السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Jumat, 31 Mei 2013

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad bin Baz rahimahullah

ULAMA AHLI HADITS
بسم الله الرحمن الرحيم

Asy-Syaikh bin Baz, menurut asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy, adalah seorang tokoh ahli fiqih yang diperhitungkan di jaman kiwari ini, sebagaimana asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy juga seorang ulama ahlul hadits yang handal masa kini. Untuk mengenal lebih dekat siapa beliau, mari kita simak penuturan beliau mengungkapkan data pribadinya berikut ini.

Asy-Syaikh mengatakan, “Nama lengkap saya adalah Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Muhammad bin Abdillah Ali (keluarga) Baz. Saya dilahirkan di kota Riyadh pada bulan Dzulhijah 1330 H. Dulu ketika saya baru memulai belajar agama, saya masih bisa melihat dengan baik. Namun qodarullah pada tahun 1346 H, mata saya terkena infeksi yang membuat rabun. Kemudian lama-kelamaan karena tidak sembuh-sembuh mata saya tidak dapat melihat sama sekali. Musibah ini terjadi pada tahun 1350 Hijriyah. Pada saat itulah saya menjadi seorang tuna netra. Saya ucapkan alhamdulillah atas musibah yang menimpa diri saya ini. Saya memohon kepada-Nya semoga Dia berkenan menganugerahkan bashirah (mata hati) kepada saya di dunia ini dan di akhirat serta balasan yang baik di akhirat seperti yang dijanjikan oleh-Nya melalui nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa sallam atas musibah ini. Saya juga memohon kepadanya keselamatan di dunia dan akhirat.

Mencari ilmu telah saya tempuh semenjak masa anak-anak. Saya hafal alqur’an al-Karim sebelum mencapai usia baligh. Hafalan itu diujikan di hadapan asy-Syaikh Abdullah bin Furaij. Setelah itu saya mempelajari ilmu-ilmu syariat dan bahasa Arab melalui bimbingan ulama-ulama kota kelahiran saya sendiri. Para guru yang sempat saya ambil ilmunya adalah;

1). Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Lathif bin Abdirrahman bin Hasan bin asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang hakim di kota Riyadh.
2). Asy-Syaikh Hamid bin Faris, seorang pejabat wakil urusan Baitul Mal, Riyadh.
3). Asy-Syaikh Sa’d, Qadhi negeri Bukhara, seorang ulama Makkah. Saya menimba ilmu tauhid darinya pada tahun 1355 H.
4). Samahah asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Lathief Alu asy-Syaikh, saya bermuzalamah padanya untuk mempelajari banyak ilmu agama, antara lain; akidah, fikih, hadits, nahwu, faraidh (ilmu waris), tafsir, sirah, selama kurang lebih 10 tahun. Mulai 1347 sampai tahun 1357 H.


Semoga Allah membalas jasa-jasa mereka dengan balasan yang mulia dan utama.

Dalam memahami fiqih saya memakai thariqah (mahdzab -red) Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Hal ini saya lakukan bukan semata-mata taklid kepada beliau, akan tetapi yang saya lakukan adalah mengikuti dasar-dasar pemahaman yang beliau tempuh. Adapun dalam menghadapi ikhtilaf ulama, saya memakai metodologi tarjih, kalau dapat ditarjih dengan mengambil dalil yang paling shahih. Demikian pula ketika saya mengeluarkan fatwa, khususnya bila saya temukan silang pendapat di antara para ulama baik yang mencocoki pendapat Imam Ahmad atau tidak. Karena alhaq (kebenaran) itulah yang pantas diikuti. Allah berfirman (yang artinya -red), “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah dia kepada Allah (alqur’an) dan Rasul-Nya (as-Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” [an-Nisa/4: 59]”.

TUGAS-TUGAS SYAR’IY

”Banyak jabatan yang diamanahkan kepada saya yang berkaitan dengan masalah keagamaan. Saya pernah mendapat tugas sebagai,

1). Hakim dalam waktu yang panjang, sekitar 14 tahun. Tugas itu berawal dari bulan Jumadil Akhir tahun1357H.
2). Pengajar Ma’had Ilmi Riyadh tahun 1372 H dan dosen ilmu fikih, tauhid, dan hadits sampai pada tahun 1380 H.
3).  Wakil Rektor Universitas Islam Madinah pada tahun 1381-1390 H.
4). Rektor Universitas Islam Madinah pada tahun 1390 H menggantikan rektor sebelumnya yang wafat yaitu asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Ali asy-Syaikh. Jabatan ini saya pegang pada tahun 1389 sampai dengan 1395 H.
5). Pada tanggal 13 bulan 10 tahun 1395 saya diangkat menjadi pimpinan umum yang berhubungan dengan penelitian ilmiah, fatwa-fawa, dakwah dan bimbingan keagamaan sampai sekarang. Saya terus memohon kepada Allah pertolongan dan bimbingan pada jalan kebenaran dalam menjalankan tugas-tugas tersebut.
Disamping jabatan-jabatan resmi yang sempat saya pegang sekarang, saya juga aktif di berbagai organisasi keIslaman lain seperti,
-Anggota Kibarul Ulama di Makkah.
-Ketua Lajnah Daimah (Komite Tetap) terhadap penelitian dan fatwa dalam masalah keagamaan di dalam lembaga Kibarul Ulama tersebut.
-Anggota pimpinan Majelis Tinggi Rabithah ‘Alam Islami.
-Pimpinan Majelis Tinggi untuk masjid-masjid.
-Pimpinan kumpulan penelitian fiqih Islam di Makkah di bawah naungan organisasi Rabithah ‘Alam Islami.
-Anggota majelis tinggi di Jami’ah Islamiyah (universitas Islam -red), Madinah.
-Anggota lembaga tinggi untuk dakwah Islam yang berkedudukan di Makkah.
Mengenai karya tulis, saya telah menulis puluhan karya ilmiah antara lain,
1). Al-Faidl al-Hilyah fi Mabahits Fardhiyah.
2). At-Tahqiq wa al-Idhah li Katsirin min Masa’ili al-Hajj wa al-Umrah Wa Ziarah (Taudlih al-Manasik – ini yang terpenting dan bermanfaat – aku kumpulkan pada tahun 1363 H). Karyaku ini telah dicetak ulang berkali-kali dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa (termasuk bahasa Indonesia -pent).
3). At-Tahdzir min al-Bida’ mencakup 4 pembahasan (Hukmu al-Ihtifal bi al-Maulid Nabi wa Lailat al-Isra’ wa al-Mi’raj, wa Lailat an-Nifshi min asy-Sya’ban wa Takdzib ar-Ru’ya al-Mar’umah min Khadim al-Hijr an-Nabawiyah al-Musamma asy-Syaikh Ahmad).
4). Risalah Mujazah fi az-Zakat wa ash-Shiyam.
5). Al-Aqidah ash-Shahihah wama Yudloduha.
6). Wujub al-Amal bi Sunnah ar-Rasul Shalallahu Alaihi wa sallam wa Kufru man Ankaraha.
7). Ad-Dakwah Ilallah wa Akhlaq ad-Da’iyah.
8). Wujubu Tahkim Syar’illah wa Nabdzu ma Khalafahu.
9). Hukmu as-Sufur wa al-Hijab wa Nikah asy-Syighar.
10). Naqdu al-Qawiy fi Hukmi at-Tashwir.
11). Al-Jawab al-Mufid fi Hukmi at-Tashwir.
12). Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab (Da’wah wa Siratuhu).
13). Tsalatsu Rasa’il fi ash-Sholah; Kaifa Sholat an-Nabiy Shalallahu alaihi wa sallam, Wujubu Ada’I ash-Sholah fi al-Jama’ah, Aina Yadla’u al-Mushalli yadaihi hina ar-Raf’i min ar-Ruku’.
14). Hukmu al-Islam fi man Tha’ana fi al-Qur’an au fi Rasulillah Shalallahu alaihi wa sallam.
15). Hasyiyah Mufidah ‘Ala Fat-h al-Bariy – hanya sampai masalah haji.
16). Risalat al-Adilah an-Naqliyah wa Hissiyah ‘ala Jaryan asy-Syamsi wa Sukun al-‘Ardhi wa Amakin as-Su’ud al-Kawakib.
17). Iqamah al-Barahin ‘ala Hukmi man Istaghatsa bi Ghairillah au Shaddaq al-Kawakib.
18). Al-Jihad fi Sabilillah.
19). Fatawa Muta’aliq bi Ahkam al-Hajj wa al-Umrah wa az-Ziarah.
20). Wujubu Luzum as-Sunnah wa al-Hadzr min al-Bid’ah.”
Sampai di sini perkataan beliau yang saya (Ustadz Ahmad Hamdani -red) kutip dari buku Fatwa wa Tanbihat wa Nasha’ih halaman 8-13.

Cara Pandang

Dalam hal fiqih, asy-Syaikh Bin Baz banyak menukil pendapat Imam Ahmad bin Hambal, namun beliau menegaskan bahwa hal ini bukan karena taklid (asy-Syaikh Bin Baz bukanlah termasuk pengikut mazhab tertentu diantara 4 mazhab para Imam). Dalam menghadapi ikhtilaf (perbedaan pendapat) fiqih dikalangan para Imam Mazhab dan para ulama, beliau menggunakan metode tarjih dan ijma’, yaitu manakah diantara pendapat Ulama itu yang memiliki hujjah paling kuat menurut sandaran utamanya (yaitu alqur’an dan as-Sunnah/Hadits), dan ketika sudah diketahui manakah yang kuat maka pendapat itulah yang akan diambil dan ikuti. Dan ketika menghadapi suatu persoalan yang belum disebutkan didalam alqur’an maupun Hadits secara terperinci, maka asy-Syaikh Bin Baz akan mengambil pendapat ijma’ (mayoritas) para ulama. Beliau sangat mengecam keras perselisihan diantara kaum muslimin yang berasal dari ikhtilaf para Imam Mazhab (yang disebabkan karena fanatisme Mazhab maupun taklid). Asy-Syaikh Bin Baz senantiasa menasehati ummat untuk selalu berpegang teguh pada alqur’an dan as-Sunnah serta bersatu dibawah panji para Salafus shalih agar ummat Islam bisa kembali bersatu sebagaimana Islam dimasa Rasulullah (Nabi Muhammad).
Aqidah dan manhaj (jalan) dakwahnya bisa dilihat dari tulisan maupun karya-karyanya. Misalnya dalam buku “al-Aqidah ash-Shahihah” yang menerangkan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah, menegakkan Tauhid dan menjauhkan sekaligus memerangi kesyirikan. Syaikh Bin Baz benar-benar menyandarkan tafsir alqur’an dan syarah hadits-hadits yang dibawakan dalam kitab-kitabnya pada pemahaman Salafus Shalih (pemahaman para Shahabat) serta ulama-ulama ahlussunnah yang mengikuti mereka. Pembelaannya terhadap aqidah tauhid dan sunnah yang murni pun tertuang dalam banyak karyanya, salah satunya adalah “at-Tahdzir ‘alal Bida’”.

Beliau telah membangun halaqah (majlis) pengajaran di Jami’ al-Kabir (Masjid Jami’ Besar) di Riyadh sejak berpindah ke sana. Halaqah ini terus berjalan meskipun pada tahun-tahun akhir terbatas pada sebagian hari saja dalam sepekan, karena banyaknya kesibukan beliau. Banyak para penuntut ilmu yang memanfaatkan halaqah tersebut. Di tengah keberadaannya di Madinah dari tahun 1381 H sebagai Wakil Rektor Universitas Islam Madinah, dan menjadi Rektor sejak tahun 1390 – 1395 H, asy-Syaikh Bin Baz tetap mengadakan halaqah untuk mengajar di Masjid Nabawi. Karena semangatnya dalam berdakwah, maka setiap kali beliau pindah rumah maka beliau pun akan mendirikan sebuah halaqah pengajaran di daerah manapun yang beliau tinggali.

Guru-gurunya

Selain yang tersebut diatas, beberapa guru besar beliau yang lain adalah:
1). Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Lathif Alu Syaikh
2). Asy-Syaikh Hamid bin Faris
3). Asy-Syaikh Sa’d al-Bukhari
4). Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh
5). Dan lain-lain.

Murid-muridnya

1). Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
2). Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’iy
3). Asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hammad al-Abbad al-Badr
4). Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhaliy
5). Asy-Syaikh Abdullah al-Ghudayyan
6). Asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin
7). Asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad Dhiya’i al-Farisiy
8). Asy-Syaikh Muhammad Aman al-Jami
9). Asy-Syaikh Ali bin Yahya al-Haddadi
10). Asy-Syaikh Abdullah bin Abdirrahim al-Bukhari
11). Dan Lain-lain.

Akidah Dan Manhaj Dakwah

Akidah dan manhaj dakwah asy-Syaikh ini tercermin dari tulisan atau karya-karyanya. Kita lihat misalnya buku Aqidah Shahihah yang menerangkan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, menegakkan tauhid dan membersihkan sekaligus memerangi kesyirikan dan pelakunya. Pembelaannya kepada sunnah dan kebenciannya terhadap kebid’ahan tertuang dalam karya beliau yang ringkas dan padat, berjudul At Tahdzir ‘ala al-Bida’ (sudah diterjemahkan -pent). Sedangkan perhatian (ihtimam) dan pembelaan beliau terhadap dakwah salafiyah tidak diragukan lagi. Beliaulah yang menfatwakan bahwa firqatun najiyah (golongan yang selamat -red) adalah para salafiyyin yang berpegang dengan kitabullah dan sunnah Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hal suluk (perilaku) dan akhlaq serta aqidah. Beliau tetap gigih memperjuangkan dakwah ini di tengah-tengah rongrongan syubhat para da’i penyeru ke pintu neraka di negerinya khususnya dan luar negeri beliau pada umumnya, hingga al-haq nampak dan kebatilan dilumatkan. Agaknya ini adalah bukti kebenaran sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam (yang artinya), “Akan tetap ada pada umatku kelompok yang menampakkan kebenaran (al-haq), tidak memudharatkan mereka orang yang mencela atau menyelisihinya”.

KISAH-KISAH TENTANG ASY-SYAIKH rahimahullah

Rasyid ar-Rajih mengisahkan, “Suatu kali saat saya sedang bersama asy-syaikh Abdul Aziz bin Baz, seorang laki laki mendatangi beliau dan meminta bantuan berupa uang. Asy-syaikh Abdul Aziz bin Baz pun memberi uang kepadanya dalam jumlah besar. Namun orang itu tidak puas dan berkata, “lni tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan saya.” Maka beliau menjawab dengan penuh keramahan,”Ambillah, di dalamnya nanti akan ada barakah, insya Allah.”
Laki-laki itu nampak memahami maksud asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan dia pun mengambil uang tersebut sambil mengucapkan terima kasih.
[Mawaqif Madhiah fi Hayat al-Imam Abdul Aziz bin Baz halaman 231].

Menerapkan Sunnah dalam Semua Urusan

Ibrahim bin Abdul Aziz asy-Syithri menceritakan, “Saat itu saya sedang bersama asy-syaikh Abdul Aziz bin Baz ketika ada telepon dari seseorang untuk meminta fatwa. Bertepatan dengan itu muadzin telah mengumandangkan adzan maka asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata kepada penelepon, “Kami akan menjawab adzan dulu,” sambil beliau meletakkan gagang telepon.
Setelah selesai menjawab adzan dan berdoa, beliau kembali berbicara kepada penelepon yang masih menunggu jawaban dari beliau.
Kejadian ini menggambarkan betapa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz sangat bersemangat dalam menerapkan sunnah di semua urusan.
[Mawaqif Madhiah fi Hayat al-lmam Abdul ‘Aziz bin Baz halaman 213].

Sedih saat teringat ulama lain yang telah meninggal dunia

Doktor Nashir bin Misfir Az-Zahrani mengisahkan, “Kapan saja asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz teringat kepada para ulama yang telah meninggal dunia, khususnya mereka yang dekat dengan beliau, maka beliau akan mengalami kesedihan yang demikian dalam. Beliau kemudian akan berdoa untuk mereka, menangis dan akan tercekat (tidak bias bicara karena sedih)”.
Suatu hari, beliau bercerita tentang gurunya asy-Syaikh al-Allammah Muhammad bin Ibrahim, beliau tidak mampu untuk menguasai diri agar tidak menangis. Saya duduk di samping beliau untuk beberapa saat, sementara asisten beliau membacakan fatwa-fatwa dari asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim. Dalam beberapa kasus asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim berbeda pandangan dengan asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, maka beliau pun tersenyum dan mendoakan gurunya itu.
[Mawaqif Madhiyah fi Hayat al-Imam Abdul Aziz bin Baz halaman 215].

Ini hanya untuk mengisi waktu.”

Sa’ad Ad-Dawud menceritakan, “Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz sangat hati-hati dalam mengisi waktu. Bila beliau melakukan perjalanan dengan mobil untuk mengajar atau untuk menghadiri pertemuan, maka beliau akan membawa sejumlah buku untuk dibaca sambil jalan. Saya tidak tahu berapa buku yang telah beliau baca dimana beliau bisa mengambil catatan-catatan yang bermanfaat darinya. Ketika hal ini ditanyakan kepada beliau, beliau hanya menjawab singkat, “lni hanya untuk mengisi waktu.”
[Mawaqif Madhiah fi Hayat al-lmam ‘Abdul Aziz binBaz halaman 194-195].

Nasehat asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz untuk Presiden Qadhafi

Doktor Bassam Khidar Asy-Syati mengisahkan, “Diantara perbuatan asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz yang terpuji adalah ketika beliau memberi tahu Presiden Libya, Muamar Qadhafi, tentang larangan menghilangkan kata Qul yang ada di dalam alquran dan bahwa mengucapkan kata tersebut adalah wajib. Beliau melakukan hal ini karena beliau mendengar bahwa Presiden Qadhafi telah memerintahkan stasiun radio dan para pembaca alqur’an agar menghilangkan kata Qul dan dia pun telah melakukan perubahan terhadap teks alqur’an yang asli (yaitu dengan rnenghilangkan kata Qul). Mendengar teguran ini, presiden Qadhafi mau menerima dan mengembalikan teks alqur’an sebagaimana asalnya.

Pada kejadian yang hampir serupa, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz menegur Presiden Tiunisia, menjelaskan kepadanya tentang syariat Allah dalam hal kurban dan puasa, bahwa didalam kedua perintah itu tidak terdapat efek yang negatif terhadap proses pembangunan negara. Beliau memberikan fakta-fakta (dalil) yang meyakinkan untuk membuktikan hal tersebut.
[Mawaqif Madhiah fi Hayat al-lmam Abdul Aziz bin Baz halaman 189].

“Saya datang ke Riyadh di malam yang dingin".

Abdullah bin Muhammad Al-Mu’taz menceritakan, “Asy-Syaikh Muhammad Hamid, Ketua paguyuban Ashabul Yaman di negara Eretria berkisah, ‘Saya datang ke Riyadh di malam hari yang dingin dalam keadaan tidak punya uang untuk menyewa hotel. Saya kemudian berpikir untuk datang ke rumah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Saat itu waktu menunjukkan pukul 03.00 pagi. Awalnya saya ragu, namun akhirnya saya putuskan untuk ke rumah beliau.
Saya tiba di rumah beliau yang sederhana dan bertemu seseorang yang tidur di pintu pagar. Setelah terbangun ia membukakan pintu untukku. Saya memberi salam padanya dengan pelan sekali supaya tidak ada orang lain mendengarnya karena hari begitu larut.
Beberapa saat kemudian aku melihat asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berjalan menuruni tangga sambil membawa semangkuk makanan. Beliau mengucapkan salam dan memberikan makanan itu kepada saya. Beliau berkata, “Saya mendengar suara anda kemudian saya ambil makanan ini karena saya berpikiran anda belum makan malam ini”.
Demi Allah, saya tidak bisa tidur malam itu, menangis karena telah mendapat perlakuan yang demikian baik.
[Mawaqif Madhiah fi Hayat al-lmam Abdul Aziz bin Baz halaman 233].

“Demi Allah, beliau tidak pernah bercerita tentang hal itu…”

Doktor Nashir bin Misfir Az-Zahrani menceritakan, “Asy-Syaikh Abdurrahman bin Atiq, salah seorang yang mendapat bantuan finansial dari Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya, “Pernahkah beliau menceritakan tentang gajinya, bagaimana beliau membelanjakannya atau sesuatu yang berkaitan dengan itu? Atau pernahkah beliau member tahu anda berapa gaji beliau? “Asy-syaikh Abdurrahman menjawab, “Demi Allah, beriau tidak pemah bercerita tentang hal itu kepada saya, dan beriau pun tidak perah rnembicarakan gaji orang lain.
[Mawaqif Madhiah fi Hayat al-Imam Abdur Aziz bin Baz halaman 223].

“Ya Syaikh, dia telah berkata tentang anda dan mencela anda…”

Doktor Nashir bin Misfir Az-Zahrani. Menceritakan, “Beberapa mahasiswa datang kepada Asy-syaikh Abdul Aziz bin Baz untuk melaporkan keadaan seseorang. Mereka menerangkan tentang kesalahan-kesalahan orang tersebut dan ketergelincirannya dalam beberapa penyimpangan. Maka beliaupun meminta asistennya Lntuk membuat catatan sehingga beliau nanti bisa menegur dan  menasehati orang tersebut.
Sementara asistennya sedang mencatat, salah seorang berkata, ‘Ya Syaikh, dia pernah berkata tentang anda dan mencela anda.”
Seketika itu asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz meminta untuk berhenti mencatat karena beliau merasa apa yang akan dilakukan bisa dianggap sebagai tanda balas dendam (karena orang itu telah mencela beliau).
[Mawaqif Madhiah fi Hayat al-lmam Abdul Aziz bin Baz halaman 204].

“Orang inilah yang berkata begini dan begitu tentang anda”.

Abdurrahman bin Muhammad Al-Baddah menceritakan, “Ada satu kejadian dimana asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berbeda pendapat dalam sebuah permasalahan dengan ulama dari luar Saudi. Suatu ketika ulama itu datang dan asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengundangnya makan siang di rumahnya dan menjamunya. Dalam acara itu terdapat pula sejumlah pelajar (penuntut ilmu), yang kemudian berkata kepada asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, “Orang ini yang telah berkata begini dan begitu tentang anda.” Namun asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz meminta mereka untuk diam.
Beliau melanjutkan menemani tamunya, dan di akhir jamuan asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengantar sampai ke depan pintu dan mengucapkan kalimat perpisahan. Maka tamu itu berkata, “Jika dikatakan kepada saya bahwa ada seseorang di muka bumi ini yang berasal dari generasi Salafus Shaleh, sungguh saya akan mengatakan bahwa beliaulah (yakni asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz) orangnya.”
[Mawaqif Madhiah fi Hayat al-lmam ‘Abdul Aziz bin Baz halaman 188].

“Ya, saya Abdul Aziz bin Baz”.

Shaleh bin Rasyid Al-Huwaimil bercerita tentang kewibawaan orang-orang yang mulia, “Suatu hari, seorang jamaah haji dari Rusia mendatangi kediaman asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz di Mina, dan ketika melihat beliau orang itu berkata, “Apakah anda asy-Syaikh Ibnu Baz?” Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz pun menjawab dengan ramah, ‘Ya, saya Abdul Aziz bin Baz.”
Jamaah haji itu pun mengucapkan salam, mendekat kepada beliau dan mencium pipi beliau. Ia berkata, “Demi Allah, saya selalu berdoa kepada Allah agar tidak mematikan saya sebelum bertemu dengan anda.”
[Mawaqif Madhiah fi Hayat al-Imam Abdul Aziz bin Baz halaman 12-13].

“…itu semua adalah atas hidayah dari AIIah dan kemudian atas pengaruh buku anda yang kami baca…”.

Asy-Syaikh Badar bin Nadir Al-Masyari menceritakan, “Saya teringat ketika ada sebuah surat datang dari seorang wanita Philipina yang dibacakan kepada asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Wanita itu menulis, “Saya dulunya adalah seorang penganut kristen dan kemudian masuk Islam, begitupun keluargaku (mereka kini masuk Islam) – dimana itu semua adalah atas hidayah dari Allah dan kemudian atas pengaruh buku anda yang kami baca…”
Sampai di sini asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz merasa demikian terharu dan beliau pun menangis.
[Mawaqif Madhiah fi Hayat al-Imam Abdul Aziz bin Baz halaman 13].

Setiap tamu diajak makan malam

Fahd Al-Bakran menceritakan, “Telah banyak diceritakan bahwa. bila seseorang ingin berpamitan dari bertamu kepada asy-syaikh Abdul Aziz bin Baz di malam hari, maka beliau pun akan segera meminta orang tersebut tinggal lebih dulu untuk diajak makan malam bersama beliau. Inilah kebiasaan beliau terhadap semua orang datang ke rumah beliau. Jika orang tersebut menolak, maka beliau akan berkata, “Bila engkau menolak maka hendaknya engkau takut kepadanya (yakni kepada istri beliau yang telah membuat makanan tersebut). Baiknya engkau tinggal dan makan bersama kami.”
aSernoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau dan memasukkan beliau ke dalam jannah-Nya. Amin.
[Mawaqif Madhiah fi Hayat al-lmam’Abdul Aziz bin Baz halaman 13].

“Sesungguhnya Allah itu Maha Pemurah dan senantiasa memberi kemudahan pada semua perkara yang telah ditetapkan-Nya.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Baz (saudara laki-laki Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz) menceritakan, “Saudara kandungku, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, senantiasa berusaha menjaga hubungan silaturahim (tali kekeluargaan) dengan saya dan dengan orang tua semenjak beliau masih muda.
Beliau selalu mengunjungiku secara teratur, bertanya tentang keadaanku, dan mencium keningku bila beliau dating ke tempat saya (daerah al-Badi’ah al-Qadimah, Riyadl).
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga selalu menanyakan anak-anak saya dan mendorong anak-anak beliau agar mengunjungiku, semoga Allah merahmati Abu Abdillah (asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz).
Semenjak muda beliau senang menuntut ilmu, senang bergaul dengan para ulama, dan menolong mereka. Seperti kebiasaan beliau yang sering meminta kepada ibunya agar beliau bisa membawa teman-temannya sesama penutut ilmu untuk makan siang atau makan malam bersama.
Saat itu saya pernah bertanya kepada saudaraku itu, “Mengapa engkau sering berbuat demikian?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Maha pemurah dan senantiasa memberi kemudahan pada semua perkara yang telah ditetapkan-Nya.”
[Mawaqif Madhiah fi Hayat al-lmam ‘Abdul Aziz bin Baz halaman 29].

Nasehat untuk pendidik kaum wanita

Dr. Muhammad bin Sa’ad Asy-syuwai’ir mengisahkan, “Ketika saya dipilih untuk bertugas di lembaga pendidikan bagi kaum wanita, saya pergi ke Madinah untuk beberapa keperluan. Ketika di sana, saya sempatkan untuk mengunjungi Asy-syaikh Abdul Aziz bin Baz di Universitas Islam Madinah. Saya sampaikan salam saya dan kemudian beliau member beberapa nasehat dan arahan kepada saya. Beliau memintaagar saya menjalankan amanah yang saya emban dengan sebaik-sebaiknya (yaitu memberi pendidikan kepada kaum wanita), agar saya menjaga mereka dan urusan mereka.
[Mawaqif Madhiah fi Hayat al-Imam ‘Abdul Aziz bin Baz halaman 28].

“Inilah jalan yang saya tempuh ketika berhadapan dengan raja maupun bukan.".
 
Asy-Syaikh Abdullah bin Shaleh Al-’Ubaylan menceritakan, “Suatu ketika dalam sebuah pertemuan yang cukup besar, saya mengajukan pertanyaan kepada asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz,
“Ada beberapa ulama yang memiliki perbedaan pendapat dengan anda, namun mereka semua tetap mencintai anda. kami ingin tahu apa yang menyebabkan hal ini. Mengapa Allah melimpahkan kepada anda karunia berupa sesuatu yang menyebabkan tumbuhnya perasaan cinta di hati mereka kepada anda?”

Maka beliau menjawab,
“Aku tidak tahu apapun kecuali bahwa Alhamdulillah – saat saya mengetahui kebenaran semenjak saya muda maka saya merasa terpanggil (untuk memeganginya) saya berusaha untuk bersabar terhadap apapun yang menimpa saya sebagai konsekuensi dari sikap saya itu, Saya tidak membenci siapapun dan tidak pula memuji siapapun (yakni sesama makhluk) atas akibat yang menimpa saya. Saya hanya ingin nyampaikan kebenaran dan bersabar terhadap apa yang menimpa saya. Jika ia diterima, maka pujian itu hanya milik Allah. Begitupun bila ditolak, maka pujian itu pun milik Allah. Inilah jalan yang saya pegangi semampu saya, baik dalam ucapan maupun tulisan. Siapa yang menerima maka ia akan menerimanya dan siapa yang menolak maka ia akan menolaknya. Selama saya di atas kebenaran, selama itu pula saya akan menyuarakannya.

Bagi orang-orang yang memiliki perbedaan dengan saya, maka saya katakan, bagi mereka ijitihad mereka. Allah akan memberi balasan dua kepada seorang mujtahid bila ia benar dan akan memberi balasan satu bila ia salah. Maka saya tidak tahu (alasan lain) kecuali hal ini – bahwa saya menyeru kepada kebenaran sesuai dengan kemampuan saya, Alhamdulillah, dan saya pun berusaha untuk menyampaikannya, baik secara lisan maupun tindakan. Saya pun tidak pernah memvonis dan tidak pernah pula membuat sakit hati (tersinggung). Bila saya telah menyampaikan, maka saya berdoa semoga Allah memberi kemudahan dan petunjuk kepadanya.Inilah jalan yang saya tempuh ketika berhadapan dengan raja maupun bukan raja.”
[Mawaqif Madhiah fi Hayat al-lmam ‘Abdul Aziz bin Baz halaman 25].

Bacalah alqur’an setiap hari

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad bin Dawud menceritakan, “Saya pemah berjalan bersama asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz dari Jami’ al-lmam Turki bin Abdullah menuju rumah beliau. Beliau bertanya tentang bacaan alqur’an saya. Saya jawab bahwa saya membacanya dari waktu ke waktu, namun tidak punya waktu khusus yang banyak dimana saya bias membacanya setiap hari. Maka beliau menasehatkan agar saya membaca alqur’an setiap hari, meskipun jumlahnya sedikit. Ini karena siapa saja yang membaca ayat alqur’an meskipun hanya sedikit namun dilakukan setiap hari, maka ia nantinya akan menyelesaikannya. Sebaliknya, siapapun yang tidak membaca setiap hari meski dia mampu menyelesaikan bacaan alqur’an dalam waktu singkat (hanya dalam beberapa bulan), maka ia bisa kehilangan hapalannya. Beliau kemudian memberi contoh, “Seseorang yang membaca satu juz setiap hari, maka ia akan mengkhatamkan bacaannya selama sebulan. Begitu pula dengan yang membaca dua juz setiap hari, maka ia akan menyelesaikannya dalam 15 hari, begitu seterusnya.”
[Mawaqif Madhiah fi Hayat al-lmam Abdul Aziz bin Baz halaman 25].

“Di mana asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan kapan beliau datang?”

Dr. Muhammad bin Salad asy-Syuway’ir menceritakan, “Pada musim haji tahun 1406 H (1996), rombongan jamaah haji pertama yang tiba ke Saudi Arabia adalah dari negara Cina dan diantara mereka terdapat sejumlah ustad (dari Cina) yang melakukan kunjungan kepada asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Kepala rombongan adalah seorang lelaki yang sudah tua, lulusan dari Universitas Al-Azhar, Mesir. Ia memimpin rombongan yang berjumlah 7 orang. Setelah menyampaikan salam kepada hadirin, kepala rombongan itu bertanya kepada saya, “Di mana asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan kapan beliau datang?” Saya berkata, “Beliau ada disebelah sana, orang yang baru saja anda beri salam.”

Namun orang ini tidak percaya. Dalam bahasa Arab yang fasih dia berkata, “Saya ingin bertemu beliau sekarang.” Maka saya menjawab. “Beliau di sana.” Sambil saya menunjuk ke arah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz.

Saya kemudian memberi tahu asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz tentang keinginan orang tersebut. Maka beliau pun dengan segera menghampiri orang itu. Saya lihat orang tua dari Cina itu memeluk dengan erat asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz sambil menangis. “Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah mengabulkan keinginan saya untuk bertemu anda. Kami di Cina telah banyak mendengar tentang anda, yaitu perjuangan anda untuk kaum muslimin dan dorongan untuk mereka,” katanya.
Salah seorang anggota rombongan berkata, “Segala pujibagi Allah wahai Syaikh, dimana Dia telah menjadikan 10 tahun dalam umurku ini bersama-sama dengan anda (yakni dia telah masuk Islam setelah sebelumnya bukan Islam). Anda telah banyak memberi manfaat bagi Islam dan kaum muslimin sebagai mana juga kepada saya yang hanya seorang anak manusia seperti yang lain dari anak-anak Islam.”

Orang tua pimpinan rombongan pun menangis lagi dan memeluk kembali asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, “Segalapuji bagi Dzat yang telah mengijinkan saya untuk bertemu dengan anda sebelum saya mati. Saya telah lama menunggu kesempatan ini.”
[Mawaqif Madhiah fi Hayat al-lmam Abdul Aziz bin Baz halaman 8-9].

Hormat dan cinta kepada gurunya

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz biasa menangis bila teringat kepada guru beliau, asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Lathif Alu asy-Syaikh. Dalam keadaan demikian maka beliau pun akan mendoakan gurunya itu. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan bahwa beliau tidak mengenal se-orang manusia di muka bumi ini yang lebih berilmu dibanding gurunya, tidak ada yang lebih pandai dalam mengajar, dan gurunya juga seorang yang sangat perhatian terhadap murid-muridnya. Saat menceritakan hal ini biasanya kesedihan beliau akan berkurang dan beliau berdoa kepada Allah agar Dia merahmati gurunya.
[Al-lbriziyyah fi Tis’in Al-Baziyyah halaman 97].

Membangunkan anak-anaknya untuk shalat subuh

Putra asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Ahmad, menceritakan, “Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz biasa membangunkan anak-anaknya melalui telepon interal agar mereka mengerjakan Shalat Subuh. Saat membangunkan itu biasanya beliau sambil berdoa,
“Alhamdulillaahilladzi ahyanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihinnusyur.”
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya kami kembali.”
Bila anak-anak beliau masih merasa mengantuk maka beliau akan meminta mereka mengulang-ulang bacaan doa tersebut sampai beliau yakin bahwa mereka telah benar-benar bangun.
[Al-lmam bin Baz – Durus wa Mawaaqif wa ‘lbar halaman 71].

Mimpi seorang shalih

Seorang murid asy-Syaikh Al-Albani menceritakan, “Ada seorang shalih dari Siria yang bermimpi beberapa saat sebelum kematian asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Dalam mimpi, orang itu melihat dua buah bintang di langit yang bergerak dengan kecepatan tinggi menuju bumi. Bintang yang satu telah mencapai bumi, sementara yang satu lagi menunggu di dekat bumi.
Ketika bintang yang satu mencapai bumi, ia menimbulkan suara yang menggelegar dan orang-orang pun panik sambil bertanya-tanya, “Apa yang terjadi?”

Orang yang bermimpi itu kemudian terbangun dan kemudian menanyakan arti mimpinya kepada orang yang memahami tafsir mimpi. Mimpi itu ditafsirkan bahwa sesuatu akan terjadi yang menyebabkan manusia tersentak dan menimbulkan kesuraman. kejadian itu akan diikuti oleh kejadian yang sama, yaitu oleh bintang yang kedua.

Beberapa waktu kemudian datang sebuah berita tentang kematian Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz yang tidak lama kemudian diikuti oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
[Al-lmam Ibn Baz – Durus wa Mawaqif wa ‘lbar halaman 98].

Hati-hati dalam mengisi waktu

Putra Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz yang bernama Ahmad menceritakan, “Asy-syaikh Abdul Aziz bin Baz adalah seorang yang sangat hati-hati dalam menghabiskan waktunya, dalam rangka menjadikan setiap detik dari waktu beliau memiliki nilai yang tinggi. Seperti saat sedang naik mobil, maka beliau akan mengisi waktu dengan kegiatan yang berkaitan dengan ilmu, menulis ataupun mendengarkan ceramah.
Buku-buku yang biasa dibaca asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz saat naik mobil antara lain Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Ighatsatul Lahfan karya Ibnu al-Qayyim, al-lqna’ Ibnu Al-Mundhir, Kitab Marwiyat al-La’an fi as-Sunnah. Juga beberapa kitab yang ukurannya lebih kecil.
[AI-Imam Ibn Baz – Durus wa Mawaqif wa’lbar halaman 13].

WAFAT BELIAU

Asy-Syaikh Bin Baz wafat pada hari Kamis, 27 Muharram 1420 H / 13 Mei 1999 M dan dihadiri oleh ratusan ribu pelayat, beberapa stasiun TV di beberapa negara pun meliputnya secara langsung, beliau disemayamkan di pekuburan Al-Adl Mekkah. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala merahmatinya. Amin.

Links


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar