السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Selasa, 18 Desember 2012

UNTUK APA ANDA BERWUDLU (2) ??…

Apa yang dianjurkan berwudlu

بسم الله الرحمن الرحيم

Ada amalan yang mewajibkan berwudlu seperti sholat baik yang wajib ataupun yang sunnah atau melakukan thawaf di ka’bah. Demikian pula, selain itu ada beberapa anjuran dari Islam bagi para pemeluknya untuk berwudlu ketika hendak melakukan suatu amalan di dalam Islam atau juga setelah selesai dari menunaikan suatu perbuatan.

Berikut ini uraiannya,

1)). Dianjurkan wudlu ketika hendak tidur.

Apabila seorang muslim hendak membaringkan tubuhnya untuk tidur, sebelum melakukan beberapa kegiatan ibadah semisal membaca surat al-Mulk, membaca doa tidur dan selainnya, maka dianjurkan kepadanya untuk berwudlu seperti wudlunya untuk sholat.

Namun jika kondisinya muslim tersebut dalam keadaan junub maka cukuplah baginya mencuci farji (kemaluan)nya, berwudlu dan membaca salah satu dari doa hendak tidur.

عن البراء بن عازب رضي الله عنها قَالَ: قَالَ ليِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ اْلأَيْمَنِ وَ قُلْ: اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَ فَوَّضْتُ أَمْرِى إِلَيْكَ وَ أَلجْـَأْتُ ظَهْرِى إِلَيْكَ رَغْبَةً وَ رَهْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَ لاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِى أَنْزَلْتَ وَ بِنَبِيِّكَ الَّذِى أَرْسَلْتَ فَإِنْ مُتَّ مُتَّ عَلَى اْلفِطْرَةِ فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُوْلُ فَقُلْتُ: أَسَتَذْكُرُهُنَّ : وَ بِرَسُوْلِكَ الَّذِى أَرْسَلْتَ قَالَ: لاَ وَ بِنَبِيِّكَ الَّذِى أَرْسَلْتَ

Dari al-Barra’ bin ‘Azhib radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepadaku, “Apabila engkau mendatangi pembaringanmu, hendaklah engkau berwudlu seperti wudlumu untuk sholat  kemudian berbaringlah atas sisimu yang sebelah kanan dan ucapkanlah,

 اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَ فَوَّضْتُ أَمْرِى إِلَيْكَ وَ أَلجْـَأْتُ ظَهْرِى إِلَيْكَ رَغْبَةً وَ رَهْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَ لاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِى أَنْزَلْتَ وَ بِنَبِيِّكَ الَّذِى أَرْسَلْتَ

“(Ya Allah aku menundukkan diriku kepada-Mu, menguasakan urusanku kepada-Mu dan mempercayakan diriku kepada-Mu dengan penuh harap dan cemas karena tiada tempat berlindung dan tiada pula tempat selamat dari (siksa)Mu melainkan kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan juga kepada nabi-Mu yang telah Engaku utus).  Maka seandainya engkau mati, engkau mati dalam keadaan fithrah, dari sebab itu jadikanlah doa tersebut sebagai akhir dari ucapanmu”. Aku bertanya, “Apakah yang engkau ingat, “dan kepada rosul-Mu yang telah Engkau utus” (و برسولك الذى أرسلت). Ia menjawab, “Tidak, dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus”  (و بنبيك الذى أرسلت). [HR al-Bukhoriy: 247, 6311, Muslim: 2710, Abu Dawud: 5046, at-Turmudziy: 3394, 3574 dan Ibnu Majah: 3876. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [1]

عن معاذ بن جبل رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَبِيْتُ عَلىَ ذِكْرٍ طَاهِرٍ فَيَتَعَارُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

Dari Mu’adz bin Jabal radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tiadalah seorang muslim bermalam dalam keadaan bersuci lalu ia terjaga (terbangun) di waktu malam kemudian ia memohon kepada Allah kebaikan dari dunia dan akhirat melainkan Allah akan memberikannya kepada orang tersebut”. [HR Abu Dawud: 5042 dan Ahmad: V/ 235, 341, 344. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

عن ابن عمر رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ بَاتَ طَاهِرًا بَاتَ فىِ شِعَارِهِ مَلَكٌ فَلاَ يَسْتَيْقِظُ إِلاَّ قَالَ اْلمـَلَكُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلاَنٍ فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang bermalam dalam keadaan suci bermalamlah seorang malaikat di rambutnya. Tidaklah ia bangun melainkan malaikat itu berdoa, ”Ya Allah ampunilah hamba-Mu si Fulan karena ia bermalam dalam keadaan suci”. [HR Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

عن ابن عباس رضي الله عنهما  أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: طَهِّرُوْا هَذِهِ اْلأَجْسَادَ طَهَّرَكُمُ اللهُ فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَبِيْتُ طَاهِرًا إِلاَّ بَاتَ مَعَهُ فىِ شِعَارِهِ مَلَكٌ لاَ يَنْقَلِبُ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَالَ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

Dari Ibnu Abbas  radliyallahu anhuma  bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Bersihkanlah tubuh ini niscaya Allah akan mensucikan kalian. Karena tiada seorang hamba bermalam dalam keadaan suci melainkan bermalam seorang malaikat bersamanya di rambutnya yang tidaklah ia terbangun sesaat di waktu malam melainkan malaikat itu berdoa, “Ya Allah ampunilah hamba-Mu karena ia bermalam dalam keadaan suci”. [HR ath-Thabraniy dan di selainnya dari Ibnu Umar dengan lafazh ini. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [4]

عن ابن عباس رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَقَضَى حَاجَتَهُ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَ يَدَيْهِ ثُمَّ نَامَ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah bangun di waktu malam lalu ia menunaikan hajatnya kemudian membasuh muka dan tangannya lalu tidur. [HR Muslim: 304, Abu Dawud: 5043 dan Ibnu Majah: 508. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

Menguatkan hal demikian mengenai haknya orang yang junub,

عن ابن عمر رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: ذَكَرَ عُمَرُ بْنُ اْلخَطَّا بِ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم  أَنَّهُ تُصِيْبُهُ اْلجَنَابَةُ مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : تَوَضَّأْ وَ اغْسِلْ ذَكَرَكَ ثُمَّ نَمْ

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma bahwasanya ia berkata, “Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu menceritakan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya ia tertimpa janabat di waktu malam. Lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Berwudlulah dan cucilah farji (kemaluan)mu kemudian tidurlah!”. [HR al-Bukhoriy: 290, an-Nasa’iy: I/ 140, Abu Dawud: 221, Ibnu Khuzaimah: 214 dan Ibnu Majah: 586 dari Abu Sa’id al-Khudriy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

عن عائشة رضي الله عنها قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَ هُوَ جُنُبٌ غَسَلَ فَرْجَهُ وَ تَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam apabila ingin tidur sedangkan ia junub maka ia mencuci farjinya dan berwudlu seperti wudlunya untuk sholat”. [HR al-Bukhoriy: 286, 288, Muslim: 305, an-Nasa’iy: I/ 139, Abu Dawud: 222 dan Ibnu Majah: 584. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [7]

عنها قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه و سلم إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَ هُوَ جُنُبٌ تَوَضَّأَ وَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ أَوْ يَشْرِبَ قَالَتْ: غَسَلَ يَدَيْهِ ثُمَّ يَأْكُلُ أَوْ يَشْرِبُ

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, ”Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila ingin tidur sedangkan ia dalam keadaan junub maka ia berwudlu”. Dan apabila ia ingin makan atau minum, Aisyah berkata, ”Beliau mencuci kedua tangannya lalu makan atau minum”. [HR an-Nasa’iy: I/ 138, 139, Muslim: 305, Abu Dawud: 223, 224, Ibnu Majah: 591, 592, 593 dari Jabir bin Abdullah dan Ahmad: VI/ 118-119, 119. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

 عن ابن عمر أَنَّ عُمَرَ بْنَ اْلخَطَّابِ سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَيَرْقُدُ  أَحَدُنَا وَ هُوَ جُنُبٌ؟ قَالَ: نَعَمْ إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ وَ هُوَ جُنُبٌ (و فى رواية: إِذَا شَاءَ)

Dari Ibnu Umar adliyallahu anhuma bahwasanya Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu pernah bertanya kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Apakah seseorang diantara kami (boleh) tidur dalam keadaan junub?”. Beliau menjawab, “Ya, apabila seseorang diantara kalian berwudlu maka bolehlah ia tidur dalam keadaan junub (di dalam satu riwayat; apabila ia mau)”. [HR al-Bukhoriy: 287, 289, Muslim: 306, at-Turmudziy: 160, an-Nasa’iy: I/ 139, Ibnu Majah: 585, Ibnu Khuzaimah: 212. Tambahan ini dari Muslim: 306 (24), Ibnu Khuzaimah: 211 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Ini merupakan dalil yang jelas atas tidak wajibnya wudlu sebelum tidur bagi orang yang junub, berbeda dengan golongan zhahiriyah”. [10]

Menguatkan penjelasan tersebut, hadits di bawah ini,

عن عائشة قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه و سلم يُجْنِبُ ثُمَّ يَنَامُ وَ لاَ يَمَسُّ مَاءً حَتىَّ يَقُوْمَ بَعْدَ ذَلِكَ فَيَغْتَسِلَ

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, “Pernah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan junub lalu tidur dan tidak menyentuh air sehingga bangun setelah itu kemudian mandi”. [HR Ibnu Majah: 581, 583, Abu Dawud: 228 dan at-Turmudziy: 118. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

عنها قَالَتْ: إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم إِنْ كَانَتْ لَهُ إِلىَ أَهْلِهِ حَاجَةٌ قَضَاهَا ثُمَّ يَنَامُ كَهَيْئَتِهِ لاَ يَمَسُّ مَاءً

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, “Bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila mempunyai hajat kepada istrinya ia segera menunaikannya kemudian tidur seperti keadaannya, tidak menyentuh air”. [HR Ibnu Majah: 582. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

عنها أَنَّهُ  صلى الله عليه و سلم كَانَ إِذَا أَجْنَبَ فَأَرَادَ أَنْ يَنَامَ تَوَضَّأَ أَوْ تَيَمَّمَ

Dari Aisyah radliyallahu anha bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila junub lalu ingin tidur maka Beliau berwudlu atau tayammum. [HR al-Baihaqiy. Berkata al-Hafizh: isnadnya hasan. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Meriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dari Itsam secara mauquf mengenai seorang lelaki yang terkena junub di waktu malam lalu berbaring untuk tidur. Aisyah berkata, ”Hendaknya ia wudlu atau tayammum”. Sanadnya Shahih]. [13]

 Kesimpulannya, Bahwasanya setiap muslim itu dianjurkan dan disukai agar berwudlu ketika hendak menuju pembaringannya untuk tidur seperti wudlunya hendak sholat, lalu berbaring dengan sisi sebelah kanan dan berdoa dengan doa yang disyariatkan. Terlebih jika ia dalam keadaan junub yaitu ia telah melakukan jimak (atau hubungan intim) dengan salah seorang dari istrinya dan enggan untuk mandi. Tetapi penganjuran itupun tidak sampai memberatkan umatnya dengan dihukumkan wajib sebab Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah tidur dalam keadaan junub dan tidak berwudlu atau hanya bertayammum.

2)). Dianjurkan wudlu ketika junub.

Begitu pula jika seorang muslim dalam keadaan junub sedangkan ia ingin berbaring tidur maka dianjurkan baginya untuk berwudlu terlebih dahulu apabila ia merasa berat untuk mandi junub.

عن عمار بن ياسر قَالَ: قَدِمْتُ عَلَى أَهْلِى لَيْلاً وَ قَدْ تَشَقَّقَتْ يَدَايَ فَخَلَّقُوْنىِ بِزَعْفَرَانَ فَغَدَوْتُ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ وَ لَمْ يُرَحِّبْ بىِ فَقَالَ: اذْهَبْ فَاغْسِلْ هَذَا عَنْكَ! فَذَهَبْتُ فَغَسَلْتُ ثُمَّ جِئْتُ وَ قَدْ بَقِيَ عَلَيَّ مِنْهُ رِدْعٌ فَسَلَّمْتُ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ وَ لَمْ يُرَحِّبْ بىِ وَ قَالَ: اذْهَبْ فَاغْسِلْ هَذَا عَنْكَ! فَذَهَبْتُ فَغَسَلْتُهُ ثُمَّ جِئْتُ فَسَلَّمْتُ فَرَدَّ عَلَيَّ وَ رَحَّبَ بىِ وَ قَالَ: إِنَّ اْلمـَلاَئِكَةَ لاَ تَحْضُرُ جَنَازَةَ اْلكَافِرِ بِخَيْرٍ وَ لاَ اْلمـُتَضَمِّخُ بِالزَّعْفَرَانِ وَ لاَ اْلجُنُبُ قَالَ: وَ رَخَّصَ لِلْجُنُبِ إِذَا نَامَ أَوْ يَأْكُلُ أَوْ يَشْرَبَ أَنْ يَتَوَضَّأَ

Dari Ammar bin Yasir radliyallahu anhu berkata, “Aku pernah datang kepada keluargaku suatu malam dan kedua tanganku terluka belah (sobek), lalu mereka melumuriku dengan za’faran. Di waktu pagi aku pergi (menemui) Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam lalu aku mengucapkan salam kepadanya tetapi Beliau tidak menjawabnya dan tidak menyambut kedatanganku. Beliau bersabda, “Pergilah dan cucilah (za’faran) ini darimu”. Lalu aku pergi dan mencucinya kemudian datang (kembali kepadanya) dan masih tersisa padaku bekas (warna)nya. Aku mengucapkan salam kembali kepadanya tetapi Beliau tetap tidak menjawabnya dan tidak menyambut kedatanganku dan bersabda, “Pergilah dan cucilah (za’faran) ini darimu”. Lalu aku pergi dan mencucinya, kemudian datang (kembali) dan mengucapkan salam kepadanya. Beliau menjawab salamku dan menyambut kedatanganku dan bersabda, ”Sesungguhnya para malaikat tidak akan datang kepada jenazah orang kafir dengan membawa kebaikan, tidak pula kepada orang yang melumuri dirinya dengan za’faran dan tidak juga kepada orang yang junub”. Berkata Ammar, ”Beliau memberi keringanan (rukhshoh) kepada orang yang junub apabila tidur, makan atau minum untuk berwudlu”. [HR Abu Dawud: 4176 dan Ahmad: IV/ 320. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan].[14]

عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: ثَلاَثَةٌ لاَ تُقَرِّبُهُمُ اْلمـَلاَئِكَةُ: جِيْفَةُ اْلكَافِرِ وَ اْلمـُتَضَمِّخُ بِاْلخَلُوْقِ وَ اْلجُنُبُ إِلاَّ أَنْ يَتَوَضَّأَ

Dari Ammar bin Yasir radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga golongan yang tidak akan didekati oleh para malaikat, yaitu; bangkainya orang kafir, orang yang melumuri dirinya dengan za’faran dan orang yang junub kecuali ia berwudlu”. [HR Abu Dawud: 4180. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [15]

عن ابن عبـاس عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: ثَلاَثَةٌ لاَ تُقَرِّبُهُمُ اْلمـَلاَئِكَةُ: اْلجُنُبُ وَ السُّكْرَانُ وَ اْلمـُتَضَمِّخُ بِاْلخَلُوْقِ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga golongan yang tidak akan didekati oleh para malaikat, yaitu; orang yang junub, orang mabuk dan yang melumuri dirinya dengan za’faran”. [HR al-Bazzar. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [16]

Dalil-dalil di atas menerangkan bahwa ada beberapa golongan manusia yang tidak akan didekati oleh para malaikat rahmat yang datang membawa kebaikan-kebaikan yakni bangkai (mayat)nya orang kafir, orang yang melumuri dirinya dengan za’faran (wewangian khusus perempuan yang nampak jelas warnanya namun tiada nampak baunya), orang yang mabuk lantaran minum khomer dan orang yang junub kecuali berwudlu.

Para malaikat alaihim as-Salam tidak akan mendekat kepada orang yang junub kecuali berwudlu, hal ini jelas menunjukkan anjuran untuk berwudlu agar tidak dijauhi oleh para malaikat. Meskipun dengan wudlu tersebut ia tetap tidak dapat mengerjakan sholat sehingga ia mandi janabat. Namun faidahnya sangat jelas bahwa ia tidak akan dijauhi oleh para malaikat rahmat alaihim as-Salam yang boleh jadi akan memberikan kepadanya beberapa kebaikan dari berbagai kebaikan dunia dan akhirat.

3)). Dianjurkan wudlu ketika hendak mengulang jimak.

Setelah menjimak salah seorang dari istrinya lalu timbul keinginan lagi untuk mengulanginya maka dianjurkan baginya untuk mencuci farjinya terlebih dahulu dan berwudlu.

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه  قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُوْدَ فَلْيَتَوَضَّأْ و فى رواية: فَإِنَّهُ أَنْشَطُ لِلْعَوْدِ

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila seseorang diantara kalian mendatangi istrinya kemudian ingin mengulanginya maka hendaklah ia berwudlu. Di dalam satu riwayat: karena hal itu lebih memberi semangat untuk mengulang”. [HR Muslim: 308, at-Turmudziy: 141, an-Nasa’iy: I/ 142, Abu Dawud: 220, Ibnu Majah: 587, Ahmad: III/ 21 dan Ibnu Khuzaimah: 219, 220. Tambahan hadits ini bagi Ibnu Khuzaimah: 221, Ibnu Hibban, al-Baihaqiy dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [17]

Mendatangi istrinya yang dimaksud adalah menjimaknya atau berhubungan intim dengannya lalu jika ingin mengulanginya kembali maka dianjurkan untuk berwudlu terlebih dahulu. Karena hal tersebut dapat menambah semangat di dalam mengulanginya itu. Dan hal ini jelas lebih bersih dan disukai oleh keduanya.

4)). Dianjurkan wudlu sebelum mandi janabat.

Di dalam mengerjakan mandi janabat, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memulainya dengan membasuh kedua telapak tangannya dengan air lalu berwudlu seperti wudlunya untuk sholat. Maka dengan dalil yang bermuatan contoh dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ini hendaknya setiap muslim berpijak yakni mengawali mandi janabat dengan berwudlu sebelum mengguyur air ke seluruh tubuh. Sebab banyak di antara mereka yang belum tahu dan tidak mengerti akan kaifiyat atau tata cara di dalam mandi janabat. Penjelasan ini telah tertera di dalam dalil hadits berikut ini,

عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه و سلم  أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ اْلجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثُمَّ تَوَضَّأَ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فىِ اْلمـَاءِ فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُوْلَ شَعْرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ (و فى رواية: حَتىَّ إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ قَدْ أَرْوَى بَشَرَتَهُ أَفَاضَ) عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ثُمَّ يُفِيْضُ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

Dari Aisyah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam apabila mandi dari janabat beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya kemudian berwudlu seperti wudlunya untuk sholat. Lalu memasukkan jemarinya ke air kemudian menyela-nyela ujung rambutnya lalu menuangkan (dalam satu riwayat; sehingga apabila ia telah yakin telah mengairi kulit kepalanya, ia menuangkan) air atas kepalanya tiga cidukan dengan kedua tangannya kemudian ia menuangkan air ke seluruh kulitnya. [HR al-Bukhoriy: 248, 262, 272 dan lafazh hadits ini di dalam Mukhtashor Shahih al-Imaam al-Bukhoriy, Muslim: 316, Abu Dawud: 242, 243, at-Turmudziy: 104, an-Nasa’iy: I/ 134 dan Ahmad: I/ 307, 330. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih ]. [18]

 و عن ميمونة قَالَتْ: وَضَعْتُ (وفى رواية: صَبَبْتُ) لِلنَّبِيِّ مَاءً لِلْغُسْلِ [مِنَ اْلجَنَابَةِ] [وَ سَتَرْتُهُ] فَغَسَلَ يَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ثُمَّ أَفْرَغَ [بِيَمِيْنِهِ] عَلَى شِمَالِهِ فَغَسَلَ مَذَاكِيْرَهُ (و فى رواية: فَرْجَهُ وَ مَا أَصَابَهُ مِنَ اْلأَذَى) ثُمَّ مَسَحَ يَدَهُ بِاْلأَرْضِ (و فى رواية:  ثُمَّ دَلَّكَ بِهَا اْلحَائِطَ و فى أخرى: بِاْلأَرْضِ أَوِ اْلحَائِطِ) [مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا] [ثُمَّ غَسَلَهَا] ثُمَّ مَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ وَ غَسَلَ وَجْهَهُ وَ يَدَيْهِ [وَ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا] (و فى رواية: تَوَضَّأَ وُضُوْءَهُ لِلصَّلاَةِ غَيْرَ رِجْلَيْهِ) ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى جَسَدِهِ ثُمَّ تَحَوَّلَ مِنْ مَكَانِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ [ثُمَّ أَتيَ بِمِنْدِيْلٍ فَلَمْ يَنْفُضْ بِهَا (و فى رواية: فَنَاوَلْتُهُ خِرْقَةً فَقَالَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَ لَمْ يُرِدْهَا) (و فى أخرى: فَنَاوَلْتُهُ ثَوْبًا فَلَمْ يَأْخُذْهُ فَانْطَلَقَ وَ هُوَ يَنْفُضُ يَدَيْهِ)] فَجَعَلَ يَنْفُضُ بِيَدِهِ

Dari Maimunah radliyallahu anha berkata, ”Aku yang meletakkan (di dalam satu riwayat; yang menuangkan) air bagi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam untuk mandi (dari janabat). Aku menutupinya (dari pandangan manusia), maka Beliau membasuh kedua tangannya dua atau tiga kali kemudian menuangkan (air) dengan tangan kanannya atas tangan kirinya lalu mencuci kemaluannya (di dalam satu riwayat; farjinya dan apa yang terkena kotoran). Lalu mengusap tangannya ke tanah (di dalam satu riwayat; ”lalu menggosok-gosokkan tangannya ke dinding”, di dalam riwayat yang lain; ”ke tanah atau dinding”), dua atau tiga kali. Kemudian membasuhnya, lalu berkumur-kumur, beristinsyaq, membasuh wajah, kedua tangan (dan membasuh kepalanya tiga kali) (di dalam satu riwayat, ”berwudlu seperti wudlunya untuk sholat kecuali kedua kakinya”). Lalu menuangkan (air) ke seluruh tubuhnya kemudian berpindah dari tempatnya lalu membasuh kedua kakinya. Lalu didatangkan kepadanya handuk kecil tetapi Beliau tidak mengibaskan kain tersebut ke tubuhnya (di dalam satu riwayat; lalu aku ambilkan untuknya secarik kain, maka Beliau berkata dengan tangannya; begini dan Beliau tidak menginginkannya). (Di dalam riwayat yang lain; lalu aku mengambilkan sepotong kain tetapi Beliau tidak mengambilnya kemudian pergi sedangkan Beliau sedang mengibas-ngibaskan kedua tangannya). Maka Beliau mengibas-ngibaskan tangannya”. [HR al-Bukhoriy: 249, 257, 259, 260, 265, 266, 274, 276, 281 dan lafazh hadits ini dari Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy, Muslim: 317, Abu Dawud: 245, at-Turmudziy: 103, an-Nasa’iy: I/ 137, 138 dan Ibnu Majah: 573. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[19]

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah memperagakan untuk umatnya cara mandi janabat dengan sempurna sebagaimana yang telah dituturkan oleh kedua istrinya yaitu Aisyah dan Maimunah radliyallahu anha. Hal ini beliau lakukan agar dicontoh dan ditiru oleh mereka sebagai bentuk rasa kasih sayang beliau kepada mereka, supaya mandi yang mereka lakukan tersebut dapat mendatangkan nilai pahala dari sisi Allah Azza wa Jalla. Dan diharapkan kepada kaum muslimin untuk senantiasa mencontoh dan meniru Nabi mereka Shallallahu alaihi wa sallam dalam setiap amal dan khususnya di dalam masalah thaharah ini sebagai bentuk pengagungan dan ketaatan kepadanya.

Di dalam mandi tersebut, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengawalinya dengan berwudlu terlebih dahulu sebelum mengguyurkan air ke seluruh tubuhnya. Tidak seperti yang mereka lakukan selama ini yang masih memahami mandi janabat itu hanya mengguyurkan air ke seluruh tubuh tanpa mengawalinya dengan wudlu. Mudah-mudahan dengan penjelasan ini, mereka paham dan berusaha untuk merubah kebiasaan tersebut kepada yang lebih baik dan benar.

5)). Dianjurkan wudlu dari sebab muntah.

عن أبي الدرداء رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَاءَ فَأَفْطَرَ فَتَوَضَّأَ فَلَقِيْتُ ثَوْبَانَ فىِ مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ: صَدَقَ أَنَا صَبَبْتُ لَهُ وَضُوْءَهُ

Dari Abu ad-Darda radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam muntah maka Beliau berbuka (dari shoum) dan wudlu. Lalu aku bertemu dengan Tsauban di masjid Damasyqus maka aku cerikan kepadanya hal tersebut. Ia menjawab, ”Benar, karena akulah yang menuangkan air wudlunya kepada Beliau”. [HRat-Turmudziy: 87, Ahmad: VI/ 443, Abu Dawud: 2381 dan ad-Darimiy: II/ 14. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [20]

Di dalam hadits di atas, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah muntah sedangkan beliau sedang mengerjakan shaum (puasa). Lalu Beliau berbuka dari shaum tersebut dengan sebabnya, kemudian berwudlu untuk menunaikan sholat.

Meskipun muntah itu bukan termasuk dari pembatal-pembatal wudlu, namun Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam melakukannya sebagai bentuk anjuran untuk umatnya.

6)). Dianjurkan wudlu dari sebab menggotong mayat.

Menggotong mayat ke tempat pemakaman umum setelah ikut memandikan, mengafani dan menyolatkannya bersama kaum muslimin itu amat dianjurkan oleh syariat karena banyaknya faidah dari melakukannya. Setelah ikut menggotongnya maka dianjurkan untuk berwudlu seperti wudlunya untuk sholat.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَنْ غَسَّلَ اْلمـَيِّتَ فَلْيَغْتَسِلْ وَ مَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memandikan mayat maka hendaklah ia mandi dan barangsiapa yang menggotongnya maka hendaklah berwudlu”. [HR Abu Dawud: 3161, at-Turmudziy: 993 dan al-Imam Ahmad: II/ 280, 433, 454, 472. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [21]

Di dalam hadits di atas, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menganjurkan umatnya untuk berwudlu setelah selesai dari menggotong mayat dan mengantarkannya ke tempat pemakaman. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan keutamaan dari mengurus jenazah, berupa memandikan, mengafani, menyolatkan lalu menguburkannya. Jika ada seorang muslim ikut memandikan, mengafani lalu menyolatkan jenazah salah seorang dari shahabatnya yang muslim, maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan memberikan balasan kebaikan untuknya pahala sebesar satu qirath (yaitu sebesar gunung Uhud). Lalu jika ia melanjutkannya dengan menggotong mayatnya ke pemakaman kemudian menyaksikan penguburannya maka ia akan mendapatkan pahala sebesar satu qirath lagi. Dengan sebab dalil inilah hendaknya setiap muslim tidak menyia-nyiakan pahala-pahala qirath yang telah ditawarkan oleh Allah Azza wa Jalla. [22]

Namun janganlah ia melupakan penganjuran dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, setelah ikut menggotong jenazah shahabatnya itu yaitu berwudlu. Meskipun menggotong mayat itu bukan termasuk dari pembatal-pembatal wudlu, namun jika dikerjakan akan lebih mendatangkan kebaikan untuknya kelak di dunia ataupun akhirat. Karena Allah Subhanahu wa ta’ala tidak akan pernah menyia-nyiakan pahala amal kebaikan sekecil dan seringan apapun.

7)). Dianjurkan wudlu dari sebab (memakan daging) yang disentuh api.

 Berikut ini beberapa dalil hadits yang menganjurkan wudlu setelah memakan daging yang dimasak dengan api meskipun sebelumnya ia masih dalam keadaan suci lantaran berwudlu,

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: تَوَضَّؤُوْا مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, ”aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Berwudlulah kalian dari sesuatu (makanan) yang disentuh api”. [HR an-Nasa’iy: I/ 105, 106, Abu Dawud: 194 dan at-Turmudziy: 79. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [23]

عن زيد بن ثابت رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: اْلوُضُوْءُ مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

Dari Zaid bin Tsabit radliyallahu anhu berkata, Aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Wudlu itu dari apa yang disentuh api”. [HR Muslim: 351 dan an-Nasa’iy: I/ 107. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [24]

عن عبد الله بن إبراهيم بن قارظ أخبره أَنَّهُ وَجَدَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَتَوَضَّأُ عَلَى اْلمـَسْجِدِ فَقَالَ: إِنمَّاَ يَتَوَضَّأُ مِنْ أَثْوَارِ أَقَطٍّ أَكَلْتُهَا لِأَنيِّ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم  يَقُوْلُ: تَوَضَّؤُوْا  مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

Dari Abdullah bin Ibrahim bin Qorizh mengkhabarkan bahwasanya ia menjumpai Abu Hurairah sedang berwudlu di Masjid. Ia berkata, ”Hanyalah berwudlu dari sebab sepotong keju yang aku makan, karena aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Berwudlulah kalian dari apa yang disentuh api”. [HR Muslim: 352 dan an-Nasa’iy: I/ 105. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [25]

و عن أبي سفيان ابن سعيد الأخنس بن شريق أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى أُمِّ حَبِيْبَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم وَ هِيَ خَالَتُهُ فَسَقَتْهُ سَوِيْقًا ثُمَّ قَالَتْ لَهُ: تَوَضَّأْ يَا ابْنَ أُخْتيِ فَإِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: تَوَضَّؤُوْا مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

Dari Abu Sufyan bin Sa’id al-Akhnas bin Syariq bahwasanya ia pernah masuk ke rumah Ummu Habibah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan ia adalah bibinya. Lalu menghidangkan semangkuk gandum. Lalu ia berkata kepada Abu Sufyan, “Berwudlulah wahai kemenakanku, karena sesungguhnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Berwudlulah dari apa yang disentuh api”. [HR an-Nasa’iy: I/ 107 dan Abu Dawud: 195. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [26]

 عن القاسم مولى معاوية قَالَ: دَخَلْتُ مَسْجِدَ دِمَشْقَ فَرَأَيْتُ أُنَاسًا مُجْتَمِعِيْنَ وَ شَيْخًا يُحَدِّثُهُمْ قُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالُوْا: سَهْلُ بْنُ اْلحَنْظَلِيِّةِ فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله  صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: مَنْ أَكَلَ لَحْمًا فَلْيَتَوَضَّأْ

Dari al-Qosim maulanya Mu’awiyah berkata, “Aku pernah memasuki masjid Damasyqus lalu aku melihat banyak manusia berkumpul dan ada seorang syaikh sedang berbicara. Aku bertanya, ”Siapakah dia?”. Mereka menjawab, ”Sahl bin al-Hanzholiyah”. Lalu aku mendengar ia berkata, ”Aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa yang makan daging maka hendaklah ia berwudlu”.  [HR Ahmad: IV/ 180, V/ 289. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [27]

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Perintah di dalam hadits ini adalah untuk penganjuran (disukai) kecuali daging unta karena wajib. Terdapat ketetapan perbedaan antaranya dan daging selainnya. Mereka pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang berwudlu dari sebab (memakan) daging unta. Beliau bersabda, ”berwudlulah”. Dan juga ditanya tentang daging kambing. Beliau menjawab, ”jikalau kalian mau”.[28]

Jadi perintah berwudlu di dalam beberapa dalil di atas hanyalah berisi anjuran dan tidak wajib sebagaimana telah dikatakan oleh asy-Syaikh al-Albaniy ahimahullah di atas dan juga karena beberapa dalil di bawah ini,

عن ابن عباس أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَكَلَ كَتِفَ شَاةٍ ثُمَّ صَلَّى وَ لَمْ يَتَوَضَّأْ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah makan bahu seekor kambing kemudian sholat dan tidak berwudlu lagi. [HR Muslim: 354, al-Bukhoriy: 207, 5404, 5405, Ibnu Majah: 488 dan Ibnu Khuzaimah: 41. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [29]

عن عمرو بن أمية الضمري قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم يَحْتَزُّ مِنْ كَتِفِ شَاةٍ فَأَكَلَ مِنْهَا فَدُعِيَ إِلىَ الصَّلاَةِ فَقَامَ وَ طَرَحَ السِّكِّيْنَ وَ صَلَّى وَ لَمْ يَتَوَضَّأْ

Dari Amr bin Umayyah adl-Dlomiriy radliyallahu anhu berkata, “Aku pernah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memotong bahu seekor kambing lalu memakannya. Kemudian Beliau diseru untuk sholat lalu berdiri, membuang(meletakkan) pisau, sholat dan tidak berwudlu lagi”. [HR Muslim: 355, al-Bukhoriy: 208, 2923, 5408, 5422, 5462, Ibnu Majah: 490, ad-Darimiy: I/ 185 dan Ahmad: V/ 288. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [30]

عن ميمونة زوج النبي صلى الله عليه و سلم أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم أَكَلَ عِنْدَهَا كَتِفًا ثُمَّ صَلَّى وَ لَمْ يَتَوَضَّأْ

Dari Maimunah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah makan bahu (kambing) di sisinya kemudian sholat dan tidak berwudlu lagi. [HR Muslim: 356 dan al-Bukhoriy: 210. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [31]

عن جابر بن عبد الله قَالَ: أَكَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم وَ أَبُوْ بَكْرٍ وَ عُمَرُ خُبْزًا وَ لَحْمًا وَ لَمْ يَتَوَضَّؤُوْا

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, ”Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar pernah makan roti dan daging dan mereka tidak berwudlu lagi”. [HR Ibnu majah: 489 dan Ahmad: III/ 307. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [32]

عنه قَالَ: قَرَّبْتُ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم خُبْزًا وَ لَحْمًا فَأَكَلَ ثُمَّ دَعَا بِوَضُوْءٍ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ دَعَا بِفَضْلِ طَعَامِهِ فَأَكَلَ ثُمَّ قَامَ إِلىَ الصَّلاَةِ وَ لَمْ يَتَوَضَّأْ

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, ”aku pernah menghidangkan roti dan daging untuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, lalu Beliau makan. Kemudian Beliau menyuruh mengambilkan air wudlu lalu berwudlu dan sholat zhuhur. Kemudian Beliau menyuruh mengambil sisa makanannya dan Beliau makan. Kemudian Beliau berdiri menuju sholat dan tidak berwudlu lagi”. [HR Abu Dawud: 191, at-Turmudziy: 80 dan Ahmad: III/ 322. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [33]

عنه قَالَ: كَانَ آخِرُ اْلأَمْرَيْنِ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم تَرْكَ اْلوُضُوْءِ مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, “Adalah akhir dari dua perkara (wudlu dan tidak) dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah meninggalkan berwudlu dari apa yang disentuh api”. [Telah mengeluarkan atsar ini an-Nasa’iy: I/ 108, Abu Dawud: 192 dan Ibnu Khuzaimah: 43. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [34]

 Kesimpulannya adalah bahwasanya berwudlu dari sebab memakan daging yang dimasak dengan menggunakan api itu hanyalah berupa anjuran, bukan kewajiban. Sebab makan daging yang dimasak dengan api itu bukan termasuk pembatal-pembatal wudlu. Dari sebab itu setiap muslim yang baru selesai menyantap daging yang dimasak dengan api, diberi keleluasaan baginya untuk berwudlu kembali atau meninggalkannya ketika hendak mengerjakan sholat meskipun sebelumnya ia masih dalam keadaan suci karena telah berwudlu. Kecuali memakan daging unta, karena memakannya itu jelas-jelas membatalkan wudlu, yang tidak akan sah dan diterima sholat seseorang tanpa berwudlu kembali setelah memakannya. Akan datang beberapa dalil dan penjelasannya insya Allah, di dalam bab tersendiri.

 8)). Dianjurkan wudlu setiap kali hadats.

Hal lain yang dianjurkan berwudlu adalah setiap kali hadats, apakah dari sebab buang air besar, buang air kecil, buang angin ataupun selainnya.

عن بريدة (بن الحصيب) قَالَ: أَصْبَحَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَدَعَا بِلاَلاً فَقَالَ: يَا بِلاَلُ بِمَ سَبَقْتَنىِ إِلىَ اْلجَنَّةِ؟ مَا دَخَلْتُ اْلجَنَّةَ قَطٌّ إِلاَّ سَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى دَخَلْتُ اْلبَارِحَةَ اْلجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى فَأَتَيْتُ عَلَى قَصْرِ مُرَبَّعٍ مُشْرَفٍ مِنْ ذَهَبٍ فَقُلْتُ: ِلمَنْ هَذَا اْلقَصْرُ؟ قَالُوْا: لِرَجُلٍ مِنَ اْلعَرَبِ فَقُلْتُ: أَنَا عَرَبِيٌّ لمِـَنْ هَذَا اْلقَصْرُ؟ قَالُوْا: لِرَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ فَقُلْتُ: أَنَا قُرَيْشٌ لمِـَنْ هَذَا اْلقَصْرُ؟ قَالُوْا: لِرَجُلٍ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم فَقُلْتُ: أَنَا مُحَمَّدٌ لمِـَنْ هَذَا اْلقَصْرُ؟ قَالُوْا: لِعُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ فَقَالَ بِلاَلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا أَذَّنْتُ قَطٌّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَ مَا أَصَابَنىِ حَدَثٌ قَطٌّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ عِنْدَهَا وَ رَأَيْتُ أَنَّ لِلَّهِ عَلَيَّ رَكْعَتَيْنِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: بِهِمَا

Dari Buraidah (bin al-Hushaib) radliyallahu anhu berkata, “Di waktu pagi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah menyuruh memanggil Bilal, lalu berkata, “Wahai Bilal, dengan apakah engkau mendahuluiku ke surga?. Aku tidaklah memasuki surga sedikitpun melainkan aku mendengar bunyi derap sendalmu di hadapanku. Lalu aku mendatangi sebuah istana berbentuk persegi empat yang tinggi yang terbuat dari emas”. Aku bertanya, ”Siapakah  pemilik istana ini?”. Mereka (yaitu para malaikat) menjawab, ”Milik seseorang dari bangsa Arab”. Aku jawab, ”Aku orang Arab, siapakah pemilik istana ini?”. Mereka menjawab, ”Milik  seseorang dari suku Quraisy”. Aku jawab, ”Aku orang Quraisy, siapakah pemilik istana ini?”. Mereka menjawab, ”Milik seseorang dari umat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam”. Aku menjawab, ”Aku Muhammad, siapakah pemilik istana ini?”. Mereka menjawab, ”Milik Umar bin al-Khaththab”. Bilal berkata, ”Wahai Rosulullah tidaklah aku beradzan sedikitpun melainkan aku sholat dua raka’at dan tidaklah hadats menimpaku sedikitpun melainkan aku berwudlu padanya dan aku berpandangan bahwasanya tetap bagiku sholat dua raka’at bagi Allah”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Dengan keduanya (inilah engkau mendahuluiku)”. [HR at-Turmudziy: 3689, Ahmad: V/ 360, Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim: 1220, 5296. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [35]

Meskipun hal ini merupakan amal perbuatan Bilal bin Rabah radliyallahu anhu yang selalu berwudlu setiap kali hadats atau senantiasa memelihara wudlu di setiap keadaan, tetapi hal ini juga berlaku untuk kaum muslimin seluruhnya. Karena hadits atau sunnah itu sebagaimana telah diketahui, bukan hanya yang dilakukan dan diucapkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tetapi juga yang didiamkan (taqrir) oleh Beliau Shallallahu alaihi wa sallam sebagai tanda persetujuannya kepada amalan para shahabat radliyallahu anhum. Bahkan di dalam hadits tersebut, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menampakkan kekaguman terhadap amal perbuatan Bilal radliyallahu anhu yang menyebabkan bunyi terompahnya didengar oleh Beliau di surga padahal Bilal radliyallahu anhu waktu itu masih hidup di dunia.

Lalu sunnah atau kebiasaan Bilal radliyallahu anhu yang telah diakui dan dikagumi oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tersebut diperbolehkan untuk dijadikan sebagai amalan kaum muslimin lainnya. Sebab suatu amalan jika telah tsabit dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam selama tidak dikhususkan untuk seseorang maka amalan tersebut juga diperkenankan untuk umat Beliau yang lainnya untuk mengamalkannya. Amal kebiasaan Bilal tersebut adalah berwudlu setiap kali berhadats, yaitu hadats dengan sebab buang air besar, buang air kecil atau buang angin ataupun selainnya.

9)). Dianjurkan wudlu setiap kali sholat.

Penganjuran selanjutnya adalah memperbaharui wudlu setiap kali hendak menunaikan sholat meskipun masih dalam keadaan memiliki wudlu dan tidak berhadats. Sebagaimana dalil dan penjelasan berikut ini,

عن عمرو بن عامر الأنصاري قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُوْلُ: كَانَ النَّبِيُّ  صلى الله عليه و سلم يَتَوَضَّأُ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ قُلْتُ: فَأَنْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَصْنَعُوْنَ؟ قَالَ: كُنَّا نُصَلِّي الصَّلَوَاتِ كُلَّهَا بِوُضُوْءٍ وَاحِدٍ مَا لَمْ نُحْدِثْ

Dari Amr bin Amir al-Anshoriy radliyallahu anhu berkata, ”Aku pernah mendengar Anas bin Malik berkata, ”Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berwudlu di setiap kali sholat”. Aku bertanya, ”Apa yang kalian lakukan?”. Ia menjawab, ”Kami menunaikan seluruh sholat dengan sekali wudlu selama tidak berhadats”. [HR at-Turmudziy: 60, al-Bukhoriy: 214, Abu Dawud: 171, an-Nasa’iy: I/ 85 dan Ibnu Majah: 509. Berkata asy-Syaikh al-Abaniy: Shahih]. [36]

عن بريدة  قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم يَتَوَضَّأُ لِكُلِّ صَلاَةٍ فَلَمَّا كَانَ عَامَ اْلفَتْحِ صَلَّى الصَّلَوَاتِ بِوُضُوْءٍ وَاحِدٍ وَ مَسَحَ خُفَّيْهِ فَقَالَ عُمَرُ: إِنَّكَ فَعَلْتَ شَيْئًا لَمْ تَكُنْ فَعَلْتَهُ ؟ قَالَ: عَمْدًا فَعَلْتُهُ

Dari Buraidah radliyallahu anhu berkata, ”Nabi Shallallahu alaihi wa sallam biasanya berwudlu di setiap kali sholat. Ketika tahun penaklukan kota Mekkah (Fat-hu Makkah), Beliau menunaikan beberapa sholat dengan satu wudlu dan mengusap khuff (sepatu)nya”. Maka Umar bertanya, ”Sesungguhnya engkau telah melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan?”. Beliau menjawab, ”Aku dengan sengaja melakukannya”. [HR at-Turmudziy: 61, Muslim: 277, an-Nasa’iy: I/ 86, Ibnu Majah: 510, Abu Dawud: 172 dan Ibnu Khuzaimah: 12. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [37]

 عن أبي هريرة قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم  : لَوْ لاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتىِ لَأَمَرْتُهُمْ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ بِوُضُوْءٍ أَوْ مَعَ كُلِّ وُضُوْءٍ سِوَاكٌ وَ لَأَخَّرْتُ عِشَاءَ اْلآخِرَةِ إِلىَ ثُلُثِ اللَّيْلِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, “telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Andaikan aku tidak menyusahkan umatku niscaya aku perintahkan mereka berwudlu setiap kali sholat, bersiwak setiap kali wudlu dan menangguhkan sholat isya terakhir hingga mencapai sepertiga malam”. [HR Ahmad: II/ 259. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [38]

عن عبد الله بن عبد الله بن عمر قَالَ: قُلْتُ أَرَأَيْتَ تَوَضُّؤَ ابْنِ عُمَرَ لِكُلِّ صَلاَةٍ طَاهِرًا وَ غَيْرَ طَاهِرٍ عَمَّ ذَاكَ؟ فَقَالَ: حَدَّثَتْنِيْهِ أَسمَاءُ بِنْتُ زَيْدِ بْنِ اْلخَطَّابِ: أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ حَنْظَلَةَ بْنَ أَبيِ عَامِرٍ حَدَّثَهَا: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم أَمَرَ بِاْلوُضُوْءِ لِكُلِّ صَلاَةٍ طَاهِرًا وَ غَيْرَ طَاهِرٍ فَلَمَّا شَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ أَمَرَ بِالسِّوَاكِ لِكُلِّ صَلاَةٍ فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَرَى: أَنَّ بِهِ قُوَّةً فَكَانَ لاَ يَدَعُ اْلوُضُوْءَ لِكُلِّ صَلاَةٍ

Dari Abdullah bin Abdullah bin Umar berkata, “aku pernah berkata, “Bagaimana pandanganmu tentang wudlunya Ibnu Umar di setiap kali sholat dalam keadaan suci atau tidak, tentang apa?”. Ia menjawab, “Telah menceritakan kepadaku Asma binti Zaid bin al-Khaththab bahwasanya Abdullah bin Hanzholah bin Abi Amir menceritakan kepadanya bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh berwudlu setiap kali sholat dalam keadaan suci ataupun tidak”. Ketika yang demikian itu dirasakan berat maka Beliau menyuruh bersiwak di setiap kali sholat. Ibnu Umar berpendapat, ”Bahwasanya ia mempunyai kesanggupan (maksudnya; berwudlu di setiap sholat) maka ia tidak pernah meninggalkan wudlu di setiap kali sholat”. [HR Abu Dawud: 48 dan Ahmad: V/ 225. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [39]

Dalil-dalil di atas pada awalnya menunjukkan contoh dan anjuran dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang berwudlu setiap kali hendak menunaikan sholat, meskipun masih dalam keadaan suci. Kemudian suatu waktu, Beliau memperlihatkan secara sengaja kepada Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu berwudlu dengan sekali wudlu untuk mengerjakan beberapa sholat selama tidak berhadats. Namun Beliau menggantikannya dengan menyuruh mereka untuk selalu bersiwak di setiap kali hendak menunaikan sholat. Perilaku Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tersebut bertujuan untuk tidak memberatkan umatnya yang berwudlu setiap kali hendak menegakkan sholat, tetapi juga tidak berkehendak untuk menghapusnya.

Maka dengan beberapa dalil hadits di atas, diperbolehkan bagi setiap muslim untuk berwudlu dengan sekali wudlu untuk mengerjakan beberapa kali sholat selama tidak berhadats. Namun juga terdapat penganjuran untuk selalu memperbaharui wudlu setiap kali hendak menunaikan sholat.

10)). Dianjurkan wudlu ketika menyebut nama Allah Azza wa Jalla.

عن المهاجر بن قنفذ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم وَ هُوَ يَبُوْلُ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ حَتىَّ يَتَوَضَّأَ ثُمَّ اعْتَذَرَ إِلَيْهِ فَقَالَ: إِنىِّ كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللهَ  عز و جل إِلاَّ عَلَى طُهْرٍ أَوْ قَالَ: عَلَى طَهَارَةٍ

Dari al-Muhajir bin Qanfadz radliyallahu anhu bahwasanya ia pernah mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sedangkan Beliau sedang buang air kecil. Lalu ia mengucapkan salam kepadanya tetapi tidak menjawabnya sehingga berwudlu. Kemudian Beliau memberi alasan kepadanya seraya berkata, “Sesungguhnya aku tidak suka menyebut nama Allah Azza wa Jalla kecuali dalam keadaan suci”, atau Beliau bersabda, “dalam keadaan bersuci”. [HR Abu Dawud: 17, an-Nasa’iy: I/ 37, Ibnu Majah: 350, ad-Darimiy: II/ 287 dan Ahmad: V/ 80. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih ]. [40]

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy  rahimahullah, “Ketika  السلام  merupakan satu nama dari nama-nama Allah ta’ala maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak suka  menyebut-Nya kecuali dalam keadaan suci. Maka hal ini menunjukkah bahwasanya membaca alqur’an tanpa bersuci adalah makruh (tidak disukai) dari bab yang lebih utama. Maka tidak pantas memutlakkan ucapan tentang bolehnya membaca alqur’an bagi orang yang hadats sebagaimana yang dilakukan oleh sebahagian saudara kita dari ahli hadits”. [41]

Beliau berkata di tempat lainnya, “Dan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, “(Sesungguhnya aku tidak suka menyebut nama Allah Azza wa Jalla kecuali dalam keadaan suci atau Beliau bersabda, “dalam keadaan bersuci), merupakan dalil jelas mengenai makruhnya membaca (alqur’an) bagi orang junub. Karena hadits tersebut datang mengenai salam sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dan selainnya dengan sanad yang shahih. Maka alqur’an lebih utama dari mengucapkan salam sebagaimana zhahirnya, tetapi tidak menafikan bolehnya sebagaimana yang telah dikenal maka pendapat tentangnya karena hadits shahih ini adalah wajib. Dan inilah seadil-adilnya pendapat Insyaa Allah ta’ala “.  [42]

عن أبي هريرة قَالَ: مَرَّ رَجُلٌ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم وَ هُوَ يَبُوْلُ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ فَلَمَّا فَرَغَ ضَرَبَ بِكَفَّيْهِ اْلأَرْضَ فَتَيَمَّمَ ثُمَّ رَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, ”Seorang lelaki pernah melewati Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang sedang buang air kecil. Lalu ia mengucapkan salam kepada Beliau tetapi tidak dijawab. Setelah Beliau selesai (darinya) maka Beliau memukul tanah dengan kedua telapak tangannya lalu bertayammum kemudian menjawab salamnya”. [HR Ibnu Majah: 351, al-Bukhoriy: 337 dan Muslim 369 kedua-duanya dari Abu al-Juhaim bin al-Harits.  Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih].[43]

Hal ini hanyalah jalan afdloliyah (keutamaan) dan anjuran saja, jika tidak maka menyebut nama Allah Subhanahu wa ta’ala boleh bagi yang suci, berhadats dan yang junub karena hadits di bawah ini,

عن عائشة رضي الله عنها قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ  صلى الله عليه و سلم يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, ”Adalah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyebut nama Allah di segala keadaannya”. [HR Muslim: 373, Abu Dawud: 18, at-Turmudziy: 3384, Ibnu Majah: 302 dan Ahmad: VI/ 70, 153. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [44]

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah , ”Di dalam hadits ini terdapat dalil (bukti) bolehnya membaca alqur’an bagi orang yang junub karena alqur’an adalah dzikir (Dan Kami telah turunkan dzikir yakni alqur’an. QS. An-Nahl/16: 44) maka ayat ini masuk ke dalam keumuman ucapan Aisyah radliyallahu anha (yaitu menyebut nama Allah). Ya, yang paling utama adalah membaca alqur’an dalam keadaan bersuci karena sabdanya Shallallahu alaihi wa sallam ketika menjawab salam sesudah bertayammum (sesungguhnya aku tidak suka menyebut nama Allah kecuali dalam keadaan bersuci. –Telah berlalu takhrijnya)-”. [45]

Katanya lagi, ”Kebanyakan yang aku sebutkan tentang hal yang berkaitan dengan ini adalah hadits dari Aisyah radliyallahu anha ketika menunaikan ibadah haji bersama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Mereka singgah di suatu tempat yang bernama Saraf dekat dengan kota Mekkah. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjumpai istrinya yang sedang menangis lantaran haidl. Lalu Beliau bersabda kepadanya, ”Lakukanlah apa yang dikerjakan oleh orang yang sedang berhaji kecuali thowaf dan jangan pula kamu melakukan sholat”. [46] Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak melarangnya dari membaca alqur’an dan memasuki masjid al-Haram”.[47]

Wallahu a’lam bi ash-Showab.

[1] Mukhtashor Shahih Muslim: 1896, Shahih Sunan Abi Dawud: 4219, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2703, 2828, Shahih Sunan Ibni Majah: 3126, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 276 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 602.
[2] Shahih Sunan Abi Dawud: 4216, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5754, Misykah al-Mashobih: 1215 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 597.
[3] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 596.
[4]  Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 598 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3936.
[5]  Shahih Sunan Abi Dawud: 4218 dan Shahih Sunan Ibni Majah: 410.
[6]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 254, Shahih Sunan Abi Dawud: 205 dan Shahih Sunan Ibni Majah: 476.
[7]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 252, Shahih Sunan Abi Dawud: 206, Shahih Sunan Ibni Majah: 474 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4660.
[8]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 249, 250, 251, Mukhtashor Shahih Muslim: 162, Shahih Sunan Abi Dawud: 207, 208, Shahih Sunan Ibni Majah: 481, 482, 483, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4659 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 390.
[9]  Shahih Sunan at-Turmudziy: 104, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 253 dan Shahih Ibni Majah: 475
[10]  Adab az-Zifaf fi as-Sunnah al-Muthahharah oleh asy-Syaikh al-Albaniy halaman 116.
[11]  Shahih Sunan Ibni Majah: 471, 473, Shahih Sunan Abi Dawud: 210 dan Shahih Sunan at-Turmudziy: 103.
[12]  Shahih Sunan Ibni Majah: 472.
[13]  Fat-h al-Bariy: I/ 394 dan Adab az-Zifaf halaman 118.
[14]  Shahih Sunan Abi Dawud: 3519 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1959, 1960.
[15]  Shahih Sunan Abi Dawud: 3522, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3061 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 168.
[16]  Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 169, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3060 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1804.
[17]  Mukhtashor Shahih Muslim: 164, Shahih Sunan at-Turmudziy: 122, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 255, Shahih Sunan Abi Dawud: 204, Shahih Sunan Ibni Majah: 477, Shahiih al-Jami’ ash-Shaghir: 263 dan Adab az-Zifaf halaman 107.
[18]  Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 147, Shahih Sunan Abi Dawud: 222, 223, Shahih Sunan at-Turmudziy: 91, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 241 dan Irwa’ al-Ghalil: 132
[19] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 153, Shahih Sunan Abi Dawud: 224, Shahih Sunan at-Turmudziy: 90, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 404, 405, 406, Shahih Sunan Ibni Majah: 465 dan Irwa’ al-Ghalil: 131.
[20]  Shahih Sunan at-Turmudziy: 76, Shahih Sunan Abi Dawud: 2085, Irwa’ al-Ghalil: 111 dan Tamam al-Minnah halaman 111.
[21]  Shahih Sunan Abi Dawud: 2707, Shahih Sunan at-Turmudziy: 791, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6402, Irwa’ al-Ghalil: 144, Tamam al-Minnah halaman 112 dan  Ahkam al-Jana’iz halaman 71.
[22]  Lihat keterangan lebih lanjut di dalam kitab “Ahkam al-Jana’iz” susunan asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah di dalam bab “menggotong dan mengiringi jenazah” halaman 87-90 poin ke 44 dan 45.
[23]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 165, 166, 168, 169, Shahih Sunan Abi Dawud: 178, Shahih Sunan at-Turmudziy: 68, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3007, 7153 dan Misykah al-Mashobih: 303.
[24]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 173 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7154.
[25]  Mukhtashor Shahih Muslim: 147 dan Shahih Sunan an-Nasa’iy: 167.
[26]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 174, 175 dan Shahih Sunan Abi Dawud: 179.
[27]  Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6087 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2322.
[28]  Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: V/ 415-416. [HR Muslim: 360, Ibnu Majah: 495, Ahmad: V/ 86, 88, 92, 93, 98, 100, 102, 105, 106, 108 dan Ibnu Khuzaimah: 31, 32 dari Jabir bin Samurah radliyallahu anhu. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 146, Shahih Sunan Ibni Majah: 402, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3006, Irwa’ al-Ghalil: 118 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: V: 415-416].
[29]  Shahih Sunan Ibni Majah: 395 dan Misykah al-Mashobih: 304.
[30]  Mukhtashor Shahih Muslim: 148, Shahih Sunan Ibni Majah: 397 dan Irwa’ al-Ghalil: 1962.
[31]  Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 126.
[32]  Shahih Sunan Ibni Majah: 396.
[33]  Shahih Sunan Abi Dawud: 176 dan Shahih Sunan at-Turmudziy: 69.
[34]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 179 dan Shahih Sunan Abi Dawud: 177.
[35]  Shahih Sunan at-Turmudziy: 2912, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7893, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 196 dan Tamam al-Minnah halaman 111.
[36]  Shahih Sunan at-Turmudziy: 50, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 130, Shahih Sunan Abi Dawud: 156, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 127, Shahih Sunan Ibni Majah: 411 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4907.
[37]  Shahih Sunan at-Turmudziy: 51, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 129, Shahih Sunan Ibni Majah: 412 dan Shahih Sunan Abi Dawud: 157.
[38] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5318 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 200.
[39]  Shahih Sunan Abi Dawud: 38.
[40] Shahih Sunan Abi Dawud: 13, Shaiih Sunan an-Nasa’iy: 37, Shahih Sunan Ibni Majah: 280, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 834, Shahiih al-Jami’ ash-Shaghir: 2472 dan Nail al-Awthar bi takhriij Ahadits Kitab al-Adzkar: 71 .
[41]  Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 511 dan Irwa’ al-Ghalil: I/ 92-93.
[42]  Irwa’ al-Ghalil: II/ 245.
[43]  Shahih Sunan Ibni Majah: 281.
[44] Mukhtashor Shahih Muslim: 169, Shahih Sunan Abi Dawud: 14, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2695, Shahih Sunan Ibni Majah: 245, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 406 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4943.
[45] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 691.
[46]  Dikeluarkan oleh al-Bukhoriy: 294, 305, 1650, 5559, Muslim: 1211 (120), Abu Dawud: 1786 dan dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albaniy di dalam Mukhtashor Shahih Muslim: 660, Shahih Sunan Abi Dawud: 1570, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2254, 2255 dan Misykah al-Mashobih: 2572.
[47]  Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah halaman 14-15.

UNTUK APA ANDA BERWUDLU (1) ??…

Apa yang mewajibkan wudlu

بسم الله الرحمن الرحيم

Telah banyak dalil dan penjelasan tentang beberapa keutamaan wudlu sebagaimana telah diabadikan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits yang shahih. Di samping itu pula, wudlu mempunyai fungsi yang sangat penting di dalam Islam terutama di dalam ibadah-ibadah yang tertentu. Dan tidak boleh terwujud ibadah tersebut dan tidak akan pula mendapatkan balasan kebaikan kecuali dengannya. Misalnya sholat, maka sholat tidak boleh dilaksanakan tanpa berwudlu. Dan jikapun sholat dikerjakan tanpa wudlu lantaran kebodohan orang yang menunaikannya maka sholat itu tidak sah, tidak akan diterima dan tidak pula diberi balasan kebaikan oleh Allah Azza wa Jalla. Dari sebab itu wudlu adalah merupakan salah satu syarat penting dan pokok di dalam ibadah sholat.

1)). Sholat secara mutlak, yang wajib ataupun yang sunah.

Secara ijmak seluruh kaum muslimin di belahan bumi manapun, di era kapanpun dan di kondisi alam apapun, mereka memahami akan kewajiban wudlu ketika hendak mereka hendak menunaikan sholat, yang wajib ataupun yang sunnah. Tiada bedanya kaum perempuan atau kaum lelakinya, kaum tua ataupun kaum mudanya, golongan kaya ataupun golongan miskinnya, kalangan terpelajar ataupun kalangan biasanya dan seterusnya. Semuanya mereka meyakini akan wajibnya wudlu untuk menunaikan sholat baik yang wajib maupun yang sunnah.

Hal ini berdasarkan kepada dalil-dalil berikut ini,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَ أَيْدِيَكُمْ إِلَى اْلمـَرَافِقِ وَ امْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَ أَرْجُلَكُمْ إِلَى اْلكَعْبَيْنِ

Wahai orang-orang yang beriman apabila engkau hendak mengerjakan sholat maka basuhlah wajah dan tanganmu sampai ke siku, dan usaplah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. ((Q.S. al-Ma’idah/5: 6)).

Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Ayat ini memerintahkan berwudlu ketika berdiri untuk mengerjakan sholat  tetapi bagi orang yang berhadats hukumnya adalah wajib sedangkan yang masih suci hukumnya dianjurkan. Dan dikatakan juga bahwa perintah berwudlu setiap kali sholat adalah wajib di awal Islam kemudian mansukh (dihapus)”. [1]

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah,
“Terdapat perintah untuk bersuci dan juga terdapat penjelasan tentang kaifiyat (cara) berwudlu, mandi dan tayammum.

Terdapat penjelasan tentang udzur (alasan) bagi mukmin untuk mengganti wudlu dengan tayammum.
Terdapat penjelasan akan kewajiban wudlu dan mandi”. [2]

عن علي قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطَّهُوْرُ وَ تَحْرِيْمُهَا التَّكْبِيْرُ وَ تَحْلِيْلُهَا التَّسْلِيْمُ

Dari Ali radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam , “pembuka sholat adalah bersuci, pengharamnya adalah takbir dan penghalalnya adalah ucapan salam”. [HR Abu Dawud: 61, at-Turmudziy: 3, Ahmad: I/ 123, 129, ad-Darimiy: I/ 175 dari Ali, at-Turmudziy: 4, Ahmad: III/ 340 dari Jabir bin Abdullah dan Ibnu Majah: 275 dari Muhammad bin al-Hanafiyyah dari ayahnya, 276 dari Abu Sa’id al-Khudriy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih ]. [3]

عن ابن عباس أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم خَرَجَ مِنَ اْلخَلاَءِ فَقُرِّبَ إِلَيْهِ طَعَامٌ فَقَالُوْا: أَلاَ نَأْتِيْكَ بِوَضُوْءٍ؟ قَالَ: إِنمَّاَ أُمِرْتُ بِاْلوُضُوْءِ إِذَا قُمْتُ إِلىَ الصَّلاَةِ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah keluar dari jamban (wc). Lalu disodorkan kepadanya makanan. Mereka berkata, ”Bolehkah kami bawakan kepadamu air wudlu?”. Beliau menjawab, ”Aku hanyalah diperintahkan berwudlu apabila hendak berdiri mengerjakan sholat”. [HR at-Turmudziy: 1847, an-Nasa’iy: I/ 85-86 dan Abu Dawud: 3760. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

 عن أبي هريرة يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتىَّ يَتَوَضَّأَ قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتٍ: مَا اْلحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟ قَالَ: فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, ”telah bersbda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ”Tidak akan diterima sholat orang yang berhadats”. Seorang lelaki dari Hadlromaut bertanya, ”apakah hadats itu wahai Abu Hurairah?”. Ia menjawab, ”fusa’ (buang angin yang tidak berbunyi) dan dlurath (buang angin yang berbunyi)”. [HR al-Bukhoriy: 135, 6954, Muslim: 225, Abu Dawud: 60, at-Turmudziy: 76, Ibnu Khuzaimah: 11 dan Ahmad: II/ 308, 318. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih ]. [5]

Berkata asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam rahimahullah,
”Bahwa sholat orang yang berhadats itu tidak akan diterima sehingga ia suci dari dua hadat yaitu yang besar dan yang kecil.
Bahwasanya hadats itu merupakan penggugur wudlu dan pembatal sholat jika terjadi di dalamnya.
Yang dimaksud dengan tidak diterima (sholatnya) di sini adalah tidak benar sholatnya dan tidak mendapatkan balasan.
Hadits tersebut menunjukkan bahwasanya bersuci itu adalah merupakan salah satu dari syarat sahnya sholat”. [6]

عن مصعب بن سعد قَالَ: دَخَلَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ عَلَى ابِنْ عَامِرٍ يَعُوْدُهُ وَ هُوَ مَرِيْضٌ فَقَالَ: أَلاَ تَدْعُوا اللهَ ليِ يَا ابْنَ عُمُرُ ؟ قَالَ: إِنيِّ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طَهُوْرٍ وَ لاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُوْلٍ وَ كُنْتَ عَلَى اْلبَصْرَةِ

Dari Mush’ab bin Sa’d berkata, ”Ibnu Umar radliyallahu anhuma pernah masuk menjenguk Ibnu Amir yang sedang sakit”. Ibnu Amir berkata, ”Tidakkah engkau mendoakan kebaikan kepada Allah untukku wahai Ibnu Umar?”. Ibnu Umar menjawab, ”Sesungguhnya aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Sholat tidak akan diterima tanpa bersuci dan shodakoh tidak akan diterima dari hasil  khianat sedangkan engkau (adalah penguasa) atas Bashrah”. [HR Muslim: 224, at-Turmudziy: 1 dan Ahmad: II/ 39, 57. Mengeluarkan hadits ini juga Abu Dawud: 59, an-Nasa’iy: 1/ 88, ad-Darimiy: I/ 175 dari Abi al-Malih dari ayahnya, Ibnu Khuzaimah: 9, 10 dan Ibnu Majah: 271, 272 dari Usamah bin Umair al-Hadzliy, 273 dari Anas bin Malik, 274 dari Abi Bakrah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [7]

 عن أبي هريرة قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم  :لاَ صَلاَةَ لِمـَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ وَ لاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ تَعَالىَ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam , “Tiada sholat bagi orang yang tiada wudlu baginya dan tiada wudlu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah ta’ala atasnya”. [HR Abu Dawud: 101, Ibnu Majah: 399 dan Ahmad: II/ 418 darinya, Ibnu Majah: 398 dan ad-Daruquthniy: 226 dari Sa’id bin Zaid. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[8]

عَنْ سَعْدِ بْنِ عَمَّارَةَ أَخِي سَعْدِ بْنِ بَكْرٍ – وَ كَانَتْ لَهُ صُحْبَة ٌ– أَنَّ رَجُلاً قَالَ لَهُ: عِظْنيِ فىِ نَفْسِى يَرْحَمُكَ اللهُ قَالَ: إِذَا أَنْتَ قُمْتَ إِلىَ الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ اْلوُضُوْءَ فَإِنَّهُ لاَ صَلاَةَ لِمـَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ وَ لاَ إِيْمَانَ لِمـَنْ لاَ صَلاَةَ لَهُ ثُمَّ قَالَ: إِذَا أَنْتَ صَلَّيْتَ فَصَلِّ صَلاَةَ مُوَدَّعٍ وَ اتْرُكْ طَلَبَ كَثِيْرٍ مِنَ اْلحَاجَاتِ فَإِنَّهُ فَقْرٌ حَاضِرٌ وَ اجْمَعِ اْليَأْسَ مِمَّا فىِ أَيْدِي النَّاسِ فَإِنَّهُ هُوَ اْلغَنِيُّ وَ انْظُرْ إِلىَ مَا يَعْتَذِرُ مِنْهُ مِنَ اْلقَوْلِ وَ اْلِفْعِل فَاجْتَنِبْهُ

Dari Sa’d bin ‘Imarah saudaranya Sa’d bin Bakr – dan ia memiliki pershahabatan (dengannya)- bahwasanya ada seorang lelaki berkata kepadanya, “Nasihatilah aku mengenai diriku, semoga Allah merahmatimu”. Ia berkata, “Apabila engkau berdiri untuk sholat maka sempurnakanlah wudlu, karena tiada sholat bagi orang yang tiada wudlu baginya dan tiada iman bagi orang yang tiada sholat baginya”. Kemudian ia berkata lagi, “Apabila engkau sholat maka sholatlah dengan sholat muwadda’ (perpisahan), tinggalkan banyak permohonan dari berbagai keperluan karena hal tersebut merupakan kefakiran yang selalu ada, himpunlah keputusasaan dari apa yang ada pada tangan manusia kerena hal itu merupakan kekayaan dan perhatikan apa yang menjadi alasan dari ucapan dan tindakan lalu jauhilah”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Mu’jam al-Kabir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hadits ini isnadnya hasan]. [9]

Beberapa dalil dari alqur’an dan hadits di atas mengungkapkan dengan jelas akan wajibnya wudlu bagi orang yang berhadats apabila ingin menunaikan ibadah sholat baik yang wajib ataupun yang sunnah. Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan kepada kaum muslimin apabila hendak menunaikan sholat agar mereka berwudlu terlebih dahulu. Dan bahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengabadikan bahwasanya bersuci itu adalah kunci pembuka sholat yang tanpa kunci itu seorang muslim tidak boleh membuka dan memulai sholat. Dari sebab itu siapapun yang menunaikannya dalam keadaan hadats maka tidak akan diterima sholatnya sampai ia berwudlu dengan wudlu yang telah disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam.

2)). Thawaf di Baitullah.

Hal lainnya yang mewajibkan wudlu adalah thawaf di baitullah atau ka’bah. Sebab thawaf itu telah diserupakan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan sholat, hanyasaja thawaf itu diperbolehkan untuk berbicara, meskipun sedikit dan hanya mengandung kebaikan. Maka sebagaimana sholat diwajibkan wudlu atasnya maka thawafpun demikian pula, apalagi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sendiri melakukannya. Hal ini telah dipaparkan di dalam beberapa dalil hadits berikut ini,

عن ابن عباس رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: الطَّوَافُ حَوْلَ اْلبَيْتِ مِثْلُ الصَّلاَةِ إِلاَّ أَنَّكُمْ تَتَكَلَّمُوْنَ فِيْهِ فَمَنْ تَكَلَّمَ فِيْهِ فَلاَ يَتَكَلَّمُ إِلاَّ بِخَيْرٍ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Thawaf di sekitar baitullah (Ka’bah) adalah seperti sholat hanya saja kalian boleh berbicara padanya. Maka barangsiapa yang (ingin) berbicara maka janganlah ia berbicara melainkan kebaikan”. [HR at-Turmudziy: 960, ad-Darimiy: II/ 44, Ibnu Khuzaimah: 2739, al-Baihaqiy dan al-Hakim: 1729, 3110. Berkata asy-Syaikh al-Alabniy: Shahih]. [10]

عن طاووس عَنْ رَجُلٍ أَدْرَكَ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: الطَّوَافُ بِاْلبَيْتِ صَلاَةٌ فَأَقِلُّوْا مِنَ اْلكَلاَمِ

Dari Thowus dari seorang lelaki yang bertemu Nabi  Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Thawaf di Ka’bah  itu adalah sholat maka sedikitlah berbicara”. [Telah mengeluarkan atsar ini an-Nasa’iy: V/ 222 dan Ahmad: III/ 414, IV/ 64, V/ 377. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, ”Hadits ini menunjukkan bahwasanya sepatutnya thawaf itu dalam keadaan bersuci sebagaimana bersucinya sholat”. [12]

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قَالَ: أَقِلُّوا اْلكَلاَمَ فىِ الطَّوَافِ فَإِنمَّاَ أَنْتُمْ فىِ الصَّلاَةِ

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, ”Persedikit berbicara pada waktu thawaf karena kalian dalam sholat”. [Telah mengeluarkan atsar ini an-Nasa’iy: V/ 222. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih isnadnya mauquf ]. [13]

عن عروة قَالَ: أَخْبَرَتْنيِ عَائِشَةُ رضي الله عنها أَنَّ أَوَّلَ شَيْءٍ بَدَأَ بِهِ حِيْنَ قَدِمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم أَنَّهُ تَوَضَّأَ ثُمَّ طَافَ ثُمَّ لَمْ تَكُنْ عُمْرَةً ثُمَّ حَجَّ أَبُوْ بَكْرٍ وَ عُمَرُ رضي الله عنهما مِثْلَهُ

Dari Urwah berkata, “Aisyah radliyallahu anha mengkhabarkan kepadaku bahwasanya sesuatu yang pertama-tama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mulai ketika datang (ke Mekkah) adalah berwudlu lalu thowaf kemudian tidak menjadikannya sebagai umrah. Lalu Abu Bakar dan Umar radliyallahu anhuma berhaji sepertinya”. [HR al-Bukhoriy: 1614, 1641 dan Muslim: 1235. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[14]

Di dalam beberapa dalil hadits di atas, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mendudukkan thawaf di ka’bah sama seperti menunaikan ibadah sholat, hanya saja di dalam thawaf diperbolehkan berbicara. Maka jika seseorang sedang melakukan thawaf dan keadaannya mengharuskan berbicara hendaklah ia mempersedikit bicara atau ia tidak berbicara melainkan kebaikan. Di samping itu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang wanita yang sedang haidl dan nifas untuk melakukan thawaf [15] di dalam menunaikan ibadah haji atau umrah, sama seperti dilarangnya mereka dari mengerjakan sholat. Dengan dasar inilah maka diwajibkan berwudlu ketika menunaikan ibadah thawaf, apalagi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sendiri telah melakukannya sebagaimana di dalam hadits dari Aisyah radliyallahu anha di atas.

Wallahu a’lam.



[1] Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim: II/ 29.
[2]  Aysar at-Tafasir: I/ 601.
[3]  Shahih Sunan Abi Dawud: 55, Shahih Sunan at-Turmudziy: 3, 4, Shahih Sunan ibni Majah: 222, 223, Irwa’ al-Ghalil: 301, Sifat sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 59, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5885 dan Misykah al-Mashobih: 312, 313.
[4] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1506, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 128, Shahih Sunan Abi Dawud: 3197, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2337 dan Mukhtashor asy-Syama’il al-Muhammadiyyah: 158.
[5] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 90, Shahih Sunan Abi Dawud: 53, Shahih Sunan at-Turmudziy: 66, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7382, 7745 dan Misykah al-Mashobih: 300.
[6]  Taysir al-Allam: I/ 26.
[7] Mukhtshor Shahih Muslim: 104, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1, Shahih Sunan Abi Dawud: 53, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 135, Shahih Sunan Ibni Majah: 219, 218, 220, 221, Irwa’ al-Ghalil: 120, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7284, 7746 dan Misykah al-Mashobih: 301.
[8]  Shahih Sunan Abi Dawud: 92, Shahih Sunan Ibni Majah: 320, 319, Irwa’ al-Ghalil: 81, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7514, Misykah al-Mashobih: 404, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 198, Nail al-Awthar bi takhriij Ahadits Kitab al-Adzkar: 75 dan al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalim ath-Thayyib halaman 337.
[9]  Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: IV/ 545-546.
[10] Shahih Sunan at-Turmudziy: 767, Irwa’ al-Ghalil: 121, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3954, 3955, 3956 dan Misykah al-Mashobih: 2576.
[11] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2735 dan Irwa’ al-Ghalil: I: 156.
[12] Nail al-Awthar: I/ 261
[13] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2736.
[14] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 809 dan Irwa’ al-Ghalil: 1093.
[15] Untuk lebih jelasnya, baca kitab Hajjah an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam kama rowaha anhu Jabir radliyallahu anhu halaman 68-69 nomor 54 dan Irwa’ al-Ghalil: 191. Kedua kitab yang sangat berkwalitas tersebut disusun oleh asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah.

SEMPURNAKAN WUDLU ANDA AGAR BERNILAI !!…

KEUTAMAAN WUDLU

بسم الله الرحمن الرحيم

1). Merupakan bukti keimanan.

Bersuci itu sangat dianjurkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam dan bahkan di dalam hal-hal tertentu diwajibkan. Mandi, wudlu dan tayammum adalah merupakan bentuk nyata dari bersuci sehingga beliau Shallalahu alaihi wa sallam menggolongkannya ke dalam bentuk perwujudan dari keimanan seseorang. Tidak sah sholat seseorang jika tidak disertai dengan bersuci, apakah dengan wudlu atau tayammum apalagi jika orang yang sholat itu dalam keadaan junub. Maka wudlu dan tayammumnya itu tidaklah mencukupi kecuali bila didahului oleh mandi janabat. Begitu pula perempuan yang telah lewat masa haidl atau nifasnya, lalu ia sholat tanpa mandi haidl atau nifas maka tertolak pulalah sholatnya.

Namun hal tersebut dapat ditolerir jika orang yang junub atau perempuan yang telah lewat masa haidl atau nifasnya tersebut tidak mendapati air untuk mandi atau akan binasa jika mandi maka bolehlah baginya untuk berwudlu saja atau bahkan bertayammum. Maka dari sebab itu seorang mukmin selalu menjaga dirinya agar selalu suci dan bersih baik secara lahiriyah dan bathiniyah.

عن أبي مالك الأشعري قَالَ: قَالَ رَسُـوُلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم :الطَّهُوْرُ شَطْرُ اْلإِيمْانِ وَاْلحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ اْلمـِيْزَانَ وَسُبْحَانَ اللهِ وَاْلحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلآنِ (أَوْ تَمْلَأُ) مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَ اْلأَرْضِ وَ الصَّلاَةُ نُوْرٌ وَ الصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَ الصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَ اْلقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَايَعَ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوْبِقُهَا

Dari Abu Malik al-Asy’ariy radliyallahu anhu berkata, “telah bersabda Rosululllah Shallalahu alaihi wa sallam, “Bersuci adalah separuh iman, alhamdu lillah  memenuhi timbangan, subhanallah dan alhamdu lillah memenuhi apa yang ada antara langit dan bumi, sholat adalah cahaya, shodakoh merupakan bukti, sabar merupakan sinar penerang dan alqur’an adalah hujjah yang menguntungkan atau merugikan bagimu. Semua manusia berangkat di waktu pagi lalu ia memperniagakan dirinya apakah ia dapat membebaskan dirinya (dari kebinasaan) ataukah malah menghancurkannya”. [HR Muslim: 223, Ibnu Majah: 280 dan Ahmad: V/ 342, 343, 344. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [1]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah,,,, “Terdapat keutamaan wudlu di dalam Islam. Yakni merupakan syarat shahnya sholat maka hal ini seperti diibaratkan seperti separuh. Namun bukan tetap darinya menjadi setengah yang hakiki”.[2]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Ini adalah bersuci yang manusia kerapkali bersuci secara hissiyah (nyata) dan maknawiyah (abstrak) dari segala kotoran. Oleh sebab itulah Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam telah menjadikannya menjadi separuh iman”. [3]

Katanya lagi di dalam kitabnya yang lain, “Dikatakan, sesungguhnya maknanya adalah bahwa bersuci untuk sholat itu separuh dari iman. Karena sholat itu adalah merupakan keimanan dan sholat itu tidaklah sempurna kecuali dengan bersuci”. [4]

عن ثوبان قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : اسْتَقِيْمُوْا وَ لَنْ تُحْصُوْا وَ اعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ وَ لاَ يُحَافِظُ عَلَى اْلوُضُوْءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ

Dari Tsauban berkata, telah bersabda Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam, ”Istikomahlah kalian, dan kalian tiada dapat menghitung. Ketahuilah bahwasanya sebaik-baik amal kalian adalah sholat dan tiada yang dapat memelihara wudlu kecuali seorang mukmin”. [HR Ibnu Majah: 277, 278 dari Abdullah bin Amr, Ahmad: V/ 276-277, 282, al-Hakim: 459, ad-Darimiy: I/ 168 dan Malik: I/ 58. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [5]

2). Merupakan bukti keislaman.

Hadits berikut ini menjelaskan bahwa mandi janabat dan menyempurnakan wudlu sebagaimana diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla dan dicontohkan oleh Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam termasuk dari ajaran Islam yang disejajarkan dengan rukun-rukun Islam yang lainnya. Maka seorang muslim itu mesti menjaga rukun-rukun tersebut jika ia ingin sempurna keislamannya.

عن عمر بن الخطاب قَالَ: بَيْنَمَا َنحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فىِ أُنَاسٍ إِذْ جَاءَ رَجُلٌ لَيْسَ عَلَيْهِ سَحْنَاءُ سَفَرٍ وَ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ اْلبَلَدِ يَتَخَطَّى حَتىَّ وَرَدَ فَجَلَسَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ مَا اْلإِسْلاَمُ؟ قَالَ: اْلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ وَ أَنْ تُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَ تُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَ تَحُجَّ اْلبَيْتَ وَ تَعْتَمِرَ وَ تَغْتَسِلَ مِنَ اْلجَنَابَةِ وَ أَنْ تُتِمَّ اْلوُضُوْءَ وَ تَصُوْمَ رَمَضَانَ قَالَ: فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ فَأَنَا مُسْلِمٌ ؟ قَالَ: نَعَمْ قَالَ: صَدَقْتَ

Dari Umar bin al-Khoththob radliyallahu anhu berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di sisi Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam di tengah-tengah manusia, tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang tiada padanya bekas perjalanan dan tiada pula seorang penduduk yang mengenalnya. Sehingga ia datang dan duduk di hadapan Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam. Ia berkata, “Ya Muhammad ! apakah Islam itu?”. Beliau menjawab, “Islam itu ialah engkau mempersaksikan bahwasanya tiada sesembahan yang pantas disembah selain Allah dan bahwasanya Muhammad itu adalah utusan Allah, engkau menegakkan sholat, membayar zakat, menunaikan ibadah haji, berumrah, mandi janabah, menyempurnakan wudlu dan shoum di bulan Ramadlan”. Ia bertanya lagi, ”Apakah jikalau aku mengerjakannya maka aku seorang muslim?”. Beliau menjawab, ”Ya”. Ia berkata, ”engkau benar”. [HR  Ibnu Khuzaimah: 1 di dalam kitab shahihnya dan hadits ini ada di dalam kitab al-Bukhariy, Muslim dan selain keduanya yang semisalnya dengan selain sitiran ini. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

 3). Merupakan penghapus dosa dan pengangkat derajat.

Di antara manfaat dan keutamaan lain dari wudlu yang telah dijelaskan oleh Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam adalah dapat menghapuskan dosa-dosa kecil yang pernah dikerjakan oleh orang tersebut sebelum ia berwudlu. Maka keutamaan wudlu ini jelas sangat diharapkan dan didambakan oleh setiap manusia yang niscaya selalu bergelimang dengan dosa-dosa, kesalahan dan kekeliruan. Apalagi jika penghapusan dosa tersebut diiringi dengan pengangkatan derajat, yang amat disukai oleh mereka.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم قَالَ: أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ اْلخَطَايَا وَ يَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوْا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: إِسْبَاغُ اْلوُضُوْءِ عَلَى اْلمـَكَارِهِ وَ كَثْرَةُ اْلخُطَا إِلىَ اْلمـَسَاجِدِ وَ انْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Maukah kutunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya, Allah akan menghapuskan dosa-dosa dan mengangkat beberapa derajat”. Mereka menjawab, “Ya wahai Rosulullah”. Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudlu pada saat yang tidak disukai, banyak langkah menuju masjid dan menunggu sholat setelah mengerjakan sholat maka itulah persiapan”. [HR Muslim: 251, at-Turmudziy: 51, an-Nasa’iy: I/ 89-90, Ibnu Majah: 428, Ibnu Khuzaimah: 5 dan Ahmad: II/ 235, 277, 301, 438. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [7]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilali hafizhohullah, “Terdapat motivasi untuk senantiasa menyempurnakan anggota-anggota wudlu dengan membasuh, mengusap, dan membaguskannya kendatipun di dalam hal tersebut terdapat kesulitan dan kepayahan”. [8]

Jikalau diperhatikan dengan seksama, ternyata Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam telah menerangkan salah satu faidah dan keutamaan menyempurnakan wudlu adalah dapat menghapuskan dosa-dosa kecil yang pernah dikerjakan oleh seseorang dan dengan itu pulalah terangkat derajatnya di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka tiada yang mencegah setiap orang yang selalu mendambakan terhapusnya dosa dan terangkatnya derajat melainkan dengan senantiasa menyempurnakan wudlunya sesuai dengan tuntunan syariat meskipun pada waktu-waktu yang tidak menyenangkan lagi menyulitkan. Misalnya; pada waktu udara yang amat dingin, hujan turun dengan sangat lebat, angin bertiup kencang, malam yang gelap gulita lantaran lampu penerangan padam dan lain sebagainya.

4). Merupakan penambah kebaikan.

Tak hanya sebagai penghapus dosa dan pengangkat derajat, tetapi juga dapat menambah kebaikan-kebaikan bagi orang yang melakukannya. Apalagi jika diiringi dengan melangkahkan kakinya menuju masjid untuk menunaikan sholat secara berjamaah, misalnya.

عن أبي سعيد الخدري أَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ اْلخَطَايَا وَ يَزِيْدُ بِهِ فىِ اْلحَسَنَاتِ ؟ قَالُوْا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: إِسْبَاغُ اْلوُضُوْءِ عَلَى اْلمـَكَارِهِ وَ كَثْرَةُ اْلخُطَا إِلىَ اْلمـَسَاجِدِ وَ انْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu bahwasanya ia pernah mendengar Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Maukah kutunjukkan kepada kalian sesuatu yang dapat menghapuskan dosa dan menambah kebaikan dengannya?”. Mereka menjawab, “Ya, wahai Rosulullah”. Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudlu pada saat yang tidak disukai, banyak langkah menuju masjid dan menunggu sholat setelah mengerjakan sholat”. [HR Ibnu Majah: 427 dan Ahmad: III/ 3. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [9]

عن ابن عمر رضي الله عنهما أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ اْلوُضُوْءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلىَ اْلمـَسْجِدِ لاَ يَنْزِعُهُ إِلاَّ الصَّلاَةَ لَمْ تَزَلْ رِجْلُهُ اْليُسْرَى تَمْحُوْ سَيِّئَةً وَ تَكْتُبُ اْلأُخْرَى حَسَنَةً حَتىَّ يَدْخُلَ اْلمـَسْجِدِ

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang diantara kalian berwudlu lalu ia membaguskan wudlunya kemudian keluar menuju masjid yang tidaklah ia pergi melainkan untuk mengerjakan sholat maka senantiasa kakinya yang kiri itu menghapuskan satu kesalahan dan kakinya yang lain mencatat satu kebaikan sehingga ia memasuki masjid”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Kabiir dan al-Hakim: 821. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

عن سعيد بن المسيب قَالَ: حَضَرَ رَجُلاً مِنَ اْلأَنْصَارِ اْلمـَوْتُ فَقَالَ: إِنيِّ مُحَدِّثُكُمْ حَدِيْثًا مَا أُحَدِّثُكُمُوْهُ إِلاَّ احْتِسَابًا سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ اْلوُضُوْءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلىَ الصَّلاَةِ لَمْ يَرْفَعْ قَدَمَهُ اْليُمْنىَ إِلاَّ كَتَبَ اللهُ  عز و جل لَهُ حَسَنَةً وَ لَمْ يَضَعْ قَدَمَهُ اْليُسْرَى إِلاَّ حَطَّ اللهُ عز و جل عَنْهُ سَيِّئَةً فَلْيُقَرِّبْ أَحَدُكُمْ أَوْ لِيُبَعِّدْ فَإِنْ أَتَى اْلمـَسْجِدَ فَصَلَّى فىِ جَمَاعَةٍ غُفِرَ لَهُ فَإِنْ أَتَى اْلمـَسْجِدَ وَ قَدْ صَلَّوْا بَعْضًا وَ بَقِيَ بَعْضٌ صَلَّى مَا أَدْرَكَ وَ أَتَمَّ مَا بَقِيَ كَانَ كَذَلِكَ فَإِنْ أَتَى اْلمـَسْجِدَ وَ قَدْ صَلَّوْا فَأَتَمَّ الصَّلاَةَ كَانَ كَذَلِكَ

Dari Sa’id bin al-Musayyab radliyallahu anhu berkata, Pernah datang kematian kepada seorang lelaki dari golongan Anshor. Ia berkata, ”Aku akan ceritakan kepada kalian suatu hadits yang tiadalah aku ceritakan kepada kalian melainkan dalam rangka mencari pahala. Aku pernah mendengar Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda, ”Apabila seseorang diantara kalian berwudlu lalu ia membaguskan wudlunya kemudian keluar menuju masjid tidaklah ia mengangkat kakinya yang kanan melainkan Allah Azza wa Jalla mencatat untuknya satu kebaikan. Tidaklah ia meletakkan kakinya yang kiri melainkan Allah Azza wa Jalla menghapus satu kesalahan darinya. Maka mendekatlah seseorang dari kalian atau menjauhlah (darinya). Jika ia datang ke masjid lalu sholat bersama jama’ah maka diampunilah (dosa-dosa)nya. Apabila ia mendatangi masjid dan manusia telah sholat sebahagian dan tersisa sebahagian  maka ia sholat apa yang ia dapat dan menyempurnakan yang tersisa, maka (pahalanya juga) seperti itu. Jika ia mendatangi masjid dan manusia telah selesai menunaikan sholat lalu ia tetap menyempurnakan sholat maka (pahalanya) seperti itu pula”. [HR Abu Dawud: 563. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

Beberapa dalil hadits di atas menerangkan tentang keutamaan wudlu yaitu menghapuskan dosa dan dapat menambah kebaikan kepada orang yang mengerjakannya. Lalu jika diiringi dengan melangkahkan kaki ke masjid untuk menunaikan sholat maka setiap langkah kakinya yang kanan akan menambahkan kebaikan baginya dan setiap langkah dari kakinya yang kiri akan menghapuskan dosa atau kesalahan darinya.

5). Merupakan kifarat (penghapus dosa).

عن ابن عباس قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم :أَتَانِيَ اللَّيْلَةَ رَبيِّ تَبَارَكَ وَ تَعَالىَ فىِ أَحْسَنَ صُوْرَةٍ –قَالَ: أَحْسَبُهُ فىِ اْلمـَنَامِ- فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ هَلْ تَدْرِي فِيْمَ يَخْتَصِمُ اْلمـَلَأُ اْلأَعْلَى؟ قَالَ: قُلْتُ: لاَ قَالَ: فَوَضَعَ يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيَّ حَتىَّ وَجَدْتُ بَرْدَهَا بَيْنَ ثُدَيَّي –أَوْ قَالَ: فىِ نَحْرِي- فَعَلِمْتُ مَا فىِ السَّمَوَاتِ وَ مَا فىِ اْلأَرْضِ قَالَ: يَا ُمحَمَّدُ هَلْ تَدْرِي فِيْمَ يَخْتَصِمُ اْلمَلأُ اْلأَعْلَى؟ قُلْتُ: نَعَمْ قَالَ: فىِ اْلكَفَّارَاتِ وَ اْلكَفَّارَاتُ اْلمـَكْثُ فىِ اْلمـَسَاجِدِ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ وَ اْلمـَشْيُ عَلَى اْلأَقْدَامِ إِلىَ اْلجَمَاعَاتِ وَ إِسْبَاغُ اْلوُضُوْءِ فىِ اْلمـَكَارِهِ وَ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ عَاشَ بِخَيْرٍ وَ مَاتَ بِخَيْرٍ وَ كَانَ مِنْ خَطِيْئَتِهِ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ وَ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ إِذَا صَلَّيْتَ فَقُلْ: اَللَّهُمَّ إِنيِّ أَسْأَلُكَ فِعْلَ اْلخَيْرَاتِ وَ تَرْكَ اْلمـُنْكَرَاتِ وَ حُبَّ اْلمـَسَاكِيْنِ وَ إِذاَ أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنىِ إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُوْنٍ قَالَ: وَ الدَّرَجَاتُ إِفْشَاءُ السَّلاَمِ وَ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَ الصَّلاَةُ بِاللَّيْلِ وَ النَّاسُ نِيَامٌ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, “Telah bercerita Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam, “Pada suatu malam Rabb-ku Tabaroka wa ta’ala pernah mendatangiku di dalam seelok-eloknya rupa”. Ia berkata, ”-Aku menduganya di dalam tidur-. Allah berfirman, ”Ya Muhammad, apakah engkau tahu karena apakah para malaikat  yang tertinggi itu berselisih?”. Beliau menjawab, ”aku berkata, ”tidak”. Beliau bersabda, ”Lalu Allah meletakkan tangannya di antara dua pundakku sehingga aku dapati rasa dingin di antara dadaku. Lalu aku mangetahui apa yang ada di langit dan bumi”. Allah berfirman, ”Ya Muhammad apakah engkau tahu karena apakah para malaikat yang tertinggi itu berselisih?”. Aku menjawab, ”Ya”. Kemudian Beliau bersabd, ”tentang kifarat”. Kifarat adalah berdiam di masjid  setelah menunaikan sholat, melangkahkan kaki menuju jama’ah dan menyempurnakan wudlu di saat yang tidak disukai. Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu maka ia hidup dengan kebaikan dan mati dengan kebaikan pula, dan dosanya laksana dilahirkan oleh ibunya”. Allah berfirman, “Ya Muhammad, apabila engkau sholat maka ucapkanlah,

 اَللَّهُمَّ إِنيِّ أَسْـأَلُكَ فِعْلَ اْلخَيْرَاتِ وَ تَرْكَ اْلمـُنْكَرَاتِ وَ حُبَّ اْلمـَسَاكِيْنِ وَ إِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنىِ إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُوْنٍ

(artinya; Ya Allah aku memohon kepada-Mu mengerjakan kebaikan, meninggalkan kemungkaran dan mencintai kaum miskin. Dan apabila Engkau menghendaki fitnah kepada para hamba-Mu maka wafatkanlah aku dalam keadaan tiada terfitnah).  Beliau bersabda, ”(mereka berselisih juga) tentang derajat, yaitu menyebarluaskan salam, memberi makan dan sholat di waktu malam sedangkan manusia dalam keadaan terlelap”. [HR  at-Turmudziy: 3233, 3234 dan Ahmad: I/ 368. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

Di dalam riwayat yang lain dari Mu’adz bin Jabal radliyallahu anhu berkata, ”Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda,

(اْلكَفَّارَاتُ) مَشْيُ اْلأَقْدَامِ إِلىَ اْلحَسَنَاتِ وَ اْلجُلُوْسُ فىِ اْلمـَسَاجِدِ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ وَ إِسْبَاغُ اْلوُضُوْءِ حِيْنَ اْلكَرِيْهَاتِ

“(Kifarat itu adalah) melangkahkan kaki menuju kebaikan, duduk di dalam masjid setelah menunaikan sholat dan menyempurnakan wudlu di saat yang tidak disukai”. [HR at-Turmudziy: 3235 dan Ahmad: V/ 243. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

Ada juga riwayat yang lainnya dari jalan Ibnu Umar radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda,

وَ أَمَّا اْلكَفَّارَاتُ فَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ وَ إِسْبَاغُ اْلوُضُوْءِ فىِ السَّبُرَاتِ  وَ نَقْلُ اْلأَقْدَامِ إِلىَ اْلجَمَاعَاتِ

“Dan adapun kifarat itu adalah menunggu sholat setelah menunaikan sholat, menyempurnakan wudlu ketika cuaca sangat dingin dan melangkahkan kaki menuju jama’ah”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Awsath dan diriwayatkan juga dari Anas bin Malik, Ibnu Abbas, Abu Hurairah dan Abdullah bin Abi Afwa. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Maka hadits ini dengan sekumpulan jalannya insyaa Allah sedikitnya adalah hasan]. [14]

عن عمرو بن سعيد بن العاص قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ عُثْمَانَ فَدَعَا بِطَهُوْرٍ فَقَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوْبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوْءَهَا وَ خُشُوْعَهَا وَ رُكُوْعَهَا إَلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمـَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوْبِ مَالَمْ يُؤْتِ كَبِيْرَةً وَ ذَلِكَ الدَّهْرُ كُلُّهُ

Dari Amr bin Sa’id bin al-Ash berkata, “aku pernah di sisi Utsman radliyallahu anhu, lalu ia menyuruh mengambil air untuk bersuci”. Lalu berkata, “aku pernah mendengar Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “tiada seseorang yang kedatangan waktu sholat wajib lalu ia membaguskan wudlu, khusyu dan rukunya melainkan sebagai kifarat apa yang sebelumnya dari dosa-dosa selama ia tidak mengerjakan kaba’ir (dosa besar).Dan itulah masa seluruhnya”. [HR Muslim: 228. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

عن حمران بن أبان قَالَ: كُنْتُ أَضَعُ لِعُثْمَانَ طَهُوْرَهُ فَمَا أَتَى عَلَيْهِ يَوْمٌ إِلاَّ وَ هُوَ يُفِيْضُ عَلَيْهِ نُطْفَةً وَ قَالَ عُثْمَانُ: حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عِنْدَ انْصِرَافِنَا مِنْ صَلاَتِنَا هَذِهَ (قَالَ مِسْعَرٌ: أَرَاهَا اْلعَصْرَ) فَقَالَ: مَا أَدْرِي أُحَدِّثُكُمْ بِشَيْءٍ أَوْ أَسْكُتُ؟ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنْ كَانَ خَيْرًا فَحَدِّثْنَا وَ إِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ فَاللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ قَالَ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَطَهَّرُ فَيُتِمُّ الطَّهُوْرَ الَّذِى كَتَبَ اللهُ عَلَيْهِ فَيُصَلِّي هَذِهِ الصَّلَوَاتِ اْلخَمْسَ إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَاتٍ لمِـَا بَيْنَها

Dari Hamran bin Aban berkata, ”Aku adalah orang yang meletakkan air untuk bersuci bagi Utsman. Tidaklah datang atasnya suatu hari melainkan ia menuangkan air atas maninya”. Utsman berkata, ”Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam pernah menceritakan sesuatu kepada kami ketika selesainya beliau dari sholat (berkata Mas’ar, yaitu sholat ashar)”. Beliau bersabda, ”Aku tidaklah mengetahui apakah akan kuceritakan sesuatu kepada kalian atau aku diam?”. Kami menjawab, ”Wahai Rosulullah jikalau hal itu suatu kebaikan maka ceritakanlah kepada kami tetapi jika tidak Allah dan Rosul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda, ”Tidaklah seorang muslim bersuci lalu menyempurnakan bersucinya sebagaimana yang ditetapkan Allah lalu mengerjakan sholat yang lima (waktu) melainkan sebagai kifarat bagi apa yang di antaranya”. [HR Muslim: 231. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [16]

Perhatikan betapa indah dan eloknya ajaran Islam yang telah mendudukkan dan menempatkan thaharah di tempat yang teramat penting. Tanpa iming-imingpun, setiap manusia biasanya mempunyai keinginan untuk selalu membersihkan dan mensucikan dirinya, karena hal itu merupakan salah satu kebutuhan mereka. Tetapi ajaran Islam telah menambahkan semangat untuk melakukannya, meskipun hanya sekedar menjaga kesempurnaan wudlu. Wudlu telah dijuluki oleh Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam dengan sebutan kiffarat yaitu penghapus dosa. Maka itulah yang sebenarnya terjadi dan benar tiada keraguan jika dikerjakan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, terlebih-lebih apabila disambung dengan menunaikan sholat.

6). Merupakan penggugur dosa.

Di antara keutamaannya lagi adalah menggugurkan dosa dan kesalahan, yakni ketika seorang muslim berwudlu maka air wudlu itu akan menetes membawa dosa-dosa yang telah dikerjakan oleh anggota-anggota wudlu muslim tersebut.

عن أبي أمامة قَالَ: قَالَ عَمْرٌو بْنُ عَبَسَةَ السُّلَمِيُّ: فَقُلْتُ: يَا نَبِيِّ اللهِ فَالْوُضُوْءُ؟ حَدِّثْنىِ عَنْهُ! قَالَ: مَا مِنْكُمْ رَجُلٌ يُقَرِّبُ وَضُوْءَهُ فَيَتَمَضْمَضُ وَ يَسْتَنْشِقُ فَيَنْتَثِرُ إِلاَّ خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ وَ فِيْهِ وَ خَيَاشِيْمِهِ ثُمَّ إِذاَ غَسَلَ وَجْهَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ إِلاَّ خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ مِنْ أَطْرَافِ لِحْيَتِهِ مَعَ اْلمَاءِ ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إِلىَ اْلمـِرْفَقَيْنِ إِلاَّ خَرَّتْ خَطَايَا يَدَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ اْلمَاءِ ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ إِلاَّ خَرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ مِنْ أَطْرَافِ رَأْسِهِ مَعَ اْلمَاءِ ُثمَّ يَغْسِلُ قَدَمَيْهِ إِلىَ اْلكَعْبَيْنِ إِلاَّ خَرَّتْ خَطَايَا رِجْلَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ اْلمَاءِ فَإِنْ هُوَ قَامَ فَصَلَّى فَحَمِدَ اللهَ وَ أَثْنىَ عَلَيْهِ وَ مَجَّدَهُ بِالَّذِى هُوَ لَهُ أَهْلٌ وَ فَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ إِلاَّ انْصَرَفَ مِنْ خَطِيْئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Dari Abu Umamah berkata, berkata Amr bin Abasah as-Sulamiy, “Aku bertanya, “wahai Nabiyullah apakah wudlu itu?, ceritakanlah kepadaku!”. Beliau menjawab, “Tidaklah seseorang di antara kalian yang mendekati air wudlunya lalu ia berkumur-kumur, beristinsyaq (menghirup air melalui hidung) lalu istintsar (menyemburkannya lewat hidung pula), melainkan gugurlah dosa-dosa wajah, mulut dan hidungnya. Kemudian membasuh muka sebagaimana diperintahkan Allah melainkan gugurlah dosa-dosa wajahnya dari ujung-ujung jenggotnya bersama tetesan air. Lalu membasuh kedua tangannya sampai kedua siku melainkan akan gugurlah dosa-dosa tangannya dari jari jemarinya bersama tetesan air. Lalu mengusap kepalanya melainkan gugurlah dosa-dosa kepalanya dari ujung-ujung kepalanya bersama tetesan air. Lalu membasuh kedua kakinya sampai kedua mata kaki melainkan gugurlah dosa-dosa kakinya dari jari jemarinya bersama tetesan air. Maka jika ia berdiri, menunaikan sholat dan memuji, menyanjung dan mengagungkan Allah yang memang Ia adalah Pemiliknya, serta mengosongkan hatinya hanya bagi Allah melainkan ia pergi berpaling dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ia dilahirkan oleh ibunya”. [HR Muslim: 832, an-Nasa’iy: I/ 91-91 dan Ahmad: IV/ 112. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [17]

عن عمرو بن عبسة قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم :إِنَّ اْلعَبْدَ إِذَا تَوَضَّأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ خَرَّتْ خَطَايَاهُ مِنْ يَدَيْهِ فَإِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ خَرَّتْ خَطَايَاهُ مِنْ وَجْهِهِ فَإِذَا غَسَلَ ذِرَاعَيْهِ وَ مَسَحَ بِرَأْسِهِ خَرَّتْ خَطَايَاهُ مِنْ ذِرَاعَيْهِ وَ رَأْسِهِ فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَّتْ خَطَايَاهُ مِنْ رِجْلَيْهِ

Dari Amr bin Abasah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya seorang hamba itu apabila berwudlu, lalu mencuci kedua tangannya maka gugurlah dosa-dosanya dari kedua tangannya. Apabila ia membasuh wajahnya gugurlah dosa-dosanya dari wajahnya. Apabila ia membasuh kedua lengannya dan mengusap kepalanya maka gugurlah dosa-dosanya dari kedua lengan dan kepalanya. Dan apabila ia membasuh kedua kakinya maka gugurlah dosa-dosanya dari kedua kakinya”. [HR Ibnu Majah: 283. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

 عن أبي هريرة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِذَا تَوَضَّأَ اْلعَبْدُ اْلمـُسْلِمُ (أَوِ اْلمـُؤْمِنُ) فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيْئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ اْلمـَاءِ (أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ اْلمـَاءِ) فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيْئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ اْلمـَاءِ (أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ اْلمـَاءِ) فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيْئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلاَهُ مَعَ اْلمـَاءِ (أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ اْلمـَاءِ) حَتىَّ يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوْبِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang hamba muslim (atau mukmin) berwudlu, lalu ia membasuh wajahnya maka keluarlah dari wajahnya segala dosa yang ia memandang dengan kedua matanya bersama tetesan air (atau bersama akhir tetesan air), Apabila ia membasuh kedua tangannya maka keluarlah dari kedua tangannya semua dosa yang dipegang oleh kedua tangannya bersama tetesan air. Dan apabila ia membasuh kedua kakinya maka keluarlah seluruh dosa yang kedua kakinya melangkah kepadanya bersama tetesan air sehingga ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa”. [HR Muslim: 244, at-Turmudziy: 2, Ahmad: II/ 303, ad-Darimiy: I/ 183, Ibnu Khuzaimah: 4 dan Malik: I/ 56-57. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [19]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, ”Terdapat keutamaan wudlu dan bahwasanya melanggengkannya itu merupakan sarana untuk diampuninya dosa-dosa. Setiap anggota dari anggota wudlu manusia itu niscaya terjatuh ke dalam sebahagian perbuatan maksiat. Mata dengan melihat dan tangan dengan memegang, mencuri dan semisal itu. Oleh sebab itu dosa-dosa itu senantiasa mengikuti setiap anggota badan yang melakukannya. Dan keluar dari setiap anggota badan yang bertaubat darinya”. [20]

Katanya lagi, “Tiap-tiap anggota (tubuh) pada manusia itu ada dosa-dosa yang dikerjakannya. Maka sudah seharusnya seorang hamba itu membentengi anggota-anggota (tubuh)nya dari segenap perbuatan maksiat. Wudlu itu dapat menghapuskan dosa dari anggota-anggota (tubuh) yang mengalir air atasnya”.  [21]

عن عثمان بن عفان رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ اْلوُضُوْءَ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتىَّ تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ

Dari Utsman bin Affan radliyallahu anhu berkata, “telah bersabda Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang berwudlu lalu ia membaguskan wudlunya, maka keluarlah dosa-dosanya dari tubuhnya sehingga keluar dari celah-celah kukunya”. [HR Muslim: 245 dan Ahmad: I/ 66. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [22]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, [23]

“Terdapat penjelasan akan keutamaan wudlu, bahwasanya ia adalah penghapus dari dosa-dosa.
Terdapat penjelasan akan syarat keluarnya dosa-dosa itu adalah dengan membaguskan wudlu dan melakukannya sesuai dengan arahnya sebagaimana telah diterangkan oleh Nabi Shallalahu alaihi wa sallam kepada umatnya.
Dosa-dosa itu dapat dijumpai pada tubuh dan tubuh itu adalah merupakan wadah tempatnya.
Terdapat penjelasan akan pengaruh wudlu atas tubuh sehingga wudlu itu dapat mengeluarkan dosa-dosa dari tubuh seukuran dengan bagusnya wudlu tersebut sehingga dosa-dosa itu keluar dari celah-celah kukunya”.

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Keluar dosa-dosanya dari sebab wudlu sehingga (keluar) dari bawah celah kukunya. Atas dasar inilah, maka wudlu itu menjadi penyebab akan terhapusnya dosa-dosa sehingga dari tempat yang paling kecil (halus) yaitu yang berada di bawah kuku. Hadits-hadits ini dan yang semisalnya menunjukkan bahwasanya wudlu itu adalah termasuk dari seutama-utama ibadah. Bahwa ibadah itu sudah sepatutnya bagi manusia agar berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengannya. Yaitu ia menghadirkan (niat) sedangkan ia sedang berwudlu untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sebagaimana bila ia melakukan sholat”. [24]

عن عبد الله الصنابحي عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَنْ تَوَضَّأَ فَمَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ فِيْهِ وَ أَنْفِهِ فَإِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ وَجْهِهِ حَتىَّ تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَشْفَارِ عَيْنَيْهِ فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ يَدَيْهِ فَإِذَا مَسَحَ بِرَأْسِهِ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ رَأْسِهِ حَتىَّ تَخْرُجَ مِنْ أُذُنَيْهِ فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ رِجْلَيْهِ حَتىَّ تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِ رِجْلَيْهِ وَ كَانَتْ صَلاَتُهُ وَ مَشْيُهُ إِلىَ اْلمـَسْجِدِ نَافِلَةً

Dari Abdullah ash-Shonabihiy radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berwudlu lalu berkumur-kumur dan beristinsyaq keluarlah dosa-dosanya dari mulut dan hidungnya. Apabila ia membasuh wajahnya maka keluarlah dosa-dosanya dari wajahnya sehingga keluar dari bawah ujung kedua matanya. Apabila ia membasuh kedua tangannya keluarlah dosa-dosanya dari kedua tangannya. Apabila ia mengusap kepalanya keluarlah dosa-dosanya dari kepalanya sehingga keluar dari kedua telinganya. Dan apabila ia membasuh kedua kakinya keluarlah dosa-dosanya dari kedua kakinya sehingga keluar dari kuku kedua kakinya. Adapun sholat dan melangkahnya ia menuju masjid merupakan satu tambahan saja”. [HR Ibnu Majah: 282, an-Nasa’iy: I/ 74-75, Ahmad: IV/ 349, al-Hakim: 458 dan Malik: I/ 56. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[25]

عن أبي أمامة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: أَيمُّاَ رَجُلٍ قَامَ إِلىَ وَضُوْئِهِ يُرِيْدُ الصَّلاَةَ ثُمَّ غَسَلَ كَفَّيْهِ نَزَلَتْ خَطِيْئَتُهُ مِنْ كَفَّيْهِ مَعَ أَوَّلِ قَطِرَةٍ فَإِذَا مَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ وَ اسْتَنْثَرَ نَزَلَتْ خَطِيْئَتُهُ مِنْ لِسَانِهِ وَ شَفَتَيْهِ مَعَ أَوَّلِ قَطِرَةٍ فَإِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ نَزَلَتْ خَطِيْئَتُهُ مِنْ سَمْعِهِ وَ بَصَرِهِ مَعَ أَوَّلِ قَطِرَةٍ فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ إِلىَ اْلمـِرْفَقَيْنِ وَ رِجْلَيْهِ إِلىَ اْلكَعْبَيْنِ سَلِمَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ هُوَ لَهُ وَ مِنْ كُلِّ خَطِيْئَةٍ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ قَالَ: فَإِذَا قَامَ إِلىَ الصَّلاَةِ رَفَعَ اللهُ بِهَا دَرَجَتَهُ وَ إِنْ قَعَدَ قَعَدَ سَاِلمًا

Dari Abu Umamah bahwasanya Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Siapapun yang berdiri menuju air wudlunya dengan maksud mengerjakan sholat, kemudian ia membasuh kedua telapak tangannya maka turun (keluar)lah dosanya dari kedua telapak tangannya bersama awalnya tetesan air. Apabila ia berkumur-kumur, beristinsyaq dan istintsar maka keluarlah dosanya dari lisan dan kedua bibirnya bersama awalnya tetesan air. Apabila ia membasuh wajahnya maka keluarlah dosanya dari pendengaran dan penglihatannya bersama awalnya tetesan air. Dan apabila ia membasuh kedua tangannya sampai kedua sikunya dan kedua kakinya sampai kedua mata kakinya maka selamatlah ia dari seluruh dosa miliknya dan dari semua kesalahan seperti keadaannya pada hari ia dilahirkan oleh ibunya”. Beliau bersabda, ”Apabila ia berdiri menuju sholat niscaya Allah akan mengangkat derajatnya dan jikalau ia duduk (maksudnya: tidak mengerjakan sholat) niscaya ia duduk dalam keadaan selamat”. [HR Ahmad: V/ 263. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[26]

Jika semua orang, khususnya kaum muslimin menyadari betapa banyak dosa dan kesalahan yang mereka telah perbuat, tentu mereka akan berputus asa untuk mendapatkan rahmat Allah Azza wa Jalla dan menjauhkan diri dari siksaan-Nya. Tak terbilang banyaknya dosa yang dilakukan oleh semua anggota badan mereka dari mata, hidung, mulut, telinga, tangan, kaki, hati dan lain sebagainya yang mereka kumpulkan dari hari ke hari. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala menampakkan sifat pengampun dan pengasih-Nya kepada mereka dengan mengutus Rosul-Nya Shallalahu alaihi wa sallam untuk menjelaskan kepada mereka jalan menuju rahmat dan keselamatan. Lalu Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam menjelaskan kepada mereka amalan-amalan yang dapat menghapuskan dan menggugurkan dosa-dosa mereka. Di antaranya adalah berwudlu. Beliau Shallalahu alaihi wa sallam telah merinci dengan jelas bagaimana dosa itu keluar berguguran dari seorang muslim bersama tetesan air dari telapak tangan, mulut, hidung, wajah, jari jemari tangan, kepala, kedua telinga dan jari jemari kaki. Sehingga ia keluar dari wudlu tersebut dalam keadaan selamat dari dosa laksana seorang bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.

7). Merupakan penyebab diampuni dosa-dosa.

عن حمران مولى عثمان أخبره أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانٍ رضي الله عنه دَعَا بِوَضُوْءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ مَضْمَضَ وَ اسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ اْليُمْنىَ إِلىَ اْلمـِرْفَقِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ اْليُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ اْليُمْنىَ إِلىَ اْلكَعْبَيْنِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ اْليُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِي هَذَا ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحْدِثُ فِيْهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Hamran maula (mantan budak)nya  Utsman, ia mengkhabarkan bahwasanya Utsman bin Affan radliyallahu anhu menyuruh mengambil air wudlu. Kemudian ia berwudlu, lalu ia membasuh kedua tangannya tiga kali, lalu berkumur-kumur dan istintsar lalu membasuh wajahnya tiga kali. Lalu membasuh tangannya yang kanan sampai siku tiga kali dan membasuh tangannya yang kiri seperti itu pula. Kemudian mengusap kepalanya, lalu membasuh kakinya yang kanan sampai kedua mata kaki tiga kali dan membasuh kakinya yang kiri seperti itu pula. Kemudian berkata, ”Aku bernah melihat Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam berwudlu seperti wudluku ini kemudian Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa yang berwudlu seperti wudluku ini lalu berdiri sholat  dalam keadaan tiada percakapan di dalam dirinya maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”. [HR Muslim: 226, al-Bukhoriy: 159, 164, 1934, Abu Dawud: 106, an-Nasa’iy: I/ 64, 65, 80, Ahmad: I/ 59, 64, Ibnu Khuzaimah: 3 dan ad-Darimiy: I/ 176. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [27]

Sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang berwudlu seperti wudluku ini..” menjelaskan akan perintah bahwa mengerjakan wudlu itu wajib mencontoh dan menteladani Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, dan dengannya itu akan terhapus dosa-dosanya dan diterima sholatnya.

عن حمران مولى عثمان قَالَ: سَمِعْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانٍ وَ هُوَ بِفِنَاءِ اْلمـَسْجِدِ فَجَاءَهُ اْلمـُؤَذِّنُ عِنْدَ اْلعَصْرِ فَدَعَا بِوَضُوْءٍ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَالَ: وَ اللهِ لَأُحَدِّثَنَّكُمْ حَدِيْثًا لَوْ لاَ آيَةً فىِ كِتَابِ اللهِ مَا حَدَّثْتُكُمْ إِنيِّ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: لاَ يَتَوَضَّأُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ فَيُحْسِنُ اْلوُضُوْءَ فَيُصَلِّي صَلاَةً إِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَ بَيْنَ الصَّلاَةِ الَّتيِ تَلِيْهَا

Dari Hamran maulanya Utsman berkata, ”Aku pernah mendengar Utsman bin Affan sedangkan ia berada di halaman masjid. Datanglah mu’adzin ketika ashar. Utsman menyuruh mengambil air wudlu lalu berwudlu, kemudian berkata, ”Demi Allah, aku akan ceritakan kepada kalian suatu hadits yang kalaulah bukan karena suatu ayat dari kitab Allah[28] niscaya aku tidak akan menceritakannya kepada kalian. Aku pernah mendengar Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda, ”Tidaklah berwudlu seorang muslim lalu ia membaguskan wudlunya lalu ia sholat satu sholat melainkan Allah akan mengampuninya apa yang  diantaranya dan antara sholat berikutnya”. [HR Muslim: 227, al-Bukhoriy: 160 dan Malik: I/ 55-56. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [29]

عن حمران مولى عثمان قَالَ: أَتَيْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانٍ بِوَضُوْءٍ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَالَ: إِنَّ نَاسًا يَتَحَدَّثُوْنَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَحَادِيْثَ لاَ أَدْرِي مَا هِيَ؟ إِلاَّ أَنيِّ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم تَوَضَّأَ مِثْلَ وُضُوْئِي هَذَا ثُمَّ قَالَ: مَنْ تَوَضَّأَ هَكَذَا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَ كَانَتْ صَلاَتُهُ وَ مَشْيُهُ إِلىَ اْلمـَـسْجِدِ نَافِلَةً

Dari Hamran maulanya Utsman berkata, ”Aku pernah mendatangkan (membawakan) air kepada Utsman bin Affan lalu ia berwudlu. Kemudian berkata, ”Sesungguhnya manusia menceritakan tentang Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam beberapa hadits yang aku tidak mengetahui apakah itu? hanyasaja aku pernah melihat Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam berwudlu seperti wudluku ini, kemudian bersabda, ”barangsiapa yang berwudlu seperti ini maka diampunilah dosanya yang telah lalu. Sholat dan langkahnya menuju masjid hanyalah merupakan tambahan”. [HR Muslim: 229. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [30]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, ”Wudlu itu termasuk dari penghapus-penghapus dosa. Wudlu itu tidak akan dapat menghapuskan dosa-dosa kecuali jika sesuai dengan shifat wudlunya Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam”. [31]

عن حمران مولى عثمان قَالَ: تَوَضَّأَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانٍ يَوْمًا وُضُوْءًا حَسَنًا ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ اْلوُضُوْءَ ثُمَّ قَالَ: مَنْ تَوَضَّأَ هَكَذَا ثُمَّ خَرَجَ إِلىَ اْلمـَسْجِدِ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةَ غُفِرَ لَهُ مَا خَلاَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Hamran maulanya Utsman berkata, ”Suatu hari Utsman bin Affan radliyallahu anhu pernah berwudlu dengan suatu wudlu yang bagus. Kemudian ia berkata, ”Aku pernah melihat Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam berwudlu  lalu membaguskan wudlu, kemudian bersabda, ”barangsiapa yang berwudlu seperti ini lalu keluar menuju masjid yang ia tiada mendekati masjid itu melainkan untuk sholat diampunilah baginya dosanya yang telah lalu”. [HR Muslim 232. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [32]

عن عاصم بن سفيان الثقفي: أَنَّهُمْ غَزَوْا غَزْوَةَ السَّلاَسِلِ فَفَاتَهُمُ اْلغَزْوُ فَرَابَطُوْا ثُمَّ رَجَعُوْا إِلىَ مُعَاوِيَةَ وَ عِنْدَهُ أَبُوْ أَيُّوْبَ وَ عُقْبَةُ بْنُ عَامِرٍ فَقَالَ عَاصِمٌ: يَا أَبَا أَيُّوْبَ فَاتَنَا اْلغَزْوُ اْلعَامَ وَ قَدْ أُخْبِرْنَا أَنَّهُ مَنْ صَلَّى فىِ اْلمـَسَاجِدِ اْلأَرْبَعَةِ غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ فَقَالَ: يَا ابْنَ أَخِي أَدُلُّكَ عَلَى أَيْسَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنيِّ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: مَنْ تَوَضَّأَ كَمَا أُمِرَ وَ صَلَّى كَمَا أُمِرَ غُفِرَ لَهُ مَا قَدَّمَ مِنْ عَمَلٍ أَكَذَلِكَ يَا عُقْبَةُ ؟ قَالَ: نَعَمْ

Dari Ashim bin Sufyan ats-Tsaqofiy, “Bahwasanya kaum muslimin telah menunaikan perang ghozwah as-Salasil. Tetapi perang itu terluput dari (sebahagian) mereka dan mereka selalu siap sedia. Lalu mereka kembali kepada Mu’awiyah yang di sisinya ada Abu Ayyub dan Uqbah bin Amir”. Ashim berkata, ”wahai Abu Ayyub tahun ini perang telah luput dari kami dan sungguh telah dikabarkan kepada kami bahwasanya barangsiapa yang sholat di empat masjid [33] diampuni baginya dosa-dosanya”. Ia berkata, ”Wahai anak saudaraku maukah kutunjukkan kepadamu sesuatu yang lebih mudah dari itu. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa yang berwudlu sebagaimana diperintahkan dan sholat sebagaimana diperintahkan, akan diampuni baginya apa yang telah berlalu dari amalnya. Bukankah demikian wahai Uqbah?”. Ia menjawab, ”Ya”. [HR an-Nasa’iy: I/ 90-91, Ibnu Majah: 1396,  Ahmad: V/ 423 dan ad-Darimiy: I/ 182. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [34]

Kaum muslimin di masa generasi awal sudah dikenal sebagai generasi yang sangat berambisi untuk mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah Azza wa Jalla sebagaimana dituturkan oleh Ashim bin Sufyan ats-Tsaqofiy radliyallahu anhu. Maka ketika mereka luput dari menghadiri perang as-Salasil, yang telah mereka pahami sebagai salah satu jalan menuju kepada surga dan ampunan-Nya, lalu mereka segera berusaha mendapatkannya dengan cara lain yang disyariatkan yaitu sholat di empat masjid. Tetapi Abu Ayyub radliyallahu anhu menegaskan kepada mereka ada cara lain yang lebih mudah untuk mendapatkan pengampunan dosa yang telah lalu dari Allah Subhanahu wa ta’ala yaitu dengan mengerjakan wudlu dan sholat sesuai dengan yang diperintahkan dan dicontohkan oleh Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam.

8). Merupakan penyebab dikenal oleh Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam pada hari kiamat nanti.

 عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَتَى اْلمـَقْبَرَةَ فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ وَ إِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ وَدِدْتُ أَناَّ قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا قَالُوْا:أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: أَنْتُمْ أَصْحَابيِ وَ إِخْوَانُنَا الَّذِيْنَ لَمْ يَأْتُوْا بَعْدُ فَقَالُوْا: كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ لَمْ يَأْتِ بَعْدُ مِنْ أُمَّتِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ فَقَالَ: أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلاً لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ  بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ  أَلاَ يَعْرِفُ خَيْلَهُ؟ قَالُوْا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: فَإِنَّهُمْ يَأْتُوْنَ غُرًّا مُحَجَّلَةً مِنَ اْلوُضُوْءِ وَ أَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى اْلحَوْضِ أَلاَ يُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ اْلبَعِيْرُ الضَّالُّ أُنَادِيْهِمْ أَلاَ هَلُمَّ ! فَيُقَالُ: إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوْا بَعْدَكَ فَأَقُوْلُ: سُحْقًا سُحْقًا

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam pernah mendatangi pekuburan lalu berkata,

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ وَ إِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ

”(Artinya; Semoga keselamatan bagi kalian wahai penghuni kubur dari kaum mukminin  dan Insya Allah kami akan menyusul kalian). Aku sangat berkeinginan sekiranya kita dapat mengetahui (keadaan) ikhwan (saudara) kita”. Mereka berkata, ”bukankah kami ini ikhwanmu wahai Rosulullah?”. Beliau bersabda, ”kalian adalah para shahabatku sedangkan ikhwan kita adalah orang-orang yang datang kemudian, dan aku menanti mereka di telaga”. Mereka bertanya, ”Wahai Rosulullah bagaimana engkau mengenali orang yang datang kemudian di antara umatmu?”. Beliau menjawab, ”Bagaimana pendapat kalian, jika ada seseorang yang mempunyai seekor kuda yang belang putih kening dan kakinya diantara kuda-kuda yang berwarna hitam legam, bukankah ia mengenali kudanya?”. Mereka menjawab, ”benar wahai Rosulullah”. Beliau bersabda, ”Mereka nanti akan datang pada hari kiamat dalam keadaan belang putih (wajah, kaki dan tangan mereka) dari sebab bekas wudlu, dan aku telah mendahului mereka di telaga. Ingatlah sesungguhnya akan ada banyak orang di antara kalian yang dihalau dari telagaku sebagaimana dihalaunya unta yang sesat. Aku menyeru mereka, ”kemarilah !”. Dikatakan kepadaku, ”Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merubah (agama) sepeninggalmu”. Lalu aku berkata, ”menjauhlah, menjauhlah”. [HR Muslim: 249, an-Nasa’iy: I/ 94-95, Ibnu Majah: 4306, Ahmad: II/ 300, 408, Ibnu Khuzaimah: 6 dan Malik: I/ 54. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [35]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, ”Allah Subhanahu wa ta’ala memuliakan umat ini, yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjadikan untuk mereka tanda-tanda yang dapat membedakannya dari (umat) selain mereka. Yakni mereka dalam keadaan belang putih (wajah, kaki dan tangan mereka)”. [36]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Mereka nanti akan datang pada hari kiamat dalam keadaan belang putih (wajah, kaki dan tangan mereka), yaitu dari bekas wudlu. Di dalam hadits ini terdapat dalil atas keutamaan wudlu. Bahwa umat ini akan datang pada hari kiamat dalam keadaan belang putih dari sebab bekas wudlu. Manusia akan mengenali mereka pada hari kiamat pada hari persaksian yang besar ini. Umat Nabi Shallalahu alaihi wa sallam yang mulia ini akan dikenali dengan tanda  dan alamat yang tidak ada pada selain mereka”. [37]

عن نعيم (بن عبد الله) المجمر قَالَ: رَقِيْتُ مَعَ أَبيِ هُرَيْرَةَ عَلَى ظَهْرِ اْلمـَسْجِدِ فَتَوَضَّأَ فَقَالَ: إِنيِّ سَمِعْتُ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: إِنَّ أُمَّتيِ يُدْعَوْنَ يَوْمَ اْلِقيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِيْنَ مِنْ آثَارِ اْلوُضُوْءِ فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيْلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ

Dari Nu’aim bin Abdullah al-Mujmir berkata, “Aku pernah naik bersama Abu Hurairah ke atas punggung masjid, lalu ia berwudlu. Ia berkata, “sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi Shallalahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan belang putih (wajah, tangan dan kaki mereka) dari sebab bekas wudlu. Maka barangsiapa yang ingin memanjangkan belangnya maka hendaklah ia lakukan”. [HR al-Bukhoriy: 136, Muslim: 246 dan Ahmad: II/ 334, 362, 400, 523. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [38]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, ”Bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjadikan bagi Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam tanda-tanda (pada umatnya) yang Beliau akan mengenali umatnya dengannya. Adapun anak-anak maka mereka akan mengikuti ayah-ayah mereka”. [39]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Yaitu tanda-tanda yang dengannya umat Muhammad Shallalahu alaihi wa sallam tampak jelas pada hari yang dipersaksikan (hari kiamat) ini. Hal ini merupakan dalil atas keutamaan wudlu, bahwa anggota-anggota wudlu itu akan datang dalam keadaan putih pada hari kiamat  yang tampak bersinar dari sebab cahaya”. [40]

عن أبي الدرداء قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ بِالسُّجُوْدِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَ أَنَا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ أَنْ يَرْفَعَ رَأْسَهُ فَأَنْظُرُ إِلىَ بَيْنَ يَدَيَّ فَأَعْرِفُ أُمَّتيِ مِنْ بَيْنِ اْلأُمَمِ وَ مِنْ خَلْفِي مِثْلَ ذَلِكَ وَ عَنْ يَمِيْنيِ مِثْلَ ذَلِكَ وَ عَنْ شَمَاليِ مِثْلَ ذَلِكَ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ تَعْرِفُ أُمَّتَكَ مِنْ بَيْنِ اْلأُمَمِ فِيْمَا بَيْنَ نُوْحٍ إِلىَ أُمَّتِكَ قَالَ: هُمْ غُرٌّ مُحَجَّلُوْنَ مِنْ أَثَرِ اْلوُضُوْءِ  لَيْسَ أَحَدٌ كَذَلِكَ غَيْرُهُمْ وَ أَعْرِفُهُمْ أَنَّهُمْ يُؤْتَوْنَ كُتُبَهُمْ بِأَيْمَاِنهِمْ وَ أَعْرِفُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ ذُرِّيَّتُهُمْ

Dari Abu Darda’ radliyalllahu anhu berkata, ”telah bersabda Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam , ”Saya adalah orang yang pertama-tama diidzinkan untuk sujud pada hari kiamat. Saya adalah orang yang pertama-tama diidzinkan untuk mengangkat kepala. Lalu aku memandang ke hadapanku maka aku mengenali umatku di antara umat-umat (yang lain), di belakang, di sebelah kanan dan kiriku seperti itu pula”. Bertanya seorang lelaki kepadanya, ”Wahai Rosulullah, bagaimana engkau mengenali umatmu di antara umat-umat yang lain yang ada di antara nabi Nuh alaihi as-Salam sampai kepada umatmu?”. Beliau menjawab, ”Mereka dalam keadaan belang putih (yaitu wajah, kaki dan tangan mereka) dari sebab bekas wudlu. Tiada seseorangpun yang seperti mereka. Aku dapat mengenali mereka bahwasanya mereka akan diberikan kitab catatan mereka dengan tangan kanan mereka dan aku juga dapat mengenali mereka yaitu anak keturunan mereka bergerak di hadapan mereka”. [HR Ahmad: V/ 199. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Isnadnya shahih]. [41]

Wudlu jika dikerjakan sesuai dengan perintah akan membawa jejak peninggalan pada hari kiamat berupa warna putih lantaran bekas wudlu. Wajah, tangan dan kaki akan berwarna putih dan akan terlihat belang pada anggota tubuh yang lainnya. Dari sebab itulah Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam akan dengan jelas mengenali umatnya di antara umat-umat lainnya dengan tanda-tanda tersebut. Sebagaimana seseorang akan dapat dengan jelas mengenali kudanya yang berwarna belang putih di antara kuda-kuda lain yang berwarna hitam legam.

9). Merupakan penyebab masuk surga.

عن عقبة بن عامر الجهني قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ اْلوُضُوْءَ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ يَقْبَلُ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَ وَجْهِهِ وَجَبَتْ لَهُ اْلجَنَّةُ

Dari Uqbah bin Amir al-Juhniy radliyallahu anhu berkata, “telah bersabda Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa berwudlu lalu membaguskan wudlu kemudian sholat dua rakaat dalam keadaan menghadapkan hati dan wajahnya  (kepada Allah) maka tetaplah surga baginya”. [HR an-Nasa’iy: I/ 95, Abu Dawud: 169, 906 dan Muslim: 234. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [42]

Masuk surga adalah merupakan idaman dan dambaan setiap muslim bahkan umat manusia seluruhnya meskipun banyak di antara mereka yang tidak berhasil mendapatkannya. Hal tersebut dikarenakan kebodohan dan kemasabodohan mereka terhadap cara dan jalan untuk menempuhnya. Oleh sebab itulah, Allah Subhanahu wa ta’ala membantu mereka untuk dapat mewujudkannya lalu memerintahkan Rosul-Nya Shallalahu alaihi wa sallam agar menjelaskan kepada mereka akan cara dan jalan yang mesti mereka tempuh dan jalani. Membaguskan wudlu dan sholat dalam keadaan ikhlas yaitu menghadapkan wajah dan hatinya hanya kepada Allah Azza wa Jalla adalah merupakan salah satu cara dan jalan untuk mewujudkan keinginan dan harapan mereka masuk ke dalam surga, yang di dalamnya terdapat banyak kenikmatan dan kehidupan abadi.

Wallahu a’lam bi ash-Showab.

[1] Mukhtashor Shahih Muslim: 120, Shahih Sunan Ibnu Majah: 226, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3957 dan Misykah al-Mashobih: 281.
[2]  Bahjah an-Nazhirin: I/ 81.
[3]  Syar-h Riyadl ash-Shalihin: I/ 89.
[4]  Syar-h Arba’in an-Nawawiyyah halaman 243.
[5] Shahih Sunan Ibnu Majah: 224, 225, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 952, Irwa’ al-Ghalil: 412, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 192 dan Misykah al-Mashobih: 292.
[6]  Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 170.
[7]  Mukhtashor Shahih Muslim: 133, Shahih Sunan at-Turmudziy: 46, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 139, Shahih Sunan Ibni Majah: 343, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2618, Misykah al-Mashobih: 282 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 187.
[8]  Bahjah an-Nazhirin: I/ 210.
[9] Shahih Sunan Ibnu Majah: 342, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2617 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 188.
[10] Shahiih al-Jami’ ash-Shaghir: 441 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1296.
[11]  Shahih Sunan Abi Dawud: 527.
[12] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2580, 2581, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 59 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib:189, 405, 451.
[13]  Shahih Sunan at-Turmudziy: 2582 dan Mukhtashor al-‘Uluw halaman 119.
[14] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3045, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 1802 dan Misykah al-Mashobih: 5122.
[15] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5606 dan Misykah al-Mashobih: 286.
[16]  Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5755.
[17]  Shahih Sunan An-Nasa’iy: 143, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5804, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 181 dan Misykah al-Mashobih: 1042.
[18] Shahih Sunan Ibni Majah; 229.
[19] Mukhtashor Shahih Muslim: 121, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 450, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 176 dan Tahqiq Riyadl ash-Shalihin: 131.
[20]  Bahjah an-Nazhirin: I/ 208-209.
[21]  Bahjah an-Nazhirin: II/ 248.
[22]  Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6169 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 177.
[23] Bahjah an-Nazhirin: II/ 247.
[24]  Syar-h Riyadl ash-Shalihin: III/ 331.
[25] Shahih Sunan Ibni Majah: 228, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 100, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 449, Misykah al-Mashobih: 297 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 180.
[26] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2724, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1756 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 182.
[27] Mukhtashor Shahih Muslim: 130, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 105, Shahih Sunan Abi Dawud: 97, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 82, 83, 112, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6175, 6176 dan Misykah al-Mashobih: 287.
[28] Berkata Urwah, “ayat itu adalah surat al-Baqarah/2: 159”.
[29]  Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 105 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7615.
[30] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6178.
[31]  Bahjah an-Nazhirin: II/ 247.
[32] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6177.
[33] Yaitu Masjid al-Haram di Mekkah, Masjid an-Nabawiy di Madinah al-Munawwarah, Masjid al-Aqsho di Palestina (Bait al-Maqdis) dan Masjid Quba.
[34] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 140, Shahih Sunan Ibni Majah: 1145, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6172 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 191.
[35] Mukhtashor Shahih Muslim: 129, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 146, Shahih Sunan Ibni Majah: 3475, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3698, Ahkam al-Jana’iz halaman 240-241 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 172.
[36]  Bahjah an-Nazhirin: II/ 249.
[37]  Syar-h Riyadl ash-Shalihin: III/ 335.
[38] Mukhtashor Shahih Muslim: 128, Irwa’ al-Ghalil: 94 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1489, 2005.
[39]  Bahjah an-Nazhirin: II/ 246.
[40]  Syar-h Riyadl ash-Sholihin: III/ 330.
[41] Misykah al-Mashobih: 299.
[42] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 841, Shahih Sunan Abi Dawud: 155, 801, Mukhtashor Shahih Muslim: 143, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir dan Misykah al-Mashobih: 288.