السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Kamis, 12 Juli 2012

GHIBAH 7


BAGAIMANA JIKA MENJADI OBJEK GHIBAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Kehidupan memang selalu bergulir dan bergilir, ada sedih dan ada bahagia, ada duka dan ada gembira, yang penting bagaimana seorang hamba itu menyikapinya. Jika kehidupan bahagianya itu hilang berganti dengan duka karena diterpa mushibah atau bencana, maka hendaknya ia mengetahui bahwasanya hal itu hanyalah bahagian dari hidup yang harus dijalaninya saja. Ia harus tetap bisa bertahan hidup sampai waktu yang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana ada siang dan malam, begitupun kehidupan niscaya ada masa terang dan riang namun ada juga masa gelap dan duka menyergap. Di antara penyebab hilangnya kebahagiaan seorang hamba adalah ketika ia diterpa badai ghibah dan fitnah.

Jika ada seorang hamba muslim yang telah dijadikan objek ghibah dan kehormatannya telah menjadi santapan lezat bagi sebahagian manusia, yang daging kehormatannya tersebut diperebutkan sebagaimana diperebutkan makanan nikmat penggugah selera. Lalu kehormatannya tersebut menjadi terkoyak dan rusak hendaklah ia bersikap dengan sikap yang baik, tepat lagi benar sesuai yang dituntunkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Sehingga ia tidak hanya sekedar lolos dari mushibah ghibah itu namun ia juga lulus dengan membawa nilai yang terbaik di sisi Allah Azza wa Jalla.

Karena pada umumnya mushibah itu tidak akan menetap pada seseorang, tetapi suatu saat akan pergi meninggalkannya atau minimal berkurang dari kadarnya. Begitupun ghibah, ketika seorang hamba menjadi bulan-bulanan ghibah bahkan fitnah, suatu saat nanti ghibah tersebut juga akan hilang darinya atau minimal kadar kedahsyatannya berkurang. Apakah lantaran kejenuhan para pengghibahnya, sebahagian mereka mulai sadar bahwa ghibah itu dilarang, teman ghibahnya sudah nggak asyik lagi, dan sebagainya.

Yang penting bagi seorang mukmin ketika diterpa ghibah ataupun fitnah, hendaklah ia bersikap dengan baik dan benar serta berusaha mencari pahala darinya. Sehingga ia tidak ditimpa keburukan dua kali, yaitu keburukan di dunia lantaran depresi dan putus asa karena dighibahatau difitnah. Dan keburukan akhirat karena ia tidak memperoleh pahala kebaikan bahkan ia hanya mengeruk dosa-dosa.

Di antara beberapa sikap yang mesti dijalankan oleh seorang muslim ketika sedang menjadi bahan gunjingan adalah sebagai berikut,

1). Sabar dan ridlo

Sikap pertama dan yang paling utama bagi seorang muslim adalah sabar dan ridlo ketika dighibah. Sebab koyak dan rusaknya kehormatan adalah juga termasuk dari bentuk musibah. Sabar dengan musibah adalah dengan tidak terpengaruh dengan musibah tersebut dan ia tetap melazimkan ibadah kepada-Nya. Tidak sesak dadanya, akalnya tetap berpikir jernih, lisannya tetap terkontrol dan terkendali, badannya tidak limbung ketika berjalan dan sebagainya.  Meskipun hujan ghibah melandanya, ia tetap pada tujuan pokoknya yaitu beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, ia tidak memperdulikan ghibah yang sedang berlangsung dan juga orang-orang yang sedang ketagihan menyantap daging kehormatannya. Sebagaimana dikatakan oleh sepenggal pepatah, “anjing menggonggong namun kafilah tetap berlalu”. Itulah bentuk kesabarannya yang telah tertanam di dalam hatinya.

Ridlo dengan musibah adalah dengan meyakini bahwa berbagai musibah yang menimpanya itu adalah dari Allah ta’ala. Dan ia yakin bahwa ketika Allah Tabaroka wa ta’ala menimpakan musibah itu kepadanya, niscaya Ia mempunyai maksud atau tujuan yang baik apakah berupa menambahkan pahala kebaikan kepadanya, menghapuskan sebahagian dosanya, meningkatkan derajatnya, menganugerahkan kebaikan kepadanya, menampakkan rasa cinta kepadanya dan sebagainya. Sehingga ia senang dan berbahagia dengan musibah yang menimpanya.

Apalagi jika ia yakin dengan adanya hari pembalasan, bahwa ia akan mendapatkan sebahagian pahala dari orang yang mengghibahinya, jika ada. Tetapi jika tidak, maka sebahagian dosanya akan diletakkan di bahu orang yang mengghibahinya tersebut sebagai balasan atas perbuatan zhalimnya. Sehingga ia merasa beruntung dengan perbuatan zhalim orang lain terhadap dirinya, sebab ia menangguk hasil pahala yang tidak pernah ia kerjakan. Hal ini dikarenakan ia sabar di dalam menanggung musibah ghibah yang menimpa dirinya. Artinya semakin banyak panah ghibah yang diarahkan kepadanya untuk menembus jantung kemuliaannya maka akan semakin banyaklah keuntungan yang ia akan raih dan kumpulkan, jika ia mengetahuinya. Hal tersebut telah dijelaskan di dalam beberapa bab yang lalu.

Adapun dalil-dalil tentang sabar di dalam alqur’an dan hadits adalah sebagai berikut,

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَ سَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَ قَبْلَ اْلغُرُوبِ

Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). [QS. Qoof/ 50: 39].

وَ اصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَ اهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. [QS. Al-Muzzammil/ 73: 10].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Susunan kalimat yang mulia ini senantiasa (menjelaskan) tentang tarbiyah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan umatnya dengan berbagai tarbiyah rabbaniyah yang khusus. Allah ta’ala berfirman kepada rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam, ((وَاصْبِرْ عَلىَ مَا يَقُوْلُوْنَ)) yakni orang-orang kafir Quraisy dari ucapan yang menyakitimu seperti ucapan, “Ia adalah penyihir, penyair, dukun, orang gila dan selainnya”. [1]

Allah Subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam sebagai teladan umat agar bersabar dari apapun yang dikatakan oleh orang kafir dari kalangan kaum musyrikin. Sabar terhadap apapun tuduhan, cercaan, gunjingan (ghibah), pendustaan ataupun pengingkaran mereka terhadapnya. Dan sifat terpuji ini mesti diteladani dan diikuti oleh umatnya dari kaum muslimin. Yakni mereka sepatutnya sabar terhadap cacian, hujatan, fitnah, ghibah, pendustaan, pengingkaran dan yang sejenisnya yang dilakukan dan dipelopori oleh kalangan kaum kafirin dari golongan Yahudi, Nashrani, Musyrikin ataupun dari kelompok munafikin.

Maka mereka senantiasa bersabar terhadap apapun yang menimpa mereka dari berbagai keburukan. Jika mereka telah merealisasikan atau mewujudkan sifat sabar dalam kehidupan mereka, maka berarti mereka itu adalah orang yang benar keimanannya tiada kepalsuan dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa.

وَ الصَّابِرِينَ عَلَى مَا أَصَابَهُمْ

Dan orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, [QS. Al-Hajj/ 22: 35].

وَ الصَّابِرِينَ فِى اْلبَأْسَاءِ وَ الضَّرَّاءِ وَ حِينَ اْلبَأْسِ أَولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَ أُولَئِكَ هُمُ اْلمــُتَّقُونَ

Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. [QS al-Baqarah/2: 177].

وَ بَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّـا لِلَّهِ وَ إِنَّــا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali). [QS. Al-Baqarah/2: 155-156].

Demikian beberapa dalil ayat alqur’an yang menerangkan tentang keutamaan sifat sabar. Yang setiap muslim mesti memiliki dan menghiasi dirinya dengan sifat yang mulia tersebut, sehingga ketika ditimpa oleh kesulitan, bencana dan musibah, ia bergegas beristirja’, yakni mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Dengan ucapan itu, ia meyakini bahwasanya ia adalah milik-Nya artinya Allah Jalla wa Ala berhak untuk menimpakan berbagai musibah kepada-Nya untuk mencobanya lalu melenyapkan musibah tersebut sesuai dengan kehendak-Nya atau membiarkannya berada padanya sampai kepada waktu yang diinginkan-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah ia akan kembali yaitu suatu saat nanti pada hari kiamat ia akan kembali ke hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala. Hanyasaja ketika ia menghadap kehadapan-Nya itu, apakah ia dalam keadaan membawa dan memborong berbagai balasan kebaikan lantaran kesabarannya di dalam menerima musibah?. Ataukah tidak membawa sebutirpun pahala kebaikan yang disebabkan ketidaksabarannya atau bahkan ia memikul banyak dosa dan kesalahan yang dikarenakan ia kesal, banyak mengeluh, membalas keburukan orang yang bersikap buruk kepadanya, berburuk sangka kepada Allah Azza wa Jalla dan selainnya?. Meyakini bahwa ia milik Allah Jalla Jalaluhu dan hanya kepada-Nya ia akan kembali itu adalah merupakan bentuk perwujudan dari sifat sabarnya.

Sifat sabar itu akan banyak menuai kebaikan, di dunia dan akhirat. Di dunia seorang muslim dengan sifat sabarnya itu ia dapat hidup dengan perasaan tentram, nyaman dan enjoy tiada beban dan rasa khawatir. Di akhirat ia dapat mengais berbagai kenikmatan surga dan mendapatkan pahala tanpa hisab, sebagaimana telah disebutkan oleh Allah Azza wa Jalla,

إِنَّـمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَـابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan disempurnakan pahala mereka tanpa batas. [QS’ az-Zumar/ 39: 10].

وَ جَزَاهُم بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَ حَرِيرًا

Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera. [QS. Al-Insan/ 76: 12].

Dan masih banyak lagi ayat semakna yang menerangkan tentang keutamaan dan balasan kebaikan bagi orang yang sabar. Bahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sangat mengagumi seorang mukmin yang selalu melewati berbagai persoalannya dengan cara yang baik dan akhirnya mendatangkan kebaikan pula. Hal ini tidak akan terjadi terkecuali hanya bagi seorang mukmin. Yakni jika ia mendapatkan sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakannya ia bersyukur, maka syukur adalah sikap yang baik dan dengannya akan mendatangkan kebaikan pula berupa kehidupan yang baik di dunia seperti disukai oleh orang lain, memiliki sifat qonaah (nrimo) yang dapat melapangkan hidup dari kesempitan penghidupannya dan sebagainya serta akan memperoleh pahala dan surga di akhirat kelak.

Lalu jika ditimpa oleh sesuatu yang menyusahkan ia bersabar, maka sabar itu adalah sikap yang sangat baik dan akan mendatangkan kebaikan pula semisal mempunyai perasaan tentram, nyaman dan enjoy di dunia atau mendatangkan pahala kebaikan yang melimpah tiada terhingga dan surga yang penuh dengan kenikmatan yang hakiki.

عن صهيب رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: عَجَبًا لِأَمْرِ اْلمـُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَ لَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَ إِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Dari Shuhaib radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin itu, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak akan terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika ia mendapatkan sesuatu yang menggembirakan ia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat sesuatu yang menyusahkan maka ia bersabar maka hal ini merupakan kebaikan baginya”. [HR Muslim: 2999, Ahmad: VI/ 16 dan ad-Darimiy: II/ 318. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [2]

Adapun dalil-dalil tentang ridlo dengan musibah sebagaimana telah dituangkan di dalam alqur’an dan hadits yang tsabit adalah sebagai berikut,

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيـبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللهِ وَ مَن يُؤْمِن بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ  وَ اللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. [QS. At-Taghobun/ 64: 11].

Berkata Alqamah, “Ia adalah seseorang yang ditimpa musibah, lalu ia tahu bahwasanya musibah itu dari sisi Allah lalu iapun ridlo dan menerima”. [3]

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Wajibnya sabar ketika tertimpa musibah, ridlo dan menerima karena Allah ta’ala di dalam ketetapan dan ketentuan-Nya. Barangsiapa yang kondisinya seperti ini, maka Allah akan menunjuki hatinya dan menganugerahkan kesabaran, pahala yang besar dan meringankannya di dalam musibahnya tersebut. Jika ia beristirja’ yakni mengucapkan “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun” maka Allah akan menggantikan untuknya apa yang hilang dan memberikan pahala kebaikan kepadanya”. [4]

عن أنس بن مالك رضي الله عنه عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَنَّهُ قَالَ: عِظَمُ اْلجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ اْلبَلاَءِ وَ إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَ مَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, bahwasanya ia bersabda, “Besarnya ganjaran itu sebanding dengan besarnya cobaan. Maka sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, Ia akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa yang senang maka ia akan mendapatkan ridlo-Nya. Tetapi barangsiapa yang marah maka ia akan mendapatkan murka-Nya”. [HR Ibnu Majah: 4031, at-Turmudziy: 2396, Ahmad: V/ 427, 429 dan ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan].[5]

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Hadits ini menunjukkan atas perkara tambahan terhadap (hadits) yang telah lalu, yakni bahwa cobaan itu hanya menjadi kebaikan dan pelakunya akan menjadi orang yang dicintai di sisi Allah ta’ala apabila ia sabar terhadap cobaan Allah ta’ala dan ridlo dengan ketentuan Allah Azza wa Jalla “. [6]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Wajib bagi seorang mukmin menjadi orang yang ridlo dengan cobaan yang menimpanya, tidak berputus asa dan juga tidak marah karenanya”. [7]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Ini adalah kabar gembira bagi seorang mukmin yaitu apabila ia diuji dengan suatu musibah lalu ia tidak pernah menyangka bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala membencinya tetapi (ia tahu bahwa) terkadang musibah itu termasuk dari tanda-tanda kecintaan Allah terhadap hamba-Nya yang diuji. Maka apabila seseorang itu bersikap ridlo, sabar dan mengharap pahala dari-Nya maka ia akan mendapatkan keridloan-Nya namun bila ia kesal maka ia akan mendapatkan murka-Nya.

Di dalam hadits ini juga terdapat dorongan agar manusia itu senantiasa sabar terhadap musibah sehingga akan ditetapkan baginya keridloan dari Allah Azza wa Jalla. Wallahul muwaffiq”. [8]

Dalil dan penjelasan di atas menerangkan bahwa seorang mukmin itu apabila ditimpa dengan berbagai musibah hendaklah ia menyadari bahwa musibah itu merupakan bentuk ujian dari Allah Jalla Dzikruhu kepadanya, lalu ridlo, menerima dan berusaha untuk mendulang pahala dari musibah tersebut. Ia tidak bersangka buruk kepada-Nya, tidak pula berputus asa dan meyakini bahwa musibah itu adalah salah satu bentuk rasa cinta atau penganugerahan kebaikan dari Allah Azza wa Jalla yang ditunjukkan kepadanya, lalu ia menyerahkan semuanya itu kepada Allah ta’ala sebab musibah itu datangnya dari-Nya maka Ia pulalah yang dapat lagi berhak untuk melenyapkannya darinya.

Jika demikian, maka setiap muslim ketika menjadi objek ghibah hendaklah ia bersikap dengan sikap yang telah diterangkan di atas. Sebab pengoyakan dan perusakan kehormatan atau harga diri itu termasuk dari musibah yang diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala kepadanya. Ridlo dengan berbagai ghibah yang dilontarkan kepadanya sebagaimana telah dituangkan di dalam penjelasan di atas, hendaknya menjadi hiasan kehidupannya sehari-hari, sebab hal itu adalah sikap yang sangat elok dan terpuji. Bagaimana tidak ridlo, jika berbagai amal salih yang dilakukan oleh si pengghibah kelak pada hari kiamat akan diberikan kepadanya sebagai bentuk kompensasi kepadanya. Maka hendaklah ia bergembira ketika menjadi objek ghibah sebagaimana para pengghibah itu bergembira ketika menjadi pelaku ghibah.

Sebab jika ia mengetahui dengan ilmu syar’iy yang shahih, niscaya ia tahu bahwasanya cobaan dan ujian dalam bentuk musibah itu pada hakikatnya adalah nikmat.Para golongan shalihin justru sangat gembira ketika mendapatkan musibah, yang tak jauh berbeda jika seseorang mendapatkan kesenangan. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menceritakan di dalam haditsnya tentang cobaan yang menimpa para nabi dan orang-orang shalih yang biasanya berupa penyakit, kelaparan, kemiskinan, gangguan dan lain-lainnya. Lalu Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda tentang sikap kaum shalihin,

عن أبى سعيد الخدري رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: وَ إِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيَفْرَحُ بِاْلبَلاَءِ كَمَا يَفْرَحُ أَحَدُكُمْ بِالرَّخَاءِ

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Dan sesungguhnya seseorang di antara mereka (kaum shalihin) itu benar-benar merasa gembira lantaran mendapat cobaan sebagaimana seseorang di antara kalian merasa gembira karena mendapat kelapangan”. [HR Ibnu Majah: 4024, Ibnu Sa’d dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [9]

Dan apalagi jika setiap muslim menilik dan memahami kenyataan dan dalil syar’iy, ia akan mengetahui bahwa sekeras-kerasnya musibah yang menimpanya niscaya ada orang lain yang mengalami musibah sebagaimana dirinya atau bahkan lebih parah darinya. Dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sendiri telah menjelaskan di dalam haditsnya, bahwa beliau adalah orang yang paling besar ditimpa musibahnya, tidak ada seorangpun manusia yang ditimpa musibah lebih besar darinya. Maka jika ada seseorang di antara umatnya yang tertimpa musibah hendaklah ia mengingat dan membandingkan musibah yang menimpanya dengan musibah yang menimpa Rosulnya Shallallahu alaihi wa sallam, sehingga ia tahu bahwa musibah yang menimpanya itu jika dibandingkan dengan musibah yang menimpa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah tidak ada apa-apanya. Lalu akhirnya ia tidak merasa sendirian dengan musibah itu dan ia merasa lebih ringan di dalam menghadapinya.

عن عطاء (بن أبى رباح) رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِذَا أَصَابَ أَحَدَكُمْ مُصِيْبَةٌ فَلْيَذْكُرْ مُصَابَهُ بىِ فَإِنَّهَا مِنْ أَعْظَمِ اْلمـَصَائِبِ

Dari Atha’ (bin Abi Rabah) radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila seseorang di antara kalian ditimpa suatu musibah, maka hendaklah ia mengingat musibahnya itu denganku. Sebab musibahku itu adalah termasuk musibah yang paling berat”. [HR ad-Darimiy: I/ 40, Ibnu Sa’d dan Abu Nua’aim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [10]

2). Serahkan segala persoalan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala

Setiap muslim ketika mendapatkan musibah sekecil apapun hendaklah menyerahkan semuanya kepada Allah Azza wa Jalla yang memang berkehendak untuk menimpakannya kepadanya.

وَ أُفَوِّضُ أَمْرِى إِلَى اللهِ إِنَّ اللهَ بَصِيرٌ بِاْلعِبَادِ

Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. [ QS. Al-Mukmin/ 40: 44].

قَالَ إِنَّمَـا أَشْكُـوا بَثِّى وَ حُزْنِى إِلَى اللهِ وَ أَعْلَمُ مِنَ اللهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ya’qub berkata, “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah, aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahuinya.” [QS. Yusuf/ 12: 86].

Dalil-dalil ayat di atas menerangkan sifat orang mukmin dari umat nabi Musa alaihis Salam ketika dizholimi oleh Fir’aun dan sifat nabi Ya’kub alaihis Salam tatkala mendapatkan musibah kehilangan putra kesayangannya Yusuf alaihis Salam. Mereka bergegas menyerahkan urusan berbagai musibah yang menimpa mereka kepada Allah Subhanahu wa ta’ala tanpa keraguan. Karena mereka tahu bahwa musibah itu didatangkan Allah Jalla Jalaluhu kepada mereka untuk menguji keimanan mereka, dan merekapun paham bahwa hanya Allah ta’ala sajalah yang dapat melenyapkan musibah itu atau mengubahnya dari mereka.

وَ إِن يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلَا كَــاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَ إِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَن يَشَـاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَ هُوَ اْلغَفُورُ الرَّحِيمُ

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Yunus/ 10: 107].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Tidaklah sempurna iman seorang hamba sehingga ia yakin bahwa apa yang dikehendaki Allah kepadanya berupa kebaikan atau keburukan. Tidak ada seseorangpun yang dapat mencegah dan mengubahnya dari suatu kondisi dari beberapa kondisi. Ini adalah makna hadits, “(Apa yang menimpamu itu tidak akan luput darimu dan apa yang luput darimu maka tidak akan menimpamu)”. [11]

Apalagi jika muslim tersebut melek terhadap banyak dalil yang menerangkan akan takdir segala sesuatu lalu mengimaninya dengan keimanan yang utuh tiada kebimbangan. Bahwa ketika ia mendapatkan ujian seperti menjadi bahan atau objek ghibah bagi sebahagian orang, maka ia yakin bahwa ketentuan musibah yang menimpanya itu telah ada sebelum terjadinya musibah tersebut.

Akhirnya dengan keimanannya itu ia dapat merasa tentram dan tenang, meskipun musibah datang bertubi-tubi dan silih berganti. Semuanya itu sudah tertulis dan tidak dapat berubah sedikitpun. Sehingga dengan memiliki keimanan kepada takdir atau ketentuan tersebut seorang muslim tidak akan merasa bangga dan menyombongkan diri dari apa yang ia dapatkan itu sesuai dengan keinginannya dan ia tidak akan kecewa dan berputus asa terhadap sesuatu yang luput darinya.

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى اْلأَرْضِ وَ لَا فِى أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِـــتَابٍ مِن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَ لَا تَفْرَحُوا بِمَــا ءَاتَكُمْ وَ اللهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian, dan supaya kamu tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. [QS. Al-Hadid/ 57: 22-23].

Ayat di atas menerangkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala  telah membuat dan menentukan musibah di muka bumi berupa banjir, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran hutan dan sebagainya sebagai bentuk ujian atau hukuman bagi penghuninya. Begitu pula Allah Azza wa Jalla telah menetapkan bagi setiap manusia musibah berupa sakit, kehilangan harta, jiwa dan kerja, dirusak kehormatannya akibat kena fitnah dan ghibah, dan lain sebagainya juga sebagai bentuk cobaan atau siksaan. Jika musibah tersebut menimpa kaum mukminin maka musibah itu berfungsi sebagai ujian yang bertujuan untuk menaikkan derajat keimanan, menambah kebaikan, menghapus sebahagian kesalahan dan selainnya. Atau bertujuan untuk menegur dan mengingatkan mereka dari melakukan kemaksiatan sehingga mereka sadar dan bersegera meninggalkan kemaksiatan mereka tersebut. Namun jika musibah itu menimpa kaum munafikin dan kafirin maka musibah itu berfungsi untuk menghukum dan menimpakan siksaan dunia bagi mereka sebagaimana yang pernah Allah Tabaroka wa ta’ala timpakan kepada umat-umat terdahulu.

Semua musibah tersebut telah tertulis dan tercatat di dalam kitab lauh mahfuzh dengan lengkap dan jelas sebelum peristiwa musibah itu terjadi. Hal ini sangat mudah bagi Allah Jalla wa Ala yang mampu melakukan apapun yang Ia kehendaki. Hal tersebut telah diterangkan oleh-Nya di dalam kitab-Nya bertujuan agar setiap mukmin tidak kecewa dan berputus asa dari sesuatu yang luput darinya dan supaya tidak sombong dan berbangga dengan sesuatu yang ia dapatkan. Sebab semuanya itu telah tertulis dan ditentukan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Maka ia menghadapi takdir-Nya yang baik ataupun yang buruk, dan menerima ketetapan-Nya yang manis ataupun yang pahit dengan dada yang lapang, pikiran yang terang atau sikap yang lempang.

عن ابن عباس رضي الله عنهما قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم يَوْمًا فَقَالَ: يَا غُلاَمُ إِنىِّ أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: وَ اعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلىَ أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍلَمْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ إِلاَّ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ وَ إِنِ اجْتَمَعُوْا عَلىَ أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍلَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَ جَفَّتِ الصُّحُفُ

 Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, aku pernah berada di belakang Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu beliau bersabda, “Wahai ghulam (anak kecil), aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Ketahuilah, seandainya umat ini berhimpun untuk memberikan manfaat kepadamu akan sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kepadamu kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk memberikan bahaya kepadamu akan sesuatu maka mereka tidak akan dapat memberikan bahaya kepadamu melainkan sesuatu yang telah ditetapkannya atasmu. Pena telah di angkat dan kertas catatan (takdir) telah kering. [HR at-Turmudziy: 2516, Ahmad: I/ 293, 303, 307-308 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [12]

Setiap mukmin setelah memahami dan meyakini akan takdir dan ketetapan Allah Subhanahu wa ta’ala dengan tepat lagi benar, maka niscaya ia akan memiliki hidup yang tentram dan nyaman. Ia tidak akan khawatir jika banyak orang berkumpul dan bersekutu, berusaha untuk mencelakakan dan menimpakan mudlarat kepadanya dengan berbagai kezhaliman semisal menebarkan dan menyebarkan ghibah dan fitnah tentang dirinya. Sebab ia yakin, bila Allah Azza wa Jalla tidak menghendaki dan tidak mengidzinkan mushibah itu menimpa dirinya maka mushibah itu niscaya tidak akan pernah terjadi.

عن ابن الديلمى قَالَ: أَتَيْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ فَقُلْتُ لَهُ: وَقَعَ فىِ نَفْسىِ شَيْءٌ مِنَ اْلقَدَرِ فَحَدِّثْنىِ بِشَيْءٍ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُذْهِبَهُ مِنْ قَلْبىِ فَقالَ: لَوْ أَنَّ اللهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَ أَهْلَ أَرْضِهِ عَذَّبَهُمْ وَ هُوَ غَيْرُ ظَالِمِهِمْ لَهُمْ وَ لَوْ رَحِمَهُمْ كَانَتْ رَحْمَتُهُ خَيْرًا لَهُمْ مِنْ أَعْمَالِهِمْ وَ لَوْ أَنْفَقْتَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فىِ سَبِيْلِ اللهِ مَا قَبِلَهُ اللهُ مِنْكَ حَتىَّ تُؤْمِنَ بِاْلقَدَرِ وَ تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ وَ لَوْ مُتَّ عَلىَ غَيْرِ هَذَا لَدَخَلْتَ النَّارَ  قَالَ: ثُمَّ أَتَيْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ مَسْعُوْدٍ فَقَالَ مِثْلَ ذَلِكَ قَالَ: ثُمَّ أَتَيْتُ حُذَيْفَةَ بْنَ اْليَمَانِ فَقاَلَ مِثْلَ ذَلِكَ قَالَ: ثُمَّ أَتَيْتُ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ فَحَدَّثَنىِ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم مِثْلَ ذَلِكَ

Dari Ibnu ad-Dailamiy berkata, aku pernah mendatangi Ubay bin Ka’b lalu aku berkata kepadanya, “Sungguh telah terjadi sesuatu di dalam diriku dari takdir. Ceritakanlah kepadaku tentang sesuatu mudah-mudahan Allah akan menghilangkannya dari hatiku!”. Berkata (Ubay), “Seandainya Allah mengadzab penduduk langit dan bumi maka Ia akan mengadzabnya tanpa berbuat zhalim kepada mereka. Seandainya Allah memberikan rahmat kepada mereka niscaya rahmat-Nya itu lebih baik bagi mereka dari amal perbuatan mereka. Seandainya engkau infakkan emas sebesar gunung Uhud di jalan Allah maka Allah tidak akan menerimanya darimu sehingga engkau beriman kepada takdir dan engkau mengetahui bahwa apa yang menimpamu itu tidak akan luput darimu dan apa yang luput darimu maka tidak akan menimpamu. Seandainya engkau mati berada di atas selain (keyakinan) ini maka engkau akan masuk neraka. Berkata (Ibnu ad-Dailamiy), “Lalu aku mendatangi Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu maka ia berkata seperti itu”. Ia berkata, “lalu aku mendatangi Hudzaifah bin al-Yaman radliyallahu anhu, maka ia berkata seperti itu”. Ia berkata, “lalu aku mendatangi Zaid bin Tsabit maka ia menceritakan kepadaku dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam seperti itu pula”. [HR Abu Dawud: 4699, Ibnu Majah: 77, Ahmad: V/ 185, 189, ath-Thabraniy, Ibnu Abi Ashim dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [13]

Bahkan keimanan terhadap takdir dan ketetapan Allah ta’ala ini wajib dimiliki oleh setiap muslim, sebagaimana rukun iman lainnya. Jika ada seorang muslim telah mampu menginfakkan emas sebesar atau seharga gunung Uhud di jalan Allah, namun ia belum atau tidak beriman kepada takdir Allah Azza wa Jalla yang baik dan yang buruknya niscaya Allah Subhanahu wa ta’ala tidak akan menerima infaknya tersebut sehingga ia mengimaninya.

Bahkan, di dalam dalil tersebut selanjutnya menegaskan bahwa sesuatu apapun yang telah ditentukan akan menimpa seorang muslim maka sesuatu itu tidak akan pernah luput darinya. Begitu pula jika sesuatu apapun yang luput darinya maka sesuatu itu tidak akan pernah menimpanya. Misalnya teror ghibah atau fitnah yang dilakukan oleh orang terhadap dirinya, jika Allah Jalla Dzikruhu telah menentukannya baginya maka niscaya teror itu tidak akan pernah luput darinya, yakni akan mengenai dan menimpanya dimanapun, bersama siapapun dan kapanpun ia berada. Atau jika teror ghibah atau fitnah itu telah ditentukan oleh-Nya luput dan terhindar darinya maka terror itu niscaya tidak akan pernah menimpanya meskipun banyak orang berhimpun dan bersekutu untuk menimpakannya kepadanya.

 عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ لِابْنِهِ : يَا بُنَيَّ إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ اْلإِيْمَانِ حَتىَّ تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ اْلقَلَمُ فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ قَالَ: يَارَبِّ وَ مَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيْرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتىَّ تَقُوْمَ السَّاعَةُ يَا بُنَيَّ إِنىِّ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: مَنْ مَاتَ عَلىَ غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنىِّ

Dari Ubadah bin ash-Shamit radliyallahu anhu berkata kepada anaknya, “Wahai putraku sesungguhnya engkau tidak akan mendapati lezatnya iman sehingga engkau mengetahui bahwa apa yang menimpamu itu tidak akan luput darimu dan apa yang luput darimu itu tidak akan menimpamu. Aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan itu adalah pena”. Allah berfirman kepadanya, “Tulislah!”. Ia bertanya, “Wahai Rabbku, apakah yang aku akan tulis?”. Allah berfirman, “Tulislah takdir-takdir segala sesuatu sehingga tegaknya hari kiamat”. (Berkata Ubadah), “Wahai putraku sesungguhnya aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mati di atas selain dari (keyakinan) ini maka ia bukan termasuk dari golonganku”. [HR  Abu Dawud: 4700 dan Ahmad: V/ 317. Berkata sy-Syaikh al-Albaniy: shahih].[14]

Keimanan terhadap ketentuan dan takdir Allah Subhanahu wa ta’ala itu menjadi kartu wajib bagi setiap muslim. Sehingga jika ada seseorang yang mati di antara mereka dalam keadaan tidak di atas keyakinan itu maka ia bukan termasuk umat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan akan masuk ke dalam neraka.

Dengan sebab itu, setiap muslim hendaklah berambisi untuk berusaha dan mendapatkan sesuatu yang dapat memberikan manfaat dan kebaikan kepadanya di dunia dan akhirat. Seraya meminta pertolongan kepada Allah Tabarokasmuhu atas usahanya tersebut kemudian jangan bersikap lemah dan mudah menyerah dalam usahanya agar ia mendapatkan takdir atau ketentuan Allah Jalla Jalaluhu yang baik bagi dunia dan akhiratnya.

Namun jika ternyata usahanya itu gagal atau hanya membuahkan keburukan, janganlah ia kecewa dan berputus asa darinya sebab itu juga adalah merupakan kehendak dan ketentuan-Nya. Lalu jangan pula berandai-andai dalam menyikapi ketentuan-Nya yang tidak berkenan di hatinya. Yakni berucap, “Andaikan aku berbuat ini niscaya orang-orang akan menyukaiku atau seandainya aku tidak berbuat ini tentu orang-orang tidak akan mengghibahiku dengan begini dan begitu, dan yang semisalnya”. Sebab kata, “andaikan, seandainya, jikalau dan sejenisnya itu” dapat membuka amalan setan, yakni setan meletakkan ke dalam hati dan aliran darah orang tersebut sikap kecewa, buruk sangka, keingkaran atau penolakan terhadap ketentuan Allah Azza wa Jalla itu.

Tetapi hendaklah ia mengatakan, “ قَدَرُ اللهِ وَ مَا شَاءَ فَعَلَ “ yakni semuanya itu adalah ketentuan Allah, apa yang Ia kehendaki niscaya Ia akan lakukan. Artinya Allah ta’ala jika menghendaki sesuatu perkara kepada seseorang niscaya Ia akan lakukan kendatipun orang itu tidak menghendaki dan tidak pula menyukainya. Maka hendaklah ia menjadi seorang muslim yang pasrah setelah usaha terhadap ketentuan Allah Subhanahu wa ta’ala. Kemudian berserah diri kepada-Nya dengan penuh ketundukan dan menyerahkan urusan tersebut kepada-Nya pula, seraya berharap supaya Allah Azza wa Jalla segera menghilangkan keburukan dan kesulitan hidupnya lalu menggantinya dengan yang lebih baik.

عن أبى هريرة رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: احْرِصْ عَلىَ مَا يَنْفَعُكَ وَ اسْتَعِنْ بِاللهِ وَ لاَ تَعْجِزْ وَ إِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنىِّ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَ كَذَا وَ لَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَ مَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Hendaklah engkau berambisi terhadap sesuatu yang dapat memberikan manfaat kepadamu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah bersikap lemah. Apabila engkau ditimpa sesuatu (mushibah) janganlah engkau mengatakan, “Seandainya aku melakukan (hal ini) niscaya akan menjadi begini dan begitu. Tetapi hendaklah engkau mengatakan, “Qodarullah wa maa syaa’a fa’ala” (semuanya adalah ketentuan Allah, apa yang Ia kehendaki niscaya Ia akan lakukan). Karena sesungguhnya kata “law” (seandainya) itu dapat membuka amalan setan”. [HR Muslim: 2664 dan Ahmad: II/ 366, 370. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [15]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Terdapat petunjuk cara pengobatan ketika terjadi ketentuan takdir, yaitu tunduk terhadap perkara Allah, ridlo terhadap ketentuan-Nya dan berpaling dari menengok kepada apa yang telah lalu. Karena hal tersebut akan membawa(nya) kepada kerugian. Yaitu dengan sabdanya, Qodarullah wa maa syaa’a fa’ala”.  َ[16]

3). Tidak marah dan  benci kepada si pengghibah.

Tindakan dan sikap terpuji lainnya dari seorang hamba muslim jika dighibah adalah merajut hati yang lapang, pikiran yang tenang dan sikap yang matang atau membentuk hati yang bersih, pikiran yang jernih dan sikap yang terlatih sehingga ia tidak akan mudah terbawa emosi, tidak terpancing kondisi dan tidak pula terbakar provokasi. Maka dalam situasi apapun ia tidak akan marah, benci dan dendam kepada si pengghibah dirinya tersebut.

Ia paham dan berbaik sangka bahwa orang yang mengghibahi dirinya itu masih bodoh dan tidak mengerti akan makna ghibah, larangan dan akibat buruknya. Maka ia tidak akan menghadapi kebodohan dengan kebodohan lagi, tetapi kebodohan harus dilawan dan dihadapi dengan ilmu dan kelemah-lembutan. Jika ia menghadapinya dengan kebodohan maka apa bedanya ia dengannya. Tapi jika ternyata si pengghibah itu sudah mengerti akan maksud dari ghibah, tahu akan larangannya dan paham akan akibatnya, ia tetap akan menyikapinya dengan baik namun tegas dalam bersikap. Yakni ia akan tetap menerima kunjungan dan sapaan saudaranya itu dengan baik tetapi ia akan tegas dalam berkata, menasihatinya agar menghentikan perbuatannya, meminta kepada kaum muslimin yang lainnya agar berhati-hati dari lisannya karena boleh jadi suatu saat nanti mereka akan menjadi objek ghibah seperti dirinya, dan sebagainya.

Maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan memuliakan orang yang mampu mengendalikan emosi dan amarahnya tersebut padahal ia mampu untuk meluapkannya kepada orang lain karena ia adalah orang yang memiliki kelebihan atas orang tersebut. Niscaya Allah ta’ala akan menyapa dan memanggilnya dari kumpulan para pemimpin lalu ia akan dipersilahkan memilih bidadari mana yang ia sukai untuk menjadi pasangannya di surga, kelak pada hari kiamat.

عن سهل بن معاذ بن أنس عن أبيه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَنْ كَظُمَ غَيْظًا وَ هُوَ قَادِرٌ عَلىَ أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَلىَ رُؤُوْسِ اْلخَلاَئِقِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ حَتىَّ  يُخَيِّرَهُ فىِ أَيِّ اْلحُوْرِ شَاءَ

Dari Sahl bin Mu’adz bin Anas dari Ayahnya bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mampu mengendalikan amarahnya padahal ia mampu untuk meluapkannya, Allah akan memanggilnya atas pemimpin makhluk pada hari kiamat sehingga ia memilih bidadari mana yang ia kehendaki”. [HR Ibnu Majah: 4186, Abu Dawud: 4777 dan at-Turmudziy: 2021, 2493. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [17]

عن ابن عمر قَالَ: قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَا مِنْ جُرْعَةٍ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ جُرْعَةِ غَيْظٍ كَظَمَهَا عَبْدٌ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ

Dari Ibnu Umar berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Tidak ada pertahanan yang lebih besar pahalanya daripada menahan amarah yang dikendalikan oleh seorang hamba dalam rangka mencari wajah Allah”. [HR Ibnu Majah: 4189. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

Bahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa orang yang mampu menahan amarahnya kelak akan mendapatkan pahala yang paling besar dibandingkan dari bentuk pertahanan manapun yang ada. Tetapi menahan amarahnya tersebut dilakukan hanyalah semata-mata mencari ridlo Allah Azza wa Jalla, bukan lantaran takut terhadap orang lain, menjaga kewibawaan, khawatir menjadi bahan omongan, dan sebagainya.

Di samping itu pula beliau Shallallahu alaihi wa sallam menerangkan bahwa menahan nafsu amarah itu adalah kekuatan yang hakiki, bukan seperti anggapan sebahagian orang bahwa kekuatan itu diukur dengan kekuatan fisik dan ilmu bela diri berupa gulat, silat, karate, tinju, taekwodo, wushu dan sebagainya. Sebab jika seorang muslim itu hanya mengandalkan kekuatan fisik tanpa dapat mengendalikan amarah maka kekuatan itu hanya akan menimbulkan mafsadat (kerusakan) dan mudlarat (bahaya). Berapa banyak terjadi perselisihan, pertengkaran yang kemudian berlanjut dengan perkelahian dan tawuran antar kelompok yang hanya disebabkan oleh masalah sepele tetapi dapat mengundang amarah sekelompok orang yang gemar menyelesaikan masalah hanya dengan adu pisik sehingga menimbulkan pertumpahan darah, perusakan wilayah, penghancuran rumah lalu pada akhirnya menimbulkan kegelisahan, ketidak-amanan dan ketidak-nyamanan sebahagian warga karena daerahnya terusik, jalan dan tanamannya rusak atau sebahagian rumah dan kendaraannya ringsek.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصَّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ اْلغَضَبِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Yang kuat itu bukanlah dengan gulat, yang kuat itu hanyalah yang mampu menahan hawa nafsunya ketika marah”. [HR al-Bukhoriy: 6114, Muslim: 2609, Abu Dawud: 4779 dan Ahmad: II/ 236, 268, 507. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[19]

Berkata Ibnu Baththol, “Di dalam hadits ini[20] (terdapat penjelasan) bahwa memerangi hawa nafsu itu lebih keras dari pada memerangi musuh. Sebab Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjadikan orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya ketika marah sebagai orang yang paling kuat”. [21]

Sepatutnya setiap muslim dapat mengendalikan amarahnya dengan baik, sehingga jikapun ia marah maka marahnyapun lantaran membela agamanya yang diganggu oleh orang jahil. Dari itulah, tatkala ada seseorang meminta nashihat kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, maka beliau menashihatinya agar tidak marah, bahkan beliau mengatakannya berulang-ulang, sebagaimana hadits berikut ini,

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم: أَوْصِنىِ قَالَ: لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ: لاَ تَغْضَبْ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya ada seorang pria berkata kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, “Wasiatkan aku”. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah engkau marah”. Orang itu mengulangi (perkataannya) berkali-kali. Beliau (tetap) bersabda, “Janganlah engkau marah”. [HR al-Bukhoriy: 6116 dan at-Turmudziy: 2020. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [22]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, [23]

“Besarnya kerusakan marah dan apa-apa yang ditimbulkan olehnya, Bahwasanya marah itu tidak akan datang dengan membawa kebaikan kecuali jika karena Allah.
Tercelanya marah dan jauh dari sebab-sebabnya karena menjaga diri darinya adalah merupakan himpunan kebaikan.

Marah yang tercela adalah marah dalam perkara-perkara dunia, sedangkan marah yang terpuji adalah selama karena Allah dan dalam rangka menolong agamanya. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidaklah marah melainkan apabila kehormatan Allah dilanggar.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh dari sebab rasa marah itu untuk mengambil penyebab yang dapat menolak timbulnya rasa marah dan menenangkannya. Di antaranya adalah,

a). Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh untuk meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dari setan yang terkutuk.

عن سليمان بن صُرَدٍ رضي الله عنه قَالَ:اسْتَبَّ رَجُلاَنِ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم وَ َنحْنُ عِنْدَهُ جُلُوْسٌ وَ أَحَدُهُمَا يَسُبُّ صَاحِبَهُ مُغْضِبًا قَدِ احْمَرَّ وَجْهُهُ فَقَالَ النَّبيُّ صلى الله عليه و سلم: إِنىِّ لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ لَوْ قَالَ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ فَقَالُوْا لِلرَّجُلِ: أَلاَ تَسْمَعُ مَا يَقُوْلُ النَّبيُّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنىِّ لَسْتُ  بِمَجْنُوْنٍ

Dari Sulaiman bin Shurad radliyallahu anhu berkata, “Ada dua orang saling mencela disisi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, sedangkan kami sedang duduk-duduk di sisinya. Salah satunya mencela kawannya dalam keadaaan marah dan telah memerah wajahnya”. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suatu kalimat yang jika ia ucapkan akan hilanglah darinya rasa marahnya. Seandainya ia mengucapkan A’uudzu billaah minasy syaithoonir rojiim (aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk)”. Lalu mereka berkata kepada orang itu, “Tidakkah engkau mendengar sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam”. Ia berkata, “Aku bukanlah orang gila”. [HR al-Bukhoriy: 6115, Muslim: 2610, Abu Dawud: 3781, at-Turmudziy: 3452 dan Ahmad: VI/ 394. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [24]

b). Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh untuk diam.

عن ابن عباس رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ (مرتين)

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila seseorang di antara kalian sedang marah maka hendaklah ia diam”. (Beliau mengucapkannya dua kali) [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 245, Ahmad: I/ 239, 283, 365, Ibnu Adiy dan al-Qudlo’iy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [25]

c). Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh untuk duduk atau berbaring.

عن أبي ذر رضي الله عنه قَالَ: إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ لَنَا : إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَ هُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ اْلغَضَبُ وَ إِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ

Dari Abu Dzarr radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian sedang marah sedangkan ia dalam keadaan berdiri maka duduklah. Maka akan hilanglah rasa marah itu, tetapi jika tidak maka berbaringlah”. [HR Abu Dawud: 4782, Ahmad: V/ 152 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [26]

Demikian penjelasan singkat dari asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah tentang menyikapi timbulnya rasa amarah jika menyerang seorang muslim agar rasa marah itu hilang. Yakni dengan ta’awwudz (berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala), diam dan duduk atau berbaring.

4). Memaafkan kesalahan dan menghilangkan dendam kepadanya

Selanjutnya dituntut dari seorang muslim untuk dapat memaafkan kesalahan saudaranya serta menghilangkan dendam yang membara di dalam dadanya.

Telah dijelaskan tentang, diantara keburukan ghibah adalah dapat menimbulkan dendam atau terkadang pula perbuatan ghibah seseorang itu disebabkan oleh dendam kepada saudaranya agar saudaranya yang mengghibah itu dapat merasakan kepedihan dan kesusahan seperti yang pernah ia alami atau bahkan lebih dari itu.

Sebagaimana telah diketahui bahwa perilaku dendam itu amat dilarang oleh agama dan tidak disukai oleh setiap manusia, sebagaimana telah berlalu penjelasannya. Oleh sebab itu Allah Subhanahu wa ta’ala telah menerangkan tentang sifat kaum mukminin di antaranya adalah suka memaafkan kesalahan orang yang meminta maaf kepadanya. Sebab jika ia memiliki dendam kesumat niscaya ia tidak akan mau memaafkan kesalahan saudaranya, kalaupun memaafkan tentulah dengan hati yang terpaksa tiada kerelaan. Jadi syarat masuk surga adalah keimanan, syarat menjadi mukimin diantaranya adalah menjadi pemaaf sedangkan dendam menjadi penghalang pemberian maaf. Maka hati yang sunyi dari dendam, bersih dari hasrat mengancam dan kosong dari kedengkian yang kelam adalah salah satu dari sifat kaum mukminin.

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى السَّرَّاءِ وَ الضَّرَّاءِ وَ اْلكَــاظِمِينَ اْلغَيْظَ وَ اْلعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَ اللهُ يُحِبُّ اْلمــُحْسِنِينَ

(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [QS. Alu Imran/ 3: 134].

Berkata al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah, “Yakni disamping menahan keburukan, mereka memaafkan orang yang menzholimi mereka di dalam hati mereka. Tidak dijumpai rasa dendam di dalam hati mereka terhadap seseorangpun. Ini adalah keadaan yang paling sempurna”. [27]

خُذِ اْلعَفْوَ وَ أْمُرْ بِاْلعُرْفِ وَ أَعْرِضْ عَنِ اْلجَاهِلِينَ

Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. [QS. Al-A’raf/ 7: 199].

 وَ جَزَاؤُا سَيِّـــئَةٍ سَيِّـــئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَ أَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim. [QS. Asy-Syura/42: 40].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat keutamaan memberi maaf kepada saudara-saudara sesama muslim dan mengadakan perdamaian di antara mereka”. [28]

Allah Subhanahu wa ta’ala telah menyuruh setiap muslim untuk selalu membuka pintu hati di dalam memaafkan kesalahan saudaranya. Sebab sebagaimana telah diketahui bahwa tidak ada seorangpun manusia yang luput dari kesalahan. Maka ketika ada kesalahan saudaranya yang ditimpakan kepadanya lalu saudaranya itu meminta maaf kepadanya, maka hendaklah ia membuka simpul hatinya yang telah terkekang amarah untuk segera memaafkan kesalahannya. Apalagi sikap mudah dan cepat memaafkan kesalahan orang lain itu adalah salah satu dari beberapa sifat mulia dari golongan orang-orang bertakwa yang telah dijanjikan ampunan dari Allah ta’ala dan surga yang luasnya adalah seluas langit dan bumi.

Keutamaan lain dari sifat pemaaf adalah Allah Jalla wa Ala akan menempatkan pelakunya sebagai orang yang paling mulia di sisi-Nya. Namun sikap mudah memaafkan itu hanya dapat dimotivasi oleh hilangnya dendam dan dengki dari hatinya. Mustahil dan sulit bagi seorang muslim untuk memberi maaf terhadap kesalahan orang yang menzholiminya jika hatinya masih diliputi oleh perasaan dendam dan jiwanya dikuasai oleh kedengkian.

عن عبد الله بن عمرو قَالَ: قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم: أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: كُلُّ مَخْمُوْمِ اْلقَلْبِ صَدُوْقِ اللِّسَانِ قَالُوْا: صَدُوْقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا  مَخْمُوْمُ اْلقَلْبِ؟ قَالَ: هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لاَ إِثْمَ فِيْهِ وَلاَ بَغْيَ وَ لاَغِلَّ وَ لاَ حَسَدَ

Dari Abdullah bin Amr radliyallahu anhuma berkata, pernah ditanyakan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Siapakah orang yang paling utama?”. Beliau menjawab, “Setiap makhmum al-qolbi (yang bersih hatinya) lagi pula jujur ucapannya”. Mereka bertanya, “Kami telah mengerti tentang jujur ucapannya maka apakah makhmum al-qolbi itu?”. Beliau menjawab, “Ia adalah orang yang bertakwa lagi bersih, tiada dosa, perbuatan aniaya, dendam dan tidak pula dengki”. [HR Ibnu Majah: 4216 dan Ibnu Asakir.  Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [29]

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwasanya seutama-utama manusia adalah yang jujur dalam berkata lagi bersih hatinya.  Lalu beliau menegaskan bahwa orang yang bersih hatinya adalah orang bertakwa lagi bersih tiada dosa, perbuatan zhalim, dendam dan dengki. Maka setiap muslim hendaklah menimbang dirinya dengan penjelasan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di atas, apakah ia telah menjadi orang yang paling utama di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala?. Jika ada di antara mereka yang telah merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling utama lantaran telah meraih kedudukan mulia di sisi manusia sebagai seorang ustadz kondang, kyai langitan, habibul mahbub, syaikh mukarrom dan sebagainya. Tetapi pada kenyataannya ia adalah orang yang menyeru manusia kepada kebatilan dan kesesatan. Sebab ia hanya mengajak umat kepada berbagai perkara syirik dan bid’ah yakni meninggalkan tauhid dan sunnah dengan dasar taklid tiada hujjah. Bahkan ia telah mengotori hatinya dengan berbagai kemaksiatan semisal sifat ujub, sombong, riya dan lainnya, gemar berbuat aniaya dengan menyebarkan kedustaan (fitnah) tentang saingannya tanpa dalil dan fakta, nafsunya telah dibelit dendam membara kepada orang yang menyalahi ajakannya dan menasihatinya terhadap kekeliruan dalam dakwahnya serta arah dakwahnyapun telah dipasung oleh kedengkian terhadap orang lain yang lebih berhasil diterima oleh kaum muslimin dalam dakwah sebab berdasarkan kepada alqur’an dan sunnah.

Jika demikian, maka pengakuannya sebagai orang yang mulia atau bahkan paling mulia itu adalah dusta lagi palsu, sebab pengakuan itu hanya muncul dari dirinya atau dari para pengikutnya bukan berdasarkan dalil.

5). Membalas keburukannya dengan kebaikan

Pada umumnya, sulit bagi siapapun muslim untuk memposisikan dirinya untuk bersikap baik terhadap orang yang bersikap buruk kepadanya. Namun jika ia telah dipoles dengan keimanan dan ketundukkan kepada alqur’an dan sunnah, maka kesulitan itu niscaya akan teratasi. Sebab keimanan yang sempurna itu akan menjadikan seorang muslim bersikap tunduk kepada kebenaran sepahit apapun. Sebagaimana dikatakan di dalam alqur’an,

إِنَّمَــا كَانَ قَوْلَ اْلمـــُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللهِ وَ رَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَ أَطَعْنَا وَ أُولَئِكَ هُمُ اْلمـــُفْلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (memutuskan) di antara mereka ialah ucapan, “kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. [QS. An-Nur/ 24: 51].

Berkata al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah, “Kemudian Allah ta’ala  mengkhabarkan beberapa sifat orang-orang beriman yaitu menerima seruan Allah dan Rosul-Nya. Yaitu mereka tidak mencari agama selain dari kitab Allah dan sunnah Rosul-Nya”. [30]

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Wajibnya berhukum kepada alqur’an dan sunnah. Barangsiapa yang dipanggil kepada alqur’an dan sunnah lalu ia berpaling maka ia adalah orang munafik yang telah diketahui kemunafikannya”. [31]

وَ مَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَ لَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَ رَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ اْلخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَ مَن يَعْصِ اللهَ وَ رَسُولَهُ  فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka tersebut. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. [QS. Al-Ahzab/ 33: 36].

Berkata al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah, “Ayat ini umum mengenai seluruh perkara. Bahwa apabila Allah dan Rosul-Nya menetapkan suatu (perkara), maka tiada seorangpun yang diperbolehkan untuk menyelisihinya. Tidak ada ikhtiar (pilihan) bagi seseorang dalam hal ini, tidak dalam bentuk pendapat dan tidak pula pandangan”. [32]

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat penjelasan bahwa orang mukmin yang benar adalah orang yang tidak mempunyai pilihan lain di sisinya di dalam perkara yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya dengan bentuk pembolehan atau penolakan. Terdapat penjelasan bahwa barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rosul-Nya berarti ia telah keluar dari jalan petunjuk menuju jalan yang sesat”. [33]

Beberapa ayat dan penjelasannya di atas menerangkan tentang sifat mukmin yaitu senantiasa bersikap dengar dan patuh. Ia selalu bersedia untuk mendengar dan menyimak apa yang diterangkan dan diinginkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam di dalam alqur’an dan hadits, dengan penuh ketekunan dan perhatian. Lalu mematuhi semua ketetapan dan keputusan yang terdapat di dalamnya kemudian berusaha mengamalkan setiap perintah dan meninggalkan segenap larangan dengan kadar kesanggupan dan kemampuannya secara maksimal dan optimal.

Di samping itu sifat mukmin lainnya adalah menerima apapun keputusan Allah U dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam dengan penerimaan yang penuh tanpa penolakan, sanggahan ataupun takhyir (mengadakan pilihan lain).

Maka tatkala ia dianjurkan dan diperintahkan untuk membalas kebaikan orang yang bersikap buruk kepadanya, maka iapun segera melakukannya dengan penuh ketaatan dan keikhlasan. Ia tidak menyanggah, membantah, takhyir apalagi menolak. Oleh sebab itu, kendatipun ada orang yang dengan giat mengghibah bahkan memfitnah dirinya, ia tidak akan terpengaruh oleh perbuatan orang tersebut dengan membalas ghibahnya. Namun ia akan berusaha sabar menanggung ghibah tersebut seraya memberikan konfirmasi kepada orang yang mau bertabayyun atau tatsabbut kepadanya. Dan ia akan tetap berbuat baik kepada orang tersebut dengan penuh keikhlasan dan semata-mata mencari pahala dan ridlo-Nya.

Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam beberapa dalil berikut ini,

وَ يَدْرَءُونَ بِاْلحَسَنَةِ السَّيِّــئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

Serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). [ QS. Ar-Ro’d/ 13: 22].

أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَــا صَبَرُوا وَ يَدْرَءُونَ بِاْلحَسَنَةِ السَّيِّــئَةَ وَ مِمَّــا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rizkikan kepada mereka, mereka nafkahkan. [ QS. Al-Qoshshosh/28: 54].

Ayat-ayat di atas menerangkan tentang salah satu dari sifat kaum mukminin, yaitu membalas keburukan yang ditimpakan kepadanya dengan kebaikan.

Jika kehormatan seorang mukmin telah menjadi hidangan yang mengundang selera para penyantapnya maka disaat itulah terjadinya ghibah. Maka mukmin tersebut akan berusaha menyikapi orang-orang yang sedang mengghibahi kehormatannya tersebut dengan sikap yang baik. Ia tidak akan mudah terpancing emosi untuk membalasnya, tidak gampang terprovokasi untuk membencinya bahkan ia berusaha untuk menangguk pahala dari ghibah dan fitnah yang dialamatkan kepadanya tersebut. Ia bersihkan hatinya dari dendam kesumat, amarah pembawa mafsadat, kedengkian yang mengandung mudlarat, buruk sangka yang sudah gawat dan berbagai penyakit hati lainnya.

Panutan terbaik umat ini yaitu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah disifati di dalam kitab Taurat sebagaimana dituturkan oleh seorang shahabat yaitu Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhuma sebagai seorang yang tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi ia memaafkan dan mengampuni. 

عن عطاء بن يسار قال: لَقِيْتُ عَبْدَ اللهِ ابن عمرو بن العاص قُلْتُ: أَخْبِرْنىِ عَنْ صِفَةِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فىِ التَّوْرَاةِ قَالَ: أَجَلْ وَ اللهِ إِنَّهُ لَمَوْصُوْفٌ فىِ التَّوْرَاةِ بِبَعْضِ صِفَتِهِ فىِ اْلقُرْآنِ: يَا أَيُّهَا النَّبيُّ إِنَّا أَرْسَالْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَ نَذِيْرًا وَ حِرْزًا لِلْأُمِّيِّيْنَ أَنْتَ عَبْدِى وَ رَسُوْلىِ سَمَّيْتُكَ اْلمـُتَوَكِّلَ لَيْسَ بِفَظٍّ وَ لاَ غَلِيْظٍ وَ لاَ سَخَّابٍ فىِ اْلأَسْوَاقِ وَ لاَ يَدْفَعُ بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَ لَكِنْ يَعْفُو وَ يَغْفِرُ وَ لَنْ يَقْبِضَهُ اللهُ حَتىَّ يُقِيْمَ بِهِ اْلمِلَّةَ اْلعَوْجَاءَ  بِأَنْ يَقُوْلُوْا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ  وَ يُفْتَحُ بِهَا عَيْنٌ عُمْيٌ وَ آذَانٌ صُمٌّ وَ قُلُوْبٌ غُلْفٌ

Dari Atho bin Yasar, aku bertemu dengan Abdullah bin Amr bin al-Ash, aku berkata, “Kabarkan kepadaku tentang sifat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam kitab Taurat!”. Ia (yaitu Ibnu Amr) menjawab, “Ya, Demi Allah, sesungguhnya Beliau benar-benar disifati di dalam Taurat dengan sebahagian sifatnya di dalam alqur’an, “Wahai Nabi, sesungguhnya Kami telah mengutusmu sebagai saksi, pembawa berita gembira, pembawa ancaman dan penjaga bagi golongan ummiy.[34] Engkau adalah hamba dan utusan-Ku. Aku menamakanmu mutawakkil. [35] Dia tidak kasar, keras (kejam), berteriak-teriak di pasar dan tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi ia memaafkan dan mengampuni.  Allah tidak akan mewafatkannya hingga ia menegakkan agama yang bengkok agar mereka mengucapkan “Laa ilaaha illallah”. Dibuka dengannya, mata yang buta, telinga yang tuli dan hati yang tertutup”. [HR al-Bukhoriy: 2125, 4838. Dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albaniy]. [36]

Begitulah sebahagian sifat dan akhlak mulia Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang mesti ditiru dan dicontoh oleh setiap orang yang mengaku dinisbahkan kepada umatnya. Namun banyak orang di antara umat ini yang mengaku-ngaku sebagai umatnya tetapi perilakunya jauh dari sifat mulia tersebut.

Bahkan beliau Shallallahu alaihi wa sallam menegaskan jika ada seorang muslim dicaci dan dijelek-jelekkan di hadapan orang banyak dengan sesuatu yang memang orang itu ketahui tentangnya, maka janganlah ia membalas perlakuan orang tersebut dengan menjelek-jelekannya dengan apa yang ia ketahui tentang orang tersebut.

عن أبى جري جابر بن سليم أَنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَ إِنِ امْرَؤٌ شَتَمَكَ وَ عَيَّرَكَ  بِمَا يَعْلَمُ فِيْكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيْهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ  عَلَيْهِ

Dari Abu Jariy Jabir bin Sulaim radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dan jika seseorang mencaci dan menjelek-jelekkanmu dengan apa yang ia ketahui tentangmu, maka janganlah engkau menjelek-jelekkannya dengan apa yang engkau ketahui tentangnya. Maka akibat bencana itu akan menimpanya”. [HR Abu Dawud: 4084 dan Ahmad: IV/ 65, V/ 63, 64, 378. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [37]

Jika demikian keadaannya, maka tidak ada bedanya antara muslim tersebut dengan orang yang mencaci atau menjelek-jelekkannya. Istilahnya, perbuatan dosa dibalas dengan dosa yang serupa. Jika saja muslim itu bersabar maka ia akan memperoleh pahala dan keuntungan dengan mengambil pahala orang tersebut kelak pada hari kiamat. Namun karena ia membalasnya dengan perbuatan yang serupa lantaran ketidak-sabarannya yaitu menjelek-jelekkan orang tersebut, maka pahala itu sirna dan raib dari hadapannya dan iapun berdosa dengan perbuatannya tersebut.

Pernah dikatakan kepada salah seorang ulama salaf, “Sesungguhnya si Fulan telah mengghibahimu”. Lalu ia mengirimkan semangkok dari ruthob (kurma basah dan matang) kepadanya dan berkata, “Telah sampai berita kepadaku bahwa engkau telah menghadiahkan kebaikan-kebaikanmu padaku, maka aku ingin membalas kebaikanmu itu dengannya. Namun maaf, aku tidak bisa membalas kebaikanmu dengan sempurna”. (Yaitu ia tidak mau membalasnya dengan memberikan kebaikan-kebaikannya kepada orang tersebut dengan membalas mengghibahnya). [38]

عن عَلِيٍّ قَالَ: َلمــَّا ضَمَمْتُ إِلَيَّ سِلاَحَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَجَدْتُ فىِ قَائِمِ سَيْفِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم رِقْعَةً فِيْهَا: صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَ أَحْسِنْ إِلىَ مَنْ أَسَاءَ إِلَيْكَ وَ قُلِ اْلحَقَّ وَ لَوْ عَلىَ نَفْسِكَ

Dari Ali radliyallahu anhu berkata, “Ketika aku memegang senjata (pedang) Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam aku dapati pada gagang pedang Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam terdapat riq’ah (tulisan), “Sambunglah silaturahmi orang yang memutuskannya darimu, berbuat baiklah kepada orang yang bersikap buruk kepadamu dan katakanlah kebenaran meskipun terhadap dirimu sendiri”. [HR Abu Amr bin as-Samak dan Ibnu an-Najar. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [39]

Yakni hendaklah seorang muslim itu tetap berbuat baik kepada orang yang bersikap buruk kepadanya. Mengucapkan dan menjawab salam, menjenguk ketika sakit, mengantarkan jenazah, menerima kunjungan, menjawab doa tatkala bersin, menerima undangan, membantu kesusahan dan selainnya kepada orang yang selama ini berbuat buruk kepadanya. Hendaklah ia tidak memperhatikan perilaku buruk orang tersebut kepadanya tetapi perhatikan dan harapkan pahala dari perbuatan baiknya itu kepada orang zholim tersebut.

Jika terasa sulit dalam menjalankannya maka hendaklah ia tetap bersabar sampai Allah Subhanahu wa ta’ala mendatangkan pertolongan kepadanya selama ia bersikap mulia seperti itu.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ لىِ قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَ يَقْطَعُوْنىِ وَ أُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَ يُسِيْئُوْنَ إِلَيَّ وَ أَحْلُمُ عَنْهُمْ وَ يَجْهَلُوْنَ عَلَيَّ فَقَالَ: لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ اْلمـَلَّ وَ لاَ يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيْرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلىَ ذَلِكَ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, bahwasanya ada seorang laki-laki berkata, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya aku mempunyai kerabat, aku menyambung silaturahmi kepada mereka tetapi mereka memutuskannya, aku berbuat baik kepada mereka namun mereka berlaku buruk kepadaku dan aku bermurah hati kepada mereka tapi mereka tidak peduli kepadaku”. Beliau bersabda, “Jika engkau sebagaimana yang engkau ucapkan, maka seolah-olah engkau menyuapkan kejemuan kepada mereka. Senantiasa akan ada penolong bagimu dari Allah untuk menghadapi mereka selama engkau seperti itu”. [HR Muslim: 2558. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [40]

6). Introspeksi dan memperbaiki diri

Berkata Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu, “Introspeksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Sesungguhnya hal itu lebih mudah bagi kalian di dalam hisab esok yakni kalian mengintrospeksi diri kalian pada hari ini. Berhiaslah kalian untuk tujuan yang sangat besar yaitu,

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنكُمْ خَافِيَةٌ

Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya). [QS. Al-Haaqqah/69: 18 ]. [41]

Berkata al-Hasan, “Orang mukmin itu adalah penopang atas dirinya, ia mengintrospeksi dirinya karena Allah. Hisab itu akan menjadi ringan bagi suatu kaum yang mengintrospeksi diri mereka di dunia ini. Dan hisab menjadi sulit pada hari kiamat bagi kaum yang menjadikan perkara ini tanpa pengintrospeksian diri”. [42]

Jika setiap muslim terbiasa mengintrospeksi dirinya karena rasa takut terhadap hukuman dan balasan dari Allah Subhanahu wa ta’ala, niscaya ia akan selalu bertindak dan bersikap hati-hati dalam setiap langkah menuju arah yang hendak ia jalani.

Apalagi boleh jadi, sebab muncul dan timbulnya ghibah yang menimpa dirinya itu juga disebabkan lantaran berbagai perbuatan dosa dan kesalahan yang ia lakukan. Maka untuk menghilangkan atau meminimalkan kadar ghibah yang menimpa dirinya itu ia mesti menjauhi dan menghindarkan diri dari berbagai perbuatan yang dilarang oleh Allah Azza wa Jalla dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Dan juga melaksanakan dengan maksimal dan optimal berbagai perintah dan anjuran dari Allah Jalla Jalaluhu dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam.

Atau hendaklah ia memperhatikan dengan seksama gunjingan atau ghibah yang beredar di masyarakat itu. Sebab ucapan mereka itu boleh jadi ada benarnya, lalu ia bertanya kepada ahli ilmu tentang perkara itu. Maka jika ternyata ghibah yang beredar di masyarakat itu yang benar dan dirinya yang salah maka hendaklah ia merubah dan memperbaiki amal-amalnya. Namun jika ternyata amalnya benar sesuai syar’iy dan masyarakat yang salah maka hendaklah ia bersabar dan tetap berhubungan baik dengan mereka dengan akhlak yang santun lagi mulia.

Sebab masyarakat pada masa sekarang ini, tidak hanya puas dengan mengghibah dosa dan keburukan orang lain, tetapi juga berbagai kebaikan yang dikerjakan oleh seseorang. Kebaikan tersebut terkadang dibahas dengan nada dan tanggapan negatif lantaran kebodohannya dengan perkara-perkara agamanya sendiri.

Misalnya, jika ada seorang muslim melakukan kajian-kajian agama di rumahnya atau masjid dekat rumahnya, menjual buku-buku ahlus sunnah atau obat-obatan herbal, membuka praktek hijamah (bekam), melakukan ta’addud (poligami), atau melakukan nikah sirri, berjenggot, celananya cingkrang, mengenakan pakaian jubah, anaknya banyak atau seorang muslimah memakai pakaian muslimah, bercadar, menerima dipoligami dan yang semisalnya. Atau muslim dan muslimah tersebut tidak pernah mengikuti berbagai kegiatan bid’ah berupa maulidan, isra’ mi’rajan, nuzulul qur’anan, nisfu sya’banan, nyekar di awal ramadlan atau lebaran ke makam para kerabat dan shahabat, nyekar dan ziarah ke kuburan para wali di waktu-waktu tertentu, tahlilan, tahun baruan, sholawatan bid’iyyatan dan semisalnya. Apalagi melakukan perayaan valentine day, hallowen day, ulang tahun dirinya atau salah satu kerabat atau shahabatnya, pacaran, tunangan dan selainnya. Maka banyak masyarakat awam yang memperbincangkannya dengan nada dan tanggapan yang negatif lagi sinis. Seakan-akan yang muslim atau muslimah lakukan tersebut keliru, menyimpang dari agama, sesat dan menyesatkan dan mesti diluruskan pemahaman dan perilakunya. Dan mereka tidak sadar bahwa dengan sikap itu sebenarnya mereka telah memusuhi dan menentang ajaran dari agama yang mereka sendiri menganutnya. Hal ini karena ketidak-pahaman mereka terhadap Islam dan juga karena pengaruh propaganda kaum kafirin dalam menjauhkan Islam dari para pemeluknya.

Jika berbagai kebaikan saja bisa menjadi sorotan publik meskipun dipandang dari sisi yang berbeda. Maka bagaimana dengan keburukan dan aib yang dikerjakan oleh sebahagian kaum muslimin, tentu hal ini akan lebih mudah untuk menjadi bahan ghibah.

Maka dengan tidak menafikan akibat jelek dari melakukan berbagai keburukan tersebut di dunia, yang terpenting setiap muslim semestinya mulai mengintrospeksi dirinya terhadap semua amalnya yang pernah dan yang akan ia lakukan. Apakah amalnya tersebut bisa mendatangkan kebaikan atau keburukan, apakah amalnya itu akan menghasilkan pahala atau dosa dan apakah amalnya tersebut dapat memasukkannya ke dalam surga atau ke neraka?.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَ لْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَ اتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَــا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS. Al-Hasyr/ 59: 18].

Berkata al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah, “Yaitu introspeksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan perhatikanlah oleh kalian apa yang telah kalian simpan untuk keuntungan diri kalian dari amal-amal shalih untuk hari kembalinya kalian dan hari digiringnya kalian ke hadapan Rabb kalian (yaitu terjadinya hari kiamat)”. [43]

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Wajibnya bertakwa dengan cara mengerjakan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan. Wajibnya bermuraqabah kepada Allah ta’ala dan melakukan pengawasan harian terhadap apa telah dikerjakan oleh manusia dari amalan-amalan yang terdahulu ataupun yang terkemudian untuk persiapan hari akhir”. [44]

Ayat di atas beserta penjelasannya telah memerintahkan setiap mukmin untuk senantiasa mengintrospeksi dirinya dengan penuh perhatian terhadap setiap amal yang telah diamalkannya supaya amal selanjutnya lebih baik dan lebih bernilai di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan juga menyeleksi dan menaruh perhatian terhadap setiap amal yang akan dikerjakannya, apakah amal tersebut akan membawa keberuntungan dan kebahagian baginya atau bahkan sebaliknya?.

Hal tersebut harus dilakukan sebelum dirinya dihisab dan diperhitungkan segala amalnya yang pernah ia lakukan di dunia. Dan pada hari itu tidak berguna baginya penyesalan dan keinginan untuk kembali ke dunia untuk memperbaiki amal-amalnya. Sebab semua amalnya yang pernah ia kerjakan yang baik dan yang buruknya, sekecil apapun akan dihadapkan ke hadapannya pada waktu itu.

يَوْمَ تَجِدُ كُــلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا وَ مَا عَمِلَتْ مِن سُـوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَ بَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا وَ يُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَ اللهُ رَءُوفٌ بِاْلعِبَادِ

Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. [QS. Ali Imran/ 3: 30].

وَ وُضِعَ اْلكِــتَابُ فَتَرَى اْلمــُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّــا فِيهِ وَ يَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا اْلكِــتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَ لَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَ وَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَ لَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan diletakkanlah kitab (catatan), lalu engkau akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya. Dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya. Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). dan Rabbmu tidak menganiaya seorang juapun”. [QS. Al-Kahfi/ 18: 49].

Maka tatkala seluruh manusia mendatangi Penciptanya pada hari kiamat, pada hari itu setiap mereka akan dibalas sesuai dengan amal-amal mereka. Maka pada hari itu akan diserahkan kepada masing-masing mereka kitab catatan mereka, dan tidak ada seorangpun manusia melainkan ia akan dihadapkan ke hadapan-Nya dan akan diberikan kitab catatannya, dengan tangan kanannya atau dari balik punggungnya. Pada hari itu ada wajah yang berseri-seri penuh kebahagiaan, yang dikarenakan kitab catatannya penuh dengan kebaikan. Dan ada wajah yang bermuram durja penuh penyesalan dan kesengsaraan, yang disebabkan kitab catatannya penuh dengan berbagai keburukan. Bahkan banyak di antara mereka yang tidak memiliki sedikitpun catatan kebaikan lantaran mereka hiasi lembar kehidupan mereka tersebut dengan kekufuran, kemusyrikan ataupun kemunafikan.

Dengan menilik ayat-ayat yang diutarakan di atas dan yang semakna, sudah sepatutnya setiap muslim mempersiapkan diri sejak dini dengan mengerjakan berbagai amal shalih dan meninggalkan berbagai amal salah, agar selamat kelak dari kerugian dan kebinasaan pada hari kiamat. Atau sudah selayaknya ia mengintrospeksi setiap amalnya lalu memperbaikinya jika selama ini amalnya tidak atau kurang sesuai dengan ajaran agamanya yang bersandarkan kepada alqur’an dan hadits-hadits yang tsabit dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

Jika hal tersebut sudah dijalankan dengan maksimal dan optimal, maka tanpa disadari hal itupun akan berdampak baik yaitu terhindarnya ia dari bahan gunjingan atau objek ghibah orang lain.

7). Menjauhkan diri dari berbagai kemaksiatan karena Allah Subhanahu wa ta’ala.

Menyambung penjelasan di atas, yakni keharusan setiap muslim untuk selalu mengintrospeksi dirinya, maka Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam  memerintahkan kaum muslimin untuk bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dengan cara mengerjakan berbagai perintah dan meninggalkan berbagai larangan di dalam agama ini.

فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَ اسْمَعُوا وَ أَطِيعُوا وَ أَنفِقُوا خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ وَ مَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ اْلمـــُفْلِحُونَ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. [QS.at-Taghobun/ 64: 16].

Allah Jalla Dzikruhu telah menyuruh kaum muslimin untuk selalu bertakwa kepada-Nya sesuai dengan kesanggupan mereka masing-masing. Mewujudkannya di dalam keseharian mereka dan menghiasi keyakinan, amalan dan ucapan dengannya lalu mempertahankan dan memperjuangkannya sampai tetes darah terakhir dan nyawa berpisah dengan raga bertemu dengan Sang Pencipta Subhanahu wa ta’ala.

وَ مَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَ مَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَ اتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ اْلعِقَابِ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat keras hukuman-Nya. [QS. Al-Hasyr/ 59: 7].

Berkata asy-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengerjakan apa yang diperintahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan menjauhi apa yang telah dilarang olehnya. Sebab Beliau hanyalah menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari keburukan”. [45]

عن أبى هريرة رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: ذَرُوْنىِ مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهَمْ وَ اخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَ إِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ  فَدَعُوْهُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Biarkanlah apa yang telah aku tinggalkan bagi kalian. Hanyalah binasanya umat terdahulu sebelum kalian adalah lantaran mereka banyak bertanya dan menyelisihi nabi-nabi mereka. Maka bila aku perintahkan kalian dari mengerjakan sesuatu maka kerjakanlah sesanggup kalian dan jika aku larang kalian dari melakukan sesuatu maka tinggalkanlah”. [HR Muslim: 1337, al-Bukhoriy: 7288, an-Nasa’iy: V/ 110, 111, at-Turmudziy: 2679, Ibnu Majah: 2 dan Ahmad: II/ 247, 258, 313, 328, 447-448, 457, 467, 482, 495, 503, 508, 517. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [46]

Berkata asy-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Sepantasnya bagi muslim untuk senantiasa mencari apa yang telah datang dari Allah Azza wa Jalla dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam, kemudian bersungguh-sungguh di dalam memahaminya dan diam di dalam keinginan Allah lalu menyibukkan diri di dalam mengamalkannya”. [47]

Ayat dan hadits shahih di atas memerintahkan setiap muslim untuk mengerjakan berbagai amalan yang telah didatangkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan ukuran kesanggupannya. Dan juga memerintahkannya untuk meninggalkan dan menjauhi berbagai larangannya, sedikitnya ataupun banyaknya. Bahkan jika ia sudah terlanjur mengerjakan suatu amalan yang dilarang olehnya, maka hendaklah ia bersegera untuk menghentikan, meninggalkan dan menanggalkannya. Sehingga akhirnya dengan demikian, kecil kemungkinan baginya untuk menjadi objek ghibah atau ia telah berusaha untuk meminimalkan dirinya dighibah oleh selainnya.

Ini adalah keuntungan dunia yaitu selamat dari fitnah dan ghibah. Adapun keuntungan akhirat tentu lebih besar lagi, yaitu ia akan dijauhkan dan dihindarkan dari neraka yang apinya dahsyat bergejolak dan dimasukkan ke dalam surga yang penuh dengan berbagai kenikmatan yang tak mungkin ditolak.

8). Berdoa.

Lalu untuk menyempurnakan usaha di dalam menyikapi musibah ghibah adalah berdoa. Sebab seringkali terjadi seorang muslim ketika dihujani berbagai ghibah bahkan fitnah, hatinya menjadi gundah, jiwanya menjadi resah, lisannya kelu banyak berkeluh kesah, pandangannya nanar tiada gairah dan langkahnyapun memayah limbung tiada arah. Dikala itulah ia sangat membutuhkan perhatian dan pertolongan dari Rabbnya ta’ala Yang Maha kuasa atas segala sesuatu. Maka di bawah ini ada beberapa doa yang dipanjatkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk diteladani oleh umatnya.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قَالَ: كَانَ النَّبيُّ صلى الله عليه و سلم إِذَا كَرَبَهُ أَمْرٌ قَالَ: يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila dibuat susah oleh suatu perkara, beliau berdoa, “ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ ” (Wahai Yang Mahahidup, wahai Yang Mahaberdiri sendiri, dengan rahmat-Mulah aku meminta bantuan). [HR  at-Turmudziy: 3524 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [48]

عن سعد بن أبى وقاص  رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: دَعْوَةُ ذِي النُّوْنِ إِذْ دَعَا وَ هُوَ فىِ بَطْنِ اْلحُوْتِ ((لَا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ)) فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فىِ شَيْءٍ قَطٌّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ

Dari Sa’d bin Abi Waqqash radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Doanya nabi Yunus ketika ia berada di dalam perut ikan paus

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

(tiada ilah yang pantas disembah kecuali Engkau, Maha suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zholim). [49] Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa tersebut tentang sesuatu perkara apapun melainkan Allah niscaya akan mengabulkannya”. [HR  at-Turmudziy: 3505 dan Ahmad: I/ 170. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [50]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم يَتَعَوَّذُ مِنْ جَهْدِ اْلبَلاَءِ وَ دَرَكِ الشَّقَاءِ وَ سُوْءِ اْلقَضَاءِ وَ َشمَاتَةِ اْلأَعْدَاءِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, adalah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berlindung dari payahnya cobaan, hinanya kesengsaraan, buruknya ketetapan (qodlo) dan kegembiraan para musuh. [HR al-Bukhoriy: 6347, 6616, Muslim: 2707 dan an-Nasa’iy: VIII/ 269, 270. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [51]

Jadi mengucap doanya adalah,

اَللَّهُمَّ إِنىِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ اْلبَلاَءِ وَ دَرَكِ الشَّقَاءِ وَ سُوْءِ اْلقَضَاءِ وَ َشمَاتَةِ اْلأَعْدَاءِ

(Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari payahnya cobaan, hinanya kesengsaraan, buruknya ketetapan (qodlo) dan kegembiraan para musuh).

عن ابن عباس رضي الله عنهما قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم يَدْعُوْ: رَبِّ أَعِنىِّ وَ لاَ تُعِنْ عَلَيَّ وَ انْصُرْنىِ وَ لاَ تَنْصُرْ عَلَيَّ وَ امْكُرْ لىِ وَ لاَ َتمْكُرْ عَلَيَّ وَاهْدِنىِ وَ يَسِّرْ هُدَايَ إِلَيَّ  وَ انْصُرْنىِ عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ اَللَّهُمَّ اجْعَلْنىِ لَكَ شَاكِرًا لَكَ ذَاكِرًا لَكَ رَاهِبًا لَكَ مِطْوَاعًا إِلَيْكَ مُخْبِتًا –أَوْ مُنِيْبًا- رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتىِ وَ اغْسِلْ حَوْبَتىِ وَ أَجِبْ دَعْوَتىِ وَ ثَبِّتْ حُجَّتىِ وَ اهْدِ قَلْبىِ وَ سَدِّدْ لِسَانىِ وَ اسْلُلْ  سَخِيْمَةِ قَلْبىِ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, adalah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berdoa, “Wahai Rabbku, tolonglah aku dan janganlah Engkau tolong (orang yang akan menimbulkan bahaya) atas diriku. Bantulah aku dan janganlah Engkau bantu (orang yang akan menimbulkan mudlarat) kepadaku. Buatlah rencana (yang baik) untukku dan janganlah Engkau membuat rencana (yang buruk) untukku. Berilah aku hidayah dan mudahkanlah hidayahku itu untukku. Tolonglah aku terhadap orang yang ingin berbuat zholim kepadaku. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang selalu bersyukur kepada-Mu, berdzikir kepada-Mu, takut kepada-Mu, taat lagi tunduk kepada-Mu. Ya Rabbku terimalah taubatku, bersihkanlah dosa-dosaku, kabulkanlah doaku, teguhkanlah hujjahku, tunjukilah hatiku, luruskanlah lisanku dan hilangkanlah belenggu hatiku. [HR Abu Dawud: 1510, at-Turmudziy: 3551, Ibnu Majah: 3830, Ahmad: I/ 227 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [52]

Demikian sebahagian doa yang dipanjatkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk dicontoh dan diamalkan oleh setiap muslim. Jika ada seorang muslim ditimpa oleh satu musibah berupa ghibah misalnya, lalu ia memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan salah satu doa yang diajarkan oleh rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam dengan penuh keikhlasan dan harapan untuk dikabulkan, maka mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla akan mengeluarkannya dari kesulitan tersebut dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Atau paling tidak ia telah mendapatkan pahala dengan berdoa kepada-Nya sebab doa itu adalah ibadah. Dan tidak ada satu ibadahpun jika dikerjakan oleh seorang muslim karena Allah ta’ala melainkan orang tersebut akan mendapatkan balasan pahala yang baik.

Wahai saudara-saudara muslimku tercinta, hendaknya kita tidak beranggapan bahwa ghibah yang ditimpakan kepada kita itu suatu keburukan, karena boleh jadi di dalamnya itu banyak sekali kebaikan-kebaikannya. Hendaklah kita bersikap dengan sikap-sikap yang baik lagi benar supaya kita dapat memetik hasil yang bermanfaat untuk kita di dunia dan akhirat.

Mudah-mudah bermanfaat untukku, keluargaku tercinta, para kerabat dan shahabatku dan seluruh kaum muslimin di tempat manapun dan kapanpun mereka berada.

Insyaa’ Allah masih berlanjut di GHIBAH 8.

[1] Aysar at-Tafasir: V/ 459.
[2] Mukhtashor Shahih Muslim: 3980, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3980 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 147.
[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsirnya. Lihat Tafsir alQur’an al-Azhim: IV/ 451, Tazkiyyah an-Nufus halaman 102, al-Qoul al-Mufid Syarh Kitaa at-Tauhid: II/ 66 dan Fat-h al-Majid Syarh Kitaab ay-Tauhid halaman 437.
[4] Aysar at-Tafasir: V/ 367.
[5] Shahih Sunan Ibnu Majah: 3256, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1954, Shahih al-Jami ash-Shaghir: 4013, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 146 dan Misykah al-Mashabih: 1566.
[6] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 228.
[7] Bahjah an-Nazhirin: I/ 106.
[8] Syarh Riyadl ash-Shalihin: I/ 131.
[9] Shahih Sunan Ibni Majah: 3250, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 995 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 144.
[10] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 347 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1106.
[11] Aysar at-Tafasir: II/ 516.
[12] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2043, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7957 dan Misykah al-Mashobih: 5302.
[13] Shahih Sunan Abi Dawud: 3932, Shahih Sunan Ibni Majah: 62, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5244 dan Misykah al-Mashobih: 115.
[14] Shahih Sunan Abi Dawud: 3933, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2018 dan Misykah al-Mashobih: 94.
[15] Mukhtashor Shahih Muslim: 1840 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6650.
[16] Bahjah an-Nazhirin: I/ 183.
[17] Shahih Sunan Ibni Majah: 3375, Shahih Sunan Abi Dawud: 3997, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1645, 2026, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6518, 6522 dan Misykah al-Mashobih: 5088.
[18] Shahih Sunan Ibni Majah: 3377 dan al-Adab: 178.
[19] Shahih Sunan Abi Dawud: 3997, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5375, Misykah al-Mashobih: 5105.
[20] Ada perubahanan, asalnya: di dalam hadits pertama ini.
[21] Fat-h al-Bariy: X/ 520.
[22] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1644, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7373 dan Misykah al-Mashobih: 5104
[23] Bahjah an-Nazhirin: I/ 112.
[24] Mukhtashor Shahih Muslim: 1792, Shahih Sunan Abi Dawud: 3999, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2746 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2491
[25] Shahih al-Adab al-Mufrad: 184, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 693 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1375.
[26] Shahih Sunan Abi Dawud: 4000, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 694 dan Misykah al-Mashobih: 5114.
[27] Tafsir al-Qur’an al-Azhim: I/ 499.
[28] Aysar at-Tafasir: IV/ 618.
[29] Shahih Sunan Ibni Majah: 3397 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 948.
[30] Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim: III/ 363.
[31] Aysar at-Tafasir: III/ 582.
[32] Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim: III/ 592.
[33] Aysar at-Tafasir: IV/ 274.
[34] Mereka adalah orang arab. Atau orang-orang yang buta huruf, tidak dapat membaca dan menulis.
[35] Orang yang berserah diri kepada Allah sebab merasa qona’ah (nrimo) dengan yang sedikit dan sabar dengan apa yang tidak disukai. (Fat-h al-Bariy: VIII/ 586).
[36] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 1003 dan Fat-h al-Bariy: IV/ 342-343, VIII/ 585.
[37] Shahih Sunan Abi Dawud: 3442, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 98 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 770.
[38] Fiq-h ad-Da’wah wa at-Tazkiyyah an-Nufus oleh Husain bin Audah al-Awayisyah halaman 463.
[39] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3769 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1911.
[40] Mukhtashor Shahih Muslim: 1763 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5055.
[41] Tazkiyah an-Nufus halaman 69 oleh al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambaliy, al-‘Allamah Ibnu al-Qoyyim dan al-Imam al-Ghazaliy.
[42] Tazkiyah an-Nafus halaman 69.
[43] Tafsir al-Qur’an al-Azhim: IV/ 411.
[44] Aysar at-Tafasir: V/ 316.
[45] Bahjah an-Nazhirin: I/ 233 dan semakna apa yang dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim: IV/ 404.
[46] Mukhtashor Shahih Muslim: 639, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2456, 2457, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2158, Shahih Sunan Ibni Majah: 2, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 91, 3430, Silisilah al-Ahadiis ash-Shahihah: 850, Irwa’ al-Ghalil: 155, 314 dan Misykah al-Mashobih: 2505.
[47] Bahjah an-Nazhirin: I/ 237.
[48] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2796, Shahih al-Kalim ath-Thayyib: 119 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4791.
[49] QS. al-Anbiya’/ 21: 87.
[50] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2785, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3383, Shahih al-Kalim ath-Thayyib: 123 dan Misykah al-Mashobih: 2292.
[51] Mukhtashor Shahih Muslim: 1912, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 5066, 5067 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4903.
[52] Shahih Sunan Abii Dawud: 1337, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2816, Shahih Sunan Ibni Majah: 3088, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3485 dan Misykah al-Mashobih: 2488.