السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Jumat, 31 Mei 2013

AKHI, TITIP SALAM YA UNTUK SI FULAN !!!…

TITIP SALAM
بسم الله الرحمن الرحيم
          
Sekarang ini, banyak dijumpai di antara kaum muslimin yang banyak disibukkan dengan berbagai sesuatu, sehingga ia jarang bertemu dengan kerabat, shahabat atau orang-orang lain yang dikenalnya. Maka ketika ia dapati ada seseorang hendak bertemu dengan orang yang ia kenal baik karena suatu urusan yang harus diselesaikan dengannya, iapun menitip salam melalui orang tersebut kepada kerabat atau shahabatnya itu. Ia berpesan, ‘Mas, titip salam ya untuk si Fulan’, atau ‘Pak, kalau nanti bertemu dengan si Fulan, sampaikan salamku untuknya’ atau semisal yang lainnya.

Namun, apakah perilaku ‘titip salam itu’ telah dikenal di masa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam?. Atau adakah dalil-dalil tentang masalah itu di dalam hadits-hadits yang shahih?.
Oleh sebab itu, untuk menghilangkan syubhat dan keraguan akan hal itu akan dibawakan di dalam pembahasan ini dalil-dalil dan penjelasan para ulama tentang hal tersebut. Di antara dalil-dalilnya adalah sebagai berikut,

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, ‘Jibril pernah datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata,

   يَا رَسُوْلَ اللهِ هَذِهِ خَدِيْجَةُ قَدْ أَتَتْ مَعَهَا إِنَاءٌ فَيْهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا وَ مِنِّى وَ بَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِى اْلجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيْهِ وَ لَا نَصَبَ

“Wahai Rosulullah, khadijah akan datang kepadamu dengan membawa bejana yang berisi cuka, makanan atau minuman. Apabila ia datang kepadamu, maka sampaikanlah salam kepadanya dari Rabbnya dan dariku. Dan berikan kabar gembira kepadanya bahwa ia berada di dalam sebuah rumah di dalam surga yang terbuat dari mutiara yang berongga yang tidak terdapat kegaduhan di dalamnya dan tidak pula keletihan”. [HR al-Bukhoriy: 3820, 7497].

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata,

  جَاءَ جِبْرِيْلُ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم وَ عِنْدَهُ خَدِيْجَةُ قَالَ: إِنَّ اللهَ يُقْرِئُ خَدِيْجَةَ السَّلَامَ فَقَالَتْ: إِنَّ اللهَ هُوَ السَّلَامُ وَ عَلَى جِبْرِيْلَ السَّلَامُ وَ عَلَيْكَ السَّلَامُ وَ رَحْمَةُ اللهِ
     
Jibril datang menemui Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan di sisi Beliau ada Khadijah radliyallahu anha. Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jallah menyampaikan salam kepada Khadijah”. Lalu ia berkata, “Sesungguhnya Allah itu adalah as-Salam, salam pula untuk Jibril dan salam dan  Rahmat Allah (semoga dilimpahkan) juga untukmu”. [HR al-Hakim: 4908, an-Nasa’iy, al-Bazzar dan ath-Thabraniy di dalam al-Kabir].

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolaniy rahimahullah, “Dari hadits tersebut terdapat faidah agar seseorang menjawab salam kepada orang yang mengantarkan salam dan kepada orang yang menitipkan salam kepadanya”. [1]

Dari Aisyah radliyallahu anha, bahwasanya Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

 يَا عَائِشَةُ هَذَا جَبْرِيْلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلَامَ فَقَالَتْ: وَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ تَرَى مَا لَا أَرَى –تريد النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم
           
“Wahai Aisyah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu”. Aisyah berkata, “Salam juga untuknya, rahmat dan berkah Allah semoga dilimpahkan kepadanya. Engkau dapat melihat perkara-perkara yang tidak dapat aku lihat –yang dimaksud adalah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam-“. [HR al-Bukhoriy: 3217, 3768, 6201, 6249 Muslim: 2447, Abu Dawud: 5232 dan at-Turmudziy: 2846. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

Di dalam musnad al-Imam Ahmad terdapat tambahan , Aisyah radliyallahu anha berkata,

 فَقُلْتُ: وَ عَلَيْكَ وَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

‘Aku menjawab, “Salam pula untukmu (yaitu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam) dan semoga salam, rahmat dan berkah Allah Azza wa Jalla dilimpahkan untuknya”. [HR Ahmad: VI/ 117].

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Sanad hadits ini shahih, dan tambahan dalam hadits ini sangat penting”. [3]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Kemudian sesungguhnya termasuk dari sunnah adalah apabila ucapan salam itu dititipkan dari seseorang untuk seseorang yang lain untuk menjawab ‘alaihi as-Salam’. Namun jika menjawab ‘alaika wa alaihi as-Salam atau alaihi wa alaika as-Salam’ maka itu adalah baik. Karena orang yang menyampaikan salam itu adalah orang yang berbuat baik, maka mesti dibalas dengan mendoakan kebaikan kepadanya. [4]

Dari Ghalib berkata, “Sesungguhnya kami sedang duduk-duduk di pintunya al-hasan. Tiba-tiba datanglah seseorang dan berkata, ‘Ayahku pernah bercerita kepadaku, dari kakekku berkata, “Ayahku pernah mengutusku kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, ‘Datanglah kepada Beliau dan sampaikan salamku kepadanya!”. Lalu Beliau bersabda,

عَلَيْكَ وَ عَلَى أَبِيْكَ السَّلَامُ

“Untukmu dan ayahmu salam kembali”. [HR Abu Dawud: 5231. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [5]

Demikian beberapa dalil hadits yang membolehkan seorang muslim untuk menitipkan salam kepada seseorang untuk kerabat, shahabat atau orang lain yang dikenalnya. Namun hendaknya ia tidak membebani seseorang untuk menyampaikan salam kepada seseorang yang lain, karena boleh jadi orang tersebut malu atau sungkkan untuk menolak  titipan salamnya lalu ia lupa atau tidak sempat atau selainnya, maka boleh jadi ia jadi berdosa karena tidak menunaikan amanahnya.

Orang yang dititipkan salam itu juga berusaha untuk menyampaikan salam yang diberikan kepadanya sebagai satu bentuk amanah yang harus ia tunaikan. Oleh sebab itu jika merasa keberatan darinya, tidak mengapa ia menolaknya lantaran suatu sebab yang menyulitkannya. [6]

Tata cara menjawab titip salam

Apabila ada keluarga, kerabat, teman atau siapa saja yang titip salam melalui seseorang kepada kita, maka kita wajib menjawabnya. Allah ta’ala berfirman,

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” [QS an-Nisa/ 4: 86].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Sesungguhnya Allah ta’ala telah menyuruh hamba-hambaNya yang beriman untuk membalas salam penghormatan orang yang mengucapkannya kepada mereka dengan yang lebih baik darinya. Jika tidak dengan yang lebih baik, maka dengan yang semisalnya. Barangsiapa ada yang mengucapkan, ‘Assalamu alaikum’, maka hendaklah ia membalas, ‘Wa alaikum as-Salam wa rohmatullah’. Barangsiapa yang mengucapkan, ‘Assalamualaikum wa rohmatullah’, maka hendaklah ia membalas kepadanya, ‘Wa alaikum as-Salam wa rohmatullah wa barokatuh’”. [7]

Katanya lagi, “Adanya penegasan akan sunnah penghormatan dan wajib membalasnya dengan ucapan yang lebih baik (darinya) atau dengan yang semisalnya”. [8]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, “Penghormatan di sini adalah ucapan salam, dan makna inilah yang dimaksudkan dalam ayat ini”. [9]

Berkata al-Imam al-Qurthubiy rahimahullah, “Ulama sepakat bahwa memulai salam hukumnya sunnah yang sangat dianjurkan, sedangkan menjawab salam hukumnya adalah wajib”.  [10]

Dari ayat di atas dapat dapat kita ketahui dua cara menjawab salam,
1). Sesuai dengan ucapan salam.
2). Menambah dengan beberapa kata yang disyariatkan.

Sebagai contoh; bila seorang mengucapkan, “Assalamualaikum”, maka minimal kita menjawabnya dengan “wa alaikum as-Salam”, dan yang lebih baik ditambah dengan kata “wa rohmatulloh”, dan yang lebih baik lagi ditambah dengan kata “wa barokatuh.
Hanya saja, sunnah titip salam tidak sama dengan mengucapkan secara langsung, yang mana pada saat kita titip salam hanya berkata, “titip salam untuk fulan” atau “sampaikan salam buat fulan”, maka untuk menjawabnya kita pergunakan kata paling minimal, yaitu “wa alaihi as-Salam, dan semakin ditambah maka semakin baik”. Ini poin pertama.
Poin kedua, lalu bagaimana dengan orang yang menyampaikan salam tersebut, apakah kita mendoakannya juga atau tidak? Maka dapat dijawab, ‘ya’, kita mendoakannya juga. Akan tetapi, ulama menjelaskan bahwa mendoakan orang yang menyampaikan salam tersebut hukumnya adalah sunnah (dianjurkan).

Berkata al-Allamah Ibnu Qoyyim rahimahullah, “Di antara petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah apabila seseorang menyampaikan salam kepadanya dari orang selainnya, Beliau menjawab salam orang yang menyampaikan salam tersebut dan orang yang menitipkannya”. [11]

Hal ini dapat kita ketahui dari jawaban Aisyah radliyallahu anha yang hanya menjawab salam untuk Jibril ‘alaihi as-Salam saja dan tidak ikut mendoakan beliau, dan beliaupun tidak mengingkarinya. Andaisaja hukumnya wajib, tentu saja Rasulullah shallallahi alaihi wa sallam sudah meluruskan ucapan Aisyah radliyallahu anha.

Berkenaan dengan tambahan doa untuk orang yang menyampaikan salam tersebut, maka telah ditunjukkan oleh hadits Aisyah radliyallahu anha di atas.
Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.

[1] Fat-h al-Bariy: VII/ 139.
[2] Shahih Sunan Abu Dawud: 4359.
[3] Shahih al-Adab al-Mufrad halaman 308-309.
[4] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: III/ 165.
[5] Shahih Sunan Abu Dawud: 4358.
[6] Lihat penjelasan lengkapnya di Syar-h Riyadl ash-Shalihin: III/ 165 dengan beberapa penambahan.
[7] Aysar at-Tafasir: I/ 518.
[8] Aysar at-Tafasir: I/ 518.
[9] Tafsir Fat-h al-Qodir: I/ 554, tafsir surat an-Nisa ayat 86.
[10] Tafsir Fat-h al-Qodir: I/ 554, tafsir surat an-Nisa ayat 86.
[11] Zad al-Ma’ad: II/ 427.

UNTUK APA ANDA MANDI (2)??..

MANDI YANG DIANJURKAN
 بسم الله الرحمن الرحيم
Selain dari amalan-amalan yang mewajibkan mandi, ada juga amalan-amalan lain yang membutuhkan kepada mandi namun mandi di dalam hal ini hanyalah bersifat anjuran dan hukumnya sunnah.

Hal ini perlu diketahui, sebab diharapkan kepada setiap muslim untuk senantiasa berlomba-lomba kepada kebaikan. Beberapa amalan yang membutuhkan mandi di dalam bab ini, meskipun hanya bersifat anjuran tetapi jika dikerjakan dengan niat ikhlas karena Allah Subhanahu wa ta’ala niscaya akan mendatangkan banyak kebaikan, baik di dunia ataupun akhirat.

1). Dianjurkan mandi setiap kali jimak

Islam adalah agama yang bersih dan sangat menyukai kebersihan. Pun demikian dengan perkara-perkara yang berkaitan dengan masalah rumah tangga.

Sedangkan jimak merupakan salah satu dari beberapa kebutuhan suami dan istri. Mereka tidak hanya membutuhkan sandang, pangan dan papan saja namun juga hubungan yang dapat melekatkan dan mengeratkannya agar lebih harmonis dan romantis yaitu hubungan seksual atau jimak ini. Apalagi jika kebutuhan ini diharapkan dapat melahirkan generasi penerus bagi mereka berupa anak atau keturunan, maka hubungan seksual ini lebih sangat dibutuhkan lagi.

Namun ketika mereka melakukan hubungan seksual ini dalam kondisi yang tidak menyenangkan dari fisik, psikis ataupun lingkungannya maka hal ini akan dapat mengganggu dan merusak hubungan seksual tersebut menjadi tidak nyaman dan tidak pula menyenangkan. Maka dengan ini pulalah hubungan keduanya boleh jadi menjadi renggang, bersitegang dan bahkan di ambang jurang kehancuran.

Oleh sebab itu setiap muslim, bukan hanya berusaha menunaikan kewajibannya sebagai suami yang menggauli istrinya dengan cara ma’ruf atau sebagai istri yang berusaha memenuhi kehendak suaminya yang mengajaknya ke tempat tidur untuk berhubungan intim. Tetapi juga mereka hendaklah berusaha untuk memperhatikan hal-hal yang dapat menimbulkan keinginan, gairah dan kepuasan kepada pasangannya. Di antaranya adalah dengan memperhatikan kondisi tubuh, yakni seseorang di antara mereka ketika akan mendatangi pasangannya, hendaklah dalam keadaan bersih dan harum. Dan mandi adalah solusi atau jalan keluarnya, dengan mandi, tubuh akan menjadi segar, hilang kotoran dan bau-bauan yang tidak sedap dan pasangannyapun akan lebih senang dan bergairah. Apalagi jika kedua pasangan tersebut hendak mengulanginya kembali setelah cukup beristirahat.
Hal ini telah dikerjakan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang pernah menggilir seluruh istri-istrinya dalam satu malam. Dan setiap hendak menggilir salah seorang dari mereka, beliau mandi terlebih dahulu. Hal ini berdasarkan dalil hadits di bawah ini,

 عن أبي رافع أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم طَافَ ذَاتَ يَوْمٍ عَلَى نِسَائِهِ يَغْتَسِلُ عِنْدَ هَذِهِ وَ عِنْدَ هَذِهِ قَالَ: فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَلاَ تَجْعَلُهُ غُسْلاً وَاحِدًا؟ قَالَ: هَذَا أَزْكَى وَ أَطْيَبُ وَ أَطْهَرُ

Dari Abu Rafi’ radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam suatu hari pernah berkeliling (menjimak) istri-istrinya yang Beliau mandi di sisi yang ini dan di sisi yang itu. Berkata (Abu Rafi’), ”aku bertanya, ”Wahai Rosulullah tidakkah engkau menjadikannya satu kali mandi saja?”. Beliau menjawab, ”Ini lebih suci, lebih harum dan lebih bersih”. [HR Abu Dawud: 219, Ibnu Majah: 590 dan Ahmad: VI/ 8. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [1]

Mandi setiap kali hendak mengulangi jimak adalah lebih suci, lebih harum dan lebih bersih. Hal inipun disukai oleh suami istri yang melakukannya meskipun mencuci farji dan berwudlu itu sudah memadai sebagaimana telah diterangkan. [2]

2). Dianjurkan mandi bagi perempuan yang istihadlah setiap kali sholat

Penganjuran mandi selanjutnya adalah untuk perempuan yang mengalami istihadlah setiap kali hendak melakukan sholat.

عن عدي بن ثابت عن أبيه عن جده عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: اْلمـُسْتَحَاضَةُ تَدَعُ الصَّلاَةَ أَيَّامَ أَقْرَائِهَا ثُمَّ تَغْتَسِلُ وَ تَتَوَضَّأُ لِكُلِّ صَلاَةٍ وَ تَصُوْمُ وَ تُصَلِّي

Dari Adiy bin Tsabit dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang istihadlah meninggalkan sholat beberapa hari kebiasaan haidlnya kemudian ia mandi dan wudlu untuk setiap kali sholat. Ia juga mengerjakan shaum dan sholat”. [HR Ibnu Majah: 625, at-Turmudziy: 126, Abu Dawud: 297 dan ad-Darimiy: I/ 202. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[3]

عن فاطمة بنت أبي حبيش أَنَّهَا كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِذَا كَانَ دَمُ اْلحَيْضِ فَإِنَّهُ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِيْ عَنِ الصَّلاَةِ فَإِذَا كَانَ اْلآخَرُ فَتَوَضَّئِيْ وَ صَلِّيْ

Dari Fathimah binti Abi Hubaisy radliyallahu anha bahwasanya ia pernah mengalami istihadlah. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “jika itu darah haidl maka warna darahnya hitam yang dapat dikenal, jika itu yang engkau alami tahanlah dirimu dari sholat”. [HR Abu Dawud: 304, an-Nasa’iy: I/ 123 dan al-Hakim: 636. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [4]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, ”Hadits ini menunjukan atas wajibnya wudlu (bagi orang yang istihadlah) untuk setiap kali sholat”. [5]

عن عائشة قَالَتْ: اسْتُحِيْضَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبيِ حُبَيْشٍ فَسَأَلَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنيِّ أُسْتَحَاضُ فَلاَ أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ الصَّلاَةَ ؟ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : إِنمَّاَ ذَلِكَ عِرْقٌ وَ لَيْسَتْ بِاْلحَيْضَةِ فَإِذَا أَقْبَلَتِ اْلحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ وَ إِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِيْ عَنْكِ أَثَرَ الدَّمِ وَ تَوَضَّئِيْ فَإِنمَّاَ ذَلِكَ عِرْقٌ وَ لَيْسَتْ بِاْلحَيْضَةِ قِيْلَ لَهُ: فَاْلغُسْلُ؟ قَالَ: ذَلِكَ لاَ يَشُكُّ فِيْهِ أَحَدٌ

Dari Aisyah adliyallahu anha berkata, “Fathimah binti Hubaisy pernah mengalami istihadlah, lalu ia bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, ia berkata, “ Wahai Rosulullah, sesungguhnya aku mengalami istihadloh, maka aku tidak suci, bolehkah aku meninggalkan sholat?”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Yang demikian itu adalah cairan penyakit bukannya haidl, maka jika datang waktu haidl tinggalkanlah sholat dan apabila telah berlalu maka cucilah bekas darah darimu dan berwudlulah. Yang demikian itu hanyalah cairan penyakit dan bukannya haidl”. Ditanyakan kepadanya, “Kalau mandi bagaimana?”. Beliau menjawab, “hal tersebut, tiada seseorangpun yang ragu tentangnya”. [HR an-Nasa’iy: I/ 124. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih isnadnya]. [6]

عن حمنة بنت جحش قَالَتْ: كُنْتُ أُسْتُحَاضُ حَيْضَةً كَثِيْرَةً شَدِيْدَةً فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَسْتَفْتِيْهِ وَ أُخْبِرُهُ فَوَجَدْتُهُ فىِ بَيْتِ أُخْتىِ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنيِّ امْرَأَةٌ أُسْتُحَاضُ حَيْضَةً كَثِيْرَةً شَدِيْدَةً فَمَا تَرَى فِيْهَا قَدْ مَنَعَتْنىِ الصَّلاَةُ وَ الصَّوْمُ؟ فَقَالَ: أَنْعَتُ لَكِ اْلكُرْسُفَ فَإِنَّهُ يُذْهِبُ الدَّمَ قَالَتْ: هُوَ أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: فَاتَّخِذِيْ ثَوْبًا فَقَالَتْ: هُوَ أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ إِنمَّاَ أَثُجُّ ثَجًّا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : سَآمُرُكِ بِأَمْرَيْنِ أَيَّهُمَا فَعَلْتِ أَجْزَأَ عَنْكِ مِنَ اْلآخَرِ وَ إِنْ قَوِيْتِ عَلَيْهِمَا فَأَنْتِ أَعْلَمُ فَقَالَ لَهَا: إِنمَّاَ هَذِهِ رَكْضَةٌ مِنْ رَكَضَاتِ الشَّيْطَانِ فَتَحَيَّضِيْ سِتَّةَ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةَ أَيَّامٍ فىِ عِلْمِ اللهِ ثُمَّ اغْتَسِلِيْ حَتىَّ إِذَا رَأَيْتِ أَنَّكِ قَدْ طَهُرْتِ وَ اسْتَنْقَأْتِ فَصَلِّي ثَلاَثًا وَ عِشْرِيْنَ لَيْلَةً أَوْ أَرْبَعًا وَ عِشْرِيْنِ لَيْلَةً وَ أَيَّامَهَا وَ صُوْمِيْ فَإِنَّ ذَلِكَ يُجْزِيْكَ وَ كَذَلِكَ فَافْعَلِيْ كُلَّ شَهْرٍ كَمَا َتحِيْضُ النِّسَاءُ وَ كَمَا يَطْهُرْنَ مِيْقَاتَ حَيْضِهِنَّ وَ طُهْرِهِنَّ وَ إِنْ قَوِيْتِ عَلَى أَنْ تُؤَخِّرِي الظُّهْرَ وَ تُعَجِّلَ اْلعَصْرَ فَتَغْتَسِلِيْنَ وَ تَجْمَعِيْنَ بَيْنَ الصَّلاَتَيْنِ الظُّهْرِ وَ اْلعَصْرِ وَ تُؤَخِّرِيْنَ اْلمـَغْرِبَ وَ تُعَجِّلِيْنَ اْلعِشَاءَ ثُمَّ تَغْتَسِلِيْنَ وَ تَجْمَعِيْنَ بَيْنَ الصَّلاَتَيْنِ فَافْعَلِيْ وَ تَغْتَسِلِيْنَ مَعَ اْلفَجْرِ فَافْعَلِيْ وَ صُوْمِيْ إِنْ قَدِرْتِ عَلَى ذَلِكَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: هَذَا أَعْجَبُ اْلأَمْرَيْنِ إِلَيَّ

Dari Hamnah binti Jahsyi berkata, “Aku pernah mengalami istihadlah yang deras sekali, lalu aku mendatangi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk meminta fatwa kepadanya. Aku mendapatkan berita tentangnya lalu aku jumpai Beliau di rumah saudariku Zainab binti Jahsyi”. Aku berkata, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya aku mengalami istihadlah yang deras sekali, bagaimana pendapatmu, apakah ia mencegahku dari sholat dan shoum?”. Beliau menjawab, “Aku akan terangkan kepadamu, kain kapas (yang engkau lekatkan pada farji) dapat menghilangkan (atau menyerap) darah”. Hamnah berkata, “darahku lebih banyak dari itu”. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Ambillah kain”. Hamnah berkata lagi, ”Darahku lebih banyak lagi dari itu karena ia adalah darah yang mengalir”. Maka bersabdalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ”Aku akan perintahkan kepadamu dua hal, manapun yang engkau kerjakan niscaya mencukupimu dari yang lain, tetapi jikalau engkau mampu keduanya engkaulah yang lebih tahu”. Beliau bersabda kepadanya, ”Itu hanyalah satu gangguan dari beberapa gangguan setan, maka berhaidllah engkau enam atau tujuh hari di dalam ilmu Allah kemudian mandilah sehingga apabila engkau lihat (atau yakin) bahwa engkau telah suci dan telah sampai masa suci maka sholatlah selama dua puluh tiga atau dua puluh empat hari dan shoumlah. Maka sesungguhnya yang demikian itu cukup bagimu dan demikian pula hendaknya engkau lakukan setiap bulan sebagaimana perempuan haidl dan suci pada waktu haidl dan sucinya mereka. Jikalah engkau masih mampu maka hendaknya engkau mengakhiri sholat zhuhur dan menyegerakan sholat ashar lalu engkau mandi dan menjamak antara dua sholat yaitu zhuhur dan ashar, dan engkau mengakhirkan maghrib dan menyegerakan isya kemudian engkau mandi dan menjamak antara dua sholat yaitu maghrib dan isya, maka tunaikanlah. Engkau mandi bersama sholat fajar maka tunaikanlah dan shoumlah jika engkau mampu atas itu”. Lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Ini adalah dua perkara yang menakjubkan bagiku”. [HR Abu Dawud: 287, at-Turmudziy: 128, Ibnu Majah: 627 dan Ahmad: VI/ 381-382, 439, 439-440. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [7]

عن عائشة قَالَتْ: اسْتُحِيْضَتِ امْرَأَةٌ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَأُمِرَتْ أَنْ تُعَجِّلَ اْلعَصْرَ وَ تُؤَخِّرَ الظُّهْرَ وَ تَغْتَسِلَ لَهُمَا غُسْلاً وَ أَنْ تُؤَخِّرَ اْلمـَغْرِبَ وَ تُعَجِّلَ اْلعِشَاءَ وَ تَغْتَسِلَ لَهُمَا غُسْلاً وَ تَغْتَسِلُ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ غُسْلاً فَقُلْتُ (يَعْنيِ شُعْبَةَ) لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ: عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم ؟ فَقَالَ: لاَ أُحَدِّثُكَ إِلاَّ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم بِشَيْءٍ

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, ”Pernah seorang perempuan mengalami istihadlah di masa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”. Lalu ia disuruh untuk menyegerakan ashar dan mengakhirkan zhuhur dan mandi dengan sekali mandi untuk keduanya. Dan juga untuk mengakhirkan maghrib dan menyegerakan isya dan mandi dengan sekali mandi untuk keduanya. Dan juga mandi dengan sekali mandi untuk menunaikan sholat shubuh. Aku (yaitu Syu’bah) berkata kepada Abdurrahman, ”(Apakah itu) dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam?”. Ia menjawab, ”Aku tidak akan menceritakannya kepadamu tentang sesuatu melainkan dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam”. [HR Abu Dawud: 294 dan an-Nasa’iy: I/ 122. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

عن أسماء بنت عميس قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبيِ حُبَيْشٍ اسْتُحِيْضَتْ مُنْذَ كَذَا وَ كَذَا فَلَمْ تُصَلِّ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : سُبْحَانَ اللهِ هَذَا مِنَ الشَّيْطَانِ لِتَجْلِسْ فىِ مِرْكَنٍ فَإِذَا رَأَتْ صَفْرَةً فَوْقَ اْلمـَاءِ فَلْتَغْتَسِلْ لِلظُّهْرِ وَ اْلعَصْرِ غُسْلاً وَاحِدًا وَ تَغْتَسِلُ لِلْمَغْرِبِ وَ اْلعِشَاءِ غُسْلاً وَاحِدًا وَ تَغْتَسِلُ لِلْفَجْرِ غُسْلاً وَ تَتَوَضَّأُ فىِ مَا بَيْنَ ذَلِكَ

Dari Asma binti Umais radliyallahu anha berkata, “Aku pernah bertanya, “Wahai Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sesungguhnya Fathimah binti Hubaisy mengalami istihadlah sejak ini dan itu dan tidak menunaikan sholat”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Subhaanallah, ini adalah dari setan hendaklah ia duduk di ruang cuci lalu apabila ia melihat warna kuning di atas air maka mandilah untuk menunaikan sholat zhuhur dan ashar dengan sekali mandi. Ia juga mandi untuk mengerjakan sholat maghrib dan isya dengan sekali mandi, juga mandi sekali mandi untuk melaksanakan sholat fajar, dan berwudlulah pada apa yang ada di antara demikian itu”. [HR Abu Dawud: 296. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

 عن أُمِّ حَبِيْبَةَ بِنْتِ جَحْشٍ اسْتُحِيْضَتْ سَبْعَ سِنِيْنَ فَأَمَرَهَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَنْ تَغْتَسِلَ فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ لِكُلِّ صَلاَةٍ

Dari Ummu Habibah binti Jahsyi radliyallahu anha, ia mengalami istihadlah selama tujuh tahun. Lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyuruhnya untuk mandi. Maka ia selalu mandi untuk setiap kali sholat. [HR Abu Dawud: 291, 292. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه و سلم قَالَتْ: اسْتُحِيْضَتْ أُمُّ حَبِيْبَةَ بِنْتُ جَحْشٍ وَ هِيَ تَحْتَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ سَبْعَ سِنِيْنَ فَشَكَتْ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ النَّبيُّ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ هَذِهِ لَيْسَتْ بِاْلحَيْضَةِ وَ إِنمَّاَ هُوَ عِرْقٌ فَإِذَا أَقْبَلَتِ اْلحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ وَ إِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِيْ وَ صَلِّي قَالَتْ عَائِشَةُ: فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ لِكُلِّ صَلاَةٍ ثُمَّ تُصَلِّي وَ كَانَتْ تَقْعُدُ فىِ مِرْكَنٍ لِأُخْتِهَا زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ حَتىَّ إِنْ حَمْرَةَ الدَّمِ لَتَعْلُو اْلمَاءَ

Dari Aisyah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Ummu Habibah binti Jahsyii istrinya Abdurrahman bin Auf pernah mengalami istihadlah selama tujuh tahun. Lalu ia mengadukan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam”. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ini bukanlah haidl tetapi ia hanyalah cairan penyakit. Apabila datang masa haidl maka tinggalkan sholat dan apabila telah lewat maka mandi dan sholatlah”. Aisyah berkata, ”Ummu Habibah senantiasa mandi untuk setiap kali sholat kemudian menunaikan sholat. Dan ia duduk di ruang cuci saudarinya Zainab binti Jahsyi sehingga warna merah darahnya melebihi warna air”. [HR Ibnu Majah: 626, al-Bukhoriy: 327, Muslim: 334, at-Turmudziy: 129 dan Abu Dawud: 288, 289, 290. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

Istihadlah adalah darah perempuan yang keluar terus menerus tanpa henti atau berhenti sebentar (satu atau dua hari) dalam sebulan dan hal dimanfaatkan oleh setan untuk menggoda kaum perempuan sehingga ada di antara mereka yang tidak melakukan sholat, shaum dan tidak pula menerima ajakan suaminya untuk berjimak. Padahal ini adalah perilaku yang keliru dan tidak dapat dibenarkan oleh syariat sebagaimana telah dituangkan dan dijelaskan dalil-dalilnya.

Jika ada seorang perempuan mengalami istihadlah maka hendaklah ia memperhatikan beberapa perkara di bawah ini;
  1. Apabila ia pernah berhaidl lalu ia mengalami istihadlah maka hendaklah ia mengambil jadwal haidl yang pernah terjadi padanya dalam sebulan. Maka berhaidllah ia seperti biasanya ia berhaidl, dan hendaklah ia menganggap selainnya adalah darah istihadlah yang ia sholat dan shaum padanya dan boleh berjimak dengan suaminya jika telah menikah.
  2. Atau apabila ia baru pertama kali mengalami haidl lalu langsung mengalami istihadlah namun ia dapat membedakan warna darah haidlnya yang kental, berwarna hitam atau aromanya yang khas. Di saat itulah ia menghitung waktu haidlnya dalam sebulan dan selebihnya adalah darah istihadlah, yang ia sholat dan shaum padanya dan boleh berjimak dengan suaminya jika sudah menikah.
  3. Atau seperti yang kedua, yakni ia baru mengalami haidl lalu ia langsung mengalami istihadlah namun ia tidak dapat membedakan darah haidlnya dari darah istihadlahnya maka ia mesti berketetapan untuk berhaidl selama enam atau tujuh hari dalam sebulan seperti umumnya perempuan lain mengalami haidl, lalu ia menganggap sisanya adalah darah istihadlah yang ia sholat dan shaum padanya. Dan boleh berjimak dengan suaminya jika sudah menikah sebagaimana perempuan normal lainnya.
Dianjurkan baginya untuk mandi setiap kali hendak sholat, atau menjadikan satu mandi untuk dua sholat yang dijamak misalnya; zhuhur dengan ashar dan maghrib dengan isya sedangkan shubuh dengan sekali mandi. Tetapi jika tidak, ia wajib berwudlu setiap kali sholat yang dilakukan sesudah masuknya waktu sholat.

3). Dianjurkan mandi setelah pingsan
         
 Penganjuran mandi selanjutnya adalah ketika siuman dari pingsan, hal ini sebagaimana telah dialami oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, dan Beliau dalam satu waktu mengalaminya beberapa kali pingsan.

عن عبيد الله بن عبد الله بن عتبة قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ فَقُلْتُ: أَلاَ تُحَدِّثِيْنىِ عَنْ مَرَضِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم ؟ قَالَتْ: بَلَى ثَقُلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: أَصَلَّى النَّاسُ ؟ قُلْنَا: لاَ هُمْ يَنْتَظِرُوْنَكَ قَالَ: ضَعُوْا لىِ مَاءً فىِ اْلمـِخْضَبِ قَالَتْ: فَفَعَلْنَا فَاغْتَسَلَ فَذَهَبَ لِيَنُوْءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ صلى الله عليه و سلم: أَصَلَّى النَّاسُ؟ قُلْنَا: لاَ, هُمْ يَنْتَظِرُوْنَكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: ضَعُوْا لىِ مَاءً فىِ اْلمِخْضَبِ قَالَتْ: فَقَعَدَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ ذَهَبَ لِيَنُوْءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ: أَصَلَّى النَّاسُ قُلْنَا: لاَ, هُمْ يَنْتَظِرُوْنَكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَقَالَ: ضَعُوْا لىِ مَاءً فىِ اْلمـِخْضَبِ فَقَعَدَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ ذَهَبَ لِيَنُوْءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ: أَصَلَّى النَّاسُ؟ فَقُلْنَا: لاَ هُمْ يَنْتَظِرُوْنَكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ النَّاسُ عُكُوْفٌ فىِ اْلمـَسْجِدِ يَنْتَظِرُوْنَ النَّبِيَّ عليه السلام لِصَلاَةِ اْلعِشَاءِ اْلآخِرَةِ … الخ

Dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah berkata, “Aku pernah masuk menemui Aisyah”. Aku berkata, ”Tidakkah engkau ceritakan kepadaku mengenai sakitnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam?”. Aisyah berkata, ”Boleh, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengalami sakit yang berat lalu bersabda, ”Apakah orang-orang telah menunaikan sholat?”. Kami jawab, ”Belum, mereka sedang menantikanmu”. Beliau bersabda, ”Letakkan air untukku di bejana”. Aisyah berkata, ”Maka kami melakukannya kemudian Beliau mandi lalu pergi untuk bangkit (dengan susah payah)”. Lalu tiba-tiba Beliau pingsan. Kemudian siuman kembali dan bersabda, ”Apakah orang-orang telah menunaikan sholat?”. Kami menjawab, ”Belum, mereka sedang menantikanmu wahai Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”. Beliau bersabda, ”Letakkan air untukku di bejana”. Aisyah berkata, ”lalu Beliau duduk dan mandi kemudian pergi untuk bangkit. Lalu tiba-tiba Beliau pingsan lagi. Kemudian siuman kembali lalu bersabda, ”Apakah orang-orang telah menunaikan sholat?”. Kami menjawab, ”Belum, mereka sedang menantikanmu wahai Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”. Beliau bersabda, ”Letakkanlah air untukku di bejana lalu Beliau duduk dan mandi kemudian pergi untuk bangkit tiba-tiba Beliau pingsan kembali”. Lalu siuman dan bersabda, ”Apakah orang-orang telah menunaikan sholat?”. Kami menjawab, ”Belum, mereka sedang menantikanmu wahai Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”. Dan orang-orang sedang berdiam diri di masjid menanti Nabi untuk menunaikan sholat isya yang akhir… dst. [HR al-Bukhoriy: 687, Muslim: 418, Ibnu Khuzaimah: 257 dan Ahmad: VI/ 228. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah , ”Hadits ini mempunyai banyak faidah yang dipaparkan di dalam syarah (penjelasan) hadits. Penyusun kitab ini telah menyitirnya di sini untuk dijadikan dalil atas dianjurkannya mandi bagi orang yang pingsan. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah melakukannya sebanyak tiga kali padahal Beliau sedang sakit berat. Maka hal ini menunjukan atas kuatnya penganjuran tersebut”.[13]

Maka berdasarkan dalil dan keterangannya di atas maka mandi bagi orang yang pingsan itu sangat dianjurkan namun tidak diwajibkan. Sebab jika mandi itu dapat membahayakan keselamatan jiwa maka diperbolehkan baginya untuk meninggalkannya dan mengganti dengan jenis thaharah yang lain misalnya wudlu atau tayammum. Sebagaimana yang pernah terjadi pada masa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam ketika ada orang terbunuh karena mandi junub sebab mimpi sedangkan ia dalam keadaan terluka di kepalanya, lalu Beliau mencela orang yang menyuruhnya mandi dan menetapkan tayammum bagi keadaan tersebut. [14]

4). Dianjurkan mandi setelah memandikan mayat

Telah berlalu anjuran berwudlu bagi orang yang ikut menggotong mayat atau jenazah ke pekuburan. Namun jika seorang itu muslim ikut memandikan jenazah saudaranya maka dianjurkan untuk mandi setelah memandikannya. Hal ini telah disebutkan di dalam beberapa riwayat hadits berikut ini,

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَنْ غَسَلَ اْلمـَيِّتَ فَلْيَغْتَسِلْ وَ مَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa yang memandikan mayat maka hendaklah ia mandi dan. Barangsiapa yang menggotongnya maka hendaklah berwudlu”. [HR Abu Dawud: 3161, at-Turmudziy: 993 dan Ahmad: II/ 280, 433, 454, 472. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

 عن ابن عباس رضي الله عنهما قَالَ: لَيْسَ عَلَيْكُمْ فىِ غَسْلِ مَيِّتِكُمْ غُسْلٌ إِذَا غَسَلْتُمُوْهُ فَإِنَّ مَيِّتَكُمْ لَيْسَ بِنَجَسٍ فَحَسْبُكُمْ أَنْ تَغْسِلُوْا أَيْدِيَكُمْ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, ”Tidak ada kewajiban atas kalian wajib di dalam memandikan mayat di antara kalian apabila kalian memandikannya karena sesungguhnya mayat kalian itu bukanlah najis. Maka cukuplah bagi kalian untuk mencuci tangan-tangan kalian”. [Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Telah mengeluarkan atsar ini al-Hakim: 1466 dan al-Baihaqiy. Berkata al-Hakim: Shahih berdasarkan syarat al-Bukhoriy dan al-Imam adz-Dzahabiypun menyepakatinya. Dan ia itu hanyalah Hasan isnadnya sebagaimana di katakan oleh al-Hafizh di dalam kitab at- Talkhiish-]. [16]

عن ابن عمر رضي الله عنهما قَالَ: كُنَّا نَغْسِلُ اْلمـَيِّتَ فَمِنَّا مَنْ يَغْتَسِلُ وَ مِنَّا مَنْ لاَ يَغْتَسِلَ

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, ”Kami pernah memandikan mayat, lalu di antara kami ada yang mandi dan di antara kami ada juga yang tidak mandi”. [Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Telah mengeluarkan atsar ini ad-Daruquthniy: 1802 dan al-Khathib dengan sanad yang shahih sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh]. [17]

Hadits dari Abu Hurairah radliyallahu anhu di atas menunjukkan perintah untuk mandi bagi yang telah memandikan mayat dan berwudlu bagi yang menggotongnya. Tetapi perintah tersebut hanyalah mengandung penganjuran dan tidak wajib karena hadits dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar radliyallahu anhuma berikutnya menerangkan diantara para shahabat radliyallahu anhum ada yang tidak melakukannya.

5). Dianjurkan mandi dari sebab menguburkan orang musyrik

          Begitu pula anjuran mandi selanjutnya adalah jika ada seorang muslim ikut menguburkan jenazah orang kafir atau musyrik, maka hendaklah ia mandi dengan mandi jenabat. Pada dasarnya, seorang muslim itu dilarang menguburkan jenazah orang kafir atau musyrik. Namun ketika jenazah itu tidak ada yang menguburkan karena suatu mashlahat maka mereka wajib menguburkannya tanpa memandikan, mengkafani, menyolatkan dan mendoakannya.

Hal ini sebagaimana telah diperintahkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalin radliyallahu anhu di dalam hadits berikut,

عن علي رضي الله عنه قَالَ: َلمــَّا تُوُفِّيَ أَبُوْ طَالِبٍ أَتَيْتُ النَّبيَّ صلى الله عليه و سلم فَقُلْتُ: إِنَّ عَمَّكَ الشَّيْخَ الضَّالَّ قَدْ مَاتَ فَمَنْ يُوَارِيْهِ قَالَ: اذْهَبْ فَوَارِهِ ثُمَّ لاَ تُحَدِّثْ شَيْئًا حَتىَّ تَأْتِيَنيِ فَقَالَ: إِنَّهُ مَاتَ مُشْرِكًا فَقَالَ: اذْهَبْ فَوَارِهِ قَالَ: فَوَارَيْتُهُ ثُمَّ أَتَيْتُهُ قَالَ: اذْهَبْ فَاغْتَسِلْ ثُمَّ لاَ تُحَدِّثْ شَيْئًا حَتىَّ تَأْتِيَنيِ قَالَ: فَاغْتَسَلْتُ ثُمَّ أَتَيْتُهُ قَالَ: فَدَعَا لىِ بِدَعَوَاتٍ مَا يَسُرُّنيِ أَنَّ ليِ بِهَا حُمُرَ النَّعَمِ وَ سُوْدَهَا قَالَ: وَ كَانَ عَلِيٌّ إِذَا غَسَلَ اْلمـَيِّتَ اغْتَسَلَ

Dari Ali radliyallahu anhu berkata, “Ketika Abu Thalib wafat, aku datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya pamanmu yaitu orang tua yang sesat sungguh-sungguh telah mati, maka siapakah yang akan menguburkannya?”. Beliau bersabda, “Pergi dan kuburkanlah lalu janganlah engkau berkata sesuatupun sehingga engkau mendatangiku”. Ali berkata, “Sesungguhnya ia telah mati dalam keadaan musyrik”. Beliau bersabda, “Pergi dan kuburkanlah”. Ali berkata, “Kemudian akupun menguburkannya lalu mendatanginya”. Beliau bersabda, ”Pergi dan mandilah lalu janganlah engkau berkata sesuatupun sehingga engkau mendatangiku”. Ali berkata, ”Lalu akupun mandi kemudian mendatanginya”. Ali berkata, ”Maka Beliau mendoakan kebaikan kepadaku dengan beberapa doa yang membuatku bahagia seakan aku memiliki unta merah dan hitamnya”. Ia (yaitu Abdurrahman as-Silmiy) berkata, ”Ali biasanya mandi apabila memandikan mayat”. [HR Ahmad: I/ 97, 103, Abu Dawud: 3214, an-Nasa’iy: I/ 110, IV/ 79-80 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: sanadnya Shahih]. [18]

Perintah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu di atas menerangkan tentang penganjuran mandi baginya ketika selesai dari menguburkan Abu Thalib ayahnya yang mati dalam keadaan kafir. Dan hal inipun berlaku bagi semua umatnya  karena hadits tersebut tidak ada pengkhususan hanya bagi Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu saja.

6). Dianjurkan mandi untuk dua ied dan hari arafah

Banyak dari kaum muslimin yang kurang mengerti akan anjuran ini, sebab mereka hanya mengerjakan mandi seperti mandi biasa sehari-hari. Penganjuran mandi ini bersifat khusus sebab mandi yang dimaksud adalah mandi seperti mandi janabat.

عن زادان قَالَ: سَأَلَ رَجُلٌ عَلِيًّا رضي الله عنه عَنِ اْلغُسْلِ؟ قَالَ: اغْتَسِلْ كُلَّ يَوْمٍ إِنْ شِئْتَ فَقَالَ: لاَ, اْلغُسْلُ الَّذِي هُوَ اْلغُسْلُ قَالَ: يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَ يَوْمَ عَرَفَةَ وَ يَوْمَ النَّحْرِ وَ يَوْمَ اْلفِطْرِ

Dari Zadan berkata, ”Pernah seorang lelaki bertanya kepada Ali radliyallahu anhu tentang mandi?”. Ali menjawab, ”Mandilah tiap hari jika engkau mau”. Ia berkata, ”Bukan itu (yang aku maksudkan), tetapi mandi yang dia itulah mandi (janabat)”. Ali menjawab, ”(Mandi) setiap jum’at, mandi hari arafah, mandi hari nahar (iedul adlha) dan mandi hari (iedul) fithri”. [Telah mengeluarkan atsar ini al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: sanadnya Shahih]. [19]

 عن سعيد بن المسيب أَنَّهُ قَالَ: سُنَّةُ اْلفِطْرِ ثَلاَثٌ اْلمـَشْيُ إِلىَ اْلمـُصَلَّى وَ اْلأَكْلُ قَبْلَ اْلخُرُوْجِ وَ اْلاغْتِسَالُ

Dari Sa’id bin al-Musayyab radliyallahu anhu, bahwasanya ia berkata, “Sunnah di dalam Iedul fithri itu ada tiga, yakni berjalan menuju lapangan, makan sebelum keluar (rumah) dan mandi”. [Telah mengeluarkan atsar ini al-Faryabiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: sanadnya shahih]. [20]
Dua atsar di atas menerangkan akan dianjurkannya mandi seperti mandi janabat bagi orang yang hendak berangkat untuk menunaikan sholat iedul adlha dan iedul fithri. Mandi ini juga dianjurkan bagi umat Islam yang hendak melaksanakan wukuf di Arafah pada waktu haji.

7). Dianjurkan mandi untuk ihram

Begitu pula dianjurkan untuk mandi bagi orang yang hendak memakai pakaian ihram ketika menunaikan ibadah haji atau umrah.

عن زيد بن ثابت أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم تَجَرَّدَ لِإِهْلاَلِهِ وَ اغْتَسَلَ

Dari Zaid bin Tsabit radliyallahu anhu bahwasanya ia pernah melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menanggalkan (pakaiannya) untuk berihlal dan mandi. [HR at-Turmudziy: 830, ad-Darimiy: II/ 31, ad-Daruquthniy dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [21]

عن جابر بن عبد الله فىِ حَدِيْثِ أَسمْاَءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ حِيْنَ نُفِسَتْ بِذِي اْلحُلَيْفَةِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم أمَرَ أَبيِ بَكْرٍ رضي الله عنه فَأَمَرَهَا أَنْ تَغْتَسِلَ وَ تُهِلَّ

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhuma mengenai hadits Asma binti Umais ketika nifas (melahirkan) [22] di Dzul Hulaifah, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan Abu Bakar radliyallahu anhu. Lalu Abu Bakar menyuruh istrinya (yaitu Asma) untuk mandi dan berihlal (untuk haji). [HR Muslim: 1209, 1210, an-Nasa’iy: I/ 122-123, 208, Ibnu Majah: 3074 dan Abu Dawud: 1743. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [23]

عن ابن عباس  أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: اْلحَائِضُ وَ النُّفَسَاءُ إِذَا أَتَتَا عَلَى اْلوَقْتِ تَغْتَسِلاَنِ وَ ُتحْرِمَانِ وَ تَقْضِيَانِ اْلمـَنَاسِكَ كُلَّهَا غَيْرَ الطَّواَفِ بِاْلبَيْتِ قَالَ مَعْمَرُ فىِ حَدِيْثِهِ: حَتىَّ تَطْهُرَ

Dari Ibnu Abbas adliyallahu anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Perempuan yang haidl dan nifas apabila telah sampai miqot hendaklah ia mandi, memakai pakaian ihram dan menunaikan semua ibadah haji kecuali thowaf di Ka’bah”. Berkata Abu Ma’mar di dalam haditsnya: sehingga ((kembali suci)). [HR Abu Dawud: 1744 dan Ahmad: I/ 364. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].[24]

 عن ابن عمر قَالَ: إِنَّ مِنَ السُّنَّةِ أَنْ يَغْتَسِلَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُحْرِمَ وَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْخُلَ مَكَّةَ

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, ”Sesungguhnya termasuk dari sunah adalah mandi apabila ingin berihram dan apabila ingin memasuki kota Mekkah”. [HR ad-Daruquthniy: 2409 dan al-Hakim: 1681, ia berkata: berdasarkan atas syarat dua syaikh (yaitu al-Bukhoriy dan Muslim) dan adz-Dzahabiy menyepakatinya dan hadits ini hanya shahih saja. Di dalam hadits ini ada Shal bin Yusuf dan dua syaikh tidak meriwayatkan darinya. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hadits ini kendatipun mauquf maka sesungguhnya ucapan Ibnu Umar ((termasuk dari sunnah)) yakni dari sunnahnya Rasulullah sebagaimana diakui di dalam ilmu ushul fiqih]. [25]

Berdasarkan dalil-dalil di atas maka bagi siapapun yang hendak melakukan ihram untuk menunaikan ibadah haji atau umrah disyariatkan untuk mandi. Bahkan bagi perempuan yang sedang nifas atau haidlpun diperintahkan mandi sebagaimana yang Beliau perintahkan kepada Asma binti Umais radliyallahu anha istrinya Abu Bakar radliyallahu anhu, lalu ia menunaikan manasik seluruhnya kecuali thawaf sebab sebagaimana telah diketahui bahwa thawaf itu serupa dengan sholat yang dilarang bagi perempuan haidl dan nifas untuk menunaikannya.

8). Dianjurkan mandi ketika masuk kota Mekkah

 Selanjutnya yang dianjurkan untuk mandi adalah ketika memasuki kota Mekkah untuk menunaikan thawaf ketika umrah atau haji.

   عن نافع أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ لاَ يَقْدِمُ مَكَّةَ إِلاَّ بَاتَ بِذِي طُوًى حَتىَّ يُصْبِحَ وَ يَغْتَسِلَ ثُمَّ يَدْخُلُ مَكَّةَ نَهَارًا وَ يَذْكُرُ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم أَنَّهُ فَعَلَهُ
           
Dari Nafi’ bahwasanya Ibnu Umar radliyallahu anhuma tidaklah memasuki kota Mekkah melainkan ia bermalam di Dzu Thuwa sampai shubuh dan mandi kemudian masuk kota Mekkah di waktu siang hari. Ia menyebutkan dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya Beliau juga melakukannya. [HR Muslim: 1259 (227) dan al-Bukhoriy: 1553, 1573. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[26]

Berkata Ibnu al-Mundzir rahimahullah, ”Mandi ketika masuk ke kota Mekkah adalah dianjurkan menurut seluruh ulama dan meninggalkannya menurut mereka tidaklah menyebabkan membayar fidyah. Mayoritas mereka mengatakan wudlu itu cukup darinya”. [27]

Wallahu a’la bi ash-Showab.

[1] Shahih Sunan Abi Dawud: 203, Shahih Sunan Ibni Majah: 480  dan Adab az-Zifaf halaman 107-108..
[2]Yaitu hadits dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila seseorang diantara kalian mendatangi istrinya kemudian ingin mengulanginya maka hendaklah ia berwudlu. Di dalam satu riwayat: karena hal itu lebih memberi semangat untuk mengulang”. [HR Muslim: 308, at-Turmudziy: 141, an-Nasa’iy: I/ 142, Abu Dawud: 220, Ibnu Majah: 587, Ahmad: III/ 21 dan Ibnu Khuzaimah: 219, 220. Tambahan hadits ini bagi Ibnu Khuzaimah: 221, Ibnu Hibban, al-Baihaqiy dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 164, Shahih Sunan at-Turmudziy: 122, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 255, Shahih Sunan Abi Dawud: 204, Shahih Sunan Ibni Majah: 477, Shahiih al-Jami’ ash-Shaghir: 263 dan Adab az-Zifaf halaman 107.
[3] Shahih Sunan Ibni Majah: 508, Shahih Sunan at-Turmudziy: 109, Shahih Sunan Abi Dawud: 286, Irwaa’ al-Ghalil: 207 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6698.
[4] Shahih Sunan Abi Dawud: 297, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 209, 210, Irwa’ al-Ghalil: 204 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 765.
[5] Nail al-Awthar: I/ 343.
[6]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 211.
[7] Shahih Sunan Abi Dawud: 267, Shahih Sunan at-Turmudziy: 110, Shahih Sunan Ibni Majah: 509, Irwa’ al-Ghalil: 188, 205, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3585 dan Misykah al-Mashobih: 561.
[8] Shahih Sunan Abi Dawud: 281 dan Shahih Sunan an-Nasai’iy: 207.
[9] Shahih Sunan Abi Dawud: 283.
[10] Shahih Sunan Abi Dawud: 273, 274.
[11] Shahih Sunan Ibnu Majah: 509, Shahih Sunan at-Turmudziy: 111, Shahih Sunan Abi Dawud: 268, 269, 270, 271, Irwa’ al-Ghalil: 148, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2272 dan Tamam al-Minnah halaman 122
[12] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 366, Mukhtashor Shahih Muslim: 319, Irwa’ al-Ghalil: 147 dan Tamam al-Minnah halaman 123.
[13]  Nail al-Awthar: I/ 304-305.
[14]  Akan datang hadits dan takhrijnya di dalam bab “Tayammum”, in syaa Allah ta’ala.
[15] Shahih Sunan Abi Dawud: 2707, Shahih Sunan at-Turmudziy: 791, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6402, Irwa’ al-Ghalil: 144, Tamam al-Minnah halaman 112 dan  Ahkam al-Jana’iz halaman 71.
[16] Ahkam al-Jana’iz halaman 71-72.
[17] Ahkam al-Jana’iz halaman 72.
[18] Shahih Sunan Abi Dawud: 2753, Shahih Sunan an-Nasa’iy:184, 1895, Ahkam al-Jana’iz halaman 169-170 dan Tamam al-Minnah halaman 123.
[19] Irwa’ al-Ghalil: I/ 177.
[20]  Irwa’ al-Ghalil: III/ 104.
[21]  Shahih Sunan at-Turmudziy: 664 dan Irwa’ al-Ghalil: 149.
[22]  Di dalam riwayat lain dari Aisyah radliyallahu anha, Asma binti Umais radliyallahu anha melahirkan Muhammad bin Abu Bakar radliyallahu anhu di bawah sebuah pohon. (Nail al-Awthar: I/ 300).
[23]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 208, 416, Shahih Sunan Ibni Majah: 2492 dan Shahih Sunan Abi Dawud: 1533.
[24] Shahih Sunan Abi Dawud: 1534, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3166 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1818.
[25] Irwa’ al-Ghalil: I/ 179.
[26] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 257, 779, Mukhtashor Shahih Muslim: 690 dan Irwa’ al-Ghalil: 150.
[27]  Fat-h al-Bariy: III/ 435 dan Nail al-Awthar: I/ 300.

SAUDARAKU, HADAPI SEMUA MUSHIBAH ITU DENGAN IMAN DAN DOA !!…

DOA KETIKA MENGHADAPI KESULITAN
بسم الله الرحمن الرحيم

Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari kesenangan dan kesulitan. Karena semuanya itu merupakan cobaan dan ujian yang diberikan oleh Rabb mereka Subhanahu wa ta’ala kepada mereka.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ اْلمـَوْتِ وَ نَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَ اْلخَيْرِ فِتْنَةً وَ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai suatu cobaan. Dan kepada Kami-lah kalian akan dikembalikan. [QS al-Anbiya’/ 21: 35].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat penjelasan alasan adanya kebaikan dan keburukan di dalam kehidupan dunia ini yaitu karena adanya cobaan”. [1]

Jadi cobaan atau ujian dari Allah ta’ala itu ada dalam bentuk kebaikan dan keburukan. Dengan cobaan kebaikan, seorang mukmin hendaknya bersyukur. Dan dengan cobaan keburukan, kendaknya ia bersabar.

Dari Shuhaib radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

عَجَبًا لِأَمْرِ اْلمـُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَ لَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَ إِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin itu, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak akan terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika ia mendapatkan sesuatu yang menggembirakan ia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat sesuatu yang menyusahkan maka ia bersabar maka hal ini merupakan kebaikan baginya”. [HR Muslim: 2999, Ahmad: VI/ 16 dan ad-Darimiy: II/ 318. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [2]

Jika seorang mukmin ditimpa cobaan keburukan dengan salah satu mushibah yang menyusahkan dirinya hendaknya ia ingat bahwasanya ia tidak sendirian dengan mushibahnya itu dan ia juga harus tahu bahwa mushibah yang menimpa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam itu lebih berat dari mushibah yang menimpanya atau siapapun di dunia ini.

Dari Atha’ (bin Abi Rabah) radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

إِذَا أَصَابَ أَحَدَكُمْ مُصِيْبَةٌ فَلْيَذْكُرْ مُصَابَهُ بىِ فَإِنَّهَا مِنْ أَعْظَمِ اْلمـَصَائِبِ

“Apabila seseorang di antara kalian ditimpa suatu musibah, maka hendaklah ia mengingat musibahnya itu denganku. Sebab musibahku itu adalah termasuk musibah yang paling berat”. [HR ad-Darimiy: I/ 40, Ibnu Sa’d dan Abu Nu’aim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [3]

Dan juga harus diketahui bahwa orang-orang shalih terdahulu ketika mereka mendapatkan cobaan atau mushibah keburukan yang menyulitkan hidup mereka, maka mereka benar-benar bergembira dengannya sebagaimana seseorang di antara kita akan merasa gembira dan bahagia jika mendapatkan kesenangan dan kelapangan. Karena mereka tahu bahwa cobaan itu banyak sekali kebaikannya, semisal menghapuskan dosa dan kesalahan dari mereka, menambahkan kebaikan pahala untuk mereka, menaikkan derajat mereka, merupakan tanda-tanda kecintaan Allah ta’ala kepada mereka dan lain sebagainya.

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

وَ إِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيَفْرَحُ بِاْلبَلاَءِ كَمَا يَفْرَحُ أَحَدُكُمْ بِالرَّخَاءِ

“Dan sesungguhnya seseorang di antara mereka (kaum shalihin) itu benar-benar merasa gembira lantaran mendapat cobaan sebagaimana seseorang di antara kalian merasa gembira karena mendapat kelapangan”. [HR Ibnu Majah: 4024, Ibnu Sa’d dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [4]

Disamping itu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan umatnya untuk menyandarkan segala mushibah kesulitan yang menimpa mereka itu kepada Allah Azza wa Jalla dengan berdoa dan memohon pertolongan kepada-Nya.

Di antara doa-doa yang dianjurkan untuk diucapkan oleh seorang muslim ketika mendapatkan mushibah kesulitan hidup adalah,

1). Dari Sa’d bin Abi Waqqash radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Doanya Dzun Nun (nabi Yunus alaihi as-Salam) ketika ia berdoa di dalam perut ikan paus,

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ

Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhoolimiin.
‘Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zholim’. [5] Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengan kalimat tersebut dalam suatu hal apapun, melainkan Allah akan mengabulkan untuknya”. [HR at-Turmudziy: 3505, Ahmad: I/ 170 dan al-Hakim: 1905, 4177. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

2). Dari Abu bakrah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Doa orang yang mendapat kesulitan adalah,

اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنىِ إِلَى نَفْسِى طَرْفَةَ عَيْنٍ وَ أَصْلِحْ لىِ شَأْنىِ كُلَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

Alloohumma rohmataka arjuu falaa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin wa ash-lihlii sya’nii kullahu laa ilaaha illaa anta.
“Ya Allah, rahmat-Mu yang selalu aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata dan perbaikilah urusanku seluruhnya. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Engkau”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 701, Abu Dawud: 5090, Ahmad: V/ 42, an-Nasa’iy di dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah: 651, Ibnu Hibban dan Ibnu as-Sunniy di dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah: 344. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [7]

3). Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَ أَنْتَ تَجْعَلُ اْلحَزَنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Alloohumma laa sahla illaa maa ja’altahu sahlan wa anta taj’alul hazana idzaa syi’ta sahla.
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Sedangkan yang susah saja bisa Engkau jadikan mudah, apabila Engkau menghendakinya”. [HR Ibnu as-Sunniy di dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah: 353 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy: Shahih].[8]

Semoga bermanfaat bagiku, keluargaku dan seluruh kaum muslimin, karena semuanya kita, selama hidup di dunia ini tidak pernah lepas dari berbagai kesulitan.
Wallahu a’lam.

[1] Aysar at-Tafasir: III/ 413.
[2] Mukhtashor Shahih Muslim: 3980, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3980 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 147.
[3] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 347 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1106.
[4] Shahih Sunan Ibni Majah: 3250, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 995 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 144.
[5] QS. Al-Anbiya/ 21: 87.
[6] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2785, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3383, Misykah al-Mashobih: 2292 dan Nail al-Awthar fi takhrij ahadits kitab al-Adzkar: 355, 1198.
[7] Shahih al-Adab al-Mufrad: 539, Shahih Sunan Abu Dawud: 4246, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3388, Tamam al-Minnah halaman 232 dan Nail al-Awthar fi takhrij ahadits kitab al-Adzkar: 351.
[8] Nail al-Awthar fi takhrij ahadits kitab al-Adzkar: 367 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2886.

AYO CARILAH BERKAH DENGAN MAKAN (1) !!!

ADAB MAKAN (1)
بسم الله الرحمن الرحيم

Makan dan minum adalah aktifitas harian setiap makhluk hidup, khususnya manusia. Tidak ada satupun manusia yang terbebas dari makan dan minum melainkan mereka pasti membutuhkannya. Jadi makan dan minum adalah merupakan bahagian terpenting dari mereka.

Di dalam Islam, makan dan minum adalah termasuk dari kegiatan manusia yang banyak disebutkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Islam telah menerangkan berbagai hal tentang kegiatan tersebut, dari cara mencarinya, jenis makanan atau minuman yang dihalalkan dan yang diharamkan untuk dimakan atau diminum, memilih makanan atau minuman yang baik untuk diri mereka, cara makan dan minum yang disyariatkan dan lain sebagainya.

Para ulama telah banyak memuat tentang masalah ini dan memasukkan dalam pembahasan adab, yaitu adab makan dan minum.

Dan termasuk dari perkara yang sangat penting adalah makan dan minum dari sesuatu yang dihalakan oleh Allah ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Hal ini sebagaimana telah diperintahkan di dalam dalil-dalil berikut ini,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Wahai manusia, makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa-apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah Setan, karena sesungguhnya Setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian”. [QS al-Baqarah/ 2: 168].

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik dari apa yang Kami anugrahkan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kalian mengabdikan diri kepada-Nya”. [QS al-Baqarah/ 2: 172].

Meskipun Islam telah mengajarkan umatnya untuk selalu memakan makanan dan minum minuman yang halal lagi thayyib yang diperoleh dengan cara yang halal pula. Di samping itu pula Islam telah mengajarkan mereka akan adab-adab makan dan minum dengan benar. Namun sayangnya masih banyak kaum muslimin yang memakan makanan dan minum minuman yang diharamkan oleh Allah ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa salam. Dan juga banyak di antara mereka yang tidak mengetahui adab dan tata cara makan dan minum.

Banyak kita jumpai di antara mereka yang lebih suka standing party untuk menjamu tamu-tamunya makan-makan daripada menyediakan kursi dan meja. Menyediakan berbagai peralatan makan dari sendok, garpu, pisau dan sejenisnya sehingga seringkali terjadi mereka makan dengan menggunakan kedua tangannya silih berganti, dan tak sedikit di antara mereka yang mencemooh dan memandang hina orang yang makan dengan jemari tangan kanannya secara langsung tanpa alat-alat makan tersebut. Bahkan banyak dijumpai diantara mereka yang suka menyisakan makanan ketika selesai dari makan karena khawatir dianggap orang yang kelaparan dan tidak tahu sopan santun dan lain sebagainya.

Oleh karena itu disini akan dibahas sedikit tentang adab dan etika di dalam makan makanan dan minum minuman sesuai dengan dalil-dalil yang sharih lagi shahih.

1. Makan dan minum dengan tangan kanan dan tidak dengan tangan kiri.

Di antara adab dan etika di dalam makan dan minum sesuai dengan ajaran Islam adalah makan dan minum itu wajib menggunakan tangan kanan dan tidak boleh menggunakan tangan kiri. Hal tersebut sebagaimana telah dijelaskan di dalam dalil-dalil berikut ini,

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ، وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ، وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

“Jika seseorang di antara kamu makan, maka hendaklah dia makan dengan tangan kanannya. Jika minum, maka hendaklah minum dengan tangan kanannya, karena setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” [HR Muslim: 2020, Abu Dawud: 3776, at-Turmudziy: 1799 dan Ahmad: II/ 33, 146. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [1]

Dari Abdullah bin Abu Thalhah radliyallahu anhu, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَأْكُلْ بِشِمَالِهِ وَ إِذَا شَرِبَ فَلَا يَشْرَبُ بِشِمَالِهِ وَ إِذَا أَخَذَ فَلَا يَأْخُذُ بِشِمَالِهِ وَ إِذَا أَعْطَى فَلَا يُعْطِي بِشِمَالِهِ

“Apabila seseorang di antara kalian makan maka janganlah ia makan dengan tangan kirinya. Apabila ia minum maka janganlah ia minum dengan tangan kirinya. Apabila ia mengambil (sesuatu dari orang) maka janganlah ia mengambilnya dengan tangan kirinya. Dan apabila ia memberi (sesuatu) maka janganlah ia memberinya dengan tangan kirinya”. [HR Ahmad: V/ 311, IV/ 383. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Isnadnya jayyid]. [2]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لِيَأْكُلْ أَحَدُكُمْ بِيَمِينِهِ وَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ وَلْيَأْخُذْ بِيَمِينِهِ وَلْيُعْطِ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ وَيُعْطِي بِشِمَالِهِ وَيَأْخُذُ بِشِمَالِهِ

“Hendaklah seseorang di antara kalian makan dengan tangan kanannya, minum dengan tangan kanannya, mengambil dengan tangan kanannya, dan memberi dengan tangan kanannya. Kerana sesungguhnya setan itu makan dengan tangan kirinya, minum dengan tangan kirinya, memberi dengan tangan kirinya, dan mengambil dengan tangan kirinya.” [HR Ibnu Majah: 3266 dan Ahmad: II/ 325, 349. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

Dari Wahb bin Kisan yang ia mendengarnya dari Abu Hafsh Umar bin Abi Salamah Abdullah bin Abdil Asad (anak tirinya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam), berkata, “Aku ada seorang anak kecil dibawah pengasuhan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Dan tanganku mengacak-ngacak di piring. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadaku,

يَا غُلَامُ سَمِّ اللهَ تعالى وَ كُلْ بِيَمِيْنِكَ وَ كُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

“Wahai anak kecil, ucapkanlah tasmiyah (ucapan bismillah), makan dengan tangan kananmu dan makanlah yang ada di dekatmu!”. Maka sejak saat itu, begitulah cara makanku. [HR al-Bukhoriy: 5376, Muslim: 2022, Abu Dawud: 3777, Ibnu Majah: 3267, at-Turmudziy: 1858, Ahmad: IV/ 26, 27 dan ad-Darimiy: II/ 100. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[4]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Termasuk dari adab makan di dalam Islam adalah,
  1. Mengucapkan tasmiyah (bismillah).
  2. Makan dengan tangan kanan.
  3. Makan (makanan) yang ada di depannya dan tidak mengambil makanan dari arah orang yang sedang makan bersamanya”. [5]
Beberapa hadits dan penjelasannya di atas menunjukkan perintah agar apabila makan dan minum, begitu pula menerima atau memberi sesuatu itu hendaknya dengan menggunakan tangan kanan. Hadits-hadits itu juga menunjukkan larangan menyamai amalan atau cara setan di dalam makan, minum, menerima dan memberi, di mana setan menggunakan semuanya itu dengan tangan kiri. Di dalamnya juga terdapat perintah untuk membaca tasmiyah yaitu ucapan bismillah ketika hendak makan dan mengambil makanan yang terdekat darinya. Di dalamnya juga terdapat kesungguhan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam mendidik umatnya sejak dari kecil.

Hukum menggunakan tangan kanan untuk menyuap makanan ke mulut itu hukumnya adalah wajib karena asal hukum setiap perintah itu adalah menunjukkan wajib kecuali jika ada dalil-dalil lain yang mengecualikannya. Atau jika ada udzur-udzur lain yang tidak dapat dihindarkan seperti luka pada tangannya yang kanan, atau lumpuh, atau tidak memiliki tangan kanan sama sekali.

Dan dilarang makan dan minum dengan menggunakan tangan kiri, sebab Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah memberitahukan kepada umatnya bahwa setan itu makannya tangan kiri sedangkan mereka diperintahkan untuk selalu menyelisihnya dalam segala hal.

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَاْكُلُوْا بِالشِّمَالِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِالشِّمَالِ

“Janganlah kalian makan dengan tangan kiri karena sesungguhnya setan itu makan dengan tangan kiri”. [HR Ibnu Majah 3268. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[6]

Namun sangat disayangkan, banyak di antara umat ini karena kejahilan dan keawaman mereka terhadap ajaran agama mereka sendiri yang masih suka menyamai amalan setan dalam kehidupan mereka sehari-hari, khususnya di dalam amalan makan dan minum ini.

Banyak di antara mereka yang makan seperti gaya orang kafir barat, yang memegang garpu di tangan kiri dan pisau di tangan kanan. Lalu pisau yang di tangan kanan itu dipergunakan mengiris atau memotong makanan, ketika sudah terpotong maka garpu yang berada di tangan kiripun menusuknya lalu menyuapkannya ke mulut mereka tanpa sungkan. Subhanallah.

Atau ketika mereka makan tahu goreng atau sejenisnya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang beberapa cabai, ketika mereka memakan tahu tersebut kemudian diiringi dengan menggigit atau memakan cabai yang berada di tangan kiri mereka. Dan masih banyak contoh-contoh lainnya.

Maka jika ada di antara umat ini, yang menolak perintah atau larangan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam karena sifat sombongnya, maka Allah berhak untuk mengadzabnya dengan siksaan dunia dan dilanjutkan dengan adzab di akhirat kelak. Sebagaimana telah datang di dalam riwayat hadits berikut ini,

Dari Abu Iyas Salamah bin Amr bin al-Akwa’ radliyallahu anhu,

أَنَّ رَجُلًا أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِمَالِهِ، فَقَالَ: كُلْ بِيَمِينِكَ، قَالَ: لَا أَسْتَطِيعُ، قَالَ: لَا اسْتَطَعْتَ، مَا مَنَعَهُ إِلَّا الْكِبْرُ، قَالَ: فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ

“Bahwasanya ada seorang lelaki makan dengan tangan kirinya di sisi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Maka Rasulullah pun bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Lelaki itu pun berkata, “Aku tidak bisa.”Beliau bersabda, “Kamu tidak bisa?, (Pada hakikatnya) tidaklah dia menolaknya melainkan karena sifat sombong”. (Berkata perawi yakni Iyas), “Maka setelah itu, dia pun benar-benar tidak mampu mengangkat tangan kanannya (untuk menyuapkan makanan) sampai ke mulutnya.” [HR Muslim: 2021].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Wajibnya makan dengan tangan kanan. Sedangkan makan tangan kiri tanpa udzur itu diharamkan. Semua perkara mulia, sudah sepantasnya dengan menggunakan tangan kanan secara langsung, karena Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyukai yang kanan-kanan di dalam segala keadaannya”. [7]

2. Apabila makan, hendaklah mengucapkan tasmiyah.

Adab selanjutnya adalah mengawali dengan membaca doa berupa mengucapkan tasmiyah yaitu ucapan ‘Bismillah’ bukan ‘Bismillahi rahmanir rahim’ sebagaimana yang disangkakan oleh mayoritas umat Islam, karena ketiadaan dalilnya.

Adapun jika lupa di awalnya hendaklah ketika ingat segera membaca ‘Bismillah fi awwalihi wa aakhirihi’ atau Bismillah awwalahu wa aakhirahu’.

Dari Aisyah berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memakan makanan bersama enam orang shahabatnya. Tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui, lalu makan dua suapan. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

  أَمَّا أَنَّهُ لَوْ كَانَ قَالَ: بِسْمِ اللهِ لَكَفَاكُمْ فَإِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَقُوْلَ بِسْمِ اللهِ فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ فِىِ أَوِّلِهِ وَ آخِرِهِ

“Seandainya ia mengucapkan ‘Bismillah’ niscaya akan mencukupi kalian. Maka apabila seseorang diantara kalian hendak makan, hendaklah ia mengucapkan ‘Bismillah’. Jika ia lupa mengucapkan ‘Bismillah’ di awalnya maka hendaklah ia mengucapkan  ‘Bismillah fi awwalihi wa aakhirihi’ (dengan nama Allah di awal dan akhirnya). [HR Ibnu Majah: 3264 dan at-Turmudziy: 1859. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

Dari Aisyah bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللهِ تعالى فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ تعالى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللهِ أَوَّلَهُ وَ آخِرَهُ

“Apabila seseorang diantara kalian hendak makan hendaklah ia menyebut nama Allah ta’ala. Jika ia lupa menyebut nama Allah ta’ala di awalnya maka hendaklah ia mengucapkan “Bismillah awwalahu wa aakhirahu” (dengan nama Allah di awal dan akhirnya). [HR Abu Dawud: 3767, at-Turmudziy: 1858 dan Ahmad: VI/ 143. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

Dari Hudzaifah berkata, dan bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ الَّذِي لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya setan menghalalkan makanan yang tidak disebut nama Allah padanya.” [HR Abu Dawud: 3766 dan Muslim: 2017. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Dari Abdurrahman bin Jubair at-Tabi’iy, ia bercerita bahwasanya seseorang yang pernah melayani Nabi Shallallahu alaihi wa sallam selama 8 tahun pernah bercerita kepadanya.

أَنَّهُ كَانَ يَسْمَعُ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم إِذَا قُرِّبَ إِلَيْهِ طَعَامًا يَقُوْلُ: بِسْمِ اللهِ

Bahwasanya ia pernah mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam apabila dihidangkan makanan kepadanya, beliau mengucapkan, ‘Bismillah’. [HR Ahmad: IV/ 62, V/ 375, Ibnu as-Sunniy dan Abu asy-Syaikh di dalam ‘Akhlak Nabi Shallallahu alaihi wa salam’. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy: Shahih. [12]

Boleh juga mengucapkan dengan doa yang lain sebagaimana dalam hadis berikut ini.
Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang dianugrahi makanan oleh Allah maka hendaklah ia mengucapkan,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ

‘Ya Allah berikanlah berkah kepada kami padanya dan anugrahkanlan kepada kami makanan yang lebih baik lagi darinya’.

Dan barangsiapa yang dianugrahi minuman berupa susu maka hendaklah ia mengucapkan,

 اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ

 ‘Ya Allah, berikanlah berkah kepada kami padanya dan tambahkanlah untuk kami (yang lebih baik) darinya.’ Karena sesungguhnya aku tidak tahu sesuatu yang lebih mencukupi dari makanan dan minuman kecuali susu”.  [HR Ibnu Majah: 3322, Abu Dawud: 3730 dan at-Turmudziy: 3455. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [13]

Adapun doa yang telah masyhur di kalangan kaum muslimin yaitu doa yang dari diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, bahwasanya apabila dihidangkan makanan, Beliau mengucapkan,

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ بِسْمِ اللهِ

‘Ya Allah, berkahilah kami terhadap apa yang Engkau telah rizkikan kepada kami dan jagalah diri kami dari adzab neraka. Bismillah’. [HR Ibnu as-Sunniy di dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah, ath-Thabraniy dan Ibnu Adiy. Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy: Dla’if jiddan (lemah sekali)]. [14]

Karena derajatnya lemah sekali (dla’if jiddan) maka hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah. Oleh sebab itu, doa di atas tidak boleh diamalkan/ diucapkan oleh seorang muslim lantaran hadits tersebut bukanlah hujjah yang sharih lagi shahih. Bagi yang tetap mengamalkannya, padahal sudah tahu kedlaifannya maka ia telah berdusta atas nama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan balasannya adalah siksa api neraka.

3. Doa setelah makan.

Begitu pula adab selanjutnya yang harus dilakukan seorang muslim ketika selesai dari makan atau minum adalah mengucapkan salah satu dari doa yang pernah diajarkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di bawah ini,

Dari Mu’adz bin Anas, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memakan makanan lalu ia mengucapkan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنىِ هَذَا وَ رَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِّنىِّ وَ لاَ قُوَّةٍ

‘Segala puji bagi Allah yang telah memberi makanan ini kepadaku dan memberikan rizki dari-Nya tanpa daya dan kekuatan dariku’.
Maka akan diampuni baginya dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian”. [HR Abu Dawud: 4023, at-Turmudziy: 3458, Ibnu Majah: 3285, Ahmad: III/ 439, Ibnu as-Sunniy dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [15]
 Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy: Hasan, insyaa Allah. [16]

Dari Abu Umamah berkata, Adalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila hidanganny telah diangkat (telah selesai makan), Beliau berucap,

اَلْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَ لاَ مُوَدَّعٍ وَ لاَ مُسْتَغْنىً عَنْهُ رَبَّنَا

 ‘Segala puji bagi Allah (aku memujinya) dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah, yang senantiasa dibutuhkan, diperlukan dan tidak dapat ditinggalkan wahai Rabb kami’. [HR al-Bukhoriy: 5458, Abu Dawud: 3849, Ibnu Majah: 3284, Ahmad: V/ 252, 256 dan at-Turmudziy: 3456. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy:  Shahih]. [17]
Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy: Shahih. [18]

Dari Abdurrahman bin Jubair at-Tabi’iy, ia bercerita bahwasanya seseorang yang pernah melayani Nabi Shallallahu alaihi wa sallam selama 8 tahun pernah bercerita kepadanya. Bahwasanya ia pernah mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, apabila selesai dari makannya, Beliau mengucapkan,

اَللَّهُمَّ أَطْعَمْتَ وَ سَقَيْتَ وَ أَغْنَيْـتَ وَ أَقْنَيْتَ وَ هَدَيْتَ وَ أَحْيَيْتَ فَلَكَ اْلحَمْدُ عَلَى مَا أَعْطَيْتَ
           
“Ya Allah, Engkau telah memberi makan, minum, harta, kecukupan, hidayah dan kehidupan. Maka untuk-Mulah segala puji-pujian atas semua yang Engkau telah berikan”. [HR Ahmad: IV/ 62, V/ 375, Ibnu as-Sunniy dan Abu asy-Syaikh di dalam ‘Akhlak Nabi Shallallahu alaihi wa salam. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [19]
Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy: Shahih. [20]

Namun jika hanya mengucapkan tahmid yaitu ucapan “alhamdulillah” setelah makan juga dibolehkan berdasarkan dalil hadis berikut ini.

Dari Anas bin Malik berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah benar-benar ridlo kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) ketika selesai dari makan dan minum.” [HR Muslim: 2734, at-Turmudziy: 1816 dan Ahmad: III/ 100, 117. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [21]

Adapun hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam apabila selesai dari makannya, Beliau mengucapkan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنَا وَ سَقَاَنا وَ جَعَلَنَا مُسْلِمِيْنَ
              
‘Segala puji bagi Allah yang telah memberikan makan dan minum kepada kami dan telah menjadikan kami sebagai kaum muslimin’. [HR Abu Dawud: 3850, at-Turmudiy: 3457, Ibnu Majah: 3283, Ahmad: III/ 32, 98, an-Nasa’iy di dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lail, ath-Thabraniy dan Ibnu Abi Syaibah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Dla’if]. [22]
Berkata  asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy: Dla’if (lemah). [23]
Maka doa tersebut di atas tidak boleh diamalkan karena hadits dlo’if tidak bisa menjadi hujjah dalam agama.

4. Hindari makan bersama dengan setan.

Banyak di antara kaum muslimin yang ketika sedang makan makanan atau minum minuman tetapi karena ketidaktahuannya akan adab makan yaitu ia tidak mengucapkan tasmiyah atasnya, maka setan akan ikut makan bersama-sama dengannya tanpa disadarinya, sehingga hilanglah berkah yang ada pada makanan atau minumannya tersebut. Atau ketika ia sedang makan, terjatuh atau tercecerlah sebagian makanannya tersebut, atau ketika ia selesai makan ia menyisakan makanan tersebut maka setan akan memakan makan tersebut tanpa ampun dan hilanglah pula berkah dari makanannya tersebut.

Adab Islam sudah mengajarkan agar umatnya berdoa sebelum dan sesudah makan, mengambil makanan yang terjatuh lalu setelah membersihkan kotorannya hendaklah mereka memakannya dan tidak pula menyisakan makanan sedikitpun kecuali yang sudah tidak dapat dimakan oleh mereka semisal tulang, duri ikan, sambal dan lain sebagainya.

Dari Jabir radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللهَ تعالى عِنْدَ دُخُوْلِهِ وَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: لَا مَبِيْتَ لَكُمْ وَ لَا عَشَاءَ وَ إِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ اللهَ تعالى عِنْدَ دُخُوْلِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ اْلمـَبِيْتَ وَ إِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ تعالى عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ: أَدْرَكْتُمُ اْلـمَبِيْتَ وَ اْلعَشَاءَ

“Apabila seseorang masuk ke rumahnya lalu ia menyebut (nama) Allah ta’ala ketika memasukinya dan ketika makan. Setan berkata (kepada kawan-kawannya), ‘tidak aa tempat bermalam dan makan buat kalian’. Apabila ia tidak menyebut (nama) Allah ta’ala ketika memasukinya, setan berkata ‘kalian telah mendapatkan tempat bermalam’. Dan apabila ia tidak menyebut (nama) Allah ta’ala ketika makan, setan berkata ‘kalian mendapatkan tempat bermalam dan juga makanan’”. [HR Muslim: 2018, Abu Dawud: 3765, dan Ahmad: III/ 346, 383. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [24]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Setan itu bermalam di rumah-rumah yang tidak disebutkan nama Allah ta’ala di dalamnya. Dan ia juga makan dari makanan pemiliknya jika mereka tidak menyebutkan nama Allah ta’ala atasnya”. [25]

Hadis  dan penjelasan di atas menunjukkan apabila kita makan tanpa membaca salah satu doa yang disyariatkan dalam rangka mengingat Allah ta’ala, maka setan akan turut serta makan bersama-sama tanpa kita menyadarinya.

Begitu pula jika makanan kita terjatuh hendaknya kita memungutnya lalu memberihkan kotoran yang ada padanya lalu kita memakannya. Atau apabila kita telah selesai dari makan hendaklah kita menjilat jemari kita dan juga membersihkan makanan yang tersisa pada piring atau sendok karena boleh jadi setan akan memakan makanan yang terjatuh atau yang tersisa tersebut, dan hilanglah berkah dari hidangan yang kita makan.

عن جابر رضي الله عنه قَالَ: َسمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: إِنَّ الشَّيْطَانَ يَحْضُرُ أَحَدَكُمْ عِنْدَ كُلِّ شَيْءٍ مِنْ شَأْنِهِ حَتىَّ يَحْضُرَهُ عِنْدَ طَعَامِهِ فَإِذَا سَقَطَتْ مِنْ أَحَدِكُمْ اللُّقْمَةُ فَلْيُمْطِ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى ثُمَّ لِيَأْكُلْهَا وَ لاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ فَإِذَا فَرَغَ فَلْيَلْعَقْ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى فىِ أَيِّ طَعَامِهِ تَكُوْنُ اْلبَرَكَةُ

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar  Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan mendatangi salah seorang dari kalian pada setiap keadaannya, hingga akan mendatanginya disaat makan. Sebab itu apabila jatuh sepotong makanan, maka hendaklah ia membuang (membersihkan) kotorannya lalu memakannya. Dan hendaklah ia tidak membiarkannya dimakan oleh setan dan jika telah selesai makan, hendaklah ia menjilati jari jemarinya, karena ia tidak tahu pada bahagian makanan yang manakah adanya berkah”. [HR Muslim: 2033 (135). Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [26]

5. Menjilat Jari jemari sebelum membersihkannya

Begitu pula adab makan yang banyak ditinggalkan oleh umat Islam adalah menjilat atau menjilatkan makanan yang ada pada jari jemari dan piring mereka. Hal ini dikarenakan mereka merasa jijik dengan perbuatan tersebut atau mereka beranggapan bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang tidak pantas dan tidak sopan lagi bertentangan dengan etika modern yang digembargemborkan oleh orang-orang kafir barat. Padahal menjilat atau menjilatkan makanan dan menghabiskan makanan itu adalah adab dan etika yang sebenar-benarnya dan diridloi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَمْسَحْ يَدَهُ حَتَّى يَلْعَقَهَا أَوْ يُلْعِقَهَا

“Apabila seseorang di antara kalian makan, maka janganlah dia membersihkan tangannya sehinggalah dia menjilatnya atau menjilatkannya (kepada orang lain)”. [HR al-Bukhariy: 5456, Muslim: 2031, at-Turmudziy: 1801 dan Ahmad: I/ 221]. [27]

Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَلْعَقْ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِى فِى أَيَّتِهِنَّ اْلبَرَكَةُ

“Apabila seseorang di antara kalian makan maka hendaklah ia menjilati jari jemarinya, karena ia tidak tahu di makanan yang manakah yang ada berkahnya”. [HR Muslim: 2035].

Dari Jabir bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk menjilat jari jemari dan piring dan bersabda,

إِنَّكُمْ لَا تَدْرُوْنَ فِى أَيِّ طَعَامِكُمُ اْلبَرَكَةَ

“Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di makanan kalian yang manakah yang ada berkahnya”. [HR Muslim: 2033 (133) dan Ahmad: III/ 177].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah,
1). Makanan yang dimakan oleh manusia itu memiliki berkah namun tidak diketahui dimanakah letaknya.
2). Sepatutnya bagi seseorang untuk berusaha keras mendapatkan berkah tersebut. Sebab berkah itu jika telah tercabut (hilang) maka seorang hamba tidak akan meraih manfaat sedikitpun (dari makanan tersebut) meskipun dunia diselimuti dengan berbagai kemuliaannya.
3). Terdapat dorongan untuk menjilat jari jemari dan piring. Karena dalam hal tersebut terdapat upaya memelihara kenikmatan dan berakhlak dengan sifat tawadlu’ (rendah hati).
4). Terdapat (anjuran untuk) memungut sesuatu yang terjatuh ke tanah sesudah membersihkannya dari kotoran jika memungkinkan untuk membersihkannya dan tidak terjatuh ke tempat yang (mengandung) najis. Kemudian (makanan itu) dimakan dan tidak boleh dibuang. Karena di dalam (perbuatan) membuang itu terdapat bentuk penghinaan terhadap nikmat (Allah ta’ala) dan bersifat sombong darinya. [28]

Katanya lagi,
1). Disunnahkan untuk menjilat jari jemari dan piring.
2). Tidak menganggap remeh dengan sedikitnya makanan yang berada pada tangan dan selainnya.
3). Berkah itu turunnya dari tengah-tengah makanan dan tersebar ke seluruhnya dan menetap sampai pada bagian akhirnya. [29]

Hadis-hadits di atas dan penjelasannya menunjukkan disunnahkan agar menjilat sisa-sisa makanan yang masih melekat pada jari-jemari dan piring sebelum dibersihkan, karena berkah itu tidak diketahui tempatnya. Boleh jadi berkah itu adanya pada makanan yang tersisi pada jari jemari atau sendok dan piring. Jika seorang muslim mengabaikannya maka akan hilanglah berkah itu dari makanannya. Bahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan contoh makan dengan menggunakan tiga jarinya yang kanan, yaitu ibu jari, telunjuk dan jari tengahnya.

Dari Ka’b bin Malik radliyallahu anhu berkata,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم كَانَ يَأْكُلُ بِثَلَاثِ أَصَابِعَ فَإِذَا فَرَغَ لَعِقَهَا
           
“Bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam makan dengan tiga jarinya lalu apabila selesai Beliau menjilatnya”. [Atsar diriwayatkan oleh Muslim: 2032 (132)].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Dianjurkan makan dengan menggunakan tiga jari dan tidak menggenggamkan selainnya kecuali karena terpaksa (darurat). Makan menggunakan tiga jari itu menunjukkan tidak rakusnya seseorang terhadap makanan. Maka barangsiapa yang berbuat menyelisihi perilaku tersebut maka hampir-hampir  ia akan memenuhi makanan itu pada mulutnya lalu menyesakkan ususnya yang akan menyebabkannya merasa sakit”. [30]

6. Mengambil makanan yang terjatuh.

Adab makan yang juga banyak diabaikan oleh umatnya adalah mengambil atau memungut kembali makanan yang terjatuh lalu membuang kotoran yang ada pada makanan tersebut kemudian memakannya dan tidak membuangnya.

Yakni di jaman sekarang ini, banyak orang yang makan sambil berdiri (standing party) dan makan sambil mengobrol, senda gurau dan berjalan kian kemari sehingga tanpa disadarinya makanan yang ada pada tangan atau piringnya terjatuh. Ketika makan itu terjatuh maka pemilik makanan itu enggan untuk mengambilnya karena sungkan, malu atau mungkin karena tidak mengetahui sama sekali akan ajaran agamanya. Sehingga ia membiarkan setan untuk mengambil berkah dari makanannya tersebut dan jadilah ia merugi dunia dan akhiratnya.

Dari Anas radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ وَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ حَتَّى يَلْعَقَ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي فِي أَيِّ طَعَامِهِ الْبَرَكَةُ

“Apabila makanan salah seorang dari kalian terjatuh, maka ambil dan bersihkanlah kotoran yang terdapat padanya dan kemudian makanlah, dan jangan biarkannya untuk setan. Dan janganlah kalian bersihkan tangan kalian dengan kain pengelap sehinggalah terlebih dahulu ia dijilat. Kerana sesungguhnya kalian tidak tahu di bahagian manakah makanan tersebut mengandungi berkah.” [HR Muslim: 2034, Abu Dawud: 3845, at-Turmudziy: 1803 dan Ahmad: III/ 177. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [31]

Dari Jabir bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَسَقَطَتْ لُقْمَتُهُ فَلْيُمْطِ مَا رَابَهُ مِنْهَا ثُمَّ لِيَطْعَمْهَا وَ لَا يَدَعُهَا لِلشَّيْطَانِ

“Apabila sesorang di antara kalian sedang makan, lalu terjatuh satu suapannya maka hendaklah ia menyingkirkan apa yang meragukannya kemudian hendaklah ia memakannya dan janganlah ia membiarkannya untuk setan”. [HR at-Turmudziy: 1802 dan Ibnu Majah: 3279. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [32]

7. Makan berjama’ah (bersama-sama)

Adab makan selanjutnya adalah makan makanan bersama-sama (berjamaah) dengan keluarga atau para shahabatnya dalam satu piring besar atau nampan. Karena di dalamnya ada sunnah dan keberkahan.

Dari Wahsyi bin Harb, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwasanya para shahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلَا نَشْبَعُ قَالَ: فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ؟ قَالُوا: نَعَمْ قَالَ: فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan tetapi tidak merasa kenyang?”. Beliau bersabda, “Mungkin karena kalian makan secara terpisah-pisah (sendiri-sendiri)?.” Mereka menjawab, “Ya benar.” Beliau bersabda, “Hendaklah kalian secara bersama-sama (berjama’ah) ketika makan, dan sebutlah nama Allah atasnya, maka kalian akan mendapat berkah padanya.” [HR Abu Dawud: 3764, Ibnu Majah: 3286, Ahmad: III/ 501, al-Hakim dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [33]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah,
1). (Makan) terpisah itu dapat merampas berkah dan (makan) berjamaah itu dapat mendatangkan rasa kenyang dan berkah.
2). Menyebut nama Allah ta’ala ketika makan itu wajib dan dapat menghasilkan berkah yang diharapkan dengan memperbanyak makanan.
3). Orang yang makan sendirian kendatipun makannya banyak, akan tetap merasakan tidak cukup dan lapar berbeda dengan makan secara berjamaah meskipun makanannya sedikit.
4). Wajib bagi umat Islam untuk selalu berjamaah di dalam setiap keadaan, di dalam makan, minum dan memerangi musuh mereka dikarenakan persatuan akidah dan syariat mereka. [34]

Hadis dan penjelasannya di atas menunjukkan sunnahnya mengucapkan ‘bismillah’ ketika hendak makan. Juga menunjukkan disunnahkannya makan secara berjama’ah, bukan sendiri-sendiri karena padanya terdapat berkah dan dapat membuat orang yang makan itu  merasa cukup (kenyang).

8. Berkumur-kumur dan cuci tangan setelah selesai makan

Begitu pula Islam telah mengajarkan adab yang baik bagi umatnya, yaitu ketika seorang muslim selesai makan sedangkan ia hendak menunaikan sholat maka hendaknya ia berkumur-kumur terlebih dahulu lalu berangkat ke masjid untuk menunaikan sholat.

Sedangkan jika ia hendak tidur hendaklah ia mencuci tangannya terlebih dahulu dari bau-bauan yang masih melekat pada tangannya karena dikhawatirkan bau-bauan pada tangannya itu akan mengundang binatang semisal tikus, kecoa, lipan, semut dan selainnya lalu mereka akan melukai tangannya. Jika demikan janganlah ia menyalahkan dan mencela siapapun kecuali dirinya sendiri.
Dari Suwaid bin An-Nu’man radhiyallahu ‘anhu berkata,

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى خَيْبَرَ، فَلَمَّا كُنَّا بِالصَّهْبَاءِ دَعَا بِطَعَامٍ، فَمَا أُتِيَ إِلَّا بِسَوِيقٍ، فَأَكَلْنَا، فَقَامَ إِلَى الصَّلاَةِ فَتَمَضْمَضَ وَمَضْمَضْنَا

“Kami pernah keluar bersama-sama Rosulullah ke Khaibar. Ketika kami tiba di daerah ash-Shahba’, beliau minta dibawakan makanan. Tiada sesuatupun (yang dapat dihidangkan) melainkan gandum. Maka kami pun makan. Kemudian beliau berdiri untuk sholat (maghrib), maka beliau berkumur-kumur, dan kami pun berkumur-kumur.” [HR al-Bukhariy: 5454, 5455].

Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نَامَ أَحَدُكُمْ وَ فِى يَدِهِ رِيْحُ غَمَرٍ فَلَمْ يَغْسِلْ يَدَهُ فَأَصَابَهُ شَيْءٌ فَلَا يَلُوْمَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

“Apabila seseorang di antara kalian tidur sedangkan pada tangannya masih ada bau kotor (bekas makanan) dan ia tidak mencucinya lalu terjadi sesuatu padanya maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri”. [HR Ibnu Majah: 3297 dan Abu Dawud: 3852. Berkata ash-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [35]

Hadits-hadits di atas menunjukkan disunnahkannya berkumur-kumur setelah selesai dari makan terutama apabila kita hendak segera mengerjakan solat. Dan dianjurkan untuk mencuci tangan apabila telah selesai dari makan, karena di dalamnya terdapat bahaya. (In syaa Allah bersambung..)

[1] Shahih Sunan Abu Dawud: 3209, Shahih Sunan at-Turmuziy: 1470, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 383 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1236.
[2] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: III/ 239.
[3] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2643, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 384 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1236.
[4] Mukhtashor Shahih Muslim: 1300, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1512, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2644, Shahih Sunan Abu Dawud: 3210, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 251, 7958, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1184, Irwa’ al-Ghalil: 1968, al-Kalim ath-Thayyib: 182 dan Nail al-Awthar bi takhrij ahadits kitab al-Adzkar: 631, 646.
[5] Bahjah an-Nazhirin: I/ 382.
[6] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2645.
[7] Bahjah an-Nazhirin: I/ 240.
[8] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2641, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1514 dan Nail al-Awthar bi takhrij ahadits kitab al-Adzkar: 637.
[9] Shahih Sunan Abu Dawud: 3202, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1513, al-Kalim ath-Thayyib dengan tahqiq asy-Syaikh al-Albaniy: 183 dan Nail al-Awthar bi takhrij ahadits kitab al-Adzkar: 632.
[10] Mukhtashor Shahih Muslim: 1296, Shahih Sunan Abu Dawud: 3201 dan Shahih al-jami ash-Shaghir: 1653.
[11] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4768, al-Kalim ath-Thayyib: 182 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 71.
[12] Nail al-Awthar bi takhrij ahadits kitab al-Adzkar: 657 (I/528-529).
[13] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2683, Shahih Sunan Abu Dawud: 3173, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2749, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2320, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 381 dan Misykah al-Mashobih: 4283.
[14] Nail al-Awthar bi takhrij Ahadits Kitab al-Adzkar: 630 (I/ 513).
[15] Shahih Sunan Abu Dawud: 3394, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2656, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2751, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6086, al-Kalim ath-Thayyib dengan tahqiq asy-Syaikh al-Albaniy: 182 dan Irwa’ al-Ghalil: 1989.
[16] Nail al-Awthar bi takhrij ahadits kitab al-Adzkar: 656 (I/528).
[17] Shahih Sunan Abu Dawud: 3260, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2655, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2750, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4731, al-Kalim ath-Thayyib dengan tahqiq asy-Syaikh al-Albaniy: 191 dan Mukhtashor Syama’il al-Muhammadiyah: 164.
[18] Nail al-Awthar bi takhrij ahadits kitab al-Adzkar: 652 (I/525).
[19] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4768, al-Kalim ath-Thayyib: 190 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 71.
[20] Nail al-Awthar bi takhrij ahadits kitab al-Adzkar: 657 (I/528-529).
[21] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1483, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1816 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1651.
[22] Dla’if Sunan Abu Dawud: 829, Dla’if Sunan at-Turmudziy: 681, Dla’if Sunan Ibnu Majah: 709, Misykah al-Mashobih: 4204, Mukhtashor Syama’il al-Muhammadiyyah: 163, al-Kalim ath-Thayyib: 189 dan Dla’if al-Jami’ ash-Shahih: 4436.
[23] Nail al-Awthar bi takhrij ahadits kitab al-Adzkar: 654 (I/527).
[24] Mukhtashor Shahih Muslim: 1297, Shahih Sunan Abu Dawud: 3200 dan Shahih al-Jami’ ash-Shahih: 519.
[25] Bahjah an-Nazhirin: II/ 51.
[26] Mukhtashor Shahih Muslim: 1304 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1659.
[27] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1471, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 382.
[28] Bahjah an-Nazhirin: I/ 246.
[29] Bahjah an-Nazhirin: II/ 63-64.
[30] Bahjah an-Nazhirin: II/ 63.
[31] Shahih Sunan Abu Dawud: 3256, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1473 dan Mukhtashor asy-Syama’il al-Muhammadiyah: 120.
[32] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1472 dan Shahih Sunan Ibnu Majah: 2652, Irwa’ al-Ghalil: 1971 dan Shahih al-jami’ ash-Shaghir: 378.
[33] Shahih Sunan Abu Dawud: 3199, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2657, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 142 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 664.
[34] Bahjah an-Nazhirin: II/ 59.
[35] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2666, Shahih Sunan Abu Dawud: 3262, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 804 dan Miyskah al-Mashobih: 4219.