah ditetapkan olehnya. Karena mengikuti jalannya adalah lebih selamat, lebih lurus dan lebih terjamin kebenarannya dari selainnya. Sebagaimana dikatakan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah, ”Tidak ada di dalam hatiku sedikitpun keraguan tentangnya (yaitu tentang membasuh terompah, sandal ataupun kaos kaki)”. [69]

 36). Mengusap kedua sandal dan kedua kaos kaki  [70]

Begitu pula jika seorang muslim menggunakan sandal maka tak terhalang baginya untuk mengusap keduanya karena hal tersebutpun telah disyariatkan di dalam dalil-dalil berikut ini,

عن أبي ظبيان أَنَّهُ رَأَى عَلِيًّا رضي الله عنه بَالَ قَائِمًا ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ وَ مَسَحَ عَلَى نَعْلَيْهِ ثُمَّ دَخَلَ اْلمـَسْجِدَ فَخَلَعَ نَعْلَيْهِ ثُمَّ صَلَّى (زاد البيهقي: فَأَمَّ النَّاسَ)
         
 Dari Abu zhibyan bahwasanya ia pernah melihat Ali radliyallahu anhu buang air kecil dalam keadaan berdiri. Kemudian ia menyuruh diambilkan air. Lalu ia berwudlu dan mengusap kedua sandalnya. Kemudian ia masuk ke masjid dan menanggalkan kedua sandalnya kemudian sholat. Al-Baihaqiy menambahkan, ”lalu ia mengimami manusia”. [Telah mengeluarkan atsar ini al-Baihaqiy dan ath-Thohawiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Sanad keduanya shahih berdasarkan atas syarat dua syaikh (yaitu al-Bukhoriy dan Muslim)].

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, ”Di dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya mengusap kedua sandal”. [71]

Dan juga jika seorang muslim mengenakan kaos kaki maka pensyariatan mengusapnya juga ada, sebagaimana di dalam hadits dan atsar berikut ini,

عن المغيرة بن شعبة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم تَوَضَّأَ وَ مَسَحَ عَلىَ اْلجَوْرَبَيْنِ وَ النَّعْلَيْنِ

Dari al-Mughirah bin Syu’bah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam wudlu dan mengusap kedua kaos kaki dan kedua sandal. [HR Abu Dawud: 159, Ibnu Majah: 559, Ibnu Khuzaimah: 198 dan Ahmad: IV/ 252. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [72]

عن أبي موسى الأشعري أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم تَوَضَّأَ وَ مَسَحَ عَلَى اْلجَوْرَبَيْنِ وَ النَّعْلَيْنِ

Dari Abu Musa al-Asy’ariy radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam wudlu dan mengusap kedua kaos kaki dan kedua sandal. [HR Ibnu Majah: 560. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [73]

Dari Ka’b bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, “aku pernah melihat Ali bin Abi Thalib karromahullah wajhah buang air kecil lalu mengusap kedua sandal dan kedua kaos kakinya”.
Dari Abu al-Julas dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma bahwasanya ia mengusap kedua kaos kaki dan kedua sandalnya.
Dari Isma’il dari ayahnya berkata, “Aku pernah melihat al-Barra’ bin Azib radliyallahu anhu mengusap kedua kaos kaki dan sandalnya”.
Dari Ibrahim bin Hammam bin al-Harits dari Abu Mas’ud al-Badriy radliyallahu anhu bahwasanya ia mengusap kedua kaos kaki dan kedua sandalnya.
Dari Ashim al-Ahwal berkata, ”aku pernah melihat Anas bin Malik radliyallahu anhu mengusap kedua kaos kakinya”.
Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, ”Umar bin al-Khoththob radliyallahu anhu pernah buang air kecil pada hari Jum’at kemudian wudlu dan mengusap kedua kaos kaki dan sandal dan sholat jum’at bersama manusia”.
Dari Abu Wa’il dari Abu Mas’ud radliyallahu anhu bahwasanya ia mengusap kedua kaos kaki miliknya yang terbuat dari bulu.
Dari Yahya al-Bakkaa’ berkata, ”aku pernah mendengar Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, ”mengusap kedua kaos kaki sama seperti mengusap kedua terompah”.
[Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, ”Atsar-atsar ini dikeluarkan oleh Abdurrazzak di dalam al-Mushonnaf, Ibnu Abi Syaibah juga di dalam al-Mushonnaf dan al-Baihaqiy. Banyak dari sanad-sanadnya yang shahih dari mereka”]. [74]

Demikian beberapa dalil hadits dan atsar yang menerangkan tentang perilaku Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabat radliyallahu anhum yang mengusap kedua kaos kaki ketika berwudlu, sama seperti mengusap terompah atau sepatu.

 37). Bagaimanakah caranya mengusap ?

Setelah dipahami akan disyariatkannya berwudlu dengan menggunakan terompah, sandal atau kaos kaki, berikut ini akan diterangkan akan tata caranya agar setiap muslim dapat melakukannya dengan benar jikalau mereka suatu saat berwudlu dengan menggunakan salah satu darinya.

عن المغيرة بن شعبة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم كَانَ يَمْسَحُ عَلَى اْلخُفَّيْنِ وَ قَالَ: عَلَى ظَهْرِ اْلخُفَّيْنِ

Dari al-Mughirah bin Syu’bah radliyallahu anhu bahwahsanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengusap kedua terompah dan berkata, “di atas punggung (atau permukaan) kedua terompah”. [HR Abu Dawud: 161, at-Turmudziy: 98, Ahmad: IV/ 254 dan ad-Daruquthniy: 744. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan Shahih].[75]

عن على رضي الله عنه قَالَ: لَوْ كَانَ الدِّيْنُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ اْلخَفِّ أَوْلىَ بِاْلمـَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَ قَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

Dari Ali radliyallahu anhu berkata, “seandainya agama itu (dipahami) dengan ro’yu (logika) niscaya bagian bawah terompah itu lebih utama untuk diusap daripada bagian atasnya. Dan sungguh-sungguh aku telah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengusap bagian permukaan kedua terompahnya”. [HR Abu Dawud: 162 dan ad-Daruquthniy: 859. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[76]

 عنه قَالَ: مَا كُنْتُ أَرَى بَاطِنَ اْلقَدَمَيْنِ إِلاَّ أَحَقَّ بِاْلغَسْلِ حَتىَّ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم يَمْسَحُ عَلَى ظَهْرِ خُفَّيْهِ

Dari Ali radliyallahu anhu berkata, “Tadinya aku tidaklah memandang bagian dalam kedua kaki itu melainkan lebih berhak untuk dibasuh sehingga aku melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengusap permukaan kedua terompahnya”. [HR Abu Dawud: 163. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [77]

Beristidlal (berdalil) dengan dalil-dalil di atas maka diketahui tentang cara mengusap kedua terompah atau kaos kaki yaitu dengan mengusap bahagian atas atau bahagian permukaannya. Tiada bedanya mengusap dari bagian atas ke bawah atau dari bawah ke atas. Wallahu a’lam.

 38). Pembatasan waktu di dalam mengusap untuk mukim dan safar


Namun di dalam pengusapan terompah dan yang lainnya tersebut ada pembatasan waktu yakni sehari semalam untuk orang yang mukim dan tiga hari untuk orang yang safar. Maksudnya ketika seorang muslim berkeinginan untuk menggunakan sepatu dalam suatu perjalanan misalnya, maka diperbolehkan baginya untuk tidak melepaskan sepatunya selama dalam perjalanan. Maka dalam keadaan itu, ia berwudlu seperti biasanya berwudlu, namun ketika dalam pembasuhan kakinya ia ganti dengan pengusapan sepatunya bagian atas sekali usap. Dan selama tiga hari, jika ia berwudlu karena hadats lalu ingin memperbaharui wudlunya maka ia berwudlu seperti itu, kecuali jika ia junub. Junub dengan sebab bermimpi atau berhubungan intim (jimak) dengan salah seorang dari istrinya)  mewajibkan baginya untuk mandi janabat yang ia mesti melepaskan sepatunya.

عن شريح بن هانئ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنِ اْلمـَسْحِ عَلَى اْلخُفَّيْنِ فَقَالَتْ: ائْتِ عَلِيَّا فَسَلْهُ فَإِنَّهُ أَعْلَمُ بِذَلِكَ مِنيِّ فَأَتَيْتُ عَلِيًّا فَسَأَلْتُهُ عَنِ اْلمـَسْحِ فَقَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَأْمُرُنَا أَنْ نَمْسَحَ لِلْمُقِيْمِ يَوْمًا وَ لَيْلَةً وَ لِلْمُسَافِرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ

Dari Syuraih bin Hani berkata, ”Aku pernah bertanya kepada Aisyah mengenai mengusap kedua terompah”. Ia menjawab, ”Datanglah kepada Ali lalu tanyakanlah kepadanya karena ia lebih tahu dariku tentangnya”. Maka akupun mendatangi Alii lalu bertanya kepadanya tentang mengusap. Ia menjawab, ”Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh kami untuk mengusap (terompah-terompah), untuk yang mukim sehari semalam sedangkan untuk yang safar tiga hari”. [HR Ibnu Majah: 552, Muslim: 276, an-Nasa’iy: I/ 84 dan juga Ibnu Khuzaimah: 194. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [78]

عن زر بن حبيش قَالَ: أَتَيْتُ رَجُلاً يُدْعَى صَفْوَانَ بْنَ عَسَّالٍ فَقَعَدْتُ عَلَى بَابِهِ فَخَرَجَ فَقَالَ: مَا شَأْنُكَ؟ قُلْتُ: أَطْلُبُ اْلعِلْمَ قَالَ: إِنَّ اْلمـَلاَئِكَةَ تَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ اْلِعْلِم رِضًا بِمَا يَطْلُبُ فَقَالَ: عَنْ أَيِّ شَيْءٍ تَسْأَلُ؟ قُلْتُ: عَنِ اْلخُفَّيْنِ قَالَ: كُنَّا إِذَا كُنَّا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فىِ سَفَرٍ أَمَرَنَا أَنْ لاَّ نَنْزِعَهُ ثَلاَثًا إِلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ وَ لَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَ بَوْلٍ وَ نَوْمٍ

Dari Zurr bin Hubaisy berkata, ”Aku pernah mendatangi seorang lelaki yang dikenal bernama Shofwan bin Assal”. Akupun duduk di depan pintunya lalu ia keluar dan berkata, ”Apa keperluanmu?”. Aku jawab, ”mencari ilmu”. Ia berkata, ”Sesungguhnya para malaikat merendahkan sayapnya kepada pencari ilmu karena ridlo dengan apa yang ia cari”. Lalu ia bertanya, ”Apa yang hendak engkau tanyakan?”. Aku jawab, ”tentang dua khuff (sepatu)”. Ia menjawab, ”Dahulu apabila kami bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam suatu safar Beliau memerintahkan kami agar tidak melepasnya selama tiga (hari) dari sebab buang air besar, buang air kecil dan tidur (pulas) kecuali dari sebab janabat”. [HR an-Nasa’iy: I/ 98, 84, Ahmad: IV/ 239, 240, at-Turmudziy: 96, 3535, Ibnu Majah: 478 dan Ibnu Khuzaimah: 17, 196. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan].[79]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, ”Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwasanya terompah-terompah itu tidak perlu dilepas di dalam batas waktu yang ditentukan ini hanya lantaran sesuatu hadats kecuali dari sebab janabat”. [80]

عن خزيمة بن ثابت قَالَ: جَعَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم لِلْمُسَافِرِ ثَلاَثًا وَ لَوْ مَضَى السَّائِلُ عَلَى مَسْأَلَتِهِ لَجَعَلَهَا َخمْسًا

Dari Khuzaimah bin Tsabit berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjadikan (batas waktu) bagi orang yang safar selama tiga hari dan jikalau si penanya melanjutkan pertanyaannya niscaya Beliau akan menjadikannya lima hari”. [HR Ibnu Majah: 553, 554 dan Abu Dawud: 157. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [81]

عن أبي هريرة قَالَ: قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا الطَّهُوْرُ عَلَى اْلخَفَّيْنِ؟ قَالَ: لِلْمُسَافِرِ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ وَ لَيَالِيْهِنَّ وَ لِلْمُقِيْمِ يَوْمٌ وَ لَيْلَةٌ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, mereka bertanya, “Wahai Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apakah bersuci atas kedua terompah itu?”. Beliau menjawab, ”untuk orang yang safar selama tiga hari tiga malam dan untuk orang yang mukim selama sehari semalam”. [HR Ibnu Majah: 555. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [82]

عن عبد الرحمن بن أبي بكرة عن أبيه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم : أَنَّهُ رَخَّصَ لِلْمُسَافِرِ إِذَا تَوَضَّأَ وَ لَبِسَ خُفَّيْهِ ثُمَّ أَحْدَثَ وُضُوْءًا أَنْ يَمْسَحَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَ لَيَالِيْهِنَّ وَ لِلْمُقِيْمِ يَوْمًا وَ لَيْلَةً

Dari Abdurrahman bin Abi Bakroh dari ayahnya dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya Beliau memberi rukhshoh (keringanan) bagi yang safar apbila wudlu dan memakai kedua terompahnya kemudian memperbaharui wudlu untuk mengusapnya selama tiga hari tiga malam dan bagi yang mukim selama sehari semalam. [HR Ibnu Majah: 556 dan Ibnu Khuzaimah: 192. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [83]

Beberapa hadits di atas menunjukkan pembatasan waktu di dalam mengusap (terompah dan semisalnya) selama tiga hari bagi musafir dan sehari semalam bagi yang mukim. Yakni seorang muslim yang mengenakan terompah atau kaos kaki, diperbolehkan baginya ketika selesai mengusap kepala dan kedua telinganya saat berwudlu ia lalu mengusap kedua terompah atau kaos kakinya bahagian atasnya, selama sehari semalam bagi yang mukim dan tiga hari tiga malam bagi yang safar, sama saja apakah musim panas atau dingin. Dan setelah melewati batas waktu tersebut maka ia mesti berwudlu seperti biasanya lagi.

Namun ada juga atsar yang menunjukkan batasnya lebih dari itu yaitu dari jum’at sampai ke jum’at berikutnya yakni sebagaimana di dalam atsar berikut ini,

 39). Mengusap dengan pembatasan waktu lebih dari tiga hari


عن عقبة بن عامر الجهني أَنَّهُ قَدِمَ عَلَى عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ مِنْ مِصْرَ فَقَالَ: مُنْذُ كَمْ لَمْ تَنْزَعْ خُفَّيْكَ؟ قَالَ: مِنَ اْلجُمُعَةِ إِلىَ اْلجُمُعَةِ قَالَ: أَصَبْتَ السُّنَّةَ

Dari Uqbah bin Amir al-Juhniy bahwasanya ia mendatangi Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu dari Mesir. Umar berkata, “Sejak kapan engkau tidak menanggalkan kedua terompahmu?”. Ia menjawab, “Dari jum’at sampai jum’at”. Umar berkata, “engkau telah menepati sunnah”. [Telah mengeluarkan atsar ini Ibnu Majah: 558. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [84]

Oleh sebab itu setiap muslim harus mengerti tentang cara berwudlu khususnya tentang mengusap terompah, sandal ataupun kaos kaki agar senantiasa berpijak di jalan yang lurus lagi benar. Sebab bisa jadi suatu hari nanti ia akan dihadapkan kepada suatu kejadian yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tersebut. Maka asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah telah menjelaskan syarat-syarat pengusapan tersebut menjadi tiga, yaitu, [85]

1. Hendaknya ketika ia hendak menggunakan kedua terompahnya itu harus dalam keadaan bersih atau suci. Sebagaimana hadits al-Mughirah bin Syu’bah radliyallahu anhu, “Biarkan keduanya karena aku memasukkan keduanya dalam keadaan suci”. [86]

2. Hal tersebut dilakukan pada waktu yang dibatasi sesuai syar’iy. Yaitu sehari semalam untuk yang mukim dan tiga hari dan malam untuk yang sedang safar. Batas waktu itu dimulai dari awal mula pengusapan setelah hadats sampai akhir waktu pembatasan.
3. Pengusapan tersebut hanya terjadi pada hadats kecil tidak pada janabat. Jika terjadi pada janabat maka tidak ada pengusapan tetapi wajib baginya menanggalkan kedua terompahnya lalu membasuh sekujur tubuhnya (maksudnya mandi janabat), karena hadits Shofwan bin Assal radliyallahu anhu, “Dalam suatu safar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kami agar tidak melepasnya selama tiga (hari) dari sebab buang air besar, buang air kecil dan tidur (pulas), kecuali dari sebab janabat”. [87]

 40). Ucapan sesudah selesai dari wudlu

Setelah selesai semua amalan-amalan wudlu dari awal sampai akhir, maka hendaklah seseorang yang berwudlu itu menutup amal tersebut dengan mengucapkan doa dari doa-doa yang telah diajarkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

عن عقبة بن عامر قَالَ: كَانَتْ عَلَيْنَا رِعَايَةُ اْلإِبِلِ فَجَاءَتْ نَوْبَتيِ فَرَوَّحْتُهَا بِعَشِيٍّ فَأَدْرَكْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَائِمًا يُحَدِّثُ النَّاسَ فَأَدْرَكْتُ مِنْ قَوْلِهِ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ وُضُوْءَهُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ مُقْبِلٌ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَ وَجْهِهِ إِلاَّ وَجَبَتْ لَهُ اْلجَنَّةُ قَالَ: فَقُلْتُ: مَا أَجْوَدُ هَذِهِ! فَإِذَا قَائِلٌ بَيْنَ يَدَيَّ يَقُوْلُ: الَّتيِ قَبْلَهَا أَجْوَدُ فَنَظَرْتُ فَإِذَا عُمَرُ قَالَ: إِنيِّ قَدْ رَأَيْتُكَ جِئْتَ آنِفًا قَالَ: مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ (أَوْ يُسْبِغُ) اْلوُضُوْءَ ثُمَّ يَقُوْلُ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ (و فى رواية: أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ) (و زاد الترمذي: َاللَّهُمَّ اجْعَلْنيِ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَ اجْعَلْنيِ مِنَ اْلمُتَطَهِّرِيْنَ) إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ  أَبْوَابُ اْلجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ
          
Dari Uqbah bin Amir berkata, ”Tugas kami adalah menjaga unta lalu datanglah giliranku, maka bergegas aku pergi kepadanya di waktu senja hari. Lalu aku dapati Rosulullah sedang berdiri sambil berbicara kepada manusia maka aku jumpai sebahagian ucapannya, ”Tidaklah seorang muslim berwudlu lalu membaguskan wudlunya kemudian berdiri lalu sholat dua rakaat dalam keadaan menghadapkan hati dan wajahnya (kepada Allah) melainkan tetaplah surga baginya”. Ia (yaitu Uqbah) berkata, aku berkata, ”Alangkah bagusnya ucapan ini !”. Tiba-tiba ada yang berkata di hadapanku, ”yang sebelumnya lebih bagus lagi”. Lalu aku lihat, ternyata Umar. Ia berkata kepadaku, ”Aku melihatmu barusan datang”. Beliau bersabda, ”Tidaklah seseorang di antara kalian wudlu kemudian menyempurnakan wudlu lalu mengucapkan,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ

(Aku bersaksi bahwasanya tiada ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwasanya Muhammad itu adalah hamba Allah dan utusan-Nya). Di dalam satu riwayat,

أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ

(Aku bersaksi bahwasanya tiada ilah yang berhak disembah selain Allah saja tiada sekutu bagi-nya dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya).
At-Turmudziy menambahkan,

 اَللَّهُمَّ اجْعَلْنيِ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَ اجْعَلْنيِ مِنَ اْلمـُتَطَهِّرِيْنَ

(Ya Allah jadikanlah aku termasuk dari orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah pula aku termasuk orang-orang yang membersihkan diri). Melainkan dibukakan untuknya pintu-pintu surga yang delapan yang ia masuk kedalamnya dari pintu surga manapun yang ia suka”. [HR Muslim: 234, at-Turmudziy: 55, an-Nasa’iy: I/ 92-93, Abu Dawud:169, Ibnu Majah: 470, Ibnu Khuzaimah: 222, 223 dan Ahmad: IV/ 145-146, 153. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [88]

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ اْلكَهْفِ كَانَتْ لَهُ نُوْرًا إِلىَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ مِنْ مَقَامِهِ إِلىَ مَكَّةَ وَ مَنْ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا ثُمَّ خَرَجَ الدَّجَّالُ لَمْ يَضُرَّهُ وَ مَنْ تَوَضَّأَ فَقَالَ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَ أَتُوْبُ إِلَيْكَ كُتِبَ لَهُ فىِ رِقٍّ ثُمَّ جُعِلَ فىِ طَابِعٍ فَلَمْ يُكْسَرْ إِلىَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang membaca surat al-Kahfi maka surat itu akan menjadi cahaya baginya sampai hari kiamat dari tempatnya sampai Mekah. Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat dari akhirnya kemudian Dajjal keluar maka Dajjal itu tidak dapat membahayakannya. Barangsiapa yang wudlu lalu membaca,

 سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَ أَتُوْبُ إِلَيْكَ

(Maha suci Engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwasanya tiada ilah yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu). Maka akan dicatat baginya di dalam riqq (kertas dari kulit tipis) kemudian diletakkan di dalam thabi’ (alat pencetak) sehingga tidak akan rusak sampai hari kiamat”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Awsath, al-Hakim: 2116, adl-Dliya’, an-Nasa’iy dan as-Sunniy di dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah halaman 37. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [89]
Dua hadits di atas menunjukan adanya bacaan atau doa di penghujung wudlu, yang disyariatkan bagi setiap muslim untuk senantiasa membaca salah satunya di setiap selesai dari berwudlu.

[1]  Aysar at-Tafasir: I/ 598.
[2] Shahih Sunan An-Nasa’iy: 143, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5804, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 181 dan Misykah al-Mashobih: 1042.
[3] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 91 dan Shahih Sunan Abi Dawud: 102.
[4] Shahih Sunan Abi Dawud: 109 dan Shahih Sunan an-Nasa’iy: 95, 97.
[5] Shahih Sunan Abi Dawud: 118.
[6] Nail al-Awthar: I/ 197.
[7] Shahih Sunan at-Turmudziy: 32, Shahih Sunan Abi Dawud: 111 dan Misykah al-Mashobih: 415.
[8] Silsilah al-Ahadits adl-Dlo’ifah: II/ 424.
[9] Shahih Sunan Ibni Majah: 349.
[10] Shahih Sunan Ibni Majah: 350.
[11] Shahih Sunan Abi Dawud: 106.
[12]  Shahih Sunan Ibni Majah: 351.
[13] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 98.
[14] Shahih Sunan at-Turmudziy: 31, Shahih Sunan Abi Dawud: 119, Shahih Sunan Ibni Majah: 352 dan Misykah al-Mashobih: 414.
[15] Tetapi asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah di dalam bukunya Tamam al-Minnah halaman 91 membolehkan mengusap kepala tiga kali karena ada riwayat yang memuat tentang itu yaitu Abu Dawud: 107 dan 110 kadua nya dari Utsman bin Affan radliyallahu anhu. Dan asy-Syaikh al-Albaniy menyatakan Hasan pada hadits yang pertama dan Hasan Shahih pada yang kedua di dalam Shahih Sunan Abi Dawud: 98 dan 101.
[16]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 97.
[17]  Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, DR Mahmud Abdul Maqshud Afifiy, Dar Ibnu al-Haitsam halaman 12-13.
[18] Atau dalam keadaan sulit pada masa sekarang ini di antaranya adalah; sulit mendapatkan tempat wudlu yang tertutup sehingga ia terpaksa wudlu di tempat terbuka, atau ia terpaksa berwudlu di tempat wudlu yang kecil sehingga kaum lelaki dan perempuan tercampur baur, atau terkadang beberapa lelaki dari kaum awam ada yang suka masuk ke tempat wudlu wanita dan sebagainya.
[19]  Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah halaman 13 dan yang semakna di dalam kitab Majmu’ Fatawa: XXI/ 218.
[20] Shahih Sunan Abi Dawud: 99.
[21] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 99, Shahih Sunan Ibni Majah: 353, Shahih Sunan at-Turmudzy: 33, Irwa’ al-Ghalil: 90 dan Misykah al-Mashobih: 413.
[22]  Shahih Sunan Abi Dawud: 112 dan Shahih Sunan Ibni Majah: 356.
[23] Shahih Sunan Ibni Majah: 355, Shahih Sunan Abi Dawud:121 dan Misykaah al-Mashobih: 414.
[24] Shahih Sunan Ibni Majah: 357, Irwa’ al-Ghalil: 84 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 36.
[25] Shahih Sunan at-Turmudziy: 34, Shahih Sunan Ibni Majah: 358, Shahih Sunan Abi Dawud: 122 dan Misykah al-Mashobih: 416 .
[26]  Shahih Sunan Ibni Majah: 359.
[27] Nail al-Awthar: I/ 203.
[28] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 115 dan Shahih Sunan Ibni Majah: 456.
[29]  العصائب dengan difat-hahkan huruf ’ain bermakna sorban dan التساخين bermakna terompah. [Lihat al-Mas-hu ’ala al-Jaurobain halaman 23, ‘Aun al-Ma’bud: I/ 171 dan Nail al-Awthar: I/ 210].
[30] Shahih Sunan Abi Dawud: 133.
[31]  Aun al-Ma’bud: I/ 172.
[32]  Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, الخمار bagi lelaki adalah sorban yang menutupi kepala. Dan yang tidak menutupi kepala bukanlah sorban. [Catatan kaki di dalam Shahih Sunan an-Nasa’iy: I/ 25].
[33] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 101, Shahih Ibni Majah: 455 dan Shahih Sunan at-Turmudziy: 88.
[34] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 104, Shahih Sunan at-Turmudziy: 87 dan Misykah al-Mashobih: 399.
[35] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 80, 105 dan Shahih Sunan Abi Dawud: 135-136.
[36]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 106.
[37]  Aysar at-Tafasir: I/ 598.
[38] Mukhtashor Shahih Muslim: 130, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 105, Shahih Sunan Abi Dawud: 97, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 82, 83, 112, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6175, 6176 dan Misykah al-Mashobih: 287.
[39] Shahih Sunan An-Nasa’iy: 143, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5804, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 181 dan Misykah al-Mashobih: 1042.
[40] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 91 dan Shahih Sunan Abi Dawud: 102.
[41] Mukhtashor Shahih Muslim: 128, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1489 dan Irwa’ al-Ghalil: 94.
[42] Shahih Sunan Abii Dawud: 88, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 108, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 872, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 217, Misykah al-Mashobih: 398 dan Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 108.
[43]  Shahih Sunan Ibni Majah: 364.
[44] Shahih Sunan Ibni Majah: 365.
[45] Shahih Sunan Ibni Majah: 366 dan Shahih Sunan an-Nasa’iy: 107.
[46] Shahih Sunan Ibni Majah: 367.
[47] Shahih Sunan Ibni Majah: 368.
[48] Maksudnya tidak terkena air wudlu.
[49]  Mukhtashor Shahih Muslim: 135.
[50]  Shahih Sunan Abi Dawud: 158.
[51] Shahih Sunan Abi Dawud: 161.
[52] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 85, Shahih Sunan Abi Dawud: 129, Shahih Sunan Ibni Majah: 328, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 927 dan Misykah al-Mashobih: 405.
[53] Shahih Sunan at-Turmudziy: 35 dan Shahih Sunan Ibni Majah: 362.
[54] Shahih Sunan at-Turmudziy: 36, Shahih Sunan Ibni Majah: 361, Silsilah al-Ahadits ash-Shahiiah: 1306 dan Misykah al-Mashobih: 406.
[55] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3239 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1349.
[56] Shahih Sunan at-Turmudziy: 37, Shahih Sunan Ibni Majah: 360, Shahih Sunan Abi Dawud: 134, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4700, Misykah al-Mashobih: 407 dan Shifat Sholat an-Nabiy halaman 49.
[57] Sadzij dengan difat-hahkan atau dikasrahkan huruf dzalnya yaitu terompah yang tidak dihias, tidak berbulu atau mempunyai satu warna saja yang warna hitamnya tidak bercampur dengan warna lainnya. (Catatan kaki pada kitab Shahih Sunan Abi Dawud: I/ 32).
[58]  Shahih Sunan Abi Dawud: 141, Shahih Sunan Ibni Majah : 446 dan Mukhtashor  asy-Syama’il al-Muhammadiyah: 58.
[59] Shahih Sunan Ibni Majah: 442.
[60]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 115 dan Shahih Sunan Ibni Majah: 456.
[61]  Irwa’ al-Ghalil: 102.
[62] Shahih Sunan at-Turmudziy: 81, Shahih Sunan Ibni Majah: 441, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 114 dan Irwa’ al-Ghalil: 99.
[63] Shahih Sunan Abi Dawud: 140 dan Shahih Sunan at-Turmudziy: 83.
[64] Shahih Sunan Abi Dawud: 137 dan Irwa’ al-Ghalil: 97, 100.
[65]  Taysir al-Allam: I/ 69.
[66]  Shahih Sunan Ibni Majah: 445.
[67]  Shahih Sunan Ibni Majah: 444.
[68]  Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 448.
[69]  Fiq-h al-Ibadat halaman 95.
[70]  Untuk lebih jelasnya baca kitab “al-Mas-h ‘ala al-Jaurobain” (mengusap dua kaos kaki) susunan al-Allamah Muhammad Jamaluddin al-Qosimiy di Tahqiq oleh asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah cetakan al-Maktab al-Islamiy.
[71] Tamam al-Minnah halaman 115.
[72] Shahih Sunan Abi Dawud: 143, Shahih Sunan at-Turmudziy: 86, Shahih Sunan Ibni Majah: 453, Irwa’ al-Ghalil: 101 dan Misykah al-Mashobih: 523.
[73]  Shahih Sunan Ibni Maajah: 454.
[74] al-Mas-h ’ala al-Jaurabain (mengusap kedua kaos kaki ) halaman 53-54 .
[75] Shahih Sunan Abi Dawud: 146, Shahih Sunan at-Turmudziy: 85 dan Misykah al-Mashobih: 522.
[76] Shahih Sunan Abi Dawud: 147, Irwa’ al-Ghalil: 103 dan Misykah al-Mashobih: 525.
[77] Shahih Sunan Abi Dawud: 148.
[78]  Shahih Sunan Ibni Majah: 447 dan Shahih Sunan an-Nasa’iy: 125.
[79]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 152, 153, 123, Shahih Sunan at-Turmudziy: 84, 2801, Shahih Sunan Ibni Majah: 387 dan Irwa’ al-Ghalil: 103, 106.
[80]  Nail al-Awthar: I/ 231.
[81]  Shahih Sunan Ibni Majah: 448, 449 dan Shahih Sunan Abi Dawud: 142.
[82]  Shahih Sunan Ibni Majah: 450 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5189..
[83] Shahih Sunan Ibni Majah: 451, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 3455 dan Misykah al-Mashobih: 519.
[84] Shahih Sunan Ibnu Maajah: 452.
[85]  Fiq-h al-Ibadat halaman 95-96.
[86]  HR al-Bukhoriy: 5799, 182, 203, 206, 363, 388, 2918, 4421, 5798, Muslim: 274 (79), Abu Dawud: 151, Ahmad: IV/ 255 dan ad-Darimiy: I/ 181. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan Abi Dawud: 137 dan Irwa’ al-Ghalil: 97, 100.
[87] HR an-Nasa’iy: I/ 98, 84, Ahmad: IV/ 239, 240, at-Turmudziy: 96, 3535, Ibnu Majah: 478 dan Ibnu Khuzaimah: 17, 196. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan. Lihat Shahih Sunan an-Nasa’iy: 152, 153, 123, Shahih Sunan at-Turmudziy: 84, 2801, Shahih Sunan Ibni Majah: 387 dan Irwa’ al-Ghalil: 103, 106.
.[88] Shahih Sunan at-Turmudziy: 48, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 144, Shahih Sunan Abi Dawud: 155, Shahih Sunan Ibni Majah: 380, Irwa’ al-Ghalil: 96, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5803, Misykah al-Mashobih: 289, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 219, Nail al-Awthar bitakhrij Ahadits Kitab al-Adzkar: 76, 77 dan al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalim ath-Thayyib halaman 339.
[89] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2333, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6170, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 220, Nail al-Awthar bi takhriij Ahadits Kitab al-Adzkar: 78 dan al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalim ath-Thayyib halaman 341.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar