السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Jumat, 31 Mei 2013

UNTUK APA ANDA MANDI (1)??..

YANG MEWAJIBKAN MANDI
 بسم الله الرحمن الرحيم

Sebagaimana wudlu, akan dibahas di dalam fasal ini beberapa perkara yang mewajibkan mandi. Hal ini wajib diketahui oleh kaum muslimin agar mereka dapat menyempurnakan keislaman mereka dan juga dalam rangka melaksanakan perintah Allah Azza wa Jalla dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Sebab haram hukumnya seorang muslim menunaikan sholat dalam keadaan junub yang disebabkan mimpi atau jimak dengan salah seorang istrinya baik keluar mani (inzal) ataupun tidak, perempuan yang telah berhenti masa haidl atau nifasnya atau selainnya sehingga mereka mengerjakan mandi yang telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Sayangnya, jika seluruh kaum muslimin ditanya tentang kewajiban mandi, tata caranya dan hal-hal yang berkaitan dengannya, banyak di antara mereka yang menggeleng-gelengkan kepala atau terbengong-bengong lantaran tidak mengetahuinya. Bahkan banyak diantara mereka yang telah menikah selama belasan bahkan puluhan tahun yang tidak mengerti sama sekali akan perintah, penyebab dan kaifiyatnya. Mudah-mudahan risalah ini dan semisalnya dari beberapa kitab lainnya dapat membantu mereka di dalam memahami dan mempraktekkannya.

Di antara yang mewajibkan mandi sebagaimana telah banyak diterangkan dalam kitab-kitab fikih adalah sebagai berikut,

1). Keluarnya mani dengan sebab syahwat di dalam tidur ataupun terjaga

Hal pertama yang mewajibkan mandi berupa mandi janabat adalah keluarnya mani yang disebabkan syahwat yang terjadi dalam mimpi ataupun terjaga. Terkadang seseorang itu keluar mani selain dari jimak dengan pasangannya adalah bermimpi, masturbasi dan selainnya. Hal ini berlaku bagi kaum lelaki dan perempuan, baik yang sudah berpasangan ataupun belum. Maka siapa saja di antara mereka yang keluar mani dengan sebabnya maka wajiblah mandi baginya dengan mandi janabat.
Berkata asy-Syaikh Sayyid Sabiq, “(Wajib mandi itu lantaran beberapa perkara). Yang pertama; Keluarnya mani dengan sebab syahwat di dalam keadaan tidur atau terjaga baik kaum lelaki ataupun perempuan. Ini berdasarkan pendapat umumnya para ahli fikih (fuqaha)”. [1]

عن خولة بنت حكيم قَالَتْ: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنِ اْلمـَرْأَةِ تَحْتَلِمُ فىِ مَنَامِهَا فَقَالَ: إِذَا رَأَتِ اْلمـَاءَ فَلْتَغْتَسِلْ
          
 Dari Khaulah binti Hakim radliyallahu anha berkata, ‘Aku pernah bertanya kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang perempuan yang bermimpi di dalam tidurnya”. Beliau menjawab, ”apabila ia melihat air (mani) maka hendaklah ia mandi”. [HR an-Nasa’iy: I/ 115. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

عنها أَنهَّاَ سَأَلَتْ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنِ اْلمـَرْأَةِ تَرَى فىِ مَنَامِهَا مَا يَرَى الرَّجُلُ؟ فَقَالَ: لَيْسَ عَلَيْهَا غُسْلٌ حَتىَّ تُنْزِلَ كَمَا أَنَّهُ لَيْسَ عَلَى الرَّجُلِ غُسْلٌ حَتىَّ يُنْزِلَ
           
Dari Khaulah binti Hakim radliyallahu anha bahwasanya ia pernah bertanya kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang perempuan yang bermimpi di dalam tidurnya seperti bermimpinya kaum lelaki?. Beliau menjawab, “tidak ada kewajiban mandi sampai keluarnya (air mani), sebagaimana bahwasanya tidak ada kewjiban mandi bagi kaum lelaki sampai keluarnya (air mani)”. [HR Ibnu Majah: 602 dan Ahmad: VI/ 409. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan].[3]

عن أم سلمة قَالَتْ: جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ إِلىَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحْيِ مِنَ اْلحَقِّ فَهَلْ عَلَى اْلمـَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا احْتَلَمَتْ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: نَعَمْ إِذَا رَأَتِ اْلمـَاءَ فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ تَحْتَلِمُ اْلمَرْأَةُ ؟ فَقَالَ: تَرِبَتْ يَدَاكِ فَبِمَ يُشْبِهُهَا وَلَدُهَا؟
           
Dari Ummu Salamah radliyallahu anha berkata, “Ummu Sulaim radliyallahu anha pernah datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu bertanya, “Wahai Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran maka apakah bagi perempuan ada kewajiban mandi apabila ia bermimpi?”. Rosulullah menjawab, “Ya, apabila ia melihat air (mani)”. Berkata Ummu Salamah, “Wahai Rosulullah apakah perempuan itu bermimpi?”. Beliau menjawab, “Mudah-mudahan kedua tanganmu penuh berkah maka dengan apakah anaknya itu menyerupai dirinya?”. [HR Muslim: 313, al-Bukhoriy: 130, 282, 3328, 6091, 6121, an-Nasa’iy: I/ 114-115 dan Ibnu Majah: 600. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

عن  عروة  أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ كَلَّمَتْ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَ عَائِشَةُ جَالِسَةٌ فَقَالَتْ لَهُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحْيِ مِنَ اْلحَقِّ أَرَأَيْتَ اْلمـَرْأَةَ تَرَى فىِ النَّوْمِ مَا يَرَى الرَّجُلُ أَفَتَغْتَسِلُ مِنْ ذَلِكَ؟ فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: نَعَمْ قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ لَهَا: أُفٍّ لَكِ أَوَ تَرَى اْلمـَرْأَةُ ذَلِكَ؟ فَالْتَفَتَ إِليَّ رَسُوْلُ اللهِ  rفَقَالَ: تَرِبَتْ يَمِيْنُكَ فَمِنْ أَيْنَ يَكُوْنُ الشَّبَهُ
          
Dari Urwah bahwasanya Aisyah radliyallahu anha mengkhabarkan kepadanya bahwa Ummu Sulaim pernah berbicara kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sedangkan Aisyah sedang duduk (di sisinya). Ummu Sulaim bertanya, “Wahai Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran maka bagaimana pendapatmu mengenai perempuan yang bermimpi di dalam tidur seperti bermimpinya kaum lelaki?. Maka apakah ia harus mandi dari sebab itu?”. Maka Rosulullah bersabda kepadanya, “Ya”. Aisyah berkata kepada Ummu Sulaim, “Ciss, apakah perempuan bermimpi akan hal itu?”. Maka berpalinglah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepadaku seraya bersabda, “Mudah-mudahan kedua tanganmu penuh berkah, maka dari manakah adanya penyerupaan (anaknya dengan dirinya)?”. [HR an-Nasa’iy: I/ 112-113, Abu Dawud: 237 dan Muslim: 314. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

عن أنس أَنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ سَأَلَتْ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنِ اْلمـَرْأَةِ تَرَى فىِ مَنَامِهَا مَا يَرَى الرَّجُلُ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِذَا رَأَتْ ذَلِكَ فَأَنْزَلَتْ فَعَلَيْهَا اْلغُسْلُ فَقَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَ يَكُوْنُ هَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ مَاءُ الرَّجُلِ غَلِيْظٌ أَبْيَضُ وَ مَاءُ اْلمـَرْأَةِ رَقِيْقٌ أَصْفَرُ فَأَيُّهُمَا سَبَقَ أَوْ عَلاَ أَشْبَهَهُ اْلوَلَدُ
           
Dari Anas radliyallahu anhu bahwasanya Ummu Sulaim radliyallahu anha pernah bertanya kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang perempuan yang bermimpi di dalam tidurnya seperti bermimpinya kaum lelaki?. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila ia bermimpi hal tersebut dan keluar (air mani), maka wajiblah mandi atasnya”. Ummu Sulaim bertanya, “Wahai Rosulullah apakah hal itu dapat terjadi?”. Beliau menjawab, “Ya, airnya lelaki adalah keras keputihan dan airnya perempuan adalah lembut kekuningan. Maka manakah di antara keduanya lebih dahulu atau menguasai maka anak itu akan menyerupainya”. [HR Ibnu Majah: 601, an-Nasa’iy: I/ 114, Muslim: 311 dan Ibnu Khuzaimah: 235. berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

عن علي قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه و سلم عَنِ اْلمـَذْيِ فَقَالَ: فِيْهِ اْلوُضُوْءُ وَ فىِ اْلمـَنِيِّ اْلغُسْلُ

Dari Ali radliyallahu anhu berkata, ”Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang madzi, maka Beliau bersabda, ”Padanya ada wudlu dan pada mani ada mandi”. [HR Ibnu Majah: 504 dan at-Turmudziy: 114, Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih ]. [7]

عن عائشة قَالَتْ سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنِ الرَّجُلِ يَجِدُ اْلبَلَلَ وَ لاَ يَذْكُرُ احْتِلاَمًا؟ قَالَ: يَغْتَسِلُ وَ عَنِ الرَّجُلِ يَرَى أَنَّهُ قَدِ احْتَلَمَ وَ لَمْ يَجِدْ بَلَلاً؟ قَالَ: لاَ غُسْلَ عَلَيْهِ قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلْ عَلَى اْلمـَرْأَةِ تَرَى ذَلِكَ غُسْلٌ ؟ قَالَ: نَعَمْ إِنَّ النِّسَاءَ شَقَائِقُ الرِّجَالِ

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, ’Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang lelaki yang menjumpai basah dan ia tidak ingat bermimpi?. Beliau menjawab, ”Ia (wajib) mandi”. Dan Beliau ditanya tentang lelaki yang bermimpi tetapi tidak menjumpai basah?. Beliau bersabda, ”Tiada mandi atasnya”. Ummu Salamah bertanya, ”Wahai Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apakah wajib mandi atas perempuan yang bermimpi hal itu?”. Beliau menjawab, ”Ya, karena sesungguhnya perempuan itu belahan (atau saudara)nya lelaki”. [HR at-Turmudziy: 113, Abu Dawud: 236, Ibnu Majah: 612 dan Ahmad: VI/ 256. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

Maka siapapun yang mengeluarkan air mani dari lelaki ataupun perempuan dari sebab mimpi ataupun terjaga maka ia wajib mandi. Terkadang seseorang tidak merasakan bermimpi tetapi ia terbangun dalam keadaan mendapati basah air mani pada pangkal pahanya atau celananya maka iapun wajib mandi, berbeda dengan orang yang yakin telah bermimpi tetapi ia tidak menjumpai basah maka ia tidak wajib mandi.

Perempuanpun niscaya mengalami mimpi sebagaimana halnya kaum lelaki, sebab banyak anak yang dilahirkan mirip dan menyerupai ibunya. Sebagaimana telah dituturkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bahwa jika mani perempuan berhasil mengalahkan atau menguasai mani suaminya maka anak itu dimungkinkan akan menyerupai ibunya. Dan begitupun sebaliknya, jika mani lelaki mengalahkan dan menguasai mani istrinya maka anak itu dimungkinkan akan menyerupai bapaknya. Maka dengan inilah dipahami bahwa kaum perempuanpun memiliki air mani sebagaimana kaum lelaki, dan dengan ini pulalah dimengerti bahwa kaum perempuan juga dapat mengalami mimpi sebagaimana dialami kaum lelaki. Wallahu a’lam.

2). Pertemuan dua khitan

Hal lain yang mewajibkan mandi janabat adalah pertemuan dua khitan yakni antara khitan lelaki dan perempun. Yaitu khitan lelaki telah memasuki khitan perempuan, baik inzal (keluar mani) ataupun tidak. Hal ini telah diungkapkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam beberapa dalil berikut ini,

عن أبي هريرة أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِذَا قَعَدَ بَيْنَ شُعَبِهَا اْلأَرْبَعِ وَ أَلْزَقَ اْلخِتَانُ بِاْلخِتَانِ فَقَدْ وَجَبَ اْلغُسْلَ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila telah duduk diantara empat cabang dan melekatnya khitan dengan khitan maka wajiblah mandi”. [HR Abu Dawud: 216, al-Bukhoriy: 291, Muslim: 348, an-Nasa’iy: I/ 110-111, 111 dan Ibnu Majah: 610. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

 عن أبي موسى قَالَ: اخْتَلَفَ فىِ ذَلِكَ رَهْطٌ مِنَ اْلمـُهَاجِرِيْنَ وَ اْلأَنْصَارِ فَقَالَ اْلأَنْصَارِيُّوْنَ: لاَ يَجِبُ اْلغُسْلُ إِلاَّ مِنَ الدَّفْقِ أَوْ مِنَ اْلمـَاءِ وَ قَالَ اْلمـُهَاجِرُوْنَ: بَلْ إِذَا خَالَطَ فَقَدْ وَجَبَ اْلغُسْلُ قَالَ: قَالَ أَبُوْ مُوْسَى فَأَنَا أَشْفِيْكُمْ مِنْ ذَلِكَ فَقُمْتُ فَاسْتَأْذَنْتُ عَلَى عَائِشَةَ فَأَذِنَ ليِ فَقُلْتُ لَهَا: يَا أُمَّاهْ (أَوْ يَا أُمَّ اْلمـُؤْمِنِيْنَ) إِنيِّ أُرِيْدُ أَنْ أَسْأَلَكَ عَنْ شَيْءٍ وَ إِنيِّ أَسْتَحْيِيْكَ فَقَالَتْ: لاَ تَسْتَحْيِ أَنْ تَسْأَلَنيِ عَمَّا كُنْتَ سَائِلاً عَنْهُ أُمَّكَ الَّتيِ وَلَدَتْكَ فَإِنمَّاَ أَنَا أُمُّكَ قُلْتُ: فَمَا يُوْجِبُ اْلغُسْلَ؟ قَالَتْ: عَلَى اْلخَبِيْرِ سَقَطْتَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا اْلأَرْبَعِ وَ مَسَّ اْلخِتَانُ اْلخِتَانَ فَقَدْ وَجَبَ اْلغُسْلُ

Dari Abu Musa radliyallahu anhu berkata, ”Sekelompok orang dari golongan Muhajirin dan Anshor berselisih di dalam hal tersebut”. Berkata golongan Anshor, ”Tidak wajib mandi kecuali dari sebab (air) memancar atau dari air (mani)”. Berkata golongan Muhajirin, ”Bahkan apabila telah tercampur maka wajiblah mandi”. Berkata (yaitu Abu Burdah), ’Berkata Abu Musa, ”Aku akan menyembuhkan kalian dari yang demikian itu. Lalu aku berdiri dan minta idzin kepada Aisyah radliyallahu anha (untuk bertemu). Maka ia mengidzinkanku. Aku bertanya kepadanya, ”Wahai ibu (atau wahai ummul mukminin) sesungguhnya aku ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu tetapi aku malu kepadamu”. Aisyah radliyallahu anha berkata, ”Janganlah engkau malu untuk bertanya kepadaku tentang apa yang engkau tanyakan kepada ibumu yang melahirkanmu”. Maka sesungguhnya aku adalah ibumu. Aku bertanya, ”Apakah yang mewajibkan mandi?”. Ia menjawab engkau kebetulan bertemu dengan yang tahu. Telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam , ”Apabila duduk di antara empat cabang dan khitan telah menyentuh khitan maka sungguh-sungguh telah wajib mandi”. [HR Muslim: 349, Ibnu Khuzaimah: 227 dan Ahmad: VI/ 47, 97, 112. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه و سلم  قَالَتْ: إِذَا الْتَقَى اْلخِتَانَانِ فَقَدْ وَجَبَ اْلغُسْلُ فَعَلْتُهُ أَنَا وَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَاغْتَسَلْنَا

Dari Aisyah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata, ”Apabila dua khitan telah saling bertemu maka sungguh-sungguh telah wajib mandi. Aku dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melakukannya dan kami mandi”. [HR Ibnu Majah: 608 dan at-Turmudziy: 108. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

عنها قَالَتْ: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: إِذَا جَاوَزَ اْلخِتَانُ اْلخِتَانَ وَجَبَ اْلغُسْلُ

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, ’Telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam , ”Apabila khitan telah melewati khitan maka wajiblah mandi”. [HR at-Turmudziy: 109 dan Ahmad: VI/ 16. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[12]

عنها أيضا قَالَتْ: إِنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنِ الرَّجُلِ يُجَامِعُ أَهْلَهُ ثُمَّ يُكْسِلُ هَلْ عَلَيْهِمَا اْلغُسْلُ ؟ وَ عَائِشَةُ جَالِسَةٌ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : إِنىِّ لَأَفْعَلُ ذَلِكَ أَنَا وَ هَذِهِ ثُمَّ نَغْتَسِلُ

Dari Aisyah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya ada seorang lelaki bertanya kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang seseorang yang menjimak (mencampuri) istrinya kemudian timbul rasa malas. [13] Maka apakah keduanya wajib mandi?, sedangkan Aisyah radliyallahu anha sedang duduk (di dekatnya). Rosulullah bersabda, “Sesungguhnya aku dan dia ini pernah melakukan hal itu lalu kami mandi”. [HR Muslim: 350 ].
Demikian dalil beberapa hadits yang mewajibkan mandi bagi lelaki muslim ataupun istrinya yang melakukan jimak (hubungan intim). Namun karena sesuatu hal timbullah rasa malas darinya atau ia tergesa-gesa melakukannya karena ada orang yang memanggilnya, ada suara tangisan anaknya, atau ada suara gaduh yang mengganggu kegiatannya sehingga air maninya tidak keluar. Yaitu selama farji suami sudah masuk ke dalam farji istrinya tetapi tidak sampai inzal (keluar mani) maka keduanya tetap wajib mandi dengan mandi janabat, karena tidak sah dan tidak diterima sholat mereka berdua kecuali dengannya.

Adapun hadits-hadits,

عن أبي سعيد الخدري قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَوْمَ اْلاِثْنَيْنِ إِلىَ قُبَاءٍ حَتىَّ إِذَا كُناَّ فىِ بَنيِ سَالِمٍ وَقَفَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم  عَلَى بَابِ عِتْبَانَ فَصَرَخَ بِهِ فَخَرَجَ يَجُرُّ إِزَارَهُ فَقَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه و سلم : أَعْجَلْنَا الرَّجُلَ فَقَالَ عِتْبَانُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يُعْجِلُ عَنِ امْرَأَتِهِ وَ لَمْ يُمْنِ مَا ذَا عَلَيْهِ؟ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : إِنمَّاَ اْلمـَاءُ مِنَ اْلمـَاءِ

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, ‘Aku pernah keluar bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pada hari senin ke Kuba sehingga ketika kami sampai di Bani Salim, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berdiri di depan pintu rumah Itban. Lalu Beliau berteriak memanggilnya maka keluarlah Itban dalam keadaan menyeret sarungnya. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Apakah kami telah membuat seorang lelaki tergesa-gesa”. Itban bertanya, ”Wahai Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bagaimana pendapatmu tentang seorang lelaki yang tergesa-gesa dari istrinya dan akhirnya tidak keluar air maninya, apakah yang wajib atasnya?”. Rosulullah bersabda, ”Air itu hanyalah dari sebab air”. [14] [HR Muslim: 343, Abu Dawud: 217, an-Nasa’iy: I/ 115, at-Turmudziy: 112, Ibnu Majah: 608, Ibnu Khuzaimah: 233, 234, Ahmad: III/ 29, 36, 47, IV/ 143, 342, V/ 416, 421 dan ad-Darimiy: I/ 194. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

عن زيد بن خالد الجهني أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَأَلَ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانٍ فَقَالَ: أَرَأَيْتَ إِذَا جَامَعَ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ فَلَمْ يُمْنِ؟ قَالَ عُثْمَانُ: يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ وَ يَغْسِلُ ذَكَرَهُ قَالَ عُثْمَانُ: سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَسَأَلْتُ عَنْ ذَلِكَ عَلِيَّ بْنَ أَبيِ طَالِبٍ وَ الزُّبَيْرَ بْنَ اْلعَوَّامِ وَ طَلْحَةَ بْنَ عُبَيْدِ اللهِ وَ أُبَيَّ بْنَ كَعْبِ رضي الله عنه فَأَمَرُوْهُ بِذَلِكَ

Dari Zaid bin Khalid al-Juhniy mengkhabarkannya bahwasanya ia pernah bertanya kepada Utsman bin Affan radliyallahu anhu. Ia bertanya, ”Apakah pendapatmu apabila seorang lelaki menjimak istrinya lalu tidak keluar air mani?”. Utsman berkata, ”Ia berwudlu seperti berwudlunya untuk sholat dan mencuci farjinya”. Utsman berkata, ”Aku pernah mendengarnya dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”. Lalu aku bertanya hal itu kepada Ali bin Abi Thalib, az-Zubair bin al-Awwam, Thal-hah bin Ubaidullah dan Ubay bin Ka’b radliyallahu anhu maka mereka menyuruhnya dengan yang demikian itu”. [Telah mengeluarkan atsar ini al-Bukhoriy: 292 dan Muslim: 347 ].

عن أبي بن كعب أَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِذَا جَامَعَ الرَّجُلَ اْلمـَرْأَةَ فَلَمْ يُنْزِلْ؟ قَالَ: يَغْسِلُ مَا مَسَّ اْلمـَرْأَةَ مِنْهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وَ يُصَلِّي

Dari Ubay bin Ka’b radliyallahu anhu bahwasanya ia berkata, “Wahai Rosulullah apabila seorang lelaki menjimak istrinya lalu tidak keluar air mani?”. Beliau menjawab, “Ia mencuci apa yang mengenai istrinya kemudian ia berwudlu dan sholat”. [HR al-Bukhoriy: 293, Muslim: 346 dan Ahmad: V/ 113, 114. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [16]

Beberapa dalil di atas menunjukkan tidak wajibnya mandi di awal Islam setelah berjimak dengan istri namun tidak sampai keluar air mani (inzal) tetapi hanyalah dianjurkan untuk mencuci farji atau kemaluannya dan wudlu. Kemudian setelah itu datanglah perintah mandi dari sebab jimak atau bertemunya dua khitan baik keluar air mani ataupun tidak. Hal ini berdasarkan dalil-dalil sebelumnya dan juga atsar di bawah ini,

 عن أبي بن كعب أَنَّ اْلفُتْيَا الَّتىِ كَانُوْا يُفْتُوْنَ أَنَّ اْلمـَاءَ مِنَ اْلمـَاءِ كَانَتْ رُخْصَةً رَخَّصَهَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فىِ بَدْءِ اْلإِسْلاَمِ ثُمَّ أُمِرَ بِاْلاِغْتِسَالِ بَعْدُ

Dari Ubay bin Ka’b radliyallahu anhu bahwasanya fatwa yang mereka fatwakan bahwasanya air itu dari air merupakan rukhshoh yang diberikan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di awal Islam kemudian diperintahkan mandi sesudah itu. [Telah mengeluarkan atsar ini Abu Dawud: 215, Ibnu Majah: 609, Ahmad: V/ 116 dan Ibnu Khuzaimah: 225. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [17]

Islam adalah agama yang sangat sempurna, tiada sesuatupun yang dapat memasukkan pemeluknya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka niscaya agama ini telah menjelaskannya dengan terang. Jika setiap muslim membaca, menelaah dan berusaha memahami ajaran agamanya yang berdasarkan alqur’an dan hadits-hadits shahih niscaya ia akan menjumpai berbagai kebaikan dan faidah. Yakni masalah hubungan seksual yang merupakan kebutuhan bagi setiap manusia telah dijelaskan dengan santun, gamblang dan sempurna. Islam tidak hanya menjelaskan tentang tata cara dan adab berhubungan intim, faidah-faidah dan selainnya. Namun juga mengajarkan tentang perintah dan tata cara mensucikan diri darinya berupa mandi janabat ini.

3). Terhentinya darah haidl dan nifas

Hal lainnya yang mewajibkan mandi adalah terhentinya kaum perempuan dari darah haidl atau nifas. Haidl adalah darah alami yang mengalir keluar dari dalam rahim perempuan melalui farjinya, pada waktu yang diketahui dan tanpa melalui sebab. Darah haidl biasanya keluar selama tujuh atau sepuluh atau yang terlama lima belas hari. Setiap perempuan mempunyai waktu yang berbeda di dalam mengeluarkan darah haidl.

Sedangkan nifas itu adalah darah yang mengalir keluar dari rahim perempuan dari sebab melahirkan, baik bersamaan dengan kelahiran tersebut, sesudahnya ataupun sebelumnya yang diiringi oleh rasa sakit. Dan keluarnya darah nifas biasanya selama empat puluh hari, bisa berkurang dan bisa juga lebih.

Disaat darah haidl atau nifas dari seorang perempuan telah berhenti, maka disaat itulah ia telah bersih tetapi ia tetap tidak boleh melakukan sholat, shaum dan selainnya sebelum melakukan mandi haidl.
Namun terkadang banyak kekeliruan dan kesalahan yang dilakukan oleh kaum perempuan yakni di antara mereka ada yang suka menunda-nunda waktu untuk mandi. Ada di antara mereka yang belum mandi padahal mereka sudah bersih dari darah haidl dan kewajiban sholatpun sudah datang kepada mereka, sehingga datang waktu sholat yang lain.

Maka hendaklah mereka sangat memperhatikan masalah ini, yakni jika telah lewat masa haidl mereka lantaran darahnya sudah berhenti dan keadaan mereka sudah bersih, hendaklah mereka bersegera untuk menunaikan mandi haidl sebagaimana telah disyariatkan di dalam alqur’an dan hadits-hadits yang telah tsabit dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Bahkan jika mereka tidak mendapatkan air untuk mandi atau akan dapat menimbulkan bahaya jika menggunakan air, maka tidak mengapa mereka bertayammum dengan debu. Namun tatkala mereka telah mendapatkan air atau bahaya menggunakan air sudah hilang maka wajib bagi mereka untuk mandi dengan mandi haidl.

عن عَائِشَةَ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ حُبَيْشٍ سَأَلَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَتْ: إِنيِّ أُسْتَحَاضُ فَلاَ أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ الصَّلاَةَ ؟ فَقَالَ: لاَ إِنَّ ذَلِكَ عِرْقٌ وَ لَكِنْ دَعِي الصَّلاَةَ قَدْرَ اْلأَيَّامِ الَّتيِ كُنْتِ تَحِيْضِيْنَ فِيْهَا ثُمَّ اغْتَسِلِيْ وَ صَلِّي

Dari Aisyah radliyallahu anha bahwasanya Fatimah binti Hubaisy pernah bertanya kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ia berkata, “Sesungguhnya aku sedang istihadlah, maka aku tidak bersih, bolehkah aku meninggalkan sholat?”. Beliau bersabda, “Tidak, sesungguhnya yang demikian itu adalah cairan penyakit, tetapi tinggalkanlah sholat seukuran hari yang biasanya engkau haidl kemudian mandi dan sholatlah”. [HR al-Bukhoriy: 325, 228, 306, 320, 331, Muslim: 333, an-Nasa’iy: I/ 122, 124, Ahmad: VI/ 194 dan ad-Darimiy: I/ 198. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

Kalimat, ((Tinggalkanlah sholat seukuran hari yang biasanya engkau haidl kemudian mandi dan sholatlah)), menunjukkan bahwasanya jika seorang perempuan haidl dan telah selesai dari haidlnya maka ia wajib mandi sebelum menunaikan sholat.
Berkata asy-Syaikh Sayyid Sabiq, ”Meskipun hadits ini datang mengenai haidl, namun nifas itu keadaannya sama seperti haidl sesuai dengan ijmak para shahabat”. [19]

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, ”Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa perempuan itu apabila ia dapat membedakan darah haidl dan darah istihadlah maka ia menguji darah haidl dan bertindak atas maju mundurnya. Lalu apabila selesai kadar (waktu)nya ia mandi darinya kemudian jadilah hukum darah istihadlah itu seperti hukum hadats yang ia berwudlu setiap kali sholat. Tetapi ia tidak boleh sholat dengan wudlu tersebut lebih dari satu sholat fardu yang ditunaikan atau dilaksanakan karena zhahirnya sabda Nabi ((kemudian berwudlulah setiap kali sholat))”. [20]

عن عائشة قَالَتْ: اسْتُحِيْضَتْ أُمُّ حَبِيْبَةَ بِنْتُ جَحْشٍ امْرَأَةُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَ هِيَ أُخْتُ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ فَاسْتَفْتَتْ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : إِنَّ هَذِهِ لَيْسَتْ بِاْلحَيْضَةِ وَ لَكِنْ هَذَا عِرْقٌ فَإِذَا أَدْبَرَتِ اْلحَيْضَةُ فَاغْتَسِلِيْ وَ صَلِّي وَ إِذَا أَقْبَلَتْ فَاتْرُكِيْ لَهَا الصَّلاَةَ قَالَتْ عَائِشَةُ: فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ لِكُلِّ صَلاَةٍ وَ تُصَلِّي وَ كَانَتْ تَغْتَسِلُ أَحْيَانًا فىِ مِرْكَنٍ فىِ حُجْرَةِ أُخْتِهَا زَيْنَبَ وَ هِيَ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم حَتىَّ أَنَّ حَمْرَةَ الدَّمِ لَتَعْلُو اْلمـَاءَ وَ تَخْرُجُ فَتُصَلِّي مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَمَا َيمْنَعُهَا ذَلِكَ مِنَ الصَّلاَةِ

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, “Ummu Habibah binti Jahsyi istrinya Abdurrahman bin Auf pernah istihadlah dan ia juga adalah saudara perempuannya Zainab binti Jahsyi”. Ia meminta fatwa kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Maka bersabdalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepadanya, “Sesungguhnya ini bukanlah (darah) haidl tetapi cairan penyakit. Apabila haidl telah berlalu maka mandi dan sholatlah dan apabila (haidl) datang maka tinggalkan sholat”. Aisyah berkata, “Maka ia mandi setiap kali sholat dan menunaikan sholat. Kadang-kadang ia mandi di tempat cuci di kamar saudarinya yaitu Zainab sedangkan ia ada di sisi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sehingga merah darahnya benar-benar mengalahkan (atau melebihi warna) air. Lalu ia keluar dan sholat bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan Beliau tidak mencegahnya dari sholat”. [HR an-Nasa’iy: I/ 118-119, al-Bukhoriy: 326, Muslim: 334 dan al-Hakim: 635. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [21]

Kalimat, ((apabila haidl telah berlalu maka mandi dan sholatlah)) membuktikan bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan perempuan yang telah usai masa haidlnya untuk mandi dan baru kemudian sholat.

عنها أَنَّ أَسمْاَءَ سَأَلَتِ النَّبِيَّ  صلى الله عليه و سلم عَنْ غَسْلِ اْلمـَحِيْضِ ؟ فَقَالَ: تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَ هَا وَ سِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطَّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيْدًا حَتىَّ تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا اْلمـَاءَ ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطَهَّرُ بِهَا فَقَالَتْ أَسمْاَءُ: وَ كَيْفَ تَطَهَّرُ بِهَا؟ فَقَالَ: سُبْحَانَ اللهِ تَطَهَّرِيْنَ بِهَا فَقَالَتْ عَائِشَةُ (كَأَنهَّاَ تُخْفِى ذَلِكَ): تَتَّبَعِيْنَ أَثَرَ الدَّمِ وَ سَأَلْتُهُ عَنْ غُسْلِ اْلجَنَابَةِ؟ فَقَالَ: تَأْخُذُ مَاءً فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطَّهُوْرَ أَوْ تُبْلِغُ الطَّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتىَّ تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا ثُمَّ تُفِيْضُ عَلَيْهَا اْلمـَاءَ فَقَالَتْ عَائِشَةُ: نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ اْلأَنْصَارِ لَمْ يَكُنْ يَمْنَعُهُنَّ اْلحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فىِ الدِّيْنِ

Dari Aisyah radliyallahu anha bahwasanya Asma’ pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang mandi haidl. Beliau menjawab, ”Hendaklah seseorang di antara kalian mengambil air dan daun sidrahnya (sekarang ini misalnya sabun). Lalu ia bersuci dan membaguskan bersucinya. Kemudian ia menuangkan (air) di atas kepalanya lalu menggosok-gosoknya dengan kuat sehingga mencapai ujung kepala. Selanjutnya ia menuangkan air (ke seluruh tubuhnya), kemudian mengambil kain yang diberi wewangian lalu ia membersihkan dengannya”. Asma berkata, ”Bagaimana cara membersihkan dengannya?”. Beliau bersabda, ”Subhanallah, engkau bersihkan dengannya”. Aisyah berkata (seolah-olah ia merahasiakan hal itu), ”Iikutilah sisa-sisa darah”. Asma juga bertanya tentang mandi janabat. Beliau menjawab, ”Hendaklah ia mengambil air lalu ia bersuci dan membaguskan atau menyempurnakan bersucinya. Kemudian menuangkan air di atas kepalanya dan menggosok-gosoknya sehingga sampai keujung kepala lalu mengguyurkan air atasnya”. Aisyah berkata, ”Sebaik-baik perempuan adalah perempuan anshor karena rasa malu tidak mencegah mereka untuk memahami agama”. [HR Muslim: 332, al-Bukhoriy: 314, 315, 7357, an-Nasa’iy: I/ 136-137, Abu Dawud: 314, 315, 316, Ibnu Majah: 642 dan Ahmad: VI/ 122, Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [22]

Pertanyaan Asma binti Syakl radliyallahu anha [23] kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang kaifiyat (tata cara) mandi haidl di atas menunjukkan bahwa umat Islam generasi pertama dari kalangan perempuan itu telah sangat memahami akan kewajiban mandi haidl tatkala telah bersih darinya. Wallahu a’lam.

4). Kematian

Di antara mandi yang diwajibkan adalah memandikan mayat atau jenazah. Jika seorang muslim wafat maka amalan yang mesti dikerjakan oleh kaum muslimin lainnya yang masih hidup adalah memandikan, mengkafani, menyolatkan dan menguburkannya.

Di dalam memandikan jenazah itu disyariatkan untuk memulai dari sebelah kanan dan anggota-anggota wudlu dari jenazah. Hal ini berdasar dalil hadits di bawah ini,

     عن أم عطية الأنصارية رضي الله عنها قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم حِيْنَ تُوُفِّيَتِ ابْنَتُهُ فَقَالَ: اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِذَا رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَ سِدْرٍ وَ اجْعَلْنَ فىِ اْلآخِرَةِ كَافُوْرًا أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُوْرٍ فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فَآذِنَّنىِ فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ فَأَعْطَانَا حَقْوَهُ فَقَالَ: أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ تَعْنىِ إِزَارَهُ (قَالَتْ: وَ مَشَّطْنَا ثَلاَثَةَ قُرُوْنٍ) (وَ فىِ رِوَايَةٍ: نَقَضْنَهُ ثُمَّ غَسَلْنَهُ) (فَضَفَّرْنَا شَعْرَهَا ثَلاَثَةَ أَثْلاَثٍ قَرْنَيْهَا وَ نَاصِيَتَهَا وَ أَلْقَيْنَاهَا خَلْفَهَا) (قَالَتْ: وَ قَالَ لَنَا: ابْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا وَ مَوَاضِعِ اْلوُضُوْءِ مَنْهَا

Dari Ummu Athiyyah al-Anshoriyah radliyallahu anha berkata, ‘Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah masuk kepada kami ketika wafat putrinya”. Beliau bersabda, ”Mandikanlah dia tiga (siraman), lima atau lebih, apabila kalian berpandangan seperti itu dengan air dan daun sidrah (atau sabun) dan jadikanlah diakhir siraman dengan kapur (barus) atau sesuatu dari kapur. Apabila kalian telah selesai khabarkan kepadaku”. Ketika kami telah selesai maka kami mengabarkannya. Lalu beliau memberikan kainnya. Beliau bersabda, ”Pakaikan kain itu kepadanya”. (Berkata Ummu Athiyyah, ”Kami menyisiri (rambut)nya dengan tiga kepangan”). (Di dalam satu riwayat, ”Kami mengurainya lalu mencucinya”). Lalu kami menjalin rambutnya menjadi tiga bagian yaitu dua kepang bagian tanduk dan satu kepang di ubun-ubun. Dan kami meletakkannya ke arah belakang. Berkata (Ummu Athiyyah), ’Beliau bersabda kepada kami, ”Mulailah dari bagian yang kanan-kanan dan anggota-anggota wudlu darinya”. [HR al-Bukhoriy: 1253, 1254, 1257, 1258, 1261, 1263, Muslim: 939, at-Turmudziy: 990, an-Nasa’iy: IV/ 28-29, 30, 31, 32, 33, Abu Dawud: 3142, Ibnu Majah: 1458, 1459 dan Ahmad: V/ 84-85, 407-408. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[24]

عن ابن عباس رضي الله عنهما قَالَ: بَيْنَمَا رَجُلٌ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ إِذْ وَقَعَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَوَقَصَتْهُ -أَوْ قَالَ: فَأَوْقَصَتْهُ- قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم : اغْسِلُوْهُ بِمَاءٍ وَ سِدْرٍ وَ كَفِّنُوْهُ فىِ ثَوْبَيْنِ وَ لاَ تُحَنِّطُوْهُ وَ لاَ تُخَمِّرُوْا رَأْسَهُ فَإِنَّهُ يَبْعَثُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مُلَبِّيًا
    
Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, ‘Ketika itu ada sesorang lelaki sedang wukuf di Arafah tiba-tiba ia jatuh dari kendaraannya yang telah melemparkannya”. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Mandikanlah dia dengan air dan daun sidrah, kafanilah dia dengan dua kain, janganlah kalian membalseminya dan jangan pula menutupi kepalanya. Karena sesungguhnya ia nanti akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah”. [HR al-Bukhoriy: 1265, 1266, 1267, 1268, 1839, 1849, 1850, 1851, Muslim: 1206, at-Turmudziy: 951, an-Nasa’iy: IV/ 39, V/ 195, 196, 197, Ibnu Majah: 3084, Ahmad: I/ 215, 328, 333 dan ad-Darimiy: II/ 50. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [25]

Dua dalil di atas menerangkan perintah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada para shahabat untuk memandikan jenazah yaitu jenazah putrinya Zainab radliyallahu anha dan seorang muslim yang terjatuh dari kendaraannya ketika wukuf di Arafah. Dan asal hukum perintah adalah wajib selama tidak ada yang memalingkannya.

 عن عائشة قَالَتْ: َلمــَّا أَرَادُوْا غُسْلَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالُوْا: وَاللهِ مَا نَدْرِي أَنُجَرِّدُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم مِنْ ثِيَابِهِ كَمَا نُجَرِّدُ مَوْتَانَا أَمْ نَغْسِلُهُ وَ عَلَيْهِ ثِيَابُهُ؟ فَلَمَّا اخْتَلَفُوْا أَلْقَى اللهُ عَلَيْهِمُ النَّوْمَ حَتىَّ مَا مِنْهُمْ رَجُلٌ إِلاَّ وَ ذَقَنُهُ فىِ صَدْرِهِ ثُمَّ كَلَّمَهُمْ مُكَلِّمٌ مِنْ نَاحِيَةِ اْلبَيْتِ لاَ يَدْرُوْنَ مَنْ هُوَ: أَنِ اغْسِلُوْا النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم  وَ عَلَيْهِ ثِيَابُهُ فَقَامُوْا إِلىَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَغَسَلُوْهُ وَ عَلَيْهِ قَمِيْصُهُ يَصُبُّوْنَ اْلمـَاءَ فَوْقَ اْلقَمِيْصِ وَ يَدْلُكُوْنَهُ بِالْقَمِيْصِ دُوْنَ أَيْدِيْهِمْ وَ كَانَتْ عَائِشَةُ تَقُوْلُ: لَوِ اسْتَقْبَلْتُ مِنْ أَمْرِى مَا اسْتَدْبَرْتُ مَا غَسَلَهُ إِلاَّ نِسَاؤُهُ
           
Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, ‘Ketika mereka (yakni para shahabat) ingin memandikan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mereka berkata, “Demi Allah, kami tidak tahu apakah kami akan melucuti Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dari pakaiannya sebagaimana kami melucuti orang yang mati di antara kami ataukah memandikannya dengan memakai pakaiannya?”. Ketika mereka sedang berselisih, Allah menimpakan tidur kepada mereka sehingga tiada seorang lelaki di antara mereka melainkan dagunya bersandar pada dadanya (tertidur). Kemudian berkatalah seseorang yang berkata di pojokan rumah yang mereka tidak mengenal siapa dia, ”Mandikanlah ia dengan mengenakan pakaiannya”. Lalu merekapun berdiri menuju Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kemudian memandikannya dengan tetap mengenakan baju (gamis)nya. Mereka menuangkan air di atas gamis dan menggosok-gosoknya dengan gamis di bawah tangannya. Aisyah berkata, ”Andaikata aku menghadapi urusan maka aku tidak akan membelakanginya (menghindar). Tiada yang memandikannya melainkan istri-istrinya”. [HR Abu Dawud: 3141, Ahmad: VI/ 267, al-Hakim, al-Baihaqiy dan ath-Thoyalisiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan].[26]

Apabila seseorang mengalami kematian maka wajiblah bagi segolongan dari kaum muslimin yang masih hidup untuk menyegerakan memandikannya. Yaitu kaum lelaki memandikan mayat lelaki dan kaum perempuan memandikan mayat perempuan, dikecualikan seorang suami memandikan istrinya yang telah wafat dan begitu pula sebaliknya. Diutamakan di dalam memandikan mayat itu orang yang paling mengerti sunnah memandikan, terlebih dari keluarga dan kerabatnya. Di dalam memandikan mayat itu hendaknya seseorang tidak mengharapkan sesuatu imbalan apapun kecuali keridloan Allah semata dan pahala kebaikan dari-Nya. [27]

5). Orang kafir jika masuk Islam

Hidayah untuk menerima dan memeluk agama Islam itu dapat dimiliki oleh siapapun dari manusia yang Allah Azza wa Jalla kehendaki. Sehingga ketika hidayah itu telah menyentuh kalbu, menundukkan hati dan menentramkan jiwanya maka dikala itulah ia mengawalinya dengan mandi, lalu mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda akan keislamannya. Hal ini sebagaimana yang diperintahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada Qois bin Ashim radliyallahu anhu dan yang dilakukan oleh Tsumamah bin Utsal al-Hanafiy radliyallahu anhu di dalam dua hadits berikut ini,

عن قيس بن عاصم قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم أُرِيْدُ اْلإِسْلاَمَ فَأَمَرَنيِ أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَ سِدْرٍ

Dari Qois bin Ashim radliyallahu anhu berkata, ”Aku pernah mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam karena aku ingin (masuk) Islam. Lalu Beliau menyuruhku untuk mandi dengan air dan daun sidrah”.  [HR Abu Dawud: 355, an-Nasa’iy: I/ 109 dan Ahmad: V/ 61. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [28]

 عن أبي هريرة يَقُوْلُ: إِنَّ ثَمَامَةَ بْنَ أُثَالٍ اْلحَنَفِيَّ انطْلَقَ إِلىَ نَجْلٍ  قَرِيْبٍ مِنَ اْلمـَسْجِدِ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ دَخَلَ إِلىَ اْلمـَسْجِدِ فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُ رُسُوْلُهُ يَا مُحَمَّدُ ! وَاللهِ مَا كَانَ عَلَى اْلأَرْضِ وَجْهٌ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْ وَجْهِكَ فَقَدْ أَصْبَحَ وَجْهُكَ أَحَبَّ اْلوُجُوْهِ كَلِّهَا إِلَيَّ وَ إِنَّ خَيْلَكَ أَخَذَتْنيِ وَ أَنَا أُرِيْدُ اْلعُمْرَةَ فَمَاذَا تَرَى ؟ فَبَشَّرَهُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم  وَ أَمَرَهُ أَنْ يَعْتَمِرَ -مُخْتَصَرًا-

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, “Sesungguhnya Tsumamah bin Utsal al-Hanafiy pergi ke Najal [29] dekat dari masjid. Kemudian ia mandi lalu masuk menuju masjid dan berkata,

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أن محمدا عبده و رسوله

“Wahai Muhammad, demi Allah, dahulu tiada wajah di muka bumi yang lebih aku benci selain dari wajahmu. Maka sungguh sekarang wajahmu adalah yang paling aku cintai dari seluruh wajah. Sesungguhnya pasukan kudamu telah menahanku sedangkan aku ingin menunaikan umrah maka bagaimanakah pendapatmu?”. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan kabar gembira kepadanya dan menyuruhnya berumrah. -secara ringkas- [HR an-Nasa’iy: I/ 109-110, Muslim: 1764, al-Bukhoriy: 469, 4372, Abu Dawud: 2679, Ibnu Khuzaimah: 252 dan Ahmad: II/ 246, 304, 452, 483. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [30]

Dalil di atas menunjukan tentang mandinya seseorang apabila hendak masuk Islam. Sebab Islam adalah agama yang bersih dan indah serta mencintai kebersihan dan keindahan.

6). Mandi jum’at

Perkara lain yang mensyariatkan wajibnya mandi adalah tatkala seorang muslim hendak menunaikan sholat jum’at.

Dan untuk pembahasan mandi jum’at telah diuraikan pada beberapa pembahasan yang lalu di dalam blog ini juga, di dalam “Hukum mandi Jum’at, Sempurnakan Jum’at anda dengan mandi Jum’at!!. [31]

Silahkan melihat kepada pembahasan tersebut. Semoga bermanfaat untukku, keluargaku dan seluruh kaum muslimin.
Wallahu a’lam bish Showab.

[1]  Fiq-h as-Sunnah: I/ 48.
[2]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 192.
[3] Shahih Sunan Ibni Majah: 486 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2187.
[4]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 191 dan Shahih Sunan Ibni Majah: 484.
[5]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 190 dan Shahih Sunan Abu Dawud: 217.
[6] Shahih Sunan Ibni Majah: 485, Shahiih Sunan an-Nasa’iy: 194, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1342 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5501.
[7] Shahih Sunan Ibni Majah: 407, Shahih Sunan at-Turmudziy: 99, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5910 dan Misykah al-Mashobih: 311.
[8] Shahih Sunan at-Turmudziy: 98, Shahih Sunan Abi Dawud: 216, Shahih Sunan Ibni Majah: 496 dan Misykah al-Mashobih: 441.
[9] Shahih Sunan Abi Dawud: 200, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 165, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 185, 186, Shahih Sunan Ibni Majah: 494, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 736 dan Misykah al-Mashobih: 430.
[10] Mukhtashor Shahih Muslim: 152, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 480 dan Irwa’ al-Ghalil: 80, 127.
[11] Shahih Sunan Ibni Majah: 492, Shahih Sunan at-Turmudziy: 94, Irwa’ al-Ghalil: 80, silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1261 dan Misykah al-Mashobih: 442.
[12] Shahih Sunan at-Turmudziy: 95, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 476 dan Misykah al-Mashobih: 442.
[13] Maksudnya timbul rasa malas sehingga tidak keluarnya air mani.
[14] Hanyalah air maksudnya wajib menggunakan air yakni mandi dari sebab air maksudnya keluarnya air yang memancar yaitu mani. [Catatan kaki pada Misykah al-Mashobih: I/ 135 dan Fat-h al-Bariy: I/ 398].
[15] Shahih Sunan Abi Dawud: 201, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 193, Shahih Sunan at-Turmudziy: 97, Shahih Sunan Ibni Majah: 607, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2329 dan Misykah al-Mashobih: 431.
[16]  Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 166.
[17]  Shahih Sunan Abi Dawud: 199 dan Shahih Sunan Ibni Majah: 493.
[18]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 206, 212, 213, Irwa’ al-Ghalil: 195, 203 dan Misykah al-Mashobih: 557.
[19]  Fiq-h as-Sunnah: I/ 50.
[20]  Fat-h al-Bariy: I/ 409-410.
[21]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 198.
[22] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 177, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 177,  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 245, Shahih Sunan Abi Dawud: 306, 307, 308 dan Shahih Sunan Ibni Majah: 525
[23]  Fat-h al-Bariy: I/ 415.
[24]  Shahih Sunan at-Turmudziy: 789, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1774, 1777, 1778, 1779, 1781, 1782, 1785, 1786, Shahih Sunan Ibni Majah: 1193, 1194, Irwa’ al-Ghalil: 129 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 65.
[25] Shahih Sunan at-Turmudziy: 759, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1796, 2671, 2672, 2673, 2674, 2675, 2676, Shahih sunan Ibni Majah: 2503, Irwa’ al-Ghalil: 130 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 22-23.
[26] Shahih Sunan Abi Dawud: 2693 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 66.
[27] Untuk lebih jelas baca kitab “Ahkam al-Jana’iz wa bida’uha” disusun oleh asy-Syaikh al-Albaniy dari halaman 64-75.
[28] Shahih Sunan Abi Dawud: 342, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 182, Irwa’ al-Ghalil: 128 dan Misykah al-Mashobih: 543.
[29] Kumpulan (kebun) pohon kurma yang ada aliran airnya.
[30] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 183, Shahih Sunan Abi Dawud: 2331 dan Irwa’ al-Ghalil: 1216.
[31] http://cintakajiansunnah.blogspot.com/2012/07/sempurnakan-jumatmu-dengan-mandi.htmldan http://cintakajiansunnah.wordpress.com/2012/06/05/hukum-mandi-jumat/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar