السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Selasa, 10 Juli 2012

BURUKNYA BURUK SANGKA


SU'U ZHONN (Buruk sangka)..?? No way...
بسم الله الرحمن الرحيم 

Buruk sangka atau su’u zhonn, sebuah kata yang sering diucapkan oleh manusia, khususnya umat Islam. Namun kenyataannya banyak di antara mereka yang masih menyimpan dan mengamalkan perilaku buruk tersebut. Hampir di setiap waktu dan tempat, buruk sangka selalu menjadi santapan penuh nikmat para penyukanya. Padahal buruk sangka itu merupakan virus yang dapat mematikan rasa cinta kepada sesama kaum muslimin. Dan barangsiapa yang telah hilang rasa cintanya kepada sesama muslim, maka lenyaplah darinya keimanan atau paling tidak hilanglah kesempurnaanya.

Biasanya buruk sangka itu dihasilkan dari hati kotor yang dipenuhi racun dengki, dendam dan curiga. Seringkali terjadi, sangka buruk ini membuahkan ghibah di antara manusia umumnya bahkan kaum muslimin khususnya dan pada akhirnya dari ghibah ini menghasilkan kebencian kepada orang yang dipersangkakan tersebut. Bahkan yang lebih ganas, perilaku buruk sangka itu menelurkan buhtan atau fitnah. Tanpa konfirmasi (tabayyun), seorang yang gemar berburuk sangka langsung mendakwa atau menuduh seseorang telah melakukan sesuatu padahal kenyataan boleh jadi berbeda dengan tuduhannya tersebut. Jika tuduhannya benar, maka ia telah melakukan ghibah, tetapi jika tuduhannya keliru maka ia telah berbuat fitnah.

Ketika ada seorang muslim menegur dan mengucapkan salam kepada saudaranya, namun saudaranya itu tidak menjawabnya. Maka muncullah dugaan darinya bahwa saudaranya itu tidak mau menjawab salamnya lantaran ia telah dianggap kafir oleh saudaranya tersebut, atau bukan satu jamaah pengajian dengannya, atau ia telah dianggap musuh olehnya dan sebagainya. Dari kejadian tersebut akhirnya ia menceritakan kepada selainnya dalam bentuk ghibah atau fitnah, sehingga timbul pula dugaan-dugaan lain dari selainnya, maka bertambah runyamlah urusannya. Dari ghibah itu akhirnya mereka menduga bahwa saudaranya itu telah menjadi golongan takfir (yang suka mengkafir-kafirkan kaum muslimin) semisal golongan khawarij. Perilaku ini berujung kepada rusak dan hilangnya kehormatan saudaranya itu dan juga dibenci serta dikucilkan oleh kebanyakan mereka. Amat jelek akibat su’u zhonn, ghibah dan fitnah itu.

Kalaulah ia tidak berburuk sangka kepada saudaranya itu, tetapi lebih mengutamakan baik sangka, semisal, “Mungkin saudaranya itu kurang mendengar ucapan salamnya, atau sedang konsentrasi terhadap sesuatu sehingga tidak terlalu memperhatikan keadaan sekitarnya, atau saudaranya itu sedang memiliki suatu persoalan yang menyusahkan dan menguras perhatiannya dan sebagainya”. Tentu ghibah dan rusaknya kehormatan saudaranya itu tidak akan terjadi. Atau kalau ingin lebih jelas, hendaknya ia bertabayyun kepada saudaranya tersebut, “mengapa ia tidak membalas salamnya”.

Atau juga seringkali terjadi, ketika ada seorang muslim tidak menghadiri suatu kajian, terlihat berjalan dengan seorang wanita, berada di satu mall perbelanjaan, dan sebagainya. Dengan sebab buruk sangka dan kebiasaannya meng-ghibah, maka terkadang kejadian seperti itu akan dengan cepat tersebar dan perkaranyapun kian melebar, bahwa muslim itu sudah enggan untuk mengaji, sudah berpindah pengajian, tidak menyukai ustadznya dan sebagainya dari berita-berita miring dan membahayakan. Jika semua orang bersangka baik dengan hati yang jernih, semisal, “Mungkin muslim itu sedang sakit atau ada di antara keluarganya yang sedang sakit, tidak mempunyai biaya untuk transportasi kendaraan, ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan atau ada tugas ke luar kota dan lain sebagainya dari berbagai alasan”, maka itu adalah lebih baik.

Begitu pula ketika terlihat ia berjalan dengan seorang wanita atau pergi berbelanja di mall, maka timbul buruk sangka sebahagian dari mereka, bahwa muslim itu mempunyai selingkuhan atau mall adalah tempat gaulnya. Bila mereka berbaik sangka bahwa wanita yang bersamanya itu adalah putrinya, adik atau kakak perempuannya, bibi dari ayah atau ibunya, keponakannya atau saudara sesusuannya dan semisalnya tentu itu lebih mendatangkan kebaikan. Atau jika ia berbaik sangka bahwa muslim itu pergi ke mall untuk satu keperluan yang tidak boleh tidak harus ke tempat itu, semisal berbelanja sesuatu yang tidak ada di tempat lain kecuali di mall itu, menemui saudaranya yang bekerja di tempat itu dan sebagainya tentu akibatnya lebih baik dari pada mendahulukan sangka buruk dan mengghibahinya. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain yang semisalnya. Dan kalaulah persangkaannya itu benar, maka tidak ada hak baginya untuk mengghibahi saudaranya itu, sebab ghibah sebagaimana telah diketahui adalah menceritakan keburukan seorang muslim yang benar-benar ia kerjakan dan ketika cerita itu berlangsung ia tidak berada di tempat itu. Dan jika ia tahu keburukannya disingkap tentu ia tidak akan senang dengannya. Kewajiban yang semestinya ia lakukan adalah menashihatinya dengan cara yang ma’ruf. Namun bila cerita itu hanya dugaan atau rekayasa semata yang mengandung unsur dusta maka itu disebut dengan buhtan atau fitnah. Sebab keduanya itu telah diharamkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam alqur’an yang mulia dan hadits-haditsnya yang shahih.

Begitu pula buruk sangka itu bisa terjadi pula di dalam satu keluarga, satu kantor tempat bekerja, satu komunitas tempat tinggal dan sebagainya. Jika setiap mereka telah memahami dampak jelek dari buruk sangka, maka hendaknya suami jangan mudah berburuk sangka kepada istrinya dan begitupun sebaliknya mereka harus saling berbaik sangka dan memiliki rasa percaya kepada pasangannya. Begitu pula hubungan orang tua dan anak harus di jalin dengan bingkai berbaik sangka dan rasa percaya yang didasari oleh pemahaman agama yang baik. Dengan bingkai itu pula seharusnya hubungan antara bawahan dan atasan terjalin di satu tempat bekerja dan dengannya pula hubungan antar warga terbina di dalam satu komunitas, dan seterusnya. Sehingga setiap muslim ketika berinteraksi dengan muslim yang lain dapat memiliki perasaan aman, nyaman dan kerasan.

Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan agar setiap mukmin untuk  berhati-hati dan menjauhi persangkaan, sebab persangkaan tanpa bukti-bukti yang kuat dan akurat itu adalah merupakan dosa besar.
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَـثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan persangkaan (kecurigaan), karena sebagian dari persangkaan itu adalah dosa. [QS. Al-Hujurat/49: 12].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah ta’ala telah melarang hamba-hambaNya yang beriman dari kebanyakan persangkaan yaitu tuduhan dan mendakwa berkhianat kepada keluarga, kerabat dan manusia yang tidak pada tempatnya. Karena sebahagian dari itu adalah murni sebuah dosa. Maka jauhilah kebanyakan darinya sebagai bentuk kehati-hatian, oleh sebab itu barangsiapa yang memiliki persangkaan janganlah ia menyelidik (atau mewujudkan persangkaannya itu)”.  [Bahjah an-Nazhirin: III/ 95].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “((Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan persangkaan)) yaitu semua persangkaan yang tidak  memperhatikan adanya suatu hubungan, kondisi dan keterlibatan yang menunjukkan hal itu. Allah memberi dalih akan larangan yang menunjukkan keharaman itu dengan firman-Nya,  ((karena sebagian dari persangkaan itu adalah dosa)). Hal tersebut seperti buruk sangka kepada orang baik dan shalih pada umat ini. Sebab buruk sangka kepada mereka itu terkadang diakibatkan oleh ucapan yang batil, perbuatan buruk atau menunda perbuatan ma’ruf, maka hal itu akan menjadi dosa besar”. [Aysar at-Tafasir: V/ 130].

Katanya lagi, “Wajib menjauhi setiap persangkaan tanpa suatu hubungan dan kondisi kuat yang mendorong kepada hal itu”. [Aysar at-Tafasir: V/ 131].

Tetapi hal ini telah terjadi dan semoga menjadi ibrah dan pelajaran bagi kaum muslimin selanjutnya agar tidak memudah-mudahkan bersangka buruk dan mengghibahi saudaranya seagama, apalagi ia telah dikenal akan kebaikan dan keshalihan agamanya. Yakni kisah hadits ifki yang telah berlalu kisahnya, tentang istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yaitu Aisyah radliyallahu anha yang kedapatan berjalan dengan Shofwan radliyallahu anhu, seorang lelaki dari kalangan shahabat karena suatu sebab. Kaum munafikin dan sebahagian kaum muslimin yang masih lemah hatinya bersegera dalam bersangka buruk kepada Aisyah radliyallhu anha, ibu mereka yang sepatutnya hal itu tidak boleh terjadi. Jikalau mereka lebih mendahulukan baik sangka kepadanya niscaya hal itu akan lebih baik bagi mereka di dunia dan akhirat.

لَوْ لاَ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ اْلمـُـؤْمِنُونَ وَ اْلمـُـؤْمِنَاتُ بِأَنفُسِهِم خَيْرًا وَ قَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” [QS. An-Nur/ 24: 12].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “(Ayat) ini adalah awal mula celaan dan pengambilan tindakan terhadap suatu kaum dan juga pengajaran dan pendidikan kepada kaum muslimin. Allah Azza wa Jalla berfirman “لولا” yaitu bermakna “هلا” artinya mengapa tidak, kalimat ini untuk mendorong dan memotivasi atau melakukan suatu perbuatan. Apabila kalian mendengar ucapan bohong hendaknya kalian bersangka baik -sebab mukmin dan mukminat itu ibarat seperti satu tubuh- dan sepatutnya kalian mengatakan, “Ini tidak mungkin terjadi dan ini hanyalah kebohongan yang nyata, yang tidak boleh diterima dan diakui (pemberitaannya)”. Beginilah seharusnya kalian bersikap tetapi sayang kalian tidak melakukannya”. [Aysar at-Tafasir: III/ 554].

Katanya lagi, “Wajib bagi seorang mukmin untuk tidak membenarkan orang yang menuduh mukmin lain berbuat keji. Hendaknya ia berkata kepada si penuduh, “Apakah engkau dapat mendatangkan empat orang saksi atas ucapanmu itu?”. Jika ia mengatakan, “Tidak”. Hendaknya ia mengatakan, “Kalau demikian, engkau di sisi Allah termasuk salah seorang pendusta”.  [Aysar at-Tafasir: III/ 555].

Betapa mudah manusia itu terjerumus dan terperosok ke dalam perbuatan dosa, hanya dengan melihat atau mendengar seseorang mengerjakan atau mengucapkan sesuatu maka muncullah persangkaan-persangkaan yang buruk tentangnya, lalu bergegas mengghibahnya kepada selainnya kemudian membenci dan mengucilkannya, begitu seterusnya. Namun untuk meninggalkan dan menanggalkan kebiasaan jelek itu tidaklah semudah membalikkan tangan, tidak segampang mengejapkan mata dan tidak pula seringan menghela nafas, ia harus bersusah payah terlebih dahulu untuk menghindar dan menjauh darinya. Seringkali ia kesulitan dan bahkan enggan hengkang dari kebiasaan buruk itu apalagi sampai menentang dan menantangnya. Hal ini boleh jadi dikarenakan oleh ketidaktahuannya akan larangan tersebut, pura-pura tidak tahu atau memang tidak mau tahu sama sekali terhadapnya. Atau mungkin juga ia tahu larangan dari perilaku jelek tersebut beserta akibat buruknya, namun karena ia merasakan nikmat dan nyandu dengannya maka ia tidak menginginkan apalagi berusaha untuk membuang dan menyingkirkannya.

Padahal Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengabadikan perintah mewaspadai persangkaan sebab sebahagian persangkaan itu adalah dosa. Apalagi sifat dan sikap berburuk sangka ini merupakan amaliyah kaum kafirin dan munafikin sebagaimana di dalam dalil-dalil berikut ini,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه يَأْثَرُ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِيَّاكُمْ وَ الظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu mengutip dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Waspadalah kalian terhadap persangkaan, karena persangkaan itu adalah sedusta-dustanya perkataan”. [HR al-Bukhoriy: 5143 dan lafazh ini baginya, 6064, 6066, 6724, Muslim: 2563, at-Turmudziy: 1988, Abu Dawud: 4917 dan Ahmad: II/ 245, 287, 312, 342, 465, 482, 491-492, 504, 517, 539. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 1803, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1619, Shahih Sunan Abi Dawud: 4109, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2679 dan Ghoyah al-Maram: 417].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah,

“Terdapat penjelasan (keharusan) meninggalkan amalan dengan dasar persangkaan yang membebani hukum.
Wajib meninggalkan penyelidikan persangkaan yang dapat memberi mudlarat kepada orang yang dipersangkakan.
Perintah waspada terhadap persangkaan secara mutlak.
Di dalamnya terdapat penjelasan bahwasanya persangkaan itu termasuk satu jenis dari kedustaan, bahwa ia termasuk dari jenis yang terbesar”. [Bahjah an-Nazhirin: III/ 93].

Begitu pula kebiasaan berburuk sangka ini seakan telah menjadi warisan turun temurun kaum munafikin. Mereka selalu melihat apa yang dilakukan oleh orang lain khususnya kaum mukminin dengan kaca mata negatif, yakni mereka senantiasa menilai perbuatan baik orang lain dengan nilai keburukan, maka bagaimana jika mereka mengomentari perbuatan buruk yang dilakukan oleh orang lain tersebut??. Tentu lebih hebat dan keji.

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ اْلمـُـطَّوِّعِينَ مِنَ اْلمـُـؤْمِنِينَ فِى الصَّدَقَاتِ وَ الَّذِينَ لاَ يَجِدُونَ إِلاَّ جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللهُ مِنْهُمْ وَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

 (Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya. Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih. [QS. Al-Baro’ah/ 9: 79].

عن أبى مسعود رضي الله عنه قَالَ: َلمـَّا أُمِرْنَا بِالصَّدَقَةِ كُنَّا نَتَحَامَلُ  فَجَاءَ أَبُوْ عُقَيْلٍ بِنِصْفِ صَاعٍ وَ جَاءَ إِنْسَانٌ بِأَكْثَرَ مِنْهُ فَقَالَ اْلمـُنَافِقُوْنَ: إِنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ عَنْ صدَقَةِ هَذَا وَمَا فَعَلَ هَذَا اْلآخَرُ إِلاَّ رَئَاءَ فَنَزَلَتْ (الَّذِينَ يَلْمِزُونَ اْلمـُـطَّوِّعِينَ مِنَ اْلمـُـؤْمِنِينَ فِى الصَّدَقَاتِ وَ الَّذِينَ لاَ يَجِدُونَ إِلاَّ جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللهُ مِنْهُمْ وَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ)

Dari Abu Mas’ud radliyallahu anhu berkata, “Tatkala kami diperintah untuk bersedekah, kamipun memikulnya dengan bersusah payah”. Datang Abu Aqil dengan membawa satu sho’ (korma). Datang pula seseorang dengan yang lebih banyak darinya. Orang-orang munafik berkata, “Sesungguhnya Allah benar-benar tidak butuh dari sedekah orang ini. Dan tidak ada yang diperbuat oleh orang lain itu kecuali riya”. Maka turunlah ayat, ((Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya. Qs. Al-Baro’ah/ 9: 79)”. [HR al-Bukhoriy: 4668].

Hadits di atas menggambarkan tabiat orang munafik yang selalu berburuk sangka dan menilai seseorang dalam beramal shalih itu dengan pandangan negatif. Bagaimana jika ada orang yang melakukan perbuatan yang salah dan mengandung dosa?. Tentu mereka akan lebih keji dan kejam lagi dalam bersikap. Ketika ada di antara kaum mukminin yang bersedekah dengan jumlah yang cukup banyak, mereka menyangka dan menuduh bahwa orang mukmin itu telah berbuat riya dengan sedekah itu dan mengharapkan sanjungan dari selainnya. Dan jika di antara kaum mukminin ada yang bersedekah dengan jumlah yang sangat sedikit, maka mereka akan berkomentar bahwa ia adalah orang kikir dan Allah Subhanahu wa ta'ala tidak membutuhkan amal yang sedikit tersebut. Demikian itulah sifat kaum munafikin, bagi mereka tidak ada orang yang lebih baik dari mereka. Dalam pandangan mereka, semua orang  selain diri mereka adalah buruk kendatipun mengerjakan amal shalih, apalagi jika berbuat dosa dan kesalahan.

Namun semuanya itu jelas berbeda dengan sikap dan perilaku yang telah dicontohkan oleh umat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam generasi pertama, Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu ketika sebagai khalifah mendengar pengaduan penduduk Kuffah bahwa Sa’d bin Abi Waqqash radliyallahu anhu tidak elok sholatnya bersama mereka. Lalu Umar radliyallahu anhu mengutus orang untuk memanggilnya. Kemudian bertanya kepadanya tentang pengaduan penduduk Kuffah. Setelah itu Sa’d memberikan penjelasan bahwasanya ia tidak pernah mengurangi sholat sedikitpun, ia lama berdiri pada dua rakaat yang pertama dan tidak lama pada dua rakaat yang terakhir, dan ia mengerjakan sholat sebagaimana Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sholat. Sesudah mendengar penjelasan itu Umar radliyallahu anhu pun menerimanya sesuai dengan apa yang telah ia persangkakan kepadanya.

عن جابر بن سمرة قَالَ: قَالَ سَعْدٌ: كُنْتُ أُصَلِّى بِهِمْ صَلاَةَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم صَلاَتَىِ اْلعَشِيِّ لاَ أَخْرِمُ عَنْهَا أَرْكُدُ فىِ اْلأُوْلَيَيْنِ وَ أَحْذِفُ فىِ اْلأُخْرَيَيْنِ فَقَالَ عُمَرُ رضي الله عنه: ذَلِكَ الظَّنُّ بِكَ

Dari Jabir bin Samurah berkata, berkata Sa’d (bin Abi Waqqash) radliyallahu anhu, “Aku sholat zhuhur dan ashar bersama mereka sebagaimana sholatnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam . Aku tidak menguranginya, aku lama berdiri pada dua rakaat yang pertama dan tidak lama pada dua rakaat yang terakhir”. Umar radliyallahu anhu berkata, “Itulah persangkaan(ku) kepadamu”. [Telah mengeluarkan atsar ini al-Bukhoriy: 755, 758, 770, lihat Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 410].

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolaniy rahimahullah, “(Itulah persangkaan(ku) kepadamu) yaitu yang engkau katakan ini adalah yang selama ini aku persangkakan”. [Fath al-Bariy: II/ 239].

Jadi artinya, meskipun Umar radliyallahu anhu telah mendengar pengaduan penduduk Kuffah, ia selama ini tetap berbaik sangka kepada Sa’d bin Abi Waqqash radliyallahu anhu. Apalagi setelah diperhatikan duduk perkaranya, bahwa penduduk Kuffah pada waktu itu bukan termasuk ahli ilmu. Mereka menyangka disyariatkan adanya persamaan di antara rakaat-rakaat sholat di dalam lamanya maka merekapun mengingkari perbedaan yang dilakukan oleh Sa’d. Ini suatu persangkaan yang tidak sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang memanjangkan dua rakaat yang pertama dan memendekkan dua rakaat yang kedua.

Sikap elok Umar radliyallahu anhu ini seharusnya dicontoh oleh setiap muslim baik petinggi negara ataupun rakyat biasa, kaum pengajian ataupun masyarakat awam atau siapapun yang ingin memberikan kebaikan bagi masyarakat sekitarnya. Yaitu tidak mudah atau memudah-mudahkan dirinya untuk menerima setiap pengaduan dalam bentuk ghibah dan fitnah yang dilontarkan oleh orang lain. Tetapi hendaknya ia berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam menentukan sikap yang dapat berakibat buruk bagi dirinya dan orang yang dipersangkakannya. Tetap bersangka baik terlebih dahulu, bertanya atau tabayyun akan keabsahan berita tersebut lalu mengukur kebenarannya dengan landasan alqur’an dan hadits yang shahih serta peristiwa yang sesungguhnya telah terjadi. Langkah-langkah tersebut rasanya lebih patut dan tepat untuk diterapkan.

Entah kenapa umat manusia ini, sudah sedemikian banyaknya larangan dan perintah waspada terhadap sesuatu namun mereka tidak mau juga mengambil pelajaran darinya. Di antara mereka bahkan ada yang senantiasa bergulat dan berkutat dengannya, tanpa memperdulikan akibat buruk baginya dan selainnya di dunia dan akhirat. Sebagaimana dalil hadits dari Abu Hurairah radliyallahu anhu yang telah berlalu, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan umatnya untuk waspada dan berhati-hati terhadap persangkaan, sebab sebahagian darinya adalah merupakan dosa. Namun yang terjadi, mayoritas umat ini, bahkan kaum pengajiannya masih saja ada yang menekuni dan menelateninya tanpa peduli terhadap apa yang yang selama ini mereka kaji dan pelajari.

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sudah sejak ratusan tahun lalu mendidik umatnya agar selalu membersihkan dan mensucikan badan dan hati mereka. Membersihkan badan dengan mandi janabat, mandi haidl dan nifas, wudlu dan tayammum. Adapun membersihkan hati adalah dengan menghilangkan berbagai kotoran hati misalnya dari hasad, dendam, perasaan kesal, buruk sangka, benci, perselisihan, permusuhan dan selainnya dari berbagai penyakit hati.

Dalam kisah hadits dibawah ini dapat dipahami akan kesungguhan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di dalam menjaga umatnya dari kotoran atau penyakit hati yang seringkali dimotori oleh setan. Sebab setan itu selalu mengajak dan membawa umat ini kepada kejahatan dan kesesatan yang dapat mencampakkan mereka ke dalam neraka Jahannam.

عن علي بن الحسين أَنَّ صَفِيَّةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا جَاءَتْ إِلىَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم تَزُوْرُهُ فىِ اعْتَكَافِهِ فىِ اْلمـَسْجِدِ فىِ اْلعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَتَحَدَّثَتْ عِنْدَهُ سَاعَةً ثُمَّ قَامَتْ تَنْقَلِبُ فَقَامَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم مَعَهَا يَقْلِبُهَا حَتىَّ إِذَا بَلَغَتْ بَابَ اْلمـَسْجِدِ عِنْدَ بَابِ أُمِّ سَلَمَةَ مَرَّ رَجُلاَنِ مِنَ اْلأَنْصَارِ فَسَلَّمَا عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ لَهُمَا النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: عَلىَ رِسْلِكُمَا إِنَّمَا هِيَ صَفِيّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ فَقَالاَ: سُبْحَانَ اللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ كَبُرَ عَلَيْهِمَا فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ الشَّيْطَانَ يَبْلُغُ مِنِ ابْنِ آدَمَ مَبْلَغَ الدَّمِ وَ إِنىِّ خَشِيْتُ أَنْ يَقْذِفَ فىِ قُلُوْبِكُمَا شَيْئًا

Dari Ali bin Husain radliyallahu anhu bahwasanya Shofiyyah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan kepadanya, bahwasanya ia pernah datang mengunjungi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pada waktu itikaf di masjid (nabawiy) di sepuluh akhir bulan Ramadlan. Lalu ia berbicara di sisinya sejenak. Kemudian berdiri untuk kembali, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pun berdiri bersamanya untuk mengantarnya. Sehingga ketika telah sampai pintu masjid dekat pintu rumah Ummu Salamah tiba-tiba lewatlah dua orang dari kalangan Anshar. Lalu keduanya mengucapkan salam kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam , maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memanggil keduanya, “Perlahankan langkahmu, ini adalah Shofiyyah binti Huyyay (istriku)”. Keduanya berkata, “Subhanallah ya Rosulullah”. Ucapan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam terasa berat bagi keduanya. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan itu dapat mencapai tempat mengalirnya darah manusia, dan aku khawatir ia akan meletakkan sesuatu (keburukan) pada hati kalian”. [HR al-Bukhoriy: 2035, 2038, 2039, 3101, 3281, 6219, 7171, Muslim: 2175 dan Abu Dawud: 2470, 4994. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 997, Mukhtasor Shahih Muslim: 1437, Shahih Sunan Abi Dawud: 2158, 4178 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1658].

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolaniy rahimahullah, “Di dalam hadits ini terdapat beberapa faidah”. (Di antaranya), “Menjaga diri dari menghadapi buruk sangka dan berhati-hati dari tipu daya setan dan suka berdalih”. [Fath al-Bariy: IV/ 280].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah,
“Terdapat ambisi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dari mencegah syubhat dan menjaga diri dari apa yang dapat membawa kepada perbuatan dosa.
Terdapat rasa belas kasih Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam terhadap umatnya dan menolak bahaya dari mereka dengan segala daya dan sarana yang disyariatkan.
Wajibnya menjaga diri dari menghadapi buruk sangka dan sesuatu yang dapat membawa kepada pencarian dalih.
Sepatutnya bagi para ulama yang berdakwah agar tidak mengerjakan suatu amalan yang dapat mendatangkan sangka buruk terhadap mereka. Kendatipun mereka ikhlash di dalam mengamalkannya, sebab yang demikian itu akan mendatangkan keraguan pada mereka dan tidak bermanfaatnya ilmu mereka. Dengan ini pula akan timbul kekeliruan dan bahaya bagi orang yang berpura-pura dengan penampilan buruknya dan berdalih bahwa ia mencoba melakukannya itu atas inisiatif sendiri”. [Bahjah an-Nazhirin: III/ 310].

Ketika Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengetahui ada dua orang yang melihatnya sedang berduaan dengan istrinya yaitu Shofiyyah radliyallahu anha yang pada waktu itu baru saja selesai dari mengunjunginya yang sedang itikaf. Beliau bergegas memanggil keduanya dan mengabarkan bahwasanya yang bersamanya itu adalah istrinya. Beliau khawatir jika tidak segera mengabarkan kepada keduanya akan dapat menimbulkan fitnah dan mushibah setelah itu. Sebab bisa saja terjadi, kedua orang itu ketika melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berduaan dengan seorang wanita lalu mereka menyangka yang bersama dengan Beliau itu wanita yang bukan istri atau putrinya, sebab kejadian itu terjadi di waktu malam yang gelap. Lalu setan yang berada di aliran darah mereka menghembuskan dalam hati mereka suatu pemikiran atau persangkaan buruk kepada mereka, sehingga esok atau kemudian hari, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam akan menjadi bahan gunjingan kaum munafikin dan orang-orang yang masih lemah keislaman mereka. Tepat apa yang dilakukan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tersebut di dalam membersihkan hati umatnya dan upaya membendung buruk sangka yang dapat saja muncul dari setiap umatnya.

Peristiwa itu, kebetulan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengetahuinya sehingga dapat bertindak cepat, tapi bagaimana jika situasinya berbeda yakni Beliau tidak mengetahuinya atau mengabaikannya, mungkin ceritanyapun berbeda pula. Ibrah dan hikmah penting yang dapat dipetik dari kisah ini adalah jika ada di antara kaum muslimin yang mengalami kejadian yang serupa dengan apa yang dialami oleh Beliau Shallallahu alaihi wa sallam maka hendaklah bersikap seperti itu pula. Atau barangkali yang lebih baik adalah menjauhi perbuatan yang dapat mendatangkan buruk sangka dari orang lain. Namun jika tidak boleh tidak, ia harus mengalaminya maka hendaklah ia bersabar dengan gunjingan itu, memberikan penjelasan dengan apa yang ia mampu dan menyerahkan persoalan itu kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, karena dari Dia-lah persoalan itu ada dan Dia pulalah yang dapat menghilangkannya.

Wahai saudaraku, marilah kita membiasakan diri untuk selalu ber-husnu zhonn atau baik sangka. Dengannya, kita dapat hidup tentram, aman dan nyaman dengan sesama kaum muslimin, apakah dengan keluarga, tetangga, teman, kerabat dan siapapun orang yang ada di sekitar kita.

Dan hilangkan buruk sangka dari dalam diri dan hati kita dengan sekuat tenaga, daya dan upaya. Yang dengannya, kita  akan memperoleh kebahagian di dunia dan akhirat kelak..

DENGKI, AKHLAK YANG WAJIB DIJAUHI


JAUHI SIFAT HASAD/ DENGKI


بسم الله الرحمن الرحيم
Kebanyakan manusia itu terlahir dengan membawa sifat hasad atau dengki kepada orang lain. Ia dengki kepada saudaranya yang mempunyai beberapa kelebihan dibanding dengan dirinya. Rasa iri itu muncul ketika saudaranya itu mempunyai harta melebihi dirinya, lebih tinggi jenjang pendidikannya, mempunyai tingkat sosial yang lebih menonjol, lebih mapan pekerjaannya, lebih dicintai orang lain, memiliki istri yang lebih cantik daripada istrinya dan lain sebagainya.
Kedengkian tersebut akhirnya menghilangkan rasa empati dan simpati kepada saudaranya tersebut dikala mendapatkan musibah dan bencana bahkan ia berbahagia dan puas dengannya. Disamping itu juga kedengkian menumbuhkan rasa sedih dan duka yang mendalam disaat saudaranya itu mendapatkan satu kebaikan dari berbagai kebaikan bahkan membuatnya sangat menderita hingga menjadikannya makan tak enak, tidur tidak nyenyak, persendian tiada gerak dan nafaspun terasa sesak. Ia selalu mengharap kebaikan dan kebahagiaan itu lenyap dari sisi saudaranya sebagaimana hilangnya kabut diterpa angin. Bahkan adakalanya ia berusaha dengan aneka cara untuk menghilangkan kelebihan saudaranya tersebut kendatipun dengan bersusah payah, berpeluh lelah, berteduh amarah dan kerapkali berkeluh kesah. Namun anehnya ia sabar dalam menanti, menunggu dan mengintai berbagai kekeliruan yang dikerjakan oleh saudaranya itu yang akhirnya menjadi kegiatan rutinnya. Kegiatan mengintai yang sebenarnya bagi orang lain adalah pekerjaan yang menjemukan dan menjenuhkan, tetapi tidak baginya. Sebab kedengkian yang telah merasuk dan merusak denyut hatinya tersebut telah menciptakan dirinya menjadi seorang yang sabar untuk tujuan pentingnya, yakni hancur dan sirnanya kelebihan dan kebahagiaan yang dimiliki oleh saudaranya tersebut.

Maka ketika ada sarana yang membuat saudaranya itu hilang sebahagian kelebihannya itu maka iapun menggunakan sarana itu untuk menghilangkannya. Salah satu sarana (atau lebih tepatnya; senjata) yang paling ampuh untuk meruntuhkan dan menghilangkan sebahagian kelebihan saudaranya itu adalah ghibah.

Ghibah adalah senjata beracun yang dapat merusak dan mematikan kehormatan dan harga diri seseorang. Jika ghibah itu telah ditancapkan dan tepat menikam kehormatan seorang muslim maka dengan segera meluas dan merebak ke berbagai penjuru, sehingga tiada seorangpun yang tinggal di tempat itu melainkan ia pasti telah mengetahuinya. Dan dengan cepat pula kehormatan muslim tersebut terobek-robek, hancur dan rusak tiada bentuk, hingga ia berjalan terseok-seok dan tak berani menengadahkan wajahnya.

Demikianlah kekejaman ghibah yang dilahirkan oleh kedengkian yang dapat merenggut kehormatan dan harga diri seseorang kemudian mencampakkannya ke suatu tempat yang tidak ada seseorangpun yang memperdulikannya.

Dari sebab itu, sifat hasad yang seperti ini adalah sangat tercela dan setiap muslim wajib menjauhi dan tidak menghiasi dirinya dengan sifat tersebut, apalagi para ulama, dai dan penuntut ilmunya.

Setelah menguraikan sekitar sepuluh kerusakan dan bahaya dari penyakit hasad, berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Ringkasnya, bahwasanya hasad itu adalah merupakan akhlak yang tercela. Sangat disayangkan bahwa hasad ini kebanyakan dijumpai di antara para ulama dan penuntut ilmu. (Hasad ini) dijumpai pula di antara para pedagang sebahagian mereka terhadap sebahagian yang lain dan setiap orang yang mempunyai pekerjaan merasa hasad terhadap orang yang berserikat di dalamnya. Tetapi sangat disayangkan bahwa (hasad) di antara para ulama dan penuntut ilmu ternyata lebih keras. Sebenarnya yang lebih utama dan pantas sebagai ahli ilmu, mereka seharusnya adalah orang yang paling jauh dari penyakit hasad dan orang yang paling dekat kepada akhlak yang sempurna”. [Kitab al-Ilmi halaman 66]. 

Berkata sebahagian ahli ilmu, “Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat Allah Azza wa Jalla dari orang selainnya, apakah kenikmatan berupa harta, kehormatan, ilmu atau selain itu”. [Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah halaman 368]. 

Berkata Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Hasad adalah benci terhadap berbagai kenikmatan yang Allah berikan kepada selainnya, walaupun tidak menginginkan hilang(nya kenikmatan tersebut)”. [Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah halaman 187, 368]. 

Adapun dalil-dalil yang melarang sifat hasad atau dengki ini adalah sebagai berikut,

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِياَّكُمْ وَ الظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ اْلحَدِيْثِ وَ لاَ تَحَسَّسُوْا وَ لاَ تَجَسَّسُوْا وَ لاَ تَنَافَسُوْا وَ لاَ تَحَاسَدُوْا وَ لاَ تَبَاغَضُوْا  وَ لاَ تَدَابَرُوْا وَ كُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Waspadalah kalian terhadap persangkaan, sesungguhnya persangkaan itu sedusta-dustanya ucapan. Janganlah kalian bertahassus, jangan bertajassus, jangan saling bersaing, jangan saling dengki, jangan saling membenci, jangan saling bermusuhan dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara”. [HR Muslim: 2653, al-Bukhoriy: 6064 dan Abu Dawud: 4917. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2679 dan Ghoyah al-Maram: 417].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Diharamkannya hasad, hal ini telah tsabit di dalam alqur’an, sunnah dan ijmak kaum muslimin. Iblis la'natullah alaihi  melakukan dosa tatkala ia dengki kepada nabi Adam Alaihis Salam. Ketika ia melihat nabi Adam berada di posisi di atas para Malaikat bahwasanya Allah Subhanahu wa ta'ala telah menciptakannya dengan tangan-Nya, memerintahkan para Malaikat-Nya sujud kepadanya, mengajarkannya nama-nama segala sesuatu dan menempatkannya di sisi-Nya. Maka Iblis la'anahullah senantiasa berusaha untuk mengeluarkannya dari surga hingga iapun berhasil mengeluarkannya darinya”. [Bahjah an-Nazhirin: I/ 325]. 

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: لاَ تَبَاغَضُوْا وَ لاَ تَحَاسَدُوْا وَ لاَ تَدَابَرُوْا وَ كُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا وَ لاَ  يَحِلّ لمِـُسْلِمٍ اَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثةِ أَيَّامٍ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Janganlah kalian saling benci, jangan saling hasad dan jangan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari”. [HR al-Bukhoriy: 6065, Muslim: 2559, at-Turmudziy: 1935, 6076, Abu Dawud: 4910 dan Ibnu Majah: 3849. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Mukhtasor Shahiih Muslim: 1800, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1580, Shahih Sunan Abi Dawud: 4103, Shahih Sunan Ibni Majah: 3104, Irwa’ al-Ghalil: 2029, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7200 dan Ghoyah al-Maram: 404].

عن الزبير بن العوام قَالَ: إِنَّ النَّبيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ اْلأُمَمِ قَبْلَكُمْ اْلحَسَدُ وَاْلبَغْضَاءُ هِيَ اْلحَالِقَةُ لاَ أَقُوْلُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ وَلَكِنْ  تَحْلِقُ الدِّيْنَ

Dari az-Zubair bin al-Awwam berkata, telah bersabda Nabi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Penyakit umat sebelum kalian telah menjalar kepada kalian yaitu hasad dan kebencian adalah pencukur. Aku tidak mengatakan pencukur rambut namun pencukur agama. [HR at-Turmudziy: 2510 dan Ahmad: I/ 165, 167. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 2038, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3361, Misykah al-Mashobih: 5039, Irwa’ al-Ghalil: 238, 777, Ghoyah al-Maram: 414 dan al-Adab: 151].

Berdasarkan dalil-dalil di atas dapat dipahami akan haramnya hasad, sifat dengki dan beberapa sifat buruk lainnya. Sebab Nabi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidaklah melarang sesuatu melainkan niscaya ada keburukan di dalamnya. Dan tidaklah pula memerintahkan sesuatu kecuali pasti ada kebaikan di dalamnya. Apalagi sifat hasad ini merupakan penyakit buruk umat-umat terdahulu dari kalangan Yahudi dan Nashrani, sebagaimana di dalam dalil berikut ini,

وَدَّ كَــثِيْرٌ مِنْ أَهْلِ اْلكِتَـــابِ لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيْمَانِكُمْ كُفَّــارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ اْلحَقُّ فَاعْفُوا وَ اصْفَحُوْا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللهَ عَلَى كُــلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ

Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [QS. Al-Baqarah/2: 109].

عن عائشة رضي الله عنها عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ : مَا حَسَدَتْكُمُ اْليَهُوْدُ عَلَى شَيْءٍ مَا حَسَدَتْكُمْ عَلىَ السَّلاَمِ وَ التَّأْمِيْنِ

Dari Aisyah radliyallaha anhu dari Nabi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah orang Yahudi itu dengki kepada kalian terhadap sesuatu sebagaimana dengkinya mereka terhadap ucapan salam dan amin”.  [HR Ibnu Majah: 856, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 988 dan Ibnu Khuzaimah: 574. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan Ibni Majah: 697, Shahih al-Adab al-Mufrad: 760, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5613, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 515 dan Ashl Shifat Sholah an-Nabiy saw: I/ 388].

عن عائشةرضي الله عنها قَالَتْ: فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم : إِنَّهُمْ لاَ يَحْسُدُوْنَا عَلىَ شَيْءٍ كَمَا يَحْسُدُوْنَ عَلىَ يَوْمِ اْلجُمُعَةِ الَّتىِ هَدَانَا اللهُ لَهَا وَ ضَلُّوْا عَنْهَا وَ عَلَى اْلقِبْلَةِ الَّتىِ هَدَانَا اللهُ لَهَا وَ ضَلُّوْا عَنْهَا وَ عَلَى قَوْلِنَا خَلْفَ اْلإِمَامِ آمِيْن

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, telah bersabda Nabi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya mereka tidaklah dengki kepada kita terhadap sesuatu sebagaimana dengkinya mereka terhadap hari jum’at yang telah Allah tunjukkan kepada kita dan mereka sesat darinya, dengki terhadap kiblat yang telah Allah tunjukkan kepada kita dan mereka sesat darinya dan dengki terhadap ucapan amin kita di belakang imam”. [HR Ahmad: VI/ 134-135 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hadits ini sanadnya shahih, lihat Ashl Sifat Sholah an-Nabi saw: I/ 389 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 515].

Demikian sebahagian dalil yang menunjukkan kedengkian kaum Yahudi, sehingga mereka dan kaum musyrikin adalah kaum yang paling keras permusuhannya terhadap kaum muslimin di muka bumi lebih dari kaum Nashrani.[ Lihat QS. Al-Ma’idah/ 5: 82]. 

Sehingga kedengkian inilah yang menjadikan mereka menolak kenabian dan kerosulan Muhammad Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Padahal di antara mereka ada yang sudah mengenal kenabian Beliau Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dari kitab mereka sebagaimana seorang ayah sangat mengenal anaknya. [Lihat QS. Al-Baqarah/2: 146 dan al-An’am/ 6: 20] Dan pada akhirnya kedengkian itu menghalangi mereka mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa ta'ala lalu mereka tetap terombang ambing dalam kesesatan. Sifat ini pula yang menyebabkan mereka selalu membuat onar dan kerusuhan di kalangan kaum muslimin, dengan menyebarkan berbagai fitnah dan musibah. Seringkali mereka menggunjing Rosulullah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan bahkan berani memfitnah dirinya, keluarga dan para shahabatnya radliyallahu anhum. Oleh sebab itu Rosulullah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertekad hendak mengusir mereka, kaum Nashrani dan juga kaum Musyrikin dari Jazirah Arab. [HR Muslim: 1767, Abu Dawud: 3030, at-Turmudziy: 1607 dan Ahmad: I/32 dari Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu. Dan dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albaniy di dalam Mukhtashor Shahih Muslim: 1153, Shahih Sunan Abi Dawud: 2616, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1308, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5026 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 924, 1134]. 

Namun tidak semua sifat dengki atau hasad itu tercela, jika ia hanya ingin berada di atas orang lain dari beberapa karunia atau ingin memiliki karunia sebagaimana orang lain telah memilikinya. Sebab sifat ini adalah merupakan sebagian dari tabiat manusia.

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaiminrahimahullah, “Hasad itu ada beberapa tingkatan, [Lihat Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah halaman 372]
  1. Seseorang berkeinginan untuk berada diatas selainnya. Sifat ini boleh dan bukan hasad.
  2. Ia tidak menyukai nikmat Allah Azza wa Jalla yang diberikan kepada selainnya. Tetapi ia tidak berusaha untuk menurunkan martabat orang yang Allah Azza wa Jalla berikan kenikmatan itu kepadanya namun ia tidak dapat menolak sifat hasad itu. Hal ini tidak membahayakannya tetapi orang selainnya itu lebih mulia darinya.
  3. Sifat dengki itu ada di dalam hatinya dan ia berusaha untuk menurunkan martabat orang yang didengkikannya itu. Maka ini adalah hasad yang diharamkan yang manusia akan dihukum karenanya”.
Dari penjelasan itu dapat dipahami bahwa sifat iri dan dengki yang merupakan salah satu dari tabiat manusia itu tidaklah tercela seluruhnya, jika diletakkan dalam kebaikan yakni ia ingin mendapatkan kebahagiaan atau karunia sebagaimana saudaranya telah mendapatkannya. Atau hanya sekedar ingin mempunyai karunia yang lebih dari orang lain dan keinginannya tersebut tidak membawa bahaya atau kemudlaratan bagi orang lain. Sebagaimana dalil berikut ini yang menunjukkan tentang pengecualian dari sifat hasad,

عن ابن عمر رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: لاَ حَسَدَ إِلاَّ فىِ اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ اْلقُرْآنَ فَهُوَ يَقُوْمُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَ آنَاءَ النَّهَارِ وَ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَ آنَاءَ النَّهَارِ

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhu dari Nabi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada hasad kecuali di dalam dua hal, yaitu seseorang yang dianugrahi alqur’an oleh Allah lalu ia tegak dengannya di sepanjang malam dan siang dan seseorang yang dianugrahi harta oleh Allah lalu ia menginfakkannya di sepanjang siang dan malam”. [HR al-Bukhoriy: 5025, 7529, Muslim: 815, at-Turmudziy: 1936, Ibnu Majah: 4209 dan Ahmad: II/ 9. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 2108, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1580, Shahih Sunan Ibni Majah: 3392 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7487 ].

عن ابن مسعود رضي الله عنه عَنِ النِّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: لاَ حَسَدَ إِلاَّ فىِ اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَسَلَّطَهُ عَلىَ هَلَكَتِهِ فىِ اْلحَقِّ وَ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَ يُعَلِّمُهَا

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu dari Nabi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada hasad kecuali di dalam dua perkara, yakni seseorang yang dianugrahi harta oleh Allah lalu ia berkuasa untuk menghabiskannya dalam kebenaran dan seseorang yang dianugrahi hikmah (alqur’an) oleh Allah lalu ia membuat keputusan dengannya dan mengajarkannya”. [HR al-Bukhoriy: 73, 1409, 7141, 7316, Muslim: 816, Ibnu Majah: 4208 dan Ahmad: I/ 382. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan Ibni Majah: 3393 dan al-Jami’ ash-Shaghir: 7488].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Hasad (dengki) itu adalah penyakit berbahaya yang wajib menjauhkan diri darinya dan berhati-hati darinya. Dengki terhadap kebahagiaan itu terpuji jika berada pada jalur kebaikan”. [Bahjah an-Nazhirin: I/ 602].

Maka tidak mengapa seorang muslim merasa iri dengan harta, ilmu atau kelebihannya yang lain dari saudaranya yang mempergunakan semuanya itu untuk berjuang meninggikan kalimat Allah Azza wa Jall. Ia menginginkan semuanya itu atau bahkan lebih dari itu untuk tujuan yang sama dengan saudaranya tersebut. Hal ini akan memicu dan mendorongnya untuk berusaha mendapatkan keinginannya itu dengan cara yang dibenarkan oleh syariat.

Tetapi jika rasa iri atau dengki kepada kelebihan saudaranya itu memicu dan mendorong dirinya untuk merusak dan menghilangkan semua atau sebahagian kelebihannya itu dengan cara-cara yang dilarang, misalnya berupa menebarkan ghibah, fitnah dan sejenisnya maka perbuatan ini jelas diharamkan dan termasuk dari dosa-dosa besar.

Wallahu a’lamu bish showab…

LISANMU ADALAH PENYELAMATMU ATAU PENGHANCURMU


PERINTAH MENJAGA LISAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebahagian orang mengatakan, lidah memang tidak bertulang. Mungkin ada benarnya, sebab banyak di antara manusia bahkan kaum muslimin yang tidak mampu mengendalikan lidah atau lisannya. Lidah mudah menjulur dan bergerak kian kemari tanpa kendali, dan akhirnya menjadi panglima baginya, yang mesti diperturutkan apapun kehendaknya. Jika lidah telah menjadipanglima, maka berapa banyak dosa dan kesalahan yang dapat ditimbulkan olehnya?. Berapa banyak kerusakan dan kehancuran yang disebabkan olehnya?. Dan berapa banyak pula akibat buruk baginya dan bagi orang lain yang dapat dihasilkan olehnya??.

Mengenai hal ini, perhatikan beberapa nash hadits berikut ini yang menerangkan bahwasanya kebanyakan dosa yang diperbuat manusia itu ada pada lisannya. Dan juga menjabarkan tentang peranan lisan di dalam menjerumuskan manusia ke dalam kebinasaan dan kehancuran, jika mereka tidak dapat atau enggan mengendalikannya.

Dari Syaqiq berkata, Pernah Abdullah (bin Mas’ud) radliyallahu anhu bertalbiyah di atas bukit shofa. Kemudian berkata, “Wahai lisan, berkatalah yang baik niscaya engkau akan memperoleh kebaikan atau diamlah niscaya engkau akan selamat sebelum engkau menyesal”. Mereka bertanya, “Wahai Abu Abdurrahman (maksudnya; Ibnu Mas’ud), Apakah ini suatu ucapan yang engkau ucapkan sendiri atau yang engkau pernah dengar?”. Beliau radliyallahu anhu menjawab, “Tidak, bahkan aku telah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
أَكْثَرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ فىِ لِسَانِهِ
“Kebanyakan dosa anak-anak adam itu ada pada lisannya”. [HR ath-Thabraniy, Abu asy-Syaikh dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1201, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 534 dan al-Adab: 396]. 
عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ اْلجَنَّةَ؟ قَالَ: تَقْوَى اللهِ وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَ سُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ؟ قَالَ: اْلفَمُ وَ اْلفَرَجُ
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sesuatu apakah yang terbanyak yang dapat memasukkan manusia ke dalam surga?. Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik”. Beliau juga ditanya tentang sesuatu apakan yang terbanyak yang dapat memasukkan manusia ke dalam neraka?. Beliau menjawab, “Mulut dan farji (kemaluan)”. [HR at-Turmudziy: 2004, Ibnu Majah: 4246 dan Ahmad: II/ 291, 392, 442. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan sanadnya, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 1630, Shahih Sunan Ibni Majah: 3424, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 977 dan Misykah al-Mashobih: 4832. Di dalam satu riwayat; Beliau menjawab, “Dua lobang yaitu mulut dan farji”].

Dalil di atas dengan jelas menerangkan bahwa dosa yang banyak dikerjakan oleh manusia dan yang memasukkan lagi menjerumuskan mereka ke dalam neraka adalah lisan mereka. Dengan lisan, mereka berdusta, bersaksi atau bersumpah palsu, mencacimaki, mencela, mengutuk, berkata-kata keji, mengejek, berfatwa tanpa dasar syar’iy, berdakwah kepada kesesatan, melakukan buhtan (memfitnah), mengghibah (menggunjing) dan lain sebagainya dari amalan lisan. Namun di masa sekarang ini dosa lisan banyak juga yang dituangkan dalam bentuk tulisan di buku-buku, majalah-majalah, tabloid-tabloid, surat-surat kabar, tulisan di internet melalui fesbuk, twitter dan semisalnya. Bahkan terkadang dijumpai bahasa tulisan lebih tajam dan lebih berbahaya dari bahasa lisan, karena berdampak sangat buruk bagi seseorang, suatu komunitas ataupun masyarakat.

Tiada yang selamat dari bahaya lisan ini melainkan orang yang diberi rahmat dan keutamaan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.
عن أبي هريرة رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَ إِنَّ اْلعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِاْلكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ تعالى لاَ يُلْقىِ َلهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فىِ جَهَنَّمَ
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba mengatakan suatu kalimat yang mendatangkan murka Allah ta’ala yang ia tidak menaruh perhatian padanya namun mengakibatkannya dijerumuskan ke dalam neraka Jahannam”. [HR al-Bukhoriy: 6478, at-Turmudziy: 2314 dan Ibnu Majah: 3970. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan Ibni Majah, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1884, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 540, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1670 dan Misykah al-Mashobih: 4813].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Ucapan itu ada yang baik dan ada yang buruk. Yang mendatangkan keridloan Allah maka itulah yang baik, sedangkan yang mendatangkan kemurkaan-Nya maka dialah yang buruk”. [Bahjah an-Nazhirin: III/ 10].
عن أبي هريرة رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. [HR al-Bukhoriy: 6018, 6019, 6136, 6138, 6476, Muslim: 47, Ibnu Majah: 3971 dan Ahmad: II/ 267, 433, 463, VI/ 31, VI/ 384, 385 dari Abu Syuraih. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 32, Shahih Sunan Ibni Majah: 3207 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6501].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Ucapan itu adakalanya baik atau buruk. Siapapun yang telah mengetahui (ucapan)nya baik maka katakanlah setelah memikirkan dan memastikannya. Diam itu lebih baik dari berbicara yang tiada faidah padanya. Sepatutnya seorang hamba itu memelihara lisannya, sebab manusia itu tidaklah ditelungkupkan atas hidung-hidung mereka (di dalam neraka) melainkan lantaran hasil lisan mereka”. [Bahjah an-Nazhirin: I/ 388].

Katanya lagi, “Hadits ini jelas (menerangkan) bahwasanya sepatutnya tidak mengucapkan (suatu perkataan) kecuali apabila ucapan itu baik, yaitu jelas kemashlahatan (atau kebaikan)nya. Tetapi kapan saja ragu-ragu terhadap kemashlahatannya, maka janganlah berbicara”. [Bahjah an-Nazhirin: III/ 8].

عن عقبة بن عامر رضي الله عنهما قال: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا النَّجَاةُ؟ قَالَ: أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلىَ خَطِيْئَتِكَ

Dari Uqbah bin Amir radliyallahu anhu berkata, aku pernah bertanya, “Wahai Rosululllah, apakah keselamatan itu?”. Beliau menjawab, “Jagalah lisanmu atasmu, lapangkanlah rumahmu dan menangislah atas dosa-dosamu”. [HR at-Turmudziy: 2406 dan Ahmad: II/ 212, IV/ 148, 158, V/ 259. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 1961, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 888, Misykah al-Mashobih: 4837 dan al-Adab: 400].
عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ وَقَاهُ اللهُ شَرَّ مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَ شَرَّ مَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ دَخَلَ اْلجَنَّةَ
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang dipelihara oleh Allah dari keburukan apa yang ada diantara dua jenggotnya (maksudnya lidah) dan juga dari keburukan apa yang ada diantara dua kakinya (maksudnya farji atau kemaluan), maka ia akan masuk surga”. [HR at-Turmudziy: 2409, Ahmad: V/ 362 dan al-Hakim: 8124. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 1964, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6593 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 510].

Di dalam lain riwayat, dari Sahl bin Sa’d radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang dapat menjaga lisan dan farjinya karenaku, maka aku akan menjamin surga untuknya”. [HR al-Bukhoriy: 6474, 6807. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6617 dan Misykah al-Mashobih: 4812].

Mengomentari hadits ini, asy-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaliy hafizhohullah berkata, “Wajibnya menjaga lisan dari mengucapkan apa yang tidak diperkenankan secara syar’iy dari apa yang tidak ada keperluan bagi orang yang mengucapkannya. Cobaan yang paling besar bagi seseorang di dunia ini adalah lisan dan farjinya. Barangsiapa yang dapat menjaga dari keburukan keduanya maka ia telah menjaga dari keburukan yang paling besar”. [Bahjah an-Nazhirin: III/ 9].

Adapun asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Yang berada diantara dua jenggotnya (yaitu jenggot dan kumis) adalah lisan dan yang berada diantara dua kakinya adalah farji. Sama saja apakan dia seorang pria ataupun wanita, yaitu barangsiapa yang menjaga lisan dan farjinya. Menjaga lisannya dari ucapan yang haram berupa dusta, ghibah, namimah, menipu dan selainnya. Menjaga farjinya dari berzina, liwath (homo seksual) dan sarana-sarananya, maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam akan menjamin untuknya surga. Maksudnya balasannya adalah surga apabila engkau dapat menjaga lisan dan farjimu. Tergelincirnya lisan itu sama persis dengan tergelincirnya farji, sangat mengkhawatirkan sekali. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam  mengkaitkan di antara keduanya hanyalah karena pada lisan itu ada syahwat ucapan. Banyak diantara manusia yang fasih, merasa lezat dan nikmat apabila berbicara tentang kehormatan manusia. al-Iyadzu billah. [Syar-h Riyadl ash-Shalihin: IV/ 164].

Berkata Ibnu Baththol rahimahullah, “Hadits ini menunjukkan bahwa cobaan yang terbesar bagi seseorang di dunia ini adalah lisan dan farjinya. Sebab itu, barangsiapa yang menjaga dari keburukan keduanya maka ia terjaga dari keburukan yang sangat besar”. [Fat-h al-Bariy: XI/ 310 dan Tuhfah al-Ahwadziy: XII/ 115].
Dalil-dalil dan penjelasan di atas dengan tegas memaparkan bahwa siapapun hamba muslim yang mampu menjaga lisan dan farjinya dari berbagai keburukan yang ditimbulkan oleh keduanya, maka jaminannya adalah keselamatan di akhirat berupa kenikmatan surga dan boleh jadi di dunia dia berbahagia sebab akan dipuji manusia akan keelokan dan kesantunan akhlaknya. Dari itu, cobaan yang paling berat dan sulit dihindari oleh hamba adalah lisan dan farjinya. Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa menjaga umat-Nya, khususnya kaum mukminin dari keburukan dan kejahatan yang ditimbulkan oleh keduanya.
عن سفيان بن عبد الله الثقفي قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ حَدِّثْنىِ بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ قَالَ: قُلْ رَبِّيَ اللهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا أَخْوَفَ مَا تَخَافُ عَلَيَّ؟ فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذَا
Dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqofiy berkata, aku bertanya, “Wahai Rosulullah ! ceritakan kepadaku suatu perkara yang aku dapat berpegang kepadanya”. Beliau bersabda, “Ucapkanlah ! Rabb-ku adalah Allah, kemudian istiqomahlah”. Sufyan berkata, aku bertanya lagi, “Wahai Rosulullah ! sesuatu apakah yang paling engkau khawatirkan diantara yang engkau khawatirkan?”. Beliau lalu memegang lidahnya sendiri, kemudian bersabda, “Ini”. [HR at-Turmudziy: 2410, Ibnu Majah: 3972, ad-Darimiy: II/ 298 dan Ahmad: III/ 413, IV/ 485. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 1965, Shahih Sunan Ibni Majah: 3208 dan Misykah al-Mashobih: 4843].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Dasarnya istiqomah adalah istiqomahnya hati. Kapan saja hati telah istiqomah maka istiqomah pulalah semua anggota tubuh di dalam mentaati Allah Azza wa Jalla. Sesuatu yang paling besar yang harus dijaga sesudah hati adalah lisan. Sebab dia adalah penterjemah dan pengungkap hati. Oleh sebab itu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ketika memerintahkan istiqomah, yang ia wasiatkan sesudah itu adalah agar menjaga lisan”. [Bahjah an-Nazhirin: III/ 13].

Jika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam saja sangat mengkhawatirkan akan bahaya lisannya atasnya, maka bagaimana dengan umatnya. Tentu seharusnya mereka lebih memiliki rasa khawatir dibandingkan dengan Beliau Shallallahu alaihi wa sallam. Sebab Beliau telah nyata keimanan dan keistiqomahannya, dan apalagi tiada yang diucapkannya melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya. Sedangkan mereka, apa yang menjadi alasan bagi mereka untuk tidak mengkhawatirkan akibat buruk yang ditimbulkan oleh lisan mereka?. Duhai betapa anehnya keadaan ini.
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه رَفَعَهُ قَالَ: إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ اْلأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُوْلُ: اتَّقِ اللهَ فِيْنَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَ إِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا
Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu secara marfu’, Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila manusia menjelang pagi, maka semua anggota-anggota badannya menyalahkan lisan. Mereka berkata, “(Wahai lisan) bertakwalah engkau kepada Allah, karena kami. Maka sesungguhnya keadaan kami tergantung kepadamu. Jika kamu istiqomah, kamipun istiqomah. Namun jika kamu menyimpang, maka kamipun menyimpang”. [HR at-Turmudziy: 2407 dan Ahmad: III/ 96. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 1962, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 351, Misykah al-Mashobih: 4838 dan al-Adab: 397].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Pentingnya menjaga lisan di dalam keselamatan manusia. Yang demikian itu disebabkan bahwa lisan itu adalah penterjemah hati, pengungkap dan penguasanya. Apa yang terlintas dalam hati itu akan nampak atas lisannya. Oleh sebab itu dikatakan: seseorang itu dengan dua ashghar (benda kecil) yaitu hati dan lisannya”. [Bahjah an-Nazhirin: III/ 17].

Dari Mu’adz bin Jabal radliyallahu anuhu berkata, aku bertanya, “Wahai Nabiyullah! Apakah kita akan dihukum hanya lantaran apa yang kita ucapkan?”. Lalu Beliau bersabda,
ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَ هَلْ يُكَبُّ النَّاسُ فىِ النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
“Ibumu telah kehilanganmu wahai Mu’adz. Tidaklah manusia itu ditelungkupkan di dalam neraka atas wajah-wajah atau hidung-hidung mereka melainkan hanyalah karena hasil dari lisan-lisan mereka”. [HR at-Turmudziy: 2616, Ibnu Majah: 3973, al-Hakim: 3601 dan Ahmad: V/ 231, 236, 237. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 2110, Shahih Sunan Ibni Majah: 3209, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5136 dan Irwa’ al-Ghalil: 413].

Asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah bertutur, “Terdapat penjelasan bahwasanya hamba itu dihukum dengan seluruh apa yang diucapkannya, apakah diucapkannya dengan sungguh-sungguh atau main-main. Yang dapat menelungkupkan manusia di dalam neraka dan membawa mereka kepada kebinasaan adalah apa yang keluar dari lisan mereka”. [Bahjah an-Nazhirin: III/ 23].

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Maka waspadalah engkau wahai saudaraku dari hasil panenan ini dan jagalah lisanmu. Barangsiapa yang menjaga lisannya hendaklah ia menjaga lisannya dari berdusta, menipu, berkata palsu, namimah, ghibah dan semua yang dapat menjauhkannya dari Allah Azza wa Jalla dan menetapkan neraka baginya. Maka wajib baginya untuk bersih darinya”. [Syar-h Riyadl ash-Shalihin: IV/ 168].
Dalil hadits di atas menerangkan tentang pentingnya mengendalikan dan menjaga lisan, sebagaimana diperintahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Barangsiapa yang dapat menjaga dan mengendalikan dari berbagai keburukan yang ditimbulkan lisan berupa dusta, namimah, ghibah, cacian, celaan, kutukan, fatwa tanpa dalil dan lain sebagainya maka ia akan mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan serta masuk ke dalam surga. Tetapi jika tidak, maka ia akan ditelungkupkan atas wajahnya di dalam neraka. Begitu juga ia mesti memelihara dirinya dari pengungkapan berbagai keburukan lisan  yang dituangkan dalam bentuk tulisan yang beredar di berbagai media, apakah surat kabar ataupun media elektronik.

Bahkan dikisahkan ada seorang wanita yang telah dikenal ibadahnya dengan baik namun ia tidak dapat mengendalikan lidahnya yakni suka mengganggu tetangganya dengannya, maka iapun masuk ke dalam neraka. Sebagaimana di dalam riwayat berikut ini,
عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قِيْلَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ فُلاَنَةً تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَ تَصُوْمُ النَّهَارَ وَ تَفْعَلُ وَ تَصَدَّقُ وَ تُؤْذِي جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لاَ خَيْرَ فِيْهَا هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ قَالُوْا: وَ فُلاَنَةً تُصَلِّى اْلمَكْتُوْبَةَ وَ تَصَدَّقُ بِأَثْوَارٍ وَ لاَ تُؤْذِي أَحَدًا؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: هِيَ مِنْ أَهْلِ اْلجَنَّةِ
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, pernah ditanyakan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya si Fulanah suka sholat malam, shoum di siang hari, mengerjakan (berbagai kebaikan) dan bersedekah, hanyasaja ia suka mengganggu para tetangganya dengan lisannya?”. Bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Tiada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka”. Mereka bertanya lagi, “Sesungguhnya si Fulanah (yang lain) mengerjakan (hanya) sholat wajib dan bersedekah dengan sepotong keju, namun tidak pernah mengganggu seorangpun?”. Bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Dia termasuk penghuni surga”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrod: 119, Ahmad: II/ 440, al-Hakim: 7384 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad: 88 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 190].
Berkaca dengan hadits Abu Hurairah radliyallahu anhu di atas, dapat dimengerti bahwa kendatipun seseorang itu telah dikenal akan banyaknya jenis ibadah yang dikerjakan dari mengerjakan sholat malam setelah wajibnya, shoum sunnah pada siang harinya sesudah Ramadlan, bersedekah dan berbagai perbuatan baik lainnya. Namun jika ia tidak dapat mengendalikan lisannya berupa dusta, cacian, celaan, kutukan, sumpah serapah dan sebagainya, dan yang terbanyak biasanya adalah ghibah atau gunjingan, maka tempat yang pantas untuknya adalah neraka. Ma'adzallah.

Simaklah apa yang di ucapkan oleh al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rahimahullah, “Amat mengherankan bahwa ada seseorang yang dengan mudah dapat menjaga diri dari makan makanan yang haram, berbuat zhalim, berzina, mencuri, minum khomer, memandang sesuatu yang haram dan sebagainya, namun ia sulit untuk menjaga gerakan lisannya. Sehingga engkau dapat melihat seseorang yang dijadikan acuan dalam agama, kezuhudan dan ibadah, ia berucap dengan perkataan-perkataan yang mengundang kemurkaan Allah tanpa ambil peduli. Padahal satu kalimat saja akan dapat menjatuhkannya dengan jarak lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat. Berapa banyak kamu lihat orang yang mampu menjaga dari perbuatan keji dan kezhaliman, sementara itu lisannya mencela kehormatan orang-orang yang masih hidup dan juga orang-orang yang telah mati, tanpa peduli sedikitpun tentang apa yang ia ucapkan”. [Ad-Da’ wa ad-Dawa’ halaman 191 oleh al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah].

Sudah menjadi rahasia umum, sekarang ini banyak tetangga yang tidak merasa aman dari tetangganya yang lain atau shahabat yang tidak merasa nyaman dari shahabat lainnya. Atau juga didapati seseorang tidak merasa aman dan kerasan dari kakak atau adiknya bahkan dari orang tuanya, atau juga seseorang dari anak, menantu atau mertuanya. Atau juga guru tidak merasa aman dan nyaman dari muridnya dan begitupun sebaliknya. Atau juga pemimpin dari rakyatnya atau rakyat dari pemimpinnya, dan sebagainya. Mereka saling curiga dan waspada akan kejahatan amal atau ucapan satu dari lainnya. Jika segala perilaku seseorang saja dapat menimbulkan penilaian negatif dari orang lain maka bagaimana jika ia melakukan suatu perbuatan yang buruk atau mengucapkan suatu perkataan yang keliru, tentu akan lebih fatal lagi akibatnya. Dari sebab itu, di antara mereka ada yang khawatir segala keburukannya mendapatkan cercaan atau celaan dari selainnya dan takut menjadi bahan gunjingan (objek ghibah) sesamanya. Sehingga sebahagian mereka ada yang berusaha meninggalkan dan menanggalkan berbagai kesalahan dan dosa itu karena takut menjadi bahan pembicaraan orang lain. Atau ada juga diantara mereka yang mengerjakannya secara sembunyi-sembunyi. Lalu kalau begitu, apatah artinya menjauhkan diri dari berbagai aib jika bukan karena Allah Subhanahu wa ta'ala??.

Meninggalkan berbagai kemungkaran adalah suatu keharusan, tetapi membuat orang lain tidak aman dan nyaman dari sebab khawatir keburukannya disebarluaskan orang lain adalah hal yang juga patut direnungkan dan diperhitungkan. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan bahwasanya orang yang tidak membuat rasa aman kepada orang lain, misalnya kepada tetangga, kerabat, teman atau lainnya maka ia adalah orang yang tidak sempurna keimanannya dan tidak akan masuk ke dalam surga serta mendapatkan kedudukan yang paling buruk di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala. Sebagaimana telah dituangkan di dalam beberapa hadits berikut ini,
عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk ke dalam surga, seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 121 dan shahihnya: 6016, Muslim: 46 dan al-Hakim: 21. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahiih al-Adab al-Mufrad: 89, Mukhtashor Shahih Muslim: 33, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7675, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 549 (II: 82)].

Di dalam shahih al-Bukhoriy dari Abu Syuraih radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman”. Ditanyakan kepada Beliau, “Siapakah dia wahai Rosulullah?”. Beliau bersabda, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya”.

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, “Di dalam hadits ini terdapat penegasan akan hak tetangga lantaran sumpah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam terhadap hal tersebut, dan Beliau mengulangi sumpahnya sebanyak tiga kali. Di dalamnya terdapat pula penafian (peniadaan) iman bagi orang yang mengganggu (atau menyakiti) tetangganya dengan ucapan atau perbuatan. Dan yang dikehendaki (oleh Beliau) adalah iman yang sempurna sebab tidak diragukan lagi bahwa orang yang berbuat maksiat itu tidak sempurna imannya”. [Fat-h al-Bariy: X/ 444].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Menahan gangguan kepada tetangga adalah termasuk dari kesempurnaan iman”. [Bahjah an-Naazhirin: I/ 387].
عن عبد الله بن عمرو بن العاص قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: اْلمــُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ اْلمــُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَ يَدِهِ وَاْلمــُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهىَ اللهَ عَنْهُ
Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Muslim itu adalah orang yang kaum muslimin lain selamat dari lisan dan tangannya. Orang yang berhijrah adalah orang yang menjauhi apa yang dilarang oleh Allah”. [HR al-Bukhoriy: 10, 6484, Muslim: 40, Abu Dawud: 2481, at-Turmudziy: 2627, an-Nasa’iy: VIII/ 105, ad-Darimiy: II/ 300 dan Ahmad: II/ 160, 163, 187, 191, 192, 195, 205, 206, 209, 212, 215, 224, 379, III/ 154, 372, 391, 440, IV/ 114, 385, VI/ 21, 22. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 7, Shahih Sunan Abi Dawud: 2168, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2118, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4623, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6711 dan al-Adab: 402].
عن أبي موسى رضي الله عنه قَالَ: قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيُّ اْلإِسْلاَمِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: مَنْ سَلِمَ اْلمــُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَ يَدِهِ
Dari Abu Musa (al-Asy’ariy) radliyallahu anhu berkata, mereka bertanya, “Wahai Rosulullah, Islam apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab, “Yaitu orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya”. [HR al-Bukhoriy: 11, Muslim: 42, at-Turmudziy: 2504, an-Nasa’iy: VIII/ 106-107 dan ad-Darimiy: II/ 299. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih, lihat Mukhtashor Shahih al-Imaam al-Bukhoriy: 8, Mukhtashor Shahih Muslim: 69, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2032, 2119 dan Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4626].

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, “Yakni tidak menzholimi kaum muslimin dengan lisannya, apakah berupa ghibah, namimah, cacian atau yang serupa dengan itu”. [Syar-h Riyadl ash-Shalihin: IV/ 163].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Terdapat larangan menyakiti kaum muslimin berupa ucapan dan perbuatan. Oleh sebab itu penyebutan lisan untuk menunjukkan atas ucapan dan tangan untuk menunjukkan atas perbuatan”. [Bahjah an-Nazhirin: III/ 8].

Beberapa dalil dan penjelasan di atas memaparkan tentang keindahan ajaran Islam, bahwa seseorang itu disebut muslim jika ia mampu memberi keselamatan dan kenyamanan kepada muslim lainnya khususnya dan umat manusia umumnya, dari lisan dan tangannya. Yakni tidak menzholimi kaum muslimin dari lisannya berupa ghibah, namimah, buhtan, cacian, celaan, kutukan dan selainnya. Dan tidak pula dari tangannya berupa pemukulan, pencurian, perampasan dan lain sebagainya. Namun jika ada di antara mereka yang menzholimi selainnya dengan tangan atau lisannya, sehingga ia dibenci, dihindari, dijauhi oleh orang lain akibat ulahnya itu maka ia termasuk orang yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala pada hari kiamat nanti dan tidak akan masuk ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan abadi.
عن عائشة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: يَا عَائِشَةَ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مَنِ وَدَعَهُ-أَوْ تَرَكَهُ النَّاسُ- اتِّقَاءَ فُحْشِهِ

Dari Aisyah radliyallahu anha bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Aisyah, sesungguhnya sejelek-jelek kedudukan manusia di sisi Allah adalah orang yang ditinggalkan (atau dijauhi) oleh manusia karena takut akan kekejiannya”. [HR al-Bukhoriy: 6032, 6054, 6131, al-Adab al-Mufrad: 1311, Muslim: 2591, at-Turmudziy: 1996 dan Ahmad: VI/ 38. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad: 984, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1624, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7925, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1049 dan Misykah al-Mashobih: 4829].

Maksudnya, jika ada seorang hamba dijauhi oleh orang lain lantaran takut dan khawatir akan perbuatan buruk dan jahatnya yang ditimpakan kepadanya berupa pukulan, pencurian, penipuan dan sejenisnya dari amalan tangan, atau ghibah, fitnah, namimah, cacian dan semacamnya dari amalan lisan, maka ia adalah orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah Azza wa Jalla pada hari kiamat kelak. Ia akan dijauhkan dari surga dan akan dijerumuskan ke dalam neraka dalam keadaan hina dina. Namun jika ia djauhi oleh orang lain lantaran sikapnya yang tepat dan tegas dalam mempertahankan dan memperjuangkan agama Allah maka hal itu tidaklah tercela dan bahkan kelak akan mendapat pujian dan sanjungan dari-Nya.
Bayangkan jika dirimu jadi korban dan objek dari kejahatan lisan orang lain, maka bagaimana perasaanmu?. Niscaya engkaupun akan merasakan pahit dan getirnya hidup. Engkau pasti berharap, agar orang itu menghentikan kejahatannya padamu, hilangnya keburukan yang dilakukan oleh lisan orang-orang padamu dan kehidupanmu dapat berangsur normal lagi seperti sediakala. Jika engkau tidak ingin dicubit, maka jangan sekali-kali mencubit orang lain.

Wahai saudara-saudaraku seiman, jagalah lisanmu dari mengucap berbagai hal yang dilarang oleh Allah Tabaroka wa ta'ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Peliharalah tanganmu dari menulis berbagai perkara yang telah diharamkan oleh keduanya. Niscaya kalian akan selamat dari ujian dunia, fitnah kubur dan siksa neraka pada hari kiamat. Janganlah lisanmu berucap atau tanganmu menulis kecuali yang baik-baik dan diridloi oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.

Wallahu a’lam bish showab

ORANGTUAMU ADALAH SURGAMU..


BEBERAPA NASHIHAT TENTANG BERBUAT BAIK KEPADA KEDUA ORANG TUA.

بسم الله الرحمن الرحيم

Diambil dari kitab Majmu’ah Rosa’il at-Taujihat al-Islamiyah li Ishlah al-Fard wa almujtama’ karya Muhammad bin Jamil Zainu halaman 38-39 penerbit Maktabah Ibnu Taimiyah Kairo dan Maktabah al-Ilmi Jeddah,

“Apabila engkau ingin sukses di dunia dan akhirat maka amalkanlah beberapa wasiat berikut ini,

1. Berbicaralah kepada kedua orang tuamu dengan penuh adab, jangan mengatakan ‘ahh’ kepada keduanya, jangan membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya ucapan yang mulia.

2. Patuhilah selalu kedua orang tuamu selain dalam perbuatan maksiat, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam perbuatan maksiat kepada al-Khaliq (Allah swt).

3. Bersikap lemah lembutlah kepada kedua orang tuamu, jangan bermuka masam di hadapan keduanya dan jangan engkau memandang keduanya dengan rasa marah.

4. Jagalah nama baik, kehormatan dan harta kedua orang tuamu dan janganlah engkau mengambil sesuatupun tanpa seidzin keduanya.

5. Perbuatlah sesuatu yang dapat menyenangkan keduanya meskipun tanpa perintah keduanya seperti pelayanan (membantu pekerjaan), belanja keperluan dan bersungguh-sungguh di dalam menuntut ilmu.

6. Bermusyawarahlah dengan keduanya di dalam pekerjaanmu dan minta maaflah kepada keduanya jika engkau berselisih dengan keduanya (dalam pekerjaan).

7. Penuhi panggilan keduanya dengan segera, disertai wajah yang penuh senyum dan katakanlah, “Ya wahai ummi, ya wahai abi”. Jangan mengatakan “Wahai papa dan mama” karena itu adalah ucapan ajnabi (bahasa asing).

8. Muliakanlah shahabat dan kerabat keduanya di masa hidup dan sesudah wafatnya mereka berdua.

9. Janganlah engkau mendebat keduanya, jangan pula menyalah-nyalahkan keduanya dan usahakan untuk menjelaskan yang benar kepada keduanya dengan penuh adab.

10. Janganlah engkau melawan keduanya, jangan engkau tinggikan suara di atas suara keduanya, diamlah ketika keduanya berbicara, jaga adabmu bersama keduanya dan jangan engkau membentak salah seorang dari saudara-saudaramu dalam rangka memuliakan kedua orang tuamu.

11. Sambutlah kedua orang tuamu apabila mereka datang dan kecuplah kening keduanya dengan rasa kasih sayang.

12. Bantulah ibumu di rumah dan jangan terlambat membantu ayahmu dalam pekerjaannya.

13. Janganlah engkau bepergian apabila keduanya tidak mengidzinkanmu walaupun untuk urusan yang penting. Jika engkau terpaksa (harus pergi) minta maaflah dan janganlah engkau putus di dalam mengirim surat kepada keduanya.

14. Jangan engkau masuk ke dalam kamar keduanya tanpa idzin, apalagi di waktu keduanya sedang tidur dan beristirahat.

15. Apabila engkau masih terfitnah dengan rokok (karena rokok itu haram), maka janganlah engkau merokok de hadapan keduanya.

16. Janganlah engkau mengambil makanan sebelum keduanya dan muliakanlah keduanya di dalam makan dan minum.

17. Janganlah engkau berdusta kepada keduanya dan jangan pula engkau mencela keduanya apabila keduanya mengerjakan sesuatu yang tidak menyenangkanmu.

18. Janganlah engkau muliakan istrimu atau anakmu melebihi keduanya. Mintalah keridloan keduanya sebelum segala sesuatu, karena ridlo Allah tergantung pada ridlo kedua orang tua dan kemurkaan-Nya tergantung pada kemurkaan keduanya.

19. Janganlah engkau duduk di tempat yang lebih tinggi dari keduanya dan janganlah engkau menyelonjorkan kedua kakimu dengan rasa sombong di saat kehadiran keduanya.

20. Janganlah engkau membangga-banggakan jabatanmu kepada ayahmu meskipun engkau memiliki jabatan yang tinggi. Berhati-hatilah jika engkau sampai mengingkari kebaikan keduanya atau menyakiti (perasaan) keduanya walaupun hanya dengan sepatah kata.

21. Janganlah engkau kikir kepada kedua orang tuamu dan memberi nafkah sehingga keduanya mengeluhkannya kepadamu. Hal ini adalah suatu perbuatan yang tercela bagimu. Kelak kamu akan lihat hal tersebut pada anak-anakmu, karena sebagaimana engkau bersikap (kepada keduanya) maka seperti itu pula engkau akan disikapi (oleh anak-anakmu).

22. Sering-seringlah mengunjungi kedua orang tuamu, memberi hadiah kepada keduanya, berterima kasihlah kepada keduanya karena mereka telah mendidikmu dan berpayah-payah di dalam merawatmu. Contohkanlah hal tersebut kepada anak-anakmu.

23. Orang yang paling berhak untuk engkau utamakan adalah ibumu kemudian ayahmu. Ketahuilah bahwasanya surga itu di bawah telapak kaki ibu.

24. Berhati-hatilah mendurhakai kedua orang tuamu dan menyebabkan keduanya marah, yang menyebabkan engkau celaka di dunia dan akhirat. Kelak anak-anakmu akan mempergaulimu seperti engkau mempergauli kedua orang tuamu.

25. Apabila engkau meminta sesuatu dari kedua orang tuamu maka mintalah dengan lemah lembut dan berterima kasihlah jika diberi. Minta maaflah kepada keduanya jika keduanya tidak memberi dan jangan banyak meminta supaya keduanya tidak merasa susah.

26. Jika engkau mampu mencari rizki di waktu pagi maka bekerjalah dan bantulah kedua orang tuamu.

27. Sesungguhnya bagi kedua orang tuamu itu ada hak atasmu dan pada istrimu juga ada hak atasmu, maka berikanlah hak itu kepada yang memiliki haknya. Berusahalah untuk merukunkan di antara keduanya apabila mereka berselisih dan memberikan hadiah kepada orang-orang dekat itu dengan rahasia.

28. Jika kedua orang tuamu berselisih dengan istrimu, maka jadilah orang yang bijak dan berikan pengertian kepada istrimu bahwasanya engkau bersamanya jika ia benar dan engkau terpaksa melakukannya untuk mencari keriadloan keduanya.

29. Jika istrimu berselisih dengan kedua orang tuamu di dalam nikah dan talak, maka berhukumlah kepada syariat karena hal itu adalah sebaik-baik penolong bagimu.

30. Doa kedua orang tua itu niscaya terkabul dalam perkara yang baik dan buruk. Maka berhati-hatilah dirimu terhadap doa buruk keduanya.

31. Jaga adabmu dengan manusia, karena barangsiapa yang mencela orang maka orang itu akan mencelanya pula. Rosulullah saw telah bersabda, “Termasuk dari dosa-dosa besar adalah seseorang mencela kedua orang tuanya, yaitu ia mencela ayah seseorang lalu orang itu mencela ayahnya atau ia mencela ibu seseorang lalu orang itu mencela ibunya”. [HR. al-Bukhoriy dan Muslim].

32. Kunjungilah kedua orang tuamu di masa hidupnya, bersedekahlah atas nama keduanya dan perbanyaklah berdoa,

رَبِّ اغْفِرْ لىِ وِ لِوَالِدَيَّ
“Wahai Rabbku! ampunilah aku dan kedua orang tuaku”. [QS. Nuh/71: 28].

رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانىِ صَغِيْرًا

“Wahai Rabbku, rahmatilah keduanya, sebagaimana keduanya telah mendidikku di waktu kecil”. [QS. Al-Isra’/ 17: 24]

Wallahu a'lam bi ash-Showab.

DOA UNTUK YANG MEMBERIKAN MAKANAN BERBUKA


Doa apabila berbuka puasa di rumah orang lain

بسم الله الرحمن الرحيم

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ وَ أَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارُ وَ صَلَّتْ عَلَيْكُمُ اْلمـَلاَئِكَةُ

“Af-thoro ‘indakumush shoo’imuuna wa akala tho’aamakumul abrooru wa shollat ‘alaikumul malaa’ikah”

((Telah berbuka orang-orang yang shaum di sisimu, orang-orang yang baik telah memakan makananmu dan para Malaikat mendoakan agar kalian mendapat  rahmat)).
         
 Dari Anas radliyallahu anhu berkata, bahwasanya Nabi  Shallallahu alaihi wa sallam pernah datang menemui Sa’d bin Ubadah (radliyallahu anhu). Sa’d datang menjumpai Beliau dengan membawa roti dan minyak zaitun (atau kismis) lalu makan. Kemudian Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berdoa, “..al-Hadits..”.

HR Abu Dawud: 3854, Ibnu Majah: 1747, al-Baihaqiy (Syu’ab al-Iman): 6048, an-Nasa’iy dalam Amal al-Yaum wa al-Lail, Ibnu Sunni dalam Amal al-Yaum wa al-Lail dan Ahmad: III/ 118, 138.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Abu Dawud: 3263, Shahih Sunan Ibni Majah: 1418, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1137, 4677, 4679 Tahqiq al-Kalim ath-Thayyib: 193 dan Adab az-Zifaf halaman 170.

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy: Shahih, Lihat Nail al-Awthar bi Takhrij Ahadits Kitab al-Adz-kar: 555.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Ketahuilah bahwa dzikir ini tidaklah terikat pada orang yang shaum/ puasa setelah berbukanya saja. Tetapi dzikir ini sifatnya mutlak. Sabda beliau “Telah berbuka orang-orang yang shaum di sisimu”, bukan dalam bentuk kalimat khabar (pemberitaan), namun merupakan doa untuk orang yang menyediakan makanan sampai-sampai orang-orang yang shaum berbuka di sisinya dan mendapatkan pahala berbukanya mereka. [Adab az-Zifaf halaman 171].

Senin, 09 Juli 2012

HIASILAH DIRIMU DENGAN AKHLAK MULIA


AKHLAK YANG MULIA

بسم الله الرحمن الرحيم

Islam sangat menganjurkan dan memuji akhlak mulia bahkan memberikan keutamaan kepada orang yang memilikinya. Sebagai figur dan panutan, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam  adalah sebagai sosok yang paling baik akhlaknya, beliau menyuruh umatnya supaya mempergauli manusia dengan tutur kata yang lemah lembut penuh kesantunan, bertatap muka dengan ramah berhiaskan senyuman, bergegas melangkahkan kaki untuk membantu orang yang membutuhkan bantuan, memaafkan kesalahan orang yang berbuat salah tanpa dendam terpendam, dan sebagainya. Di antara dalil-dalilnya adalah sebagai berikut,

عن أبي هريرة قالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه و سلم: أَكْمَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَ خِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik kepada istri-istrinya”. [HR at-Turmudziy: 1162, Ahmad: II/ 250, 472, Abu Dawud: 4682, al-Hakim dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan shahih, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 928, Shahih Sunan Abi Dawud: 3916, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1232, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 284 dan Misykah al-Mashobih: 5101].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy -hafizhohullah-, “Akhlak baik itu termasuk dari sifat orang-orang mukmin yang sempurna dan orang-orang bertakwa yang ikhlas”. [Bahjah an-Nazhirin: I/ 363].

عن سهل بن سعد رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ اللهَ كَرِيْمٌ ُيحِبُّ اْلكَرَمَ وَ مَعَالىِ اْلأَخْلاَقِ وَ يُبْغِضُ سِفْسَافَهَا

Dari Sahl bin Sa’d radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta'ala adalah Maha dermawan, menyukai kedermawanan dan akhlak yang luhur serta membenci akhlak yang buruk”. [HR Abu asy-Syaikh, al-Hakim, Abu Nu’aim dan as-Salafiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1889 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1378].

Allah Subhanahu wa ta'ala mencintai akhlak yang mulia lagi luhur dan membenci akhlak yang hina lagi hancur. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyukai akhlak yang baik lagi elok dan menolak akhlak yang rusak lagi bobrok. Maka setiap muslimpun seharusnya senang dan berusaha memiliki akhlak yang tinggi lagi terpuji serta antipati dan menjauhi akhlak yang rendah lagi tercela.

عن جابر بن عبد الله أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَ أَقْرَبِكُمْ مِنىِّ َمجْلِسًا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقًا

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat majlisnya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya”. [HR at-Turmudziy: 2018, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 272, Ahmad: IV/ 193, 194 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 1642, Shahih al-Adab al-Mufrad: 206, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2201 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 791].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy -hafizhohullah-, "Akhlak baik termasuk dari penyebab cintanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan dekat darinya pada hari kiamat. Tingkat yang paling tinggi di surga adalah bagi orang yang baik akhlaknya. Karena akhlak yang baik itu meliputi seluruh rangkaian kebaikan". [Bahjah an-Nazhirin: I/ 677].

عن ابي الدرداءرضي الله عنه قَالَ: َسمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ:مَا مِنْ شَيْءٍ يُوْضَعُ فىِ اْلأمِيْزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ اْلخُلُقِ وَ إِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ اْلخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَ الصَّلاَةِ

Dari Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “tidak ada sesuatu yang diletakkan di atas neraca timbangan (mizan) yang lebih berat dari akhlak yang baik. Sesungguhnya orang yang berakhlak baik itu dapat mencapai tingkat (derajat) orang yang biasa shaum dan sholat dengannya”. [HR at-Turmudziy: 2002, 2003, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 270, Abu Dawud: 4799 dan Ahmad: VI/ 442, 446, 448. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 1628, 1629, Shahih al-Adab al-Mufrad: 204, Shahih Sunan Abi Dawud: 4013, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5726, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 876 dan Misykah al-Mashobih: 5081].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy -hafizhohullah-, “Akhlak baik itu termasuk amal shalih yang paling besar yang dijumpai oleh seorang hamba di dalam lembar catatannya pada hari kiamat, dan ia akan melihatnya di dalam timbangan kebaikan-kebaikannya”. [Bahjah an-Nazhirin: I/ 674].

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ اْلجَنَّةَ؟ قَالَ: تَقْوَى اللهِ وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sesuatu apakah yang terbanyak yang dapat memasukkan manusia ke dalam surga?. Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik”. [HR at-Turmudziy: 2004, Ibnu Majah: 4246 dan Ahmad: II/ 291, 392, 442. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan sanadnya, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 1630, Shahih Sunan Ibni Majah: 3424, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 977 dan Misykah al-Mashobih: 4832].

عن أبي أمامة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه و سلم: أَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فىِ رَبَضِ اْلجَنَّةِ ِلمَنْ تَرَكَ اْلمِرَاءَ وَ إِنْ كَانَ ُمحِقًّا وَ بِبَيْتٍ فىِ وَسَطِ اْلجَنَّةِ ِلمَنْ تَرَكَ اْلكَذِبَ وَ إِنْ كَانَ مَازِحًا وَ بِبَيْتٍ فىِ أَعْلىَ اْلجَنَّةِ ِلمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ

Dari Abu Umamah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Aku adalah pemimpin di satu rumah di halaman surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan kendatipun ia benar. Pemimpin di satu rumah di tengah-tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun bersenda gurau. Dan pemimpin di satu rumah di surga yang paling atas bagi orang yang berakhlak baik”. [HR Abu Dawud: 4800. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan, lihat Shahih Sunan Abi Dawud: 4015, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1464 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 273].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy -hafizhohullah-, “Tingkatan pahala yang paling besar di sisi Allah adalah bagi orang yang baik akhlaknya. Sebab baik akhlak itu merupakan himpunan bebagai keutamaan”. [Bahjah an-Nazhirin: I/ 676].

Beberapa dalil hadits dan penjelasannya di atas menunjukkan berbagai keutamaan dari akhlak yang baik yang wajib dimiliki oleh seorang muslim. Di antaranya adalah akan ditempatkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai seorang mukmin yang paling sempurna keimanannya, orang yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dan Nabi-Nya Shallallahu alaihi wa sallam serta yang paling dekat majlis (tempat tinggal)nya dengan Beliau nanti pada hari kiamat. Di samping itu orang berakhlak baik lagi mulia itu akan dibalas dengan banyak pahala kebaikan pada hari kiamat sebab akhlak yang luhur itu adalah amal shalih yang paling berat jika diletakkan di dalam neraca timbangan, bahkan bisa mencapai derajat pahala orang yang biasa melakukan ibadah shaum dan sholat. Dengan akhlak mulia itu pula, pemiliknya dapat dimasukkan ke dalam surga bahkan di tempatkan di tempat yang paling tinggi dari surga.

Maka dari itulah, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan umatnya untuk selalu mempergauli manusia dengan akhlak yang mulia yakni dengan menemui mereka dengan wajah yang berseri, mengerjakan perbuatan ma’ruf (baik) bagi mereka, bertutur kata yang baik kepada mereka, tidak mendebat mereka dengan sesuatu yang dapat menimbulkan perselisihan dan permusuhan, tidak membicarakan keburukan (mengghibah) mereka kepada orang lain apalagi memfitnahnya, mencegah keburukan yang dapat menimpa mereka dan mempergauli mereka dengan berbagai perbuatan dan perkataan yang ia sendiri suka mereka mempergaulinya.

عن أَبي ذر رضى الله عنه قَالَ: قَالَ لىِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: اتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَ أَتْبِعِ السَّيِّئَةَ اْلحَسَنَةَ َتمْحُهَا وَ خَالِقِ النَّاسَ ِبخُلُقٍ حَسَنٍ

Dari Abu Dzarr radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda kepadaku, “Bertakwalah engkau kepada Allah dimanapun engkau berada, iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik niscaya akan menghapusnya dan pergaulilah manusia itu dengan akhlak yang baik”. [HR at-Turmudziy: 1987 dan Ahmad: V/ 153, 158, 228, 236. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 1618, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 97 dan Misykah al-Mashobih: 5083].

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin -rahimahullah-, “Dua wasiat pertama tentang urusan dengan al-Khalik (Allah Subhanahu wa ta'ala) dan wasiat ketiga tentang mempergauli makhluk yaitu engkau mempergauli mereka dengan akhlak yang baik, niscaya kamu akan dipuji dan tidak tercela. Hal itu dengan cara wajah berseri, ucapan yang benar, pembicaraan yang elok dan selain itu dari berbagai akhlak yang baik”. [Syar-h Riyadl ash-Shalihin: I/ 288].

Demikian perintah yang dilontarkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada umatnya agar mereka selalu menghias dirinya dengan akhlak yang baik lagi mulia di dalam bermasyarakat dengan orang banyak. Bersamaan dengan itu, Allah Subhanahu wa ta'ala telah mengabadikan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam dengan mempunyai akhlak yang agung yang sangat pantas untuk diteladani oleh umatnya bukan selainnya meskipun orang tersebut tinggi status sosial dan pendidikannya, banyak harta dan jabatannya, elok rupa dan penampilannya, mewah rumah dan kendaraannya dan lain sebagainya dari berbagai kemuliaan hidup di dunia.

وَ إِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berakhlak yang agung. [QS. Al-Qolam/ 68: 4].

عن أنس بن مالك رضى الله عنه قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَحسَنَ النَاسِ خُلُقًا

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya”. [HR Muslim: 2150 dan al-Bukhoriy: 6203. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Mukhtasor Shahih Muslim: 1414 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6432].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy -hafizhohullah-, “Allah Subhanahu wa ta'ala dengan taufik-Nya telah menganugerahkan kepada hamba dan utusan-Nya akhlak yang mulia, kemudian menyanjungnya dan lalu mengangkatnya dengan menyebutkan sesuatu yang Beliau berhias dengan akhlak yang elok. Allah Subhanahu wa ta'ala menegaskan hal itu dengan firman-Nya Subhanahu wa ta'ala. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berakhlak yang agung. ((QS. Al-Qolam/ 68: 4)). Dan hal itu tidak ada kecuali karena Beliau adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan akhlak yang baik hanya dari sisi yang paling sempurna, lebih baik dan paling utama". [Bahjah an-Nazhirin: I/ 670-671].

Lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menegaskan bahwa tujuan Allah Subhanahu wa ta'ala mengutusnya di antaranya adalah selain untuk memperbaiki aqidah dan keyakinan umat manusia dari kekufuran kepada keimanan, perbuatan syirik kepada tauhid, dari bid’ah kepada sunnah dan dari kejahilan kepada ilmu juga memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia dari yang buruk kepada yang baik dan dari yang hina kepada yang mulia.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُ تَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 273, Ahmad: II/ 318, al-Hakim dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad: 207, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2349 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 45].

Demikian sebahagian dari dari tujuan Allah Subhanahu wa ta'ala di dalam mengutus Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada umat manusia umumnya dan umat Islam khususnya, maka dari itu hendaklah setiap mereka memahami dan menghayati akan keinginan dan tujuan Allah Subhanahu wa ta'ala tersebut. Lalu hendaklah mereka berusaha seoptimal dan semaksimal mungkin untuk mengamalkan seluruh atau sebahagian dari yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam di dalam menerapkan akhlak yang mulia tersebut, kemudian menyebarluaskan ajaran akhlak tersebut kepada segenap manusia, khususnya sesama kaum muslimin.

Marilah wahai saudara-saudaraku yang muslim, cari dan raihlah akhlak yang mulia lagi terpuji dan jauhi akhlak yang tercela lagi amat keji. Dengan cara menteladani idola dan panutan yang sebenar-benarnya lagi hakiki yakni Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam seorang utusan dan nabi. Agar kita dapat meraih kebahagiaan dan kenikmatan kelak pada hari kiamat di dalam surga-Nya yang abadi. Karena tidaklah Allah Subhanahu wa ta'ala mengutus beliau melainkan untuk diteladani akidah, ibadah dan akhlaknya.

Semoga bermanfaat bagiku, keluargaku dan seluruh kaum muslimin yang meniti jalan di atas manhaj Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabat radliyallahu anhum.