السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Jumat, 31 Mei 2013

UNTUK APA ANDA MANDI (2)??..

MANDI YANG DIANJURKAN
 بسم الله الرحمن الرحيم
Selain dari amalan-amalan yang mewajibkan mandi, ada juga amalan-amalan lain yang membutuhkan kepada mandi namun mandi di dalam hal ini hanyalah bersifat anjuran dan hukumnya sunnah.

Hal ini perlu diketahui, sebab diharapkan kepada setiap muslim untuk senantiasa berlomba-lomba kepada kebaikan. Beberapa amalan yang membutuhkan mandi di dalam bab ini, meskipun hanya bersifat anjuran tetapi jika dikerjakan dengan niat ikhlas karena Allah Subhanahu wa ta’ala niscaya akan mendatangkan banyak kebaikan, baik di dunia ataupun akhirat.

1). Dianjurkan mandi setiap kali jimak

Islam adalah agama yang bersih dan sangat menyukai kebersihan. Pun demikian dengan perkara-perkara yang berkaitan dengan masalah rumah tangga.

Sedangkan jimak merupakan salah satu dari beberapa kebutuhan suami dan istri. Mereka tidak hanya membutuhkan sandang, pangan dan papan saja namun juga hubungan yang dapat melekatkan dan mengeratkannya agar lebih harmonis dan romantis yaitu hubungan seksual atau jimak ini. Apalagi jika kebutuhan ini diharapkan dapat melahirkan generasi penerus bagi mereka berupa anak atau keturunan, maka hubungan seksual ini lebih sangat dibutuhkan lagi.

Namun ketika mereka melakukan hubungan seksual ini dalam kondisi yang tidak menyenangkan dari fisik, psikis ataupun lingkungannya maka hal ini akan dapat mengganggu dan merusak hubungan seksual tersebut menjadi tidak nyaman dan tidak pula menyenangkan. Maka dengan ini pulalah hubungan keduanya boleh jadi menjadi renggang, bersitegang dan bahkan di ambang jurang kehancuran.

Oleh sebab itu setiap muslim, bukan hanya berusaha menunaikan kewajibannya sebagai suami yang menggauli istrinya dengan cara ma’ruf atau sebagai istri yang berusaha memenuhi kehendak suaminya yang mengajaknya ke tempat tidur untuk berhubungan intim. Tetapi juga mereka hendaklah berusaha untuk memperhatikan hal-hal yang dapat menimbulkan keinginan, gairah dan kepuasan kepada pasangannya. Di antaranya adalah dengan memperhatikan kondisi tubuh, yakni seseorang di antara mereka ketika akan mendatangi pasangannya, hendaklah dalam keadaan bersih dan harum. Dan mandi adalah solusi atau jalan keluarnya, dengan mandi, tubuh akan menjadi segar, hilang kotoran dan bau-bauan yang tidak sedap dan pasangannyapun akan lebih senang dan bergairah. Apalagi jika kedua pasangan tersebut hendak mengulanginya kembali setelah cukup beristirahat.
Hal ini telah dikerjakan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang pernah menggilir seluruh istri-istrinya dalam satu malam. Dan setiap hendak menggilir salah seorang dari mereka, beliau mandi terlebih dahulu. Hal ini berdasarkan dalil hadits di bawah ini,

 عن أبي رافع أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم طَافَ ذَاتَ يَوْمٍ عَلَى نِسَائِهِ يَغْتَسِلُ عِنْدَ هَذِهِ وَ عِنْدَ هَذِهِ قَالَ: فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَلاَ تَجْعَلُهُ غُسْلاً وَاحِدًا؟ قَالَ: هَذَا أَزْكَى وَ أَطْيَبُ وَ أَطْهَرُ

Dari Abu Rafi’ radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam suatu hari pernah berkeliling (menjimak) istri-istrinya yang Beliau mandi di sisi yang ini dan di sisi yang itu. Berkata (Abu Rafi’), ”aku bertanya, ”Wahai Rosulullah tidakkah engkau menjadikannya satu kali mandi saja?”. Beliau menjawab, ”Ini lebih suci, lebih harum dan lebih bersih”. [HR Abu Dawud: 219, Ibnu Majah: 590 dan Ahmad: VI/ 8. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [1]

Mandi setiap kali hendak mengulangi jimak adalah lebih suci, lebih harum dan lebih bersih. Hal inipun disukai oleh suami istri yang melakukannya meskipun mencuci farji dan berwudlu itu sudah memadai sebagaimana telah diterangkan. [2]

2). Dianjurkan mandi bagi perempuan yang istihadlah setiap kali sholat

Penganjuran mandi selanjutnya adalah untuk perempuan yang mengalami istihadlah setiap kali hendak melakukan sholat.

عن عدي بن ثابت عن أبيه عن جده عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: اْلمـُسْتَحَاضَةُ تَدَعُ الصَّلاَةَ أَيَّامَ أَقْرَائِهَا ثُمَّ تَغْتَسِلُ وَ تَتَوَضَّأُ لِكُلِّ صَلاَةٍ وَ تَصُوْمُ وَ تُصَلِّي

Dari Adiy bin Tsabit dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang istihadlah meninggalkan sholat beberapa hari kebiasaan haidlnya kemudian ia mandi dan wudlu untuk setiap kali sholat. Ia juga mengerjakan shaum dan sholat”. [HR Ibnu Majah: 625, at-Turmudziy: 126, Abu Dawud: 297 dan ad-Darimiy: I/ 202. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[3]

عن فاطمة بنت أبي حبيش أَنَّهَا كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِذَا كَانَ دَمُ اْلحَيْضِ فَإِنَّهُ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِيْ عَنِ الصَّلاَةِ فَإِذَا كَانَ اْلآخَرُ فَتَوَضَّئِيْ وَ صَلِّيْ

Dari Fathimah binti Abi Hubaisy radliyallahu anha bahwasanya ia pernah mengalami istihadlah. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “jika itu darah haidl maka warna darahnya hitam yang dapat dikenal, jika itu yang engkau alami tahanlah dirimu dari sholat”. [HR Abu Dawud: 304, an-Nasa’iy: I/ 123 dan al-Hakim: 636. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [4]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, ”Hadits ini menunjukan atas wajibnya wudlu (bagi orang yang istihadlah) untuk setiap kali sholat”. [5]

عن عائشة قَالَتْ: اسْتُحِيْضَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبيِ حُبَيْشٍ فَسَأَلَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنيِّ أُسْتَحَاضُ فَلاَ أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ الصَّلاَةَ ؟ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : إِنمَّاَ ذَلِكَ عِرْقٌ وَ لَيْسَتْ بِاْلحَيْضَةِ فَإِذَا أَقْبَلَتِ اْلحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ وَ إِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِيْ عَنْكِ أَثَرَ الدَّمِ وَ تَوَضَّئِيْ فَإِنمَّاَ ذَلِكَ عِرْقٌ وَ لَيْسَتْ بِاْلحَيْضَةِ قِيْلَ لَهُ: فَاْلغُسْلُ؟ قَالَ: ذَلِكَ لاَ يَشُكُّ فِيْهِ أَحَدٌ

Dari Aisyah adliyallahu anha berkata, “Fathimah binti Hubaisy pernah mengalami istihadlah, lalu ia bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, ia berkata, “ Wahai Rosulullah, sesungguhnya aku mengalami istihadloh, maka aku tidak suci, bolehkah aku meninggalkan sholat?”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Yang demikian itu adalah cairan penyakit bukannya haidl, maka jika datang waktu haidl tinggalkanlah sholat dan apabila telah berlalu maka cucilah bekas darah darimu dan berwudlulah. Yang demikian itu hanyalah cairan penyakit dan bukannya haidl”. Ditanyakan kepadanya, “Kalau mandi bagaimana?”. Beliau menjawab, “hal tersebut, tiada seseorangpun yang ragu tentangnya”. [HR an-Nasa’iy: I/ 124. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih isnadnya]. [6]

عن حمنة بنت جحش قَالَتْ: كُنْتُ أُسْتُحَاضُ حَيْضَةً كَثِيْرَةً شَدِيْدَةً فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَسْتَفْتِيْهِ وَ أُخْبِرُهُ فَوَجَدْتُهُ فىِ بَيْتِ أُخْتىِ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنيِّ امْرَأَةٌ أُسْتُحَاضُ حَيْضَةً كَثِيْرَةً شَدِيْدَةً فَمَا تَرَى فِيْهَا قَدْ مَنَعَتْنىِ الصَّلاَةُ وَ الصَّوْمُ؟ فَقَالَ: أَنْعَتُ لَكِ اْلكُرْسُفَ فَإِنَّهُ يُذْهِبُ الدَّمَ قَالَتْ: هُوَ أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: فَاتَّخِذِيْ ثَوْبًا فَقَالَتْ: هُوَ أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ إِنمَّاَ أَثُجُّ ثَجًّا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : سَآمُرُكِ بِأَمْرَيْنِ أَيَّهُمَا فَعَلْتِ أَجْزَأَ عَنْكِ مِنَ اْلآخَرِ وَ إِنْ قَوِيْتِ عَلَيْهِمَا فَأَنْتِ أَعْلَمُ فَقَالَ لَهَا: إِنمَّاَ هَذِهِ رَكْضَةٌ مِنْ رَكَضَاتِ الشَّيْطَانِ فَتَحَيَّضِيْ سِتَّةَ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةَ أَيَّامٍ فىِ عِلْمِ اللهِ ثُمَّ اغْتَسِلِيْ حَتىَّ إِذَا رَأَيْتِ أَنَّكِ قَدْ طَهُرْتِ وَ اسْتَنْقَأْتِ فَصَلِّي ثَلاَثًا وَ عِشْرِيْنَ لَيْلَةً أَوْ أَرْبَعًا وَ عِشْرِيْنِ لَيْلَةً وَ أَيَّامَهَا وَ صُوْمِيْ فَإِنَّ ذَلِكَ يُجْزِيْكَ وَ كَذَلِكَ فَافْعَلِيْ كُلَّ شَهْرٍ كَمَا َتحِيْضُ النِّسَاءُ وَ كَمَا يَطْهُرْنَ مِيْقَاتَ حَيْضِهِنَّ وَ طُهْرِهِنَّ وَ إِنْ قَوِيْتِ عَلَى أَنْ تُؤَخِّرِي الظُّهْرَ وَ تُعَجِّلَ اْلعَصْرَ فَتَغْتَسِلِيْنَ وَ تَجْمَعِيْنَ بَيْنَ الصَّلاَتَيْنِ الظُّهْرِ وَ اْلعَصْرِ وَ تُؤَخِّرِيْنَ اْلمـَغْرِبَ وَ تُعَجِّلِيْنَ اْلعِشَاءَ ثُمَّ تَغْتَسِلِيْنَ وَ تَجْمَعِيْنَ بَيْنَ الصَّلاَتَيْنِ فَافْعَلِيْ وَ تَغْتَسِلِيْنَ مَعَ اْلفَجْرِ فَافْعَلِيْ وَ صُوْمِيْ إِنْ قَدِرْتِ عَلَى ذَلِكَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: هَذَا أَعْجَبُ اْلأَمْرَيْنِ إِلَيَّ

Dari Hamnah binti Jahsyi berkata, “Aku pernah mengalami istihadlah yang deras sekali, lalu aku mendatangi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk meminta fatwa kepadanya. Aku mendapatkan berita tentangnya lalu aku jumpai Beliau di rumah saudariku Zainab binti Jahsyi”. Aku berkata, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya aku mengalami istihadlah yang deras sekali, bagaimana pendapatmu, apakah ia mencegahku dari sholat dan shoum?”. Beliau menjawab, “Aku akan terangkan kepadamu, kain kapas (yang engkau lekatkan pada farji) dapat menghilangkan (atau menyerap) darah”. Hamnah berkata, “darahku lebih banyak dari itu”. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Ambillah kain”. Hamnah berkata lagi, ”Darahku lebih banyak lagi dari itu karena ia adalah darah yang mengalir”. Maka bersabdalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ”Aku akan perintahkan kepadamu dua hal, manapun yang engkau kerjakan niscaya mencukupimu dari yang lain, tetapi jikalau engkau mampu keduanya engkaulah yang lebih tahu”. Beliau bersabda kepadanya, ”Itu hanyalah satu gangguan dari beberapa gangguan setan, maka berhaidllah engkau enam atau tujuh hari di dalam ilmu Allah kemudian mandilah sehingga apabila engkau lihat (atau yakin) bahwa engkau telah suci dan telah sampai masa suci maka sholatlah selama dua puluh tiga atau dua puluh empat hari dan shoumlah. Maka sesungguhnya yang demikian itu cukup bagimu dan demikian pula hendaknya engkau lakukan setiap bulan sebagaimana perempuan haidl dan suci pada waktu haidl dan sucinya mereka. Jikalah engkau masih mampu maka hendaknya engkau mengakhiri sholat zhuhur dan menyegerakan sholat ashar lalu engkau mandi dan menjamak antara dua sholat yaitu zhuhur dan ashar, dan engkau mengakhirkan maghrib dan menyegerakan isya kemudian engkau mandi dan menjamak antara dua sholat yaitu maghrib dan isya, maka tunaikanlah. Engkau mandi bersama sholat fajar maka tunaikanlah dan shoumlah jika engkau mampu atas itu”. Lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Ini adalah dua perkara yang menakjubkan bagiku”. [HR Abu Dawud: 287, at-Turmudziy: 128, Ibnu Majah: 627 dan Ahmad: VI/ 381-382, 439, 439-440. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [7]

عن عائشة قَالَتْ: اسْتُحِيْضَتِ امْرَأَةٌ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَأُمِرَتْ أَنْ تُعَجِّلَ اْلعَصْرَ وَ تُؤَخِّرَ الظُّهْرَ وَ تَغْتَسِلَ لَهُمَا غُسْلاً وَ أَنْ تُؤَخِّرَ اْلمـَغْرِبَ وَ تُعَجِّلَ اْلعِشَاءَ وَ تَغْتَسِلَ لَهُمَا غُسْلاً وَ تَغْتَسِلُ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ غُسْلاً فَقُلْتُ (يَعْنيِ شُعْبَةَ) لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ: عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم ؟ فَقَالَ: لاَ أُحَدِّثُكَ إِلاَّ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم بِشَيْءٍ

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, ”Pernah seorang perempuan mengalami istihadlah di masa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”. Lalu ia disuruh untuk menyegerakan ashar dan mengakhirkan zhuhur dan mandi dengan sekali mandi untuk keduanya. Dan juga untuk mengakhirkan maghrib dan menyegerakan isya dan mandi dengan sekali mandi untuk keduanya. Dan juga mandi dengan sekali mandi untuk menunaikan sholat shubuh. Aku (yaitu Syu’bah) berkata kepada Abdurrahman, ”(Apakah itu) dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam?”. Ia menjawab, ”Aku tidak akan menceritakannya kepadamu tentang sesuatu melainkan dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam”. [HR Abu Dawud: 294 dan an-Nasa’iy: I/ 122. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

عن أسماء بنت عميس قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبيِ حُبَيْشٍ اسْتُحِيْضَتْ مُنْذَ كَذَا وَ كَذَا فَلَمْ تُصَلِّ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : سُبْحَانَ اللهِ هَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ لِتَجْلِسْ فىِ مِرْكَنٍ فَإِذَا رَأَتْ صَفْرَةً فَوْقَ اْلمـَاءِ فَلْتَغْتَسِلْ لِلظُّهْرِ وَ اْلعَصْرِ غُسْلاً وَاحِدًا وَ تَغْتَسِلُ لِلْمَغْرِبِ وَ اْلعِشَاءِ غُسْلاً وَاحِدًا وَ تَغْتَسِلُ لِلْفَجْرِ غُسْلاً وَ تَتَوَضَّأُ فىِ مَا بَيْنَ ذَلِكَ

Dari Asma binti Umais radliyallahu anha berkata, “Aku pernah bertanya, “Wahai Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sesungguhnya Fathimah binti Hubaisy mengalami istihadlah sejak ini dan itu dan tidak menunaikan sholat”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Subhaanallah, ini adalah dari setan hendaklah ia duduk di ruang cuci lalu apabila ia melihat warna kuning di atas air maka mandilah untuk menunaikan sholat zhuhur dan ashar dengan sekali mandi. Ia juga mandi untuk mengerjakan sholat maghrib dan isya dengan sekali mandi, juga mandi sekali mandi untuk melaksanakan sholat fajar, dan berwudlulah pada apa yang ada di antara demikian itu”. [HR Abu Dawud: 296. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

 عن أُمِّ حَبِيْبَةَ بِنْتِ جَحْشٍ اسْتُحِيْضَتْ سَبْعَ سِنِيْنَ فَأَمَرَهَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَنْ تَغْتَسِلَ فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ لِكُلِّ صَلاَةٍ

Dari Ummu Habibah binti Jahsyi radliyallahu anha, ia mengalami istihadlah selama tujuh tahun. Lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyuruhnya untuk mandi. Maka ia selalu mandi untuk setiap kali sholat. [HR Abu Dawud: 291, 292. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه و سلم قَالَتْ: اسْتُحِيْضَتْ أُمُّ حَبِيْبَةَ بِنْتُ جَحْشٍ وَ هِيَ تَحْتَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ سَبْعَ سِنِيْنَ فَشَكَتْ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ النَّبيُّ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ هَذِهِ لَيْسَتْ بِاْلحَيْضَةِ وَ إِنمَّاَ هُوَ عِرْقٌ فَإِذَا أَقْبَلَتِ اْلحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ وَ إِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِيْ وَ صَلِّي قَالَتْ عَائِشَةُ: فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ لِكُلِّ صَلاَةٍ ثُمَّ تُصَلِّي وَ كَانَتْ تَقْعُدُ فىِ مِرْكَنٍ لِأُخْتِهَا زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ حَتىَّ إِنْ حَمْرَةَ الدَّمِ لَتَعْلُو اْلمَاءَ

Dari Aisyah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Ummu Habibah binti Jahsyii istrinya Abdurrahman bin Auf pernah mengalami istihadlah selama tujuh tahun. Lalu ia mengadukan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam”. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ini bukanlah haidl tetapi ia hanyalah cairan penyakit. Apabila datang masa haidl maka tinggalkan sholat dan apabila telah lewat maka mandi dan sholatlah”. Aisyah berkata, ”Ummu Habibah senantiasa mandi untuk setiap kali sholat kemudian menunaikan sholat. Dan ia duduk di ruang cuci saudarinya Zainab binti Jahsyi sehingga warna merah darahnya melebihi warna air”. [HR Ibnu Majah: 626, al-Bukhoriy: 327, Muslim: 334, at-Turmudziy: 129 dan Abu Dawud: 288, 289, 290. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

Istihadlah adalah darah perempuan yang keluar terus menerus tanpa henti atau berhenti sebentar (satu atau dua hari) dalam sebulan dan hal dimanfaatkan oleh setan untuk menggoda kaum perempuan sehingga ada di antara mereka yang tidak melakukan sholat, shaum dan tidak pula menerima ajakan suaminya untuk berjimak. Padahal ini adalah perilaku yang keliru dan tidak dapat dibenarkan oleh syariat sebagaimana telah dituangkan dan dijelaskan dalil-dalilnya.

Jika ada seorang perempuan mengalami istihadlah maka hendaklah ia memperhatikan beberapa perkara di bawah ini;
  1. Apabila ia pernah berhaidl lalu ia mengalami istihadlah maka hendaklah ia mengambil jadwal haidl yang pernah terjadi padanya dalam sebulan. Maka berhaidllah ia seperti biasanya ia berhaidl, dan hendaklah ia menganggap selainnya adalah darah istihadlah yang ia sholat dan shaum padanya dan boleh berjimak dengan suaminya jika telah menikah.
  2. Atau apabila ia baru pertama kali mengalami haidl lalu langsung mengalami istihadlah namun ia dapat membedakan warna darah haidlnya yang kental, berwarna hitam atau aromanya yang khas. Di saat itulah ia menghitung waktu haidlnya dalam sebulan dan selebihnya adalah darah istihadlah, yang ia sholat dan shaum padanya dan boleh berjimak dengan suaminya jika sudah menikah.
  3. Atau seperti yang kedua, yakni ia baru mengalami haidl lalu ia langsung mengalami istihadlah namun ia tidak dapat membedakan darah haidlnya dari darah istihadlahnya maka ia mesti berketetapan untuk berhaidl selama enam atau tujuh hari dalam sebulan seperti umumnya perempuan lain mengalami haidl, lalu ia menganggap sisanya adalah darah istihadlah yang ia sholat dan shaum padanya. Dan boleh berjimak dengan suaminya jika sudah menikah sebagaimana perempuan normal lainnya.
Dianjurkan baginya untuk mandi setiap kali hendak sholat, atau menjadikan satu mandi untuk dua sholat yang dijamak misalnya; zhuhur dengan ashar dan maghrib dengan isya sedangkan shubuh dengan sekali mandi. Tetapi jika tidak, ia wajib berwudlu setiap kali sholat yang dilakukan sesudah masuknya waktu sholat.

3). Dianjurkan mandi setelah pingsan
         
 Penganjuran mandi selanjutnya adalah ketika siuman dari pingsan, hal ini sebagaimana telah dialami oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, dan Beliau dalam satu waktu mengalaminya beberapa kali pingsan.

عن عبيد الله بن عبد الله بن عتبة قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ فَقُلْتُ: أَلاَ تُحَدِّثِيْنىِ عَنْ مَرَضِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم ؟ قَالَتْ: بَلَى ثَقُلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: أَصَلَّى النَّاسُ ؟ قُلْنَا: لاَ هُمْ يَنْتَظِرُوْنَكَ قَالَ: ضَعُوْا لىِ مَاءً فىِ اْلمـِخْضَبِ قَالَتْ: فَفَعَلْنَا فَاغْتَسَلَ فَذَهَبَ لِيَنُوْءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ صلى الله عليه و سلم: أَصَلَّى النَّاسُ؟ قُلْنَا: لاَ, هُمْ يَنْتَظِرُوْنَكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: ضَعُوْا لىِ مَاءً فىِ اْلمِخْضَبِ قَالَتْ: فَقَعَدَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ ذَهَبَ لِيَنُوْءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ: أَصَلَّى النَّاسُ قُلْنَا: لاَ, هُمْ يَنْتَظِرُوْنَكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَقَالَ: ضَعُوْا لىِ مَاءً فىِ اْلمـِخْضَبِ فَقَعَدَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ ذَهَبَ لِيَنُوْءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ: أَصَلَّى النَّاسُ؟ فَقُلْنَا: لاَ هُمْ يَنْتَظِرُوْنَكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ النَّاسُ عُكُوْفٌ فىِ اْلمـَسْجِدِ يَنْتَظِرُوْنَ النَّبِيَّ عليه السلام لِصَلاَةِ اْلعِشَاءِ اْلآخِرَةِ … الخ

Dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah berkata, “Aku pernah masuk menemui Aisyah”. Aku berkata, ”Tidakkah engkau ceritakan kepadaku mengenai sakitnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam?”. Aisyah berkata, ”Boleh, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengalami sakit yang berat lalu bersabda, ”Apakah orang-orang telah menunaikan sholat?”. Kami jawab, ”Belum, mereka sedang menantikanmu”. Beliau bersabda, ”Letakkan air untukku di bejana”. Aisyah berkata, ”Maka kami melakukannya kemudian Beliau mandi lalu pergi untuk bangkit (dengan susah payah)”. Lalu tiba-tiba Beliau pingsan. Kemudian siuman kembali dan bersabda, ”Apakah orang-orang telah menunaikan sholat?”. Kami menjawab, ”Belum, mereka sedang menantikanmu wahai Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”. Beliau bersabda, ”Letakkan air untukku di bejana”. Aisyah berkata, ”lalu Beliau duduk dan mandi kemudian pergi untuk bangkit. Lalu tiba-tiba Beliau pingsan lagi. Kemudian siuman kembali lalu bersabda, ”Apakah orang-orang telah menunaikan sholat?”. Kami menjawab, ”Belum, mereka sedang menantikanmu wahai Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”. Beliau bersabda, ”Letakkanlah air untukku di bejana lalu Beliau duduk dan mandi kemudian pergi untuk bangkit tiba-tiba Beliau pingsan kembali”. Lalu siuman dan bersabda, ”Apakah orang-orang telah menunaikan sholat?”. Kami menjawab, ”Belum, mereka sedang menantikanmu wahai Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”. Dan orang-orang sedang berdiam diri di masjid menanti Nabi untuk menunaikan sholat isya yang akhir… dst. [HR al-Bukhoriy: 687, Muslim: 418, Ibnu Khuzaimah: 257 dan Ahmad: VI/ 228. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah , ”Hadits ini mempunyai banyak faidah yang dipaparkan di dalam syarah (penjelasan) hadits. Penyusun kitab ini telah menyitirnya di sini untuk dijadikan dalil atas dianjurkannya mandi bagi orang yang pingsan. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah melakukannya sebanyak tiga kali padahal Beliau sedang sakit berat. Maka hal ini menunjukan atas kuatnya penganjuran tersebut”.[13]

Maka berdasarkan dalil dan keterangannya di atas maka mandi bagi orang yang pingsan itu sangat dianjurkan namun tidak diwajibkan. Sebab jika mandi itu dapat membahayakan keselamatan jiwa maka diperbolehkan baginya untuk meninggalkannya dan mengganti dengan jenis thaharah yang lain misalnya wudlu atau tayammum. Sebagaimana yang pernah terjadi pada masa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam ketika ada orang terbunuh karena mandi junub sebab mimpi sedangkan ia dalam keadaan terluka di kepalanya, lalu Beliau mencela orang yang menyuruhnya mandi dan menetapkan tayammum bagi keadaan tersebut. [14]

4). Dianjurkan mandi setelah memandikan mayat

Telah berlalu anjuran berwudlu bagi orang yang ikut menggotong mayat atau jenazah ke pekuburan. Namun jika seorang itu muslim ikut memandikan jenazah saudaranya maka dianjurkan untuk mandi setelah memandikannya. Hal ini telah disebutkan di dalam beberapa riwayat hadits berikut ini,

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَنْ غَسَلَ اْلمـَيِّتَ فَلْيَغْتَسِلْ وَ مَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa yang memandikan mayat maka hendaklah ia mandi dan. Barangsiapa yang menggotongnya maka hendaklah berwudlu”. [HR Abu Dawud: 3161, at-Turmudziy: 993 dan Ahmad: II/ 280, 433, 454, 472. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

 عن ابن عباس رضي الله عنهما قَالَ: لَيْسَ عَلَيْكُمْ فىِ غَسْلِ مَيِّتِكُمْ غُسْلٌ إِذَا غَسَلْتُمُوْهُ فَإِنَّ مَيِّتَكُمْ لَيْسَ بِنَجَسٍ فَحَسْبُكُمْ أَنْ تَغْسِلُوْا أَيْدِيَكُمْ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, ”Tidak ada kewajiban atas kalian wajib di dalam memandikan mayat di antara kalian apabila kalian memandikannya karena sesungguhnya mayat kalian itu bukanlah najis. Maka cukuplah bagi kalian untuk mencuci tangan-tangan kalian”. [Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Telah mengeluarkan atsar ini al-Hakim: 1466 dan al-Baihaqiy. Berkata al-Hakim: Shahih berdasarkan syarat al-Bukhoriy dan al-Imam adz-Dzahabiypun menyepakatinya. Dan ia itu hanyalah Hasan isnadnya sebagaimana di katakan oleh al-Hafizh di dalam kitab at- Talkhiish-]. [16]

عن ابن عمر رضي الله عنهما قَالَ: كُنَّا نَغْسِلُ اْلمـَيِّتَ فَمِنَّا مَنْ يَغْتَسِلُ وَ مِنَّا مَنْ لاَ يَغْتَسِلَ

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, ”Kami pernah memandikan mayat, lalu di antara kami ada yang mandi dan di antara kami ada juga yang tidak mandi”. [Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Telah mengeluarkan atsar ini ad-Daruquthniy: 1802 dan al-Khathib dengan sanad yang shahih sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh]. [17]

Hadits dari Abu Hurairah radliyallahu anhu di atas menunjukkan perintah untuk mandi bagi yang telah memandikan mayat dan berwudlu bagi yang menggotongnya. Tetapi perintah tersebut hanyalah mengandung penganjuran dan tidak wajib karena hadits dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar radliyallahu anhuma berikutnya menerangkan diantara para shahabat radliyallahu anhum ada yang tidak melakukannya.

5). Dianjurkan mandi dari sebab menguburkan orang musyrik

          Begitu pula anjuran mandi selanjutnya adalah jika ada seorang muslim ikut menguburkan jenazah orang kafir atau musyrik, maka hendaklah ia mandi dengan mandi jenabat. Pada dasarnya, seorang muslim itu dilarang menguburkan jenazah orang kafir atau musyrik. Namun ketika jenazah itu tidak ada yang menguburkan karena suatu mashlahat maka mereka wajib menguburkannya tanpa memandikan, mengkafani, menyolatkan dan mendoakannya.

Hal ini sebagaimana telah diperintahkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalin radliyallahu anhu di dalam hadits berikut,

عن علي رضي الله عنه قَالَ: َلمــَّا تُوُفِّيَ أَبُوْ طَالِبٍ أَتَيْتُ النَّبيَّ صلى الله عليه و سلم فَقُلْتُ: إِنَّ عَمَّكَ الشَّيْخَ الضَّالَّ قَدْ مَاتَ فَمَنْ يُوَارِيْهِ قَالَ: اذْهَبْ فَوَارِهِ ثُمَّ لاَ تُحَدِّثْ شَيْئًا حَتىَّ تَأْتِيَنيِ فَقَالَ: إِنَّهُ مَاتَ مُشْرِكًا فَقَالَ: اذْهَبْ فَوَارِهِ قَالَ: فَوَارَيْتُهُ ثُمَّ أَتَيْتُهُ قَالَ: اذْهَبْ فَاغْتَسِلْ ثُمَّ لاَ تُحَدِّثْ شَيْئًا حَتىَّ تَأْتِيَنيِ قَالَ: فَاغْتَسَلْتُ ثُمَّ أَتَيْتُهُ قَالَ: فَدَعَا لىِ بِدَعَوَاتٍ مَا يَسُرُّنيِ أَنَّ ليِ بِهَا حُمُرَ النَّعَمِ وَ سُوْدَهَا قَالَ: وَ كَانَ عَلِيٌّ إِذَا غَسَلَ اْلمـَيِّتَ اغْتَسَلَ

Dari Ali radliyallahu anhu berkata, “Ketika Abu Thalib wafat, aku datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya pamanmu yaitu orang tua yang sesat sungguh-sungguh telah mati, maka siapakah yang akan menguburkannya?”. Beliau bersabda, “Pergi dan kuburkanlah lalu janganlah engkau berkata sesuatupun sehingga engkau mendatangiku”. Ali berkata, “Sesungguhnya ia telah mati dalam keadaan musyrik”. Beliau bersabda, “Pergi dan kuburkanlah”. Ali berkata, “Kemudian akupun menguburkannya lalu mendatanginya”. Beliau bersabda, ”Pergi dan mandilah lalu janganlah engkau berkata sesuatupun sehingga engkau mendatangiku”. Ali berkata, ”Lalu akupun mandi kemudian mendatanginya”. Ali berkata, ”Maka Beliau mendoakan kebaikan kepadaku dengan beberapa doa yang membuatku bahagia seakan aku memiliki unta merah dan hitamnya”. Ia (yaitu Abdurrahman as-Silmiy) berkata, ”Ali biasanya mandi apabila memandikan mayat”. [HR Ahmad: I/ 97, 103, Abu Dawud: 3214, an-Nasa’iy: I/ 110, IV/ 79-80 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: sanadnya Shahih]. [18]

Perintah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu di atas menerangkan tentang penganjuran mandi baginya ketika selesai dari menguburkan Abu Thalib ayahnya yang mati dalam keadaan kafir. Dan hal inipun berlaku bagi semua umatnya  karena hadits tersebut tidak ada pengkhususan hanya bagi Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu saja.

6). Dianjurkan mandi untuk dua ied dan hari arafah

Banyak dari kaum muslimin yang kurang mengerti akan anjuran ini, sebab mereka hanya mengerjakan mandi seperti mandi biasa sehari-hari. Penganjuran mandi ini bersifat khusus sebab mandi yang dimaksud adalah mandi seperti mandi janabat.

عن زادان قَالَ: سَأَلَ رَجُلٌ عَلِيًّا رضي الله عنه عَنِ اْلغُسْلِ؟ قَالَ: اغْتَسِلْ كُلَّ يَوْمٍ إِنْ شِئْتَ فَقَالَ: لاَ, اْلغُسْلُ الَّذِي هُوَ اْلغُسْلُ قَالَ: يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَ يَوْمَ عَرَفَةَ وَ يَوْمَ النَّحْرِ وَ يَوْمَ اْلفِطْرِ

Dari Zadan berkata, ”Pernah seorang lelaki bertanya kepada Ali radliyallahu anhu tentang mandi?”. Ali menjawab, ”Mandilah tiap hari jika engkau mau”. Ia berkata, ”Bukan itu (yang aku maksudkan), tetapi mandi yang dia itulah mandi (janabat)”. Ali menjawab, ”(Mandi) setiap jum’at, mandi hari arafah, mandi hari nahar (iedul adlha) dan mandi hari (iedul) fithri”. [Telah mengeluarkan atsar ini al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: sanadnya Shahih]. [19]

 عن سعيد بن المسيب أَنَّهُ قَالَ: سُنَّةُ اْلفِطْرِ ثَلاَثٌ اْلمـَشْيُ إِلىَ اْلمـُصَلَّى وَ اْلأَكْلُ قَبْلَ اْلخُرُوْجِ وَ اْلاغْتِسَالُ

Dari Sa’id bin al-Musayyab radliyallahu anhu, bahwasanya ia berkata, “Sunnah di dalam Iedul fithri itu ada tiga, yakni berjalan menuju lapangan, makan sebelum keluar (rumah) dan mandi”. [Telah mengeluarkan atsar ini al-Faryabiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: sanadnya shahih]. [20]
Dua atsar di atas menerangkan akan dianjurkannya mandi seperti mandi janabat bagi orang yang hendak berangkat untuk menunaikan sholat iedul adlha dan iedul fithri. Mandi ini juga dianjurkan bagi umat Islam yang hendak melaksanakan wukuf di Arafah pada waktu haji.

7). Dianjurkan mandi untuk ihram

Begitu pula dianjurkan untuk mandi bagi orang yang hendak memakai pakaian ihram ketika menunaikan ibadah haji atau umrah.

عن زيد بن ثابت أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم تَجَرَّدَ لِإِهْلاَلِهِ وَ اغْتَسَلَ

Dari Zaid bin Tsabit radliyallahu anhu bahwasanya ia pernah melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menanggalkan (pakaiannya) untuk berihlal dan mandi. [HR at-Turmudziy: 830, ad-Darimiy: II/ 31, ad-Daruquthniy dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [21]

عن جابر بن عبد الله فىِ حَدِيْثِ أَسمْاَءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ حِيْنَ نُفِسَتْ بِذِي اْلحُلَيْفَةِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم أمَرَ أَبيِ بَكْرٍ رضي الله عنه فَأَمَرَهَا أَنْ تَغْتَسِلَ وَ تُهِلَّ

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhuma mengenai hadits Asma binti Umais ketika nifas (melahirkan) [22] di Dzul Hulaifah, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan Abu Bakar radliyallahu anhu. Lalu Abu Bakar menyuruh istrinya (yaitu Asma) untuk mandi dan berihlal (untuk haji). [HR Muslim: 1209, 1210, an-Nasa’iy: I/ 122-123, 208, Ibnu Majah: 3074 dan Abu Dawud: 1743. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [23]

عن ابن عباس  أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: اْلحَائِضُ وَ النُّفَسَاءُ إِذَا أَتَتَا عَلَى اْلوَقْتِ تَغْتَسِلاَنِ وَ ُتحْرِمَانِ وَ تَقْضِيَانِ اْلمـَنَاسِكَ كُلَّهَا غَيْرَ الطَّواَفِ بِاْلبَيْتِ قَالَ مَعْمَرُ فىِ حَدِيْثِهِ: حَتىَّ تَطْهُرَ

Dari Ibnu Abbas adliyallahu anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Perempuan yang haidl dan nifas apabila telah sampai miqot hendaklah ia mandi, memakai pakaian ihram dan menunaikan semua ibadah haji kecuali thowaf di Ka’bah”. Berkata Abu Ma’mar di dalam haditsnya: sehingga ((kembali suci)). [HR Abu Dawud: 1744 dan Ahmad: I/ 364. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].[24]

 عن ابن عمر قَالَ: إِنَّ مِنَ السُّنَّةِ أَنْ يَغْتَسِلَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُحْرِمَ وَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْخُلَ مَكَّةَ

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, ”Sesungguhnya termasuk dari sunah adalah mandi apabila ingin berihram dan apabila ingin memasuki kota Mekkah”. [HR ad-Daruquthniy: 2409 dan al-Hakim: 1681, ia berkata: berdasarkan atas syarat dua syaikh (yaitu al-Bukhoriy dan Muslim) dan adz-Dzahabiy menyepakatinya dan hadits ini hanya shahih saja. Di dalam hadits ini ada Shal bin Yusuf dan dua syaikh tidak meriwayatkan darinya. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hadits ini kendatipun mauquf maka sesungguhnya ucapan Ibnu Umar ((termasuk dari sunnah)) yakni dari sunnahnya Rasulullah sebagaimana diakui di dalam ilmu ushul fiqih]. [25]

Berdasarkan dalil-dalil di atas maka bagi siapapun yang hendak melakukan ihram untuk menunaikan ibadah haji atau umrah disyariatkan untuk mandi. Bahkan bagi perempuan yang sedang nifas atau haidlpun diperintahkan mandi sebagaimana yang Beliau perintahkan kepada Asma binti Umais radliyallahu anha istrinya Abu Bakar radliyallahu anhu, lalu ia menunaikan manasik seluruhnya kecuali thawaf sebab sebagaimana telah diketahui bahwa thawaf itu serupa dengan sholat yang dilarang bagi perempuan haidl dan nifas untuk menunaikannya.

8). Dianjurkan mandi ketika masuk kota Mekkah

 Selanjutnya yang dianjurkan untuk mandi adalah ketika memasuki kota Mekkah untuk menunaikan thawaf ketika umrah atau haji.

   عن نافع أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ لاَ يَقْدِمُ مَكَّةَ إِلاَّ بَاتَ بِذِي طُوًى حَتىَّ يُصْبِحَ وَ يَغْتَسِلَ ثُمَّ يَدْخُلُ مَكَّةَ نَهَارًا وَ يَذْكُرُ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم أَنَّهُ فَعَلَهُ
           
Dari Nafi’ bahwasanya Ibnu Umar radliyallahu anhuma tidaklah memasuki kota Mekkah melainkan ia bermalam di Dzu Thuwa sampai shubuh dan mandi kemudian masuk kota Mekkah di waktu siang hari. Ia menyebutkan dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya Beliau juga melakukannya. [HR Muslim: 1259 (227) dan al-Bukhoriy: 1553, 1573. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[26]

Berkata Ibnu al-Mundzir rahimahullah, ”Mandi ketika masuk ke kota Mekkah adalah dianjurkan menurut seluruh ulama dan meninggalkannya menurut mereka tidaklah menyebabkan membayar fidyah. Mayoritas mereka mengatakan wudlu itu cukup darinya”. [27]

Wallahu a’la bi ash-Showab.

[1] Shahih Sunan Abi Dawud: 203, Shahih Sunan Ibni Majah: 480  dan Adab az-Zifaf halaman 107-108..
[2]Yaitu hadits dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila seseorang diantara kalian mendatangi istrinya kemudian ingin mengulanginya maka hendaklah ia berwudlu. Di dalam satu riwayat: karena hal itu lebih memberi semangat untuk mengulang”. [HR Muslim: 308, at-Turmudziy: 141, an-Nasa’iy: I/ 142, Abu Dawud: 220, Ibnu Majah: 587, Ahmad: III/ 21 dan Ibnu Khuzaimah: 219, 220. Tambahan hadits ini bagi Ibnu Khuzaimah: 221, Ibnu Hibban, al-Baihaqiy dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 164, Shahih Sunan at-Turmudziy: 122, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 255, Shahih Sunan Abi Dawud: 204, Shahih Sunan Ibni Majah: 477, Shahiih al-Jami’ ash-Shaghir: 263 dan Adab az-Zifaf halaman 107.
[3] Shahih Sunan Ibni Majah: 508, Shahih Sunan at-Turmudziy: 109, Shahih Sunan Abi Dawud: 286, Irwaa’ al-Ghalil: 207 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6698.
[4] Shahih Sunan Abi Dawud: 297, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 209, 210, Irwa’ al-Ghalil: 204 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 765.
[5] Nail al-Awthar: I/ 343.
[6]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 211.
[7] Shahih Sunan Abi Dawud: 267, Shahih Sunan at-Turmudziy: 110, Shahih Sunan Ibni Majah: 509, Irwa’ al-Ghalil: 188, 205, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3585 dan Misykah al-Mashobih: 561.
[8] Shahih Sunan Abi Dawud: 281 dan Shahih Sunan an-Nasai’iy: 207.
[9] Shahih Sunan Abi Dawud: 283.
[10] Shahih Sunan Abi Dawud: 273, 274.
[11] Shahih Sunan Ibnu Majah: 509, Shahih Sunan at-Turmudziy: 111, Shahih Sunan Abi Dawud: 268, 269, 270, 271, Irwa’ al-Ghalil: 148, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2272 dan Tamam al-Minnah halaman 122
[12] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 366, Mukhtashor Shahih Muslim: 319, Irwa’ al-Ghalil: 147 dan Tamam al-Minnah halaman 123.
[13]  Nail al-Awthar: I/ 304-305.
[14]  Akan datang hadits dan takhrijnya di dalam bab “Tayammum”, in syaa Allah ta’ala.
[15] Shahih Sunan Abi Dawud: 2707, Shahih Sunan at-Turmudziy: 791, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6402, Irwa’ al-Ghalil: 144, Tamam al-Minnah halaman 112 dan  Ahkam al-Jana’iz halaman 71.
[16] Ahkam al-Jana’iz halaman 71-72.
[17] Ahkam al-Jana’iz halaman 72.
[18] Shahih Sunan Abi Dawud: 2753, Shahih Sunan an-Nasa’iy:184, 1895, Ahkam al-Jana’iz halaman 169-170 dan Tamam al-Minnah halaman 123.
[19] Irwa’ al-Ghalil: I/ 177.
[20]  Irwa’ al-Ghalil: III/ 104.
[21]  Shahih Sunan at-Turmudziy: 664 dan Irwa’ al-Ghalil: 149.
[22]  Di dalam riwayat lain dari Aisyah radliyallahu anha, Asma binti Umais radliyallahu anha melahirkan Muhammad bin Abu Bakar radliyallahu anhu di bawah sebuah pohon. (Nail al-Awthar: I/ 300).
[23]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 208, 416, Shahih Sunan Ibni Majah: 2492 dan Shahih Sunan Abi Dawud: 1533.
[24] Shahih Sunan Abi Dawud: 1534, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3166 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1818.
[25] Irwa’ al-Ghalil: I/ 179.
[26] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 257, 779, Mukhtashor Shahih Muslim: 690 dan Irwa’ al-Ghalil: 150.
[27]  Fat-h al-Bariy: III/ 435 dan Nail al-Awthar: I/ 300.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar