السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Jumat, 31 Mei 2013

RAIHLAH BANYAK KEUTAMAAN DENGAN MELURUSKAN SHAFF DALAM SHOLAT

KEUTAMAAN MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAFF
بسم الله الرحمن الرحيم

Merapatkan dan meluruskan shaff di dalam sholat itu banyak keutaman dan manfaat sebagai mana telah dijelaskan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, di antaranya adalah,

1). MELAKSANAKAN PERINTAH DAN CONTOH DARI ROSULULLAH Shallallahu alaihi wa sallam.

Yakni jika para jamaah sholat telah meluruskan dan merapatkan shaff dalam sholat berarti mereka telah melaksanakan perintah dan contoh dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Karena merapatkan dan meluruskan shaff itu termasuk dari sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang telah diwajibkan bagi umatnya untuk senantiasa mengerjakannya di dalam sholat berjamaah.

وَ مَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَ مَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَ اتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ اْلعِقَابِ

Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukuman-Nya. (QS. al-Hasyr/ 59: 7).

Berkata asy-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengerjakan apa yang diperintahkan Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi apa yang telah dilarang olehnya. Sebab Beliau hanyalah menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari keburukan”. [1]

عن أبى هريرة رضي الله عنه عَنِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: ذَرُوْنىِ مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهُمْ وَ اخْتِلاَفِهُمْ عَلىَ أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَ إِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوْهُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tinggalkanlah oleh kalian apa yang aku telah tinggalkan bagi kalian. Hanyalah binasanya orang-orang sebelum kalian, lantaran banyaknya pertanyaan mereka dan mereka senantiasa menyelisihi nabi-nabi mereka. Maka apapun yang kuperintahkan kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian. Dan apa yang aku larang terhadap kalian tentang sesuatu maka tinggalkanlah”. [HR Muslim: 1337, al-Bukhoriy: 7288, at-Turmudziy: 2679, Ibnu Majah: 2 dan Ahmad: II/ 247, 258, 313, 328, 447-448, 457, 467, 482, 495, 503, 508, 517. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

Berkata asy-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Sepantasnya bagi muslim untuk senantiasa mencari apa yang telah datang dari Allah Azza wa Jalla dan RosulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian bersungguh-sungguh di dalam memahaminya dan diam di dalam keinginan Allah lalu menyibukkan diri di dalam mengamalkannya. [3]

Apa yang dibawa dan didatangkan oleh Rosulullah Shallallahau alaihi wa sallam itu banyak sekali, misalnya; menyempurnakan wudlu dengan aneka kegiatannya, menunaikan sholat yang wajib dan yang nafilah, meletakkan sutrah di depannya ketika hendak melaksanakan sholat, meluruskan dan merapatkan barisan/ shaff ketika hendak sholat berjamaah dan lain sebagainya. Maka meluruskan dan merapatkan shaff itu termasuk sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim, meskipun mayoritas umat ini tidak melaksanakannya karena ketidak tahuan mereka atau karena mereka mengabaikan dan menyepelekannya. Padahal tidak mungkin Beliau menyuruh umatnya untuk merapatkan dan meluruskan shaff di dalam sholat jika tidak ada kebaikan padanya.

Berkata asy-Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhohullah, “Selama orang-orang yang sholat tidak melakukan sebagaimana yang diperbuat oleh Anas bin Malik dan an-Nu’man bin Basyir [4] radliyallahu anhuma maka akan tetap ada ruang kosong dan celah di dalam shaff-shaff. Kenyataannya, bahwa kebanyakan orang-orang yang sholat sekarang ini seandainya mereka merapatkan (shaff) niscaya shaff-shaff akan menjadi lapang. Lalu jika mereka tidak mengerjakannya, maka,
1). Mereka telah terjerumus ke dalam larangan syar’iy.
2). Mereka meninggalkan celah-celah untuk setan, maka Allah Subhanahu wa ta’ala telah memutuskan (ramat-Nya) dari mereka.
3). Hati-hati mereka akan saling bermusuhan dan akan banyak perselisihan di antara mereka.
4). Mereka akan kehilangan pahala yang amat besar. [5]

Islam adalah agama paling sempurna yang tidak membutuhkan penambahan, pengurangan, penggantian ataupun pengubahan. Semuanya sudah diatur dan ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai pembuat syariat dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai penjelas akan kehendak dan keinginan Allah ta’ala tersebut.

Allah Azza wa Jalla perintahkan umat Islam untuk menunaikan sholat, maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menerangkan mengenai caranya, waktunya, jumlah rakaatnya dan hal-hal yang berkaitan dengannya seperti berwudlu, menghadap kiblat, meletakkan sutrah, menyusun barisan/ shaff dengan cara merapatkan dan meluruskannya dan lain sebagainya. Maka hebatnya Islam adalah tidak tinggal sesuatupun yang dapat mendekatkan umatnya ke surga dan menjauhkan mereka dari neraka, melainkan sungguh-sungguh telah dijelaskan kepada mereka.

عن أبي ذر قَالَ تَرَكَناَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَ مَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فىِ اْلهَواَءِ إِلاَّ وَ هُوَ يَذْكُرُنَا مِنْهُ عِلْمًا قَالَ فَقَالَ صلى الله عليه و سلم: مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ اْلجَنَّةِ وَ يُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

Dari Abu Dzarr berkata, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kita (wafat), dan tiada seekor burung yang (terbang) membolak-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau telah menyebutkannya kepada kami sebagai suatu ilmu darinya. Berkata (Abu Dzarr), Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak tinggal sesuatupun yang dapat mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan kalian dari neraka, melainkan sengguh-sungguh telah dijelaskan kepada kalian”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Kabir dan Ahmad: V/ 153, 162 tanpa kalimat kedua. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hadits ini sanadnya shahih].[6]

Disamping itu pula merapatkan dan meluruskan shaff termasuk perbuatan yang meneladani Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Sebab Beliau adalah manusia yang paling layak dan pantas untuk diteladani dan dicontoh oleh umat manusia terlebih-lebih kaum muslimin, karena Beliau adalah yang paling mengerti dan paling sesuai amalnya dengan kehendak Allah ta’ala, yang paling paham tentang yang benar dan salah, yang paling takwa dan takut kepada Allah ta’ala, yang paling ambisi dan sungguh-sungguh dalam beribadah kepada-Nya, paling penyayang kepada umatnya dan lain sebagainya.

      لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَ اْليَوْمَ اْلآخِرَ وَ ذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan banyak menyebut Allah. [QS al-Ahzab/ 33: 21].

2). MENDAPATKAN RAHMAT ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

Dari Abdullah bin Umar bahwasanya Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda,

أَقِيْمُوا الصُّفُوْفَ وَ حَاذُوْا بَيْنَ اْلمـَنَاكِبِ وَ سُدُّوا اْلخَلَلَ وِ لِيْنُوْا بِأَيْدِى إِخْوَانِكُمْ وَ لَا تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ وَ مَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ وَ مَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ

“Tegakkan shaff-shaff, sejajarkan pundak-pundak, tutuplah celah-celah, lunakkanlah (bahu kalian) di antara tangan-tangan saudara kalian dan janganlah engkau membiarkan celah-celah untuk setan. Barangsiapa yang menyambung shaff maka Allah akan menyambung (rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskan shaff maka Allah juga akan memutuskan (rahmat-Nya)”. [HR Abu Dawud: 666 dan an-Nasa’iy: II/ 93. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [7]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Sepantasnya bagi muslim untuk menyambung sesuatu yang Allah perintahkan untuk disambung. Dan di antara hal tersebut adalah menyambung shaff-shaff, menutup celah dan menyempitkan (ruang gerak) setan. Barangsiapa yang menyelisihi perintah Allah, maka ia berada di tepi jurang kebinasaan”. [8]

Di dalam alqur’an, [9] Allah ta’ala telah memerintahkan kaum mukminin untuk senantiasa menyambung sesuatu yang diperintahkan untuk disambung seperti menyambung silaturrahmi dan menyambung shaff.

Ketika Allah ta’ala perintahkan kaum muslimin untuk menyambung sesuatu yang Ia perintahkan untuk menyambungnya, maka bagi yang menyambungnya akan mendapatkan berbagai kebaikan dan bagi yang memutuskannya akan mendapatkan berbagai kerugian dan keburukan. Bagi yang menyambung silaturrahmi, maka ia akan mendapatkan kelapangan rizki, perpanjangan umur dan kecintaan keluarga. Bagi yang memutuskannya maka akan menyebabkan tertolaknya doanya kepada Allah ta’ala dan tercegahnya ia masuk ke dalam surga. Begitu pula menyambung shaff akan membawa kepada berbagai kebaikan dan memutuskannya akan menyeret kepada berbagai keburukan. Dan di antara keutamaan dari merapatkan dan meluruskan shaff adalah mendapatkan rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala.

3). MENDAPATKAN SHOLAWAT DARI ALLAH TA’ALA DAN PARA MALAIKAT-NYA

Dari Aisyah radliyallahu anha dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      إِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ الصُّفُوْفَ
          
 “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya mengucapkan sholawat kepada orang-orang yang menyambung shaff’. [HR Ahmad: VI/ 89, Ibnu Majah: 995, Ibnu Hibban: 2163 dan al-Hakim: 806. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Dari al-Barra bin Azib radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      إِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الصُّفُوْفِ اْلأَوَّلِ
         
  “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya mengucapkan sholawat kepada shaff pertama”. [HR Abu Dawud: 664, an-Nasa’iy: II/ 89-90, Ibnu Majah: 997, 999 dan al-Hakim: 2146, 2156, 2173. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

Orang-orang yang menyambung shaff dan mengisi shaff-shaff sehingga rapat dan lurus akan mendapatkan sholawat dari Allah ta’ala dan para Malaikat-Nya. Yakni mereka mendapatkan pujian dari Allah ta’ala dan juga memperoleh doa dan permohonan ampun (istighfar) dari para Malaikat alaihim as-Salam.

4). MENDAPATKAN PAHALA KEBAIKAN

Dari Abdullah bin Umar radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

 خِيَارُكُمْ أَلْيَنُكُمْ مَنَاكِبَ فِى الصَّلَاةِ وَ مَا مِنْ خُطْوَةٍ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ خُطْوَةٍ مَشَاهَا رَجُلٌ إِلَى فُرْجَةٍ فِى الصَّفِّ فَسَدَّهَا
           
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling lunak bahunya di dalam sholat. Tidak ada langkahan (kaki) yang lebih besar pahalanya dibandingkan dari langkahan kaki yang dilangkahkan oleh seseorang ke sebuah celah di dalam shaff lalu ia menutupinya (mengisinya)”. [HR al-Bazzar, Ibnu Hibban dan ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [12]

Melangkahkan kaki menuju kepada shaff untuk mengisi dan menutup celah yang kosong ketika sholat akan menyebabkan pelakunya mendapatkan pahala yang sangat besar. Melangkahkan kaki ketika sholat hendak di mulai untuk mengisi shaff-shaff terdepan terlebih dahulu. Atau juga melangkahkan kaki ke shaff di depannya, atau menggeser kakinya ke arah kanan atau kiri yaitu menutup tempat atau celah yang kosong padahal sholat sedang berlangsung karena ia jumpai shaff di depannya, samping kanan atau kirinya kosong lantaran orang yang mengisi shaff tersebut batal wudlunya atau karena ada keperluan lainnya yang penting atau selainnya.

5). MENYEMPURNAKAN PAHALA SHOLAT YANG DIKERJAKANNYA

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاة

“Luruskan shaff-shaff kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaff-shaff itu termasuk dari kesempurnaan sholat”. [HR al-Bukhoriy: 723, Muslim: 433, Abu Dawud: 668, Ibnu Majah: 993 dan Ahmad: II/ 177. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَقِيْمُوا الصَّفَّ فِى الصَّلَاةِ فَإِنَّ إِقَامَةَ الصًّفِّ مِنْ حُسْنِ الصَّلَاةِ

“Luruskan shaff dalam sholat, karena sesungguhnya lurusnya shaff itu termasuk dari kebaikan sholat”. [HR al-Bukhoriy: 722 dan Muslim: 435. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]
Dari Ammar bin Yasir berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَ مَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبُعُهَا سُدُسُهَا خُمُسُهَا رُبُعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

“Sesungguhnya seseorang selesai (dari mengerjakan sholat) dan tidaklah ditulis baginya pahala kecuali sepersepuluh sholatnya, atau sepersembilannya, atau seperdelapannya, atau sepertujuhnya, atau seperenamnya, atau seperlimanya, atau seperempatnya, atau sepertiganya, atau separuhnya”. [HR Abu Dawud: 796. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [15]

Dari Abu al-Yasar Ka’b bin Amr as-Sulamiy radliyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مِنْكُمْ مَنْ يُصَلِّى الصَّلَاةَ كَامِلَةً وَ مِنْكُمْ مِنْ يُصَلِّى النِّصْفَ وَ الثُّلُثَ وَ الرُّبُعَ وَ اْلخُمُسَ حَتَّى بَلَغَ اْلعُشْرَ

“Di antara kalian ada yang sholat secara sempurna, di antara kalian adanya memperoleh pahala separuhnya, sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya hingga mencapai sepersepuluhnya” [HR an-Nasa’iy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [16]

Setiap muslim ketika sholat berjamaah wajib meluruskan dan merapatkan shaffnya, karena lurus dan rapatnya shaff itu termasuk dari keelokan dan kesempurnaan sholat. Sholat tidak akan sempurna penunaiannya dan ganjaran pahalanya jika shaff orang-orang yang sholat tersebut bengkok dan terdapat celah-celah yang kosong.

Oleh sebab itu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwasanya ada seorang muslim itu hanya mendapat pahala dengan sholat itu sepersepuluhnya, atau sepersembilannya, atau seperdelapannya dan seterusnya sampai separuhnya dan ada juga yang mendapatkan pahala yang sempurna. Hal tersebut dikarenakan kesungguhannya di dalam menunaikan sholat itu berbeda satu orang dengan lainnya. Berbeda-beda kesungguhan di dalam perubahan gerakan, bacaan, kethuma’ninahan, kekhusyuan dan selainnya. Berbeda juga dalam kesungguhan menerapkan sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di dalam meluruskan dan merapatkan shaff. Maka barangsiapa yang berusaha menyambung shaff maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan menyambung rahmat-Nya kepadanya, tapi barangsiapa yang memutuskannya maka Allah ta’ala juga akan memutuskan rahmat-Nya darinya.

6). DIANGKAT DERAJATNYA DAN MENDAPAT RUMAH DI DALAM SURGA

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

مَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَ بَنَى لَهُ بَيْتُا فِى اْلجَنَّةِ

“Barangsiapa yang mengisi celah (di dalam sholat) maka Allah akan mengangkatnya satu derajat dan akan membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Awsath, Ibnu Majah: 995 dan Ahmad: VI/ 89. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [17]

Dalil di atas menjelaskan siapapun di antara kaum muslimin yang mengisi atau menutup celah di dalam shaff ketika sholat maka Allah akan meninggikan atau mengangkatnya satu derajat dan bahkan akan membuatkannya satu rumah untuknya di dalam surge. Menutup atau mengisi celah itu dengan cara merapatkan dan meluruskan shaff ketika hendak memulai sholat. Atau maju ke depan, bergeser ke kiri atau ke kanan untuk mengisi shaff yang kosong, meskipun maju dan bergesernya itu dilakukan ketika ia sedang dalam keadaan sholat.

7). SHAFFNYA TIDAK AKAN DIMASUKI SETAN

Dari Abdullah bin Umar bahwasanya Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda,

أَقِيْمُوا الصُّفُوْفَ وَ حَاذُوْا بَيْنَ اْلمـَنَاكِبِ وَ سُدُّوا اْلخَلَلَ وِ لِيْنُوْا بِأَيْدِى إِخْوَانِكُمْ وَ لَا تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ

“Tegakkan shaff-shaff, sejajarkan pundak-pundak, tutuplah celah-celah, lunakkanlah (bahu kalian) di antara tangan-tangan saudara kalian dan janganlah engkau membiarkan celah-celah untuk setan”. [HR Abu Dawud: 666. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Setan akan masuk ke dalam celah-celah (shaff) untuk merusak hati-hati orang yang sedang sholat”.  [19]

Dari Anas radliyallahu anhu bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

رُصُّوْا صُفُوْفَكُمْ وَ قَارِبُوْا بَيْنَهَا وَ حَاذُوْا بِاْلأَعْنَاقِ فَوَ الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنِّى لَأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا اْلحَذَفُ

“Rapatkanlah shaff-shaff kalian, mendekatlah di antaranya dan sejajarkan bahu-bahu. Demi Dzat yang jiwaku ada pada tangan-Nya, sesungguhnya aku melihat setan masuk melalui celah-celah shaff seakan-akan ia seekor anak kambing berwarna hitam”. [HR Abu Dawud: 667, an-Nasa’iy: II/ 92, Ahmad: III/ 260, 283, Ibnu Khuzaimah: 1545 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [20]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Terdapat penjelasan akan penyebab perintah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam agar merapatkan dan meluruskan shaff serta mendekat di antaranya yaitu agar tidak tersisa celah-celah setan karena ia akan masuk ke dalamnya. Meluruskan shaff merupakan cambuk bagi setan yang dapat menghilangkan waswasnya, menghancurkan tipu dayanya, membakar pasukannya dan menolak keburukan yang berada di sisinya”. [21]

Dua dalil hadits di atas dengan gamblang menerangkan perintah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk menegakkan shaff dengan cara merapatkan dan meluruskan shaff-shaff di dalam sholat. Yakni dengan merapatkan bahu dan kaki, mendekatkannya dan mensejajarkannya dengan orang yang disebelahnya. Dan berusaha menutup celah-celah yang masih kosong dan longgar, sehingga tidak tersisa sedikitpun celah yang dapat dimasuki setan. Karena Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah melihat setan masuk ke dalam shaff-shaff orang yang sholat untuk mengganggu kesempurnaan sholat mereka, merusak hati mereka agar selalu berselisih dan menumbuhkan perasaan waswas di dalam hati mereka. Ketika itu Beliau melihat setan tersebut seakan-akan ia seperti anak kambing berwarna hitam.

8). MENCEGAH TUMBUHNYA PERSELISIHAN DAN PERMUSUHAN

Dari an-Nu’man bin Basyir radliyallahu anhu bercerita bahwasanya ia pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَتُسَوُّنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ

“Hendaknya kalian meluruskan shaff-shaff kalian atau Allah (ta’ala) akan membuat kalian berselisih (yakni menanamkan permusuhan) di antara kalian”. [HR al-Bukhoriy: 717, Muslim: 436, Abu Dawud: 663, an-Nasa’iy: II/ 89 dan Ibnu Majah: 994. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy]. [22]

Dari Abu Mas’ud radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam meluruskan pundak-pundak kami ketika hendak mengerjakan sholat (secara berjamaah) dan bersabda,

اسْتَوُوْا وَ لاَ تَخْتَلِفُوْا فَتَخْتَلِفَ قُلُوْبُكُمْ

“Luruskan (shaff-shaff kalian) dan janganlah berselisih yang akan menyebabkan hati-hati kalian juga berselisih”. [HR Muslim: 432. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[23]

Dari an-Nu’man bin Basyir radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah menghadap kepada manusia dengan wajahnya lalu bersabda,

أَقِيْمُوا صُفُوْفَكُمْ ثلاثا وَ اللهِ لَتُقِيْمُنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ

“Tegakkanlah (luruskanlah) shaff-shaff kalian (tiga kali), demi Allah benar-benar kalian menegakkan shaff-shaff kalian atau Allah akan menyelisihkan antara hati-hati kalian.” [HR Abu Dawud: 662, Ibnu Hibban, Ahmad: IV/ 276 dan ad-Dulabiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [24]

Dari al-Bara bin Azib radliyallahu anhuma berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berjalan di celah-celah shaff dari satu sisi ke sisi lainnya, mengusap dada dan bahu kami sambil bersabda,

     لَا تَخْتَلِفُوْا فَتَخْتَلِفَ قُلُوْبُكُمْ
          
“Janganlah kalian berselisih yang akan menyebabkan hati-hati kalian berselisih”. [HR Abu Dawud: 664, Ibnu Majah: 997 dan an-Nasa’iy: II/ 89-90. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [25]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Tidak meluruskan shaff akan membawa kepada perselisihan dan perselisihan itu akan menyeret kepada terjadinya permusuhan, kebencian dan perselisihan hati”. [26]

Katanya lagi, “Sepatutnya bagi Imam untuk meluruskan shaff-shaff orang yang sholat dengan ucapan dan perbuatan sebelum memulai sholat. Meluruskan shaff-shaff menjadi penyebab di dalam bertautnya hati dan berselisihnya shaff-shaff diduga menjadi penyebab rusaknya hati”. [27]

Melihat banyaknya keutamaan di dalam meluruskan dan merapatkan shaff, hendaknya para imam memperhatikan masalah ini dengan baik dan seksama. Yakni hendaknya mereka memeriksa shaff/ barisan sholat dan menyuruh para makmum untuk mengisi celah-celah yang kosong. Baru setelah setelah ia melihat bahwa saff-shaff tersebut telah rapat dan lurus, ia boleh memulai takbiratul ihram.
Atau jika tidak, hendaknya ia tugaskan seseorang untuk memeriksa keadaan shaff-shaff, bila telah dikabarkan kepadanya bahwa shaff-shaff telah rapat dan lurus, barulah ia memulai takbir. Jadi imam tidak hanya mengucapkan ‘istawuu, istawuu, istawuu…!!’ (luruskan, luruskan, luruskan) tanpa bertidak meluruskan makmum jamaah sholat yang berada di belakangnya. Janganlah ia bertakbir tanpa mengetahui keadaan makmum di belakangnya, apakah sudah lurus dan rapat atau tidak.
Berkata asy-Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhohullah, “Di antara kewajiban imam adalah memeriksa barisan sholat dan menyuruh makmum untuk mengisi celah yang masih kosong. Sehingga setelah ia melihat shaff-shaff telah lurus barulah ia bertakbir sebagaimana yang diperbuat oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam”.

Dari an-Nu’man bin Basyir radliyallahu anhu berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam meluruskan shaff-shaff kami sehingga hampir seakan-akan mirip anak panah. (Kondisi ini dilakukan terus oleh Beliau) sehingga Beliau melihat  bahwa kami telah memnuhi perintahnya (untuk meluruskan shaff). Pada suatu hari, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam keluar (untuk melakukan sholat berjamaah), sehingga hampir-hampir Beliau bertakbir, lalu Beliau melihat seorang lelaki Badui (desa) dalam keadaan dadanya maju dari shaff. Beliau bersabda,

عِبَادَ اللهِ لَتُسَوُّنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ

“Wahai hamba-hamba Allah, hendaknya kalian meluruskan shaff-shaff kalian atau Allah (ta’ala) akan membuat kalian berselisih (yakni menanamkan permusuhan) di antara kalian”. [HR Muslim: 436 (128), Abu Dawud: 663, an-Nasa’iy: II/ 89 dan Ibnu Majah: 994. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy]. [28]

Di dalam hadits ini terdapat anjuran akan pentingnya meluruskan shaff-shaff, perlunya imam memperhatikan masalah ini dan motivasi untuk selalu meluruskan shaff-shaff”.   [29]

Dari an-Nu’man bin Basyir radliyallahu anhu berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam meluruskan shaff-shaff kami apabila kami telah berdiri (di belakangnya) untuk sholat. Maka apabila kami telah lurus, barulah Beliau bertakbir”. [Atsar riwayat Abu Dawud: 665. Dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albaniy]. [30]

Dari Abu Utsman an-Nahdi berkata,

كُنْتُ فِيْمَنْ يُقِيْمُ عُمَرَ بْنَ اْلخَطَّابِ قُدَّامَهُ لِإِقَامَةِ الصَّفِّ

“Aku adalah termasuk orang yang ditugasi oleh Umar bin al-Kaththab di depannya untuk meluruskan shaff-shaff sholat”. [Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah: 3530].

Dari Malik bin Abu Amir, bahwa ia pernah mendengar Utsman bin Affan radliyallahu anhu berkata,

اسْتَوُوْا وَ حَاذُوْا بَيْنَ اْلمـَنَاكِبِ فَإِنَّ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ إِقَامَةُ الصَّفِّ

“Luruskan dan sejajarkanlah pundak-pundak kalian, karena di antara sempurnanya sholat adalah lurusnya shaff”.
Malik bin Abu Amir melanjutkan, “Sungguh Utsman tidak akan melakukan takbiratul ihram hingga orang-orang yang ditugasi untuk meluruskan shaff memberitahunya bahwa shaff-shaff sholat sudah lurus, kemudian barulah ia melakukan takbiratul ihram. [Atsar riwayat Abdurrazzaq: 2442 di dalam al-Mushannaf dan Ibnu Abi Syaibah: 3532].

Sabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana telah diungkapkan di atas adalah suatu mukjijat yang diberikan kepada Allah ta’ala. Apa yang Beliau ucapkan tersebut merupakan wahyu yang diwahyukan kepadanya, maka ucapan itu telah terjadi di masa sekarang ini dengan kenyataan yang pahit dan mengkhawatirkan. Yaitu banyaknya perselisihan, pertikaian dan bahkan permusuhan di antara kaum muslimin dengan aneka sebabnya. Perselisihan yang sebenarnya dapat dihilangkan atau paling tidak diminimalkan dengan segera dengan cara merujuk kepada alqur’an dan hadits-hadits shahih sesuai dengan pemahaman ulama salafush shalih. Namun banyak di antara mereka yang menolak dirujuk kepada keduanya, tetap ngotot dan jumud dengan pemahaman mereka yang keliru bahkan menuduh setiap orang yang menyelisihi mereka namun berpegang kepada kebenaran alqur’an dan sunnah dengan tuduhan yang batil. Tuduhan tersebut keluar dari mulut mereka lantaran kedengkian dan kebencian kepada orang-orang yang mereka cap sebagai wahabi, salafi dan sejenisnya. Hal tersebut juga karena mereka telah terlanjur fanatik kepada kelompok mereka atau kepada ustadz-ustadz mereka yang telah mereka kultuskan dengan sepenuh hati.

Namun sebagaimana telah diungkapkan di dalam hadits-hadits di atas, bahwa perselisihan hati dan phisik itu terjadi juga karena mereka terlalu meremehkan dan menyepelekan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam yaitu tidak merapatkan dan meluruskan shaff di dalam sholat. Coba perhatikan di berbagai masjid yang ditegakkan sholat berjamaah padanya, apakah sunnah merapatkan dan meluruskan shaff itu telah diamalkan oleh kaum muslimin?. Apakah ada di dalamnya imam atau orang yang ditugaskan untuk merapatkan dan meluruskan shaff itu yang berusaha melakukan kegiatan tersebut seperti yang pernah dikerjakan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabat radliyallahu anhum?.

Jika tidak ada, maka kebengkokan dan kerenggangan shaff sudah dipastikan akan selalu terjadi. Apabila banyak dijumpai kebengkokan dan kerenggangan shaff di dalam sholat di berbagai masjid di banyak daerah, maka perselisihan, pertikaian dan permusuhan di antara kaum muslimin akan selalu terjadi dan tidak akan pernah padam. Innaa lillahi wa innaa ilaihi raa’ji’uun.

Dari sebab itu, marilah wahai kaum muslimin kita berusaha untuk merapatkan dan meluruskan shaff dimanapun kita berada dengan cara merapatkan bahu kita dengan bahu orang yang disebelah kita, lutut kita dengan lututnya dan mata kaki kita dengan mata kakinya. Karena dengan inilah, kita akan terhindar dari perselisihan hati dan phisik kita dengan selain kita dan akan mempertautkan hati kita dengan hati yang lainnya pula.

Ingat, merapatkan dan meluruskan shaff di dalam sholat berjamaah itu adalah sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang diwajibkan bagi umatnya untuk merealisasikannya di manapun, kapanpun dan bersama siapapun. Karena di dalamnya banyak terdapat keutamaan dan faidah.
Wallahu a’lam.

[1] Bahjah an-Nazhirin: I/ 233 dan semakna apa yang dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim: IV/ 404.
[2] Mukhtashor Shahih Muslim: 639, Shahih Sunan Ibni Majah: 2, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 91, 3430, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 850, Irwa’ al-Ghalil: 155, 314 dan Misykah al-Mashobih: 2505
[3] Bahjah an-Nazhirin: I/ 237.
[4] Yakni hadits-hadits tentang meluruskan dan merapatkan shaff dengan menempelkan bahu dengan bahu kawannya, lutut dengan lutut kawannya dan mata kaki dengan mata kaki kawannya. (Lihat pembahasan sebelumnya, ‘perintah meluruskan dan merapatkan shaff’).
[5] Al-Qoul al-Mubin fi Akhtho’ al-Mushollin oleh asy-Syaikh Masyhur Hasan Salman halaman 209-210, dengan sedikit perubahan.
[6] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1803.
[7] Shahih Sunan Abu Dawud: 620, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 789, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1187, Misykah al-Mashobih: 1091, 1102, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 743 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 495.
[8] Bahjah an-Nazhirin: II/ 286.
[9] Lihat QS ar-Ra’d/ 13: 21.
[10] Shahih Sunan Ibnu Majah: 814, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1892, 2532, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 501 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1843.
[11] Shahih Sunan Abu Dawud: 618, Shahih Sunan Ibnu Majah: 816, 818, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 781, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1842, Misykah al-Mashobih: 1101, dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 507.
[12] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 504.
[13] Shahih Sunan Abu Dawud: 622, Shahih Sunan Ibnu Majah: 812 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3647.
[14] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1188.
[15] Shahih Sunan Abu Dawud: 714, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1727, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 538 dan Sifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 36 susunan asy-Syaikh al-Albaniy cetakan kedua dari cetakan terbaru (tahun 1417 H).
[16] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 539.
[17] Shahih Sunan Ibnu Majah: 814, al-Jami’ ash-Shaghir: 1843, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1892 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 501, 505.
[18] Shahih Sunan Abu Dawud: 620, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1187, Misykah al-Mashobih: 1091, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 743 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 495.
[19] Bahjah an-Nazhirin: II/ 286.
[20] Shahih Sunan Abu Dawud: 673, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 785 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3505.
[21] Bahjah an-Nazhirin: II/ 286-287..
[22] Shahih Sunan Abu Dawud: 617, Shahih Sunan Ibnu Majah: 813, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 780, Shahih al-Jami’ ash-Shahih: 5070, 5072 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 512.
[23] Mukhtashor Shahih Muslim: 267, Shahih al-Jami’ ash-Shahih: 961 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 511.
[24] Shahih Sunan Abu Dawud: 616, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 119,1 Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 32 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 512.
[25] Shahih Sunan Abu Dawud: 618.
[26] Bahjah an-Nazhirin: II/ 285.
[27] Bahjah an-Nazhirin: II/ 285.
[28] Shahih Sunan Abu Dawud: 617, Shahih Sunan Ibnu Majah: 813, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 780, Shahih al-Jami’ ash-Shahih: 5070, 5072, Misykah al-Mashobih: 1085 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 512.
[29] Al-Qoul al-Mubin fi Akhtho’ al-Mushollin halaman 212-213.
[30] Shahih Sunan Abu Dawud: 619.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar