السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Kamis, 05 Juli 2012

DOA IF-THOR ASH-SHIYAM (berbuka puasa)

DOA BERBUKA PUASA

بسم الله الرحمن الرحيم



ذَهَبَ الظَّمَأُ وَ ابْتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ وَ ثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

"Dzahabazh zhoma’u wab-tallatil ‘uruuqu wa tsabatal aj-ru in-syaa’ Alloh".

((Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah dan pahala telah tetap, insyaa Allah)).

Dari Marwan –yaitu Ibnu Salim al-Muqoffi’- berkata, “Aku pernah melihat Ibnu Umar radliyallahu anhuma menggenggam jenggotnya dan memotong apa yang lebih dari kepalannya. Dan ia berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila berbuka beliau mengucapkan, “…al-hadits..”.

[HR Abu Dawud: 2357, ad-Daruquth-niy: 2256, al-Hakim: II/ 52 nomor 1576, al-Baihaqiy di dalam asy-Syu’ab al-Iman: III/ 306-407 nomor: 3902, an-Nasa’iy di dalam as-Sunan al-Kubra dan Ibnu as-Suniy: 472].

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, "Hasan". [Lihat Shahih Sunan Abu Dawud: 2066, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4678, Misykah al-Mashobih: 1993 dan Irwa’ al-Ghalil: IV/ 39 nomor: 920].


Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy, “Hasan”. [Nail al-Awthar bi takhrij Ahadits kitab al-Adz-kar.I/437 , hadith nomor 550].

Tidak ada hadits lain yang dapat dijadikan hujjah/ dalil selain hadits ini. Karena hadits-hadits selain ini adalah dla’if (lemah).
Wallahu a’lam.

WASPADAI HADITS LEMAH TENTANG RAMADLAN.


HIMPUNAN BEBERAPA  HADITS LEMAH TENTANG RAMADLAN

بسم الله الرحمن الرحيم


HADITS PERTAMA

لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُوْنََ رَمَضَانُ السَّنَةَ كُلَّهَا

“Kalau seandainya hamba-hamba itu tahu apa yang ada pada bulan Ramadhan (keutamaannya), maka niscaya umatku ini akan berangan-angan bahwa satu tahun itu adalah bulan Ramadlan seluruhnya.
Dari jalan, telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Nashir dan Sa’d al-Khair bin Muhammad keduanya berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Nash-r bin Ahmad, telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Rizquweih, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Salman, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismail as-Silmiy, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Roja, telah menceritakan kepada kami Jarir bin Ayyub al-Bajaliy dari asy-Sya’biy dari Nafi’ bin Burdah dari Abdullah bin Mas’ud bawasanya ia mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “…lalu beliau menyebutkannya…..”

Berkata Ibnu al-Jauziy, “Hadits ini adalah hadits yang didustakan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (palsu).  Orang yang tertuduh (memalsukan hadits ini) adalah Jarir bin Ayyub. Berkata Yahya, “Ia tidak ada apa-apanya”. Berkata al-Fadl-l bin Dukain, “Ia suka memalsukan hadits”. Berkata an-Nasa’iy dan ad-Daruquthniy, “Ia adalah matruk (orang yang ditinggalkan periwayatan haditsnya)”. [Lihat Kitab al-Maudlu’at: II/ 189].

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam Shahihnya [III/190], Abu Ya’la Al-Mushiliy di dalam kitab Musnadnya: IX/ 160 dan selain keduanya.
Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya al-Maudhu’at [II/189] dan juga al-Imam Asy-Syaukani dalam Al-Fawa’id Al-Majmu’ah [halaman 74] menghukumi dia (yaitu Jarir bin Ayyub) adalah perawi yang suka memalsukan hadits -yakni pendusta-. Lihat Lisan al-Mizan: II/302 oleh Ibnu Hajar al-Asqolaniy.

HADITS KEDUA
صَائِمُ رَمَضَانَ فِى السَّفَرِ كَاْلمُـفْطِرِ فِى اْلحَضَرِ
           
 “Orang yang shaum di bulan Ramadlan pada waktu safar (bepergian) sama seperti orang yang berbuka pada waktu hadir (tidak bepergian)”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, al-Haitsam bin Kulaib dan adl-Dliya’ di dalam al-Mukhtarah dari jalan Usamah bin Zaid bin Ibnu Syihab dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Ayahnya Abdurrahman bin Auf secara marfu’.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Sanad hadits ini dla’if”, karena dua sebab,
1). Hadits ini munqothi’ (terputus). Abu Salamah tidak pernah mendengar dari ayahnya sebagaimana di dalam kitab Fat-h al-Bariy.
2). Usamah bin Zaid itu lemah hafalannya. Ia suka menyelisihi orang-orang yang tsiqot (kuat) yaitu Ibnu Abi Dzi’b. Ia meriwayatkan dari az-Zuhriy bin Syihab secara mauquf.
Asy-Syaikh al-Albaniy telah mendla’ifkan hadits ini. Lihat Dla'if al-Jami’ ash-Shaghir: 3456 dan Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu'ah: 498.

HADITS KETIGA

رَجَبُ شَهْرُ اللهِ وَ شَعْبَانُ شَهْرِى وَ رَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِى

“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”

Dari jalan, telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqiy bin Ahmad, telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin al-Hasan bin Khairun, telah mengkhabarkan kepada kami Abul Qosim Abdurrahman bin Abid al-Harfiy, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Hasan an-Naqqasy, telah menceritakan kepada kami Abu Umar Ahmad bin al-Abbas ath-Thobariy, telah menceritakan kepada kami al-Kisa’iy, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami al-A’masy dari Ibrahim dari Alqomah dari Abu Sa’id al-khudriy berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “…lalu beliau menyebutkannya…”.

Berkata Asy-Syaikh al-Albaniy, “Hadits ini dla’if”. [Lihat Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 3094].
Berkata Ibnu al-Jauziy, “Hadits ini maudlu’ (palsu) atas nama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Al-Kisa’iy itu tidak dikenal sedangkan an-Naqqasiy itu sebagai orang yang tertuduh (berdusta). [Kitab al-Maudlu’at: II/ 206].

Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Abu Bakr an-Naqqasy. Tentang rawi yang satu ini, para ulama telah menjelaskan keadaannya, di antaranya;
Thal-hah bin Muhammad asy-Syahid mengatakan bahwa Abu Bakar an-Naqqasy suka memalsukan hadits, dan kebanyakannya tentang kisah-kisah.
Abul Qasim al-Lalika’i mengatakan bahwa tafsir dari Abu Bakar an-Naqqasy justru akan mencelakakan hati, tidak menjadi obat bagi hati-hati ini.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abul Fat-h bin al-Fawaris di dalam al-Amali dari Al-Hasan al-Bashri secara mursal.

al-Hafizh al-’Iraqi mengatakan dalam Syarh at-Tirmidzi, “Ini adalah hadits dha’if jiddan (sangat lemah), dan dia termasuk hadits-hadits mursal yang diriwayatkan dari al-Hasan (al-Bashri), kami meriwayatkannya dari Kitab at-Targhib wa at-Tarhib karya al-Ashfahani, hadits-hadits mursal yang diriwayatkan dari al-Hasan (al-Bashri) tidak bernilai (shahih) menurut Ahlul Hadits, dan tidak ada satu hadits pun yang menyebutkan tentang keutamaan bulan Rajab.”

Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya al-Maudhu’at [II/205-206], adz-Dzahabi dalam Tarikh al-Islam [I/290], dan asy-Syaukani dalam al-Fawa’id al-Majmu’ah [halaman 95] menghukumi bahwa hadits ini adalah hadits palsu, didustakan atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Lihat Lisan al-Mizan [VI/202] karya Ibnu Hajar.

HADITS KEEMPAT

يا أيها الناس إنه قد أظلكم شهر عظيم شهر مبارك فيه ليلة خير من ألف شهر فرض الله صيامه وجعل قيام ليله تطوعا فمن تطوع فيه بخصلة من الخير كان كمن أدّى فريضة فما سواه … وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَ أَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَ آخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

“Wahai sekalian manusia, sungguh hampir datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh barokah, di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, Allah wajibkan untuk berpuasa pada bulan ini, dan Allah jadikan shalat pada malam harinya sebagai amalan yang sunnah, barangsiapa yang dengan rela melakukan kebajikan pada bulan itu, maka dia seperti menunaikan kewajiban pada selain bulan tersebut … Dan dia merupakan bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.”

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Hadits ini adalah hadits munkar”, dikeluarkan oleh al-Muhamiliy di dalam al-Amaliy dan Ibnu Khuzaimah di dalam Shahihnya [III/191 nomor 1887], dan beliau mengatakan, “Jika haditsnya shahih.” ((Maksud ungkapan ini adalah bahwa al-Hafizh Ibnu Khuzaimah ragu (tidak memastikan) penshahihan hadits ini karena derajat sanadnya yang rendah (tidak sampai derajat shahih), maka jangan ada seorangpun yang mengira bahwa hadits ini shahih menurut Ibnu Khuzaimah)). Dan juga diriwayatkan oleh al-Wahidiy di dalam al-Wasith, dari Ali bin Zaid bin Zad’an dari Sa’id bin al-Musayyab dari Salman al-Farisiy berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah berkhutbah kepada kami di hari akhir bulan Sya’ban, Beliau bersabda, “…lalu Beliau menyebutkannya….”. [Lihat Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: II/ 263].

Hadits ini juga dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman [III/305], al-Harits bin Usamah dalam Musnadnya [I/412], dan yang lainnya.
Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama ‘Ali bin Zaid bin Jud’an yang dikatakan oleh para ulama, di antaranya;
Ibnu Khuzaimah mengatakan bahwa dia tidak bisa dijadikan hujjah karena jeleknya hafalan dia.
al-Bukhari mengatakan bahwa dia tidak bisa dijadikan hujjah.
Di dalam sanadnya juga terdapat rawi yang bernama Iyas bin Abi Iyas yang dikatakan oleh para ulama, di antaranya;
adz-Dzahabi mengatakan bahwa dia adalah rawi yang tidak dikenal.
al-’Uqaili mengatakan bahwa dia adalah rawi yang majhul (tidak dikenal) dan haditsnya tidak mahfuzh (yakni syadz/ganjil).

Abu Hatim mengatakan, “Ini adalah hadits Munkar.” (al-’Ilal karya Ibnu Abi Hatim [I/249]).
Lihat Lisan al-Mizan [II/169] karya Ibnu Hajar, Lihat Tadrib ar-Rawi [I/89] karya as-Suyuthiy, as-Siyar [V/207] karya adz-Dzahabi, Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 2135 dan Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu'ah [II/262-263 nomor 871] karya Asy-Syaikh Al-Albani.

HADITS KELIMA

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ نَظَرَ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ وَ إِذَا نَظَرَ اللهُ إِلَى عَبْدِهِ لَمْ يُعَذِّبْهُ أَبَدًا، وَ لِلَّهِ عزَّ وجَلَّ فِي كُلِّ يومٍ أَلْفُ عَتِيْقٍ مِنَ النَّارِ

“Ketika malam pertama bulan Ramadhan, Allah melihat makhluknya, ketika Allah melihat kepada seorang hamba, maka Dia tidak akan mengadzabnya selamanya, dan Allah ‘azza wa jalla pada setiap harinya memiliki seribu hamba yang dibebaskan dari neraka.”

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Hadits ini adalah hadits maudlu’ (palsu)”.
Diriwayatkan oleh Ibnu Funjawaeh di dalam kitab ‘Majlis min al-Amali fi Fadl-li Ramadlan’ dan Abu al-Qosim al-Ashbihaniy di dalam at-Targhib, dari Hammad bin Mudrik, telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abdullah, telah mengkhabarkan kepada kami Malik dari Abu az-Zinad dari al-A’raj dari Abu Hurairah secara marfu’.
Seperti ini pula diriwayatkan oleh adl-Dliya’ al-Muqaddisiy di dalam ‘al-Mukhtarah’ yang lebih sempurna, lalu ia berkata, “Utsman bin Abdullah asy-Syamiy adalah orang yang tertuduh pendusta (hadits) di dalam periwayatannya.

Demikian pula Ibnu al-Jauziy dengan sempurna di dalam al-Maudlu’at (II/ 190), lalu ia berkata secara ringkas, “(Hadits ini) palsu, di dalamnya banyak orang yang majhul (tidak dikenal). Orang yang tertuduh di dalam hadits ini adalah Utsman bin Abdullah Al-Qurasyi Al-Umawi Asy-Syami sebagai orang yang suka memalsu (hadits)”. [Lihat penjelasan asy-Syaikh al-Albaniy di dalam kitab Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: I/ 470 hadits nomor 299].

HADITS KEENAM

صُوْمُوا تَصِحُّوا

“Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.”

Berkata sy-Syaikh Al-Albani, “Ini adalah hadits dha’if”.
Dikeluarkan oleh Al-’Uqaili dalam Adh-Dhu’afa’ [II/92], Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam al-Awsath dan Abu Nu’aim di dalam ath-Thibb dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abu Dawud, telah mengkhabarkan kepada kami Zuhair bin Muhammad dari Suhail bin Abu Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah. [Lihat Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir:  2504 dan Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 253].

Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Zuhair bin Muhammad At-Tamimi, riwayat penduduk negeri Syam dari dia adalah riwayat yang di dalamnya banyak riwayat munkar.
Dalam sanadnya yang lain, terdapat rawi yang bernama Nahsyal bin Sa’id, dan dia adalah rawi yang matruk (ditinggalkan haditsnya). Ishaq bin Rahuyah dan Abu Dawud Ath-Thayalisi menyatakan dia adalah rawi yang kadzdzab (pendusta). Di samping itu sanadnya juga terputus.

Dalam sanadnya yang lain juga terdapat rawi yang bernama Husain bin ‘Abdillah bin Dhamirah Al-Himyari yang dikatakan oleh para ulama di antaranya;
Al-Imam Malik menisbahkan dia sebagai rawi yang pendusta.
Ibnu Ma’in menyatakan bahwa dia adalah kadzdzab (pendusta), tidak ada nilainya sedikitpun.
Al-Bukhari menyatakan bahwa dia adalah munkarul hadits (kebanyakan haditsnya munkar).
Abu Zur’ah menyatakan bahwa dia adalah rawi yang tidak ada nilainya sedikitpun, hinakan haditsnya (yakni yang dia riwayatkan).”
Al-Hafizh Al-’Iraqi melemahkan sanadnya.

HADITS KETUJUH
       
 الصَّائِمُ فِى عِبَادَةٍ وَ إِنْ كَانَ رَاقِدًا عَلَى فِرَاشِهِ

      “Orang yang berpuasa itu selalu dalam keadaan beribadah meskipun ia tidur di pembaringannya”.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Hadits ini dla’if”. Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tamam, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakar Yahya bin Abdullah az-Zujaj berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Harun bin Muhammad bin Bakkar bin Bilal, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Abu Hurairah al-Himshiy dari Hisyam bin Hassan dari Ibnu Sirin dari Salman bin Amir adl-Dlibiy secara marfu’. [Lihat Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: II/ 106-107 hadits nomor 653 dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir:3530].

HADITS KEDELAPAN

الصَّائِمُ فِى عِبَادَةٍ مَا لَمْ يَغْتَبْ

“Orang yang berpuasa itu senantiasa dalam keadaan ibadah selama ia tidak meng-ghibah (menggunjing)”.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Hadits ini Munkar”. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Adiy dari jalan al-Hasan bin Manshur, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Harun Abu Hisyam al-Ghasaniy, telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Hassan dari Muhammad dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, …”

Aku (yaitu asy-Syaikh al-Albaniy) berkata, “Hadits ini sanadnya dla’if jiddan (lemah sekali), karena dua sebab,
1). Abdurrahman bin Harun Abu Hisyam al-Ghasaniy.
2). Al-Hasan bin Manshur. Berkata Ibnu al-Jauziy di dalam kitab ‘al-Ilal’, “Ia tidak diketahui keadaanya”. [Lihat Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: IV/ 311 hadits nomor: 1829 dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 3528].

HADITS KESEMBILAN

إِنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ لاَ يُرْفَعُ إِلاَّ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ

“Sesungguhnya bulan Ramadhan itu tergantung di antara langit dan bumi, tidaklah bisa diangkat kecuali dengan zakat fitrah.”

Ini adalah hadits dha’if.

Di dalam kitab al-Jami’ ash-Shaghir, riwayat ini telah dinisbahkan kepada Ibnu Syahin di dalam kitab at-Targhibnya dan adl-Dliya’ dari Jarir. Ia telah mengisyaratkannya dengan dla’if.
Al-Imam al-Munawiy juga menyebutkan riwayat ini di dalam kitabnya al-fayd al-Qodir Syar-h al-Jami’ ash-Shaghir[II/ 455 nomor 2287] dari Ibnu Shishriy di dalam kitab al-Amaliy dari Jarir, ia berkata, “dla’if”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Shishri di dalam Al-Amali dan bagian hadits ini hilang, dan Ibnu al-Jauzi telah menyebutkannya di dalam al-Wahiyat. Ia berkata, “Tidak shahih”. Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Muhammad bin ‘Ubaid al-Bashriy yang dikatakan oleh Ibnu  al-Jauzi bahwa dia adalah majhul (tidak dikenal).

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Sempurnanya ucapan Ibnu al-Jaziy di dalam kitab Al-’Ilal Al-Mutanahiyah: 824 [II/499], “Dia adalah rawi yang tidak ada satupun yang mengikutinya”. Al-Hafizh Ibnu Hajar juga telah mengakuinya di dalam Lisan al-Mizan [V/276]. [Lihat Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu'ah: I/ 117].
Asy-Syaikh Al-Albani mendha’ifkan hadits ini di dalam Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 1768 dan  Silsilah al-Ahadits Adh-Dha’ifah wa al-Maudlu'ah: 43.

HADITS KESEPULUH
       
 لِكُلِّ شَيْءٍ زَكَاةٌ وَ زَكَاةُ اْلجَسَدِ الصَّوْمُ

         “Tiap-tiap sesuatu itu ada zakatnya dan zakatnya badan adalah mengerjakan shaum (berpuasa)”.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Hadits ini dla’if”. Diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah dan Sahel bin Sa’d.

1). Hadits dari Abu Hurairah diriwayatkan oleh Waki’ di dalam kitab az-Zuhd, telah menceritakan kepada kami Musa bin Ubaidah dari Jamhan darinya secara mauquf.
Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam al-Mushannaf, Ibnu Majah: 1745, Ibnu Adiy di dalam ‘al-Kamil’ dan Abu Bakar al-Kalabidziy di dalam ‘Miftah al-Ma’aniy’ dari jalan Ibnu al-Mubarak dan selainnya dari Musa bin Ubaidah darinya secara marfu’.
Berkata al-Bushairiy di dalam az-Zawa’id, “Hadits ini sanadnya lemah. Musa bin Ubaidah ar-Ribdziy ini telah disepakati akan kedla’ifannya”.
2). Hadits dari Sahel, diriwayatkan oleh Hammad bin al-Walid dari Sufyan ats-Tsauriy dari Abu Hazim darinya secara marfu’.

Diriwayatkan juga oleh Ibnu Makhlad di dalam kitab al-Muntaqa’, Ibnu Adiy di dalam ‘al-Kamil’, ath-Thabraniy di dalam ‘al-Kabir’ dan Ibnu al-jAuziy di dalam ‘al-Wahiyat’.
Berkata Ibnu Adiy, “Aku tidak mengetahui yang diriwayatkan dari ats-Tsauriy ini kecuali dari Hammad. Sedangkan Hammad ini mempunyai hadits-hadits gharib dan menyendiri dari yang tsiqoh-tsiqoh. Umumnya apa yang diriwayatkannya itu tidak ada yang mengikutnya”.

Berkata Ibnu Hibban di dalam ‘adl-Dlu’afa wa al-Matrukin, “Ia suka mencuri hadits dan melekatkan dengan tsiqot dari hadits-hadits mereka”.
Berkata Ibnu al-Jauziy, “Ini adalah hadits yang tidak shahih”. (ia menyebutkan ucapan Ibnu Hibban dan Ibnu Adiy).
Berkata al-Haitsamiy, “Di dalamnya ada Hammad bin al-Walid dan ia adalah dla’if”.
Sedangkan al-Imam adz-Dzahabiy berkata di dalam kitab adl-Dlu’afa, “Ia adalah matruk (orang yang ditinggalkan) dan saqith (gugur haditsnya). [Lihat Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: III/ 497-498 dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 4723].

HADITS KESEBELAS
      
  رَمَضَانُ بِاْلمـَدِيْنَةِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ رَمَضَانَ فِيْمَا سِوَاهَا مِنَ اْلبُلْدَانِ

            “Ramadlan di kota Madinah itu lebih baik daripada seribu ramadlan di kota-kota selainnya”.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, Hadits ini bathil. Diriwayatkan oleh ath-Thabraniy dan Ibnu Asakir dari Abdullah bin Ayyub al-Makhramiy, telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah bin Katsir bin Ja’far dari ayahnya dari kakeknya dari Bilal bin al-Harits secara marfu’.

Aku (yaitu asy-Syaikh al-Albaniy) berkata, “Hadits ini lemah sanadnya. Abdullah ini telah disebutkan oleh adz-Dzahabiy di dalam ‘al-Mizan’ dan ia menyitir hadits ini dan berkata, “Aku tidak tahu siapakah dia?”. Ini adalah hadits bathil” dan sanadnya juga muzhlim (gelap). Abdullah bin Ayyub al-Makhramiy juga sendirian (meriwayatkan hadits ini) darinya. [Lihat Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: II/ 230 dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 3138].

Ada juga riwayat yang lain,

     رَمَضَانَ بِمَكَّةَ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ رَمَضَانَ بِغَيْرِ مَكَّةَ

Diriwayatkan oleh al-Bazzar secara ringkas dari Ibnu Umar. Al-Imam as-Suyuthiy telah mengeluarkan hadits ini pula dan al-Haitsamiy telah meng-illatkannya (mencacatkannya) di dalam al-Majma’ karena Ashim bin Umar, dan ia adala seorang yang dla’if (haditsnya). [Lihat Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: II/ 231 dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 3139].

HADITS KEDUA BELAS
       
 اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا وَ عَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
           
 “Ya Allah, untuk-Mu-lah aku berpuasa, atas rizki-Mu-lah aku berbuka maka terimalah ini dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha mendengar lagi Maha mengetahui”.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Hadits ini dla’if (lemah)”.
1). Hadits dari Ibnu Abbas diriwayatkan oleh Abul Malik bin Harun bin ‘Antarah dari Ayahnya dari kakeknya darinya secara marfu’.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh ad-Daruquthniy: 240, Ibnu as-Suniy di dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah’ dan ath-Thabraniy di dalam al-Kabir.

 Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Hadits ini sanadnya dlaif jiddan, karena ada Abdul Malik bin Harun, ia adalah matruk (ditinggalkan) sebagaimana di dalam adl-Du’afa al-Imam adz-Dzahabiy. Dan Harun bin Antarah juga diperselisihkan tentangnya. [Nail al-Awthar bi takhrij Ahadits kitab al-Adz-kar: I/ 439, hadits nomor 553].

Aku (yaitu asy-Syaikh al-Albaniy) berkata, “Sanad hadits ini dla’if jiddan, karena ada dua sebab,
a-. Abdulmalik, ia dla’if jiddan. Berkata adz-Dzahabiy di dalam adl-Dlu’afa, “Mereka telah meninggalkannya”. Berkata Sa’diy, “Ia adalah dajjal (tukang bohong)”.
b-. Harun bin Antarah, ia diperselisihkan. Adz-Dzahabiy menukil dari ad-Daruquthniy, bahwa ia telah mendla’ifkannya.

Ibnu Hibban telah menyebutkan, dan berkata, “Ia adalah Munkarul hadits jiddan”. Ia banyak meriwayatkan hadits munkar yang sampai menembus ke hati dan jadi sandaran. Tidak boleh berhujjah dengannya dalam setiap keadaan.

2). Hadits dari Anas. Diriwayatkan oleh Ismail bin Amr al-Bajaliy, telah menceritakan kepada kami Dawud bin az-Zabraqan, telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Tsabit  al-Bunaniy darinya secara marfu’ dengan lafazh,

Adalah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam itu apabila berbuka Beliau berkata,

   بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَ عَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

            “Bismillah, Ya Allah untuk-Mu-lah aku berpuasa dan dengan rizki-Mu-lah aku berbuka”.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Hadits ini dla’if (lemah)”.

Diriwayatkan ole hath-Thabraniy di dalam ash-Shaghir dan juga al-Awsath dan Abu Nu’aim di dalam Akhbar Ashbihan.
Berkata al-Imam ath-Thabraniy, “Ismail bin Amr telah menyendiri (meriwayatkan hadits ini)”.
Aku (yaitu asy-Syaikh al-Albaniy) berkata, “Ia adalah dla’if”. Berkata adz-Dzahabiy di dalam adl-Dlu’afa, “Banyak orang yang telah mendlaifkanya”.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Bahkan gurunya yaitu Dawud bin az-Zabraqan lebih buruk lagi darinya”. [Lihat lengkapnya di dalam kitab Irwa’ al-Ghalil: IV/ 36-39 dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 4349, 4340].
 
Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Sanad hadits ini dla’if”.  [Nail al-Awthar bi takhrij Ahadits kitab al-Adz-kar: I/ 438, hadits nomor 551].

Dua lafazh doa berbuka puasa ini telah populer di kalangan kaum muslimin dan telah menjadi bacaan resmi untuk berbuka, padahal keduanya itu jelas merupakan hadits dla'if (lemah) yang tidak dapat diamalkan.

Bahkan ada lagi bacaan yang telah populer dan terkenal di mayoritas kaum muslimin yang kerapkali terdengar ketika berada di bulan Ramadlan,



نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلهِ  تَعَالَى


"Aku niat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadlan tahun ini karena Allah ta'ala". 

Lafazh niat yang sering diucapkan oleh mayoritas kaum muslimin setiap selesai sholat tarawih ini tidak pernah ada di dalam hadits lemah dan palsu. Terlebih-lebih di dalam hadits shahih, tidak ada satupun riwayat tentang lafazh ini dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, para Shahabat radliyallahu anhum ataupun para Imam rahimahumullah ajma'in. Jadi melafazhkan niat ini merupakan bid'ah yang dibuat-buat oleh orang-orang bodoh yang menganggap bahwa ajaran Islam itu tidak/ belum sempurna.

Demikian sekelumit himpunan hadits yang berkenaan dengan shaum Ramadlan dan doa berbuka yang telah mashur, namun semua hadits ini ternyata lemah dan palsu dan tidak dapat dijadikan hujjah/ dalil dalam agama.

Maka barangsiapa yang masih nekad mengamalkannya dan tetap menjadikannya sebagai hujjah, maka ia telah berdusta atas nama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, dan ia telah di ancam dengan api neraka.

Mohon maaf jika ada kesalahan di dalam menterjemahkannya karena ini semata-mata kekeliruan dari kami. Semoga bermanfaat dan menjadi bahan pertimbangan bagi kita semua untuk senantiasa menjaga dan mengagungkan hadits-hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan cara menyingkirkan hadits-hadits lemah dan apalagi palsunya.

Wallallahu a’lamu bish showab.

HATI-HATI MENYAMPAIKAN HADITS !!!


LARANGAN MENYAMPAIKAN HADITS LEMAH/ PALSU


بسم الله الرحمن الرحيــم

Sekarang ini, sungguh-sungguh kita telah mendengar banyak dai/ah, ustadz/ah, mamah/ aa, habaib, syaikh dan semisalnya menyampaikan di dalam banyak ceramah mereka di berbagai tempat berbagai hadits yang dinisbahkan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Atau juga kita banyak melihat di dalam aneka tulisan mereka apakah berupa buku, artikel, diktat, status dan yang sejenisnya tentang hal tersebut. Mereka menyampaikan hadits-hadits itu sesuai dengan tujuan dan keinginan mereka tanpa mau menerangkan hadits itu diriwayatkan oleh siapa, bagaimana kedudukan derajat hadits tersebut”, shahih atau tidak dan tidak pula menerangkan buku-buku rujukannya. Padahal boleh jadi, hadits yang dibawakan itu adalah hadits maudlu’ (palsu) atau dlo’if (lemah) yang tidak boleh diamalkan atau dijadikan dasar dalam perkara-perkara agama. Karena pada dasarnya hadits tersebut bukan perkataan atau perbuatan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, namun dinisbahkan kepada Beliau Shallallahu alaihi wa sallam, maka jadilah mereka dengan sebab itu sebagai "orang yang berdusta atas nama Rosul Shallallahu alaihi wa sallam".

Hal ini, mungkin karena kebodohan mereka tentang suatu hadits dan bahayanya menyampaikan hadits lemah/ palsu, rasa malas yang menghimpit mereka untuk membuka buku-buku yang berkenaan dengan hadits-hadits tersebut atau karena mereka memang suka memudah-mudahkan diri di dalam mempelajari dan menerangkan perkara-perkara agama mereka?.

Simaklah perkataan  al-Imam an-Nawawiy rahimahullah, "Haram hukumnya meriwayatkan hadits maudlu' (palsu) bagi yang telah mengetahuinya atau berat persangkaannya hadits itu maudlu'. Barangsiapa meriwayatkan hadits sedangkan ia tahu atau berat persangkaanya bahwa hadits itu maudlu' tanpa menjelaskan kedudukan hadits tersebut, maka ia termasuk dalam ancaman di atas (maksudnya di dalam hadits-hadits yang akan disebutkan nanti, penulis) dan tergolong dari orang-orang yang berdusta atas nama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam". [Syar-h Shahih Muslim al-Imam an-Nawawiy: I/ 71-72].

Juga telah berkata Abu Syamah rahimahullah (lihat Tamam al-Minnah halaman 32), “Perbuatan para ulama yang membawakan hadits-hadits dla’if ini, menurut para muhaqqiq (ahli) hadits, ulama ushul dan pakar Fikih adalah SUATU KEKELIRUAN. Bahkan mereka wajib menjelaskan perkara tersebut jika mampu. Jika tidak, mereka akan terkena ancaman RosulullahShallallahu alaihi wa sallam  di dalam hadits-hadits berikut,

عن سمرة قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ حَدَّثَ عَنىِّ بِحَدِيْثٍ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ اْلكَاذِبِيْنَ

1). Dari Samurah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadits dariku padahal ia mengetahui bahwasanya ia berdusta maka dia adalah salah seorang pendusta”. [HR Muslim, at-Turmudziy: 2664 dan Ahmad: V/ 19. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih sebagaimana di dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6199 dan Mukhtashor Shahih Muslim: 1863].

عن سلمة بن الأكوع قال: سَمِعْتُ  النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم  يَقُوْلُ: مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَاَ لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

2). Dari Salamah bin al-Akwa’ radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berkata atas namaku sesuatu yang TIDAK pernah aku katakan, maka siapkan tempatnya  di neraka”. [HR al-Bukhoriy: 109 dan Ahmad: II/ 501 dari Abu Hurairah. Dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albaniy di dalam Mukhtasor shahih al-Bukhoriy: 74]

عن أبي هريرة  قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : مَنْ تَقَوَّلَ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

3). Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang berucap atas namaku yang TIDAK pernah aku ucapkan maka siapkan tempatnya di neraka. [HR Ibnu Majah: 34 dan Ahmad II/ 321. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih sebagaimana di Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6161 dan Misykah al-Mashobih: 5940].

عن أبى قتادة قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ عَلىَ اْلمِـنْبَرِ : إِيَّاكُمْ وَ كَثْرَةَ اْلحَدِيْثِ عَنىِّ فَمَنْ قَالَ عَلَيَّ فَلْيَقُلْ حَقًّا أَوْ صِدْقًا وَ مَنْ تَقَوَّلَ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

4). Dari Abu Qotadah berkata, “Aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda di atas mimbar, “Waspadalah kalian dari banyak menyampaikan hadits dariku. Barangsiapa yang hendak berkata maka berkatalah yang benar atau yang hak. Dan barangsiapa yang berucap atas namaku yang TIDAK pernah aku ucapkan maka siapkan tempatnya di neraka”. [HR Ibnu Majah: 35, Ahmad: V/ 297 dan ad-Darimiy: I/ 77. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan sebagaimana di dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2684 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1753].

 عن المغيرة قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلىَ أَحَدٍ فَمَنْ كَذِبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

5). Dari al-Mughirah berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya berdusta atas namaku itu tidaklah seperti berdusta atas nama seseorang. Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka siapkan tempatnya itu di neraka”. [HR Muslim: 4. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, Sebagaimana di dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2142 dan Mukhtashor Shahih Muslim: 1862].

Berkata al-Imam al-Baghowiy rahimahullah, "Ketahuilah, bahwa berdusta atas nama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam itu merupakan kebohongan yang paling besar setelah kebohongan orang-orang kafir terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala". [Syar-hu as-Sunnah: I/ 255-256].
Adapun hadits,

مَنْ كَذِبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

6). “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka siapkan tempatnya itu di neraka”.
Hadits ini adalah mutawatir (yakni hadits yang diriwayatkan oleh lebih dari satu shahabat). [HR al-Bukhoriy: 107 dari Zubair, 110, 7197 dari Abu Hurairah, Muslim: 3, at-Turmudziy: 2257, 2659 dari Ibnu Mas’ud, 2661 dari Anas, 2669 dari Ibnu Amr, Ibnu Majah: 30 dari Ibnu Mas’ud, 32 dari Anas, 33 dari Jabir, 36 dari Zubair, 37 dari Abu Sa’id, Abu Dawud: 3651 dari Zubair, dan Ahmad: II/ 159, 171, 214 dari Ibnu Amr, IV/ 47 dari Salamah bin al-Akwa’, I/ 389, 401, 402, 405, 436 dari Ibnu Mas’ud, II/ 410, 413, 469, 519 dari Abu Hurairah, III/ 39, 44, 56 dari Abu Sa’id, III/ 98, 113, 116, 166, 173, 176, 203, 223, 278, 279, 280 dari Anas. [Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6519].

عن علي يقول: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: لاَ تَكْذِبُوْا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذِبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ

7). Dari Ali berkata, telah bersabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, “Janganlah kalian berdusta atas namaku, karena barangsiapa yang berdusta atas namaku maka hendaklah ia masuk neraka”. [HR al-Bukhoriy: 106, Muslim: 1, at-Turmudziy: 2660, Ibnu Majah: 31 dan Ahmad: I/ 83. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih sebagaimana di dalam shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7437 dan Mukhtashor Shahih al-Bukhoriy: 71].

عن ابن عمر أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ الَّذِي يَكْذِبُ عَلَيَّ يُبْنىَ لَهُ بَيْتٌ فىِ النَّارِ

8). Dari Ibnu Umar bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam neraka”. [HR Ahmad: II/ 32, 103, 144. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Sebagaimana di dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1694 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1618].

عن أبي هريرة قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: كَفَى بِالْمَـرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

9). Dari Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Cukuplah seseorang itu berdosa bahwa ia menceritakan semua yang ia dengar”. [HR Muslim: 5 dan Abu Dawud: 4992. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih sebagaimana di dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4482 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2025].

Berkata al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah, “Di dalam hadits ini terdapat ancaman bagi seseorang yang menyampaikan setiap apa yang ia dengar sampai ia tahu dengan seyakin-yakinnya bahwasanya hadits atau riwayat tersebut adalah shahih. [Kitab Majruhiin minal Muhadditsin: I/ 16-17 oleh al-Imam Ibnu Hibban, tahqiq Hamdi Abdul Majid as-Salafi].

عن أبي هريرة عَن رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَنَّهُ قَالَ: سَيَكُوْنُ فىِ آخِرِ الزَّمَانِ نَاسٌ مِنْ أُمَّتىِ يُحَدِّثُوْنَكُمْ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوْا أَنْتُمْ وَ لاَ آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَ إِيَّاهُمْ

10). Dari Abu Hurairah dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, bahwasanya Beliau bersabda, “Akan ada sekelompok orang dari umatku di akhir zaman yang menceritakan (hadits) kepada kalian yang tidak pernah didengar oleh kalian dan bapak-bapak kalian. Waspadalah kalian terhadap mereka”. [HR Muslim: 6. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih sebagaimana di dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3667].

Wahai saudara-saudara muslimku, berdasarkan beberapa riwayat hadits di atas, dapat dipahami bahwa,
1]. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengisyaratkan bahwa sepeninggalnya nanti akan ada orang-orang yang suka berkata atas nama Beliau padahal Beliau saw sendiri tidak pernah mengatakannya.

Maka tak heran di masa sekarang ini banyak diantara umat yang mengaku-ngaku ustadz/ah, dai/ah, aa/ mamah dan yang semisalnya yang gemar mengatakan, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda/ berkata/ menyuruh/ melarang/ menganjurkan/ menyontohkan, melakukan ini dan itu,  dan sebagainya”, padahal tidak ada satupun dalil hadits yang menjadi rujukannya. Kalau toh ada, hadits itu ternyata (di dalam ilmu hadits) dikategorikan sebagai hadits dlo’if (lemah) atau maudlu” (palsu).

2]. Ada perintah dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam agar waspada dari banyak menyampaikan hadits dari Beliau.

Artinya setiap muslim ketika akan menyampaikan hadits dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam maka hendaklah ia berusaha mencari tahu dulu (dari para ahli hadits) akan derajat hadits tersebut apakah termasuk hadits shahih atau tidak. Maksudnya hadits itu benar-benar dari Beliau atau hanya mengada-ada??
Mengapa???.

Jika nama kita saja dicatut oleh seseorang untuk keuntungan diri dan kelompoknya, tentu kita akan marah dan bahkan kalau perlu akan menuntutnya ke meja hijau. Lalu bagaimana jika nama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dicatut. Tidakkah kita marah..??

Lalu kenapa kepada para ahli hadits??? Kalau kita ingin memperbaiki apa yang ada pada kita saja kita harus datang kepada orang yang memang ahlinya. Mobil/ motor rusak, kita akan datang pada montir, rumah/ bangunan rusak, kita akan datang pada ahli bangunan, kita/ diantara keluarga kita ada yang sakit maka kita akan datang pada dokter spesialis, begitu seterusnya. Tiap-tiap sesuatu itu harus kepada ahlinya. Jadi untuk mengetahui akan keshahihan suatu hadits, ya tentu kita harus datang kepada ahlinya yaitu ahli hadits..

Sebagai umat yang berpendidikan dan berakhlak mulia, maka kita harus profesialisme yaitu mengembalikan sesuatu perkara itu kepada ahli/ profesinya. Kita tentu akan menghargai orang yang bekerja dan berbicara sesuai dengan keahliannya.

3]. Seseorang dikatakan berdusta jika ia selalu berbicara atau menyampaikan segala sesuatu yang didengar.
Di masa sekarang ini, banyak dari kaum muslimin yang suka menyampaikan ucapan-ucapan yang dianggap dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, padahal ia cuma dengar-dengar saja dari ustadz fulan dan fulan. Ia tidak mau tahu atau memang enggan mencari tahu akan keberadaan hadits tersebut. Coba jika ia bertanya kepada sang ustadz yang menyampaikan hadits tersebut akan keberadaan dan derajatnya tentu itu lebih baik untuk menguatkan keyakinannya. Sehingga ia dapat kembali menyampaikan hadits tersebut kepada keluarga atau kawannya dengan tenang tanpa keraguan.
Sebab bila ia gemar menyampaikan sesuatu yang ia dengar (tanpa mau mengetahui sumbernya) maka ia dicap oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai seorang “pendusta”.

4]. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengancam setiap orang yang berkata atas namanya padahal Beliau tidak pernah mengatakannya dengan mendapatkan tempat/ rumah di NERAKA. Apalagi dengan sengaja ia berdusta atas nama Beliau saw.
Maksudnya jika ada orang yang karena kebodohannya berkata tentang sesuatu pada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apakah berupa ucapan ataupun perbuatan (hadits). Padahal perkataannya (yang dikutipnya) itu bukan sabda/ perbuatan Beliau karena hadits tersebut adalah hadits lemah atau palsu maka ia kelak akan masuk ke dalam neraka.

Maka bagaimana dengan orang yang sengaja berdusta atas nama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, yaitu ia tahu hadits itu lemah/ palsu tetapi ia tetap menyampaikannya dan mengatakan kepada umat Islam sebagai sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

5]. Banyak mudlarat yang dapat ditimbulkan oleh hadits lemah dan palsu itu. Diantaranya; berbohong atas nama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, menyebabkan terjadinya banyak tambahan dalam agama, khususnya di dalam perkara-perkara bid’ah, menyebabkan banyaknya terjadi perselisihan, perpecahan, pertikaian dan permusuhan dalam agama padahal Islam telah menganjurkan persatuan dan perdamaian, banyak di antara umat Islam yang lebih mengenal dan menghafal hadits-hadits lemah dan palsu daripada hadits-hadits shahih dan ayat-ayat alqur’an dan masih banyak lainnya.

6]. Terdapat larangan dari menyampaikan hadits lemah/ palsu. Hal ini dikarenakan untuk menjaga kemurnian agama dari campur tangan manusia di dalam menegakkan Islam. Sebab diantara keberadaannya hadits lemah dan palsu itu dikarenakan campur tangan manusia yang lemah agamanya untuk membela keyakinannya yang keliru, fanatik golongan, ingin dekat dengan para penguasa di saat itu, sengaja merusak Islam dan sebagainya. Jika setiap orang apalagi para ustadz itu dapat dengan bebasnya menyampaikan sesuatu perkara agama sesuai dengan akal logika atau hawa nafsunya tanpa dalil yang menyertainya niscaya agama kita akan rusak sebagaimana telah rusaknya agama-agama terdahulu. Kalau toh berdalil, sayangnya dalil hadits-hadits itu juga dalam keadaan cacat lantaran dikategorikan sebagai hadits lemah atau palsu. Na’udzu billah….

Wahai saudaraku, marilah kita muliakan Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dengan cara membaca, mempelajari, memahami, menghafal, mengamalkan dan menyebarluaskan hadits-haditsnya yang telah tsabit dari Beliau Shallallahu alaihi wa sallam. Milikilah buku-buku hadits dan yang berkenaan dengannya sebagaimana kita mempunyai kitab suci alqur’an. Jangan hanya mendengar tanpa mau mengetahui sumber haditsnya dan jangan cuma menyampaikan tanpa mau menyebutkan asal dan derajat haditsnya…

Mudah-mudahan penjelasan ini bermanfaat dan menjadi bahan pertimbangan lain bagi kita dari sisi lain yang selama ini kita pahami dan yakini. Karena terkadang kita tidak akan melihat keberadaan kita di posisi yang mana, apakah di posisi yang salah atau benar?, jika kita tidak melihat kedudukan lainnya dan bersikap obyektif di dalam menilai kebenaran yang hakiki.
Wallahu 'alam.

Rabu, 04 Juli 2012

MEWASPADAI DA'I GADUNGAN


DA'I MENGAJAK KEPADA KESESATAN, MUNGKINKAH???

بسم الله الرحمن الرحيم

Di masa sekarang ini banyak dijumpai orang-orang yang menyandang status “Dai/ah, ustadz/ah, syaikh, kyai, habib ataupun sejenisnya”. Namun tak sedikit diantara mereka, yang sadar ataupun tidak sebenarnya telah dan akan menjerumuskan umat manusia khususnya kaum muslimin ke dalam kesesatan dan kebatilan yang dalam. Namun hal ini telah disinyalir oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam beberapa hadits di bawah ini. Diantaranya adalah hadits dari Hudzaifah bin al-Yaman radliyallahu anhu yang panjang,

عن حذيفة بن اليمن يَقُوْلُ: كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنِ اْلخَيْرِ َو كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مخَاَفَةً أَن يُدْرِكَنىِ فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّا كُنَّا فىِ جَاهِلِيَّةٍ وَ شَرٍّ فَجَاءَنَا اللهُ بهَذَا اْلخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا اْلخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ قُلْتُ: وَ هَلْ بَعْدَ هَذَا الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: نَعَمْ وَ فِيْهِ دَخَنٌ قُلْتُ: وَ مَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: قَوْمٌ يَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِى تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَ تُنْكِرُ قُلْتُ: فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ اْلخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ دُعَاةٌ إِلىَ [و فى رواية أخرى: عَلىَ] أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ: هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَ يَتَكَلَّمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنَا إِنْ أَدْرَكَنىِ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَلْزَمُ جمَاَعَةَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ إِمَامَهَمْ قُلْتُ: فَإِن لَمْ يَكُنْ َلهُمْ جمَاَعَةٌ وَ لاَ إِمَامٌ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ اْلفِرَقَ كُلَّهَا وَ لَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ الشَّجَرَةِ حَتىَّ يُدْرِكَكَ اْلمَوْتُ وَ أَنْتَ عَلىَ ذَلِكَ

Dari Hudzaifah bin al-Yaman radliyallahu anhu berkata, Orang-orang bertanya kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang kebaikan sedangkan aku bertanya kepadanya tentang keburukan karena aku khawatir keburukan itu akan menimpaku. Aku berkata, “Wahai Rosulullah sesungguhnya kami dahulu di dalam masa kejahiliyahan dan keburukan, lalu Allah datang kepada kami dengan membawa kebaikan ini, maka adakah keburukan sesudah kebaikan ini?”. Beliau menjawab, “Ya”. Aku berkata, “Wahai Rosulullah, apakah ada kebaikan sesudah keburukan ini?”. Beliau menjawab, “Ya, dan pada masa itu ada dakhon (kabut)”. Aku bertanya, “(Wahai Rosulullah), apakah kabutnya itu?”. Beliau menjawab, “Ada kaum yang memberi petunjuk dengan selain petunjukku, yang mengenali dan mengingkari sebahagian mereka”. Aku berkata, “(Wahai Rosulullah !) apakah ada keburukan sesudah kebaikan itu ?”. Beliau menjawab, “Ya, akan ada beberapa da’i yang menyeru kepada (di dalam riwayat lain, “berdiri di atas) pintu-pintu neraka jahannam. Barangsiapa yang menjawab (seruan) mereka, maka mereka akan melemparkannya ke dalam nereka jahannam tersebut”. Aku berkata, “Wahai Rosulullah, terangkanlah sifat-sifat mereka !”. Beliau menjawab, “Mereka itu adalah dari jenis kulit kita dan berbicara dengan dengan bahasa kita”. [HR al-Bukhooriy: 3606, 7084, dan lafazh ini baginya, Muslim: 1847, Ahmad: V/ 386-387, 403, 406, Abu Dawud: 4246 dan Ibnu Majah: 3979. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Fat-h al-Bariy: VI/ 615-616, XIII/ 35, al-Jami’ ash-Shahih: VI/ 20, Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawiy: XII/ 237, Mukhtashor Shahih Muslim: 1231, Shahih Sunan Abu Dawud: 3571, ‘Aun al-Ma’bud: XI/ 212-213, Shahih Sunan Ibnu Majah: 3214, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2994, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1791 dan Misykah al-Mashobih: 5382].

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, “Mereka itu adalah dari jenis kulit kita, yaitu dari kaum kita, dari orang yang berbahasa dan bermillah kita”. Di dalamnya terdapat suatu isyarat bahwasanya mereka itu adalah dari orang Arab. Berkata ad-Dawudy, “yaitu dari anak Adam (manusia)”. Dan berkata al-Qoobisiiy, “artinya adalah bahwasanya mereka itu pada lahirnya di atas agama kita, tetapi di batinnya menyelisihi”. [Fat-h al-Bariy: XIII/ 36].

Di dalam riwayat Muslim dari jalan yang lain, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Akan ada sepeninggalku beberapa imam yang tidak mengambil petunjuk (bimbingan) dengan petunjukku dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku, dan akan tegak di kalangan mereka beberapa lelaki yang hati mereka adalah hati setan di dalam tubuh manusia”. [Lihat Shahih Muslim: 1847, al-Jami’ ash-Shahih: VI: 20 dan Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawiy: XII/ 238].

Di dalam riwayat Ibnu Majah, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Akan ada beberapa fitnah, di atas pintunya ada beberapa da’i (yang mengajak) ke neraka. Engkau mati dalam keadaan menggigit batang pohon lebih baik bagimu daripada mengikuti salah seorang dari mereka”. [HR Ibnu Majah: 3981. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih sebagaimana di dalam Shahih Sunan Ibni Majah: 3216 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1791].

Dari dalil di atas, dapat diketahui bahwa akan ada dan senantiasa ada beberapa da’i yang akan mengajak kepada kesesatan dan neraka Jahannam. Maka rugi dan celakalah bagi orang yang menjawab dan mengikuti seruan atau dakwah mereka tersebut. Hal ini disebabkan para da’i tersebut tidak mengikuti bimbingan, petunjuk dan sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, bahkan ada dikalangan mereka yang berhati setan (Iblis) dengan membawa visi dan misi menuju kepada kesesatan dan neraka Jahannam dengan berbagai upaya dan segala macam tipu daya. Ma’adzallah.

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَ مَنْ دَعَا إِلىَ ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk maka adalah baginya pahala seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya, yang demikian itu tidak mengurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka adalah atasnya dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, yang demikian itu tidak mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka”. [HR Muslim: 2674, dan lafazh ini baginya, at-Tirmidziy: 2674, Abu Dawud: 4609, Ibnu Majah: 206, Ahmad: II/ 397 dan ad-Darimiy: I/ 130-131. Berkata Abu ‘Isa at-Tirmidziy: Hadits ini adalah Hasan Shahih, dan berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat al-Jami’ ash-Shahih: VIII/ 62, Shahiih Muslim bi Syarh an-Nawawiy: XVI/ 227, Mukhtashor Shahih Muslim: 1860, Shahih Sunan at-Tirmidziy: 2154, Tuhfah al-Ahwadziy: VII/ 410-411, Shahih Sunan Abi Dawud: 3853, ‘Aun al-Ma’bud: XII/ 236, Shahih Sunan Ibnu Majah: 171, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6234, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 865, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 114, Misykah al-Mashobih: 158, Riyadl ash-Shoolihiin: 174, 1380, Tahqiq Riyadl ash-Sholihin: 179, 1390 dan Fay-dl al-Qodir: 8663].

Berkata al-Imam an-Nawawiy rahimahullah, “Dan barangsiapa mengajak (berdakwah) kepada petunjuk maka ia akan mendapatkan seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, atau (barangsiapa berdakwah) kepada kesesatan maka ia akan memperoleh dosa orang-orang yang mengikutinya, sama saja apakah petunjuk dan kesesatan itu ia yang memulainya ataukah telah didahului (oleh orang lain), dan sama saja apakah petunjuk dan kesesatan tersebut mengajarkan ilmu, ibadah, adab atau selain itu”. [Shahih Muslim bi syarh an-Nawawiy: XVI/ 227].

Berkata asy-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Wajib bagi muslim agar waspada terhadap dakwah-dakwah palsu dan menjauhkan diri dari teman-teman yang buruk karena ia akan dimintai pertanggung-jawaban terhadap apa yang ia amalkan”. [Bahjah an-Nazhirin: I/ 262].


عن أنس بن مالك عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قَالَ: أَيمُّاَ دَاعٍ دَعَا إِلىَ ضَلاَلَةٍ فَاتُّبِعَ فَإِنَّ لَهُ مِثْلَ أَوْزَارِ مَنِ اتَّبَعَهُ وَ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا وَ أَيمُّاَ دَاعٍ دَعَا إِلىَ هُدًى فَاتُّبِعَ فَإِنَّ لَهُ مِثْلَ أُجُوْرِ مَنِ اتَّبَعَهُ وَ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا

Dari Anas bin Malik, dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya ia bersabda, “Dai manapun yang mengajak kepada kesesatan lalu ia diikuti, maka baginya seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, dan tidak akan berkurang sedikitpun dari dosa-dosa mereka. Dan da’i manapun yang mengajak kepada petunjuk lalu ia diikuti, maka baginya seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya dan tidak akan berkurang sedikitpun dari pahala-pahala mereka”. [HR Ibnu Majah: 205. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan Ibnu Majah: 170, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2712 dan Fay-dl al-Qodir: 3010].

Dengan adanya dalil di atas, maka hendaklah setiap muslim bersikap waspada dan mawas diri terhadap seseorang yang mengaku-ngaku atau berlaku dan berlagak sebagai da’i (juru dakwah), karena Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah memberi peringatan kepada umatnya bahwasanya tidak semua da’i itu mengajak kepada petunjuk dan kebenaran, tetapi ada di antara mereka yang mengajak kepada kesesatan, kebinasaan dan kehancuran di dalam neraka Jahannam. Maka mati dalam keadaan menggigit akar atau batang sebuah pohon itu lantaran ber-uzlah lebih baik dari pada mengikuti salah seorang dari mereka, karena kondisinya yang sesat dan menyesatkan. Di samping itu juga Beliau Shallallahu alaihi wa sallam mengancam, bahwasanya siapapun yang mengajak kepada kesesatan maka akan dibebankan baginya dosa-dosa orang yang mengikutinya, dan tiada berkurang sedikitpun dari dosa-dosa mereka yang mengikutinya tersebut.

Dan bahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sangat mengkhawatirkan adanya fitnah dan bahaya yang akan menimpa umatnya, yang ditimbulkan oleh para imam mereka yang sesat lagi menyesatkan. Dengan dakwah dan fatwa yang tidak berlandaskan kepada keimanan dan petunjuk atau dalil, para imam tersebut merusak tatanan syariat Islam, sehingga yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar, tauhid menjadi syirik dan syirik menjadi tauhid, yang sunnah menjadi bid’ah dan yang bid’ah menjadi sunnah. Sebagaimana telah diungkapkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits berikut,

عن ثوبان قال: قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه و سلم إِنمَّاَ أَخَافُ عَلىَ أُمَّتىِ اْلأَئِمَّةَ اْلمُضِلِّيْنَ

Dari Tsauban berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam , “Hanyalah yang aku takuti (khawatirkan) atas umatku adalah para imam yang menyesatkan”. [HR at-Tirmidziy: 2229, dan lafazh ini baginya, Ibnu Majah: 3952, Abu Dawud: 4252, Ad-Darimiy: II/ 311 dari Tsauban, I/ 70 dari Abu Darda’, dan Ahmad: V/ 278, 283 dari Tsauban, V/ 145 dari Abu Dzarr, IV/ 123 dari Syaddad bin Aus, VI/ 441 dari Abu Darda’ dan I/ 42 dari ‘Umar bin al-Khoththob. Berkata at-Tirmidziy: hadits ini adalah hadits hasan shahih, dan berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan at-Tirmidziy: 1817, Tuhfah al-Ahwadziy: VI: 408-409, Shahih Sunan Ibnu Majah: 3192, Shahih Sunan Abu Dawud: 3577, ‘Aun al-Ma’bud: XI: 218, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1551, 2316, Silsilah al-Ahadiis ash-Shahihah: 1582, Misykah al-Mashobih: 5394 dan Fay-dl al-Qodir: 2563].

Berkata al-Imam al-Mubarokfuriy, “Yaitu orang yang mengajak kepada bid’ah-bid’ah, perbuatan fasiq dan dosa-dosa”. [Tuhfah al-Ahwadziy: VI/ 408 dan ‘Aun al-Ma’bud: XI/ 218].

Berkata al-Imam al-Munawiy, “yaitu orang-orang yang menyimpang lagi menyimpangkan (manusia) dari kebenaran”. [Fay-dl al-Qodir: II/ 563].

Dari Ziyaad bin Hudair berkata, Umar pernah berkata kepadaku, “Apakah engkau tahu apakah yang meruntuhkan islam?”. Aku berkata, “Tidak”. Umar berkata, “Yang meruntuhkan islam itu ialah tergelincirnya orang berilmu, debatnya orang munafik dengan al-Qur’an dan hukumnya imam-imam yang menyesatkan”. [Atsar ini diriwayatkan oleh ad-Darimiy: I/ 71. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Misykah al-Mashobih: 269 dan Mukhtashor Jami’ Bayan al-’ilmi wa fadl-lihi nomor: 122 halaman 116].

Dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan sebahagian tanda-tanda hari kiamat adalah dengan dituntutnya ilmu tentang agama dari sisi para ahli bid’ah atau orang-orang yang berkata dengan pendapat mereka, sebagaimana hadist berikut ini,

عن أبي أمية الجمحي أن رسول الله صلى الله علسه و سلم قال: إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَن يُلْتَمَسَ اْلعِلْمُ عِنْدَ اْلأَصَاغِرِ

Dari Abu Umayyah al-Jamhiy bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya sebahagian dari tanda-tanda hari kiamat adalah dituntutnya ilmu dari sisi al-Ashoghir”. [HR Ibnu al-Mubarak di dalam kitab az-Zuhd: 61 halaman 20-21 dan ath-Thabraniy. Berkata asy-SYaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2207, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 695, Asyrath as-Sa’ah oleh Yusuf al-Wabil halaman 183, Mukhtashor Jami’ Bayan al-Ilmi wa fadl-lihi oleh Ibnu Abdilbarr halaman 67-68 dan Fay-dl al-Qodir: II: 533 hadits nomor: 2475].

Dari Abdullah bin Mas’ud berkata, “Manusia itu senantiasa di dalam kebaikan selama ilmu itu datang kepada mereka dari arah para shahabat Muhammad saw dan akabir (yaitu para orang besar) mereka. Maka apabila ilmu itu datang kepada mereka dari ashooghir mereka maka pada saat itulah mereka binasa”. [Telah mengeluarkan atsar ini Ibnu al-Mubarak di dalam az-Zuhd: 815 halaman 281].

Pernah ditanyakan kepada Ibnu al-Mubarak, “Siapakah al-Ashooghir itu?”. Ia menjawab, ”Mereka adalah orang-orang yang berkata dengan ro’yu (pendapat) mereka. Adapun anak kecil meriwayatkan dari orang besar maka bukanlah anak kecil”. [Lihat catatan kaki nomor 2 kitab az-Zuhd halaman 21, Asyrath as-Sa’ah halaman 183 dan Mukhtashor Jami’ Bayan al-Ilmi wa fadl-lihi halaman 68].

Berkata Ibnu al-Mubarak, “al-Ashoghir itu adalah para ahli bid’ah”. [Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I: 316, Asyrath as-Sa’ah halaman 183 dan Fay-dl al-Qodir: II/ 533].

Ibnu Ubaid menyebutkan bahwasanya yang dimaksud shoghir (kecil) di dalam (hadits) ini adalah kecil di dalam kemampuan bukan di dalam usia. [Fay-dl al-Qodir: II/ 533].

Menilik hadits di atas bersama penjelasannya, maka apa yang telah disebutkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pasti akan terjadi dan kinipun telah terbukti, yakni banyak dan maraknya kaum muslimin menimba dan menuntut ilmu agama dan akhirat dari orang-orang yang dikenal sebagai ashoghir, yang telah dijelaskan oleh para ulama salaf sebagai ahli bid’ah dan orang yang berucap dengan pendapat mereka sampai menjelang datangnya hari kiamat. Dan hal ini merupakan celaan bagi mereka. asy-Syaikh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al-Wabil rahimahullah di dalam kitabnya Asyrath as-Sa’ah menyebutkan hadits ini sebagai tanda-tanda hari kiamat yang ketiga puluh lima dari tanda-tanda hari kiamat kecil.

Jadi jelaslah, bahwa jika para da’i tersebut tidak berlandaskan ilmu tauhid, tidak bersumberkan dan bersandarkan kepada al-Qur’an dan hadits yang shahih dengan penjelasan para ulama salaf serta tidak bermuarakan kepada sirah nabawiy maka seruan dan dakwah mereka tidak akan lurus dan tiada pula bernilai. Bahkan tidak terarah dan tidak beraturan serta akan menyimpang jauh dari kebenaran. Sehingga disadari ataupun tidak, mereka adalah salah satu dari beberapa da’i yang telah diisyaratkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai da’i yang sesat lagi menyerukan dan menyuarakan kesesatan, kebinasaan dan neraka Jahannam. Sebagaimana telah diungkapkan oleh beberapa hadits dan atsar di atas. Al-‘iyaadzu billah. Dan teranglah pula, bahwa siapapun manusia, khususnya kaum muslimin yang mengikuti dan menerima seruan mereka, maka niscaya para da’i tersebut akan menjerumuskan mereka ke dalam jurang neraka Jahannam yang dipenuhi siksa abadi, tiada keringanan bagi mereka sedikitpun dan tiada pula ditangguhkan.

Wahai saudara-saudaraku, marilah kita mempelajari agama kita dari dai-dai yang selalu melandaskan dakwah mereka kepada alqur’an dan hadits-hadits yang shahih sesuai dengan pemahaman salafush shalih agar kita tidak tergelincir kepada kesesatan dan siksa neraka. Sebab setiap dai sebagai manusia tidak pernah luput dari dosa dan kesalahan karena mereka terkadang dikuasai hawa nafsu, akal logika, persangkaan atau lingkungan sekitarnya. Maka jika dai2 itu selalu merujuk kepada keduanya dengan penuh ketundukan, maka hal ini akan meminimalkan kesalahan dan kekeliruan mereka dalam berbicara, berfatwa dan berdakwah.

Hal ini akan melahirkan kegundahan, pada hari berlepas dirinya orang-orang yang diikuti di antara para pemimpin, syaikh ataupun ulama dari orang-orang yang mengikuti di antara bawahan, santri ataupun masyarakat abangan dan juga tidak diterimanya dalih alasan dan tiada manfaatnya penyesalan (lihat QS al-Baqoroh/2: 166-167) .Pada hari itu pula tiada gunanya harta, anak dan kekuasaan kecuali orang yang datang kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dengan hati yang bersih dan suci.
Maka waspadalah… waspadalah….. waspadalah.

MANTAP DENGAN ALQUR'AN DAN HADITS-HADITS SHAHIH


  KEHARUSAN BERPEGANG KEPADA ALQUR'AN DAN HADITS SHAHIH

بسم الله الرحمن الرحيم

Sekarang ini banyak kaum muslimin yang giat beribadah dan belajar agama dengan berbagai sebab dan beraneka tujuan. Namun yang terpenting, banyak diantara mereka tatkala beribadah dan belajar tersebut tanpa mereka sadari dan pahami sebenarnya mereka telah menyalahi sunnah dan bahkan menentangnya.

Sering kita jumpai sebahagian besar mereka yang mengerjakan sesuatu amalan, namun ketika dikonfirmasi akan dasarnya mereka beramal, mereka hanya menggelengkan kepala dan berkata, “tidak tahu” atau “Ini kata guru/ ustadz saya”. Kebalikannya jika mereka menjumpai seseorang yang mengerjakan suatu amalan (yang benar sesuai dalil), mereka mengernyitkan dahi mereka sebagai tanda keheranan dan keingkaran lalu berkata, “ini ajaran baru” atau “ini pasti kelompok fulaniy”.
Begitu pula mereka yang sedang belajar agama, mereka hanya melihat isi yang diajarkan oleh guru/ ustadz mereka tanpa mau mengetahui dasar dan rujukan ilmu yang mereka dapat. Sehingga mereka itu tanpa sadar bagaikan ‘kerbau yang dicocok hidungnya’, mengikut ke arah tujuan mana yang diinginkan oleh ustadz mereka.

Sehingga sering terjadi penyimpangan dan penyelewengan dalam pemahaman mereka dari ajaran agama yang lurus, dan pada akhirnya mereka terkadang menyukai apa yang tidak pernah diperintahkan Allah Subhanahu wa ta'ala  dan dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, dan bahkan membenci sebahagian dari sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Padahal Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah memprediksi akan adanya orang yang membenci sunnah Beliau dan ancaman bagi pelakunya di dalam hadits berikut,

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتىِ فَلَيْسَ مِنىِّ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Maka barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku”. [HR al-Bukhoriy: 5063, Muslim: 1401 dan Ahmad: III/ 241, 259, 285 dan berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 794 dan Irwa’ al-Ghalil: 1782].

Jika Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengancam orang yang membenci sunnahnya yaitu tidak mau atau enggan di dalam mengamalkannya dengan dikeluarkan dari golongannya maka bagaimana dengan orang yang memusuhi dan menentangnya melalui cercaan ataupun penghujatan, dalam rangka membela keyakinan dan kelompoknya??. Maka kendatipun melalui lisannya ia menyatakan kecintaan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berjuta-juta kali, namun ia menentangnya dengan berbagai macam dalih alasan maka ia tidak mungkin dan mustahil akan masuk ke dalam surga yang banyak diidamkan oleh manusia normal, terlebih kaum muslimin, lalu ia akan dipaksa menjalani penyiksaan di dalam neraka, dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: كُلُّ أُمَّتىِ يَدْخُلُوْنَ اْلجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبىَ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ مَنْ يَأْبىَ؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنىِ دَخَلَ اْلجَنَّةَ وَ مَنْ عَصَانىِ فَقَدْ أَبىَ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh umatku akan masuk ke dalam surga kecuali yang enggan”. Mereka bertanya, “Wahai Rosulullah, siapakah yang enggan itu?”. Beliau menjawab, “Barangsiapa yang mentaatiku maka ia akan masuk ke dalam surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dia itulah yang enggan”. [HR al-Imam al-Bukhoriy: 7280 dan Ahmad: II/ 361. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4513 dan Misykah al-Mashobih: 143].

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: وَ الَّذِي نَفْسىِ بِيَدِهِ لَتَدْخُلُنَّ اْلجَنَّةَ كُلُّكُمْ إِلاَّ مَنْ أَبىَ وَ شَرَدَ عَلىَ اللهِ كَشُرُوْدِ اْلبَعِيْرِ قَالُوْا: وَ مَنْ يَأْبىَ أَنْ تَدْخُلَ اْلجَنَّةَ؟ فَقَالَ: مَنْ أَطَاعَنىِ دَخَلَ اْلجَنَّةَ وَ مَنْ عَصَانىِ فَقَدْ أَبىَ

Dari Abu Said al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Demi Rabb yang jiwaku ada pada tangan-Nya, kalian seluruhnya benar-benar akan masuk ke dalam surga kecuali yang enggan dan lari mengucilkan diri terhadap Allah laksana lari mengucilkan dirinya seekor unta”. Mereka bertanya, “Siapakah yang enggan masuk ke surga itu (wahai Rosulullah)?”. Lalu Beliau menjawab, “Barangsiapa yang mentaatiku maka ia akan masuk surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dialah yang enggan”. [HR Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Sanad hadits ini shahih atas syarat al-Imam al-Bukhoriy, lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2044].

Maka tak ada cara lain untuk menyelamatkan diri dari ancaman api neraka dan menuju surga yang penuh dengan kenikmatan selain mentaati, mengikuti dan mencontoh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Dan mengikuti semua yang diperintahkan dan dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, meninggalkan semua yang dilarangnya dan mengembalikan segala perselisihan kepadanya itu adalah dengan mempelajari dan mengamalkan hadits-hadits shahih yang telah ada. Karena beliau telah mengisyaratkan kepada umatnya bahwa selain alqur’an ada sesuatu lainnya yang sepertinya yang juga telah diberikan kepadanya.

عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدٍ يَكْرَبَ عَنْ رَسُـوْلِ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم أَنَّهُ قَالَ: أَلاَ إِنِّى أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَ مِثْلَهُ مَعَهُ

Dari Miqdam bin Ma’d yakrob, dari Rosulullah saw bahwasanya beliau bersabda, “Ingatlah, sesungguhnya aku telah diberikan kitab (alqur’an) dan yang semisalnya (al-Hadits) bersamanya”. [HR Abu Dawud: 4604 dan Ahmad: VI/ 131. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan Abi Dawud: 3848, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2643, Misykah al-Mashobih: 163 dan asy-Syari’ah halaman 57].

Berkata Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, “Yaitu as-Sunnah. Dan Sunnah juga turun dengan wahyu kepadanya sebagaimana turunnya alqur’an, hanyasaja sunnah itu tidak dibacakan sebagaimana dibacakannya alqur’an”. [Lihat Majmu’ Fatawa: XIII/ 363-364 dan begitu pula yang dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim: I/8].
Hassan bin Athiyyah salah seorang tabi’in termasuk tsiqotnya negeri Syam berkata,

كَانَ جِبْرِيْلُ يَنْزِلُ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم بِالسُّنَّةِ كَمَا يَنْزِلُ عَلَيْهِ بِاْلقُرْآنِ

Adalah malaikat Jibril Alaihis Salam turun kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam untuk mengajarkan sunnah sebagaimana ia turun kepadanya untuk mengajarkan alqur’an. [Atsar ini dikeluarkan oleh ad-Darimiy: I/ 145, al-Marwaziy, Ibnu Abdilbarr dan al-Baihaqiy dengan sanad yang shahih, lihat Fat-h al-Bariy: XIII/ 291, Mukhtasor ash-Showa’iq al-Mursalah halaman 512, al-Ibanah: 90 dan Jami’ Bayaan al-‘Ilmi wa Fadl-lihi: 1318].

عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدٍ يَكْرَبَ قَالَ قَالَ رَسُـوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم: أَلاَ هَلْ عَسَى رَجُلٌ يَبْلُغُهُ الْحَدِيْثُ عَنِّى وَهُوَ مُتَّكِئٌ عَلَى أَرِيْكَتِهِ فَيَقُوْلُ بَيْنَنَا وَ بَيْنَكُمْ كَتَـابُ اللَّهِ فَمَا وَجَدْنَا فِيْهِ حَلاَلاً اسْتَحْلَلْنَاهُ وَمَا وَجَدْنَا فِيْهِ حَرَامًا حَرَّمْنَاهُ وَ إِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُـوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم كَمَا حَرَّمَ اللَّهُ

Dan dari al-Miqdam bin ma’d Yakrob berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Ingatlah, akan sampai kepada seseorang hadits dariku, sedangkan ia bersandar di atas dipannya seraya berkata, “Di antara kami dan di antara kalian ada kitab Allah (alqur’an), maka apa yang kita dapatkan padanya yang halal, maka kitapun menghalalkannya dan apa yang kita dapatkan haram padanya, maka kitapun mengharamkannya”. Dan sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rosululllah saw adalah sebagaimana yang telah diharamkan oleh Allah”. [HR at-Turmudziy: 2664 lafazh ini baginya, Ibnu Majah: 12, al-Hakim: 379 dan ad-Darimiy: I/ 144. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 2146, Shahih Ibnu Majah: 12, Shahiih al-Jami’ ash-Shaghir: 2657, 8186 dan Misykah al-Mashobih: 163].

وَ مَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَ مَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوْا

Dan apa yang diberikan Rosul kepada kalian maka ambillah, dan apa yang telah beliau larang maka tinggalkanlah. [al-Hasyr/ 59: 7].

Berkata asy-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah Subhanahu wa ta'ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengerjakan apa yang diperintahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan menjauhi apa yang telah dilarang olehnya. Sebab Beliau hanyalah menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari keburukan. [Lihat Bahjah an-Nazhirin: I/ 233 dan semakna apa yang dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim: IV/ 404].

Hal ini telah diperkuat lagi dengan hadits berikut ini,

عن أبى هريرة رضي الله عنه عَنِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: ذَرُوْنىِ مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهُمْ وَ اخْتِلاَفِهُمْ عَلىَ أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَ إِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوْهُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tinggalkanlah oleh kalian apa yang aku telah tinggalkan bagi kalian. Hanyalah binasanya orang-orang sebelum kalian, lantaran banyaknya pertanyaan mereka dan mereka senantiasa menyelisihi nabi-nabi mereka. Maka apapun yang kuperintahkan kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian. Dan apa yang aku larang terhadap kalian tentang sesuatu maka tinggalkanlah”. [HR Muslim: 1337, al-Bukhoriy: 7288, at-Turmudziy: 2679, Ibnu Majah: 2 dan Ahmad: II/ 247, 258, 313, 328, 447-448, 457, 467, 482, 495, 503, 508, 517. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 639, Shahih Sunan Ibni Majah: 2, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 91, 3430, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 850, Irwa’ al-Ghalil: 155, 314 dan Misykah al-Mashobih: 2505].

Berkata asy-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Sepantasnya bagi Muslim untuk senantiasa mencari apa yang telah datang dari Allah Azza wa Jalla dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam, kemudian bersungguh-sungguh di dalam memahaminya dan diam di dalam keinginan Allah lalu menyibukkan diri di dalam mengamalkannya”. [Lihat Bahjah an-Nazhirin: I/ 237].

Apalagi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mempunyai tugas untuk menerangkan isi alqur’an kepada umat manusia umumnya dan umat Islam khususnya. Karena sulit bagi kita untuk mengamalkan alqur’an secara tepat dan utuh sebagaimana Allah Subhanahu wa ta'ala perintahkan, jika kita tidak mengikuti dan mencontoh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits shahihnya.

وَ أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْـرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَ لَعَلَّهُـمْ يَتَفَكَّـــرُونَ

Dan Kami telah turunkan adz-dzikro’ (alqur’an) kepadamu, agar engkau terangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan. [an-Nahl/ 16: 44].

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menegaskan bahwasanya setiap orang yang mengaku umatnya wajib mencontoh dan menteladaninya dalam berbagai aktifitas ibadahnya, apalagi Allah Subhanahu wa ta'ala telah menjadikannya sebagai teladan dan figur yang paling baik, tepat dan benar.
Allah Tabaroka wa ta'ala telah berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فىِ رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ ِلمـَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَ اْليَوْمَ اْلآخِرَ وَ ذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

Sungguh telah ada pada diri Rosulullah itu suri tauladan yang baik bagi kalian yaitu bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta banyak mengingat Allah. [al-Ahzab/ 33: 21].

Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Ayat ini merupakan dasar yang besar di dalam menteladani Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam ucapan, perbuatan dan hal keadaannya. Oleh sebab itu Allah tabaroka wa ta’ala menyuruh manusia agar beruswah kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pada waktu perang al-Ahzab di dalam kesabaran, tetapnya kesabaran, selalu bersiap siaga dan senantiasa menanti pertolongan dari Rabbnya (Allah) Azza wa Jalla -Sholawat dan salam Allah dilimpahkan kepadanya selalu sampai hari pembalasan-. Dan oleh sebab itu pula Allah subhanah berfirman kepada orang-orang yang rapuh, jenuh, berguncang dan bimbang terhadap perintahnya pada waktu perang al-Ahzab ((Sungguh telah ada pada diri Rosulullah itu suri tauladan yang baik bagi kalian. Al-Ahzab/33: 21)). Maka tidakkah kalian mengambil teladan dan panutan dengan kepribadiannya Shallallahu alaihi wa sallam. [Lihat Tafsir Al-Qur’an al-Azhim: III/ 574 dan Bahjah an-Nazhirin: I/ 234].

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kepada umatnya agar mengerjakan sholat sebagaimana beliau telah mencontohkan sholat. Dan bahkan pernah suatu saat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sengaja memperlihatkan dan mencontohkannya kepada para sahabat radliyallahu anhum agar mereka mengikuti tata cara sholat beliau, sebagaimana hadits berikut,

عن مالك الحويرث رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنىِ أُصَلِّي

Dari Malik al-Huwairits radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku sholat”. [HR al-Bukhoriy: 631, 6008, 7248, Ahmad: V/ 53, ad-Darimiy: I/ 286 dan ad-Daruquthniy: 1055. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Fat-h al-Bariy: II/ 111, X/ 437-438, XIII/ 231, Irwa’ al-Ghalil: 213, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 893 dan Tahqiq Riyadl ash-Shalihin: 717].

عن سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه قال: فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوْا بىِ وَ لِتَعَلَّمُوْا صَلاَتىِ

Dari Sahl bin Sa’d as-Sa’idiy radliyallahu anhu berkata, maka bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Wahai manusia, hanyalah aku melakukan hal ini (Maksudnya, Nabi saw melakukan sholat di atas mimbar dan disaksikan oleh banyak para sahabat ra) agar kalian mengikutiku dan mempelajari cara sholatku”. [HR al-Bukhoriy: 917, Muslim: 544, Abu Dawud: 1080, Ahmad: V/ 339, Abu Uwanah dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Mukhtasor Shahih al-Imaam al-Bukhoriy: 490, Mukhtashor Shahih Muslim: 408, Shahih Sunan Abi Dawud: 957, Irwa’ al-Ghalil: 545 dan Sifat sholah an-Nabiy hal.55].

Di lain tempat, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mendorong umatnya dengan pahala ampunan bagi yang mengerjakan wudlu sebagaimana wudlunya beliau Shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana hadits di bawah ini,

عن عثمان بن عفان رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيْهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Utsman bin Affan radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang berwudlu seperti wudluku ini lalu berdiri sholat dua rakaat dalam keadaan tiada percakapan di dalam dirinya maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”. [HR Muslim: 226, al-Bukhoriy: 159, 164, 1934, Abu Dawud: 106, an-Nasa’iy: I/ 64, 65, 80, Ahmad: I/ 59, 64, Ibnu Khuzaimah: 3, ad-Darimiy: I/ 176. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 226, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 105, Shahih Sunan Abi Dawud: 97, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 82, 83, 112, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6175, 6176 dan Misykah al-Mashobih: 287].

Begitu pula bagi umatnya yang telah mampu menunaikan ibadah haji, agar tidak sia-sia ibadah hajinya dan ingin hajinya mabrur hendaknya mereka senantiasa mengambil tata caranya secara lengkap dan utuh dari beliau Shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana yang disaksikan oleh Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu di dalam hadits di bawah ini,

عن جابر رضي الله عنه يَقُوْلُ: رَأَيْتُ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم يَرْمِي عَلىَ رَاحِلَتِهِ يَوْمَ النَّحْرِ وَ يَقُوْلُ: لِتَأْخُذُوْا مَنَاسِكَكُمْ فَإِنىِّ لاَ أَدْرِي لَعَلِّى لاَ أَحُجُّ بَعْدَ حَجَّتىِ هَذِهِ

Dari Jabir radliyallahu anhu berkata, aku pernah melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melempar (jumrah) di atas kendaraannya pada hari nahar, dan bersabda, “Hendaklah kalian mengambil ibadah manasik haji kalian (dariku). Karena aku tidak tahu barangkali aku tidak akan berhaji lagi sesudah hajiku ini”. [HR Muslim: 1297, Abu Dawud: 1970, Ibnu Majah: 3023, an-Nasa’iy: V/ 270 dan Ahmad: III/ 301, 318, 332, 337, 367, 378. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 724, Shahih Sunan Abi Dawud: 1733, Shahih Sunan Ibni Majah: 2449, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2868, Irwa’ al-Ghalil: 1074 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5061, 7882].
Jadi jelasnya di dalam masalah-masalah agama kita diwajibkan mengembalikannya kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak kepada yang lainnya, sebab beliau adalah teladan, contoh dan panutan yang paling baik, tepat dan benar. Berbeda dalam masalah-masalah dunia, beliau menyerahkan segala sesuatunya kepada umatnya meskipun dalam beberapa hal juga diatur oleh syariat.

عن أنس رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِذَا كَانَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَأَنْتُمْ أَعْلَمُ بِهِ فِإِذَا كَانَ مِنْ أَمْرِ دِيْنِكُمْ فَإِلَيَّ

Dari Anas radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Jika sesuatu itu dari urusan dunia kalian, maka kalian lebih mengerti tentangnya. Tetapi jika sesuatu itu dari urusan agama kalian maka kembalikanlah kepadaku”. [HR Ahmad: III/ 152, V/ 298 dari Abu Qotadah, VI/ 123 dari Aisyah, Muslim: 2363 dari Aisyah dan Ibnu Majah: 2471 dari Aisyah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan Ibnu Majah: 2003 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 767, 1488].

Dari sebab itu, jika kita ingin belajar atau beramal dari ajaran-ajaran Islam dengan benar lagi lurus, maka wajib bagi kita untuk mengetahui secara pasti kebenarannya dari sumbernya yaitu alqur’an dan hadits-hadits yang shahih, tentu dengan pemahaman para ulama yang berkompeten dalam bidangnya. Karena jika kita dalam beramal dan belajar dengan berpegang teguh kepada keduanya, maka kita dijamin tidak akan tersesat selamanya. Namun jika kita meninggalkan salah satu bahkan kedua-duanya, maka kita akan tersesat sejauh-jauhnya. Terjerumus dalam penyimpangan, jauh dari kebenaran, gelap tanpa arah dan akhirnya sesat dan menyesatkan orang lain.

عن ابن عباس رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم خَطَبَ النَّاسَ فىِ حَجَّةِ اْلوَدَاعِ فَقَالَ: إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَئِسَ اَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ وَلَكِنْ رَضِيَ أَنْ يُطَاعَ فِيْمَا سِوَى ذَلِكَ مِمَّا تَحَاقَرُوْنَ مِنْ أَعْمَالِكُمْ فَاحْذَرُوْا إِنىِّ قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ نَبِيِّهِ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah berkhutbah kepada manusia pada waktu haji wada (haji perpisahan). Beliau bersabda, “Sesungguhnya setan itu telah berputus asa untuk disembah di bumi kalian, tetapi ia senang dipatuhi pada apa-apa yang selain itu dari apa yang kalian anggap remeh sebahagian dari amal kalian, maka berhati-hatilah. Sesungguhnya aku telah tinggalkan untuk kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu kitab Allah (alqur’an) dan sunnah nabi-Nya”. [HR al-Hakim: 323. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan, lihat Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 36].

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّتىِ وَ لَنْ يَتَفَرَّقَا حَتىَّ يَرِدَا عَلَيَّ اْلحَوْضَ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Aku telah tinggalkan dua hal untuk kalian, yang kalian tidak akan tersesat selamanya sesudah (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu kitab Allah (alqur’an) dan sunnahku. Dan keduanya tidak akan berpisah sehingga kedua-duanya datang kepadaku di telaga (yaitu pada hari kiamat)”. [HR al-Hakim: 324. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2973].

Marilah wahai kaum muslimin, untuk senantiasa belajar dan mempelajari Islam dan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan bimbingan alqur’an dan hadits-hadits shahih dengan pemahaman para ulama yang ahli dalam bidangnya lagi amanah. Agar kita tidak tergelincir dalam kegelapan, kesesatan dan kebinasaan.

Maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan dan menyinggung pemahaman saudara-saudaraku tercinta, karena tidak ada yang menjadi tujuan melainkan ridlo Allah Subhanahu wa ta'ala dan berada di atas manhaj yang lurus.
Wallahu a’lam bi ash-Showab