السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Rabu, 15 Agustus 2012

SUDAHKAN ANDA MEMBAYAR ZAKAT FITHRAH DENGAN BENAR??


MEMBAYAR ZAKAT FITHRAH DENGAN UANG?

 بسم الله الرحمن الرحيم

                Zakat fithrah/ fithri adalah zakat yang wajib ditunaikan menjelang usainya puasa pada bulan Ramadlan.

عن ابن عمر رضي الله عنهما قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri berupa satu sho’ kurma atau satu sha’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, yang muda maupun yang tua. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menunaikan zakat ini sebelum orang-orang berangkat menunaikan shalat ‘ied”. [1]
 
Kewajiban ini sudah menjadi hal yang biasa dan menyenangkan bagi sebahagian besar kaum muslimin, yakni ketika menjelang lebaran sejak sepekan sebelumnya sampai mendekati waktu lebaran mereka berlomba-lomba mendatangi masjid untuk membayar zakat fithrah untuk dirinya dan keluarganya.

Dan sudah menjadi tradisi dan kebiasaan pula bagi sebahagian besar kaum Muslimin ketika menunaikan pembayaran zakat fithri/ fithrah itu dengan menggunakan uang seukuran dengan harga bahan makanan pokok tersebut.

            Misalnya di negara kita Indonesia ini, sebahagian besar makanan pokok rakyatnya adalah nasi yang berbahan dasar beras. Maka ketika mereka hendak membayar zakat fithrah, mereka segera mengeluarkan kewajiban mereka itu tetapi kebanyakan mereka dalam bentuk uang sesuai dengan harga beras yang biasa mereka makan. Kalau mereka biasa makan dari beras yang berharga Rp. 8.000,- maka uang yang harus mereka keluarkan 3,5 liter x Rp. 8.000,- = Rp. 28.000,- lalu dikalikan dengan jumlah jiwa dalam keluarga tersebut.

            Bahkan yang lebih miris lagi adalah jika ada anggota keluarganya itu bersekolah di satu sekolah, aktif dalam kegiatan masyarakat maka masing-masing mereka diminta zakat fithrahnya. Maka orang tuanya bisa membayar 1 anggota keluarganya dengan 3 zakat fithrah atau lebih, padahal boleh jadi ia termasuk dari keluarga yang hidupnya pas-pasan. Seakan sekolah atau komunitas tersebut ingin menunjukkan jati dirinya dengan mampu mengumpulkan uang sekian-sekian dari zakat fithrah siswa-siswa sekolahnya atau anggota komunitasnya.

            Namun membayar zakat fithrah dengan menggunakan uang tidak dengan makanan pokok itu, apakah pernah dilakukan di masa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam?.  Dan bolehkan membayarnya dengan mata uang seukuran dengan harga dari makanan pokok tersebut?.

Berikut akan disampaikan fatwa Syaikh ‘Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah selaku Ketua Umum Dewan Pengurus Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah dan Pembimbingan Kerajaan Saudi Arabia (Ro’is al-‘Aam li idarot Al Buhuts al-‘Ilmiyah wa al- Ifta’ wa ad-Da’wah wa a- Irsyad) mengenai Zakat Fithri/ fithrah dengan uang. Semoga dapat bermanfaat bagi kaum muslimin.

Alhamdulillahi Robbil ‘alamin wa shollallahu wa sallam ‘ala ‘abdihi wa rosulihi Muhammad wa ‘ala alihi wa ash-habihi ajma’in.

Wa ba’du, Beberapa saudara kami pernah menanyakan kepada kami mengenai hukum membayar zakat fithri/ fithrah dengan uang.


Jawaban

Tidak diragukan lagi bagi setiap muslim yang diberi pengetahuan bahwa rukun Islam yang paling penting dari agama yang hanif (lurus) ini adalah syahadat ‘Laa ilaha illallah wa anna Muhammad Rasulullah’. Konsekuensi dari syahadat laa ilaha illallah ini adalah seseorang harus menyembah Allah semata. Konsekuensi dari syahadat ‘Muhammad adalah Rasul-Nya’ yaitu seseorang hendaklah menyembah Allah hanya dengan menggunakan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Telah kita ketahui bersama) bahwa zakat fithri adalah ibadah berdasarkan ijmak (kesepakatan) kaum muslimin. Dan hukum asal ibadah adalah tauqifi (harus berlandaskan dalil). Oleh karena itu, setiap orang hanya dibolehkan melaksanakan suatu ibadah dengan menggunakan syari’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah telah mengatakan mengenai Nabi-Nya ini,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (alqur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. [QS. An Najm / 53: 3-4].

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat-buat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak”. [2]
 
Dalam riwayat Muslim, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada syariatnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. [3]
 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menjelaskan mengenai penunaian zakat fithri –sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih- yaitu ditunaikan dengan 1 sha’ bahan makanan, kurma, gandum, kismis, atau keju. Imam al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri berupa satu sho’ kurma atau satu sha’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, yang muda maupun yang tua. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menunaikan zakat ini sebelum orang-orang berangkat menunaikan shalat ‘ied”. 

Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

كُنَّا نُعْطِيهَا فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ

“Dahulu di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kami menunaikan zakat fithri berupa 1 sha’ bahan makanan, 1 sha’ kurma, 1 sha’ gandum atau 1 sha’ kismis”. [4]
 
Dalam satu riwayat disebutkan,

أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ

“Atau 1 sha’ keju”. 

Inilah hadits yang disepakati keshahihannya dan beginilah sunnah (ajaran) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menunaikan zakat fithri. Telah kita ketahui pula bahwa ketika pensyari’atan dan dikeluarkannya zakat fithri ini sudah ada mata uang dinar dan dirham di tengah kaum muslimin –khususnya penduduk Madinah (tempat domisili Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen)-. Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan kedua mata uang ini dalam zakat fithri. Seandainya mata uang dianggap sah dalam membayar zakat fithri, tentu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskan hal ini. Alasannya, karena tidak boleh bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan penjelasan padahal sedang dibutuhkan. Seandainya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membayar zakat fithri dengan uang, tentu para sahabat –radhiyallahu ‘anhum- akan menukil berita tersebut. Kami juga tidak mengetahui ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membayar zakat fithri dengan uang. Padahal para sahabat adalah manusia yang paling mengetahui sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang yang paling bersemangat dalam menjalankan sunnahnya. Seandainya ada di antara mereka yang membayar zakat fithri dengan uang, tentu hal ini akan dinukil sebagaimana perkataan dan perbuatan mereka yang berkaitan dengan syari’at lainnya dinukil (sampai pada kita).

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. [QS. Al Ahzab/ 33: 21].

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. [QS. At Taubah/ 9 : 100].

Dari penjelasan kami di atas, maka jelaslah bagi orang yang mengenal kebenaran bahwa menunaikan zakat fithri dengan uang tidak diperbolehkan dan tidak sah karena hal ini telah menyelisihi berbagai dalil yang telah kami sebutkan. Aku memohon kepada Allah agar memberi taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin untuk memahami agamanya, agar tetap teguh dalam agama ini, dan waspada terhadap berbagai perkara yang menyelisihi syari’at Islam. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. [5]
 
Berkata asy-Syaikh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Tidak boleh membayar (zakat fithrah) dengan harga makanan, karena hal itu menyelisihi perintah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Telah tsabit dari Beliau Shallallahu alaihi wa sallam, bahwa Beliau bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada syariat dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. Di dalam suatu riwayat, “Barangsiapa membuat-buat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak”. Juga karena membayar dengan harga (makanan) itu menyelisishi amalan para Shahabat radliyallahu anhum ketika mereka membayarnya dengan satu sha’ dari makanan. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnahnya para khalifah yang benar lagi terbimbing sepeninggalku”. [6] Zakat fithrah itu adalah ibadah yang diwajibkan dari jenis tertentu, maka tidak boleh menunaikannya dari selain jenis yang ditentukan itu sebagaimana tidak boleh menunaikannya pada selain waktu yang ditentukan. [7]  

Berkata DR. Abdul Azhim bin al-Badawiy, “Tidak boleh membayar harganya, namun al-Imam Abu Hanifah membolehkannya”. (Telah disebutkan oleh an-Nawawiy di dalam Syar-h Muslim: VII/ 60). Aku katakan, “Pendapat al-Imam Abu Hanifah tersebut tertolak karena [Dan tidaklah Rabb-mu itu lupa. QS. Maryam/ 19: 64]. Seandainya harganya itu diperbolehkan, niscaya Allah dan Rosul-Nya telah menjelaskannya. Maka yang wajib adalah diam di sisi lahiriyahnya nash-nash tanpa tahrif dan ta’wil. [8]

Berkata asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad Alu asy-Syaikh, “Tidak boleh membayar harga makanan, karena hal itu menyelisihi perintah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan juga menyelisihi amalan para shahabat. Mereka membayar zakat fithrah itu dengan satu sho’ makanan. Zakat fthri itu adalah ibadah yang diwajibkan dari jenis tertentu yaitu makanan. Maka tidak boleh membayarnya dari selain jenis tertentu tersebut”. [9]

Dari Ibnu Abbas, Nabi bersabda, “Zakat fithri satu sha’ makanan, barangsiapa membawa gandum diterima, yang membawa korma diterima, yang membawa salt (sejenis gandum yang tidak berkulit) diterima, yang membawa anggur kering diterima, aku mengira beliau berkata, “Yang membawa adonan diterima”. [10]
 
Telah ikhtilaf dalam tafsir lafadz makanan dalam hadits Abu Sa'id Al Khudri, ada yang bilang hinthah (gandum yang bagus) ada yang bilang selain itu, namun yang paling kuat lafadz di atas mencakup seluruh yang dimakan termasuk hinthah dan jenis lainnya, tepung dan adonan, semuanya telah dilakukan oleh para sahabat berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma, “Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam menyuruh kami untuk mengeluarkan zakat Ramadhan satu sha’ makanan dari anak kecil, besar, budak dan orang yang merdeka. Barangsiapa yang memberi salt (sejenis gandum yang tidak berkulit) akan diterima, aku mengira beliau berkata, “Barangsiapa yang mengeluarkan berupa tepung akan diterima, barangsiapa yang mengeluarkan berupa adonan, diterima”. [11]
 
Berkata Ibnu Hajar al-Asqalani, "Sepertinya barang-barang yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Abu Sa’id,- di mana takaran barang itu sama padahal harganya berbeda-beda ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah mengeluarkan barang-barang tersebut dari jenis apapun (bukan harganya), dan tiada perbedaan antara gandum bagus dengan selainnya”. [12]

Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menetapkan kewajiban zakat fithri sebagai pembersih  bagi orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan perkataan kotor serta sebagai makanan untuk orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum sholat maka ia adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah sholat maka itu hanyalah sedekah". [13]
 
Pernah ada yang mengatakan kepada Imam Ahmad Rahimahullah, "Ada yang mengatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz (Tabi’in/Khalifah) mengambil uang dalam zakat fithri". Maka Imam Ahmad berkomentar, "Mereka meninggalkan hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sambil mengatakan "kata si Fulan". Padahal Ibnu Umar berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sha' kurma atau satu sha' gandhum". [14]

Berkata Imam Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, "Saya mendengar bapakku, beliau membenci untuk memberikan harga dalam zakat fithri, katanya, ‘Saya khawatir apabila diganti harga tidak akan sepadan/mencukupinya”. [15]

Berkata Imam Ibnu Qudamah, "Barangsiapa membayar zakat dengan harganya tidak akan sepadan/mencukupinya”. [16]

Berkata Imam an-Nawawi, "Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan berbagai macam barang yang harganya bermacam-macam, dan beliau mewajibkan dari setiap jenisnya satu sha’, maka ini menunjukkan bahwa yang teranggap/diakui adalah sha’ bukan harganya". [17]

Berdasarkan beberapa dalil dan penjelasan di atas, bahwa zakat fithrah itu wajib bagi setiap muslim yang mempunyai kelebihan makanan pokok pada hari iedul- fithri yang dikeluarkan sejak sehari atau dua hari sebelum sholat ied [18] hingga sebelum ditunaikannya sholat ied dan akan diberikan kepada orang-orang miskin. Zakat fithrah itu dikeluarkan sebesar satu sha’ yakni setara dengan dengan 3 kilogram kurang sedikit, [19] dan tidak boleh dikeluarkan dengan harganya.

Kami menghimbau kepada saudara-saudara kami selaku Badan Pengurus Zakat agar betul-betul memperhatikan hal ini. Tidakkah kita merindukan syi’ar Islam mengenai zakat ini nampak? Dahulu, di malam hari Idul Fithri, banyak kaum muslimin berbondong-bondong datang ke masjid-masjid dengan menggotong beras. Namun, syiar ini sudah hilang karena tergantikan dengan uang. 

Begitu pula kami menghimbau kepada sekolah-sekolah atau sejenisnya untuk tidak memungut zakat-zakat fithrah dari siswa-siswa yang sedang belajar disana, biarlah badan-badan amil zakat yang mengurusnya di masjid-masjid atau para penunai zakat untuk menyerahkannya secara langung kepada para mustahiq. Janganlah keinginan untuk mengeksiskan diri mengalahkan tersiarnya syariat secara benar dan tepat.


[1] HR al-Bukhoriy: 1503, 1504, 1511, 1512, Muslim: 984, 986, at-Turmudziy: 670, 671, Abu Dawud: 1611-1614, an-Nasa’iy: V/ 46-47, 47, 48, 49, 53, Ibnu Majah: 1825, 1826, Ibnu Khuzaimah: 2393, 2395, 2398, 2399 dan Ahmad: II/ 63. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud: 1422-1425, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1478, 1479, Shahih Sunan at-Turmudziy: 542, 543, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2344-2348, 2356 dan Irwa’ al-Ghalil: 831, 832.
[2] HR Muslim: 1718, al-Bukhoriy: 2697, Abu Dawud: 4606, Ibnu Majah: 14 dan Ahmad: VI/ 240, 270 dari Aisyah radliyallahu anha. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan Abi Dawud: 3850, Shahih Sunan Ibni Majah: 14, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5970 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 47
[3] HR al-Bukhoriy secara ta’liq lihat Fat-h al-Bariy: XIII/ 317, Muslim: 1718 lafazh ini baginya, Ahmad: VI/ 146, 180, 256 dan ad-Daruquthniy: 4491 dari Aisyah radliyallahu anha. Berkata asy-Syaikh al-Albani: Shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 1237, Irwa’ al-Ghalil: 88, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6398 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 47.
[4] HR al-Bukhoriy: 1506, Muslim: 985, at-Turmudziy: 668, Abu Dawud: 1616, an-Nasa’iy: V/ 51, 52, 53, Ibnu Majah: 1829 dan Ibnu Khuzaimah: 2408. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Shahih Sunan Abu Dawud: 1426, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1482, Shahih Sunan at-Turmudziy: 541 dan Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2351-2355, 2357, 2358 dan Irwa’ al-Ghalil: 847.
[5] Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, XIV/208-211.
[6] HR Abu Dawud: 4607, Ibnu Majah: 42, at-Turmudziy: 2676, Ahmad: IV/ 126, 127, al-Hakim: 333, 338 dan ad-Darimiy: I/ 44-45. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Shahih Sunan Abi Dawud: 3851, Shahih Sunan Ibni Majah: 40, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2157, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2549, Irwa’ al-Ghalil: 2455 dan Misykah al-Mashobih: 165
[7] Majalis Syah-ri Ramadlan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin halaman 210.
[8] Al-Wajiz halaman 271.
[9] Kitab al-Fiq-hu  al-Muyassar fi dlow’i al-Kitab wa as-Sunnah halaman 144.
[10] Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah: 2417 (IV/ 89).
[11] Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah: 2415 (IV/ 88), sanadnya shahih.
[12] Fat-h al-Bariy: III/ 374.
[13] HR Abu Dawud: 1609, Ibnu Majah: 1827, al-Hakim dan al-Baihaqiy. Berkatas asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan. Lihat Shahih Sunan Abu Dawud: 1420, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1480 dan Irwa’ al-Ghalil: 843.
[14] Ibnu Taimiyah dalam al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyah.
[15] Masa’il Imam Ahmad halaman 171 masalah ke 647.
[16] Al-Mughni: III/65.
[17] Syarah Muslim VII/60.
[18] Atsar ini diriwayatkan oleh al-Bukhoriy: 1511 dan Muslim: 986.
[19] Hadits al-Masa’ oleh asy-Syaikh Bin Baz halaman 240.

Selasa, 07 Agustus 2012

AYO HIDUPKAN AMAR MA'RUF DAN NAHI MUNKAR DENGAN BENAR


AMAR MA’RUF DAN NAHI MUNKAR YANG TERABAIKAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebagaimana telah diketahui, bahwa tidak ada seorangpun manusia melainkan niscaya ia melakukan kesalahan dan dosa, baik yang disadarinya ataupun tidak. Sehingga terkadang perbuatan dosanya itu mengundang penilaian dan sikap dari orang lain, ada yang memaklumi kesalahannya sebagai manusia, ada yang mencemoohnya, ada yang mengucilkannya, ada yang menegurnya dengan keras tanpa kasih sayang, ada yang mengingatkannya dengan dalil dan lemah lembut, ada yang meng-ghibahinya di berbagai tempat dan kepada segenap orang dan sebagainya. 

Yakni tidak sedikit manusia yang menjadikannya sebagai santapan lezat dalam percakapan mereka. Mereka sibuk membongkar dan membuka aib orang tersebut kepada sesama mereka tanpa rasa sungkan dan bersalah, seakan dengan perbuatan menggunjing mereka itu, mereka telah bertindak benar dan tepat.

Membiasakan ghibah atau gunjing ini akan menghilangkan faidah amar ma’ruf dan nahi munkar. Seorang hamba mukmin ketika melihat dan menyaksikan orang lain meninggalkan perbuatan ma’ruf atau mengerjakan yang mungkar maka semestinya ia mengingatkannya dengan mendorongnya untuk melakukan perbuatan ma’ruf yang ditinggalkannya. Dan mencegahnya dari perbuatan munkar yang selama ini mungkin telah menjadi amalan sehari-harinya dengan cara yang santun dan lemah lembut.

Amar ma’ruf nahi munkar merupakan salah satu sendi ajaran Islam, yang Allah Subhanahu wa ta’ala telah melebihkan agama ini dari agama-agama lainnya. Tiada suatu keutamaan dan kelebihan dalam satu agama melainkan wajib dibangun atasnya.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أَخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِاْلمـَعْرُوفِ وَ تَنْهَوْنَ عَنِ اْلمـُنْكَرِ وَ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. [QS. Ali Imran/3: 110].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengkhabarkan tentang umat Islam ini bahwasanya mereka itu adalah sebaik-baik umat. Umat ini meraih banyak keunggulan melalui Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Sebab dia adalah pemimpin para anak Adam dan Rosul yang paling mulia di sisi Allah. Allah telah mengutusnya dengan syariat yang sempurna lagi agung, yang tidak pernah diberikan kepada seorangpun nabi sebelumnya dan tidak pula kepada seorangpun rosul di antara para rosul”. [1]

Keunggulan Islam di atas agama selainnya adalah lantaran Allah Subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan mereka melalui Rosul-Nya untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar sehingga mereka menjadi umat yang terbaik sepanjang masa. Dan hendaknya umat ini senantiasa menjaga amalan tersebut sepanjang hidup mereka supaya keutamaan ini tetap berada pada mereka. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh umat terdahulu sebelum mereka yakni golongan kafirin dari Bani Israil. Mereka tidak saling melarang dan mencegah dari perbuatan munkar yang dilakukan oleh sebahagian mereka. Lantaran itulah Allah Jalla Dzikruhu murka dan mengutuk mereka melalui lisan Nabi Dawud dan Isa putra Maryam Alaihima as-Salam. Semoga Allah Azza wa Jalla menjauhi kita dari kemurkaan dan laknat-Nya yang disebabkan meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar.

لُعِنَ الَّذِينَ كَــــفَرُوا مِن بَنِى إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّ كَانُوا يَعْتَدُونَ كَـــانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَــانُوا يَفْعَلُونَ

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak saling melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. [QS. Al-Ma’idah/5: 78-79].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengkhabarkan bahwasanya Dia telah mengutuk orang-orang kafir dari Bani Israil dari masa yang panjang terhadap apa yang telah diturunkannya melalui lisan Nabi Dawud Alaihi as-Salam dan juga lisan Nabi Isa putra Maryam Alaihi as-Salam dengan sebab kedurhakaan mereka kepada Allah dan melampaui batas kepada makhluk-Nya. Dan tidak ada pada mereka, orang yang melarang mereka dari mengerjakan perbuatan dosa dan hal-hal yang haram. Lalu Allah mencela mereka atas perbuatan tersebut agar berhati-hati dari mengerjakan perbuatan seperti yang mereka telah kerjakan.

Ayat ini juga menerangkan bahwa meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar menyebabkan tetapnya ia memperoleh kemurkaan dan laknat Allah. Kita memohon kepada Allah akan keselamatan (darinya)”. [2]

Perhatikan lalu ambil pelajaran!, bagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala telah melaknat orang-orang kafir dari Bani Israil, di antara penyebabnya adalah mereka tidak saling melarang perbuatan munkar yang mereka lakukan.
 
Jika itu telah terjadi pada umat terdahulu, maka bagaimana dengan umat Islam sekarang ini. Akankan kutukan dan laknat itu akan terulang kembali. Na’udzu billah tsumma na’udzu billah.
 
Namun di beberapa tempat pelosok bumi, fenomena yang ada hampir menyerupai peristiwa masa lalu. Masih banyak kaum muslimin yang meninggalkan lagi menanggalkan amar ma’ruf nahi munkar di saat saudara mereka melakukan beberapa kemungkaran dan mereka lebih disibukkan dengan urusan mereka sendiri. Jikapun ada di antara mereka yang perhatian kepada orang lain, hanya sebatas melihat atau mendengar, menghimpun dan menyebarkan aib saudaranya itu kepada selainnya. 

Keengganan atau mungkin juga rasa takut kepada orang itu yang menyebabkan seseorang itu meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar. Menghindar dari amar ma’ruf nahi mungkar dan mengedepankan ghibah atau fitnah adalah merupakan sifat pengecut yang tumbuh di dalam hati anak Adam yang belum dihiasi dengan keimanan dan tauhid. Ia hanya bisa melempar dari jarak yang sangat jauh dan tidak terlihat, bersembunyi dalam liangnya. Rasa takut dan pengecut telah menghimpitnya tanpa belas kasih sehingga ia laksana seekor himar yang gemetar ketakutan ketika melihat dan berhadapan dengan seekor singa yang sedang mengaum, menggetarkan hati, melemaskan urat sendi dan menciutkan nyali.

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: إِنَّ اللهَ لَيَسْأَلُ اْلعَبْدَ يَوْمَ اْلقِيَامَةَ حَتَّى يَقُوْلَ: مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَ اْلمـُنْكَرَ أَنْ تُنْكِرَهُ؟ فَإِذَا لَقَّنَ اللهُ عَبْدًا حُجَّتَهُ قَالَ: رَبِّ رَجَوْتُكَ وَ فَرِقْتُ مِنَ النَّاسِ

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah benar-benar akan bertanya kepada hamba pada hari kiamat, sehingga berfirman, “Apakah yang mencegahmu ketika melihat kemungkaran untuk mengingkarinya?”. Maka apabila Allah telah mengajarkan kepada hamba cara berhujjahnya, ia menjawab, “Wahai Rabbku, aku mengharapkan-Mu tetapi aku sangat takut kepada manusia”. [HR Ibnu Majah: 4017, Ahmad: III/ 27, 29, 77, Ibnu Hibban dan al-Humaidiy: 739. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [3]

Pada hari kiamat nanti, Allah Subhanahu wa ta’ala akan menanyakan kepada setiap manusia yang melihat dan mendengar kemungkaran tetapi ia tidak ambil peduli terhadapnya, bersikap tak acuh terhadap pelakunya dan bahkan seakan kemungkaran tersebut tak pernah ada di hadapannya. Pada saat itulah, Allah Jalla jalaluhu akan meminta pertanggung-jawaban terhadapnya dikarenakan ia tidak mau mengingkari kemungkaran tersebut. Jika orang yang tidak mau mengingkari kemungkaran lantaran rasa takut yang ada padanya itu saja diminta tanggung jawabnya, maka bagaimana terhadap orang yang duduk tenang mendengar dan menyaksikan kemungkaran lalu menyebarluaskannya kepada manusia dengan cara mengghibah??.  

Tanyakan kepada para tukang ghibah, “Mengapa kalian disibukkan dengan menggunjing saudara kalian dan meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar?”. Jika mereka menjawab, “Kami merasa tidak enak dan takut  orang itu marah atau tersinggung”. Maka katakanlah, “Mengapa kalian merasakan nikmat tatkala menceritakan aib saudara kalian dan tidak merasa takut kepada murka Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sebab perbuatan kalian?. Akankah kalian lebih memilih ghibah yang dilarang dan meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar yang diperintahkan. Amat buruk apa yang kalian kerjakan..

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قَالَ: أَخْرَجَ مَرْوَانُ اْلمـِنْبَرَ فىِ يَوْمَ عِيْدٍ فَبَدَأَ بِاْلخُطْبَةِ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَقَالَ رَجُلٌ: يَا مَرْوَانُ! خَالَفْتَ السُّنَّةَ أَخْرَجْتَ اْلمِنْبَرَ فىِ هَذَا اْليَوْمِ وَ لَمْ يَكُنْ يُخْرَجُ وَبَدَأْتَ بِاْلخُطْبَةِ قَبْلَ الصَّلاَةِ وَ لَمْ يَكُنْ يُبْدَأُ بِهَا فَقَالَ أَبُوْ سَعِيْدٍ: أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَاسْتَطَاعَ أَنْ يُغَيِّرَهُ بِيَدِهِ فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَ ذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

Dari Abu Sa’id al-khudriy radliyallahu anhu[4] berkata, “Marwan pernah mengeluarkan mimbar pada hari raya ied”. Lalu ia memulai khutbah sebelum sholat. Seseorang berkata, “Wahai Marwan, sungguh-sungguh engkau telah menyelisihi sunnah, engkau telah mengeluarkan mimbar pada hari raya ied yang selama ini tidak pernah dikeluarkan, dan juga engkau telah memulai khutbah sebelum sholat yang selama ini tidak pernah dimulai dengannya”. Abu Sa’id berkata, “Adapun orang ini sungguh-sungguh telah menunaikan apa yang diwajibkan kepadanya”. Aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Siapapun di antara kalian ada yang melihat kemungkaran lalu ia mampu merubah dengan tangannya maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya. Hal ini adalah selemah-lemahnya iman”. [HR Muslim: 49,  at-Turmudziy: 2172, an-Nasa’iy: VIII/ 111-112, 112, Abu Dawud: 1140, Ibnu Majah: 1275, 4013 dan Ahmad: III/ 10, 20,49, 52, 54, 92. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [5]

Abu Sa’id al-khudriy radliyallahu anhu seorang shahabat mulia ketika menyaksikan ada seseorang yang menegur Marwan disaat berkhutbah pada hari raya ied yang keliru sebab menggunakan mimbar dan mendahulukan khutbah sebelum sholat. Dan hal ini tidak pernah dikerjakan pada masa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ia berkomentar, “Sungguh orang ini telah menunaikan kewajibannya yakni telah beramar ma’ruf dan nahi munkar”. 

Orang itu telah bertindak tepat lagi benar, yakni menegur. Bukannya mendiamkan kekeliruannya lalu menyebarluaskannya kepada khalayak dalam bentuk ghibah. Sebagaimana yang terjadi pada masa sekarang ini. Banyak di antara manusia melihat atau mendengar kemungkaran yang dikerjakan orang lain namun ia diam menyaksikan saja. Ketika pelaku kemungkaran itu telah pergi berlalu atau ia tidak berada lagi disisinya, ia segera menyampaikannya kepada orang lain, dengan penuh percaya diri seolah-olah dengan meng-ghibah, ia telah melakukan perbuatan yang baik, tepat dan benar.

Padahal perbuatan tersebut dapat menjerumuskannya kepada siksaan Allah Jalla jalaluhu di dunia maupun akhirat, dan juga menjadi penghalang terkabulnya doa, sebagaimana dalil hadits di bawah ini,

عن حذيفة بن اليمن عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَ الَّذِى نَفْسىِ بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِاْلمـَعْرُوْفِ وَ لَتَنْهَوُنَّ عَنِ اْلمـُنْكَرِ وَ لَيُوْشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ فَتَدْعُوْنَهُ فَلاَ يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ

Dari Hudzaifah bin al-Yaman dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, benar-benar kalian beramar ma’ruf dan nahi munkar atau Allah benar-benar hampir mengirimkan siksaan dari-Nya, lalu kalian berdoa dan tidak akan dikabulkan”. [HR at-Turmudziy: 2169 dan Ahmad: V/ 388, 391. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [6]

Tindakan yang tepat lagi benar jika melihat saudaranya yang berbuat salah atau keliru adalah menashihati dan mengingatkannya dengan cara yang santun lagi lembut agar ia meninggalkan perbuatannya tersebut dan kemudian memperbaiki dirinya, bukan dengan menambah kerusakannya dengan cara meng-ghibah dan memfitnahnya. Sebab seorang mukmin itu adalah cermin bagi mukmin yang lain. Maksudnya seorang mukmin itu sulit untuk melihat kesalahan dan aibnya sendiri, maka saudara disekitarnyalah yang dapat mengingatkan dan menegur kesalahannya tersebut, sebagaimana telah diketahui akan fungsi dan kegunaan cermin. 

Hal ini didasarkan kepada atsar berikut ini, 

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: اْلمـُؤْمِنُ مِرْآةُ أَخِيْهِ إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْبًا أَصْلَحَهُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, “Mukmin itu adalah cermin bagi saudaranya, apabila ia melihat aib pada (saudara)nya tersebut maka ia akan memperbaikinya”. [Telah mengeluarkan atsar ini al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 238. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan isnadnya]. [7]

Islam telah mengajarkan pemeluknya untuk senantiasa menghidupkan amar ma’ruf nahi munkar dalam kehidupan mereka, sebab tiada seorangpun dari mereka yang luput dan lepas dari perbuatan salah dan dosa. Maka jika seorang dari mereka tidak menyadari telah berbuat salah maka saudaranya akan berusaha untuk menyelamatkannya darinya dengan cara menegur dan mengingatkanya, sebab mukmin itu adalah cermin bagi mukmin yang lain.  

Allah Jalla Jalaluhu telah berfirman,

وَ لْتَكُن مِّنكُمْ أَمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى اْلخَيْرِ وَ يَأْمُرُونَ بِاْلمـَعْرُوفِ وَ يَنْهَوْنَ عَنِ اْلمـُنكَرِ وَ أُولَئِكَ هُمُ اْلمـُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. [QS. Ali Imran/ 3: 104].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Harus ada sekelompok orang dari umat Islam yang mengajak umat dan bangsa kepada Islam dan menawarkannya kepada mereka serta memerangi mereka jika mereka memeranginya. Mesti ada sekumpulan orang yang menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar di setiap kota dan desa kaum muslimin. [8]

وَ اْلمـُؤْمِنُونَ وَ اْلمـُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِاْلمـَعْرُوفِ وَ يَنْهَوْنَ عَنِ اْلمـُنكَرِ وَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَ يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَ يُطِيعُونَ اللهَ وَ رَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS. Al-Bara’ah/ 9: 71].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat penjelasan mengenai sifat orang mukmin laki-laki dan perempuan dan hal itu merupakan wujud dan bukti keimanan mereka. Pentingnya sifat ahli iman itu yakni berupa wala (loyalitas) sebahagian mereka terhadap sebahagian lainnya, amar ma’ruf dan nahi munkar, menegakkan sholat, membayar zakat dan taat kepada Allah dan Rosul-Nya”. [9]

التَّائِبُونَ اْلعَابِدُونَ اْلحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ اْلآمِرُونَ بِاْلمـَعْرُوفِ وَ النَّاهُونَ عَنِ اْلمـُنكَرِ وَ اْلحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللهِ وَ بَشِّرِ اْلمـُؤْمِنِينَ

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu. [QS. Al-Bara’ah/9: 112].

Ayat-ayat di atas beserta penjelasannya, dengan gamblang menerangkan akan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala terhadap umat Islam agar menghidupkan kebiasaan amar ma’ruf dan nahi munkar di setiap tempat dan waktu. Bahkan sudah sepatutnya di antara mereka membuat suatu kumpulan yang senantiasa menegakkan aturan ini di tengah-tengah komunitas kaum muslimin dengan cara dan manhaj yang benar dan tepat. Oleh sebab itu Allah Azza wa Jalla telah memuliakan dan menyanjung mereka dengan memasukkan mereka ke dalam golongan ahli iman karena amar ma’ruf dan nahi munkar ini, oleh Allah Jalla wa Ala dikategorikan sebagai salah satu dari sembilan sifat kaum mukminin dan kelak akan mendapat keberuntungan pada hari kiamat. Bahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menyatakan bahwa amar maruf dan nahi munkar ini adalah salah satu dari tanda atau rambu ajaran Islam sebagaimana jalan mempunyai banyak rambu. Setiap muslim mesti mematuhi rambu-rambu tersebut dengan tepat lagi ikhlas, jika di antara mereka ada yang melanggarnya maka akan terjadi kekacauan dan kesemrawutan sebagaimana jika rambu jalan atau rambu lalu lintas dilanggar.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ لِلْإِسْلاَمِ صُوًى وَ مَنَارًا كَمَنَارِ الطَّرِيْقِ مِنْهَا أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَ لاَ تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَ إِقَامُ الصَّلاَةِ وَ إِيْتَاءُ الزّكَاةِ وَ صَوْمُ رَمَضَانَ وَ حَجُّ اْلبَيْتِ وَ اْلأَمْرُ بِاْلمـَعْرُوْفِ و النَّهْيُ عَنِ اْلمـُنْكَرِ  وَ أَنْ تُسَلِّمَ عَلىَ أَهْلِكَ إِذَا دَخَلْتَ عَلَيْهِمْ  وَ أَنْ تُسَلِّمَ عَلىَ اْلقَوْمِ إِذَا مَرَرْتَ بِهِمْ فَمَنْ تَرَكَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَقَدْ تَرَكَ سَهْمًا مِنَ اْلإِسْلاَمِ وَ مَنْ تَرَكَهُنَّ كُلَّهُنَّ فَقَدْ وَلِيَ اْلإِسْلاَمُ ظَهْرَهُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Islam itu mempunyai tanda dan rambu sebagaimana rambu jalan. Di antaranya adalah engkau beriman kepada Allah, tidak berbuat syirik, menegakkan sholat, membayar zakat, shaum bulan Ramadlan, haji ke Baitullah, amar ma’ruf, nahi munkar, mengucapkan salam kepada keluargamu jika kamu masuk ke (tempat) mereka dan mengucapkan salam kepada suatu kaum jika kamu melewati mereka. Barangsiapa yang meninggalkan satu dari hal itu maka sungguh-sungguh ia telah meninggalkan satu bahagian dari (ajaran) Islam. Dan barangsiapa yang meninggalkan seluruhnya maka Islam itu telah meninggalkan punggung (diri)nya”. [HR Abu Ubaid al-Qosim bin Salam, Ibnu Basyran, Abdul Ghaniy al-Muqaddisiy dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [10]

Di dalam hadits di atas, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan bahwa rambu-rambu Islam adalah beriman kepada Allah Jalla Dzikruhu, tidak berbuat syirik, menegakkan sholat, membayar zakat, menunaikan shaum Ramadlan, melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, amar ma’ruf, nahi munkar dan mengucapkan salam kepada keluarga atau suatu kaum. Barangsiapa di antara umat ini yang meninggalkan satu darinya maka berarti ia telah meninggalkan satu bahagian dari ajaran Islam dan jika ia meninggalkan seluruhnya berarti Islam telah pergi meninggalkannya, yakni ia telah keluar dari Islam. Maka hal itu berarti amar ma’ruf nahi munkar adalah salah satu ajaran Islam yang mesti dijaga oleh setiap penganutnya dengan penjagaan yang semestinya.


عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِيَّاكُمْ وَ اْلجُلُوْسَ عَلىَ الطُّرُقَاتِ فَقاَلُوْا: مَا لَنَا بُدٌّ إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيْهَا قَالَ: فَإِذَا أَتَيْتُمْ إِلىَ اْلمـَجَالِسِ فَأَعْطُوْا الطَّرِيْقَ حَقَّهَا قَالُوْا: وَ مَا حَقُّ الطَّرِيْقِ؟ قَالَ: غَضُّ اْلبَصَرِ وَ كَفُّ اْلأَذَى وَ رَدُّ السَّلاَمِ وَ أَمْرٌ بِاْلمـَعْرُوْفِ وَ نَهْيٌ عَنِ اْلمـُنْكَرِ

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah duduk-duduk di (tepi) jalan”. Mereka bertanya, “Kami tidak ada jalan keluar (pilihan).  Tepi jalan itu adalah majlis kami yang kami dapat berbincang-bincang padanya”. Beliau bersabda, “Apabila kalian mendatang majlis (tersebut) maka berikanlah untuk jalan itu haknya!”. Mereka bertanya, “Apakah hak jalan itu?”. Beliau menjawab, “Menahan pandangan, mencegah gangguan, membalas salam, amar ma’ruf dan nahi munkar”. [HR al-Bukhoriy: 2465, 6229, Muslim: 2121, Abu Dawud: 4815 dan Ahmad: III/ 36, 47. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [11]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Menahan pandangan, mencegah gangguan, membalas salam, amar ma’ruf dan nahi munkar adalah perkara-perkara yang diwajibkan”. [12]

Mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar itu mesti konsisten dan kontinyu tidak hanya sebatas di satu tempat dan waktu, yakni tidak hanya di majlis pengajian saja tetapi juga ketika sedang bercengkrama dan berbincang-bincang dengan orang lain di berbagai tempat, misalnya; di tepi jalan bersama beberapa rekan yang mesti dilakukan di tempat tersebut. Maka dikala itulah, setiap muslim mesti memberikan hak bagi jalan yakni; menahan pandangan dari yang haram dan syubhat, mencegah gangguan yang terjadi di hadapannya, membalas salam ketika ada orang yang mengucapkannya dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Misalnya; mengingatkan jika dalam perbincangan itu lalu masuk waktu sholat, menolong orang buta menyeberang jalan, menunjuki jalan bagi orang yang sedang tersesat jalan dan tidak mempersempit jalan bagi penggunanya. Juga mencegah terjadinya tindak kejahatan semisal mencopet, membegal, memalak dan semisalnya, memisahkan para remaja yang hendak tawuran dan mencegah seseorang yang hendak mengganggu kaum wanita atau anak-anak dan selainnya.

Demikian kewajiban amar ma’ruf nahi munkar yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Dan setiap kaum muslimin yang telah mampu mengerjakannya, ia akan mendapatkan pahala dan balasan kebaikan untuknya kelak di hari kiamat sebagai imbalan atas amal perbuatannya. Sebab Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar itu adalah merupakan pahala sedekah bagi pelakunya, sebagaimana kebaikan-kebaikan lainnya.

. عن أبي ذرّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: تَبَسُّمُكَ فىِ وَجْهِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ وَ أَمْرُكَ بِاْلمـَعْرُوْفِ وَ نَهْيُكَ عَنِ اْلمـُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَ إِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فىِ أَرْضِ الضَّلاَلِ لَكَ صَدَقَةٌ وَ بَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ وَ إِمَاطَتُكَ اْلحَجَرَ وَ الشَّوْكَ وَ اْلعَظْمَ عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ وَ إِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فىِ دَلْوِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ

Dari Abu Dzarr radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Senyummu di hadapan wajah saudaramu adalah sedekah bagimu, engkau beramar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah, engkau menunjuki seseorang yang tersesat adalah sedekah bagimu, engkau membimbing orang buta adalah sedekah bagimu, engkau menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan adalah sedekah bagimu dan engkau memenuhi ember saudaramu (dengan air) dari embermu adalah sedekah bagimu”. [HR at-Turmudziy: 1956 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [13]

عن أبي ذرّ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم أَنَّهُ قَالَ: يُصْبِحُ عَلىَ كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ  صَدَقَةً فَكُلُّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ وَ كُلُّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ وَ كُلُّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ وَ كُلُّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ وَ أَمْرٌ بِاْلمـَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ وَ نَهْيٌ عَنِ اْلمـُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَ يُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

Dari Abu Dzarr radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya Beliau bersabda, “Di waktu pagi, diwajibkan bagi tiap persendian seorang di antara kalian untuk bersedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah dan nahi munkar juga adalah sedekah. Dan hal itu mencukupi dengan sholat dua rakaat dari dluha”. [HR Muslim: 720, Abu Dawud: 1285, 5243 dan Ahmad: V/ 167, 168. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [14]

Jalan menuju kebenaran itu hanya satu yakni mengikuti alqur’an dan hadits shahih dengan bimbingan yang benar dan tepat dari para ulama yang meniti jalannya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabat radliyallahu anhum. Sedangkan jalan menuju kebaikan itu banyak, selama telah dicontohkan dan diperintahkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Di antaranya adalah tersenyum kepada orang lain, menunjuki orang yang sedang sesat jalan, membimbing orang buta, menyingkirkan gangguan berupa batu, ranting, duri dan selainnya dari jalan, memenuhi ember orang lain dari embernya dengan air, mengucapkan tasbih (subhaanallah), tahmid (alhamdulillah), tahlil (laa ilaaha illallaah), takbir (allaahu akbar), amar ma’ruf dan nahi munkar dan masih banyak lainnya.

Jika setiap muslim berambisi dengan berbagai kebaikan hendaknya mengikuti perintah dan contoh dari panutan dan teladannya yang terbaik yaitu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Ketika Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar kepada umatnya maka hendaklah ia mencontoh dan mengikutinya bukan menyelisihinya dengan melakukan ghibah, fitnah atau namimah. Maka ini adalah perilaku jauh api dari panggang.

Semoga kita dapat meneladani Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam berbagai amal perbuatannya, tidak terkecuali dalam beramar ma’ruf dan nahi munkar, karena di dalamnya terdapat banyak kebaikan.

Wallahu a’lam bi ash-Showab.


[1] Bahjah an-Nazhirin: I/ 273.
[2] Bahjah an-Nazhirin: I/ 274.
[3] Shahih Sunan Ibni Majah: 3244, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1818, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 929 dan Shahih al-Ahadits al-Qudsiyyah: 123.
[4] Juga diriwayatkan dari Thariq bin Syihab radliyallahu anhu.
[5] Mukhtashor Shahih Muslim: 34, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1764, Shahih Sunan Abi Dawud: 1009, Shahih Sunan Ibni Majah: 1053, 3242, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4635, 4636 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6250.
[6] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1762, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7070 dan Misykah al-Mashobih: 5140.
[7] Shahih al-Adab al-Mufrad: 177.
[8] Aysar at-Tafasir: I/ 358.
[9] Aysar at-Tafasir: II/ 397.
[10] Shahih al-Jami ash-Shaghir: 2162 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 333.
[11] Mukhtashor Shahih Muslim: 1419, Shahih Sunan Abi Dawud: 4030 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2675.
[12] Bahjah an-Nazhirin: I/ 281.
[13] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1594, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2908 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 572.
[14] Mukhtashor Shahih Muslim: 364, Shahih Sunan Abi Dawud: 1143, 4366, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 8097, 8098, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 577 dan Irwa’ al-Ghalil: 461.